Kelas untuk Pendeta Gereja Bintang Lima


Itu adalah kelas yang unik, setiap mahasiswa pasca sarjana yang ada di dalamnya begitu perlente, tak jarang mereka berdasi dan mengenakan jas mahal yang begitu bergaya. 

Mereka tidak belajar dengan tujuan untuk lebih mahir melakukan sesuatu, atau untuk lebih tahu akan sesuatu. Tidak! Mereka belajar untuk mendapat suatu gelar kehormatan “Doktor” yang merupakan syarat tak tertulis bagi para Pendeta yang memimpin sebuah Gereja Bintang Lima.

Cara berkotbah sudah mereka kuasai, isi Alkitab sudah mereka baca bolak balik tak terhitung berapa kali. Mereka bahkan dapat memahami Alkitab yang ditulis dengan bahasa aslinya. Mereka pun sudah merasa mengenal Tuhan, buktinya mereka hafal nama-nama Tuhan, baik dalam bahasa Ibrani, Yunani, hingga bahasa Arab.

Ilmu komunikasi? Jangan ditanya! Mereka sudah bisa membuat jemaat menangis termehek-mehek dan terbakar oleh semangat setiap kali habis mendengar kotbah mereka. Dalam hati bahkan mereka merasa, tanpa bantuan Roh Kudus pun mereka mampu melakukannya.

Ilmu Manajemen? Wah, walau bukan ahlinya, tapi siapa yang dapat menentang mereka? Lagipula, dengan adanya sistem software, keamanan dan teknologi yang baik, tak ada yang peduli dengan sistem manajemen yang benar.

Jangan tanya soal mengelola keuangan. Jika semua anak-anakmu sekolah di luar negeri, siapa yang berani bicara soal mengelola keuangan denganmu. Kau bahkan dapat menghasilkan ratusan juta hanya dengan bicara dan menantang orang di panggung mimbar selama 45 menit.

Ya, kelas itu memang kelas yang unik. Dosen yang mengenakan kacamata dan sepatu butut, yang mengabdikan hidup untuk mengajar dan mengendarai motor bebek adalah saluran berkat, tapi mereka bukan apa-apa dibanding para mahasiswa yang adalah Para Pendeta Gereja Bintang Lima yang terhormat.

Suatu kali pernah dibahas masalah LGBT di kelas itu. Sebagai pendeta Gereja Bintang Lima mereka tidak bisa terang-terangan menyebut itu dosa, tidak bisa! Jemaat mereka kebanyakan adalah orang berpendidikan yang menganut prinsip humanisme dan berpikir “masakan Tuhan tidak menghendaki umatnya bahagia dengan pilihan orientasi seksual mereka.” Jika pendeta Gereja Bintang Lima terang-terangan menentang hal ini, maka mereka akan ditinggal para manusia humanis modern yang memberikan perpuluhan besar untuk gereja. Biarkan saja para penginjil dan pendeta pedesaan yang menentang hal itu.

Suatu kali juga pernah dibahas mengenai ide bagaimana agar gereja bisa membangun gedung megah tanpa terlilit utang piutang. Sebuah gedung mewah yang akan meningkatkan gengsi para pendeta itu. Proyek janji iman, door prize bagi jemaat yang memberi perpuluhan, hingga program iuran berjangka menjadi jawaban. 

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya mereka mengembangkan software yang mendata seluruh jemaat, pekerjaan dan gajinya. Software itu juga bisa memberikan informasi siapa jemaat yang berpotensi memberi paling banyak untuk gereja Tuhan. Tujuannya agar Pendeta bisa melakukan follow up dan menjadwalkan kapan perlunya berkotbah tentang pentingnya memberi perpuluhan dan apa konsekuensi jika tidak memberi.

Ada juga pendeta yang mengatakan gerejanya memberikan semacam kupon undian bagi jemaat yang rutin hadir dan memberi persembahan dan perpuluhan. Kupon itu akan diundi akhir tahun, dan yang menang akan mendapatkan hadiah mobil keluaran terbaru.

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya semua jemaat dapat mendaftar untuk suatu program kematian. Mereka diwajibkan menyetorkan sejumlah uang setiap tahun, katakanlah Rp.200.000/anggota keluarga agar sewaktu-waktu jika ada anggota keluarga yang mati, gereja bisa memberi santunan sejumlah Rp.10.000.000. Jemaat pasti bersedia mendapat keuntungan berlipat seperti itu saat mereka mati. Bahagia di bumi, bahagia di Surga. Kemudian ada rekan pendeta yang bertanya “kalau sampai ada yang terlambat atau tidak bayar bagaimana, katakanlah di tahun ketiga?”. Setelah berpikir sejenak, pendeta itu menjawab “tentu saja haknya hilang, keanggotaannya gugur secara otomatis”

Ada pendeta yang mengatakan gerejanya menemukan suatu metode baru yang membuat para  pengunjung jemaat diperhatikan. Mereka yang terdaftar sebagai jemaat harus membuat kartu yang akan dikenal oleh alat pemindai di depan pintu. Alat pemindai itu dapat mengenali setiap (kartu identitas) jemaat dan menuliskan nama jemaat di layar monitor yang tersedia. Ah, para domba bodoh itu senang bukan kepalang saat namanya muncul di monitor, “Selamat datang Bapak Anu, minggu kemarin gak dateng ya, di program kami tidak terdetect soalnya.” Hanya saja pendeta itu mengatakan mereka masih belum menemukan cara jika kartu anggota ketinggalan di rumah. Mungkin chip yang ditanam di tangan adalah solusinya.

Gedung gereja dan teknologi merupakan suatu topik yang sering dibahas di kelas yang unik ini. Mereka sibuk menyelidiki satu dengan lainnya. Secara tersirat terasa sekali aroma persaingan di antara para pendeta ini. Jika yang satu diundang ke gereja yang lain, mata mereka akan menyapu gedung itu dengan cepat. Kemudian di pertemuan para pengerja (dan pengembang) dibahas “gereja kita harus membeli LED yang besar, gereja si Anu sudah memilikinya” atau “lighting kita sudah ketinggalan jaman, ganti semua dengan yang baru” atau “buat proposal untuk menjual space iklan di media pengumuman”.

Ketika suatu saat di kelas itu pak Dosen dengan sepatu butut bertanya “bagaimana dengan Tuhan”, kelas pun hening… satu orang memberanikan diri menjawab “bukankah dalam suatu pesta tamu kehormatan harus duduk diam? Mereka harus menghargai tuan rumah yang mengadakan acara”

Kemudian dari belakang kelas terdengar seorang pendeta bergumam”kami yang melakukan semuanya, bukan Tuhan”

Kemudian satu orang berkata, “Tuhan ini,… apakah Dia benar-benar bekerja? Kami lihat Dia diam saja. Ya, KAMI yang melakukan semuanya. Kami yang bekerja menemukan topik yang tepat untuk membuat pengunjung itu terhibur dan tetap mau datang ke gereja. Kami yang susah-susah memikirkan tempat parkir agar jemaat mau datang”

Dari sudut yang lain terdengar lagi, “benar, kami yang memancing pengunjung dengan ide kami tentang topik dan dekorasi yang menarik tiap minggunya. Kami yang melakukan audisi untuk para pelayan mimbar agar mereka terlihat menarik di mata siapa saja yang hadir”

Pak dosen duduk diam dan berkata, “lalu apa yang seharusnya Dia lakukan?”

Kali ini para pendeta itu terdiam… ya, apa yang seharusnya Tuhan lakukan… semua bagian sudah dilakukan oleh mereka. 

Sebuah suara terdengar, “di jaman modern ini, sebaiknya Dia diam saja. Kami lebih tahu situasi jaman daripada diriNya. Dia adalah topik yang menarik untuk dibicarakan dan diceritakan. Ya, dia produk yang menjual… Tapi, sebaiknya Dia diam saja”

Dosen bersepatu butut itu bertanya lagi, “bagaimana dengan doa dan kuasanya?”

Setelah keheningan yang tak lama seorang pendeta berkata “doa adalah topik yang menarik untuk dibawakan, tapi sudah lama kami tak mempercayai kuasa doa. Ayolah, kami bahkan hanya menaruh kartu -kartu doa itu di dalam kotak, sama sekali tak kami sentuh. Kami doakan kotak itu dengan seadanya saja dan mereka tetap datang pada kami di kebaktian doa”

Sebuah suara lagi terdengar “doa adalah sebuah pengalihan yang bagus sekali. Ketika seorang jemaat datang padamu dengan masalahnya kau tinggal berkata ‘berdoa saja’ tanpa harus repot-repot menjadi jawaban atas doa mereka. Kemudian, jadikan iman mereka sebagai kambing hitam jika doa-doa mereka tak terjawab” dan tawa pun meledak di kelas itu.

Setelah menarik nafas panjang, Dosen itu bertanya lagi, “bagaimana dengan kedatangan Yesus yang kedua”

Dan kelas pun hening untuk waktu yang sangat lama sampai akhirnya ada yang menjawab dengan bisikan lirih, “apakah Dia akan datang? Maksudku, apa Dia benar-benar akan datang?”

Kemudian Pak Dosen bersepatu butut itu meninggalkan kelas dengan tertunduk lesu sambil berbisik, “ya Tuhan, apa Kau benar-benar ada?”

—–

Ps: Hanya cerpen untuk refleksi, tolong jangan dianggap sebagai serangan…

Advertisements

Ketika Tuhan Menolak ‘Persembahan Terbaik’ Kita


Saya suka dengan kisah Kain dan Habel. Bukan… bukan ketika Kain membunuh Habel, itu adalah kisah tragis yang memilukan (walau kisah tentang pembunuhan itu merupakan pelajaran yang baik mengenai seseorang yang tidak dapat mengendalikan diri dan menjadi ‘gelap mata’).

image

Saya suka kisah tentang Kain dan Habel yang mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan. Oh ya, saya rasa Kain pun memberikan yang terbaik untuk Tuhan… hanya saja dia menggunakan ukuran yang berbeda, yaitu ukurannya sendiri.

Saya bayangkan, mereka sudah dewasa dan sudah waktunya memberi sendiri korban pada Tuhan, tidak lagi dengan orang tuanya. Mereka sudah dewasa dan bertanggungjawab atas korbannya sendiri kepada Tuhan.

Merasa gengsi, atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak mulai membuat teorinya sendiri, “apa bedanya? Bukankah ladang ini juga ciptaan Tuhan dan aku bekerja dengan berpeluh untuk memberikan hasil tanah terbaik?”

Merasa gengsi, atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak membuat asumsi sendiri dan menyiapkan gandum dan sayur-sayuran terbaik untuk korban bakaran. Lupa akan artinya “darah yang tercurah” yang sudah pernah diceritakan orang tuanya yang terusir dari Eden.

Merasa gengsi atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak mengabaikan cara yang disukai Tuhan dan menggunakan cara yang disukainya. Ia mengabaikan apa yang dihendaki Tuhan dan menggantinya dengan apa yang diinginkannya.

Waktunya pun tiba, ketika batu mezbah dan ranting-ranting sudah disiapkan. Disimpannya gandum, sayur-sayuran dan buah-buahan di atas mezbah sementara adiknya menaruhkan anak domba tak bercacat di atas mezbahnya.

Kita tidak tahu apa tandanya sampai si sulung mengetahui bahwa Tuhan tidak menerima persembahannya. Mungkin saat itu api bakaran berasal dari Tuhan, seperti kisah Elia dan nabi-nabi palsu.

Ketika api sudah melalap habis anak domba, meneteskan lemak yang terbaik, gandum dan sayur dan buah-buahannya tetap tak tersentuh, lebih siap dijadikan salad daripada korban bakaran untuk Tuhan.

Si sulung kecewa berat, “bukankah aku sama lelahnya mengolah tanah ini? Dengan keringat dan peluh aku mengerjakan tanah ini agar memberi hasil yang baik. Lihat apa yang terjadi? DIA tak menyukainya”

Si sulung terpukul, “bukankah yang aku berikan juga yang terbaik? Gandum paling ranum, sayuran paling hijau dan buah-buahan paling segar? Lihat apa yang terjadi? DIA menolaknya!”

Kisah selanjutnya adalah apa yang sudah saya sebutkan di atas, “hati-hati Kain… dosa sedang mengintip…kau harus berkuasa atasnya”, dan Kain memilih menjadi pecundang yang kalah pada dosa yang mengintip.

Kisah ini menarik bukan? Ketika apa yang terbaik menurut kita ternyata ditolak oleh Tuhan. Setelah berjerih lelah memberikan apa yang MENURUT KITA paling baik, ternyata menurut Tuhan itu bukan yang terbaik.

Tahukah Anda apa sebabnya? Karena ukuran yang seharusnya kita gunakan adalah ukuran si penerima. Saya beri contoh, Anda ingin membantu seorang anak yang kurang gizi. Anda tidak bisa lantas memberi dia steak domba lezat karena itu makanan kesukaan Anda. perutnya mungkin tidak akan kuat dan dia mungkin malah mati.

Atau… Anda ingin memberi hadiah ulangtahun berupa buku impor mahal pada adik Anda yang suka main games dan tidak suka membaca. Dia terlihat kecewa dan tidak pernah membaca buku yang Anda berikan.

Apa Anda paham maksud saya? Ketika kita ingin memberi untuk Tuhan, maka ukuran yang harus kita berikan bukanlah ukuran kita,… tapi ukuran Tuhan.

Anda seorang Worship Leader dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu berdandan habis-habisan sebelum naik ke atas ‘panggung’, Anda melatih suara Anda agar indah didengar, Anda mengenakan pakaian terbaik, Anda berusaha agar pakaian Anda menarik dan enak dilihat jemaat. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang Guru Sekolah Minggu dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu mendekor ruangan habis-habisan dan membuat craft mahal dan indah agar anak-anak senang. Anda membuat kurikulum dari Alkitab dilengkapi kisah-kisah modern. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang pemusik dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu melatih chord-chord progresif yang tidak banyak orang tahu. Anda melatih kemampuan jari-jari Anda atau kemampuan memukul drum atau kemampuan menggesek biola. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang pengkotbah dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu mengikuti seminar, kursus public speaking, kuliah theologi hingga S3, dan sebagainya. Anda berusaha menjadi pengkotbah yang berapi-api dan disukai jemaat. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Jangan salah sangka, memberikan yang terbaik untuk Tuhan tidaklah salah… Tentu saja Anda harus memperlengkapi diri agar bisa memberikan yang terbaik. Sebagai Worship Leader, tentu melatih kemampuan vocal itu penting. Sebagai Guru Sekolah Minggu, tentu disukai anak itu penting. Sebagai pemusik, mengenal chord dan bermain musik dengan baik tentu penting. Sebagai pengkotbah, teknik berkotbah tentu penting.

Namun memberikan yang terbaik dengan standar manusia, dan tidak memperhitungkan Tuhan si penerima… itu yang salah.

Memberikan yang terbaik supaya nama kita ditinggikan dan bukan nama Tuhan yang ditinggikan… itu yang salah.

Memberikan yang terbaik karena takut Bapak Pendeta marah…itu yang salah.

Memberikan yang terbaik karena terobsesi untuk ‘kepuasan diri telah melakukan yang terbaik’… itu salah.

Bukankah lucu jika dipikir-pikir, ternyata standar Tuhan seolah-olah “tidak setinggi” standar manusia (atau Bapak Pendeta)? Oh, Tuhan tidak mempermasalahkan chord Anda. Dia tidak akan marah ketika Anda membuat pemain musik mengulang intro dua kali. Dia tidak akan marah ketika Anda harus memarahi anak-anak yang nakal.

Bukankah lucu jika dipikir-pikir, ketika Tuhan tidak marah namun Bapak Pendeta marah ketika PELAYAN TUHAN melakukan kesalahan? Seperti murid-murid yang marah ketika anak-anak datang pada Yesus.

Saudara, prioritas utama kita melayani Tuhan adalah membuat hati-Nya senang… dengan cara meninggikan nama-Nya.

Tak masalah kita berlatih vocal, sejauh itu dilakukan untuk Dia yang memberi kita suara. Tak masalah kita perfeksionis dalam menyajikan musik, sejauh itu dilakukan untuk Dia yang memberi kita kemampuan bermusik. Tak masalah kita mendekor ruangan Sekolah Minggu atau membuat acara untuk anak-anak, sejauh itu dilakukan untuk menyenangkan Dia yang mengasihi anak-anak itu.

Bukankah ketika nama Yesus ditinggikan, Dia akan membuat SEMUA orang datang pada-Nya? Bukan sekedar datang ke gedung gereja, tapi datang kepada-Nya.

Jadi, jika suatu saat kita ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan…pastikan kita menggunakan standar-Nya, yaitu memberikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan, untuk kemuliaan nama-Nya.

Ketika Tuhan tidak memiliki kepentingan


imageSejak usia sangat kanak-kanak, orangtua saya mengirimkan saya ke Sekolah Minggu. Di usia tiga tahun lebih saya pergi berjalan kaki ke Sekolah Minggu yang letaknya dekat dengan rumah saya.

Saat-saat itu adalah saat tak terlupakan. Ketika adik saya yang baru berusia 2 tahunan tertidur di sekolah minggu karena memang masih begitu kecil, dan guru sekolah minggu kami menggendongnya berjalan kaki pulang ke rumah saya.

Saat-saat itu begitu luar biasa karena kami tak sabar menunggu Minggu Sore untuk kebaktian Sekolah Minggu yang diselenggarakan di garasi rumah seorang tetangga.

Guru Sekolah Minggu kami akan mengunjungi anak-anak yang tidak hadir untuk memastikan mereka baik-baik saja, dan mendoakan mereka yang sakit. Oh, betapa mereka banyak berinvestasi dalam kehidupan saya.  Continue reading “Ketika Tuhan tidak memiliki kepentingan”

Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment


image

Wekernya berbunyi tepat pukul 4. Sepertinya sudah terlambat untuk Saat Teduh. Tidak!! Tidak ada waktu untuk bersaat teduh, lagipula bukankah apa yang akan dilakukannya untuk menyenangkan Tuhan? Seharusnya begitu! “Jadi sudahlah,” pikirnya, “Dia pasti mengerti”

Hal pertama yang akan dilakukannya pagi itu adalah menghias dirinya. Seorang make up artis telah siap untuk mendandaninya dan teman-temannya. Sebagai wanita, dia suka sekali didandani, mengenakan bulu mata palsu, riasan wajah, rambut dihias bak puteri, “Ah, aku akan menjadi cantik dan semua pasti iri melihatku!” pikirnya.

Continue reading “Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment”

Menyembah Baju Efod


Berkali-kali saya bertekad untuk tidak lagi membicarakan mengenai organisasi gereja dan siapapun yang ada di dalamnya. Entah karena apatis atau saya sudah dewasa, saya pun tidak tahu.

Tapi spanduk-spanduk besar yang berisi undangan ibadah Natal (dan juga KKR) membuat hati saya gelisah… entah siapa yang membuat hati saya gelisah, apakah Tuhan, atau otak saya sendiri, atau malah dari kubu si jahat… saya tidak tahu… Tapi mungkin Anda bisa membantu saya mencari tahu.

Hal yang mengusik saya bukanlah mengenai pendeta besar yang terkenal dengan arogansinya yang kerap mengadakan acara rutin di beberapa kota, melainkan spanduk yang dipasang untuk acara itu. Spanduk yang lebih mengeksploitasi namanya, dibanding nama Tuhan yang ia ceritakan.

Bukankah lucu karena di jaman sekarang ini, Pendeta merebut perhatian (dan penghormatan) lebih daripada Tuhan yang ia layani?

Dalam diskusi saya mengenai hal ini dengan seorang sahabat, ada dua kisah dari dua tokoh berbeda yang kami ungkapkan, yang cocok menggambarkan situasi di atas. Saya mengacu pada Daud, sedangkan sahabat saya mengacu pada Gideon. Bagaimana jika kita bahas keduanya?

Saya akan mulai dengan sudut pandang teman saya yang menurut saya lebih tepat untuk situasi yang tadi saya gambarkan.

Anda pernah dengar seorang hakim besar bernama Gideon? Dia dipilih Tuhan di tengah-tengah kekacauan yang terjadi di Israel kala itu. Saat itu orang Israel melakukan yang jahat di mata Tuhan dan Tuhan memukul mereka hingga mereka berada dalam keadaan melarat. Orang Midian berkemah mengelilingi mereka dan secara rutin menjarah seluruh bahan makanan dan ternak mereka.

Lalu seperti biasa, orang-orang Israel itu menjerit kepada Tuhan dan Tuhan mengutus malaikatnya untuk memanggil seorang muda, yang merupakan anak bungsu dari keluarga yang berasal dari kaum terkecil, suku terkecil orang Israel.

Anda dapat membaca mengenai keperkasaan anak muda itu di Hakim-hakim 6 – 8. Saya ingin membahas akhir hidup dari Gideon.

Tahukah Anda bahwa Gideon tidak terlalu membawa dampak pada kehidupan setelahnya. Alkitab mencatat bahwa setelah kematian Gideon, dengan segera orang Israel berbalik dan menyembah Baal (Hakim-hakim 8:33).

Tidakkah membingungkan? Dengan kepemimpinan sebesar itu, Gideon tidak membawa dampak di kemudian hari?

Ijinkan saya menanyakan ini. Para Hamba Tuhan… kepemimpinan seperti apa yang Anda inginkan? Berdampak hanya saat Anda hidup, atau sampai setelah Anda pergi?

Tahukah Anda apa yang memicu hal ini di jaman Gideon? Gideon membuat perhatian orang Israel mengarah pada dirinya dan bukannya Tuhannya.

Buktinya?
Tanpa disuruh Tuhan, ia memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan anting-anting dari musuhnya, membuat baju efod dari itu semua…

image

Seolah menggantikan dirinya, baju efod itu disimpan di kotanya, di Ofra. Apa yang terjadi? Orang Israel menyembah efod itu.

image

Hamba Tuhan, apakah kita pernah membuat kebijakan atau aturan yang membuat jemaat Tuhan berpaling dari Tuhan (ingat, Tuhan sendiri mengumpamakan jemaat sebagai domba, dan domba itu binatang bodoh yang ikut saja kemanapun gembalanya membawanya).

Bagaimana dengan hiasan panggung, tata lampu, musik dan dekorasi ruang yang membuat jemaat merasa bahwa tanpa itu mereka tak dapat menyembah Tuhan, hingga lama kelamaan mereka “menyembah baju efod”.

Bagaimana dengan nama kita yang tanpa sengaja kita taruh ketinggian. Foto kita yang terpampang di brosur atau poster karena kita pikir tanpa itu semua maka jemaat tidak mau hadir?

Jika itu semua cara memimpin Anda, wahai Hamba Tuhan… hasil akhirnya adalah apa yang terjadi pada orang Israel setelah kematian Gideon…

Baik, dari Gideon kita beralih kepada Daud. Ketika ia hendak memindahkan Tabut Perjanjian dari rumah Abinadab ke Kemah Suci. Pada percobaan pertama Daud mengenakan pakaian kebesaran raja, menari-nari dengan jubahnya seolah menunjukkan “aku raja hebat yang berhasil membawa tabut perjanjian Tuhan kembali ke Yerusalem”

Pada percobaan pertama pula ia mengangkat tabut ke atas kereta lembu dan bukannya mempelajari dalam Taurat bagaimana cara membawanya.

Dengan bahasa lain saya simpulkan, Daud memakai caranya sendiri untuk “memposisikan Tuhan” ke tempat yang ia anggap layak. Padahal, Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk memposisikan diri-Nya.

Hamba Tuhan, bangunan tinggi dan fasilitas hebat yang Anda bangun tidak dapat membuat Tuhan semakin besar… karena tanpa Anda pun, dia sudah besar. Ketika Anda menggunakan cara dan kebesaran nama Anda untuk kebesaran Tuhan, akibatnya adalah apa yang terjadi pada Daud.. Tuhan memukul dua orang yang mencoba menyelamatkan Tabut Perjanjian yang akan jatuh… sampai mati!

Berbeda seperti Gideon, Daud cepat menyadari kesalahannya. Percobaan berikutnya ia mempelajari bagaimana Tuhan ingin disembah, dan ia menyembah Tuhan dengan caranya Tuhan.

Pada percobaan berikutnya, ia membuka jubah kebesarannya dan hanya mengenakan baju efod dari kain linen. Bukan dari emas seperti yang dibuat Gideon, tapi dari kain linen. Baju efod dari kain linen adalah baju sederhana yang biasa dipakai kaum Lewi ketika menghadap Tuhan.

image

Pada percobaan berikutnya, ia membawa tabut dengan dipanggul oleh orang Lewi terpilih. Setiap berjalan enam langkah, mereka berhenti dan mempersembahkan korban bakaran pada Tuhan.

Hasilnya? Kepemimpinan Daud berdampak sampai beberapa generasi.

Saya tidak akan perpanjang tulisan ini. Saya akan menutupnya dengan sebuah pertanyaan:
Jika Anda saat ini diberi kepercayaan sebagai pemimpin jemaat atau gembala, apakah Anda membuat jemaat Anda menyembah Anda atau “baju efod emas” karya Anda, atau Tuhan yang hidup?

Ketika Penyesalan berakhir Maut


Minggu lalu kita baru memperingati Jumat Agung dan merayakan Paskah. Dalam kejadian kematian Kristus, ada suatu peristiwa yang tidak terlalu disukai. Suatu peristiwa horor di antara peristiwa agung yang terjadi di hari Jumat itu. Suatu peristiwa yang bahkan banyak guru sekolah minggu tidak terlalu menyukainya.

Peristiwa itu tercatat hanya satu kali dalam Injil Matius 27:3 – 10. Benar sekali! Kisah bunuh diri… Dilakukan oleh seorang murid yang menyesal karena telah mengkhianati gurunya.

Yudas, seorang yang dipercaya menjadi bendahara, membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh Iblis… Demi 30 keping perak menyerahkan gurunya kepada orang-orang yang membenci-Nya.
image

Ada begitu banyak perdebatan mengenai Yudas. Beberapa beranggapan bahwa Yudas hanya alat dari rencana Tuhan. Bahwa karena Yudas maka rencana pengorbanan Kristus dapat terlaksana. Itulah mengapa muncul Injil Yudas. Sebuah Injil yang menganggap Yudas adalah semacam nabi yang menjadi pelaksana rencana Tuhan.

Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai ‘apa yang terjadi dengan Yudas’. Jika kita mendengar Yudas, apa yang kita rasakan? Simpatik? Kasihan? Kesal, atau benci?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Yudas?

Pertama, kita tahu bahwa Yudas adalah seorang bendahara kelompok. Saya bayangkan dalam kelompok 13 ini, Yudaslah yang mengeluarkan uang ketika mereka selesai makan. Yudaslah yang akan dipanggil oleh Guru ketika mereka harus mengeluarkan atau menerima uang (Yoh 13:29)

Yudas pertama menarik perhatian kita ketika ia mengomentari seorang wanita yang memberikan parfum mahalnya untuk Yesus, “untuk apa pemborosan ini? Bukankah lebih baik jika parfum itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”

Yudas adalah tipe yang lebih mementingkan pekerjaan daripada si pemberi pekerjaan.

Pernahkah Anda menjadi seperti Yudas? Ketika seseorang memberi untuk Tuhan kita menganggapnya “untuk apa semua itu”. Atau pernahkah kita mati-matian bekerja tanpa mempedulikan keinginan Dia, yang memberikan pekerjaan.

Jika kita pernah melakukannya, hati-hati… Mungkin kita sedang terserang gejala awal seperti Yudas.

Kedua, Yudas dikenal sebagai Yudas Iskariot. Beberapa ahli berpendapat bahwa golongan Iskariot adalah golongan yang berniat memberontak kepada Romawi. Mereka muak dengan penjajahan Romawi dan Yudas mungkin berharap Yesus akan datang sebagai kepala rombongan pemberontak.

Namun penantian Yudas rupanya tanpa hasil. Bukannya menghasut rakyat untuk melawan, Dia malah mengajar untuk mengasihi. Bukannya memerintahkan untuk membenci Romawi, Dia malah mengajar untuk mendoakan musuh.

Orang-orang seperti Yudas adalah mereka yang mengharapkan Tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara mereka, bukan cara Tuhan. Orang-orang yang seolah memiliki idealis sendiri dan merasa bahwa idealis itulah yang paling benar.

Pernahkah kita berbuat seperti ini? Ketika kita merasa bahwa apa yang kita rencanakan adalah sempurna, bahkan melebihi rencana Tuhan. Kemudian kita mulai marah ketika ternyata rencana Tuhan berbeda dengan rencana kita. Kita merasa “saya sudah capek-capek kok hasilnya begini”, dan akhirnya kita keluar sebagai orang yang lelah.

Jika Anda pernah merasakan itu, hati-hati… Mungkin Anda terserang gejala Yudas juga.

Ketiga,… Saya ingin mengajak Anda membaca:

Lukas 22:3-6 Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.

Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.

Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.

Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

Di bagian lain ditulis seperti ini:

Yohanes 13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Ketiga, Yudas membiarkan dirinya digerakkan oleh Iblis. Dari sekian banyak murid Kristus, Iblis memilih untuk membisiki hati Yudas, dan… Yudas merespon pada bisikan ini.

Pertanyaan mendasar adalah, kenapa Yudas?

Saya pikir Iblis tidak asal pilih. Bukankah Iblis seperti singa yang berkeliling mencari orang yang dapat ditelannya? (I Petrus 5:8). Iblis melihat dari 12 murid yang ada, Yudas adalah sasaran empuk yang dapat ditelan. Mengapa?
Sederhana! Karena ia memiliki keraguan kepada Tuhan.

Seseorang dengan mudah dipengaruhi Iblis ketika imannya goyah. Itulah sebabnya iman begitu penting bagi anak-anak Tuhan.

Setiap kita mungkin pernah mengalami goyah iman, seperti Yudas. Ketika kita meragukan Tuhan, makin besar peluang kita mengikuti bisikan Iblis. Harap dicatat, saya tidak mengatakan dibisiki Iblis, tapi mengikuti bisikan Iblis.

Mungkin saja Iblis salah sasaran, berbisik sekedar untuk mencobai. Pada titik ini, setiap kita memiliki pilihan… Untuk mengikuti bisikan Iblis, atau untuk mengusirnya. Yudas mengikuti teladan Hawa, mengikuti bisikan Iblis.

Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih penting, keraguan pada Tuhan dan kekecewaan karena harapannya tidak dipenuhi merupakan modal yang cukup bagi Yudas untuk merespon bisikan Iblis dan menyerahkan Yesus dengan 30 keping perak.
image

Menurut Anda, jika Yudas menolak bisikan Iblis, akankah Yesus tetap disalibkan? Dengan sangat yakin saya akan menjawab YA! Tapi mungkin Yudas dapat menyelamatkan dirinya.

Namun, anggaplah Yudas sudah terlanjur dan dia tidak dapat mundur. Apa dia masih memiliki kesempatan?

Kita masuk pada poin berikutnya. Ketika Yudas melihat bahwa Gurunya disiksa sedemikian rupa sampai mati, ia menyesal.

Kita pasti sering mendengar kalimat “penyesalan datang belakangan” dan “tidak ada gunanya menyesal.” Benar, penyesalan datang belakangan, tapi bukan berarti bahwa menyesal itu tidak ada gunanya. Penyesalan memang tidak akan mengubah keadaan yang sudah lewat, tapi mungkin menentukan keadaan berikutnya.

Petrus menyesal setelah ia menyangkali Yesus. Namun dia melakukan hal yang benar: dia menangis dengan sedihnya (Matius 26:75). Menangis adalah pertolongan pertama bagi penyesalan. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk mengambil nafas sebelum keputusan berikutnya. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk tidak gelap mata.

Setelah menangis, Petrus menanti… Dia menunggu… Sampai sebuah kabar menggetarkan hatinya “beritahukan pada murid-murid, dan juga kepada Petrus…Ia mendahului kami ke Galilea”

Petrus bertahan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dia, yang berhak mengampuni dosa. Akibatnya? Tuhan memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya dan dia mengakhiri hidupnya dengan gemilang sebagai rasul yang luar biasa.

Yudas menyesal ketika melihat Yesus mati, dan dia memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri. Sama seperti dia menganggap bahwa rencananya lebih baik dari rencana Tuhan… Demikian dia merasa bahwa caranya menyelesaikan penyesalan lebih baik dari cara Tuhan menyelesaikannya.

Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali akan mengampuninya. Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai “berdoa dan mengasihi mereka yang menganiaya kamu” akan mengasihinya.
Dan dia memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri menyelesaikan masalahnya: mengembalikan pembayarannya dan gantung diri…
image

Petrus dan Yudas, keduanya sama-sama menyesal, namun yang satu mengakhiri penyesalannya dengan berbalik kepada Tuhan dan menyerahkannya pada kedaulatan Tuhan, yang lain mengakhiri penyesalannya dengan caranya sendiri.

Saudara, kita mungkin pernah melakukan apa yang Yudas lakukan. Kita melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali dengan luar biasa. Ingatlah satu hal, penyesalan mungkin datang belakangan, namun jika direspon dengan tepat maka kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit lagi dan memulainya dari awal.

Nasib


Kita sering mendengar kata “nasib”, atau “takdir”. KBBI mendefinisikan “nasib” sebagai “Sesuatu yang ditentukan Tuhan”. Jika saya boleh menyingkatnya, saya akan menuliskan bahwa takdir adalah “kedaulatan Tuhan”.

Beberapa minggu ini entah kenapa kata “nasib” terngiang di pikiran saya. Sejak saya melihat berita di TV tentang sebuah mobil yang sedang mengantri keluar dari tol di Jawa Timur secara tiba-tiba dari belakangnya. Anda bisa melihat videonya di bawah ini:

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=beWsoJ5nLD8]

Saya tidak dapat membayangkan apa yang ada di pikiran keluarga dari pengendara Jazz Pink yang tiba-tiba saja tertabrak dari arah belakang saat mobilnya dalam posisi diam. Mereka tentu menangis dan bertanya “kenapa Tuhan” atau “apa yang salah”.

Berbeda dengan mereka yang meninggal memang karena ugal-ugalan atau karena bunuh diri atau karena berkelahi. Korban kematian karena kecelakaan yang tidak disangka-sangka makin menyadarkan kita bahwa kematian adalah kedaulatan Tuhan.

Saat menonton berita di atas, saya baru saja tiba dari perjalanan Jakarta-Bandung, di malam hari dan saya yang menyetir sendiri. Kondisi mata saya yang minus besar dan silindris membuat saya sekali-sekali mengalami kesulitan melihat kendaraan di depan saya. Namun Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk tiba di rumah dengan selamat.

Pemikiran mengenai nasib ini tiba-tiba datang lagi saat tadi saya sedang menunggu lampu merah di perempatan Soekarno Hatta – Batununggal. Mobil di kiri saya, Livina abu-abu yang juga sedang berhenti menunggu lampu merah tiba-tiba saja ditabrak dari belakang oleh sebuah motor (saya sendiri tidak tahu kronologisnya mengapa si pengendara motor sampai bisa menabrak mobil itu). Mobil itu mengalami kerusakan cukup parah karena kaca belakangnya sampai pecah dan badan mobil belakang penyok luar biasa (hampir seperti ditabrak oleh mobil).

Saya bukannya bersyukur karena hal itu tidak menimpa saya (karena seperti saya katakan, saya berpendapat bahwa adalah hal yang kejam jika kita bersyukur atas suatu hal buruk yang tidak menimpa kita tapi menimpa orang lain). Saya hanya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika itu terjadi pada saya.

Kemudian pemikiran saya mulai melompat-lompat dari satu topik ke topik lainnya. Sebagai orang Kristen seringkali kita menghakimi orang yang mengalami hal buruk dengan kata “kurang berdoa” atau “hukuman Tuhan”. Saya bukannya hendak menyepelekan berdoa. Namun pertanyaan yang mengganggu benak saya adalah, “jika doa dapat meluputkan kita dari masalah, apakah berarti orang yang mendapat masalah adalah SELALU orang yang tidak pernah berdoa?”.

Seringkali kita menyebut ketidakberuntungan sebagai “nasib buruk”. Jika “nasib” adalah kedaulatan Tuhan, maka apakah jika sesuatu yang buruk terjadi pada kita maka artinya Tuhan sedang menghukum kita?

Dalam kitab Mazmur, kita sering membaca bagaimana Daud minta diluputkan Tuhan dari masalah dan dilepaskan dari musuh-musuhnya. Bagian dari Mazmur yang saya akan ajak Anda untuk membahasnya bersama adalah Mazmur 27:2-6

Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.

Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.

Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.

Nasib buruk bukanlah ketika penjahat menyerang, namun nasib buruk yang sesungguhnya adalah ketika Tuhan memutuskan untuk meninggalkan kita. Nasib buruk bukanlah ketika tentara berkemah mengepung kita, namun ketika ketakutan dan keraguan akan Tuhan itu datang.

Saya suka nyanyian Daud di atas. Seolah dia hendak mengatakan bahwa, “Hei! kita tidak bisa berharap kepada musuh, tapi kita bisa berharap kepada Tuhan”.

Satu pelajaran mengenai nasib yang saya pelajari hari ini adalah, kita tidak bisa berharap pada masalah (“masalah jangan datang dong”), dan kita juga tidak berhak meminta Tuhan menjauhkan masalah dari kita (bisa saja masalah itu merupakan ujian atau sesuatu yang terjadi karena kesalahan kita). Kita juga tidak bisa berdoa agar Tuhan menjauhkan kematian (karena hidup dan mati adalah kedaulatan Tuhan).

Satu hal yang bisa kita lakukan adalah meminta Tuhan memberi kita kekuatan. Kekuatan ketika kita harus menghadapi masalah. Kekuatan untuk menegakkan kepala kita dan mengatasi setiap masalah yang ada di sekeliling kita. Kekuatan untuk tetap menjaga iman dan percaya kita kepada Tuhan. Kekuatan untuk tetap bersyukur, menyanyi dan bermazmur pada Tuhan bahkan saat masalah menghimpit kita.

 

Ketika Ayah dan Anak tidak sama saja


Saya sedang mempersiapkan bahan untuk Firman Tuhan minggu ini ketika tiba-tiba saja sesuatu menarik perhatian saya. Terkadang memang sesuatu yang sudah sering kita dengar tiba-tiba saja PLOP! melompat keluar dan menarik perhatian kita. Saya tertarik dengan Manasye, Amon dan Yosia.

Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, siapa itu Manasye, Amon dan Yosia. Sementara sebagian lagi mungkin langsung tahu siapa mereka bertiga. Ya, mereka adalah raja Yehuda dari Perjanjian Lama. Manasye sendiri adalah anak dari Hizkia, seorang raja yang berbuat benar di mata Tuhan, pernah meminta perpanjangan usia dan dikabulkan oleh Tuhannya Israel.

Manasye menjadi raja pada usia yang sangat muda, yaitu 12 tahun. Usia 12 tahun adalah ketika seorang anak tidak mau lagi disebut anak-anak, tapi juga terlalu muda untuk dapat dikatakan remaja. Di saat anak seusianya mungkin bermain dan berburu, Manasye telah menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat.

Hal yang menarik perhatian saya adalah karena kelakuan Manasye berbeda jauh dengan kelakuan ayahnya. Alkitab mencatat Hizkia sebagai raja yang “melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.”, sedangkan Manasye dicatat sebagai raja yang “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.”

Manasye ini, seharusnya telah melihat apa yang ayahnya lakukan seumur hidupnya. Ini yang Alkitab catat mengenai Hizkia (diambil dari II Raja-Raja 18:4-7)

Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia.

Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa.

Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung.

 

Seharusnya Manasye melihat bagaimana ayahnya telah menjadi raja yang beruntung kemanapun ia pergi berperang, dan seharusnya Manasye tahu bahwa yang menyebabkan ayahnya beruntung adalah karena Tuhan menyertai dia.

Namun Manasye justru melakukan hal yang sebaliknya. Bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh ayahnya didirikan kembali oleh Manasye. Seolah menganggap bahwa Hizkia adalah saingannya dan bukan ayahnya, ia melakukan apa yang dibenci oleh ayahnya selama ia masih hidup. Bukannya mengidolakan ayahnya, ia malah melakukan apa yang dilakukan Ahab, Raja Israel (Di jaman itu, Tuhan sudah memecah Kerajaan Israel dan Yehuda), yaitu membangun mezbah-mezbah untuk Baal dan membuat patung Asyera, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.

Tak cukup hanya itu, hal terburuk yang dilakukan Manasye adalah ia mengorbankan anaknya sendiri dalam api dan membuat mezbah untuk tentara langit di pelataran rumah Tuhan.

Cukup lama Manasye memerintah, lima puluh lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk dilihat oleh anak-anaknya. Waktu yang cukup lama untuk membuat bangsa Israel jauh dari Tuhan.

Namun berbeda dengan Hizkia yang tidak ditiru oleh anaknya. Manasye digantikan oleh seorang anak yang berkelakuan persis seperti dia. Amon, anak Manasye segera naik tahta setelah Manasye mangkat. Amon melakukan apa yang jahat, persis seperti ayahnya. Dia beribadah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa yang disembah oleh ayahnya.

Tak lama-lama Amon menjadi raja, hanya dua tahun saja. Rupanya ia bukan atasan yang baik, Amon mati di tangan pegawai-pegawainya sendiri, menyisakan tahtanya untuk anaknya yang masih berusia delapan tahun… YOSIA.

Yosia ini adalah seorang anak yang sudah pasti tidak mengenal kakek buyutnya, Hizkia. Sepanjang hidupnya ia menyaksikan kekejian demi kekejian yang dilakukan baik oleh kakeknya maupun oleh ayahnya. Namun sesuatu yang mengherankan terjadi, Yosia “melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (II Raja-raja 22:2)

Dalam masa pemerintahan Yosialah kitab Taurat ditemukan, setelah hilang (entah terselip atau terlupa) karena tidak diperhatikan di jaman kakeknya. Berdasarkan kitab tersebut, Yosia mengadakan pembaharuan agama. Anda bisa membaca sendiri apa yang dilakukan Yosia pada 2 Raja-raja 23.

Hal yang ingin saya bahas di sini mungkin di luar perkiraan Anda. Menurut Anda, dari antara Hizkia, Manasye, dan Amon… Siapakah Ayah yang dapat dikatakan “BERHASIL” ?

Hizkia yang tidak bisa mendidik anak? Manasye yang diikuti oleh anaknya? Atau Amon, seorang jahat yang dapat menghasilkan anak yang baik? Jika menjadi orangtua adalah ‘pengaruh’, maka saya dapat pastikan bahwa Manasye-lah yang paling berhasil mendidik anak.

Jaman sekarang ini, ketika “Parenting” tengah diangkat dan “peran orangtua” sedang banyak digembar gemborkan, kita banyak mendengar bahwa seorang ayah atau orangtua, bertanggungjawab atas kelakuan anak mereka.

Ketika saya membuat status berisi komplain dengan iklan di mana seorag anak berkata “kepo ih” ke orangtuanya, seorang teman berkata bahwa “itu salah orangtua” kalau sampai seorang anak bisa terpengaruh dengan iklan itu dan berkata “kepo ih” ke orangtuanya.

Saya berkata bahwa, jika dikembalikan ke orangtua… memang pada akhirnya seluruh kejahatan di muka bumi ini adalah salah orangtua…

Apakah benar begitu?

Saya pernah menulis bahwa ketika seorang anak masuk ke dalam penjara, maka orangtuanya tidak perlu menanggung perbuatannya (demikian juga sebaliknya). Memang betul, orangtua diberi tanggungjawab khusus oleh Tuhan menjadi pahlawan yang mengarahkan anak panah ke sasaran yang tepat. Sejak kecil seorang anak perlu diarahkan ke sasaran yang benar.

Kembali ke contoh Hizkia hingga Yosia,.. tahukah Anda bahwa Yosia mendapat kemurahan dari Tuhan… Kerajaan Yehuda tidak dihancurkan pada jaman pemerintahannya. Yosia wafat karena terbunuh di medan perang, dan anaknya Elyakim, yang diganti menjadi Yoyakim oleh Firaun, menggantikan dia. Yoyakim ini, kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan…seperti kakeknya.

Apa yang salah?

Anda mungkin berkata “mungkin Hizkia dan Yosia melupakan keluarganya selama mereka memerintah, mereka lupa mendidik anak-anak mereka”. Lalu bagaimana dengan Yosia? Siapa yang mendidiknya sehingga ia tidak meniru perbuatan Amon, ayahnya? Siapa yang mendidik Hizkia hingga ia tidak meniru perbuatan Ahas, ayahnya?

Saya menawarkan sebuah kata ajaib yang mungkin dapat menjadi jawaban dari permasalahan kita hari ini: PILIHAN!

Ketika Tuhan menciptakan manusia, disisipkannya hati nurani sebagai penanda, bahwa manusia merupakan mahluk istimewa yang Dia ciptakan. Ya! tak peduli bagaimana pun orangtua kita, Tuhan memberi kita pilihan.

Hizkia dan Yosia membuat pilihan yang benar. Sejak kecil ia mungkin tidak pernah mendengar tentang kebaikan dari orangtuanya, mungkin hanya dari ibunya saja (mungkin juga tidak). Kalaupun mereka mendengar dari ibunya saja, mereka tetap memiliki pilihan untuk mengikuti ayahnya, menjadi raja yang jahat, atau melakukan apa yang baik seperti Daud, leluhurnya.

Anda dan saya memiliki pilihan. Tak peduli bagaimana orangtua kita, tak peduli seperti apa lingkungan di mana kita berada, kita mempunyai pilihan untuk melakukan apa yang benar atau tidak.

Ketika kita memilih melakukan apa yang benar, Tuhan memberi kita balasannya,…Hizkia mendapat keberuntungan, dan Yosia lolos dari penghukuman akibat kesalahan orangtuanya.

Jadi… faktor apa yang mempengaruhi hidup Anda? Keturunan, lingkungan, atau hati nurani yang dititipkan Tuhan?

Ketika Dia menghampiriku


 

 

Aku berpikir bahwa
Memberi Tuhan segala dosaku
Adalah sebuah tindakan kurang ajar
Aku harus membereskan sendiri dosa-dosaku
Dengan menebusnya sendiri
Dengan berbuat banyak kebaikan

Tapi semakin aku berusaha
Semakin aku berputus asa
Semakin aku tahu bahwa tak mungkin
Tak mungkin menebus kesalahan
Yang tak pernah habis-habis Continue reading “Ketika Dia menghampiriku”