Orang-orang dari Masa Lalu


Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu akan kenangan buruk
Mengingatkanmu akan kenangan indah
Mengingatkanmu akan kenangan perasaan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa waktu telah berlalu
dengan cepat,…
Tanpa belas kasihan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Sebagian melihatmu dengan cara yang sama
Sebagian melihatmu dengan berbeda
Seolah waktu diantaranya terlompati begitu saja

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa kehidupan memiliki babak
Setiap babak memiliki kenangannya sendiri
Dan setiap kenangan meninggalkan bekas

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu bahwa setiap orang meninggalkan bekas
…dalam kehidupan orang lain
Bekas yang dalam,
Bekas yang samar

Kecuali jika kehadirannya tak terlalu berarti
Atau perbuatannya tak sungguh bermakna
Atau hidupnya tak sungguh berdampak
…dalam hidupmu

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul,
Mengingatkanmu bahwa sebuah bintang
akan tetap terlihat
Sekalipun jaraknya jutaan tahun cahaya
Demikian pula bekas luka
yang tetap terlihat walau sudah diobati

 

 

Advertisements

Bukankah Dia Tuhan yang sama?


Beberapa minggu yang lalu saya diundang untuk membawakan Firman di ibadah remaja salah satu gereja di kota Bandung. Tidak banyak jemaatnya, tapi kita semua sepakat jumlah bukanlah masalah ketika kita melayani jiwa, bukan begitu?

Sepertinya pembina remaja saat itu semuanya berhalangan, sehingga ditunjuk salah satu anak remaja yang biasa bermain musik di ibadah itu untuk memimpin pujian. Saat tidak ada gembala, domba kocar kacir… Hal itu yang saya lihat di ibadah remaja saat itu. Pemimpin pujian memimpin sekenanya, seolah menyembah hanyalah rangkaian “menyanyikan-3-buah-lagu” dan ibadah hanyalah “rutinitas-yang-harus-dilalui-begitu-saja”.

Saya cukup shock dengan keadaan saat itu dan entah mengapa Firman Tuhan yang saya siapkan begitu sesuai. Saya membawakan tentang kisah Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan. Saya memulainya dengan ketika orang Filistin merampok Tabut Perjanjian itu karena berpikir bahwa Tabut itu adalah jimat keberuntungan orang Israel. Betapa Tuhan ingin kehadiran-Nya dihargai dan menghukum siapapun yang tidak menghargainya.

Tabut itu sempat ‘singgah’ di kuil Dagon dan Tuhan menghancurkan patung Dagon, hingga terlihat patung itu seperti sujud di depan Tabut Perjanjian. Tidak hanya itu, Tuhan menghukum orang Filistin dengan hebat. Tabut itu dipindahkan ke tiga kota, dan Tuhan menghukum orang Filistin yang berada di manapun Tabut itu berada.

Saya bertanya pada anak-anak remaja itu. Seandainya,… sekali lagi, seandainya… Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan itu ada di hadapanmu saat ini, apakah kalian pikir kalian akan selamat?

Sebagian besar menjawab “tidak” dan ada yang menjawab bahwa mereka pastilah akan mati. Saya mengasumsikan mereka mengerti arah pembicaraan saya.

Saat ini Tuhan tidak hadir dengan wujud Tabut Perjanjian yang ditaruh di ruang Maha Kudus. Tirai itu sudah terbelah dan siapapun yang percaya bisa menghadap hadirat-Nya. Namun pertanyaannya sikap seperti apa yang kita tunjukkan saat kita menghadap kepada-Nya?

Apakah Tuhan sudah melunak saat ini sehingga kita bisa bersikap seenaknya saat menyembah Dia? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Saya pernah menghadiri salah satu “gereja modern” di kota Bandung. Jika gereja ini digambarkan sebagai aliran musik, maka gereja ini adalah hip hop. Pemimpin pujiannya memakai topi dan salah satu singer mengenakan kaos oblong butut di dalam dan kemeja longgar di luar sementara singer lain menggunakan celana monyet. Saya tidak mengerti apakah dia memang tidak memiliki pakaian lagi di rumah, tapi saya percaya ada banyak pilihan lain untuk berpakaian sopan ketika Anda sedang menjadi “imam pujian” (bahasa yang dipakai oleh salah satu sinode besar di negara ini yang sangat saya sukai).

Hey dude, apakah jika Anda diundang Presiden Jokowi untuk makan di rumahnya Anda akan berpakaian seperti itu sementara Pak Presiden dengan rapi mengenakan batik untuk menemui Anda? Apakah istilah “mengekspresikan diri” bisa digunakan untuk kondisi semacam ini? Ketika melepas topi adalah cara untuk menunjukkan hormat, mengapa Anda mengenakannya di mimbar? Apakah Anda sehat?

Kembali ke masalah Tabut Perjanjian (oh ya, yang bercetak biru tidak saya Firmankan ke anak-anak remaja itu…hehe..). Orang Filistin kemudian mengembalikan Tabut Perjanjian, dengan dinaikkan ke atas lembu dan sesembahan berupa tikus dan benjol-benjol emas (I Samuel 6:17-18), mereka mengembalikan tabut itu. Lembu yang mereka gunakan berjalan dan tidak berbelok hingga tiba di sebuah daerah bernama Bet Semes. Orang-orang Bet Semes melihat Tabut itu dan senang bukan kepalang.

Tidak disebutkan apakah mereka senang karena berpikir bahwa kehadiran Tuhan sudah kembali atau hanya senang saja. Saya kira mereka ‘hanya senang saja’ tanpa mengerti makna dari kehadiran Tuhan. Buktinya, setelah memberikan korban persembahan untuk Tuhan, beberapa orang Bet Semes melongok-longok ke dalam Tabut Perjanjian, sebuah sikap yang tidak sopan dan seharusnya tidak dilakukan di saat itu. Akibatnya, Tuhan memukul orang Bet Semes dan 70 orang mati saat itu.

Orang Bet Semes kemudian menjadi takut, “Siapa yang tahan berdiri di hadapan Tuhan” kata mereka, dan mereka mengirim utusan pada penduduk Kiryat Yearim untuk mengambil tabut itu, seolah kehadiran Tuhan adalah masalah bagi mereka.

Beberapa dari Anda mungkin bersyukur kita hidup di jaman kasih karunia. Di mana Tuhan tidak lagi menghukum dengan cara yang ekstrim. Saya ingin bertanya sekali lagi. Apakah Tuhan sudah melunak sehingga saat ini kita bisa bermain-main dengan kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Ya, kita seringkali main-main dengan kehadiran-Nya seperti orang Bet Semes yang walaupun terlihat senang dengan kehadiran Tabut Perjanjian tapi tidak bersikap sepatutnya. Seperti orang Bet Semes yang baru saja memberi persembahan untuk Tuhan tapi berlaku tidak semestinya dengan kehadiran Tuhan sesudahnya.

Selanjutnya Tabut Perjanjian itu disimpan di Rumah Abinadab dan dijaga oleh Eleazar yang dikuduskan untuk menjaga tabut Tuhan itu.

Selama dua puluh tahun tabut itu dilupakan oleh orang Israel. Saul menjadi raja dan sama sekali tidak ada niatnya untuk membawa Tabut itu hingga Daud diangkat menggantikan dia. Daud menjadi raja saat umur 30 tahun. Tentunya dia mendengar kisah mengenai tabut yang disimpan di rumah Abinadab saat ia berusia 10 tahun.

Tentu Daud merasa sudah waktunya ‘kejayaan Israel’ dikembalikan. Lambang kehadiran Tuhan seharusnya kembali ke tengah-tengah orang Israel. Saya sudah pernah membahas kisah Daud itu. Anda dapat membacanya di sini.

Daud mengenakan pakaian kebesarannya, menggunakan kereta dengan lembu seperti yang dilakukan oleh orang Filistin, menaikkan tabut ke atas kereta itu dan mulai menari-nari. Saya tidak mengerti apakah Daud lupa membaca Taurat yang mengatur bagaimana seharusnya Tabut itu dibawa atau dia berpikir bahwa dirinya sangat berkuasa hingga Tuhan dinaikannya di dalam keretanya?

Hasilnya, Anda bisa membacanya di II Samuel 6, Lembu-lembu itu hampir tergelincir dan Uza, anak Abinadab yang lain mencoba ‘menyelamatkan’ tabut itu,…dipukul Tuhan sampai mati.

Daud begitu terpukul dengan kejadian itu, hingga dia meninggalkan tabut itu di rumah Obed Edom sampai kemudian dia mendengar bahwa Obed Edom diberkati secara luar biasa dan kemudian Daud mempelajari lagi tentang Tabut itu.

Kali kedua Daud menanggalkan jubah kebesarannya, dikenakannya Efod dan dia menari-nari di depan tabut yang diusung di atas bahu orang Lewi. Tiap enam langkah, Daud mempersembahkan korban pada Tuhan, seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.

Kepada anak-anak remaja itu saya berkata, kemajuan teknologi membuat kita merasa bahwa kehadiran Tuhan perlu dinaikkan ke atas kereta lembu di mana kita menari-nari dengan baju kebesaran kita. Kereta lembu itu makin lama menjadi semakin modern. Awalnya kita bisa menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, hingga kemudian ditambahkan alat musik dan kita berpikir bahwa hanya dengan alat musik itu kita bisa menyembah Tuhan. Ketika musik itu tidak ada, maka sulit sekali menyembah Tuhan.

Lalu ditambahkan lagi sound system yang dikendalikan oleh seorang soundman hebat. Kemudian kita berpikir tanpa alat musik dan sound system maka tentulah kita tidak bisa menyembah Tuhan. Dekorasi kereta lembu ini terus kita lengkapi. Kita naikkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu.

Misi hanyalah omong kosong ketika kita bisa menari dengan jubah kebesaran kita. Seorang raja yang sanggup menghadirkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu seperti penyanyi yang merasa hebat karena pikirnya jemaat merasakan kehadiran Tuhan karena suara merdunya dan lenggak lenggoknya. Seperti pendeta yang merasa hebat karena pikirnya kehadiran Tuhan bisa direkayasa dengan seluruh kecanggihan teknologi. Seperti pemuka agama yang merasa bisa merekayasa kehadiran Tuhan dengan kemampuan bicaranya yang kaya dan penuh intonasi.

Kita merasa “terlalu berat memanggul tabut itu di atas bahu…”, menjadi terang untuk dunia tidak mungkin, lebih ringan jika terang itu ditaruh di bawah gantang, minimal mikroba atau kutu busuk di bawah gantang akan merasakan sinarnya.

Saya katakan kepada remaja-remaja itu. Tuhan hadir dalam penyembahan umat-Nya dan penyembahan itu tidak ada di atas kereta lembu, tapi penyembahan itu ada di atas bahu kita. Tuhan tidak peduli dengan gedung yang hebat walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan sound system dan tata cahaya walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan karpet dan rundown, walaupun manusia peduli. Ingatlah, lembu-lembu itu bisa tergelincir, menjatuhkan tabut Tuhan yang ada di atasnya.

Dunia melihat kita, dunia memperhatikan kita. Jika kita menggantungkan kehadiran Tuhan di atas ‘kereta lembu’ maka ketika kereta itu tergelincir, dan kita berusaha ‘menyelamatkannya’, mungkin saat itu sudah terlambat…

Tuhan yang menginginkan penghormatan di jaman Daud, yang ingin kehadirannya dihargai… bukankah Dia Tuhan yang sama dengan yang kita percayai saat ini?

Menggantikan orang di Neraka…???


Baru saja adik saya memberikan saya sebuah gambar yang cukup menarik. Sebuah iklan berbau dukun rohani, yang bertujuan menjerat pengusaha yang mengalami resesi ekonomi aka masalah keuangan. Langsung saja hati saya tergelitik untuk menuliskannya (mengingat sudah sekian lama saya tidak menulis dan bersikap nyinyir pada keanehan yang terjadi)

Hal yang menarik adalah ketika sebagian gereja (dan hamba Tuhan) berusaha menjadi jawaban atas masalah keuangan anggotanya, seolah mengaminkan bahwa satu-satunya indikator berkat Tuhan adalah ketika seseorang diberkati secara finansial.

Namun hal yang menarik perhatian saya dari brosur di samping bukanlah kalimat “PELEPASAN RESESI EKONOMI” yang dipampang besar-besar, tapi kalimat yang diberi lingkaran merah oleh siapapun yang membagi gambar itu pertama kali.

Disebutkan: (maaf, saya tidak berniat mensensor nama gereja dan pendeta absurd yang tertulis di brosur itu)

Dilayani Gembala Sidang Gereja Tiberias Indonesia yang diberikan Predikat seorang Martir yang tidak duniawi se-Roh dengan Tuhan Yesus karena mencium kaki Tuhan Yesus ingin menggantikan orang di neraka

Saya tidak tahu sebodoh apa para fulltime di gereja itu, yang saya tahu setiap kali mengeluarkan brosur atau apapun mereka sepertinya melupakan tanda baca seperti titik dan koma, seolah mereka tidak tahan untuk menyemburkan pujian pada junjungan mereka ini.

Hal yang teramat konyol (setidaknya bagi saya), adalah karena “ingin menggantikan orang di neraka” merupakan alasan mengapa pendeta ini dapat menyejajarkan dirinya dengan Tuhan Yesus.

Ayolah!!! Bahkan Tuhan Yesus tidak menggantikan orang di neraka… Dia menebus orang agar tidak ke neraka. Dia mati, sebagian orang percaya Dia turun ke neraka, tapi sesudahnya dia BANGKIT dan menjadi TUHAN dan RAJA. Jika Bapak Pendeta yang terhormat ini ingin menggantikan orang di neraka, apakah sebenarnya dia tidak percaya bahwa kematian Yesus di kayu salib sudah cukup? atau justru dia meragukan kedaulatan Tuhan? Saya tidak mengerti sama sekali.

Hal kedua adalah, alasan yang melatarbelakangi dia ingin “menggantikan orang di neraka”. Dia tahu benar bahwa Tuhan tidak ada di Neraka, tempatnya Tuhan bukan di Neraka. Jika dia ingin berada di neraka, apakah artinya dia tidak ingin menghabiskan keabadian bersama Tuhan?

Mungkin sebagian orang berkata “ayolah, jangan menanggapinya secara harafiah”. HARUS!!! Saya harus menanggapinya secara harafiah jika orang ini ingin dianggap martir dan se-Roh dengan Tuhan Yesus. Jika tidak diartikan secara harafiah, maka siapa saja bisa membual seperti dia.

Hal ketiga adalah, masih alasan yang melatarbelakangi dia ingin “menggantikan orang di neraka”. Apakah dia ingin berada di neraka karena dia begitu mengasihi orang yang ingin dia gantikan tempatnya di neraka? Jika begitu bukankah dia akan kehilangan kesempatan untuk menyelematkan orang yang masih hidup dari potensi neraka? Apakah ini semacam rayuan gombal anak SMA “aku bersedia mati menggantikanmu” atau “kenapa tidak aku saja yang mati”.

Ayolah, Tuhan Yesus memiliki kasih sebesar itu, Dia mengenal kita hingga Dia rela mati menggantikan kita. Tapi siapa bapak ini sehingga berani mengajukan diri menggantikan orang di neraka?? Ah, seandainya saja saya diijinkan mengumpat.

Hal keempat adalah… Definisi martir dalam Kristen BUKANLAH menggantikan tempat orang berdosa di neraka, tapi bersedia tetap berdiri teguh untuk mempertahankan iman, seperti Stefanus atau para murid yang mati martir demi nama Yesus. Tidak ada satu pun orang dikenal sebagai martir karena dia menggantikan tempat orang berdosa dalam keabadian neraka. Tidak ada!!

Hal kelima adalah, bukankah agama menjadi laris karena mereka menawarkan keselamatan? Bukankah kita percaya pada Kristus karena Dia menawarkan keselamatan? Bukankah inti dari kematian Kristus di salib adalah agar kita diselamatkan. Anda boleh mengatakan saya egois, tapi bukankah itu benar? Bukankah menjadi seperti Kristus dan mendapatkan keselamatan serta hidup kekal bersama Bapa di Surga adalah tujuan hidup setiap orang percaya?

Apakah bapak pendeta yang terhormat ini benar-benar bermaksud menawarkan dirinya menggantikan orang di neraka atau dia cuma melontarkan (maaf) b*llshit supaya dirinya dicap menjadi martir? Menurut Anda, jika dia benar-benar serius dengan tawarannya, dan Tuhan mengabulkannya, apa yang akan dia katakan?

Saya tahu, saya tahu,… Anda pasti hanya akan membaca kemarahan dalam tulisan saya kali ini, dan itu memang benar SAYA SANGAT MARAH dengan apa yang tertulis di brosur itu. Sebuah kalimat tolol dari seorang yang mengaku diri pendeta yang ingin menggantikan posisi orang di neraka hingga malah memberi kesan bahwa ia tidak percaya bahwa kematian Yesus sudah cukup, atau ia sendiri meragukan kedaulatan Tuhan….hmmm, atau mungkin hanya sekedar “cari muka” di hadapan Tuhan….

Pendeta, pembimbing rohani, guru sekolah minggu, atau siapapun yang (merasa dirinya) rohani, dengarlah nasihat orang awam ini sekali saja… lain kali hati-hatilah dengan statement Anda, baik itu tertulis maupun apa yang Anda ucapkan di atas mimbar. Jangan tersesat dalam kalimat-kalimat indah tanpa makna yang justru menyesatkan orang yang mendengarnya. Hati-hatilah… Tuhan tidak memberi Anda kepercayaan untuk Anda pakai seenaknya seperti ini.

Jika Anda masih melakukannya juga, menyesatkan orang lain…lain kali Anda berada di neraka bukan karena Anda meminta untuk menggantikan tempat seseorang, tapi mungkin  di sanalah tempat Anda yang seharusnya

 

 

Waktu


Waktu itu tak terlihat,
Namun ia mengambil segala yang kau miliki

Mengambil kemudaanmu
Menukarnya dengan pengalaman

Mengambil kenaifanmu
Menukarnya dengan hikmat

Mengambil kenanganmu
Menukarnya dengan kebijakan

Mengambil teman-temanmu
Menukarnya dengan sahabat

Mengambil harapanmu
Menukarnya dengan iman

Mengambil lukamu
Menukarnya dengan kekuatan

Mengambil egomu
Menukarnya dengan kerendahan hati

MENJADI PUSAT PERHATIAN


Setiap orang butuh perhatian, khususnya anak remaja. Hanya saja tiap orang memiliki persepsi berbeda tentang apa yang patut dijadikan obyek perhatian dari dirinya.
Sebagian menganggap wajah yang cantik adalah obyek yang tepat untuk perhatian orang lain. Sebagian lagi sifat yang baik, otak yang encer, gaya berpakaian, kedudukan orang tua dan banyak lagi, tergantung dari apa yang dianggap penting oleh orang tua mereka, sejak mereka kecil.

Bagi remaja, menjadi pusat perhatian adalah segalanya, dan mereka yang gagal mendapatkannya hanyalah pecundang yang tempatnya di pojokan, tak terlihat.

Seorang remaja di sebuah kota paling timur di Pulau Jawa berhasil mendapatkan perhatian seluruh negeri. Seorang penulis tanpa kertas dan pulpen, seorang pujangga tanpa selera seni dianggap sastrawan dalam sekejap karena tulisannya yang brilian di media sosial.

Sebuah tulisan yang menyuarakan hati rakyat yang sudah muak dengan eksploitasi agama untuk kepentingan politik dan eneg dengan kebanggaan semu sebagian ‘mayoritas’ akan kepemilikan surga.

Si remaja membuat kagum banyak orang, mulai dari rakyat awam hingga penguasa negeri. Diundang ke istana dan tampil di Mata Najwa mungkin adalah prestasi terbesarnya. 

Dia pun mungkin tak mengira, kekagumannya akan sebuah tulisan yang kemudian dimuatnya di media sosial pribadinya akan membawanya setinggi itu. Dia hanya remaja yang suka puja-puji dan tersanjung dengan banyaknya like di media sosial.

Dia hanya remaja yang belum sanggup berpikir panjang selain dirinya adalah yang terpenting di semesta ini. Remaja yang walaupun tahu apa yang salah tapi memilih tetap melakukannya karena kenaifannya.

Sorotan lampu media dan jepretan kamera membuatnya merasa jenius. Sudah terlambat untuk mengakui semuanya. Dalam pemikiran remajanya, “apa salahnya menjadi pusat perhatian sesekali.”

Hingga kenyataan menghempasnya dari tempat tingginya, dan lampu sorot padam seketika, meninggalkannya di sudut gelap menjadi mangsa kucing-kucing usil yang nyinyir. Tapi itulah kehidupan di kampung abstrak yang penduduknya bernama Netizen

Dengan sisa-sisa keinginannya untuk menjadi pusat perhatian, sekali lagi ia mencari di sumber kreativitas andalannya, media sosial. Masukan kata kunci “remaja, bully, curhat, bunuh diri” dan ia menemukan sesuatu untuk diikuti.

Si remaja begitu depresi, “biarlah aku menjadi pusat peratian sekali lagi, walau bukan menjadi remaja jenius tak apalah. Mereka harus tahu aku depresi”

Menjadi pusat perhatian adalah impian setiap remaja, orang tua yang mengasah pikiran tentang itu sejak kecil, bak mengasah anak panah yang akan ditembakkan ke sasaran. Orang tua yang menentukan sasarannya, apakah kecantikan, kepintaran, uang atau kebaikan hati.

Tak salah menjadi pusat perhatian, bahkan Tuhan pun memerintahkan kita menjadi pusat perhatian. Bukankah kota terletak di atas bukit tidak mungkin tersembunyi?

Tentang Memberi


Anakku,

Begitu mudah kita memberi
ketika semua mata tertuju pada kita
atau ketika si penerima memiliki potensi membalas
Begitu mudah kita memberi,

Ketika jumlah pemberian kita akan dipampang
dan nama kita tertulis besar-besar
Sehingga siapapun yang melihat
akan berdecak kagum

Begitu mudah kita memberi,
Ketika tangan kiri mengetahui
Apa yang diperbuat tangan kananmu
Tak perlu disembunyikan

Anakku,
Prinsip memberi tidak seperti itu
Memberi tak sama dengan menjadi sponsor
Berharap publikasi setelah memberi

Anakku,
Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah,
Justru ketika kita memberi saat tak seorang pun melihat
Kepada mereka yang membutuhkan
Kepada saudaramu,
Kepada temanmu
Kepada sesamamu manusia

Pengakuan datangnya dari Tuhan
Dia yang akan merasa berutang ketika kau memberi
…pada mereka yang membutuhkan

Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah,
Ketika tak seorang pun tahu seberapa besar kita memberi
Namun kita melihat dampak dari pemberian kita

Ketika kita berinvestasi tanpa nama dalam hidup orang lain
Dan melihat hidup mereka berubah

Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah,
Ketika bahkan tangan kiri kita tak tahu
Apa yang diberi oleh tangan kanan kita
Hanya sepasang mata di Surga yang melihat

Anakku,
Ketika kau ingin memberi,
Jangan lakukan itu untuk mendapat pujian manusia
Jangan lakukan itu untuk mendapat balas budi dari manusia
Jangan lakukan itu untuk publikasi diri

Tapi lakukanlah karena Tuhanmu memerintahmu 
Untuk tidak menahan kebaikan dari mereka yang layak menerimanya
Untuk bermurah hati dan mengasihi sesamamu manusia
Karena kau pun telah menerima banyak…
…dari si Empunya Kehidupan

Mari Bicara Surga dan Neraka


Mari kita jujur, setiap agama memang mengajarkan jalannya sendiri untuk mencapai Surga. Mereka yang beriman akan mengatakan agamanya yang pasti akan membawa mereka ke Surga. Tidak heran, itu namanya iman.
Saat seorang Afi, anak remaja menyampaikan ini, begitu banyak orang termasuk para profesor menghakiminya dan mencelanya habis-habisan. 

Bicara soal agama, tidak salah juga kalau di jaman sekarang agama dikatakan warisan. Seiring dengan pertambahan usia, iman memutuskan apakah kita akan mempertahankan warisan itu, atau melepasnya dan menukarkannya dengan yang baru yang kemudian akan kita wariskan pada anak cucu kita.

Setiap manusia yang (mengaku) beriman pastilah akan berusaha membuat anak-anaknya mempertahankan warisannya, hal itu tidak dapat dipungkiri. Alasan kebanyakan orang sederhana, agar anak-anaknya kelak juga akan mendapat Surga, seperti yang ia yakini. Kemudian akan marah ketika anaknya tiba-tiba memutuskan untuk melepaskan warisan tersebut karena imannya pada sesuatu yang lain.

Hidup di dunia ini singkat, namun sebagian orang bukannya memaknainya, namun hidup dengan terus menerus memikirkan Surga. Mereka berusaha mendapatkan Surga dengan segala cara. Bahkan ada yang membuat versinya sendiri tentang Surga dan bagaimana mendapatkannya. Kemudian teori-teori pun dibuat seolah syarat Surga semakin lama semakin fleksibel, seolah Surga adalah buatan manusia.

Surga memang adalah impian akhir setiap manusia. Setiap agama tentu mengajarkan bagaimana memperolehnya. Namun banyak orang lupa bahwa tujuan akhir itu merupakan anugerah dari Pencipta. Karena jujur saja, manusia terlalu lemah untuk mengupayakannya. Ayolah, tak akan ada yang sanggup mencapainya dengan usaha sendiri.

Anda mengatakan begini begitu akan membuat Anda layak masuk Surga, lalu bagaimana dengan kebencian dalam hati, cacian yang dilontarkan atau ancaman yang terang-terangan. Tidakkah itu membuat Anda tidak layak masuk Surga.

Sedemikian ketakutannya Anda dengan Neraka sehingga membuat fantasi sendiri mengenai Surga. Bagaimana jika justru fantasi Anda tentang mendapatkan Surga akan membawa Anda ke Neraka?

Saudara, Surga dan Neraka diciptakan sebagai tujuan akhir manusia, bukan untuk diperebutkan, tapi dianugerahkan. Apa bedanya? Ketika Anda memperebutkan Surga, Anda akan fokus pada bagaimana mengkafirkan orang lain, menunjukkan pada orang lain bahwa hanya Anda yang layak masuk Surga. Seperti permainan panjat pinang. Anda akan berusaha menendang atau menarik turun orang lain.

Namun ketika Anda percaya bahwa Surga dianugerahkan, maka hidup Anda akan dilimpahi dengan syukur pada Ilahi. Syukur karena sebenarnya Anda tidak layak, namun Sang Ilahi menganugerahkannya pada Anda. kemudian Anda akan hidup sebaik-baiknya sebagai perwujudan rasa syukur pada Ilahi yang telah menganugerahkannya pada Anda.

Pertanyaannya sekarang, jika memang Surga itu dianugerahkan atau dihadiahkan, dan bukan diperebutkan, bagaimana caranya agar Anda mendapatkannya?

Semoga Tuhan, sumber segala hikmat memberi kita semua pencerahan….

Surat untuk Ibu Pertiwi


Ibu Pertiwi,
Memang benar, nenek moyang kami datang dari jauh, sebagian dari mereka menghindar dari keadaan buruk di tanah asal mereka dan datang padamu mencari perlindungan. Sebagian lagi datang dengan barang dagangan, berharap menjalin hubungan baik dengan anak-anakmu, Ibu.

Kami tak tahu alasan mereka datang, yang kami tahu, mereka melahirkan kami di tanahmu, Ibu. Dengan sadar mereka membiarkan kami diadopsi olehmu, mengatakan pada kami bahwa inilah tanah air kami dan kami harus mencintai tanah ini, berjuang untuk kemajuan bangsa ini.

Ibu Pertiwi, salahkah kami jika berusaha lebih keras, belajar lebih giat dan bekerja lebih gigih untuk mendapat simpatikmu. Kamu hanya tidak ingin dibeda-bedakan dan dianggap anak tiri olehmu, Ibu. Karena cerita dari masa kecil kami mengatakan bahwa ibu tiru itu kejam dan itu menakutkan bagi kami. Kami ingin kau menyayangi kami, walau kami dianggap anak adopsi.

Jika ada yang bertanya siapa ibu kami, yang kami kenal hanya dirimu, Ibu Pertiwi. Kami tak mengenal tanah yang lain, bangsa yang lain, negara yang lain selain Indonesia, kesayanganmu. Jika ada saudara kami yang mengunjungi tanah nenek moyang kami, percayalah, di sana kami hanya turis. Karena kami berkebangsaan Indonesia dan tanah yang kami tahu hanya Indonesia dan Ibu yang kami kenal hanya Ibu Pertiwi, dan bendera yang kami sayangi hanya merah putih, dan lagu kebangsaan yang kmi banggakan adalah Indonesia Raya.

Ibu, dalam pertandingan olahraga manapun, air mata kami akan mengalir, ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di kancah Internasional, tak pernah sebersitpun terpikir untuk membela negara nenek moyang kami. Kami hanya mengasihimu, Ibu…dan berdoa pada Tuhan untuk kejayaanmu.

Di luar negeri dan di manapun kami berada, saat ada orang yang menanakan asal kami, dengan bangga kami akan menjawab, “Indonesia, negeri yang indah dengan penduduk yang ramah. Negeri yang kaya dengan budaya yang melimpah. Negeri yang elok dengan pemandangan yang indah.” Dan kemudian kami akan mengajaknya untuk melihat-lihat negeri kami. Apakah kami salah, Ibu?

Permintaan kami hanya satu, sayangilah kami… Kami yang kau adopsi, yang lahir dan besar di negeri ini, yang belajar dan bertumbuh di negeri ini, yang begitu mencintai bahasamu. Tolong jangan bedakan kami dengan anak-anak kandungmu karena percayalah, kami memiliki cinta yang sama…Cinta untuk Ibu Pertiwi, Indonesia.

Yang menyayangimu,
Anakmu

Getsemani, malam itu


Getsemani, malam itu…
Sang Guru berdoa hingga berpeluh,
Darah keluar dalam tangisan pilu
Seandainya cawan ini dapat lalu…
“Tapi biar semuanya seperti yang Kau mau”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terlelap tak tahu…
…apa yang akan menimpa Sang Guru
Andai mereka tahu…
“Tak dapatkah kalian berjaga dengan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Si Pengkhianat bersiap maju
Dengan pasukan siap memburu…
…Dia yang dipanggilnya Guru
“Dengan ciuman kau menyerahkan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terdiam,
Melihat bukti dari sebuah teori
Tentang mengasihi dan mengampuni
Saat telinga tersambung kembali,
“Sarungkan pedangmu!”

Getsemani, malam itu…
Sang Guru menyerahkan diri
Bukan karena tak sanggup melawan,
Tapi karena Dia tahu…
Cawan itu harus diminum-Nya

Getsemani, malam itu…
Menjadi saksi,
Sebuah doa yang pilu,
Sebuah ciuman pengkhianatan,
Dan kasih yang besar

Tentang Pengendalian Diri


Anakku, 
Jika hatimu senang,
Kau akan melihat segala sesuatu menyenangkan…
Bahkan ketika langit berawan
Bahkan ketika panas terik atau hujan
Bahkan ketika burung bernyanyi tak beraturan
Atau ketika temanmu menyebalkan

Namun jika hatimu galau,
Kau akan melihat segala sesuatu menyebalkan…
Bahkan ketika langit cerah,
Bahkan ketika udara sejuk
Bahkan ketika nyanyian burung begitu merdu
Atau ketika temanmu mengajakmu bermain

Lalu responmu terhadap sekeliling,
Akan menentukan bagaimana orang menilaimu,
Sebagai pemarah,… atau periang
Sebagai pemaaf,… atau pendendam
Sebagai orang yang tahu bersyukur,… atau penggerutu
Sebagai orang yang menyenangkan,… atau menyebalkan

Bukankah hati yang gembira membuat muka berseri
Tapi hati yang pedih mematahkan semangat

Anakku,
Apa yang terjadi kepadamu tak bisa kau kendalikan…
Mereka akan menentukan keadaan hatimu,
Kau akan merasa senang atau sedih,
merasa menang atau kalah
merasa bahagia atau iri hati

Namun bagaimana kau menguasai perasaanmu,
dan mengendalikan tindakanmu
itulah yang menentukan kualitas dirimu

Dosa mengintip ketika kau merasa sedih,…
atau merasa kalah,…
atau merasa iri hati…
Kau harus berkuasa atasnya…
Ya, kau harus menguasai perasaanmu,
…bukan sebaliknya

Jangan mengikuti perasaanmu,
Kau manusia berbudi…

Tak apa sedih sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat sedih,
dan kembali bangkit tanpa depresi

Tak apa marah sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat marah,
dan kembali mengampuni tanpa dendam

Tak apa kecewa sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat kecewa, 
dan kembali berjalan maju tanpa frustrasi

Anakku ingatlah,
Kualitas manusia ditentukan dari bagaimana ia mengendalikan emosinya,
Kemudian menguasai diri dalam segala hal