Berkat dari Memberi


Anakku,
Berkat dari memberi itu…
Bukanlah ketika kau mendapat balasan
Tapi senyuman dari mereka yang menerima

Berkat dari menolong itu…
Bukanlah saat suatu saat mereka membalas budi
Tapi hidup yang berubah dari mereka yang ditolong

Berkat dari berbuat baik itu…
Bukanlah saat kau menerima pahala,
Tapi karena itu sesuatu yang benar untuk dilakukan
Dan Tuhanmu tersenyum karenanya

Berkat dari membantu sesama itu…
Bukanlah saat kau menerim pujian dari orang lain
Tapi saat kau tahu,…
bahwa kau melakukan sebagian kecil dari yang sudah Tuhan lakukan padamu

Anakku,
Kehidupan di dunia bukanlah soal dirimu
Menjadi bahagia…
Bukanlah soal memuaskan dirimu
Bukanlah soal menyenangkan hatimu
Bukanlah soal membahagiakan jiwamu

Tapi bagaimana kau membuat orang lain tersenyum,
Bagaimana kau mengubahkan hidup orang lain,
Bagaimana kau membuat Tuhan senang,
Bagaimana kau membalas kebaikan Tuhanmu,

Berkat dari ini semua jauh lebih besar,
Karena yang kau senangkan bukan hanya dirimu seorang
Tapi banyak orang,
Terlebih Tuhan

Anakku,
Berkat dari melakukan itu semua
Adalah ketika kau menjadi manusia…
Yang melakukan apa yang diharapkan Penciptanya…
Yang memuliakan nama Penciptanya
Yang menyukakan hati Penciptanya

Ingatlah yang selalu kukatakan
Kota di atas gunung tidak mungkin tersembunyi…

Advertisements

Orang-orang dari Masa Lalu


Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu akan kenangan buruk
Mengingatkanmu akan kenangan indah
Mengingatkanmu akan kenangan perasaan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa waktu telah berlalu
dengan cepat,…
Tanpa belas kasihan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Sebagian melihatmu dengan cara yang sama
Sebagian melihatmu dengan berbeda
Seolah waktu diantaranya terlompati begitu saja

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa kehidupan memiliki babak
Setiap babak memiliki kenangannya sendiri
Dan setiap kenangan meninggalkan bekas

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu bahwa setiap orang meninggalkan bekas
…dalam kehidupan orang lain
Bekas yang dalam,
Bekas yang samar

Kecuali jika kehadirannya tak terlalu berarti
Atau perbuatannya tak sungguh bermakna
Atau hidupnya tak sungguh berdampak
…dalam hidupmu

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul,
Mengingatkanmu bahwa sebuah bintang
akan tetap terlihat
Sekalipun jaraknya jutaan tahun cahaya
Demikian pula bekas luka
yang tetap terlihat walau sudah diobati

 

 

Bukankah Dia Tuhan yang sama?


Beberapa minggu yang lalu saya diundang untuk membawakan Firman di ibadah remaja salah satu gereja di kota Bandung. Tidak banyak jemaatnya, tapi kita semua sepakat jumlah bukanlah masalah ketika kita melayani jiwa, bukan begitu?

Sepertinya pembina remaja saat itu semuanya berhalangan, sehingga ditunjuk salah satu anak remaja yang biasa bermain musik di ibadah itu untuk memimpin pujian. Saat tidak ada gembala, domba kocar kacir… Hal itu yang saya lihat di ibadah remaja saat itu. Pemimpin pujian memimpin sekenanya, seolah menyembah hanyalah rangkaian “menyanyikan-3-buah-lagu” dan ibadah hanyalah “rutinitas-yang-harus-dilalui-begitu-saja”.

Saya cukup shock dengan keadaan saat itu dan entah mengapa Firman Tuhan yang saya siapkan begitu sesuai. Saya membawakan tentang kisah Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan. Saya memulainya dengan ketika orang Filistin merampok Tabut Perjanjian itu karena berpikir bahwa Tabut itu adalah jimat keberuntungan orang Israel. Betapa Tuhan ingin kehadiran-Nya dihargai dan menghukum siapapun yang tidak menghargainya.

Tabut itu sempat ‘singgah’ di kuil Dagon dan Tuhan menghancurkan patung Dagon, hingga terlihat patung itu seperti sujud di depan Tabut Perjanjian. Tidak hanya itu, Tuhan menghukum orang Filistin dengan hebat. Tabut itu dipindahkan ke tiga kota, dan Tuhan menghukum orang Filistin yang berada di manapun Tabut itu berada.

Saya bertanya pada anak-anak remaja itu. Seandainya,… sekali lagi, seandainya… Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan itu ada di hadapanmu saat ini, apakah kalian pikir kalian akan selamat?

Sebagian besar menjawab “tidak” dan ada yang menjawab bahwa mereka pastilah akan mati. Saya mengasumsikan mereka mengerti arah pembicaraan saya.

Saat ini Tuhan tidak hadir dengan wujud Tabut Perjanjian yang ditaruh di ruang Maha Kudus. Tirai itu sudah terbelah dan siapapun yang percaya bisa menghadap hadirat-Nya. Namun pertanyaannya sikap seperti apa yang kita tunjukkan saat kita menghadap kepada-Nya?

Apakah Tuhan sudah melunak saat ini sehingga kita bisa bersikap seenaknya saat menyembah Dia? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Saya pernah menghadiri salah satu “gereja modern” di kota Bandung. Jika gereja ini digambarkan sebagai aliran musik, maka gereja ini adalah hip hop. Pemimpin pujiannya memakai topi dan salah satu singer mengenakan kaos oblong butut di dalam dan kemeja longgar di luar sementara singer lain menggunakan celana monyet. Saya tidak mengerti apakah dia memang tidak memiliki pakaian lagi di rumah, tapi saya percaya ada banyak pilihan lain untuk berpakaian sopan ketika Anda sedang menjadi “imam pujian” (bahasa yang dipakai oleh salah satu sinode besar di negara ini yang sangat saya sukai).

Hey dude, apakah jika Anda diundang Presiden Jokowi untuk makan di rumahnya Anda akan berpakaian seperti itu sementara Pak Presiden dengan rapi mengenakan batik untuk menemui Anda? Apakah istilah “mengekspresikan diri” bisa digunakan untuk kondisi semacam ini? Ketika melepas topi adalah cara untuk menunjukkan hormat, mengapa Anda mengenakannya di mimbar? Apakah Anda sehat?

Kembali ke masalah Tabut Perjanjian (oh ya, yang bercetak biru tidak saya Firmankan ke anak-anak remaja itu…hehe..). Orang Filistin kemudian mengembalikan Tabut Perjanjian, dengan dinaikkan ke atas lembu dan sesembahan berupa tikus dan benjol-benjol emas (I Samuel 6:17-18), mereka mengembalikan tabut itu. Lembu yang mereka gunakan berjalan dan tidak berbelok hingga tiba di sebuah daerah bernama Bet Semes. Orang-orang Bet Semes melihat Tabut itu dan senang bukan kepalang.

Tidak disebutkan apakah mereka senang karena berpikir bahwa kehadiran Tuhan sudah kembali atau hanya senang saja. Saya kira mereka ‘hanya senang saja’ tanpa mengerti makna dari kehadiran Tuhan. Buktinya, setelah memberikan korban persembahan untuk Tuhan, beberapa orang Bet Semes melongok-longok ke dalam Tabut Perjanjian, sebuah sikap yang tidak sopan dan seharusnya tidak dilakukan di saat itu. Akibatnya, Tuhan memukul orang Bet Semes dan 70 orang mati saat itu.

Orang Bet Semes kemudian menjadi takut, “Siapa yang tahan berdiri di hadapan Tuhan” kata mereka, dan mereka mengirim utusan pada penduduk Kiryat Yearim untuk mengambil tabut itu, seolah kehadiran Tuhan adalah masalah bagi mereka.

Beberapa dari Anda mungkin bersyukur kita hidup di jaman kasih karunia. Di mana Tuhan tidak lagi menghukum dengan cara yang ekstrim. Saya ingin bertanya sekali lagi. Apakah Tuhan sudah melunak sehingga saat ini kita bisa bermain-main dengan kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Ya, kita seringkali main-main dengan kehadiran-Nya seperti orang Bet Semes yang walaupun terlihat senang dengan kehadiran Tabut Perjanjian tapi tidak bersikap sepatutnya. Seperti orang Bet Semes yang baru saja memberi persembahan untuk Tuhan tapi berlaku tidak semestinya dengan kehadiran Tuhan sesudahnya.

Selanjutnya Tabut Perjanjian itu disimpan di Rumah Abinadab dan dijaga oleh Eleazar yang dikuduskan untuk menjaga tabut Tuhan itu.

Selama dua puluh tahun tabut itu dilupakan oleh orang Israel. Saul menjadi raja dan sama sekali tidak ada niatnya untuk membawa Tabut itu hingga Daud diangkat menggantikan dia. Daud menjadi raja saat umur 30 tahun. Tentunya dia mendengar kisah mengenai tabut yang disimpan di rumah Abinadab saat ia berusia 10 tahun.

Tentu Daud merasa sudah waktunya ‘kejayaan Israel’ dikembalikan. Lambang kehadiran Tuhan seharusnya kembali ke tengah-tengah orang Israel. Saya sudah pernah membahas kisah Daud itu. Anda dapat membacanya di sini.

Daud mengenakan pakaian kebesarannya, menggunakan kereta dengan lembu seperti yang dilakukan oleh orang Filistin, menaikkan tabut ke atas kereta itu dan mulai menari-nari. Saya tidak mengerti apakah Daud lupa membaca Taurat yang mengatur bagaimana seharusnya Tabut itu dibawa atau dia berpikir bahwa dirinya sangat berkuasa hingga Tuhan dinaikannya di dalam keretanya?

Hasilnya, Anda bisa membacanya di II Samuel 6, Lembu-lembu itu hampir tergelincir dan Uza, anak Abinadab yang lain mencoba ‘menyelamatkan’ tabut itu,…dipukul Tuhan sampai mati.

Daud begitu terpukul dengan kejadian itu, hingga dia meninggalkan tabut itu di rumah Obed Edom sampai kemudian dia mendengar bahwa Obed Edom diberkati secara luar biasa dan kemudian Daud mempelajari lagi tentang Tabut itu.

Kali kedua Daud menanggalkan jubah kebesarannya, dikenakannya Efod dan dia menari-nari di depan tabut yang diusung di atas bahu orang Lewi. Tiap enam langkah, Daud mempersembahkan korban pada Tuhan, seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.

Kepada anak-anak remaja itu saya berkata, kemajuan teknologi membuat kita merasa bahwa kehadiran Tuhan perlu dinaikkan ke atas kereta lembu di mana kita menari-nari dengan baju kebesaran kita. Kereta lembu itu makin lama menjadi semakin modern. Awalnya kita bisa menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, hingga kemudian ditambahkan alat musik dan kita berpikir bahwa hanya dengan alat musik itu kita bisa menyembah Tuhan. Ketika musik itu tidak ada, maka sulit sekali menyembah Tuhan.

Lalu ditambahkan lagi sound system yang dikendalikan oleh seorang soundman hebat. Kemudian kita berpikir tanpa alat musik dan sound system maka tentulah kita tidak bisa menyembah Tuhan. Dekorasi kereta lembu ini terus kita lengkapi. Kita naikkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu.

Misi hanyalah omong kosong ketika kita bisa menari dengan jubah kebesaran kita. Seorang raja yang sanggup menghadirkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu seperti penyanyi yang merasa hebat karena pikirnya jemaat merasakan kehadiran Tuhan karena suara merdunya dan lenggak lenggoknya. Seperti pendeta yang merasa hebat karena pikirnya kehadiran Tuhan bisa direkayasa dengan seluruh kecanggihan teknologi. Seperti pemuka agama yang merasa bisa merekayasa kehadiran Tuhan dengan kemampuan bicaranya yang kaya dan penuh intonasi.

Kita merasa “terlalu berat memanggul tabut itu di atas bahu…”, menjadi terang untuk dunia tidak mungkin, lebih ringan jika terang itu ditaruh di bawah gantang, minimal mikroba atau kutu busuk di bawah gantang akan merasakan sinarnya.

Saya katakan kepada remaja-remaja itu. Tuhan hadir dalam penyembahan umat-Nya dan penyembahan itu tidak ada di atas kereta lembu, tapi penyembahan itu ada di atas bahu kita. Tuhan tidak peduli dengan gedung yang hebat walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan sound system dan tata cahaya walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan karpet dan rundown, walaupun manusia peduli. Ingatlah, lembu-lembu itu bisa tergelincir, menjatuhkan tabut Tuhan yang ada di atasnya.

Dunia melihat kita, dunia memperhatikan kita. Jika kita menggantungkan kehadiran Tuhan di atas ‘kereta lembu’ maka ketika kereta itu tergelincir, dan kita berusaha ‘menyelamatkannya’, mungkin saat itu sudah terlambat…

Tuhan yang menginginkan penghormatan di jaman Daud, yang ingin kehadirannya dihargai… bukankah Dia Tuhan yang sama dengan yang kita percayai saat ini?

Tentang Kemenangan


Anakku,
Seringkali aku memperhatikanmu
… bermain bersama teman-temanmu
Kalian berdebat dan bertengkar,
Terkadang ada yang curang agar bisa menang

Aku melihat, bahkan sejak kecil pun…
… manusia menginginkan kemenangan

Untuk mendapatkan kemenangan itu,
Manusia melakukan berbagai cara
Sebagian menggunakan cara yang baik,
Sebagian menggunakan cara yang tidak baik

Cara yang baik mendapatkan kemenangan
…adalah dengan bekerja keras
…namun mempertahankan integritas
Melakukan yang terbaik,
…dengan cara yang benar

Kemenangan yang sesungguhnya
…bukanlah ketika kita mendapatkan hadiah
…atau ketika kita mendapat penghargaan

Kemenangan yang sesungguhnya
…adalah ketika kita menyelesaikan apa yang kita mulai
…dengan kepala tegak, tanpa rasa malu
Karena kita tahu…
…kita sudah melakukan yang terbaik
…dengan cara yang benar

Ya anakku,
Aku tak akan bangga karena kau mendapat piala,
…atau menjadi juara satu
…atau menjadi ketua ataupun pimpinan

Aku akan bangga jika kau berusaha dengan baik,
…melakukan cara yang benar
…melakukan apa yang terbaik
…mempertahankan integritasmu
Karena itulah sejatinya kemenanganmu

Ada banyak orang berpikir,
Bahwa hadiah adalah hasil yang harus dicapai
dan kedudukan adalah tujuan akhir suatu pencapaian
Mereka berusaha begitu keras mendapatkannya,
Bahkan dengan cara yang curang

Anakku,
Percuma jika kau mendapatkan hadiah,
Namun dengan cara yang licik
Percuma jika kau menang,
Namun dengan mencurangi pihak lawan
Percuma jika kau juara,
Namun kau menipu

Kemenangan adalah suatu perayaan dari kerja keras,
Bukan hasil dari menipu dan memeras

Kemenangan adalah suatu hadiah karena perjuangan
Bukan hasil dari kebohongan dan kecurangan

Kemenangan adalah suatu pencapaian karena semangat
Bukan hasil dari obsesi buta

Anakku,
Ingatlah satu hal
Ketika kau sedang berjuang memperoleh kemenangan
Tak ada yang lebih penting dari integritas
Itu jauh melampaui hadiah apapun
Pertahankan itu!

Pun jika kau harus mengorbankan kemenangan
Karena mempertahankan kejujuran
Lakukan itu

Tak ada yang lebih penting dari integritas,
Karena integritas menunjukkan dari mana kau berasal
Dari Dia, Sumber Kebenaran

Kemenangan adalah perayaan atas kerja keras
Kemenangan adalah perayaan atas integritas
Kalau pun kau tak mendapat hadiah
Setidaknya kau adalah pemenang yang sesungguhnya

Selamat Ulang Tahun ke 64, Mama!


Terkadang,
Kenangan itu datang tanpa diundang
Seringkali datang karena aku mengundangnya…

Saat-saat di mana Mama memarahiku saat kecil
Terasa kejam… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku benci dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Semua aturan yang Mama terapkan
Terasa mengekang… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku tangisi dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hukuman demi hukuman yang Mama berikan
Terasa begitu menyiksa… bagi seorang anak
Sesuatu yang tak kumengerti dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hadiah yang mama berikan saat bagi raport,
Sulit mendapat pujian Mama
Sekali mendapatkannya,
Kau akan merasa terbang ke angkasa

Rasa kuatir yang disembunyikan
… saat aku pulang sekolah naik angkutan umum pertama kalinya
… saat aku pulang sesudah ujian
… saat aku pulang membawa kabar tentang penerimaan universitas

Senyum kecil yang kau berikan
Saat aku membawa kabar yang memang kau harapan
terlalu gengsi menunjukkan bahagia
namun terlalu sayang untuk menyembunyikannya

Setiap kenangan adalah pelajaran
Proses yang membentuk seorang anak perempuan
…menjadi wanita dewasa

Setiap aturan adalah sumber hikmat
Proses yang membentuk seorang anak pembangkang
…menjadi tahu diri

Setiap hukuman adalah pembinaan
Proses yang membentuk seorang anak pemberontak
… menjadi taat

Setiap hadiah yang sulit diperoleh adalah pelajaran
Bahwa seringkali hidup membutuhkan perjuangan
Dan pencapaian itu sendiri adalah hadiah

Setiap kekuatiran yang berubah menjadi senyum adalah pelajaran
Bahwa kabar baik dari yang terkasih adalah sumber kebahagiaan
Pencapaian dari yang terkasih adalah prestasi untuk seorang ibu

Selamat ulang tahun yang ke 64, Mama!
Darimu aku belajar untuk menjadi kuat
Darimu aku belajar untuk menjadi tegar
Darimu aku belajar untuk menjadi cukup tanpa berpuas diri

Selamat ulang tahun, Professor Mama!
Darimu aku belajar mengenai hikmat
Darimu aku belajar mengenai pengendalian diri
Darimu aku belajar mengenai kemurahan hati

Karena mahkota setiap anak adalah orang tuanya
Dan aku… memiliki mahkota yang begitu bersinar!!

Bebal, ROH jahat atau KARAKTER


Saya akan membuka tulisan ini dengan sebuah cerita. Anggap saja (ingat ya… ini hanya anggapan, jangan terlalu diambil hati) tentang saya yang sangat terpengaruh dengan buku bacaan bahasa Indonesia saat kelas 1 SD. Saya suka membaca buku bahasa Indonesia sejak sangat kecil. Saya suka membaca ini Budi, ini Ayah Budi, ini Ibu Budi. Saya bahkan ingat kalau nama kakak Budi adalah Wati dan adiknya bernama Iwan. Walau tidak pernah keluar di ujian sekolah, saya bahkan bisa menjawab pertanyaan itu jika dibangunkan di pagi hari buta “Siapa nama kakak Budi”, saya akan lantang menjawab “Wati”. Walau saya agak lupa dengan temannya yang bernama Hasan…

Saya punya seorang Papa bernama Samuel. Dia punya banyak nama, lihat saja di Facebooknya. Karena namanya Samuel Sachiawan, saat muda beliau dipanggil (atau mungkin beliau membuatnya sendiri) Sekie. Saya memanggil Samuel Sachiawan atau Samuel atau Sekie ini dengan sebutan Papa.

Anggap saja suatu saat saya bosan dengan sebutan Papa yang mainstream itu. Saya ingin memanggilnya dengan Ayah. Dia tidak keberatan. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Ayah. Lalu ketika nama Ayah mulai mainstream, saya memanggilnya Babeh. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Babeh. Lalu saya panggil lagi dengan sebutan Daddy. Tapi karena tetangga kami bernama Om Dedi, ayah saya bilang… ssst….jangan panggil Daddy, nanti ga enak sama tetangga.

Akhirnya saya mengganti lagi panggilan Ayah saya dengan Bokap… “Bokap,… kok lama banget pulangnya”. Sekali lagi, Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Bokap

Lalu saya dengar ada trend baru di kalangan anak muda. Di mana mereka mengatakan, akan lebih asik kalau memanggil Ayahnya dengan namanya sendiri. Lalu saya panggil dia dengan sebutan “Samuel”. Awalnya Samuel terlihat keberatan. Tapi lama-lama dia paham juga… Toh dia terkenal sebagai orang yang asik, tak apa dipanggil nama oleh anak perempuan yang dikasihinya, toh memang lagi trend.

Tiba-tiba saya bosan dengan semua panggilan itu. Saya ingat bahwa dulu waktu kecil saya pernah belajar mengenai “Ini Ayah Budi”, karena saya anti-mainstream, saya panggil Samuel dengan sebutan Budi…. “Bud, nanti kalau sempet kirim uang ke rekening ku ya” atau “Bud, mau dibuatin telor ceplok?” atau “Bud, liburan yuk Bud”

Samuel keberatan dipanggil Budi. Saya berusaha membuatnya mengerti bahwa Budi nama yang oke. Bahwa mungkin tak lama lagi “Budi” akan menjadi nama panggilan untuk seluruh ayah di dunia. Apa bedanya Papa, Ayah, Babeh, Bokap, Daddy, Budi. Lagipula Daddy dan Budi terdengar mirip.

Sehari dua hari saya panggil Papa saya dengan sebutan Budi. “Bud, gue baru bikin paspor.. Jelek banget fotonya. Liat dong paspor lo”

Kemudian Mama saya memberitahu saya bahwa Papa terlihat keberatan jika dipanggil Budi. Apalagi, Budi itu nama saingan terberatnya saat di sekolah dulu. Bahkan pernah berantem berkali-kali hingga sering diskors dan dipanggil kepala sekolah.

Tapi saya ga peduli. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa… TITIK!!!

Adik saya kemudian memberi saya pengertian “Greis, Papa kita namanya Samuel. Dia orangnya memang asik. Bahkan dia ga keberatan kamu panggil dia namanya: Samuel. Tapi kamu panggil Dia Budi…Come on!!! Itu nama siapa”

Saya tidak peduli juga. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa. Dia mengerti kok… Tidak ada yang berubah. Saya tetap mengakuinya papa saya. Kalau diperlihatkan foto-foto, saya akan menunjuknya… “Ini dia Budi saya” Bodo amat orang lain melihat dengan pandangan bingung…Bagi saya Budi ya Budi…TITIK!


Saudara, tunggu… Anda pasti cukup pintar kan untuk tidak menganggap bahwa cerita di atas adalah fakta. Tidak, saya tidak memanggil Samuel dengan sebutan Budi. Saya tahu dia suka dipanggil Papa. Dia menyebut dirinya dengan Papa dan saya memanggilnya begitu.

Hal yang ingin saya jelaskan di sini adalah masalah KEBEBALAN. Berkali-kali dalam Alkitab kita membaca ayat mengenai orang bebal, saya pun pernah mengulasnya. Orang bebal atau tegar tengkuk menulikan telinga dan menutup mata terhadap kebenaran. Bagi mereka, lebih mudah menyangkali kebenaran daripada mengakui bahwa selama ini mereka salah. Bahkan bqgi mereka, apa yang mereka yakini sudah pasti benar, walau fakta tidak mendukungnya.

Saat ini kita disuguhkan tiap hari dengan drama kebebalan dari bangsa ini. Kasus “AHOK MENISTA AGAMA” adalah contoh yang paling besar. Kaum intelektual mencoba meyakinkan “tak ada penistaan agama”.

“Gus Dur pun mengatakan itu”
“Tapi Ahok itu Kristen. Dia tak berhak mengutip kitab suci agama lain. Gus Dur beda lagi!!! PENJARAKAN!!!”

Lalu:

“Secara struktur bahasa kata ‘pakai’ akan mengubah makna kalimat. ‘Makan sendok’ beda dengan ‘makan pakai sendok”
“Tapi kan dilempar batu sama dengan dilempar pakai batu”
“Nah, yang salah bukan batunya kan, tapi orang yang melemparnya”
“Bodo amat. PENJARAKAN!!”

“Tapi Ahok itu anti korupsi”
“Lebih baik yang korupsi. PENJARAKAN!!!”
“Dia bahkan membangun banyak mesjid”
“Tidak peduli!!! PENJARAKAN”

Contoh berikutnya soal pemboikotan Sari Roti. :
“Tapi memang bukan Sari Roti yang bagi-bagi gratis.”
“Harusnya ga usah klarifikasi. BOIKOOOT”
“Tapi kalau tidak klarifikasi nanti salah paham. Ini perusahaan besar, bukan pisang goreng”
“Ah, biar saja seperti itu. BOIKOTT”
“Kasihan kan yang memang sudah mendanai”
“Ah, tidak ada yang tahu kan.BOIKOTTT”
“Tapi sudah ada sertifikat HALAL dari MUI”
“Bukan masalah itu. BOIKOTT”

Saya bingung sekali. Apakah kebebalan yang masif di bangsa ini adalah sebagai kutukan, bawaan lahir, serangan roh jahat, ataukah memang karakter yang sudah mengakar?

Kebebalan ini membuat manusia mempercayai suatu persepsi yang salah dan tidak mau menerima kebenaran. Membuat mereka mudah dipengaruhi oleh siapapun dalang yang memiliki kebusukan hati.

Kebebalan ini membuat manusia hanya mempercayai apa yang mereka inginkan. Mempercayai kebiasaan yang sudah lama dipupuk walaupun kebiasaan itu salah. Tidak mau dikoreksi dan mudah tersulut emosinya ketika diberi pandangan baru dari luar.

Jika Anda tidak percaya bangsa ini memiliki kebebalan semacam ini. Buka saja media sosial, kemudian baca komentar dari berita-berita yang hangat. Saya tidak tahu apakah itu akun bayaran atau bagaimana. Biasanya mereka akan menandaskan komentarnya seolah mereka menempatkan “pokoknya” di setiap kalimat,

“Pokoknya begitu”
“Kenapa begitu”
“Karena memang begitu”
“Kamu yakin?”
“Yakin!!!”
“Dari mana kamu yakin”
“Karena memang begitu!!”

Sayangnya, walaupun sudah menulis panjang-panjang, saya tidak memiliki solusi untuk kebebalan yang masif ini. Saya akhirnya hanya menutup dengan percakapan saya dan adik saya.

Saya (G): Pasti Tuhan sangat menyayangi bangsa ini.
Adik saya (Y): Kenapa?
G : Dulu Tuhan menyayangi Bangsa Israel, bangsa yang bebal dan tegar tengkuk
Y : Lalu?
G : Pasti Tuhan lebih menyayangi Bangsa Indonesia yang lebih bebal dan lebih tegar tengkuk
Y : Tapi orang Yahudi itu cerdas, sedangkan Indonesia…
G : Makanya…karena itu Tuhan pasti lebih menyayangi bangsa ini… Bangsa yang bebal, dan (begitulah)

 

 

Ketika Tuhan tidak memiliki kepentingan


imageSejak usia sangat kanak-kanak, orangtua saya mengirimkan saya ke Sekolah Minggu. Di usia tiga tahun lebih saya pergi berjalan kaki ke Sekolah Minggu yang letaknya dekat dengan rumah saya.

Saat-saat itu adalah saat tak terlupakan. Ketika adik saya yang baru berusia 2 tahunan tertidur di sekolah minggu karena memang masih begitu kecil, dan guru sekolah minggu kami menggendongnya berjalan kaki pulang ke rumah saya.

Saat-saat itu begitu luar biasa karena kami tak sabar menunggu Minggu Sore untuk kebaktian Sekolah Minggu yang diselenggarakan di garasi rumah seorang tetangga.

Guru Sekolah Minggu kami akan mengunjungi anak-anak yang tidak hadir untuk memastikan mereka baik-baik saja, dan mendoakan mereka yang sakit. Oh, betapa mereka banyak berinvestasi dalam kehidupan saya.  Continue reading “Ketika Tuhan tidak memiliki kepentingan”

Pilihan untuk kehidupan


Anakku,
Sebelum kau dilahirkan,
Kau bahkan tak memiliki pilihan untuk memilih
Sang Pencipta memilihkan untukmu,
Menaruhmu dalam rahim ibumu,
Itulah kenapa…
Hidupmu disebut anugerah

Selagi kau masih sangat kecil,
Kau tak memiliki banyak pilihan,
Bahkan hampir tak ada
Kami orang tuamu memilihkan untukmu,
Makanan yang kau makan,
Minuman yang kau minum,
Baju yang kau pakai,
Itulah kenapa…
Kami disebut orang tuamu,
Itulah kenapa…
Kami bertanggungjawab penuh atasmu Continue reading “Pilihan untuk kehidupan”

Kunci Kebahagiaan


Anakku,
Adalah hal yang biasa jika manusia,…
…bahagia ketika unggul dari orang lain
Atau bisa juga dikatakan…
…bahagia ketika melihat orang lain tidak lebih unggul dibanding dirinya
Atau bisa juga dikatakan…
…bahagia diam-diam,
ketika dirinya lebih beruntung dari orang lain…

Itulah sebabnya kau sering dipertontonkan
Tayangan mengenai kesedihan orang lain,
Mengenai ketidak beruntungan orang lain,
Mengenai kemalangan orang lain…
Dalihnya…
agar orang lain bisa merasa bersyukur…
…karena tidak berada di tempat mereka Continue reading “Kunci Kebahagiaan”

Tentang “Kenapa, Tuhan?”


Anakku,
Ketika usiamu bertambah,
Kau akan makin menyadari,
Bahwa pertanyaan,
“Kenapa Tuhan?”
Hanya retoris bodoh yang tak berguna

Pertanyaan itu…
Tak akan membawamu kemanapun
Tak akan membuat imanmu bertambah
Tak akan membuatmu lebih baik Continue reading “Tentang “Kenapa, Tuhan?””