About Greissia

A children educator, composer, writer and management consultant

Penyesalan


Penyesalan itu jahat
Ia menghancurkan hati
Meremukkan tulang

Membuatmu berandai-andai
Andai dulu tak begini
Anda dulu melakukan ini

Penyesalan itu jahat
Membuatmu membenci diri
Membuatmu merasa tak berdaya

Tak bisa kembali untuk memperbaiki
Tak bisa mengulang apa yang lewat
Tak bisa mencegah apa yang telah terjadi

Penyesalan itu jahat
Kalau kau menenggelamkan diri di dalamnya
Berkubang dan memutuskan tinggal

Ya, penyesalan itu jahat,
Kalau kau memutuskan menjadikannya bawaanmu
Sepanjang sisa umurmu

Menguburkan anak


Judul tulisan kali ini cukup menyeramkan… ini bukan pertanda, jangan mikir macam-macam. Gaya hidup, ditambah pandemi belakangan ini menyebabkan peluang kematian tidak hanya besar untuk orang tua. Banyak anak-anak muda berpulang mendahului orang tua mereka.

Anak menguburkan orang tua adalah hal yang lumrah…tapi orang tua menguburkan anak adalah hal yang menyakitkan. Tangan kecil yang kau genggam dan kau antarkan ke dunia, harus kau antarkan meninggalkannya mendahuluimu… suatu hal yang menghancurkan hati siapa saja.

Tadinya saya mau menuliskan ini semacam surat seperti yang biasa saya tuliskan…. Tapi saya kuatir Papa saya atau keluarga saya membacanya dan berpikiran macam-macam, hehehe… jadi saya mendahuluinya dengan pengantar semacam ini.

Siapa saja bisa berpulang kapan saja, merupakan rahasia dan kehendak Ilahi. Namun saat bicara soal kematian, siapapun akan merasa ngeri. Saya pernah berkata kepada adik saya, bahwa seseorang yang menangis saat kematian orang terkasih sesungguhnya menangisi dirinya sendiri. Mereka menangis karena ditinggalkan, karena membayangkan perasaan sepi, membayangkan rindu.

Ya, sesungguhnya ketika kita menangis di rumah duka, kita sedang memperlihatkan kemanusiaan kita… egois. Menangisi diri sendiri.

Jadi, inilah isi tulisan yang sebenarnya ingin saya tulia sejak awal…tulisan berupa surat untuk semua orang tua yang ditinggalkan, yang mungkin ditinggalkan.

Saya tidak bermaksud kejam, dan tulisan ini bukan pula berupa doa atau firasat, sekali lagi jangan berpikir macam-macam.


Papa dan Mama, jika suatu saat aku meninggalkanmu lebih dahulu,

Jika masaku di dunia berakhir sebelum masamu, dan Tuhan memutuskan untuk memanggilku terlebih dahulu,

Ingatlah semua yang kau ajarkan padaku semasa hidup… tentang Tuhan, tentang kasih-Nya, tentang hidup kekal bersama-Nya, tentang iman

Ingatlah semua yang ditanamkan padaku sejak kecil, bahwa siapapun akan menghadap Ilahi suatu saat nanti… hanya menunggu waktu

Ingatlah ketika kau berkata bahwa di Rumah Bapa banyak tempat, bagi kau dan aku… bahwa kematian adalah saat ketika kita memasuki rumah Bapa

Ingatlah bahwa kau telah melakukan apa yang benar, dalam hidup anakmu… mengenalkannya pada Tuhan

Dan ketika aku mendahuluimu, lepaslah aku dengan senyum,… karena jika memang kita memiliki iman yang benar seperti yang kau ajarkan, tentunya aku berada di tempat yang lebih baik.

Ketika aku mendahuluimu, artinya tugasmu di dunia selesai…bukankah dunia adalah saat kita mempersiapkan diri untuk kekekalan?

Papa dan Mama, saat anakmu mendahuluimu, dan kau harus mengantar tubuhnya kembali menjadi debu dan abu, ingatlah bahwa rohnya bersama pencipta. Bukankah manusia sesungguhnya adalah mahluk roh?

Papa dan Mama, jika suatu saat aku mendahuluimu, menangislah karena itu manusiawi… tapi bukan tangisan penyesalan, juga bukan tangisan kecemasan.

Kemudian tersenyumlah, karena suatu saat kita akan berjumpa lagi


Mudah-mudahan bagian di atas memberi sedikit penghiburan bagi orang tua yang ditinggalkan anak-anak mereka

Bagi orang tua seusia saya yang memiliki anak yang masih kecil…jangan lupa ajari mereka tentang Tuhan, tentang iman yang menyelamatkan… agar ketika mereka mendahuluimu, kau tak akan menangis karena penyesalan atau karena kecemasan.

Tuhan memberkatimu, para orang tua!

Demokrasi dibatasi?


Saya sering mendengar sebagian anak muda berkata, “pada pemerintahan Jokowi demokrasi dibatasi,” atau sesuatu yang menyerupai pernyataan itu.

Pertanyaan besarnya sebenarnya adalah, apa itu demokrasi menurut mereka? Saya menebak, menurut mereka demokrasi adalah kebebasan berpendapat tanpa batas. Nah, kalau kita mau menanyakan pertanyaan besar lagi, apa itu berpendapat menurut mereka?

Saya jamin, yang mereka maksud adalah bebas berpendapat tanpa memperhatikan etika dan adab. Bagi mereka, memaki-maki kepala negara di medsos adalah salah satu bentuk “bebas berpendapat” atau “demokrasi”. Padahal, jangankan kepala negara, jika anda, di depan umum, memaki-maki dan menghujat orang yang tanpa kedudukan pun, dan orang tersebut melapor, Anda bisa kena masalah hukum! Lalu kenapa Anda berharap memaki-maki kepala negara di muka umum (ya, sekarang medsos dapat dikatakan ‘di muka umum’), dan Anda bebas?

Mari kita bahas soal berpendapat! Anda harus bisa membedakan antara berpendapat dan memaki-maki. Berpendapat adalah menyampaikan pemikiran Anda mengenai sesuatu. Misalnya presiden mengeluarkan kebijakan dan Anda tidak setuju. Anda bisa berpendapat dengan bebas di muka umum. Sampaikan pendapat Anda dan argumentasi Anda. Saya rasa jika Anda menyampaikan dengan adab, Anda tidak akan kena pasal apapun.Itu adalah yang dilakukan orang yang berbudaya.

Katakanlah jika misalkan atasan Anda membuat aturan baru di kantor, atau dosen Anda, atau siapapun otoritas Anda. Kemudian Anda menuliskan di media sosial bahwa otoritas Anda itu seperti monyet, kampungan, pantas mati, apakah itu namanya berpendapat? Hell No! itu namanya Anda sedang menghina! Otoritas Anda bisa menuntut Anda atas perbuatan tidak menyenangkan. Jika bukti cukup, Anda bisa berurusan dengan hukum.

Anak muda, kalian harus belajar bagaimana berpendapat, bagaimana memanfaatkan demokrasi dengan benar jika Anda ingin berkontribusi kepada kemajuan negeri ini.

Jika Anda ingin tinggal di negara yang berbudaya, maka Anda harus menjadi manusia berbudaya, sampaikan pendapat dengan berbudaya, mengkritik dengan berbudaya, menyampaikan ketidaksetujuan dengan berbudaya.

Jika Anda ingin bebas, bebas memaki, bebas menghujat, bebas tanpa aturan, rasanya hutan Indonesia masih luas… silahkan Anda bawa pakaian secukupnya, pilih salah satu pohon untuk jadi tempat tinggal Anda, dan selamat bebas!

Kesabaran dan Toleransi


Sudah lama tidak menulis blog ini. Kalau saya tidak salah ingat, terakhir kali yang menulis dengan serius adalah Yoanna Greissia berusia 37 tahun. Versi yang paling rajin menulis adalah yang berusia antara 28 sampai 35 tahun. Tidak perlu saya jelaskan kenapa Versi berusia 37 – 39 malas sekali menulis (toh sebenarnya yang membaca pun sedikit, hehehe).

Hari ini, untuk pertama kalinya versi berusia 39 tahun akan menulis. Sedikit tergelitik karena menemukan bahwa di usia tertentu, sebagian orang menjadi sangat tidaksabaran (termasuk saya mungkin). Baru saja adik saya mengirimi saya pesan teks mengatakan bahwa dia merasa belakangan ini tidak sabar dengan orang-orang yang lambat sekali jika bercerita (kebetulan yang dia maksudkan adalah anak muda, walau tak jarang juga tidak sabaran dengan orang yang lebih tua)

Sebagai orang muda, sebelum memasuki usia 40-an, beberapa orang dianugerahi sikap kritis, cepat tanggap, perfeksionis. Kemudian, dalam usia tertentu (khususnya di puncak kehidupan, sebelum menukik turun, menjelang paruh baya) seringkali mereka merasa bahwa standar mereka adalah yang terbaik. Orang lain harus mengikuti standar mereka, dalam hal kecepatan bicara, kemampuan menangkap informasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kecepatan berjalan, semua harus seperti standar yang mereka buat.

Ketika orang lain gagal mencapai standar tersebut, mereka menjadi tidak sabaran, marah-marah, dan frustrasi sendiri. Mungkin ini adalah alasan kenapa banyak orang tua terlihat begitu letih dan jenuh dengan kehidupan, mereka memiliki standar (yang terkadang terlalu tinggi) dan menuntut orang lain memenuhi standar tersebut.

Kemudian, bersama dengan waktu yang berjalan, usia bertambah, sebagian dari orang-orang tersebut belajar, bahwa hidup tak bisa selalu menuruti apa yang kita inginkan. Sebagian orang-orang itu menyadari bahwa ketika mereka muda, tentu mereka telah menguji kesabaran orang yang lebih tua, dan saat mereka tua nanti, mereka mungkin akan menguji kesabaran orang yang lebih muda.

Mereka belajar, bahwa semakin mereka tidak sabaran, artinya semakin mereka harus memperbesar toleransi, karena kesabaran berbanding lurus dengan toleransi. Semakin rendah kesabaran, semakin tinggi toleransi yang harus diusahakan.Hanya dengan cara demikian, mereka akan memperoleh kembali kesabaran.

Namun bersama dengan sang waktu tersebut, sebagian orang lainnya mungkin tidak belajar , mereka terus menuntut agar hidup memberi mereka apa yang mereka inginkan, agar orang lain melakukan persis seperti yang mereka harapkan. Orang-orang itu mungkin nantinya akan menjadi nenek tua cerewet atau kakek-kakek pemarah, yang menggerutu dengan kehidupan dan menganggap semua orang di luar dirinya adalah orang yang selalu salah.

Saat ini, si versi 39 tahun ini, yang akan memasuki era menurunnya kurva kehidupan, sedang belajar menjadi yang pertama. Belajar bahwa hidup tak bisa selalu memenuhi apa yang saya inginkan. Belajar untuk memperbesar toleransi ketika kesabaran semakin menurun, agar nanti di usia senja tidak menjadi nenek-nenek cerewet yang menjengkelkan anak-anak muda.

Menjual Integritas


Kemarin, berita dihebohkan dengan seorang mentri sosial yang menerima dana suap bansos 17 Miliar Rupiah. Beliau yang dulu berkata bahwa mental korupsi itu bobrok, kita terpaksa mengakui bahwa mentalnya juga sama bobroknya dengan mereka yang korupsi.

Di tengah-tengah pemberitaan itu, seorang komedian menulis di twitnya seperti ini

Twit ini langsung dikecam, karena terkesan merasionalisasi sebuah kesalahan.

Tadi, anak asuh membuka percakapan mengenai hal ini, “Ka Greis tahu twit Imam Darto? Menurut Ka Greis gimana?” Selanjutnya dia berkata bahwa twit itu ada benarnya juga. Seseorang yang ditawari miliaran rupiah bisa saja tergoda.

Saya menjawab, “Sebenarnya,itu tergantung dari berapa harga integritas yang kau miliki. Jangankan 17 Miliar. Jika integritasmu begitu murah, ditawari 100 ribu pun akan kau jual.”

Kekayaan manusia memang dinilai dari berapa banyak uang yang ia miliki, tapi harga diri manusia dinilai dari integritas yang dimilikinya. Jika manusia menjual integritasnya demi uang,mungkin seumur hidup ia akan sulit mendapatkannya kembali. Jika manusia melihat integritasnya tak ternilai, berapa pun uang yang ditawarkan, dia akan merasa terhina dan tak akan menjual integritasnya.

Dokumenter Kriminal dan Kehidupan


Beberapa hari belakangan saya banyak menonton film dokumenter mengenai kriminal-kriminal yang dihukum mati. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang berantakan, mengalami pelecehan di masa kecil, pada akhirnya mencoba sesuatu seperti narkoba untuk membuat mereka keluar dari perasaan yang tidak enak, kemudian berakhir di penjara.

Banyak hal buruk terjadi pada seseorang karena keputusan buruk yang dibuat orang lain di masa lalu. Keputusan buruk yang dibuat orang tua mereka, atau orang-orang terdekat, atau bahkan orang lain yang melakukan hal buruk pada orang lain.

Tapi bukan itu yang hendak saya bicarakan di sini. Kemarin saya menyelesaikan sebuah documenter berjudul “confession killer”, kisah mengenai Henry Lucas, yang mengaku membunuh 600 orang lebih.

Henry Lucas sejak kecil disiksa ibunya hingga suatu saat di usia remajanya dia memutuskan untuk mengakhiri penyiksaan itu dengan membunuh ibunya. Dia dihukum 25 tahun penjara karena pembunuhan itu. Setelah bebas di awal tahun 1980an, dia membunuh pacarnya dan neneknya. Dia tertangkap dan kemudian menunjukkan di mana letak mayat nenek dan pacarnya.

Di sidang, ketika hendak dijatuhi hukuman, tiba-tiba dia berkata kepada hakim “bagaimana dengan ratusan wanita lain yang saya bunuh? Apakah saya tidak akan disidang untuk itu juga?”

Awalnya mungkin ini ide Henry Lucas untuk menunda hukuman matinya. Namun hal ini ditangkap oleh Texas Ranger sebagai sebuah kesempatan untuk menutup banyak cold cases. Banyak kasus yang ditunjukkan kepada Henry Lucas yang langsung diakui begitu saja oleh Lucas sehingga banyak kasus yang ditutup.

Kemudian jumlah korban meningkat, mulai dari 100, 150, 360 hingga terakhir dia mengakui lebih dari 600. Lucas yang ber-IQ 87 diberitahu, makin banyak dia mengakui pembunuhan, maka hukuman matinya akan semakin lama karena dia akan dimintai tolong menutup kasus-kasus tersebut.

Dimulailah perjalanan Lucas bak selebritis mengelilingi Amerika, mengunjungi kantor-kantor polisi untuk ditunjukkan kasus-kasus mandek (cold cases) yang kemudian diakui begitu saja oleh Lucas sebagai “karya” nya.

Singkat cerita, akhirnya ketahuan bahwa sebenarnya Lucas tidak pernah membunuh siapapun kecuali pacar dan neneknya (dua pembunuhan di awal). Lucas berbohong dan dicekoki untuk terus berbohong oleh kepolisian supaya menutup banyak kasus pembunuhan mandek.

Pada akhirnya, Lucas lolos dari hukuman mati karena diampuni nyawanya oleh George Bush yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Texas. Lucas meninggal karena sebab alami di selnya. Dalam film documenter tersebut diperlihatkan bahwa di penjara Lucas kerap membaca Alkitab dan sering mendengar kotbah dari pendeta wanita.

Hal yang membuat saya merenung setiap kali menonton film dokumenter adalah ketika melihat sendiri apa yang diperbuat waktu kepada seseorang. Entah bagaimana Netflix berhasil mengumpulkan seluruh dokumentasi sejak tahun 1983 hingga saat kematian Lucas 2001 bahkan sampai 2017 untuk menunjukkan ditangkapnya (lagi) seorang pembunuh atas sebuah kasus pembunuhan yang diakui oleh Lucas, berkat teknologi DNA yang sudah berkembang saat ini.

Betapa waktu mengubah seorang yang terlihat mengerikan di saat muda, menjadi terlihat gemuk, lemah dan tak berdaya menjelang ajalnya. Setiap kali melihat film dokumenter seperti ini, saya jadi merenungkan apa yang akan terjadi dalam hidup saya, dan orang-orang di sekitar saya 30 tahun dari sekarang. Kemudian menjadi sedih saat berpikir “Papa saya akan berusia 100 kalau masih hidup”… kalau masih hidup… dan kemudian saya akan memikirkan soal kematian.

Namun tadi malam, ketika sedang memikirkan soal kematian, saya diingatkan bahwa kalau saya percaya pada kehidupan setelah kematian, dan bahwa kalau saya sungguh beriman bahwa Kristus menjamin kita memasukinya bersama dengan Dia, dan bahwa kalau saya sungguh mengamini bahwa hidup saya telah ditebus, maka seharusnya saya tidak perlu takut pada kematian.

Bahwa sesungguhnya tubuh ini hanya cangkang sementara yang kita tempati selama di dunia, yang akan aus karena bumi yang berputar dan kondisi lingkungan. Bahwa sesungguhnya hidup di dunia adalah kesempatan bagi kita untuk membuat keputusan penting bagi hidup kekekalan. Jika itu kita percayai, maka seharusnya tidak perlu takut pada kematian.

Saat menyaksikan film serial dokumenter lainnya, saya pun pernah melihat ironi yang luar biasa. Ketika keluarga korban pembunuhan hidup dalam dendamnya, dan pembunuh mendapatkan damai karena memutuskan menerima Kristus dalam hidupnya, mendedikasikan sisa hidupnya untuk mengenal dan melayani Dia.

Hidup terkadang memang tidak adil, hanya Tuhan yang adil. Keadilan-Nya kadang tidak bisa kita mengerti. Seperti perumpamaan tentang pekerja di ladang. Mereka yang bekerja sejak jam 9 mendapat upah yang sama dengan yang bekerja menjelang sore. Juga tentang sebuah kotbah bahwa yang pertama akan jadi terkemudian sedangkan yang terkemudian akan jadi yang terdahulu.

Karena jalan Tuhan tak terselami, dan untuk mempercayai, untuk memiliki iman, kita harus memiliki keberanian,…seperti yang saya pernah bilang beriman itu beresiko.

Bumi pun beristirahat


Bagi manusia, ini adalah musibah
Bagi bumi, ini adalah anugerah
Dirinya lebih tenang,
Dirinya lebih bersih,
Dirinya lebih damai,

Bagi manusia, ini adalah malapetaka,
Bagi bumi, ini adalah karunia
Sampah berkurang,
Polusi berkurang,
Tangan jahil berkurang,
Kebisingan berkurang

Bagi manusia ini adalah bencana,
Bagi bumi ini masa istirahat,
Istirahat dari manusia sibuk yang mengotorinya
Istirahat dari polusi yang menyesakannya

Mungkin, ini adalah siklus alam
Ketika bumi terlalu lelah,
Ketika bumi terlalu bising,
Ketika bumi terlalu kotor,

Mungkin ini adalah pelajaran bagi manusia
Untuk menenangkan diri,
Untuk lebih mawas diri,
Untuk menghargai bumi
Untuk berdamai dengan alam

Mungkin ini adalah pelajaran bagi manusia
Untuk bertoleransi,
Untuk lebih banyak mengasihi sesama,
Untuk lebih banyak berdoa,
Untuk tidak egois

Mengajar Generasi Z


Saya mendapat kesempatan mengajar generasi Z selama satu semester mengenai Marketing Farmasi dan Kewirausahaan (dijadikan satu mata kuliah). Beberapa minggu sebelumnya saya mengobrol dengan seorang pengusaha yang berkata bahwa generasi Z ini memang harus diperlengkapi dengan kemampuan Wirausaha sehingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, menciptakan lapangan kerja mereka sendiri.

Saya sungguh bersyukur mendapat kesempatan mengajar mahasiswa yang menyerap seperti spons ini. Menerima setiap pelajaran yang diberikan dan menghasilkan produk-produk buatan mereka yang luar biasa.

Mereka bukanlah mahasiswa program Sarjana, tapi kegigihan, usaha dan kecerdasan mereka luar biasa. Produk mereka sangat menjanjikan, berkualitas dan saya rasa siapa pun akan sepakat dengan saya bahwa anak-anak generasi Z jika diarahkan dengan tepat akan menjadikan bangsa ini unggul di bidang apapun. Namun jika tidak diarahkan, dapat membuat bangsa ini mundur dan hancur dengan segera.

Kekuatan yang besar memang begitu, bukan? Saat digunakan untuk apa yang baik maka akan ada daya bangun yang luar biasa, sebaliknya jika digunakan untuk sesuatu yang buruk, daya hancurnya pun luar biasa.

Produk yang mereka hasilkan, seperti parfum, coklat, handbody lotion, face mist, masker dan lipbalm dikerjakan dengan sepenuh hati dan memiliki nilai jual yang sangat baik. Saya sendiri menyukai parfum dan coklat rasa cabe yang unik.

Terkadang anak-anak mengejutkan kita dengan apa yang mereka sampaikan, bukan begitu?? Jika Anda memiliki anak generasi Z, Anda akan sangat rugi jika tidak menghabiskan waktu bicara dengan mereka. Mengabaikan kesempatan untuk bicara dan mengajar mereka sama saja menyia-nyiakan waktu yang sungguh berharga sekaligus melepaskan kesempatan menjadi pahlawan yang membentuk hidup mereka, dan masa depan negara ini.

 

Setelah Facebook


Sudah lama tidak menulis dan tidak bermedia sosial. Sejak facebook kurang diminati dan isinya hanya orang yang berjualan online, rasanya malas sekali menulis. Karena selama ini hanya “mempromosikan” tulisan dari facebook. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya lebih sering menulis untuk diri sendiri, syukur-syukur jika memang itu bisa berguna buat orang lain.

Facebook sekarang berisi berita, curhat, foto-foto yang merupakan sinkronisasi dari instagram, sehingga jika ada tulisan kurang bermutu seperti blog saya ini (yang kebanyakan ditulis untuk kepuasan diri sendiri), akhirnya akan dilewatkan begitu saja. Yaah, begitulah kehidupan, hal-hal tidak penting akan dilewatkan begitu saja.

Ngomong-ngomong soal hal-hal tidak penting. Saya sedang berpikir bahwa ada terlalu banyak hal dalam kehidupan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, hal-hal yang tadinya kita anggap penting tidak lagi akan kita anggap penting.

Sebelumnya membuka facebook, posting status atau upload gambar adalah hal yang penting. Kemudian komentar orang-orang terhadap foto kita, adalah hal yang penting juga. Kita menjadi kesal ketika ada komentar yang tak sepaham dan senang bukan kepalang jika ada yang mendukung kita. Kita menjadi senang hanya karena hal tidak penting seperti jumlah like di foto kita atau komentar “cantik”.

Namun seiring berjalannya waktu, kita menjadi bosan dan hal-hal seperti itu tidak penting lagi, bukan?

Dulu saya banyak menulis karena melihat ada begitu banyak hal ironis dalam kehidupan. Sekarang saya melihat bahwa hal-hal ironis adalah normal dalam hidup. Apa yang bisa kita harapkan dari hidup di dunia? Surga di dunia hanya bisa kita rasakan jika kehendak Bapa jadi sepenuhnya dalam dunia ini, persis seperti doa Yesus.

Dulu saya akan melihat ditabrak motor kemudian ‘dipalakin’ pengendara motor yang bersalah itu adalah sebuah ironi, konyol, tidak masuk akal. Sekarang saya sudah bisa menerima bahwa di negeri ini, memang itu normal terjadi, tak perlu dituliskan, tak perlu dibahas, toh tak akan berubah juga.

Lalu saya berpikir, bukankah akhirnya sebuah kerusakan sistem dimulai dari toleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil? Ah, tapi masa bodoh dengan semuanya. Apa gunanya jika suara kita toh tidak akan membawa perubahan.

Akhirnya bukankah setiap orang akan hidup untuk dirinya sendiri?

26 Oktober 2019, dari otak yang sedang kusut.

 

Terjebak di antara keduanya.


Ada tiga jenis manusia hidup di jaman sekarang. Pertama adalah mereka yang hidup tanpa teknologi, masih hidup dengan cara yang lama. Oh ya, mereka masih ada. Coba saja Anda lihat mereka yang hidup di pulau terpencil, tidak ada jaringan, tidak ada televisi, hanya ada mereka dan alam. Kedua, mereka yang hidup full teknologi. Tidak dapat hidup tanpa bantuan robot atau mesin, atau tidak dapat hidup tanpa gadget di tangan mereka. Ketiga adalah orang yang terjebak di antara keduanya.

Ya, ada orang-orang yang terjebak di antara primitif dan teknologi. Entah sebaiknya kita memanggil mereka apa. Mereka hidup dikelilingi teknologi tapi mereka tidak memahaminya. Mereka masih hidup dengan cara yang sama seperti saat tidak ada teknologi. Mereka masih membual seolah kata-kata mereka tidak dapat dicek kebenarannya. Mereka masih berbohong mencoba mengutil seolah tidak ada CCTV yang melihat mereka.

Mereka ini yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini…. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknologi.

Sebut saja drama politik negara ini setelah pilpres. Satu pihak menuding pihak lainnya berbuat curang tanpa sadar bahwa jaman sekarang yang seperti itu dengan mudah dibuktikan. Atau sebaliknya jika ada yang berbuat curang dalam input hasil perolehan pemilu tanpa sadar teknologi dapat memungkinkan setiap mata mengawasi mereka.

Kita hidup di mana guru-guru modern mengatakan pada anak SMAnya, “oke buka gadget kalian dan tolong searching mengenai anu. Saya akan kasih kalian waktu 10 menit untuk mencari tahu dan setelah itu kita diskusi.” Sementara ada juga sekolah (di kota besar) yang melarang siswa-siswinya membawa gadget ke sekolah.

Saat guru-guru modern meminta anak didiknya mengumpulkan tugas lewat google class, masih ada sekolah di kota yang masih menyuruh siswinya mengumpulkan tugas menyalin dari google. COME ONE!!

Setelah dipikir-pikir akar permasalahannya, ternyata mengenai “integritas”. Jika saya disuruh menjelaskan satu kata sulit ini “Integritas” pada anak-anak. Saya akan mengatakan bahwa Integritas adalah dapat dipercaya dan dapat diandalkan dari segi kejujuran!

Sekolah atau guru yang terjebak antara primitif dan teknologi tidak dapat mempercayai siswa-siswinya jika mereka diijinkan membawa gadget ke kelas. Jadi alih-alih memanfaatkan teknologi mereka memilih membatasinya. Alih-alih mengajarkan nilai integritas agar anak menunjukkan sikap dapat dipercaya, mereka memilih menutup kesempatan anak berbuat curang. Paham maksud saya?

Ya, masalahnya memang rumit. Di satu sisi ada teknologi, di sisi lain ada karakter, jika keduanya dapat sejalan, bayangkan dahsyatnya masyarakat di mana kita tinggal. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknolgi adalah mereka yang tidak dapat mengejar teknologi dengan karakter positif, mereka yang tidak dapat bertanggungjawab atas teknologi yang ada di depan mata mereka… dengan kata lain, orang-orang yang norak!

Apakah kata ‘norak’ terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang ‘piknik’ di stasiun MRT saat stasiun itu baru dibuka? atau mereka yang bergelantungan di MRT dan menginjak bangku MRT?

Apakah kata “norak” terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang mengklaim kemenangan padahal hasil teknologi mengatakan sebaliknya?

Jadi jika kita mau dikatakan bijak, alih-alih norak, manfaatkan teknologi dengan bertanggungjawab dan pupuk karakter positif, serta sadari ada “CCTV” di manapun Anda berada!