Pemimpin yang Melayani


Image result for chain of commandMenyadari pentingnya pengelolaan manajemen yang baik, salah seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di sebuah kota di Indonesia menghubungi kami untuk membantu beliau menata manajemennya. Dalam perbincangan santai dengan salah seorang Hamba Tuhan di gereja tersebut kemarin (setelah rapat konsultasi usai), saya mengatakan bahwa salah satu pokok persoalan yang menyulitkan dalam memperbaiki manajemen gereja (untuk beberapa gereja) adalah istilah “Pemimpin yang melayani”.

Saya menceritakan bahwa dalam dunia sekuler, Job Desc merupakan daftar tugas yang menjadi acuan seseorang bekerja. Tidak boleh ada inisiatif kebablasan yang membuat seseorang merasa harus mengerjakan tugas orang lain. Setiap orang harus menghormati wilayah pekerjaan dan wewenang orang lain, dalam dunia sekuler. Dalam dunia sekuler, walaupun sebagai pemilik perusahaan, namun batasan pekerjaan tetap dibuat. Sebagai konsultan, saya akan menganjurkan agar pemilik perusahaan tidak ‘ujug2’ mengepel lantai atau membuang sampah. Alasannya? Hal tersebut dapat merusak “chain of command” dalam perusahaan tersebut.

Saya akan bercerita sedikit apa itu chain of command. Chain of Command adalah sebuah hubungan dalam struktur organisasi yang menunjukkan siapa melaporkan pekerjaan pada siapa, siapa bertanggungjawab kepada siapa, siapa harus menjawab apa kepada siapa. Chain of Command yang baik menjamin bahwa ada satu orang yang bertanggungjawab untuk setiap tugas dan posisi.

Sekarang bayangkan jika seorang manager tiba-tiba berusaha mengepel lantai. Manager tersebut berinisiatif untuk membersihkan lantai ketika ada seorang yang muntah. Siapa yang menjamin bahwa apa yang dilakukannya sesuai dengan prosedur yang berlaku? Siapa yang menjamin bahwa hasil akhir dari pekerjaannya sempurna? Jika tidak sempurna, siapa yang bertanggungjawab?

Nah, hal tersebut sulit sekali diterapkan di dalam gereja. Dalam sebuah gereja saya pernah melihat ketika “pemilik gereja” yang adalah pengusaha (jaman sekarang gereja bisa dimiliki oleh seorang pengusaha yang bukan pendeta dan kemudian memanggil pendeta-pendeta bergelar Pdt. untuk berkotbah) tiba-tiba tergerak untuk memarkirkan kendaraan yang masuk ke gedung sebuah guest house yang adalah miliknya. Tanpa bermaksud seudzon, Beliau mungkin ingin menunjukkan pada pendeta yang berkotbah bahwa beliau termasuk “pemimpin yang melayani”

Baik, di beberapa gereja mungkin memang ada “pelayanan parkir”. Tapi dalam kasus ini tidak begitu, ada petugas parkir yang sedang bertugas di sana. Petugas parkir tersebut, sesuai dengan budaya timur, tentu saja tidak dapat menghampiri si Bapak dan berkata “maaf Pak, saya yang bertanggungjawab mengatur parkir di sini, biarkan saya melakukan tugas saya… Bapak masuk saja”. Tentu yang bersangkutan takut dipecat.

Ada banyak kesalahan yang dapat terjadi ketika seorang atasan tiba-tiba mengambil alih job desc bawahan, diantaranya:

  1. Ketika kesalahan terjadi, sulit mencari siapa yang bertanggungjawab.
  2. Ketika kesalahan terjadi, wibawa atasan akan jatuh di depan anak buah.
  3. Ketika yang dilakukan benar, kinerja anak buah justru akan menurun

Di gereja, menanamkan pemahaman ini menjadi begitu sulit karena adanya konsep “pemimpin yang melayani”. Mungkin Anda kemudian berkata, “kalau begitu apakah kamu setuju jika para pendeta bersikap bossy?”

Saya akan balik bertanya: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridnya mencari makanan ke warung ketika 5000 orang laki-laki mengikutinya? Mengapa tidak dia sendiri saja yang pergi mencari makanan?

Atau: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridNya mencari keledai untuk Dia tunggangi di hari raya Pondok Daun, kenapa tidak Dia saja yang mencarinya? Kenapa Dia menyuruh murid-murid-Nya yang mencari loteng untuk mereka makan Paskah terakhir, mengapa tidak Dia saja?

Apa Anda menangkap maksud saya? Menjadi pemimpin yang melayani tidak berarti bahwa Anda mengerjakan bagian orang lain. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Menjadi pemimpin yang melayani berarti Anda melakukan tugas Anda dengan sikap hati yang benar untuk kepentingan banyak orang, bukan hanya sekedar untuk kepentingan Anda. Menjadi pemimpin yang melayani adalah mempercayai peran semua orang dalam organisasi yang Anda pimpin, mengakui bahwa bukan Anda satu-satunya yang hebat, menghargai setiap orang atas kinerja mereka yang tidak ada intervensi seenaknya.

Saya tahu beberapa orang akan menunjukkan saya definisi boss dan leader… Lihatlah gambar di bawah, jika Anda seorang leader, Anda akan memastikan perahu yang Anda naiki bergerak ke arah yang benar  dan bukannya merebut dayung dan ikut mendayung… Jika Anda melakukannya karena ingin menjadi “pemimpin yang melayani”, percayalah, mungkin kapal Anda akan menabrak karang. Seorang boss akan duduk santai dan menyalahkan semua orang ketika perahu tidak sampai di tujuan atau mengambil alih tujuan ketika perahu tiba di tujuan dengan selamat.

Image result for leader

Memang terkadang kita perlu bersabar ketika kinerja orang lain tidak sebaik yang kita harapkan. Pemimpin yang melayani memberi kesempatan dan motivasi, bukan mengambil alih…

Ketika Anda menjadi pemimpin, walau itu di dalam gereja, saya sarankan… Hormati Chain of Command!

Advertisements

Tentang Hidup oleh Iman


Anakku,

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Kegelisahan akan apa yang akan terjadi nanti
Kegelisahan akan apa yang mungkin kita alami
Kegelisahan akan apa yang dapat menimpa kita

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Ketidakpastian akan kematian
Ketidakpastian akan keberuntungan
Ketidakpastian akan keselamatan

Tidak ada yang dapat membuat kita bertahan
Tanpa merasa gelisah
Tanpa merasa resah
kecuali dengan iman…

Itu sebabnya ada tertulis
“Orang benar akan hidup oleh iman”

Tanpa iman,…
Kau tak akan dapat menjalani hidup dengan ketidakpastian
Kau akan gelisah dan resah
Tak tenang dalam hidupmu

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hari esok akan datang
…dengan penuh harapan menyongsongnya
…dengan penuh semangat menjalaninya

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa Penciptamu mengasihimu
Bahwa Dia memeliharamu
Seperti Dia memelihara burung pipit
Atau mendandani bunga bakung

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hidupmu tak sia-sia
Setiap detik memiliki arti
…dan kau dapat menjadi harapan bagi orang lain

Hanya oleh iman…
Kita akan menatap masa depan dengan tersenyum
Karena masa depan sungguh ada
Dan harapanmu tak kan hilang

Hanya oleh iman…
Kau tak takut menghadapi kematian
Karena kau yakin akan kehidupan setelahnya
Bahwa Bapa di Surga siap menyambutmu

Ya anakku,
Ingatlah ini selalu
Orang benar akan hidup oleh iman

 

Tentang Melakukan apa yang Benar


Anakku,
Menjadi orang benar tidak berarti…
…bahwa kau akan disukai
…bahwa kau akan berhasil di dunia
…bahwa hidup akan lebih mudah

Melakukan apa yang benar tidak berarti…
… semua orang setuju dengan yang kau lakukan
… semua orang suka dengan yang kau lakukan
… semua orang akan membelamu

Dalam sejarah kau akan melihat
Ada orang memutuskan untuk mengatakan apa yang benar
…dan mereka dicemooh

Ada orang memutuskan untuk memilih apa yang benar
…dan mereka diasingkan

Ada orang memutuskan untuk bersikap benar
…dan mereka dipersekusi

Anakku,
Aku sudah menceritakan padamu banyak contoh
Mulai dari Daniel sampai Yesus
Mereka memilih kebenaran
…dan orang-orang membenci mereka

Kecenderungan manusia adalah memikirkan diri sendiri
Untuk menguntungkan diri sendiri,
Mereka rela melakukan apa yang tidak benar
Dan benci kalau ada ‘orang benar’
Karena semakin berkilau emas,
semakin terlihat kusam kayu di sampingnya

Namun anakku,
Berbuat benar adalah keputusan yang paling tepat
Mengatakan apa yang benar adalah keputusan yang bijak
dan memilih apa yang benar adalah keputusan seorang pahlawan

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu membuktikan pada mereka
Bahwa kau adalah emas murni yang berkilau
Tak ada yang dapat memadamkan kilau itu

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu menunjukkan kualitasmu pada mereka
Bahwa kau adalah cahaya yang bersinar
Tak ada yang dapat memadamkan sinar itu

Anakku,
Kita memilih kebenaran karena memang itu yang sepatutnya dilakukan
Karena itu yang diajarkan Pencipta
Karena itu yang disukai-Nya
Karena itu yang dilakukan-Nya

Ketika kita melakukan apa yang benar,
Kita sedang mengikuti jejak-Nya
Kita sedang meneladani-Nya
Kita sedang bersinar di dunia

Putuskanlah apa yang benar, anakku
Bahkan jika itu berarti kau akan dicemooh
Bahkan jika itu berarti kau akan diasingkan
Bahkan jika itu berarti kau akan dipersekusi
Pilihlah apa yang benar

Karena saat kau melakukannya,
Kau sedang membuat Penciptamu tersenyum…

Berkat dari Memberi


Anakku,
Berkat dari memberi itu…
Bukanlah ketika kau mendapat balasan
Tapi senyuman dari mereka yang menerima

Berkat dari menolong itu…
Bukanlah saat suatu saat mereka membalas budi
Tapi hidup yang berubah dari mereka yang ditolong

Berkat dari berbuat baik itu…
Bukanlah saat kau menerima pahala,
Tapi karena itu sesuatu yang benar untuk dilakukan
Dan Tuhanmu tersenyum karenanya

Berkat dari membantu sesama itu…
Bukanlah saat kau menerim pujian dari orang lain
Tapi saat kau tahu,…
bahwa kau melakukan sebagian kecil dari yang sudah Tuhan lakukan padamu

Anakku,
Kehidupan di dunia bukanlah soal dirimu
Menjadi bahagia…
Bukanlah soal memuaskan dirimu
Bukanlah soal menyenangkan hatimu
Bukanlah soal membahagiakan jiwamu

Tapi bagaimana kau membuat orang lain tersenyum,
Bagaimana kau mengubahkan hidup orang lain,
Bagaimana kau membuat Tuhan senang,
Bagaimana kau membalas kebaikan Tuhanmu,

Berkat dari ini semua jauh lebih besar,
Karena yang kau senangkan bukan hanya dirimu seorang
Tapi banyak orang,
Terlebih Tuhan

Anakku,
Berkat dari melakukan itu semua
Adalah ketika kau menjadi manusia…
Yang melakukan apa yang diharapkan Penciptanya…
Yang memuliakan nama Penciptanya
Yang menyukakan hati Penciptanya

Ingatlah yang selalu kukatakan
Kota di atas gunung tidak mungkin tersembunyi…

Orang-orang dari Masa Lalu


Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu akan kenangan buruk
Mengingatkanmu akan kenangan indah
Mengingatkanmu akan kenangan perasaan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa waktu telah berlalu
dengan cepat,…
Tanpa belas kasihan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Sebagian melihatmu dengan cara yang sama
Sebagian melihatmu dengan berbeda
Seolah waktu diantaranya terlompati begitu saja

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa kehidupan memiliki babak
Setiap babak memiliki kenangannya sendiri
Dan setiap kenangan meninggalkan bekas

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu bahwa setiap orang meninggalkan bekas
…dalam kehidupan orang lain
Bekas yang dalam,
Bekas yang samar

Kecuali jika kehadirannya tak terlalu berarti
Atau perbuatannya tak sungguh bermakna
Atau hidupnya tak sungguh berdampak
…dalam hidupmu

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul,
Mengingatkanmu bahwa sebuah bintang
akan tetap terlihat
Sekalipun jaraknya jutaan tahun cahaya
Demikian pula bekas luka
yang tetap terlihat walau sudah diobati

 

 

Bukankah Dia Tuhan yang sama?


Beberapa minggu yang lalu saya diundang untuk membawakan Firman di ibadah remaja salah satu gereja di kota Bandung. Tidak banyak jemaatnya, tapi kita semua sepakat jumlah bukanlah masalah ketika kita melayani jiwa, bukan begitu?

Sepertinya pembina remaja saat itu semuanya berhalangan, sehingga ditunjuk salah satu anak remaja yang biasa bermain musik di ibadah itu untuk memimpin pujian. Saat tidak ada gembala, domba kocar kacir… Hal itu yang saya lihat di ibadah remaja saat itu. Pemimpin pujian memimpin sekenanya, seolah menyembah hanyalah rangkaian “menyanyikan-3-buah-lagu” dan ibadah hanyalah “rutinitas-yang-harus-dilalui-begitu-saja”.

Saya cukup shock dengan keadaan saat itu dan entah mengapa Firman Tuhan yang saya siapkan begitu sesuai. Saya membawakan tentang kisah Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan. Saya memulainya dengan ketika orang Filistin merampok Tabut Perjanjian itu karena berpikir bahwa Tabut itu adalah jimat keberuntungan orang Israel. Betapa Tuhan ingin kehadiran-Nya dihargai dan menghukum siapapun yang tidak menghargainya.

Tabut itu sempat ‘singgah’ di kuil Dagon dan Tuhan menghancurkan patung Dagon, hingga terlihat patung itu seperti sujud di depan Tabut Perjanjian. Tidak hanya itu, Tuhan menghukum orang Filistin dengan hebat. Tabut itu dipindahkan ke tiga kota, dan Tuhan menghukum orang Filistin yang berada di manapun Tabut itu berada.

Saya bertanya pada anak-anak remaja itu. Seandainya,… sekali lagi, seandainya… Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan itu ada di hadapanmu saat ini, apakah kalian pikir kalian akan selamat?

Sebagian besar menjawab “tidak” dan ada yang menjawab bahwa mereka pastilah akan mati. Saya mengasumsikan mereka mengerti arah pembicaraan saya.

Saat ini Tuhan tidak hadir dengan wujud Tabut Perjanjian yang ditaruh di ruang Maha Kudus. Tirai itu sudah terbelah dan siapapun yang percaya bisa menghadap hadirat-Nya. Namun pertanyaannya sikap seperti apa yang kita tunjukkan saat kita menghadap kepada-Nya?

Apakah Tuhan sudah melunak saat ini sehingga kita bisa bersikap seenaknya saat menyembah Dia? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Saya pernah menghadiri salah satu “gereja modern” di kota Bandung. Jika gereja ini digambarkan sebagai aliran musik, maka gereja ini adalah hip hop. Pemimpin pujiannya memakai topi dan salah satu singer mengenakan kaos oblong butut di dalam dan kemeja longgar di luar sementara singer lain menggunakan celana monyet. Saya tidak mengerti apakah dia memang tidak memiliki pakaian lagi di rumah, tapi saya percaya ada banyak pilihan lain untuk berpakaian sopan ketika Anda sedang menjadi “imam pujian” (bahasa yang dipakai oleh salah satu sinode besar di negara ini yang sangat saya sukai).

Hey dude, apakah jika Anda diundang Presiden Jokowi untuk makan di rumahnya Anda akan berpakaian seperti itu sementara Pak Presiden dengan rapi mengenakan batik untuk menemui Anda? Apakah istilah “mengekspresikan diri” bisa digunakan untuk kondisi semacam ini? Ketika melepas topi adalah cara untuk menunjukkan hormat, mengapa Anda mengenakannya di mimbar? Apakah Anda sehat?

Kembali ke masalah Tabut Perjanjian (oh ya, yang bercetak biru tidak saya Firmankan ke anak-anak remaja itu…hehe..). Orang Filistin kemudian mengembalikan Tabut Perjanjian, dengan dinaikkan ke atas lembu dan sesembahan berupa tikus dan benjol-benjol emas (I Samuel 6:17-18), mereka mengembalikan tabut itu. Lembu yang mereka gunakan berjalan dan tidak berbelok hingga tiba di sebuah daerah bernama Bet Semes. Orang-orang Bet Semes melihat Tabut itu dan senang bukan kepalang.

Tidak disebutkan apakah mereka senang karena berpikir bahwa kehadiran Tuhan sudah kembali atau hanya senang saja. Saya kira mereka ‘hanya senang saja’ tanpa mengerti makna dari kehadiran Tuhan. Buktinya, setelah memberikan korban persembahan untuk Tuhan, beberapa orang Bet Semes melongok-longok ke dalam Tabut Perjanjian, sebuah sikap yang tidak sopan dan seharusnya tidak dilakukan di saat itu. Akibatnya, Tuhan memukul orang Bet Semes dan 70 orang mati saat itu.

Orang Bet Semes kemudian menjadi takut, “Siapa yang tahan berdiri di hadapan Tuhan” kata mereka, dan mereka mengirim utusan pada penduduk Kiryat Yearim untuk mengambil tabut itu, seolah kehadiran Tuhan adalah masalah bagi mereka.

Beberapa dari Anda mungkin bersyukur kita hidup di jaman kasih karunia. Di mana Tuhan tidak lagi menghukum dengan cara yang ekstrim. Saya ingin bertanya sekali lagi. Apakah Tuhan sudah melunak sehingga saat ini kita bisa bermain-main dengan kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Ya, kita seringkali main-main dengan kehadiran-Nya seperti orang Bet Semes yang walaupun terlihat senang dengan kehadiran Tabut Perjanjian tapi tidak bersikap sepatutnya. Seperti orang Bet Semes yang baru saja memberi persembahan untuk Tuhan tapi berlaku tidak semestinya dengan kehadiran Tuhan sesudahnya.

Selanjutnya Tabut Perjanjian itu disimpan di Rumah Abinadab dan dijaga oleh Eleazar yang dikuduskan untuk menjaga tabut Tuhan itu.

Selama dua puluh tahun tabut itu dilupakan oleh orang Israel. Saul menjadi raja dan sama sekali tidak ada niatnya untuk membawa Tabut itu hingga Daud diangkat menggantikan dia. Daud menjadi raja saat umur 30 tahun. Tentunya dia mendengar kisah mengenai tabut yang disimpan di rumah Abinadab saat ia berusia 10 tahun.

Tentu Daud merasa sudah waktunya ‘kejayaan Israel’ dikembalikan. Lambang kehadiran Tuhan seharusnya kembali ke tengah-tengah orang Israel. Saya sudah pernah membahas kisah Daud itu. Anda dapat membacanya di sini.

Daud mengenakan pakaian kebesarannya, menggunakan kereta dengan lembu seperti yang dilakukan oleh orang Filistin, menaikkan tabut ke atas kereta itu dan mulai menari-nari. Saya tidak mengerti apakah Daud lupa membaca Taurat yang mengatur bagaimana seharusnya Tabut itu dibawa atau dia berpikir bahwa dirinya sangat berkuasa hingga Tuhan dinaikannya di dalam keretanya?

Hasilnya, Anda bisa membacanya di II Samuel 6, Lembu-lembu itu hampir tergelincir dan Uza, anak Abinadab yang lain mencoba ‘menyelamatkan’ tabut itu,…dipukul Tuhan sampai mati.

Daud begitu terpukul dengan kejadian itu, hingga dia meninggalkan tabut itu di rumah Obed Edom sampai kemudian dia mendengar bahwa Obed Edom diberkati secara luar biasa dan kemudian Daud mempelajari lagi tentang Tabut itu.

Kali kedua Daud menanggalkan jubah kebesarannya, dikenakannya Efod dan dia menari-nari di depan tabut yang diusung di atas bahu orang Lewi. Tiap enam langkah, Daud mempersembahkan korban pada Tuhan, seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.

Kepada anak-anak remaja itu saya berkata, kemajuan teknologi membuat kita merasa bahwa kehadiran Tuhan perlu dinaikkan ke atas kereta lembu di mana kita menari-nari dengan baju kebesaran kita. Kereta lembu itu makin lama menjadi semakin modern. Awalnya kita bisa menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, hingga kemudian ditambahkan alat musik dan kita berpikir bahwa hanya dengan alat musik itu kita bisa menyembah Tuhan. Ketika musik itu tidak ada, maka sulit sekali menyembah Tuhan.

Lalu ditambahkan lagi sound system yang dikendalikan oleh seorang soundman hebat. Kemudian kita berpikir tanpa alat musik dan sound system maka tentulah kita tidak bisa menyembah Tuhan. Dekorasi kereta lembu ini terus kita lengkapi. Kita naikkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu.

Misi hanyalah omong kosong ketika kita bisa menari dengan jubah kebesaran kita. Seorang raja yang sanggup menghadirkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu seperti penyanyi yang merasa hebat karena pikirnya jemaat merasakan kehadiran Tuhan karena suara merdunya dan lenggak lenggoknya. Seperti pendeta yang merasa hebat karena pikirnya kehadiran Tuhan bisa direkayasa dengan seluruh kecanggihan teknologi. Seperti pemuka agama yang merasa bisa merekayasa kehadiran Tuhan dengan kemampuan bicaranya yang kaya dan penuh intonasi.

Kita merasa “terlalu berat memanggul tabut itu di atas bahu…”, menjadi terang untuk dunia tidak mungkin, lebih ringan jika terang itu ditaruh di bawah gantang, minimal mikroba atau kutu busuk di bawah gantang akan merasakan sinarnya.

Saya katakan kepada remaja-remaja itu. Tuhan hadir dalam penyembahan umat-Nya dan penyembahan itu tidak ada di atas kereta lembu, tapi penyembahan itu ada di atas bahu kita. Tuhan tidak peduli dengan gedung yang hebat walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan sound system dan tata cahaya walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan karpet dan rundown, walaupun manusia peduli. Ingatlah, lembu-lembu itu bisa tergelincir, menjatuhkan tabut Tuhan yang ada di atasnya.

Dunia melihat kita, dunia memperhatikan kita. Jika kita menggantungkan kehadiran Tuhan di atas ‘kereta lembu’ maka ketika kereta itu tergelincir, dan kita berusaha ‘menyelamatkannya’, mungkin saat itu sudah terlambat…

Tuhan yang menginginkan penghormatan di jaman Daud, yang ingin kehadirannya dihargai… bukankah Dia Tuhan yang sama dengan yang kita percayai saat ini?

Tentang Kemenangan


Anakku,
Seringkali aku memperhatikanmu
… bermain bersama teman-temanmu
Kalian berdebat dan bertengkar,
Terkadang ada yang curang agar bisa menang

Aku melihat, bahkan sejak kecil pun…
… manusia menginginkan kemenangan

Untuk mendapatkan kemenangan itu,
Manusia melakukan berbagai cara
Sebagian menggunakan cara yang baik,
Sebagian menggunakan cara yang tidak baik

Cara yang baik mendapatkan kemenangan
…adalah dengan bekerja keras
…namun mempertahankan integritas
Melakukan yang terbaik,
…dengan cara yang benar

Kemenangan yang sesungguhnya
…bukanlah ketika kita mendapatkan hadiah
…atau ketika kita mendapat penghargaan

Kemenangan yang sesungguhnya
…adalah ketika kita menyelesaikan apa yang kita mulai
…dengan kepala tegak, tanpa rasa malu
Karena kita tahu…
…kita sudah melakukan yang terbaik
…dengan cara yang benar

Ya anakku,
Aku tak akan bangga karena kau mendapat piala,
…atau menjadi juara satu
…atau menjadi ketua ataupun pimpinan

Aku akan bangga jika kau berusaha dengan baik,
…melakukan cara yang benar
…melakukan apa yang terbaik
…mempertahankan integritasmu
Karena itulah sejatinya kemenanganmu

Ada banyak orang berpikir,
Bahwa hadiah adalah hasil yang harus dicapai
dan kedudukan adalah tujuan akhir suatu pencapaian
Mereka berusaha begitu keras mendapatkannya,
Bahkan dengan cara yang curang

Anakku,
Percuma jika kau mendapatkan hadiah,
Namun dengan cara yang licik
Percuma jika kau menang,
Namun dengan mencurangi pihak lawan
Percuma jika kau juara,
Namun kau menipu

Kemenangan adalah suatu perayaan dari kerja keras,
Bukan hasil dari menipu dan memeras

Kemenangan adalah suatu hadiah karena perjuangan
Bukan hasil dari kebohongan dan kecurangan

Kemenangan adalah suatu pencapaian karena semangat
Bukan hasil dari obsesi buta

Anakku,
Ingatlah satu hal
Ketika kau sedang berjuang memperoleh kemenangan
Tak ada yang lebih penting dari integritas
Itu jauh melampaui hadiah apapun
Pertahankan itu!

Pun jika kau harus mengorbankan kemenangan
Karena mempertahankan kejujuran
Lakukan itu

Tak ada yang lebih penting dari integritas,
Karena integritas menunjukkan dari mana kau berasal
Dari Dia, Sumber Kebenaran

Kemenangan adalah perayaan atas kerja keras
Kemenangan adalah perayaan atas integritas
Kalau pun kau tak mendapat hadiah
Setidaknya kau adalah pemenang yang sesungguhnya

Gereja Bintang Lima: Emas untuk Bait Suci Tuhan


Hari Minggu ini cerah sekali. Seperti biasa, Pendeta Besar akan diundang ke Gereja Besar lagi. Pendeta Gereja Bintang Lima seharusnya memang berkotbah di Gereja Bintang Lima lainnya bukan? Ga level kalau hanya di kelas Bintang tiga, apalagi kelas melati. Selain itu,… sekalian studi banding. Jika ada yang lebih baik bisa ditiru (dengan diam-diam tentunya, malu juga kalau meniru terang-terangan), kalau lebih buruk bisa dibawa ke Rapat Mingguan Pengerja, “Gereja kita lebih unggul di bidang lighting” atau “Gereja kita lebih baik sound systemnya, jauh lebih mahal”.

Bapak Pendeta dengan semangat naik ke mobilnya, mengendara dengan jantung berdegup kencang. Hari ini dia akan kotbah di gereja saingan terberat. Gereja yang sama-sama maju, sama-sama besar dan sama-sama memiliki lift (“tapi tidak memiliki eskalator” pikirnya bangga) dan memiliki basement (“nah, yang ini akan diusahakan“)

Dia tiba tepat waktu, tidak terlambat, tidak juga lebih cepat. Tepat waktu! Disambut oleh semacam koordinator ibadah dan dibawa ke barisan paling depan, tempat duduk VVIP, khusus Pendeta Besar seperti dirinya (“Entah di mana Yesus duduk saat itu, yang jelas, bangku VVIP adalah milikku“)

Pembukaan ibadah tidak mirip seperti di Gereja Bintang Lima miliknya. Gereja ini agak konservatif. Mereka masih berdoa sebelum memulai ibadah. Padahal trend terbaru dalam beribadah di Gereja Bintang Lima seharusnya adalah pemain drum atau gitar dengan tatanan rambut modern (jika perlu memakai kacamata hitam), kemudian ‘disirami’ lampu warna-warni. Seharusnya setelah itu masuk para entertainer berpakaian seragam lucu yang siap bergerak kiri kanan menghibur jemaat yang hadir, langsung saja…tidak perlu berdoa.

Kemudian setelah penyembahan yang cukup panjang, diakhiri dengan doa (yang konservatif menurut Bapak Pendeta), dimulailah rangkaian pujian yang semangat. Jemaat mengangkat tangan dan sebagian berjingkrak-jingkrak. Bapak Pendeta melihat ke belakang “Luar biasa!” pikirnya “Mereka semua begitu bergembira. Tentu saja, di Gereja Bintang Lima milikku pun semua bergembira….dan terhibur“.

Kemudian tibalah gilirannya berkotbah. Dia adalah pengkotbah handal, memiliki program di televisi lokal dan banyak digemari ibu-ibu hingga nenek-nenek. Kotbahnya penuh kata-kata motivasi yang menguatkan, diselingi dengan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipilihnya baik-baik. Menguatkan, meneduhkan dan menyemangati siapa saja yang hadir dan mendengarnya.

Kemudian tibalah saat itu… Saat-saat yang begitu menginspirasi. Ketika multimedia mulai menampilkan ‘pengumuman’. Scene pertama dari pengumuman itu menunjukkan lokasi pengambilan gambar, sebuah cafe yang bergaya klasik, dengan pajangan unik yang bergelantungan di sana sini. Belum lagi daftar menu yang membuat perut lapar, daftar harga pun sempat dilewati sekilas.

Bapak Pendeta tidak dapat fokus dengan isi dari iklan pengumuman sepekan yang ditampilkan. Kepalanya dipenuhi ide-ide luar biasa mengenai menjual space iklan pengumuman kepada pengusaha. Di gerejanya ada banyak pengusaha yang memiliki bisnis startup. Tidak ada salahnya menjual space pengumuman itu kepada mereka. Lagipula mereka kan sekalian membantu program gereja. Jangan katakan itu iklan atau sponsor, katakan saja “membantu pembangunan gereja”, lagipula mereka masih harus membangun basement.

Setidaknya studi banding hari itu membuahkan hasil, “gaya mereka konservatif, tapi mereka memiliki pemikiran yang luar biasa brilian, menjual space pengumuman untuk iklan build in”. Dia bisa memiliki ide yang lebih baik. Akan dibuatnya beberapa paket. Paket paling mahal adalah jika dia sendiri, Bapak Pendeta, yang ada di tempat yang akan diiklankan, sekedar berkotbah atau memberi motivasi. Bagaimana jika meneguk sedikit kopi dengan merk anu kemudian memberi renungan singkat.

Paket kedua adalah jika salah satu pemimpin lain yang ada di tempat yang akan diiklankan. Mungkin (seolah-olah) habis belanja, kemudian menyapa jemaat dengan senyum lebar. Paket paling murah adalah jika logo perusahaan sponsor agak diblur di pojok kanan bawah sambil host pengumuman memberi kilasan kegiatan sepekan. Yaa!! Ide yang brilian… Ada banyak uang yang bisa dihasilkan! Mungkin untuk membangun basement, atau untuk iklan mengenai dirinya di beberapa titik di kota ini, atau sekedar berangkat ke Yerusalem… Siapa tahu!

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ketika Yesus marah di Bait Suci karena ada yang menjual merpati dan menukar duit, “Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa….dan kamu menjadikan Rumah Bapa-Ku ini sarang penyamun”

Apakah tak apa menjual space pengumuman untuk iklan. Ah, pastinya tak apa-apa… Bukankah uangnya digunakan untuk membeli “Emas untuk Bait Suci Tuhan”, ya…dikembalikan pada Tuhan juga toh? Kalau gereja memiliki basement, bukankah itu adalah salah satu “Emas untuk Bait Suci Tuhan”?

Lagipula, mungkin saja Yesus marah-marah karena apa yang dijual orang-orang itu kotor dan bau. Jamannya sudah berubah, “Emas untuk Bait Suci Tuhan” semakin mahal. Apa yang dijual tak lagi kotor dan bau… Ia memejamkan mata lalu mengambil keputusan, “sepertinya tak apa,… selama itu untuk “emas untuk Bait Suci Tuhan”.

—-

Sementara itu di bangku VIP…

Pengusaha muda itu tak sabar menanti waktu-waktu itu. Kotbah yang isinya mirip dengan apa yang sering dilihatnya di TV tak terlalu menarik minatnya. Ia hanya tertarik pada pengumuman yang mengambil lokasi di Cafe baru miliknya. Ayahnya adalah penyumbang terbesar gereja ini.

Tak semua orang bisa memasang iklan di mimbar gereja, tapi ayahnya bisa. Bapak Pendeta gereja ini selalu mengatakan “milikilah mentalitas kerajaan”. Bahkan sebuah kerajaan pun memiliki kebutuhan, bukan? Hebatnya, raja yang bijak mengetahui bagaimana caranya memperlakukan para bangsawan. Lagipula, dari mana emas untuk pembangunan Bait Suci diperoleh kalau bukan dari orang-orang seperti ayahnya.

Ya, tak semua orang bisa melakukan apa yang ayahnya lakukan. Mungkin tak murah untuk memasang iklan di gereja, tapi bukankah uangnya untuk membeli “Emas untuk Bait Suci Tuhan”.

 

ps: Cuma cerpen, ojo baper! ojo tebak-tebakan!

 

Selamat Ulang Tahun ke 64, Mama!


Terkadang,
Kenangan itu datang tanpa diundang
Seringkali datang karena aku mengundangnya…

Saat-saat di mana Mama memarahiku saat kecil
Terasa kejam… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku benci dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Semua aturan yang Mama terapkan
Terasa mengekang… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku tangisi dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hukuman demi hukuman yang Mama berikan
Terasa begitu menyiksa… bagi seorang anak
Sesuatu yang tak kumengerti dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hadiah yang mama berikan saat bagi raport,
Sulit mendapat pujian Mama
Sekali mendapatkannya,
Kau akan merasa terbang ke angkasa

Rasa kuatir yang disembunyikan
… saat aku pulang sekolah naik angkutan umum pertama kalinya
… saat aku pulang sesudah ujian
… saat aku pulang membawa kabar tentang penerimaan universitas

Senyum kecil yang kau berikan
Saat aku membawa kabar yang memang kau harapan
terlalu gengsi menunjukkan bahagia
namun terlalu sayang untuk menyembunyikannya

Setiap kenangan adalah pelajaran
Proses yang membentuk seorang anak perempuan
…menjadi wanita dewasa

Setiap aturan adalah sumber hikmat
Proses yang membentuk seorang anak pembangkang
…menjadi tahu diri

Setiap hukuman adalah pembinaan
Proses yang membentuk seorang anak pemberontak
… menjadi taat

Setiap hadiah yang sulit diperoleh adalah pelajaran
Bahwa seringkali hidup membutuhkan perjuangan
Dan pencapaian itu sendiri adalah hadiah

Setiap kekuatiran yang berubah menjadi senyum adalah pelajaran
Bahwa kabar baik dari yang terkasih adalah sumber kebahagiaan
Pencapaian dari yang terkasih adalah prestasi untuk seorang ibu

Selamat ulang tahun yang ke 64, Mama!
Darimu aku belajar untuk menjadi kuat
Darimu aku belajar untuk menjadi tegar
Darimu aku belajar untuk menjadi cukup tanpa berpuas diri

Selamat ulang tahun, Professor Mama!
Darimu aku belajar mengenai hikmat
Darimu aku belajar mengenai pengendalian diri
Darimu aku belajar mengenai kemurahan hati

Karena mahkota setiap anak adalah orang tuanya
Dan aku… memiliki mahkota yang begitu bersinar!!

Bebal, ROH jahat atau KARAKTER


Saya akan membuka tulisan ini dengan sebuah cerita. Anggap saja (ingat ya… ini hanya anggapan, jangan terlalu diambil hati) tentang saya yang sangat terpengaruh dengan buku bacaan bahasa Indonesia saat kelas 1 SD. Saya suka membaca buku bahasa Indonesia sejak sangat kecil. Saya suka membaca ini Budi, ini Ayah Budi, ini Ibu Budi. Saya bahkan ingat kalau nama kakak Budi adalah Wati dan adiknya bernama Iwan. Walau tidak pernah keluar di ujian sekolah, saya bahkan bisa menjawab pertanyaan itu jika dibangunkan di pagi hari buta “Siapa nama kakak Budi”, saya akan lantang menjawab “Wati”. Walau saya agak lupa dengan temannya yang bernama Hasan…

Saya punya seorang Papa bernama Samuel. Dia punya banyak nama, lihat saja di Facebooknya. Karena namanya Samuel Sachiawan, saat muda beliau dipanggil (atau mungkin beliau membuatnya sendiri) Sekie. Saya memanggil Samuel Sachiawan atau Samuel atau Sekie ini dengan sebutan Papa.

Anggap saja suatu saat saya bosan dengan sebutan Papa yang mainstream itu. Saya ingin memanggilnya dengan Ayah. Dia tidak keberatan. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Ayah. Lalu ketika nama Ayah mulai mainstream, saya memanggilnya Babeh. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Babeh. Lalu saya panggil lagi dengan sebutan Daddy. Tapi karena tetangga kami bernama Om Dedi, ayah saya bilang… ssst….jangan panggil Daddy, nanti ga enak sama tetangga.

Akhirnya saya mengganti lagi panggilan Ayah saya dengan Bokap… “Bokap,… kok lama banget pulangnya”. Sekali lagi, Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Bokap

Lalu saya dengar ada trend baru di kalangan anak muda. Di mana mereka mengatakan, akan lebih asik kalau memanggil Ayahnya dengan namanya sendiri. Lalu saya panggil dia dengan sebutan “Samuel”. Awalnya Samuel terlihat keberatan. Tapi lama-lama dia paham juga… Toh dia terkenal sebagai orang yang asik, tak apa dipanggil nama oleh anak perempuan yang dikasihinya, toh memang lagi trend.

Tiba-tiba saya bosan dengan semua panggilan itu. Saya ingat bahwa dulu waktu kecil saya pernah belajar mengenai “Ini Ayah Budi”, karena saya anti-mainstream, saya panggil Samuel dengan sebutan Budi…. “Bud, nanti kalau sempet kirim uang ke rekening ku ya” atau “Bud, mau dibuatin telor ceplok?” atau “Bud, liburan yuk Bud”

Samuel keberatan dipanggil Budi. Saya berusaha membuatnya mengerti bahwa Budi nama yang oke. Bahwa mungkin tak lama lagi “Budi” akan menjadi nama panggilan untuk seluruh ayah di dunia. Apa bedanya Papa, Ayah, Babeh, Bokap, Daddy, Budi. Lagipula Daddy dan Budi terdengar mirip.

Sehari dua hari saya panggil Papa saya dengan sebutan Budi. “Bud, gue baru bikin paspor.. Jelek banget fotonya. Liat dong paspor lo”

Kemudian Mama saya memberitahu saya bahwa Papa terlihat keberatan jika dipanggil Budi. Apalagi, Budi itu nama saingan terberatnya saat di sekolah dulu. Bahkan pernah berantem berkali-kali hingga sering diskors dan dipanggil kepala sekolah.

Tapi saya ga peduli. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa… TITIK!!!

Adik saya kemudian memberi saya pengertian “Greis, Papa kita namanya Samuel. Dia orangnya memang asik. Bahkan dia ga keberatan kamu panggil dia namanya: Samuel. Tapi kamu panggil Dia Budi…Come on!!! Itu nama siapa”

Saya tidak peduli juga. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa. Dia mengerti kok… Tidak ada yang berubah. Saya tetap mengakuinya papa saya. Kalau diperlihatkan foto-foto, saya akan menunjuknya… “Ini dia Budi saya” Bodo amat orang lain melihat dengan pandangan bingung…Bagi saya Budi ya Budi…TITIK!


Saudara, tunggu… Anda pasti cukup pintar kan untuk tidak menganggap bahwa cerita di atas adalah fakta. Tidak, saya tidak memanggil Samuel dengan sebutan Budi. Saya tahu dia suka dipanggil Papa. Dia menyebut dirinya dengan Papa dan saya memanggilnya begitu.

Hal yang ingin saya jelaskan di sini adalah masalah KEBEBALAN. Berkali-kali dalam Alkitab kita membaca ayat mengenai orang bebal, saya pun pernah mengulasnya. Orang bebal atau tegar tengkuk menulikan telinga dan menutup mata terhadap kebenaran. Bagi mereka, lebih mudah menyangkali kebenaran daripada mengakui bahwa selama ini mereka salah. Bahkan bqgi mereka, apa yang mereka yakini sudah pasti benar, walau fakta tidak mendukungnya.

Saat ini kita disuguhkan tiap hari dengan drama kebebalan dari bangsa ini. Kasus “AHOK MENISTA AGAMA” adalah contoh yang paling besar. Kaum intelektual mencoba meyakinkan “tak ada penistaan agama”.

“Gus Dur pun mengatakan itu”
“Tapi Ahok itu Kristen. Dia tak berhak mengutip kitab suci agama lain. Gus Dur beda lagi!!! PENJARAKAN!!!”

Lalu:

“Secara struktur bahasa kata ‘pakai’ akan mengubah makna kalimat. ‘Makan sendok’ beda dengan ‘makan pakai sendok”
“Tapi kan dilempar batu sama dengan dilempar pakai batu”
“Nah, yang salah bukan batunya kan, tapi orang yang melemparnya”
“Bodo amat. PENJARAKAN!!”

“Tapi Ahok itu anti korupsi”
“Lebih baik yang korupsi. PENJARAKAN!!!”
“Dia bahkan membangun banyak mesjid”
“Tidak peduli!!! PENJARAKAN”

Contoh berikutnya soal pemboikotan Sari Roti. :
“Tapi memang bukan Sari Roti yang bagi-bagi gratis.”
“Harusnya ga usah klarifikasi. BOIKOOOT”
“Tapi kalau tidak klarifikasi nanti salah paham. Ini perusahaan besar, bukan pisang goreng”
“Ah, biar saja seperti itu. BOIKOTT”
“Kasihan kan yang memang sudah mendanai”
“Ah, tidak ada yang tahu kan.BOIKOTTT”
“Tapi sudah ada sertifikat HALAL dari MUI”
“Bukan masalah itu. BOIKOTT”

Saya bingung sekali. Apakah kebebalan yang masif di bangsa ini adalah sebagai kutukan, bawaan lahir, serangan roh jahat, ataukah memang karakter yang sudah mengakar?

Kebebalan ini membuat manusia mempercayai suatu persepsi yang salah dan tidak mau menerima kebenaran. Membuat mereka mudah dipengaruhi oleh siapapun dalang yang memiliki kebusukan hati.

Kebebalan ini membuat manusia hanya mempercayai apa yang mereka inginkan. Mempercayai kebiasaan yang sudah lama dipupuk walaupun kebiasaan itu salah. Tidak mau dikoreksi dan mudah tersulut emosinya ketika diberi pandangan baru dari luar.

Jika Anda tidak percaya bangsa ini memiliki kebebalan semacam ini. Buka saja media sosial, kemudian baca komentar dari berita-berita yang hangat. Saya tidak tahu apakah itu akun bayaran atau bagaimana. Biasanya mereka akan menandaskan komentarnya seolah mereka menempatkan “pokoknya” di setiap kalimat,

“Pokoknya begitu”
“Kenapa begitu”
“Karena memang begitu”
“Kamu yakin?”
“Yakin!!!”
“Dari mana kamu yakin”
“Karena memang begitu!!”

Sayangnya, walaupun sudah menulis panjang-panjang, saya tidak memiliki solusi untuk kebebalan yang masif ini. Saya akhirnya hanya menutup dengan percakapan saya dan adik saya.

Saya (G): Pasti Tuhan sangat menyayangi bangsa ini.
Adik saya (Y): Kenapa?
G : Dulu Tuhan menyayangi Bangsa Israel, bangsa yang bebal dan tegar tengkuk
Y : Lalu?
G : Pasti Tuhan lebih menyayangi Bangsa Indonesia yang lebih bebal dan lebih tegar tengkuk
Y : Tapi orang Yahudi itu cerdas, sedangkan Indonesia…
G : Makanya…karena itu Tuhan pasti lebih menyayangi bangsa ini… Bangsa yang bebal, dan (begitulah)