About Greissia

A children educator, composer, writer and management consultant

Terbebas


Tertatih akhirnya ia keluar
Dari lubang penuh lumpur dalam
Setelah putus asa mencengkeram
Tak terpikir harapan masih ada

Mati adalah kepastian
Tapi merencanakannya adalah kebodohan
Walau hidup terasa penat
Dengan beban yang terlalu berat

Entah apa yang di benaknya
Waktu menjatuhkan diri dalam liang
Ketika hidup terasa hampa
Di dalam lubang dirinya terhilang

Dan di dalam lubang pekat
Dirinya terlalu jauh tersesat
Tak mampu melihat setitik cahaya
Tak mampu melihat setetes asa

Tertatih ia merangkak keluar
Hati pedih berbisik lirih
“Ampuni aku,
Aku salah,
Ampuni aku”

Kekuatannya tak banyak,
Namun terlihat cahaya di ujung jalan
Selangkah demi selangkah
Kehampaan terlepas sudah
Saat udara menerpa wajah

Dia telah tiba,
Di ujung jalan kebebasan
Tak akan lagi melihat ke belakang
Karena di dalam kegelapan
Hanya ada kengerian

Berjudi dengan Kehidupan


Sebagian orang mengira hidup adalah permainan,
Kau bertaruh di dalam permainan itu,
Berharap mengambil lebih dari kehidupan

Nama baik ditaruh di atas meja,
Dadu dilempar,
Kalau kau menang, kaya raya menanti
Kalau kau kalah, tak ada lagi yang mempercayaimu

Iman dtaruh di atas meja,
Roda keberuntungan diputar
Kalau kau menang, bahagia semu menanti
Kalau kau kalah, tak ada tersisa

Sebagian orang mengira hidup adalah permainan
Mereka berjudi dengan kehidupan
Berapapun peluang kemenangan diambil,
Demi bahagia,
Demi kaya,
Demi kepuasan

Jika memang hidup adalah permainan,
Apakah yang pentas ditaruh di atas meja itu?
Apakah yang pantas dipertaruhkan dan dimenangkan?
Apakah yang tak cukup berharga untuk kehilangan…
…atau cukup berharga untuk dimenangkan?

Menangisi Hidup


Pernahkah kau menangisi hidup?
Ketika kau melihat ke belakang,
Sudah jauh jalan dari garis awal
Ketika kau melihat ke depan
garis finish terasa dekat

Pernahkah kau menangisi hidup?
Ketika di belakangmu kau melihat banyak sampah,
Sampah yang kau buat selama hidup
Berceceran tak menentu,
Tak sempat kau perbaiki
Berantakan…

Atau… pernahkah kau menangisi hidup?
Ketika di belakangmu kau tak melihat apapun
Kosong melompong seperti jalanan baru
Kau sudah melewati setengah jalan,
Namun tak meninggalkan bekas di manapun
Tak berarti…

Atau… pernahkah kau menangisi hidup?
Ketika kau mengingat di belakang,
Kau menghabiskan terlalu banyak waktu…
…untuk menyesali kesalahan demi kesalahan yang kau buat
…untuk tinggal terlalu lama di tempat kau terjatuh
…untuk meratapi terlalu lama saat kau kecewa
…untuk berbelok berkali-kali mencari jalur yang benar

Pernahkah kau menangisi hidup?
Ketika kau sadar bahwa bumi terlalu besar untuk kau jelajahi
Terlalu sedikit waktu tersisa
Terlalu sedikit tenaga tersisa
Terlalu sedikit keberanian tersisa
Terlalu sedikit harapan tersisa

Pernahkah kau menangisi hidup?


Selamat Jalan, Ema tersayang


Cerita yang seringkali aku dengar adalah,
Betapa ema menyayangiku,
Betapa aku pun menyayangi ema,
Kita saling merindu,
Bahkan saat usiaku belum 1 tahun,

Ema sering cerita,
Aku bersemangat saat ema datang berkunjung…
Dan menangis saat ema akan pulang…
Hal yang ku ingat, aku senang bertemu ema

Ema tersayang,
Aku ingat saat berkunjung ke rumah ema,
Malam hari saat diajak pulang,
Aku akan pura-pura tidur,
Berharap bisa menginap di rumah ema,
Tidur di rumah ema,
Bangun pagi dibuatkan coklat panas
Mencium aroma kue yang ema buat

Ema tersayang,
Aku ingat ema sering membanggakan aku,
Walau kadang aku risih,
Tapi aku tahu ema melakukannya karena sayang yang begitu besar,
Bahkan saat ema berkata aku nakal,
Ema mengatakannya dengan sayang,

Ema tersayang,
Terimakasih banyak…
Ema mengajarkan artinya menjadi wanita tangguh,
Artinya menjadi tabah dan menjalani hidup dengan tak kenal lelah,

Terimakasih banyak…
Untuk memaksakan diri tersenyum saat melihatku,
Atau sekedar menyebut nama “Greis”
Bahkan di saat ema sakit,

Kali terakhir kita ketemu,
Ema bertanya
“Apa Greis sayang ema?”
“Sangat, ema!! Greissia sangat amat menyayangi Ema!”

Ah…andai aku mengunjungi ema lebih sering,
Mengajak ema makan di luar lebih banyak,
Membelikan hadiah lebih banyak,
Nginep di rumah ema lebih sering

Ema tersayang,
Saat-saat terakhir begitu berat, bukan?
Tapi ema sudah melewatinya
Ema melewatinya dengan baik, walau kesusahan

Terimakasih buat salam perpisahan di saat terakhir kita ketemu, dua minggu sebelum ema berpulang,
Ema bilang “dadah Greis” berkali-kali, seolah itu perpisahan terakhir, dan memang itu perpisahan terakhir kita, ema

Entah apa ema sadar atau engga saat itu, tapi terimakasih telah mengatakannya…

Senangkah ema bersama Tuhan Yesus sekarang?
Greissia masih merindukan ema… bahkan sekarang, tujuh hari setelah ema berpulang… air mata ini masih tak tertahan tiap mengingat ema… mengingat tak akan ada ema lagi yang bisa dikunjungi,

Ini air mata egois, ema
Tidak perlu dipedulikan…

Ema tersayang,
Kalau tiap cucu memiliki nenek seperti ema, mereka akan sangat bahagia…

Berharga di mata Tuhan, kematian orang yang dikasihinya

22 – 02 – 2022,
Dengan banyak cinta dan air mata,
Greissia, cucu ema

Talenta untuk Promosi Diri?


Sebenarnya tulisan ini sudah ingin saya tuliskan lama. Tapi saya memiliki beberapa pertimbangan hati nurani dan kuatir Anda salah tangkap maksud saya. Tapi, saya pikir ini sesuatu yang baik untuk dibagikan dan kita ambil pelajaran bersama-sama

Lima atau enam tahun yang lalu, saat sedang melayani di Lippo Cikarang, seorang Ibu, rekan pelayanan berkata “saya aneh sama kamu Greis. Karyamu cukup banyak, ada yang dikenal banyak orang (lagu Ku Istimewa), dan kamu memiliki banyak talenta. Kenapa sampai sekarang kamu tidak terkenal? Apa ada yang salah dengan hidupmu? Apa ada yang kamu simpan?”

Entah mengapa pertanyaan ini menempel terus, tidak pernah dilupakan. Apa saya sakit hati?

(Saya ini memiliki perasaan yang terlambat merespon sesuatu. Biasanya, hingga orang berkata bahwa itu sesuatu yang buruk dan saya seharusnya tersinggung, barulah saya tersinggung)

Saat saya mendengar pertanyaan itu, saya tidak tersinggung. Saya geli… bagaimana bisa beliau mengira (atau menghubungkan) antara tidak terkenal padahal memiliki karya dengan ada sesuatu yang salah dengan hidup saya (menyembunyikan dosa).

Namun pulang dari Lippo Cikarang, sambil menyetir saya memikirkan kembali perkataannya, dan kemudian menanyakan beberapa pertanyaan pada diri saya sendiri.

Apakah saya memang seharusnya terkenal? Apakah saya memang ingin terkenal? Apakah saya sanggup jika menjadi terkenal?

Pertanyaan terbesar adalah kenapa dia bawa-bawa (tepatnya saya ingin bertanya kenapa berani-beraninya dia berkata) bahwa hidup saya bermasalah, menyembunyikan dosa, hanya karena saya memilih tidak menjadi terkenal (atau dia pikir ‘tidak menjadi terkenal’ adalah hukuman Tuhan?)

Apapun yang saya buat, lagu-lagu yang saya bagikan (sekolahminggu.org) atau tulisan-tulisan yang pernah saya tulis, tidak dimaksudkan agar saya jadi terkenal. Mungkinkah seorang hamba yang diberikan talenta oleh tuannya menggunakan talenta pemberian itu untuk promosi diri?

Mungkinkah seorang hamba, yang menjalankan perintah tuannya, malah mempromosikan namanya di balik perintah itu?

Itu yang pertama,…

Hal kedua… ketika Tuhan berkata agar kita menjadi terang, tujuan akhirnya bukanlah agar kau dipuji orang… melainkan agar Bapa dimuliakan. Semakin terang suatu lampu, kau makin tak bisa melihat bohlamnya… Tak penting apakah kau dikenal atau tidak sepanjang terangmu bercahaya…

Terang yang bercahaya tak pernah bermanfaat untuk dirinya… melainkan untuk orang lain yang tinggal dalam kegelapan…

Terang yang bercahaya tak layak menerima pujian karena ia menerima cahayanya dari Sumber Terang.

Jadi buat ibu yang pernah bertanya hal itu… dulu saya hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan Ibu… ini jawaban saya untuk Ibu… saya menulis ini agar ketika mengingat pertanyaan itu, saya tak lagi merasa ga enak atau sakit hati…

Tuhan memberkati Ibu! Saya memaafkan pertanyaan Ibu, bahkan berterimakasih.

Penyesalan


Penyesalan itu jahat
Ia menghancurkan hati
Meremukkan tulang

Membuatmu berandai-andai
Andai dulu tak begini
Anda dulu melakukan ini

Penyesalan itu jahat
Membuatmu membenci diri
Membuatmu merasa tak berdaya

Tak bisa kembali untuk memperbaiki
Tak bisa mengulang apa yang lewat
Tak bisa mencegah apa yang telah terjadi

Penyesalan itu jahat
Kalau kau menenggelamkan diri di dalamnya
Berkubang dan memutuskan tinggal

Ya, penyesalan itu jahat,
Kalau kau memutuskan menjadikannya bawaanmu
Sepanjang sisa umurmu

Menguburkan anak


Judul tulisan kali ini cukup menyeramkan… ini bukan pertanda, jangan mikir macam-macam. Gaya hidup, ditambah pandemi belakangan ini menyebabkan peluang kematian tidak hanya besar untuk orang tua. Banyak anak-anak muda berpulang mendahului orang tua mereka.

Anak menguburkan orang tua adalah hal yang lumrah…tapi orang tua menguburkan anak adalah hal yang menyakitkan. Tangan kecil yang kau genggam dan kau antarkan ke dunia, harus kau antarkan meninggalkannya mendahuluimu… suatu hal yang menghancurkan hati siapa saja.

Tadinya saya mau menuliskan ini semacam surat seperti yang biasa saya tuliskan…. Tapi saya kuatir Papa saya atau keluarga saya membacanya dan berpikiran macam-macam, hehehe… jadi saya mendahuluinya dengan pengantar semacam ini.

Siapa saja bisa berpulang kapan saja, merupakan rahasia dan kehendak Ilahi. Namun saat bicara soal kematian, siapapun akan merasa ngeri. Saya pernah berkata kepada adik saya, bahwa seseorang yang menangis saat kematian orang terkasih sesungguhnya menangisi dirinya sendiri. Mereka menangis karena ditinggalkan, karena membayangkan perasaan sepi, membayangkan rindu.

Ya, sesungguhnya ketika kita menangis di rumah duka, kita sedang memperlihatkan kemanusiaan kita… egois. Menangisi diri sendiri.

Jadi, inilah isi tulisan yang sebenarnya ingin saya tulis sejak awal…tulisan berupa surat untuk semua orang tua yang ditinggalkan, yang mungkin ditinggalkan.

Saya tidak bermaksud kejam, dan tulisan ini bukan pula berupa doa atau firasat, sekali lagi jangan berpikir macam-macam.


Papa dan Mama, jika suatu saat aku meninggalkanmu lebih dahulu,

Jika masaku di dunia berakhir sebelum masamu, dan Tuhan memutuskan untuk memanggilku terlebih dahulu,

Ingatlah semua yang kau ajarkan padaku semasa hidup… tentang Tuhan, tentang kasih-Nya, tentang hidup kekal bersama-Nya, tentang iman

Ingatlah semua yang ditanamkan padaku sejak kecil, bahwa siapapun akan menghadap Ilahi suatu saat nanti… hanya menunggu waktu

Ingatlah ketika kau berkata bahwa di Rumah Bapa banyak tempat, bagi kau dan aku… bahwa kematian adalah saat ketika kita memasuki rumah Bapa

Ingatlah bahwa kau telah melakukan apa yang benar, dalam hidup anakmu… mengenalkannya pada Tuhan

Dan ketika aku mendahuluimu, lepaslah aku dengan senyum,… karena jika memang kita memiliki iman yang benar seperti yang kau ajarkan, tentunya aku berada di tempat yang lebih baik.

Ketika aku mendahuluimu, artinya tugasmu di dunia selesai…bukankah dunia adalah saat kita mempersiapkan diri untuk kekekalan?

Papa dan Mama, saat anakmu mendahuluimu, dan kau harus mengantar tubuhnya kembali menjadi debu dan abu, ingatlah bahwa rohnya bersama pencipta. Bukankah manusia sesungguhnya adalah mahluk roh?

Papa dan Mama, jika suatu saat aku mendahuluimu, menangislah karena itu manusiawi… tapi bukan tangisan penyesalan, juga bukan tangisan kecemasan.

Kemudian tersenyumlah, karena suatu saat kita akan berjumpa lagi


Mudah-mudahan bagian di atas memberi sedikit penghiburan bagi orang tua yang ditinggalkan anak-anak mereka

Bagi orang tua seusia saya yang memiliki anak yang masih kecil…jangan lupa ajari mereka tentang Tuhan, tentang iman yang menyelamatkan… agar ketika mereka mendahuluimu, kau tak akan menangis karena penyesalan atau karena kecemasan.

Tuhan memberkatimu, para orang tua!

Demokrasi dibatasi?


Saya sering mendengar sebagian anak muda berkata, “pada pemerintahan Jokowi demokrasi dibatasi,” atau sesuatu yang menyerupai pernyataan itu.

Pertanyaan besarnya sebenarnya adalah, apa itu demokrasi menurut mereka? Saya menebak, menurut mereka demokrasi adalah kebebasan berpendapat tanpa batas. Nah, kalau kita mau menanyakan pertanyaan besar lagi, apa itu berpendapat menurut mereka?

Saya jamin, yang mereka maksud adalah bebas berpendapat tanpa memperhatikan etika dan adab. Bagi mereka, memaki-maki kepala negara di medsos adalah salah satu bentuk “bebas berpendapat” atau “demokrasi”. Padahal, jangankan kepala negara, jika anda, di depan umum, memaki-maki dan menghujat orang yang tanpa kedudukan pun, dan orang tersebut melapor, Anda bisa kena masalah hukum! Lalu kenapa Anda berharap memaki-maki kepala negara di muka umum (ya, sekarang medsos dapat dikatakan ‘di muka umum’), dan Anda bebas?

Mari kita bahas soal berpendapat! Anda harus bisa membedakan antara berpendapat dan memaki-maki. Berpendapat adalah menyampaikan pemikiran Anda mengenai sesuatu. Misalnya presiden mengeluarkan kebijakan dan Anda tidak setuju. Anda bisa berpendapat dengan bebas di muka umum. Sampaikan pendapat Anda dan argumentasi Anda. Saya rasa jika Anda menyampaikan dengan adab, Anda tidak akan kena pasal apapun.Itu adalah yang dilakukan orang yang berbudaya.

Katakanlah jika misalkan atasan Anda membuat aturan baru di kantor, atau dosen Anda, atau siapapun otoritas Anda. Kemudian Anda menuliskan di media sosial bahwa otoritas Anda itu seperti monyet, kampungan, pantas mati, apakah itu namanya berpendapat? Hell No! itu namanya Anda sedang menghina! Otoritas Anda bisa menuntut Anda atas perbuatan tidak menyenangkan. Jika bukti cukup, Anda bisa berurusan dengan hukum.

Anak muda, kalian harus belajar bagaimana berpendapat, bagaimana memanfaatkan demokrasi dengan benar jika Anda ingin berkontribusi kepada kemajuan negeri ini.

Jika Anda ingin tinggal di negara yang berbudaya, maka Anda harus menjadi manusia berbudaya, sampaikan pendapat dengan berbudaya, mengkritik dengan berbudaya, menyampaikan ketidaksetujuan dengan berbudaya.

Jika Anda ingin bebas, bebas memaki, bebas menghujat, bebas tanpa aturan, rasanya hutan Indonesia masih luas… silahkan Anda bawa pakaian secukupnya, pilih salah satu pohon untuk jadi tempat tinggal Anda, dan selamat bebas!

Kesabaran dan Toleransi


Sudah lama tidak menulis blog ini. Kalau saya tidak salah ingat, terakhir kali yang menulis dengan serius adalah Yoanna Greissia berusia 37 tahun. Versi yang paling rajin menulis adalah yang berusia antara 28 sampai 35 tahun. Tidak perlu saya jelaskan kenapa Versi berusia 37 – 39 malas sekali menulis (toh sebenarnya yang membaca pun sedikit, hehehe).

Hari ini, untuk pertama kalinya versi berusia 39 tahun akan menulis. Sedikit tergelitik karena menemukan bahwa di usia tertentu, sebagian orang menjadi sangat tidaksabaran (termasuk saya mungkin). Baru saja adik saya mengirimi saya pesan teks mengatakan bahwa dia merasa belakangan ini tidak sabar dengan orang-orang yang lambat sekali jika bercerita (kebetulan yang dia maksudkan adalah anak muda, walau tak jarang juga tidak sabaran dengan orang yang lebih tua)

Sebagai orang muda, sebelum memasuki usia 40-an, beberapa orang dianugerahi sikap kritis, cepat tanggap, perfeksionis. Kemudian, dalam usia tertentu (khususnya di puncak kehidupan, sebelum menukik turun, menjelang paruh baya) seringkali mereka merasa bahwa standar mereka adalah yang terbaik. Orang lain harus mengikuti standar mereka, dalam hal kecepatan bicara, kemampuan menangkap informasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kecepatan berjalan, semua harus seperti standar yang mereka buat.

Ketika orang lain gagal mencapai standar tersebut, mereka menjadi tidak sabaran, marah-marah, dan frustrasi sendiri. Mungkin ini adalah alasan kenapa banyak orang tua terlihat begitu letih dan jenuh dengan kehidupan, mereka memiliki standar (yang terkadang terlalu tinggi) dan menuntut orang lain memenuhi standar tersebut.

Kemudian, bersama dengan waktu yang berjalan, usia bertambah, sebagian dari orang-orang tersebut belajar, bahwa hidup tak bisa selalu menuruti apa yang kita inginkan. Sebagian orang-orang itu menyadari bahwa ketika mereka muda, tentu mereka telah menguji kesabaran orang yang lebih tua, dan saat mereka tua nanti, mereka mungkin akan menguji kesabaran orang yang lebih muda.

Mereka belajar, bahwa semakin mereka tidak sabaran, artinya semakin mereka harus memperbesar toleransi, karena kesabaran berbanding lurus dengan toleransi. Semakin rendah kesabaran, semakin tinggi toleransi yang harus diusahakan.Hanya dengan cara demikian, mereka akan memperoleh kembali kesabaran.

Namun bersama dengan sang waktu tersebut, sebagian orang lainnya mungkin tidak belajar , mereka terus menuntut agar hidup memberi mereka apa yang mereka inginkan, agar orang lain melakukan persis seperti yang mereka harapkan. Orang-orang itu mungkin nantinya akan menjadi nenek tua cerewet atau kakek-kakek pemarah, yang menggerutu dengan kehidupan dan menganggap semua orang di luar dirinya adalah orang yang selalu salah.

Saat ini, si versi 39 tahun ini, yang akan memasuki era menurunnya kurva kehidupan, sedang belajar menjadi yang pertama. Belajar bahwa hidup tak bisa selalu memenuhi apa yang saya inginkan. Belajar untuk memperbesar toleransi ketika kesabaran semakin menurun, agar nanti di usia senja tidak menjadi nenek-nenek cerewet yang menjengkelkan anak-anak muda.

Menjual Integritas


Kemarin, berita dihebohkan dengan seorang mentri sosial yang menerima dana suap bansos 17 Miliar Rupiah. Beliau yang dulu berkata bahwa mental korupsi itu bobrok, kita terpaksa mengakui bahwa mentalnya juga sama bobroknya dengan mereka yang korupsi.

Di tengah-tengah pemberitaan itu, seorang komedian menulis di twitnya seperti ini

Twit ini langsung dikecam, karena terkesan merasionalisasi sebuah kesalahan.

Tadi, anak asuh membuka percakapan mengenai hal ini, “Ka Greis tahu twit Imam Darto? Menurut Ka Greis gimana?” Selanjutnya dia berkata bahwa twit itu ada benarnya juga. Seseorang yang ditawari miliaran rupiah bisa saja tergoda.

Saya menjawab, “Sebenarnya,itu tergantung dari berapa harga integritas yang kau miliki. Jangankan 17 Miliar. Jika integritasmu begitu murah, ditawari 100 ribu pun akan kau jual.”

Kekayaan manusia memang dinilai dari berapa banyak uang yang ia miliki, tapi harga diri manusia dinilai dari integritas yang dimilikinya. Jika manusia menjual integritasnya demi uang,mungkin seumur hidup ia akan sulit mendapatkannya kembali. Jika manusia melihat integritasnya tak ternilai, berapa pun uang yang ditawarkan, dia akan merasa terhina dan tak akan menjual integritasnya.