Ketika Pancasila Menangis


Pancasila itu dasar yang bagus. Bagus sekali malah, mencakup seluruh aspek kebangsaan. Di jaman saya dulu, anak-anak TK sudah bisa menghafal Pancasila. Orang tua membantu anaknya menghafal Pancasila sehingga mau tidak mau mereka pun hafal Pancasila.
 
Tapi mengaku saja, saat kita TK Pancasila hanya sesuatu yang kita hafalkan tanpa kita maknai, persis seperti ayat hafalan yang sering diberikan oleh Guru Sekolah Minggu. Panjang, tapi tidak dimengerti!
 
Parahnya, seiring dengan berjalannya waktu, sesuatu yang dihafalkan tanpa dimaknai akan tetap seperti itu, dihafal tapi maknanya tak pernah sekalipun kita pikirkan, tak pernah sekalipun kita resapi, tak pernah sekalipun kita mengerti.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila pertama ditulis dengan gagah disamping lambang bintang “Ketuhanan yang Maha Esa”, begitu indah, dan akhirnya dimaknai secara sembarangan. Tuhan itu hanya satu, kalau kamu tak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhanku, kamu pasti kafir, karena itu orang kafir halal darahnya!
 
Katanya Bintang melambangkan cahaya, seperti Tuhan, itu makanya dipilih sebagai lambang sila pertama. Tapi kalau kita mau melihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda, kenyataannya banyak bintang di alam semesta ini, kamu boleh memiliki bintangmu, aku bintangku sendiri, walau keduanya sama-sama terang.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila kedua ditulis dengan ketegasan disandingkan dengan rantai: “Kemanusiaan yang adil dan beradab“. Saat kita kecil kita menerima saja penjelasan mengapa rantai dipilih untuk sila ini, yaitu kondisi manusia yang saling membantu, sebuah kondisi peradaban umat manusia: saling membantu.
 
Mungkin karena maknanya sebatas saling membantu bergotong royong maka arti adil dan beradab tidak dimaknai lebih dalam. Beradab berarti menjadi bagian dalam masyarakat dengan segala resikonya, taat aturan dan siap mengambil konsekuensi jika melanggarnya.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila ketiga ditulis adem di bawah pohon beringin: “Persatuan Indonesia“. Suatu sila yang begitu banyak disakiti akhir-akhir ini. Persatuan berarti “kau dan aku berbeda namun dapat bersatu” dan bukan berarti “kau dan aku sama”. Beringin dengan satu akar tunggal yang masuk dalam tanah namun memiliki banyak akar gantung di ranting-rantingnya.
 
Entah di mana letak kekeliruan memaknai sila ini. Bagaimana Batak dan Jawa bisa dianggap sama, karena memang berbeda, tapi keduanya Indonesia? Bagaimana Padang dan Ambon bisa dianggap sama karena berbeda tapi bukankah keduanya Indonesia? Bagaimana keturunan Arab dan Tionghoa bisa dianggap sama, karena memang berbeda, tapi bukankah keduanya yang tinggal di Indonesia berbangsa Indonesia?
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila keempat selalu merupakan sila yang paling sulit untuk dihafalkan anak TK, terlalu banyak bahasa yang sulit dimengerti, karena itu sampai besar kita tak pernah benar-benar memaknainya, hanya menghafal begitu saja: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” (Belum lagi lambangnya agak menakutkan, Banteng dengan dasar merah)
 
Sila ini untuk pemimpin, yang harus memimpin dengan hikmat dan bijaksana. Tidak mungkin seorang dapat memimpin jika ia tidak memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Tapi lucunya hari-hari ini kita disuguhkan dagelan dari para wakil rakyat, belum lagi korupsi yang merajalela.
 
Kepemimpinan dengan hikmat dan bijaksana ini dinaungi oleh dua kata sulit lainnya: permusyawaratan dan perwakilan. Semua harus dirembukkan, karena itu Presiden memiliki banyak mentri. Kemudian rakyat memiliki wakil… yang senantiasa melucu di gedung hijau itu.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila kelima adalah sila kegemaran saya: Keadilan sosial bagi SELURUH rakyat Indonesia (penekanan dari saya) dengan lambang padi dan kapas yang menggambarkan pangan dan sandang.
 
Ini juga selama beberapa puluh tahun tak pernah terjadi. Ada daerah yang baru didatangi presidennya di empat tahun belakangan. Ada daerah yang baru melihat aspal dalam empat tahun belakangan (dan daerah lainnya yang bahkan tidak tahu aspal itu apa).
 
Jika saya menjadi Pancasila, dengan pelanggaran besar-besaran seperti ini, tentunya saya menangis. Tak ada satupun sila yang benar-benar diterapkan di negara. Suatu dasar ideal yang tetap menjadi mimpi karena tak pernah terwujud.
 
Selamat hari jadi, Pancasila, sedih sekali karena tahun ini, kau masih harus menangis.
Advertisements

Saat Kau Keriput


Tanganku,
Suatu saat kau akan keriput
Tapi sebelum saat itu
Aku harap sudah banyak yang kau kerjakan
Berguna bagi orang lain,
Membantu sesama,
Melakukan apa yang hebat,
Menghasilkan karya besar,
Mengubahkan dunia

Wajahku,
Suatu saat kau akan keriput,
Tapi sebelum dan bahkan sesudah saat itu
Aku harap banyak yang kau tunjukkan,
Senyum yang menenangkan
Tawa yang hangat
Kemarahan yang dikendalikan,
Perhatian tulus saat ada yang bicara,

Mataku,
Suatu saat penglihatanmu akan kabur
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau lihat
Banyak yang sudah kau pelajari,
Banyak yang sudah kau baca,
Banyak yang sudah kau kenali,

Telingaku,
Suatu saat pendengaranmu mungkin akan berkurang
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau dengar
Banyak keluhan yang kau dengarkan
Banyak cerita yang kau tangkap
Banyak pelajaran yang kau dapatkan

Mulutku,
Suatu saat mungkin kau akan banyak bicara,
Mengeluh ini itu,
Mengomel ini itu,
Tapi sebelum saat itu,
Aku harap kau biaa mengendalikannya
Seperti kekang pada kuda
Lambat berkata-kata
Memilah mana yang harus diucapkan
Berlatih untuk tak memaki
Berlatih untuk tak mengomel
Berlatih untuk mengatakan apa yang manis

Tubuhku,
Suatu saat kau akan renta
Tapi sebelum saat itu,
Berkaryalah,
Berbuatlah banyak,
Bersyukurlah,
Bantulah mereka yang membutuhkan

Agar ketika saatnya tiba,
di tengah keriputmu,
Kau dapat tersenyum,
Ketika Pencipta memanggil.

Air untuk Raja


Hari ini saya mendengar kotbah yang luar biasa dari seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di Kota Bandung. Kotbahnya tentang tiga orang pahlawan yang mengambilkan air dari Sumur Bethlehem untuk Daud (I Tawarikh 11:15-19). Bapak Pendeta menyamakan air dari sumur Bethlehem dengan “Air Hidup dari Bethlehem”, dan seterusnya, dan seterusnya…

Saya diberkati oleh Firman Tuhan yang dibagikan tersebut, namun ketika saya merenungkannya, saya mendapat hal lain dari kisah yang luar biasa tersebut.

Kisah itu adalah tentang tiga orang terbaik Daud yang mendengar keinginan Daud: ingin minum air dari sumur Di Bethlehem. Kondisinya saat itu Bethlehem sedang dikuasai oleh militer Filistin, sehingga hampir tidak mungkin mengambil air dari sumur tersebut.

Mendengar keinginan Daud, tiga orang ini menerobos perkemahan Filistin untuk mengambil air dari Sumur Betlehem. Setelah mereka memperoleh air itu, mereka membawanya kepada Daud.

Sampai sini saya membayangkan kondisinya jika saya menjadi satu dari tiga orang itu. Apa yang akan saya rasakan ketika Daud akhirnya meminum air yang saya dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa. Jika Anda menjadi satu dari tiga orang itu, apa yang akan Anda rasakan saat Daud meminum air yang Anda peroleh dengan pertaruhan nyawa? Senang? Puas? Bahagia?

Tentu Anda senang ketika pemimpin Anda “menikmati” hasil dari kerja keras Anda, bukan?

Apa yang terjadi dengan air itu? Daud tidak meminumnya, malah mencurahkan air itu sebagai korban untuk Tuhan.

Saya bayangkan lagi apa yang terjadi saat itu. Ketiga orang itu melihat ketika air itu dituangkan ke tanah, dipersembahkan kepada Tuhan. Apa yang mereka rasakan? Mana yang lebih mereka sukai? Air itu diminum oleh Daud atau dipersembahkan kepada Tuhan.

Para pemimpin, khususnya pemimpin gereja, seringkali Anda menuntut orang yang Anda pimpin melakukan ini dan itu, terkadang sesuatu yang tidak masuk akal. Mengharapkan mereka untuk memenuhi standar Anda yang luar biasa tinggi: “menerobos pertahanan musuh untuk mendapatkan ‘air hidup dari Betlehem'”.

Namun seringkali ketika anak buah Anda mendapatkan keberhasilan, yang Anda lakukan adalah ‘meminum air’ itu. Anda meminumnya dengan rakus, berharap nama Anda semakin besar, Anda semakin terkenal .

Percayalah, jika Daud meminumnya, ketiga orang itu tidak akan disebutkan sebagai ‘pahlawan’ dalam ayat ke 19. Mungkin jabatan mereka hanya sebagai “orang terbaiknya Daud” (ayat 15).

Karena Daud mempersembahkan air itu untuk Tuhan, maka ketiga orang itu dituliskan Alkitab sebagai “pahlawan”.

Ketika nama Yesus ditinggikan, dan setiap perbuatan baik dan keberhasilan dipersembahkan kepada Tuhan, Dia akan menarik semua orang datang kepada-Nya, dan kita akan menjadi pahlawan-pahlawan Tuhan…

Pemimpin yang Melayani


Image result for chain of commandMenyadari pentingnya pengelolaan manajemen yang baik, salah seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di sebuah kota di Indonesia menghubungi kami untuk membantu beliau menata manajemennya. Dalam perbincangan santai dengan salah seorang Hamba Tuhan di gereja tersebut kemarin (setelah rapat konsultasi usai), saya mengatakan bahwa salah satu pokok persoalan yang menyulitkan dalam memperbaiki manajemen gereja (untuk beberapa gereja) adalah istilah “Pemimpin yang melayani”.

Saya menceritakan bahwa dalam dunia sekuler, Job Desc merupakan daftar tugas yang menjadi acuan seseorang bekerja. Tidak boleh ada inisiatif kebablasan yang membuat seseorang merasa harus mengerjakan tugas orang lain. Setiap orang harus menghormati wilayah pekerjaan dan wewenang orang lain, dalam dunia sekuler. Dalam dunia sekuler, walaupun sebagai pemilik perusahaan, namun batasan pekerjaan tetap dibuat. Sebagai konsultan, saya akan menganjurkan agar pemilik perusahaan tidak ‘ujug2’ mengepel lantai atau membuang sampah. Alasannya? Hal tersebut dapat merusak “chain of command” dalam perusahaan tersebut.

Saya akan bercerita sedikit apa itu chain of command. Chain of Command adalah sebuah hubungan dalam struktur organisasi yang menunjukkan siapa melaporkan pekerjaan pada siapa, siapa bertanggungjawab kepada siapa, siapa harus menjawab apa kepada siapa. Chain of Command yang baik menjamin bahwa ada satu orang yang bertanggungjawab untuk setiap tugas dan posisi.

Sekarang bayangkan jika seorang manager tiba-tiba berusaha mengepel lantai. Manager tersebut berinisiatif untuk membersihkan lantai ketika ada seorang yang muntah. Siapa yang menjamin bahwa apa yang dilakukannya sesuai dengan prosedur yang berlaku? Siapa yang menjamin bahwa hasil akhir dari pekerjaannya sempurna? Jika tidak sempurna, siapa yang bertanggungjawab?

Nah, hal tersebut sulit sekali diterapkan di dalam gereja. Dalam sebuah gereja saya pernah melihat ketika “pemilik gereja” yang adalah pengusaha (jaman sekarang gereja bisa dimiliki oleh seorang pengusaha yang bukan pendeta dan kemudian memanggil pendeta-pendeta bergelar Pdt. untuk berkotbah) tiba-tiba tergerak untuk memarkirkan kendaraan yang masuk ke gedung sebuah guest house yang adalah miliknya. Tanpa bermaksud seudzon, Beliau mungkin ingin menunjukkan pada pendeta yang berkotbah bahwa beliau termasuk “pemimpin yang melayani”

Baik, di beberapa gereja mungkin memang ada “pelayanan parkir”. Tapi dalam kasus ini tidak begitu, ada petugas parkir yang sedang bertugas di sana. Petugas parkir tersebut, sesuai dengan budaya timur, tentu saja tidak dapat menghampiri si Bapak dan berkata “maaf Pak, saya yang bertanggungjawab mengatur parkir di sini, biarkan saya melakukan tugas saya… Bapak masuk saja”. Tentu yang bersangkutan takut dipecat.

Ada banyak kesalahan yang dapat terjadi ketika seorang atasan tiba-tiba mengambil alih job desc bawahan, diantaranya:

  1. Ketika kesalahan terjadi, sulit mencari siapa yang bertanggungjawab.
  2. Ketika kesalahan terjadi, wibawa atasan akan jatuh di depan anak buah.
  3. Ketika yang dilakukan benar, kinerja anak buah justru akan menurun

Di gereja, menanamkan pemahaman ini menjadi begitu sulit karena adanya konsep “pemimpin yang melayani”. Mungkin Anda kemudian berkata, “kalau begitu apakah kamu setuju jika para pendeta bersikap bossy?”

Saya akan balik bertanya: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridnya mencari makanan ke warung ketika 5000 orang laki-laki mengikutinya? Mengapa tidak dia sendiri saja yang pergi mencari makanan?

Atau: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridNya mencari keledai untuk Dia tunggangi di hari raya Pondok Daun, kenapa tidak Dia saja yang mencarinya? Kenapa Dia menyuruh murid-murid-Nya yang mencari loteng untuk mereka makan Paskah terakhir, mengapa tidak Dia saja?

Apa Anda menangkap maksud saya? Menjadi pemimpin yang melayani tidak berarti bahwa Anda mengerjakan bagian orang lain. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Menjadi pemimpin yang melayani berarti Anda melakukan tugas Anda dengan sikap hati yang benar untuk kepentingan banyak orang, bukan hanya sekedar untuk kepentingan Anda. Menjadi pemimpin yang melayani adalah mempercayai peran semua orang dalam organisasi yang Anda pimpin, mengakui bahwa bukan Anda satu-satunya yang hebat, menghargai setiap orang atas kinerja mereka yang tidak ada intervensi seenaknya.

Saya tahu beberapa orang akan menunjukkan saya definisi boss dan leader… Lihatlah gambar di bawah, jika Anda seorang leader, Anda akan memastikan perahu yang Anda naiki bergerak ke arah yang benar  dan bukannya merebut dayung dan ikut mendayung… Jika Anda melakukannya karena ingin menjadi “pemimpin yang melayani”, percayalah, mungkin kapal Anda akan menabrak karang. Seorang boss akan duduk santai dan menyalahkan semua orang ketika perahu tidak sampai di tujuan atau mengambil alih tujuan ketika perahu tiba di tujuan dengan selamat.

Image result for leader

Memang terkadang kita perlu bersabar ketika kinerja orang lain tidak sebaik yang kita harapkan. Pemimpin yang melayani memberi kesempatan dan motivasi, bukan mengambil alih…

Ketika Anda menjadi pemimpin, walau itu di dalam gereja, saya sarankan… Hormati Chain of Command!

Tentang Hidup oleh Iman


Anakku,

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Kegelisahan akan apa yang akan terjadi nanti
Kegelisahan akan apa yang mungkin kita alami
Kegelisahan akan apa yang dapat menimpa kita

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Ketidakpastian akan kematian
Ketidakpastian akan keberuntungan
Ketidakpastian akan keselamatan

Tidak ada yang dapat membuat kita bertahan
Tanpa merasa gelisah
Tanpa merasa resah
kecuali dengan iman…

Itu sebabnya ada tertulis
“Orang benar akan hidup oleh iman”

Tanpa iman,…
Kau tak akan dapat menjalani hidup dengan ketidakpastian
Kau akan gelisah dan resah
Tak tenang dalam hidupmu

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hari esok akan datang
…dengan penuh harapan menyongsongnya
…dengan penuh semangat menjalaninya

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa Penciptamu mengasihimu
Bahwa Dia memeliharamu
Seperti Dia memelihara burung pipit
Atau mendandani bunga bakung

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hidupmu tak sia-sia
Setiap detik memiliki arti
…dan kau dapat menjadi harapan bagi orang lain

Hanya oleh iman…
Kita akan menatap masa depan dengan tersenyum
Karena masa depan sungguh ada
Dan harapanmu tak kan hilang

Hanya oleh iman…
Kau tak takut menghadapi kematian
Karena kau yakin akan kehidupan setelahnya
Bahwa Bapa di Surga siap menyambutmu

Ya anakku,
Ingatlah ini selalu
Orang benar akan hidup oleh iman

 

Tentang Melakukan apa yang Benar


Anakku,
Menjadi orang benar tidak berarti…
…bahwa kau akan disukai
…bahwa kau akan berhasil di dunia
…bahwa hidup akan lebih mudah

Melakukan apa yang benar tidak berarti…
… semua orang setuju dengan yang kau lakukan
… semua orang suka dengan yang kau lakukan
… semua orang akan membelamu

Dalam sejarah kau akan melihat
Ada orang memutuskan untuk mengatakan apa yang benar
…dan mereka dicemooh

Ada orang memutuskan untuk memilih apa yang benar
…dan mereka diasingkan

Ada orang memutuskan untuk bersikap benar
…dan mereka dipersekusi

Anakku,
Aku sudah menceritakan padamu banyak contoh
Mulai dari Daniel sampai Yesus
Mereka memilih kebenaran
…dan orang-orang membenci mereka

Kecenderungan manusia adalah memikirkan diri sendiri
Untuk menguntungkan diri sendiri,
Mereka rela melakukan apa yang tidak benar
Dan benci kalau ada ‘orang benar’
Karena semakin berkilau emas,
semakin terlihat kusam kayu di sampingnya

Namun anakku,
Berbuat benar adalah keputusan yang paling tepat
Mengatakan apa yang benar adalah keputusan yang bijak
dan memilih apa yang benar adalah keputusan seorang pahlawan

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu membuktikan pada mereka
Bahwa kau adalah emas murni yang berkilau
Tak ada yang dapat memadamkan kilau itu

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu menunjukkan kualitasmu pada mereka
Bahwa kau adalah cahaya yang bersinar
Tak ada yang dapat memadamkan sinar itu

Anakku,
Kita memilih kebenaran karena memang itu yang sepatutnya dilakukan
Karena itu yang diajarkan Pencipta
Karena itu yang disukai-Nya
Karena itu yang dilakukan-Nya

Ketika kita melakukan apa yang benar,
Kita sedang mengikuti jejak-Nya
Kita sedang meneladani-Nya
Kita sedang bersinar di dunia

Putuskanlah apa yang benar, anakku
Bahkan jika itu berarti kau akan dicemooh
Bahkan jika itu berarti kau akan diasingkan
Bahkan jika itu berarti kau akan dipersekusi
Pilihlah apa yang benar

Karena saat kau melakukannya,
Kau sedang membuat Penciptamu tersenyum…

Berkat dari Memberi


Anakku,
Berkat dari memberi itu…
Bukanlah ketika kau mendapat balasan
Tapi senyuman dari mereka yang menerima

Berkat dari menolong itu…
Bukanlah saat suatu saat mereka membalas budi
Tapi hidup yang berubah dari mereka yang ditolong

Berkat dari berbuat baik itu…
Bukanlah saat kau menerima pahala,
Tapi karena itu sesuatu yang benar untuk dilakukan
Dan Tuhanmu tersenyum karenanya

Berkat dari membantu sesama itu…
Bukanlah saat kau menerim pujian dari orang lain
Tapi saat kau tahu,…
bahwa kau melakukan sebagian kecil dari yang sudah Tuhan lakukan padamu

Anakku,
Kehidupan di dunia bukanlah soal dirimu
Menjadi bahagia…
Bukanlah soal memuaskan dirimu
Bukanlah soal menyenangkan hatimu
Bukanlah soal membahagiakan jiwamu

Tapi bagaimana kau membuat orang lain tersenyum,
Bagaimana kau mengubahkan hidup orang lain,
Bagaimana kau membuat Tuhan senang,
Bagaimana kau membalas kebaikan Tuhanmu,

Berkat dari ini semua jauh lebih besar,
Karena yang kau senangkan bukan hanya dirimu seorang
Tapi banyak orang,
Terlebih Tuhan

Anakku,
Berkat dari melakukan itu semua
Adalah ketika kau menjadi manusia…
Yang melakukan apa yang diharapkan Penciptanya…
Yang memuliakan nama Penciptanya
Yang menyukakan hati Penciptanya

Ingatlah yang selalu kukatakan
Kota di atas gunung tidak mungkin tersembunyi…

Orang-orang dari Masa Lalu


Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu akan kenangan buruk
Mengingatkanmu akan kenangan indah
Mengingatkanmu akan kenangan perasaan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa waktu telah berlalu
dengan cepat,…
Tanpa belas kasihan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Sebagian melihatmu dengan cara yang sama
Sebagian melihatmu dengan berbeda
Seolah waktu diantaranya terlompati begitu saja

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa kehidupan memiliki babak
Setiap babak memiliki kenangannya sendiri
Dan setiap kenangan meninggalkan bekas

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu bahwa setiap orang meninggalkan bekas
…dalam kehidupan orang lain
Bekas yang dalam,
Bekas yang samar

Kecuali jika kehadirannya tak terlalu berarti
Atau perbuatannya tak sungguh bermakna
Atau hidupnya tak sungguh berdampak
…dalam hidupmu

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul,
Mengingatkanmu bahwa sebuah bintang
akan tetap terlihat
Sekalipun jaraknya jutaan tahun cahaya
Demikian pula bekas luka
yang tetap terlihat walau sudah diobati

 

 

Bukankah Dia Tuhan yang sama?


Beberapa minggu yang lalu saya diundang untuk membawakan Firman di ibadah remaja salah satu gereja di kota Bandung. Tidak banyak jemaatnya, tapi kita semua sepakat jumlah bukanlah masalah ketika kita melayani jiwa, bukan begitu?

Sepertinya pembina remaja saat itu semuanya berhalangan, sehingga ditunjuk salah satu anak remaja yang biasa bermain musik di ibadah itu untuk memimpin pujian. Saat tidak ada gembala, domba kocar kacir… Hal itu yang saya lihat di ibadah remaja saat itu. Pemimpin pujian memimpin sekenanya, seolah menyembah hanyalah rangkaian “menyanyikan-3-buah-lagu” dan ibadah hanyalah “rutinitas-yang-harus-dilalui-begitu-saja”.

Saya cukup shock dengan keadaan saat itu dan entah mengapa Firman Tuhan yang saya siapkan begitu sesuai. Saya membawakan tentang kisah Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan. Saya memulainya dengan ketika orang Filistin merampok Tabut Perjanjian itu karena berpikir bahwa Tabut itu adalah jimat keberuntungan orang Israel. Betapa Tuhan ingin kehadiran-Nya dihargai dan menghukum siapapun yang tidak menghargainya.

Tabut itu sempat ‘singgah’ di kuil Dagon dan Tuhan menghancurkan patung Dagon, hingga terlihat patung itu seperti sujud di depan Tabut Perjanjian. Tidak hanya itu, Tuhan menghukum orang Filistin dengan hebat. Tabut itu dipindahkan ke tiga kota, dan Tuhan menghukum orang Filistin yang berada di manapun Tabut itu berada.

Saya bertanya pada anak-anak remaja itu. Seandainya,… sekali lagi, seandainya… Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan itu ada di hadapanmu saat ini, apakah kalian pikir kalian akan selamat?

Sebagian besar menjawab “tidak” dan ada yang menjawab bahwa mereka pastilah akan mati. Saya mengasumsikan mereka mengerti arah pembicaraan saya.

Saat ini Tuhan tidak hadir dengan wujud Tabut Perjanjian yang ditaruh di ruang Maha Kudus. Tirai itu sudah terbelah dan siapapun yang percaya bisa menghadap hadirat-Nya. Namun pertanyaannya sikap seperti apa yang kita tunjukkan saat kita menghadap kepada-Nya?

Apakah Tuhan sudah melunak saat ini sehingga kita bisa bersikap seenaknya saat menyembah Dia? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Saya pernah menghadiri salah satu “gereja modern” di kota Bandung. Jika gereja ini digambarkan sebagai aliran musik, maka gereja ini adalah hip hop. Pemimpin pujiannya memakai topi dan salah satu singer mengenakan kaos oblong butut di dalam dan kemeja longgar di luar sementara singer lain menggunakan celana monyet. Saya tidak mengerti apakah dia memang tidak memiliki pakaian lagi di rumah, tapi saya percaya ada banyak pilihan lain untuk berpakaian sopan ketika Anda sedang menjadi “imam pujian” (bahasa yang dipakai oleh salah satu sinode besar di negara ini yang sangat saya sukai).

Hey dude, apakah jika Anda diundang Presiden Jokowi untuk makan di rumahnya Anda akan berpakaian seperti itu sementara Pak Presiden dengan rapi mengenakan batik untuk menemui Anda? Apakah istilah “mengekspresikan diri” bisa digunakan untuk kondisi semacam ini? Ketika melepas topi adalah cara untuk menunjukkan hormat, mengapa Anda mengenakannya di mimbar? Apakah Anda sehat?

Kembali ke masalah Tabut Perjanjian (oh ya, yang bercetak biru tidak saya Firmankan ke anak-anak remaja itu…hehe..). Orang Filistin kemudian mengembalikan Tabut Perjanjian, dengan dinaikkan ke atas lembu dan sesembahan berupa tikus dan benjol-benjol emas (I Samuel 6:17-18), mereka mengembalikan tabut itu. Lembu yang mereka gunakan berjalan dan tidak berbelok hingga tiba di sebuah daerah bernama Bet Semes. Orang-orang Bet Semes melihat Tabut itu dan senang bukan kepalang.

Tidak disebutkan apakah mereka senang karena berpikir bahwa kehadiran Tuhan sudah kembali atau hanya senang saja. Saya kira mereka ‘hanya senang saja’ tanpa mengerti makna dari kehadiran Tuhan. Buktinya, setelah memberikan korban persembahan untuk Tuhan, beberapa orang Bet Semes melongok-longok ke dalam Tabut Perjanjian, sebuah sikap yang tidak sopan dan seharusnya tidak dilakukan di saat itu. Akibatnya, Tuhan memukul orang Bet Semes dan 70 orang mati saat itu.

Orang Bet Semes kemudian menjadi takut, “Siapa yang tahan berdiri di hadapan Tuhan” kata mereka, dan mereka mengirim utusan pada penduduk Kiryat Yearim untuk mengambil tabut itu, seolah kehadiran Tuhan adalah masalah bagi mereka.

Beberapa dari Anda mungkin bersyukur kita hidup di jaman kasih karunia. Di mana Tuhan tidak lagi menghukum dengan cara yang ekstrim. Saya ingin bertanya sekali lagi. Apakah Tuhan sudah melunak sehingga saat ini kita bisa bermain-main dengan kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Ya, kita seringkali main-main dengan kehadiran-Nya seperti orang Bet Semes yang walaupun terlihat senang dengan kehadiran Tabut Perjanjian tapi tidak bersikap sepatutnya. Seperti orang Bet Semes yang baru saja memberi persembahan untuk Tuhan tapi berlaku tidak semestinya dengan kehadiran Tuhan sesudahnya.

Selanjutnya Tabut Perjanjian itu disimpan di Rumah Abinadab dan dijaga oleh Eleazar yang dikuduskan untuk menjaga tabut Tuhan itu.

Selama dua puluh tahun tabut itu dilupakan oleh orang Israel. Saul menjadi raja dan sama sekali tidak ada niatnya untuk membawa Tabut itu hingga Daud diangkat menggantikan dia. Daud menjadi raja saat umur 30 tahun. Tentunya dia mendengar kisah mengenai tabut yang disimpan di rumah Abinadab saat ia berusia 10 tahun.

Tentu Daud merasa sudah waktunya ‘kejayaan Israel’ dikembalikan. Lambang kehadiran Tuhan seharusnya kembali ke tengah-tengah orang Israel. Saya sudah pernah membahas kisah Daud itu. Anda dapat membacanya di sini.

Daud mengenakan pakaian kebesarannya, menggunakan kereta dengan lembu seperti yang dilakukan oleh orang Filistin, menaikkan tabut ke atas kereta itu dan mulai menari-nari. Saya tidak mengerti apakah Daud lupa membaca Taurat yang mengatur bagaimana seharusnya Tabut itu dibawa atau dia berpikir bahwa dirinya sangat berkuasa hingga Tuhan dinaikannya di dalam keretanya?

Hasilnya, Anda bisa membacanya di II Samuel 6, Lembu-lembu itu hampir tergelincir dan Uza, anak Abinadab yang lain mencoba ‘menyelamatkan’ tabut itu,…dipukul Tuhan sampai mati.

Daud begitu terpukul dengan kejadian itu, hingga dia meninggalkan tabut itu di rumah Obed Edom sampai kemudian dia mendengar bahwa Obed Edom diberkati secara luar biasa dan kemudian Daud mempelajari lagi tentang Tabut itu.

Kali kedua Daud menanggalkan jubah kebesarannya, dikenakannya Efod dan dia menari-nari di depan tabut yang diusung di atas bahu orang Lewi. Tiap enam langkah, Daud mempersembahkan korban pada Tuhan, seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.

Kepada anak-anak remaja itu saya berkata, kemajuan teknologi membuat kita merasa bahwa kehadiran Tuhan perlu dinaikkan ke atas kereta lembu di mana kita menari-nari dengan baju kebesaran kita. Kereta lembu itu makin lama menjadi semakin modern. Awalnya kita bisa menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, hingga kemudian ditambahkan alat musik dan kita berpikir bahwa hanya dengan alat musik itu kita bisa menyembah Tuhan. Ketika musik itu tidak ada, maka sulit sekali menyembah Tuhan.

Lalu ditambahkan lagi sound system yang dikendalikan oleh seorang soundman hebat. Kemudian kita berpikir tanpa alat musik dan sound system maka tentulah kita tidak bisa menyembah Tuhan. Dekorasi kereta lembu ini terus kita lengkapi. Kita naikkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu.

Misi hanyalah omong kosong ketika kita bisa menari dengan jubah kebesaran kita. Seorang raja yang sanggup menghadirkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu seperti penyanyi yang merasa hebat karena pikirnya jemaat merasakan kehadiran Tuhan karena suara merdunya dan lenggak lenggoknya. Seperti pendeta yang merasa hebat karena pikirnya kehadiran Tuhan bisa direkayasa dengan seluruh kecanggihan teknologi. Seperti pemuka agama yang merasa bisa merekayasa kehadiran Tuhan dengan kemampuan bicaranya yang kaya dan penuh intonasi.

Kita merasa “terlalu berat memanggul tabut itu di atas bahu…”, menjadi terang untuk dunia tidak mungkin, lebih ringan jika terang itu ditaruh di bawah gantang, minimal mikroba atau kutu busuk di bawah gantang akan merasakan sinarnya.

Saya katakan kepada remaja-remaja itu. Tuhan hadir dalam penyembahan umat-Nya dan penyembahan itu tidak ada di atas kereta lembu, tapi penyembahan itu ada di atas bahu kita. Tuhan tidak peduli dengan gedung yang hebat walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan sound system dan tata cahaya walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan karpet dan rundown, walaupun manusia peduli. Ingatlah, lembu-lembu itu bisa tergelincir, menjatuhkan tabut Tuhan yang ada di atasnya.

Dunia melihat kita, dunia memperhatikan kita. Jika kita menggantungkan kehadiran Tuhan di atas ‘kereta lembu’ maka ketika kereta itu tergelincir, dan kita berusaha ‘menyelamatkannya’, mungkin saat itu sudah terlambat…

Tuhan yang menginginkan penghormatan di jaman Daud, yang ingin kehadirannya dihargai… bukankah Dia Tuhan yang sama dengan yang kita percayai saat ini?

Tentang Kemenangan


Anakku,
Seringkali aku memperhatikanmu
… bermain bersama teman-temanmu
Kalian berdebat dan bertengkar,
Terkadang ada yang curang agar bisa menang

Aku melihat, bahkan sejak kecil pun…
… manusia menginginkan kemenangan

Untuk mendapatkan kemenangan itu,
Manusia melakukan berbagai cara
Sebagian menggunakan cara yang baik,
Sebagian menggunakan cara yang tidak baik

Cara yang baik mendapatkan kemenangan
…adalah dengan bekerja keras
…namun mempertahankan integritas
Melakukan yang terbaik,
…dengan cara yang benar

Kemenangan yang sesungguhnya
…bukanlah ketika kita mendapatkan hadiah
…atau ketika kita mendapat penghargaan

Kemenangan yang sesungguhnya
…adalah ketika kita menyelesaikan apa yang kita mulai
…dengan kepala tegak, tanpa rasa malu
Karena kita tahu…
…kita sudah melakukan yang terbaik
…dengan cara yang benar

Ya anakku,
Aku tak akan bangga karena kau mendapat piala,
…atau menjadi juara satu
…atau menjadi ketua ataupun pimpinan

Aku akan bangga jika kau berusaha dengan baik,
…melakukan cara yang benar
…melakukan apa yang terbaik
…mempertahankan integritasmu
Karena itulah sejatinya kemenanganmu

Ada banyak orang berpikir,
Bahwa hadiah adalah hasil yang harus dicapai
dan kedudukan adalah tujuan akhir suatu pencapaian
Mereka berusaha begitu keras mendapatkannya,
Bahkan dengan cara yang curang

Anakku,
Percuma jika kau mendapatkan hadiah,
Namun dengan cara yang licik
Percuma jika kau menang,
Namun dengan mencurangi pihak lawan
Percuma jika kau juara,
Namun kau menipu

Kemenangan adalah suatu perayaan dari kerja keras,
Bukan hasil dari menipu dan memeras

Kemenangan adalah suatu hadiah karena perjuangan
Bukan hasil dari kebohongan dan kecurangan

Kemenangan adalah suatu pencapaian karena semangat
Bukan hasil dari obsesi buta

Anakku,
Ingatlah satu hal
Ketika kau sedang berjuang memperoleh kemenangan
Tak ada yang lebih penting dari integritas
Itu jauh melampaui hadiah apapun
Pertahankan itu!

Pun jika kau harus mengorbankan kemenangan
Karena mempertahankan kejujuran
Lakukan itu

Tak ada yang lebih penting dari integritas,
Karena integritas menunjukkan dari mana kau berasal
Dari Dia, Sumber Kebenaran

Kemenangan adalah perayaan atas kerja keras
Kemenangan adalah perayaan atas integritas
Kalau pun kau tak mendapat hadiah
Setidaknya kau adalah pemenang yang sesungguhnya