MENJADI PUSAT PERHATIAN


Setiap orang butuh perhatian, khususnya anak remaja. Hanya saja tiap orang memiliki persepsi berbeda tentang apa yang patut dijadikan obyek perhatian dari dirinya.
Sebagian menganggap wajah yang cantik adalah obyek yang tepat untuk perhatian orang lain. Sebagian lagi sifat yang baik, otak yang encer, gaya berpakaian, kedudukan orang tua dan banyak lagi, tergantung dari apa yang dianggap penting oleh orang tua mereka, sejak mereka kecil.

Bagi remaja, menjadi pusat perhatian adalah segalanya, dan mereka yang gagal mendapatkannya hanyalah pecundang yang tempatnya di pojokan, tak terlihat.

Seorang remaja di sebuah kota paling timur di Pulau Jawa berhasil mendapatkan perhatian seluruh negeri. Seorang penulis tanpa kertas dan pulpen, seorang pujangga tanpa selera seni dianggap sastrawan dalam sekejap karena tulisannya yang brilian di media sosial.

Sebuah tulisan yang menyuarakan hati rakyat yang sudah muak dengan eksploitasi agama untuk kepentingan politik dan eneg dengan kebanggaan semu sebagian ‘mayoritas’ akan kepemilikan surga.

Si remaja membuat kagum banyak orang, mulai dari rakyat awam hingga penguasa negeri. Diundang ke istana dan tampil di Mata Najwa mungkin adalah prestasi terbesarnya. 

Dia pun mungkin tak mengira, kekagumannya akan sebuah tulisan yang kemudian dimuatnya di media sosial pribadinya akan membawanya setinggi itu. Dia hanya remaja yang suka puja-puji dan tersanjung dengan banyaknya like di media sosial.

Dia hanya remaja yang belum sanggup berpikir panjang selain dirinya adalah yang terpenting di semesta ini. Remaja yang walaupun tahu apa yang salah tapi memilih tetap melakukannya karena kenaifannya.

Sorotan lampu media dan jepretan kamera membuatnya merasa jenius. Sudah terlambat untuk mengakui semuanya. Dalam pemikiran remajanya, “apa salahnya menjadi pusat perhatian sesekali.”

Hingga kenyataan menghempasnya dari tempat tingginya, dan lampu sorot padam seketika, meninggalkannya di sudut gelap menjadi mangsa kucing-kucing usil yang nyinyir. Tapi itulah kehidupan di kampung abstrak yang penduduknya bernama Netizen

Dengan sisa-sisa keinginannya untuk menjadi pusat perhatian, sekali lagi ia mencari di sumber kreativitas andalannya, media sosial. Masukan kata kunci “remaja, bully, curhat, bunuh diri” dan ia menemukan sesuatu untuk diikuti.

Si remaja begitu depresi, “biarlah aku menjadi pusat peratian sekali lagi, walau bukan menjadi remaja jenius tak apalah. Mereka harus tahu aku depresi”

Menjadi pusat perhatian adalah impian setiap remaja, orang tua yang mengasah pikiran tentang itu sejak kecil, bak mengasah anak panah yang akan ditembakkan ke sasaran. Orang tua yang menentukan sasarannya, apakah kecantikan, kepintaran, uang atau kebaikan hati.

Tak salah menjadi pusat perhatian, bahkan Tuhan pun memerintahkan kita menjadi pusat perhatian. Bukankah kota terletak di atas bukit tidak mungkin tersembunyi?

Tentang Memberi


Anakku,

Begitu mudah kita memberi
ketika semua mata tertuju pada kita
atau ketika si penerima memiliki potensi membalas
Begitu mudah kita memberi,

Ketika jumlah pemberian kita akan dipampang
dan nama kita tertulis besar-besar
Sehingga siapapun yang melihat
akan berdecak kagum

Begitu mudah kita memberi,
Ketika tangan kiri mengetahui
Apa yang diperbuat tangan kananmu
Tak perlu disembunyikan

Anakku,
Prinsip memberi tidak seperti itu
Memberi tak sama dengan menjadi sponsor
Berharap publikasi setelah memberi

Anakku,
Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah,
Justru ketika kita memberi saat tak seorang pun melihat
Kepada mereka yang membutuhkan
Kepada saudaramu,
Kepada temanmu
Kepada sesamamu manusia

Pengakuan datangnya dari Tuhan
Dia yang akan merasa berutang ketika kau memberi
…pada mereka yang membutuhkan

Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah,
Ketika tak seorang pun tahu seberapa besar kita memberi
Namun kita melihat dampak dari pemberian kita

Ketika kita berinvestasi tanpa nama dalam hidup orang lain
Dan melihat hidup mereka berubah

Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah,
Ketika bahkan tangan kiri kita tak tahu
Apa yang diberi oleh tangan kanan kita
Hanya sepasang mata di Surga yang melihat

Anakku,
Ketika kau ingin memberi,
Jangan lakukan itu untuk mendapat pujian manusia
Jangan lakukan itu untuk mendapat balas budi dari manusia
Jangan lakukan itu untuk publikasi diri

Tapi lakukanlah karena Tuhanmu memerintahmu 
Untuk tidak menahan kebaikan dari mereka yang layak menerimanya
Untuk bermurah hati dan mengasihi sesamamu manusia
Karena kau pun telah menerima banyak…
…dari si Empunya Kehidupan

Mari Bicara Surga dan Neraka


Mari kita jujur, setiap agama memang mengajarkan jalannya sendiri untuk mencapai Surga. Mereka yang beriman akan mengatakan agamanya yang pasti akan membawa mereka ke Surga. Tidak heran, itu namanya iman.
Saat seorang Afi, anak remaja menyampaikan ini, begitu banyak orang termasuk para profesor menghakiminya dan mencelanya habis-habisan. 

Bicara soal agama, tidak salah juga kalau di jaman sekarang agama dikatakan warisan. Seiring dengan pertambahan usia, iman memutuskan apakah kita akan mempertahankan warisan itu, atau melepasnya dan menukarkannya dengan yang baru yang kemudian akan kita wariskan pada anak cucu kita.

Setiap manusia yang (mengaku) beriman pastilah akan berusaha membuat anak-anaknya mempertahankan warisannya, hal itu tidak dapat dipungkiri. Alasan kebanyakan orang sederhana, agar anak-anaknya kelak juga akan mendapat Surga, seperti yang ia yakini. Kemudian akan marah ketika anaknya tiba-tiba memutuskan untuk melepaskan warisan tersebut karena imannya pada sesuatu yang lain.

Hidup di dunia ini singkat, namun sebagian orang bukannya memaknainya, namun hidup dengan terus menerus memikirkan Surga. Mereka berusaha mendapatkan Surga dengan segala cara. Bahkan ada yang membuat versinya sendiri tentang Surga dan bagaimana mendapatkannya. Kemudian teori-teori pun dibuat seolah syarat Surga semakin lama semakin fleksibel, seolah Surga adalah buatan manusia.

Surga memang adalah impian akhir setiap manusia. Setiap agama tentu mengajarkan bagaimana memperolehnya. Namun banyak orang lupa bahwa tujuan akhir itu merupakan anugerah dari Pencipta. Karena jujur saja, manusia terlalu lemah untuk mengupayakannya. Ayolah, tak akan ada yang sanggup mencapainya dengan usaha sendiri.

Anda mengatakan begini begitu akan membuat Anda layak masuk Surga, lalu bagaimana dengan kebencian dalam hati, cacian yang dilontarkan atau ancaman yang terang-terangan. Tidakkah itu membuat Anda tidak layak masuk Surga.

Sedemikian ketakutannya Anda dengan Neraka sehingga membuat fantasi sendiri mengenai Surga. Bagaimana jika justru fantasi Anda tentang mendapatkan Surga akan membawa Anda ke Neraka?

Saudara, Surga dan Neraka diciptakan sebagai tujuan akhir manusia, bukan untuk diperebutkan, tapi dianugerahkan. Apa bedanya? Ketika Anda memperebutkan Surga, Anda akan fokus pada bagaimana mengkafirkan orang lain, menunjukkan pada orang lain bahwa hanya Anda yang layak masuk Surga. Seperti permainan panjat pinang. Anda akan berusaha menendang atau menarik turun orang lain.

Namun ketika Anda percaya bahwa Surga dianugerahkan, maka hidup Anda akan dilimpahi dengan syukur pada Ilahi. Syukur karena sebenarnya Anda tidak layak, namun Sang Ilahi menganugerahkannya pada Anda. kemudian Anda akan hidup sebaik-baiknya sebagai perwujudan rasa syukur pada Ilahi yang telah menganugerahkannya pada Anda.

Pertanyaannya sekarang, jika memang Surga itu dianugerahkan atau dihadiahkan, dan bukan diperebutkan, bagaimana caranya agar Anda mendapatkannya?

Semoga Tuhan, sumber segala hikmat memberi kita semua pencerahan….

Surat untuk Ibu Pertiwi


Ibu Pertiwi,
Memang benar, nenek moyang kami datang dari jauh, sebagian dari mereka menghindar dari keadaan buruk di tanah asal mereka dan datang padamu mencari perlindungan. Sebagian lagi datang dengan barang dagangan, berharap menjalin hubungan baik dengan anak-anakmu, Ibu.

Kami tak tahu alasan mereka datang, yang kami tahu, mereka melahirkan kami di tanahmu, Ibu. Dengan sadar mereka membiarkan kami diadopsi olehmu, mengatakan pada kami bahwa inilah tanah air kami dan kami harus mencintai tanah ini, berjuang untuk kemajuan bangsa ini.

Ibu Pertiwi, salahkah kami jika berusaha lebih keras, belajar lebih giat dan bekerja lebih gigih untuk mendapat simpatikmu. Kamu hanya tidak ingin dibeda-bedakan dan dianggap anak tiri olehmu, Ibu. Karena cerita dari masa kecil kami mengatakan bahwa ibu tiru itu kejam dan itu menakutkan bagi kami. Kami ingin kau menyayangi kami, walau kami dianggap anak adopsi.

Jika ada yang bertanya siapa ibu kami, yang kami kenal hanya dirimu, Ibu Pertiwi. Kami tak mengenal tanah yang lain, bangsa yang lain, negara yang lain selain Indonesia, kesayanganmu. Jika ada saudara kami yang mengunjungi tanah nenek moyang kami, percayalah, di sana kami hanya turis. Karena kami berkebangsaan Indonesia dan tanah yang kami tahu hanya Indonesia dan Ibu yang kami kenal hanya Ibu Pertiwi, dan bendera yang kami sayangi hanya merah putih, dan lagu kebangsaan yang kmi banggakan adalah Indonesia Raya.

Ibu, dalam pertandingan olahraga manapun, air mata kami akan mengalir, ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di kancah Internasional, tak pernah sebersitpun terpikir untuk membela negara nenek moyang kami. Kami hanya mengasihimu, Ibu…dan berdoa pada Tuhan untuk kejayaanmu.

Di luar negeri dan di manapun kami berada, saat ada orang yang menanakan asal kami, dengan bangga kami akan menjawab, “Indonesia, negeri yang indah dengan penduduk yang ramah. Negeri yang kaya dengan budaya yang melimpah. Negeri yang elok dengan pemandangan yang indah.” Dan kemudian kami akan mengajaknya untuk melihat-lihat negeri kami. Apakah kami salah, Ibu?

Permintaan kami hanya satu, sayangilah kami… Kami yang kau adopsi, yang lahir dan besar di negeri ini, yang belajar dan bertumbuh di negeri ini, yang begitu mencintai bahasamu. Tolong jangan bedakan kami dengan anak-anak kandungmu karena percayalah, kami memiliki cinta yang sama…Cinta untuk Ibu Pertiwi, Indonesia.

Yang menyayangimu,
Anakmu

Getsemani, malam itu


Getsemani, malam itu…
Sang Guru berdoa hingga berpeluh,
Darah keluar dalam tangisan pilu
Seandainya cawan ini dapat lalu…
“Tapi biar semuanya seperti yang Kau mau”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terlelap tak tahu…
…apa yang akan menimpa Sang Guru
Andai mereka tahu…
“Tak dapatkah kalian berjaga dengan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Si Pengkhianat bersiap maju
Dengan pasukan siap memburu…
…Dia yang dipanggilnya Guru
“Dengan ciuman kau menyerahkan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terdiam,
Melihat bukti dari sebuah teori
Tentang mengasihi dan mengampuni
Saat telinga tersambung kembali,
“Sarungkan pedangmu!”

Getsemani, malam itu…
Sang Guru menyerahkan diri
Bukan karena tak sanggup melawan,
Tapi karena Dia tahu…
Cawan itu harus diminum-Nya

Getsemani, malam itu…
Menjadi saksi,
Sebuah doa yang pilu,
Sebuah ciuman pengkhianatan,
Dan kasih yang besar

Tentang Pengendalian Diri


Anakku, 
Jika hatimu senang,
Kau akan melihat segala sesuatu menyenangkan…
Bahkan ketika langit berawan
Bahkan ketika panas terik atau hujan
Bahkan ketika burung bernyanyi tak beraturan
Atau ketika temanmu menyebalkan

Namun jika hatimu galau,
Kau akan melihat segala sesuatu menyebalkan…
Bahkan ketika langit cerah,
Bahkan ketika udara sejuk
Bahkan ketika nyanyian burung begitu merdu
Atau ketika temanmu mengajakmu bermain

Lalu responmu terhadap sekeliling,
Akan menentukan bagaimana orang menilaimu,
Sebagai pemarah,… atau periang
Sebagai pemaaf,… atau pendendam
Sebagai orang yang tahu bersyukur,… atau penggerutu
Sebagai orang yang menyenangkan,… atau menyebalkan

Bukankah hati yang gembira membuat muka berseri
Tapi hati yang pedih mematahkan semangat

Anakku,
Apa yang terjadi kepadamu tak bisa kau kendalikan…
Mereka akan menentukan keadaan hatimu,
Kau akan merasa senang atau sedih,
merasa menang atau kalah
merasa bahagia atau iri hati

Namun bagaimana kau menguasai perasaanmu,
dan mengendalikan tindakanmu
itulah yang menentukan kualitas dirimu

Dosa mengintip ketika kau merasa sedih,…
atau merasa kalah,…
atau merasa iri hati…
Kau harus berkuasa atasnya…
Ya, kau harus menguasai perasaanmu,
…bukan sebaliknya

Jangan mengikuti perasaanmu,
Kau manusia berbudi…

Tak apa sedih sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat sedih,
dan kembali bangkit tanpa depresi

Tak apa marah sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat marah,
dan kembali mengampuni tanpa dendam

Tak apa kecewa sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat kecewa, 
dan kembali berjalan maju tanpa frustrasi

Anakku ingatlah,
Kualitas manusia ditentukan dari bagaimana ia mengendalikan emosinya,
Kemudian menguasai diri dalam segala hal

Kelas untuk Pendeta Gereja Bintang Lima


Itu adalah kelas yang unik, setiap mahasiswa pasca sarjana yang ada di dalamnya begitu perlente, tak jarang mereka berdasi dan mengenakan jas mahal yang begitu bergaya. 

Mereka tidak belajar dengan tujuan untuk lebih mahir melakukan sesuatu, atau untuk lebih tahu akan sesuatu. Tidak! Mereka belajar untuk mendapat suatu gelar kehormatan “Doktor” yang merupakan syarat tak tertulis bagi para Pendeta yang memimpin sebuah Gereja Bintang Lima.

Cara berkotbah sudah mereka kuasai, isi Alkitab sudah mereka baca bolak balik tak terhitung berapa kali. Mereka bahkan dapat memahami Alkitab yang ditulis dengan bahasa aslinya. Mereka pun sudah merasa mengenal Tuhan, buktinya mereka hafal nama-nama Tuhan, baik dalam bahasa Ibrani, Yunani, hingga bahasa Arab.

Ilmu komunikasi? Jangan ditanya! Mereka sudah bisa membuat jemaat menangis termehek-mehek dan terbakar oleh semangat setiap kali habis mendengar kotbah mereka. Dalam hati bahkan mereka merasa, tanpa bantuan Roh Kudus pun mereka mampu melakukannya.

Ilmu Manajemen? Wah, walau bukan ahlinya, tapi siapa yang dapat menentang mereka? Lagipula, dengan adanya sistem software, keamanan dan teknologi yang baik, tak ada yang peduli dengan sistem manajemen yang benar.

Jangan tanya soal mengelola keuangan. Jika semua anak-anakmu sekolah di luar negeri, siapa yang berani bicara soal mengelola keuangan denganmu. Kau bahkan dapat menghasilkan ratusan juta hanya dengan bicara dan menantang orang di panggung mimbar selama 45 menit.

Ya, kelas itu memang kelas yang unik. Dosen yang mengenakan kacamata dan sepatu butut, yang mengabdikan hidup untuk mengajar dan mengendarai motor bebek adalah saluran berkat, tapi mereka bukan apa-apa dibanding para mahasiswa yang adalah Para Pendeta Gereja Bintang Lima yang terhormat.

Suatu kali pernah dibahas masalah LGBT di kelas itu. Sebagai pendeta Gereja Bintang Lima mereka tidak bisa terang-terangan menyebut itu dosa, tidak bisa! Jemaat mereka kebanyakan adalah orang berpendidikan yang menganut prinsip humanisme dan berpikir “masakan Tuhan tidak menghendaki umatnya bahagia dengan pilihan orientasi seksual mereka.” Jika pendeta Gereja Bintang Lima terang-terangan menentang hal ini, maka mereka akan ditinggal para manusia humanis modern yang memberikan perpuluhan besar untuk gereja. Biarkan saja para penginjil dan pendeta pedesaan yang menentang hal itu.

Suatu kali juga pernah dibahas mengenai ide bagaimana agar gereja bisa membangun gedung megah tanpa terlilit utang piutang. Sebuah gedung mewah yang akan meningkatkan gengsi para pendeta itu. Proyek janji iman, door prize bagi jemaat yang memberi perpuluhan, hingga program iuran berjangka menjadi jawaban. 

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya mereka mengembangkan software yang mendata seluruh jemaat, pekerjaan dan gajinya. Software itu juga bisa memberikan informasi siapa jemaat yang berpotensi memberi paling banyak untuk gereja Tuhan. Tujuannya agar Pendeta bisa melakukan follow up dan menjadwalkan kapan perlunya berkotbah tentang pentingnya memberi perpuluhan dan apa konsekuensi jika tidak memberi.

Ada juga pendeta yang mengatakan gerejanya memberikan semacam kupon undian bagi jemaat yang rutin hadir dan memberi persembahan dan perpuluhan. Kupon itu akan diundi akhir tahun, dan yang menang akan mendapatkan hadiah mobil keluaran terbaru.

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya semua jemaat dapat mendaftar untuk suatu program kematian. Mereka diwajibkan menyetorkan sejumlah uang setiap tahun, katakanlah Rp.200.000/anggota keluarga agar sewaktu-waktu jika ada anggota keluarga yang mati, gereja bisa memberi santunan sejumlah Rp.10.000.000. Jemaat pasti bersedia mendapat keuntungan berlipat seperti itu saat mereka mati. Bahagia di bumi, bahagia di Surga. Kemudian ada rekan pendeta yang bertanya “kalau sampai ada yang terlambat atau tidak bayar bagaimana, katakanlah di tahun ketiga?”. Setelah berpikir sejenak, pendeta itu menjawab “tentu saja haknya hilang, keanggotaannya gugur secara otomatis”

Ada pendeta yang mengatakan gerejanya menemukan suatu metode baru yang membuat para  pengunjung jemaat diperhatikan. Mereka yang terdaftar sebagai jemaat harus membuat kartu yang akan dikenal oleh alat pemindai di depan pintu. Alat pemindai itu dapat mengenali setiap (kartu identitas) jemaat dan menuliskan nama jemaat di layar monitor yang tersedia. Ah, para domba bodoh itu senang bukan kepalang saat namanya muncul di monitor, “Selamat datang Bapak Anu, minggu kemarin gak dateng ya, di program kami tidak terdetect soalnya.” Hanya saja pendeta itu mengatakan mereka masih belum menemukan cara jika kartu anggota ketinggalan di rumah. Mungkin chip yang ditanam di tangan adalah solusinya.

Gedung gereja dan teknologi merupakan suatu topik yang sering dibahas di kelas yang unik ini. Mereka sibuk menyelidiki satu dengan lainnya. Secara tersirat terasa sekali aroma persaingan di antara para pendeta ini. Jika yang satu diundang ke gereja yang lain, mata mereka akan menyapu gedung itu dengan cepat. Kemudian di pertemuan para pengerja (dan pengembang) dibahas “gereja kita harus membeli LED yang besar, gereja si Anu sudah memilikinya” atau “lighting kita sudah ketinggalan jaman, ganti semua dengan yang baru” atau “buat proposal untuk menjual space iklan di media pengumuman”.

Ketika suatu saat di kelas itu pak Dosen dengan sepatu butut bertanya “bagaimana dengan Tuhan”, kelas pun hening… satu orang memberanikan diri menjawab “bukankah dalam suatu pesta tamu kehormatan harus duduk diam? Mereka harus menghargai tuan rumah yang mengadakan acara”

Kemudian dari belakang kelas terdengar seorang pendeta bergumam”kami yang melakukan semuanya, bukan Tuhan”

Kemudian satu orang berkata, “Tuhan ini,… apakah Dia benar-benar bekerja? Kami lihat Dia diam saja. Ya, KAMI yang melakukan semuanya. Kami yang bekerja menemukan topik yang tepat untuk membuat pengunjung itu terhibur dan tetap mau datang ke gereja. Kami yang susah-susah memikirkan tempat parkir agar jemaat mau datang”

Dari sudut yang lain terdengar lagi, “benar, kami yang memancing pengunjung dengan ide kami tentang topik dan dekorasi yang menarik tiap minggunya. Kami yang melakukan audisi untuk para pelayan mimbar agar mereka terlihat menarik di mata siapa saja yang hadir”

Pak dosen duduk diam dan berkata, “lalu apa yang seharusnya Dia lakukan?”

Kali ini para pendeta itu terdiam… ya, apa yang seharusnya Tuhan lakukan… semua bagian sudah dilakukan oleh mereka. 

Sebuah suara terdengar, “di jaman modern ini, sebaiknya Dia diam saja. Kami lebih tahu situasi jaman daripada diriNya. Dia adalah topik yang menarik untuk dibicarakan dan diceritakan. Ya, dia produk yang menjual… Tapi, sebaiknya Dia diam saja”

Dosen bersepatu butut itu bertanya lagi, “bagaimana dengan doa dan kuasanya?”

Setelah keheningan yang tak lama seorang pendeta berkata “doa adalah topik yang menarik untuk dibawakan, tapi sudah lama kami tak mempercayai kuasa doa. Ayolah, kami bahkan hanya menaruh kartu -kartu doa itu di dalam kotak, sama sekali tak kami sentuh. Kami doakan kotak itu dengan seadanya saja dan mereka tetap datang pada kami di kebaktian doa”

Sebuah suara lagi terdengar “doa adalah sebuah pengalihan yang bagus sekali. Ketika seorang jemaat datang padamu dengan masalahnya kau tinggal berkata ‘berdoa saja’ tanpa harus repot-repot menjadi jawaban atas doa mereka. Kemudian, jadikan iman mereka sebagai kambing hitam jika doa-doa mereka tak terjawab” dan tawa pun meledak di kelas itu.

Setelah menarik nafas panjang, Dosen itu bertanya lagi, “bagaimana dengan kedatangan Yesus yang kedua”

Dan kelas pun hening untuk waktu yang sangat lama sampai akhirnya ada yang menjawab dengan bisikan lirih, “apakah Dia akan datang? Maksudku, apa Dia benar-benar akan datang?”

Kemudian Pak Dosen bersepatu butut itu meninggalkan kelas dengan tertunduk lesu sambil berbisik, “ya Tuhan, apa Kau benar-benar ada?”

—–

Ps: Hanya cerpen untuk refleksi, tolong jangan dianggap sebagai serangan…

Hati Nurani


Setiap manusia lahir dengan Hati Nurani
Hati nurani yang menemanimu kemana pun
Mengetahui apa yang kau buat
Dan memberitahumu saat kau salah

Tidak ada yang tahu dari mana hati nurani berasal
Mungkin asalnya saat TUHAN menciptakan manusia
Dan meniupkan nafas kehidupan ke dalamnya
Nafas kehidupan itu mengandung hati nurani

Mungkin juga hati nurani berasal dari buah pengetahuan
Sebuah cerita dari Kitab Kejadian
Buah yang membuatmu menjadi seperti Tuhan
Tahu mana yang baik, dan mana yang buruk

Hati nurani membatasi gerakmu
Seperti undang-undang tak tertulis yang ada di benakmu
Bergerak tak tentu arah, mendesak
…saat kau melakukan apa yang salah

Hati nurani perlu dipelihara
Dalam doa dengan si Pemberi,
Dalam pertobatan kepada Ilahi,
Dalam ibadah kepada Sang Khalik,

Jika tidak, ia akan mati
Dan saat ia mati, 
Kemanusiaanmu akan mati bersamanya

Kau tak kan lagi bisa membedakan
Baik dan buruk
Benar dan salah

Kau tak lagi bisa merasa tak nyaman
Ketika sesuatu tak pada tempatnya
Ketika keadaan seharusnya tak terjadi

Kau tak lagi bisa mengendalikan diri,
Menguasai lidah untuk tak memaki
Mengasai hati untuk tak membenci
Menguasai tangan untuk tak memukul

Saat hati nuranimu mati
Kau seperti memutus nafas Tuhanmu
Menjadikanmu mahluk buas tanpa kendali
Egois dan hanya memikirkan diri sendiri

Saat hati nuranimu mati,
Kau sebenarnya sudah mati di dalam
Hanya cangkang tanpa kehidupan
Manusia tanpa kasih dan belas kasihan

Tuhan yang Kejam


Kau gunakan nama Tuhanmu untuk berteriak dan memaki
Tuhan yang kau bilang maha pengasih dan penyayang
Kau gunakan nama-Nya seakan sebuah mantra
Atau pelindung dari keberingasanmu

Kau sebut Tuhanmu Maha Pengampun
Namun berteriak “bunuh” untuk sesamamu manusia
Seolah hanya hidupmu yang berharga
Dan Tuhanmu memaklumi tindakanmu

Kau sebut Tuhanmu besar dan suci
Tapi kau merasa perlu membela-Nya
Dengan kekerasan, ancaman dan makian
Seolah Dia memerintahmu melakukannya

Kau sebut Tuhanmu sumber segala hikmat
Tapi kau menutup akalmu untuk belajar
Tak menerima nasihat dan didikan
Seolah membatasi akal-Nya dalam kepalamu

Tuhan seperti apa yang sedang kau perkenalkan?

Jika kau sebut nama-Nya setiap kali melakukan kekerasan,
Jangan salahkan orang mengira Tuhanmu kejam
Jika kau sebut nama-Nya setiap kali melontarkan ancaman pada sesamamu,
Jangan salahkan orang mengira Tuhanmu pendendam
Jika kau merasa perlu membela-Nya dengan nyawamu,
Jangan salahkan orang mengira Tuhanmu lemah

Tuhan seperti apa yang kejam, pendendam dan lemah?

Jika kau ingin orang melihat Tuhanmu penuh kasih…
Maka kasihilah sesamamu manusia

Jika kau ingin orang melihat Tuhanmu pengampun,
Maka ampunilah mereka yang bersalah padamu

Jika kau ingin orang melihat Tuhanmu Maha Besar
Maka percayalah pada kedaulatanNya, 
…jangan melakukan apa yang menjadi bagianNya
…biar Dia yang menghukum, 
…biar Dia yang mengganjar
Bukan kamu!

Tuhan seperti apa yang sedang kau perkenalkan,
Kau tunjukkan dari perbuatanmu

Tentang Kemenangan


Anakku,
Seringkali aku memperhatikanmu
… bermain bersama teman-temanmu
Kalian berdebat dan bertengkar,
Terkadang ada yang curang agar bisa menang

Aku melihat, bahkan sejak kecil pun…
… manusia menginginkan kemenangan

Untuk mendapatkan kemenangan itu,
Manusia melakukan berbagai cara
Sebagian menggunakan cara yang baik,
Sebagian menggunakan cara yang tidak baik

Cara yang baik mendapatkan kemenangan
…adalah dengan bekerja keras
…namun mempertahankan integritas
Melakukan yang terbaik,
…dengan cara yang benar

Kemenangan yang sesungguhnya
…bukanlah ketika kita mendapatkan hadiah
…atau ketika kita mendapat penghargaan

Kemenangan yang sesungguhnya
…adalah ketika kita menyelesaikan apa yang kita mulai
…dengan kepala tegak, tanpa rasa malu
Karena kita tahu…
…kita sudah melakukan yang terbaik
…dengan cara yang benar

Ya anakku,
Aku tak akan bangga karena kau mendapat piala,
…atau menjadi juara satu
…atau menjadi ketua ataupun pimpinan

Aku akan bangga jika kau berusaha dengan baik,
…melakukan cara yang benar
…melakukan apa yang terbaik
…mempertahankan integritasmu
Karena itulah sejatinya kemenanganmu

Ada banyak orang berpikir,
Bahwa hadiah adalah hasil yang harus dicapai
dan kedudukan adalah tujuan akhir suatu pencapaian
Mereka berusaha begitu keras mendapatkannya,
Bahkan dengan cara yang curang

Anakku,
Percuma jika kau mendapatkan hadiah,
Namun dengan cara yang licik
Percuma jika kau menang,
Namun dengan mencurangi pihak lawan
Percuma jika kau juara,
Namun kau menipu

Kemenangan adalah suatu perayaan dari kerja keras,
Bukan hasil dari menipu dan memeras

Kemenangan adalah suatu hadiah karena perjuangan
Bukan hasil dari kebohongan dan kecurangan

Kemenangan adalah suatu pencapaian karena semangat
Bukan hasil dari obsesi buta

Anakku,
Ingatlah satu hal
Ketika kau sedang berjuang memperoleh kemenangan
Tak ada yang lebih penting dari integritas
Itu jauh melampaui hadiah apapun
Pertahankan itu!

Pun jika kau harus mengorbankan kemenangan
Karena mempertahankan kejujuran
Lakukan itu

Tak ada yang lebih penting dari integritas,
Karena integritas menunjukkan dari mana kau berasal
Dari Dia, Sumber Kebenaran

Kemenangan adalah perayaan atas kerja keras
Kemenangan adalah perayaan atas integritas
Kalau pun kau tak mendapat hadiah
Setidaknya kau adalah pemenang yang sesungguhnya