Pemimpin yang Melayani


Image result for chain of commandMenyadari pentingnya pengelolaan manajemen yang baik, salah seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di sebuah kota di Indonesia menghubungi kami untuk membantu beliau menata manajemennya. Dalam perbincangan santai dengan salah seorang Hamba Tuhan di gereja tersebut kemarin (setelah rapat konsultasi usai), saya mengatakan bahwa salah satu pokok persoalan yang menyulitkan dalam memperbaiki manajemen gereja (untuk beberapa gereja) adalah istilah “Pemimpin yang melayani”.

Saya menceritakan bahwa dalam dunia sekuler, Job Desc merupakan daftar tugas yang menjadi acuan seseorang bekerja. Tidak boleh ada inisiatif kebablasan yang membuat seseorang merasa harus mengerjakan tugas orang lain. Setiap orang harus menghormati wilayah pekerjaan dan wewenang orang lain, dalam dunia sekuler. Dalam dunia sekuler, walaupun sebagai pemilik perusahaan, namun batasan pekerjaan tetap dibuat. Sebagai konsultan, saya akan menganjurkan agar pemilik perusahaan tidak ‘ujug2’ mengepel lantai atau membuang sampah. Alasannya? Hal tersebut dapat merusak “chain of command” dalam perusahaan tersebut.

Saya akan bercerita sedikit apa itu chain of command. Chain of Command adalah sebuah hubungan dalam struktur organisasi yang menunjukkan siapa melaporkan pekerjaan pada siapa, siapa bertanggungjawab kepada siapa, siapa harus menjawab apa kepada siapa. Chain of Command yang baik menjamin bahwa ada satu orang yang bertanggungjawab untuk setiap tugas dan posisi.

Sekarang bayangkan jika seorang manager tiba-tiba berusaha mengepel lantai. Manager tersebut berinisiatif untuk membersihkan lantai ketika ada seorang yang muntah. Siapa yang menjamin bahwa apa yang dilakukannya sesuai dengan prosedur yang berlaku? Siapa yang menjamin bahwa hasil akhir dari pekerjaannya sempurna? Jika tidak sempurna, siapa yang bertanggungjawab?

Nah, hal tersebut sulit sekali diterapkan di dalam gereja. Dalam sebuah gereja saya pernah melihat ketika “pemilik gereja” yang adalah pengusaha (jaman sekarang gereja bisa dimiliki oleh seorang pengusaha yang bukan pendeta dan kemudian memanggil pendeta-pendeta bergelar Pdt. untuk berkotbah) tiba-tiba tergerak untuk memarkirkan kendaraan yang masuk ke gedung sebuah guest house yang adalah miliknya. Tanpa bermaksud seudzon, Beliau mungkin ingin menunjukkan pada pendeta yang berkotbah bahwa beliau termasuk “pemimpin yang melayani”

Baik, di beberapa gereja mungkin memang ada “pelayanan parkir”. Tapi dalam kasus ini tidak begitu, ada petugas parkir yang sedang bertugas di sana. Petugas parkir tersebut, sesuai dengan budaya timur, tentu saja tidak dapat menghampiri si Bapak dan berkata “maaf Pak, saya yang bertanggungjawab mengatur parkir di sini, biarkan saya melakukan tugas saya… Bapak masuk saja”. Tentu yang bersangkutan takut dipecat.

Ada banyak kesalahan yang dapat terjadi ketika seorang atasan tiba-tiba mengambil alih job desc bawahan, diantaranya:

  1. Ketika kesalahan terjadi, sulit mencari siapa yang bertanggungjawab.
  2. Ketika kesalahan terjadi, wibawa atasan akan jatuh di depan anak buah.
  3. Ketika yang dilakukan benar, kinerja anak buah justru akan menurun

Di gereja, menanamkan pemahaman ini menjadi begitu sulit karena adanya konsep “pemimpin yang melayani”. Mungkin Anda kemudian berkata, “kalau begitu apakah kamu setuju jika para pendeta bersikap bossy?”

Saya akan balik bertanya: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridnya mencari makanan ke warung ketika 5000 orang laki-laki mengikutinya? Mengapa tidak dia sendiri saja yang pergi mencari makanan?

Atau: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridNya mencari keledai untuk Dia tunggangi di hari raya Pondok Daun, kenapa tidak Dia saja yang mencarinya? Kenapa Dia menyuruh murid-murid-Nya yang mencari loteng untuk mereka makan Paskah terakhir, mengapa tidak Dia saja?

Apa Anda menangkap maksud saya? Menjadi pemimpin yang melayani tidak berarti bahwa Anda mengerjakan bagian orang lain. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Menjadi pemimpin yang melayani berarti Anda melakukan tugas Anda dengan sikap hati yang benar untuk kepentingan banyak orang, bukan hanya sekedar untuk kepentingan Anda. Menjadi pemimpin yang melayani adalah mempercayai peran semua orang dalam organisasi yang Anda pimpin, mengakui bahwa bukan Anda satu-satunya yang hebat, menghargai setiap orang atas kinerja mereka yang tidak ada intervensi seenaknya.

Saya tahu beberapa orang akan menunjukkan saya definisi boss dan leader… Lihatlah gambar di bawah, jika Anda seorang leader, Anda akan memastikan perahu yang Anda naiki bergerak ke arah yang benar  dan bukannya merebut dayung dan ikut mendayung… Jika Anda melakukannya karena ingin menjadi “pemimpin yang melayani”, percayalah, mungkin kapal Anda akan menabrak karang. Seorang boss akan duduk santai dan menyalahkan semua orang ketika perahu tidak sampai di tujuan atau mengambil alih tujuan ketika perahu tiba di tujuan dengan selamat.

Image result for leader

Memang terkadang kita perlu bersabar ketika kinerja orang lain tidak sebaik yang kita harapkan. Pemimpin yang melayani memberi kesempatan dan motivasi, bukan mengambil alih…

Ketika Anda menjadi pemimpin, walau itu di dalam gereja, saya sarankan… Hormati Chain of Command!

Advertisements

Tentang Hidup oleh Iman


Anakku,

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Kegelisahan akan apa yang akan terjadi nanti
Kegelisahan akan apa yang mungkin kita alami
Kegelisahan akan apa yang dapat menimpa kita

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Ketidakpastian akan kematian
Ketidakpastian akan keberuntungan
Ketidakpastian akan keselamatan

Tidak ada yang dapat membuat kita bertahan
Tanpa merasa gelisah
Tanpa merasa resah
kecuali dengan iman…

Itu sebabnya ada tertulis
“Orang benar akan hidup oleh iman”

Tanpa iman,…
Kau tak akan dapat menjalani hidup dengan ketidakpastian
Kau akan gelisah dan resah
Tak tenang dalam hidupmu

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hari esok akan datang
…dengan penuh harapan menyongsongnya
…dengan penuh semangat menjalaninya

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa Penciptamu mengasihimu
Bahwa Dia memeliharamu
Seperti Dia memelihara burung pipit
Atau mendandani bunga bakung

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hidupmu tak sia-sia
Setiap detik memiliki arti
…dan kau dapat menjadi harapan bagi orang lain

Hanya oleh iman…
Kita akan menatap masa depan dengan tersenyum
Karena masa depan sungguh ada
Dan harapanmu tak kan hilang

Hanya oleh iman…
Kau tak takut menghadapi kematian
Karena kau yakin akan kehidupan setelahnya
Bahwa Bapa di Surga siap menyambutmu

Ya anakku,
Ingatlah ini selalu
Orang benar akan hidup oleh iman

 

Tentang Melakukan apa yang Benar


Anakku,
Menjadi orang benar tidak berarti…
…bahwa kau akan disukai
…bahwa kau akan berhasil di dunia
…bahwa hidup akan lebih mudah

Melakukan apa yang benar tidak berarti…
… semua orang setuju dengan yang kau lakukan
… semua orang suka dengan yang kau lakukan
… semua orang akan membelamu

Dalam sejarah kau akan melihat
Ada orang memutuskan untuk mengatakan apa yang benar
…dan mereka dicemooh

Ada orang memutuskan untuk memilih apa yang benar
…dan mereka diasingkan

Ada orang memutuskan untuk bersikap benar
…dan mereka dipersekusi

Anakku,
Aku sudah menceritakan padamu banyak contoh
Mulai dari Daniel sampai Yesus
Mereka memilih kebenaran
…dan orang-orang membenci mereka

Kecenderungan manusia adalah memikirkan diri sendiri
Untuk menguntungkan diri sendiri,
Mereka rela melakukan apa yang tidak benar
Dan benci kalau ada ‘orang benar’
Karena semakin berkilau emas,
semakin terlihat kusam kayu di sampingnya

Namun anakku,
Berbuat benar adalah keputusan yang paling tepat
Mengatakan apa yang benar adalah keputusan yang bijak
dan memilih apa yang benar adalah keputusan seorang pahlawan

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu membuktikan pada mereka
Bahwa kau adalah emas murni yang berkilau
Tak ada yang dapat memadamkan kilau itu

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu menunjukkan kualitasmu pada mereka
Bahwa kau adalah cahaya yang bersinar
Tak ada yang dapat memadamkan sinar itu

Anakku,
Kita memilih kebenaran karena memang itu yang sepatutnya dilakukan
Karena itu yang diajarkan Pencipta
Karena itu yang disukai-Nya
Karena itu yang dilakukan-Nya

Ketika kita melakukan apa yang benar,
Kita sedang mengikuti jejak-Nya
Kita sedang meneladani-Nya
Kita sedang bersinar di dunia

Putuskanlah apa yang benar, anakku
Bahkan jika itu berarti kau akan dicemooh
Bahkan jika itu berarti kau akan diasingkan
Bahkan jika itu berarti kau akan dipersekusi
Pilihlah apa yang benar

Karena saat kau melakukannya,
Kau sedang membuat Penciptamu tersenyum…

Berkat dari Memberi


Anakku,
Berkat dari memberi itu…
Bukanlah ketika kau mendapat balasan
Tapi senyuman dari mereka yang menerima

Berkat dari menolong itu…
Bukanlah saat suatu saat mereka membalas budi
Tapi hidup yang berubah dari mereka yang ditolong

Berkat dari berbuat baik itu…
Bukanlah saat kau menerima pahala,
Tapi karena itu sesuatu yang benar untuk dilakukan
Dan Tuhanmu tersenyum karenanya

Berkat dari membantu sesama itu…
Bukanlah saat kau menerim pujian dari orang lain
Tapi saat kau tahu,…
bahwa kau melakukan sebagian kecil dari yang sudah Tuhan lakukan padamu

Anakku,
Kehidupan di dunia bukanlah soal dirimu
Menjadi bahagia…
Bukanlah soal memuaskan dirimu
Bukanlah soal menyenangkan hatimu
Bukanlah soal membahagiakan jiwamu

Tapi bagaimana kau membuat orang lain tersenyum,
Bagaimana kau mengubahkan hidup orang lain,
Bagaimana kau membuat Tuhan senang,
Bagaimana kau membalas kebaikan Tuhanmu,

Berkat dari ini semua jauh lebih besar,
Karena yang kau senangkan bukan hanya dirimu seorang
Tapi banyak orang,
Terlebih Tuhan

Anakku,
Berkat dari melakukan itu semua
Adalah ketika kau menjadi manusia…
Yang melakukan apa yang diharapkan Penciptanya…
Yang memuliakan nama Penciptanya
Yang menyukakan hati Penciptanya

Ingatlah yang selalu kukatakan
Kota di atas gunung tidak mungkin tersembunyi…

Orang-orang dari Masa Lalu


Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu akan kenangan buruk
Mengingatkanmu akan kenangan indah
Mengingatkanmu akan kenangan perasaan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa waktu telah berlalu
dengan cepat,…
Tanpa belas kasihan

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Sebagian melihatmu dengan cara yang sama
Sebagian melihatmu dengan berbeda
Seolah waktu diantaranya terlompati begitu saja

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Menyadarkanmu bahwa kehidupan memiliki babak
Setiap babak memiliki kenangannya sendiri
Dan setiap kenangan meninggalkan bekas

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul
Mengingatkanmu bahwa setiap orang meninggalkan bekas
…dalam kehidupan orang lain
Bekas yang dalam,
Bekas yang samar

Kecuali jika kehadirannya tak terlalu berarti
Atau perbuatannya tak sungguh bermakna
Atau hidupnya tak sungguh berdampak
…dalam hidupmu

Orang-orang dari masa lalu kadang muncul,
Mengingatkanmu bahwa sebuah bintang
akan tetap terlihat
Sekalipun jaraknya jutaan tahun cahaya
Demikian pula bekas luka
yang tetap terlihat walau sudah diobati

 

 

Bukankah Dia Tuhan yang sama?


Beberapa minggu yang lalu saya diundang untuk membawakan Firman di ibadah remaja salah satu gereja di kota Bandung. Tidak banyak jemaatnya, tapi kita semua sepakat jumlah bukanlah masalah ketika kita melayani jiwa, bukan begitu?

Sepertinya pembina remaja saat itu semuanya berhalangan, sehingga ditunjuk salah satu anak remaja yang biasa bermain musik di ibadah itu untuk memimpin pujian. Saat tidak ada gembala, domba kocar kacir… Hal itu yang saya lihat di ibadah remaja saat itu. Pemimpin pujian memimpin sekenanya, seolah menyembah hanyalah rangkaian “menyanyikan-3-buah-lagu” dan ibadah hanyalah “rutinitas-yang-harus-dilalui-begitu-saja”.

Saya cukup shock dengan keadaan saat itu dan entah mengapa Firman Tuhan yang saya siapkan begitu sesuai. Saya membawakan tentang kisah Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan. Saya memulainya dengan ketika orang Filistin merampok Tabut Perjanjian itu karena berpikir bahwa Tabut itu adalah jimat keberuntungan orang Israel. Betapa Tuhan ingin kehadiran-Nya dihargai dan menghukum siapapun yang tidak menghargainya.

Tabut itu sempat ‘singgah’ di kuil Dagon dan Tuhan menghancurkan patung Dagon, hingga terlihat patung itu seperti sujud di depan Tabut Perjanjian. Tidak hanya itu, Tuhan menghukum orang Filistin dengan hebat. Tabut itu dipindahkan ke tiga kota, dan Tuhan menghukum orang Filistin yang berada di manapun Tabut itu berada.

Saya bertanya pada anak-anak remaja itu. Seandainya,… sekali lagi, seandainya… Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan itu ada di hadapanmu saat ini, apakah kalian pikir kalian akan selamat?

Sebagian besar menjawab “tidak” dan ada yang menjawab bahwa mereka pastilah akan mati. Saya mengasumsikan mereka mengerti arah pembicaraan saya.

Saat ini Tuhan tidak hadir dengan wujud Tabut Perjanjian yang ditaruh di ruang Maha Kudus. Tirai itu sudah terbelah dan siapapun yang percaya bisa menghadap hadirat-Nya. Namun pertanyaannya sikap seperti apa yang kita tunjukkan saat kita menghadap kepada-Nya?

Apakah Tuhan sudah melunak saat ini sehingga kita bisa bersikap seenaknya saat menyembah Dia? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Saya pernah menghadiri salah satu “gereja modern” di kota Bandung. Jika gereja ini digambarkan sebagai aliran musik, maka gereja ini adalah hip hop. Pemimpin pujiannya memakai topi dan salah satu singer mengenakan kaos oblong butut di dalam dan kemeja longgar di luar sementara singer lain menggunakan celana monyet. Saya tidak mengerti apakah dia memang tidak memiliki pakaian lagi di rumah, tapi saya percaya ada banyak pilihan lain untuk berpakaian sopan ketika Anda sedang menjadi “imam pujian” (bahasa yang dipakai oleh salah satu sinode besar di negara ini yang sangat saya sukai).

Hey dude, apakah jika Anda diundang Presiden Jokowi untuk makan di rumahnya Anda akan berpakaian seperti itu sementara Pak Presiden dengan rapi mengenakan batik untuk menemui Anda? Apakah istilah “mengekspresikan diri” bisa digunakan untuk kondisi semacam ini? Ketika melepas topi adalah cara untuk menunjukkan hormat, mengapa Anda mengenakannya di mimbar? Apakah Anda sehat?

Kembali ke masalah Tabut Perjanjian (oh ya, yang bercetak biru tidak saya Firmankan ke anak-anak remaja itu…hehe..). Orang Filistin kemudian mengembalikan Tabut Perjanjian, dengan dinaikkan ke atas lembu dan sesembahan berupa tikus dan benjol-benjol emas (I Samuel 6:17-18), mereka mengembalikan tabut itu. Lembu yang mereka gunakan berjalan dan tidak berbelok hingga tiba di sebuah daerah bernama Bet Semes. Orang-orang Bet Semes melihat Tabut itu dan senang bukan kepalang.

Tidak disebutkan apakah mereka senang karena berpikir bahwa kehadiran Tuhan sudah kembali atau hanya senang saja. Saya kira mereka ‘hanya senang saja’ tanpa mengerti makna dari kehadiran Tuhan. Buktinya, setelah memberikan korban persembahan untuk Tuhan, beberapa orang Bet Semes melongok-longok ke dalam Tabut Perjanjian, sebuah sikap yang tidak sopan dan seharusnya tidak dilakukan di saat itu. Akibatnya, Tuhan memukul orang Bet Semes dan 70 orang mati saat itu.

Orang Bet Semes kemudian menjadi takut, “Siapa yang tahan berdiri di hadapan Tuhan” kata mereka, dan mereka mengirim utusan pada penduduk Kiryat Yearim untuk mengambil tabut itu, seolah kehadiran Tuhan adalah masalah bagi mereka.

Beberapa dari Anda mungkin bersyukur kita hidup di jaman kasih karunia. Di mana Tuhan tidak lagi menghukum dengan cara yang ekstrim. Saya ingin bertanya sekali lagi. Apakah Tuhan sudah melunak sehingga saat ini kita bisa bermain-main dengan kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah turun pangkat sehingga kita bisa seenaknya memandang kehadiran-Nya? Apakah Dia sudah ‘bukan siapa-siapa’ sehingga kehadiran-Nya dalam ibadah kita tidak diperhitungkan??

Ya, kita seringkali main-main dengan kehadiran-Nya seperti orang Bet Semes yang walaupun terlihat senang dengan kehadiran Tabut Perjanjian tapi tidak bersikap sepatutnya. Seperti orang Bet Semes yang baru saja memberi persembahan untuk Tuhan tapi berlaku tidak semestinya dengan kehadiran Tuhan sesudahnya.

Selanjutnya Tabut Perjanjian itu disimpan di Rumah Abinadab dan dijaga oleh Eleazar yang dikuduskan untuk menjaga tabut Tuhan itu.

Selama dua puluh tahun tabut itu dilupakan oleh orang Israel. Saul menjadi raja dan sama sekali tidak ada niatnya untuk membawa Tabut itu hingga Daud diangkat menggantikan dia. Daud menjadi raja saat umur 30 tahun. Tentunya dia mendengar kisah mengenai tabut yang disimpan di rumah Abinadab saat ia berusia 10 tahun.

Tentu Daud merasa sudah waktunya ‘kejayaan Israel’ dikembalikan. Lambang kehadiran Tuhan seharusnya kembali ke tengah-tengah orang Israel. Saya sudah pernah membahas kisah Daud itu. Anda dapat membacanya di sini.

Daud mengenakan pakaian kebesarannya, menggunakan kereta dengan lembu seperti yang dilakukan oleh orang Filistin, menaikkan tabut ke atas kereta itu dan mulai menari-nari. Saya tidak mengerti apakah Daud lupa membaca Taurat yang mengatur bagaimana seharusnya Tabut itu dibawa atau dia berpikir bahwa dirinya sangat berkuasa hingga Tuhan dinaikannya di dalam keretanya?

Hasilnya, Anda bisa membacanya di II Samuel 6, Lembu-lembu itu hampir tergelincir dan Uza, anak Abinadab yang lain mencoba ‘menyelamatkan’ tabut itu,…dipukul Tuhan sampai mati.

Daud begitu terpukul dengan kejadian itu, hingga dia meninggalkan tabut itu di rumah Obed Edom sampai kemudian dia mendengar bahwa Obed Edom diberkati secara luar biasa dan kemudian Daud mempelajari lagi tentang Tabut itu.

Kali kedua Daud menanggalkan jubah kebesarannya, dikenakannya Efod dan dia menari-nari di depan tabut yang diusung di atas bahu orang Lewi. Tiap enam langkah, Daud mempersembahkan korban pada Tuhan, seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.

Kepada anak-anak remaja itu saya berkata, kemajuan teknologi membuat kita merasa bahwa kehadiran Tuhan perlu dinaikkan ke atas kereta lembu di mana kita menari-nari dengan baju kebesaran kita. Kereta lembu itu makin lama menjadi semakin modern. Awalnya kita bisa menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, hingga kemudian ditambahkan alat musik dan kita berpikir bahwa hanya dengan alat musik itu kita bisa menyembah Tuhan. Ketika musik itu tidak ada, maka sulit sekali menyembah Tuhan.

Lalu ditambahkan lagi sound system yang dikendalikan oleh seorang soundman hebat. Kemudian kita berpikir tanpa alat musik dan sound system maka tentulah kita tidak bisa menyembah Tuhan. Dekorasi kereta lembu ini terus kita lengkapi. Kita naikkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu.

Misi hanyalah omong kosong ketika kita bisa menari dengan jubah kebesaran kita. Seorang raja yang sanggup menghadirkan kehadiran Tuhan di atas kereta lembu seperti penyanyi yang merasa hebat karena pikirnya jemaat merasakan kehadiran Tuhan karena suara merdunya dan lenggak lenggoknya. Seperti pendeta yang merasa hebat karena pikirnya kehadiran Tuhan bisa direkayasa dengan seluruh kecanggihan teknologi. Seperti pemuka agama yang merasa bisa merekayasa kehadiran Tuhan dengan kemampuan bicaranya yang kaya dan penuh intonasi.

Kita merasa “terlalu berat memanggul tabut itu di atas bahu…”, menjadi terang untuk dunia tidak mungkin, lebih ringan jika terang itu ditaruh di bawah gantang, minimal mikroba atau kutu busuk di bawah gantang akan merasakan sinarnya.

Saya katakan kepada remaja-remaja itu. Tuhan hadir dalam penyembahan umat-Nya dan penyembahan itu tidak ada di atas kereta lembu, tapi penyembahan itu ada di atas bahu kita. Tuhan tidak peduli dengan gedung yang hebat walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan sound system dan tata cahaya walaupun manusia peduli. Tuhan tidak peduli dengan karpet dan rundown, walaupun manusia peduli. Ingatlah, lembu-lembu itu bisa tergelincir, menjatuhkan tabut Tuhan yang ada di atasnya.

Dunia melihat kita, dunia memperhatikan kita. Jika kita menggantungkan kehadiran Tuhan di atas ‘kereta lembu’ maka ketika kereta itu tergelincir, dan kita berusaha ‘menyelamatkannya’, mungkin saat itu sudah terlambat…

Tuhan yang menginginkan penghormatan di jaman Daud, yang ingin kehadirannya dihargai… bukankah Dia Tuhan yang sama dengan yang kita percayai saat ini?

Menggantikan orang di Neraka…???


Baru saja adik saya memberikan saya sebuah gambar yang cukup menarik. Sebuah iklan berbau dukun rohani, yang bertujuan menjerat pengusaha yang mengalami resesi ekonomi aka masalah keuangan. Langsung saja hati saya tergelitik untuk menuliskannya (mengingat sudah sekian lama saya tidak menulis dan bersikap nyinyir pada keanehan yang terjadi)

Hal yang menarik adalah ketika sebagian gereja (dan hamba Tuhan) berusaha menjadi jawaban atas masalah keuangan anggotanya, seolah mengaminkan bahwa satu-satunya indikator berkat Tuhan adalah ketika seseorang diberkati secara finansial.

Namun hal yang menarik perhatian saya dari brosur di samping bukanlah kalimat “PELEPASAN RESESI EKONOMI” yang dipampang besar-besar, tapi kalimat yang diberi lingkaran merah oleh siapapun yang membagi gambar itu pertama kali.

Disebutkan: (maaf, saya tidak berniat mensensor nama gereja dan pendeta absurd yang tertulis di brosur itu)

Dilayani Gembala Sidang Gereja Tiberias Indonesia yang diberikan Predikat seorang Martir yang tidak duniawi se-Roh dengan Tuhan Yesus karena mencium kaki Tuhan Yesus ingin menggantikan orang di neraka

Saya tidak tahu sebodoh apa para fulltime di gereja itu, yang saya tahu setiap kali mengeluarkan brosur atau apapun mereka sepertinya melupakan tanda baca seperti titik dan koma, seolah mereka tidak tahan untuk menyemburkan pujian pada junjungan mereka ini.

Hal yang teramat konyol (setidaknya bagi saya), adalah karena “ingin menggantikan orang di neraka” merupakan alasan mengapa pendeta ini dapat menyejajarkan dirinya dengan Tuhan Yesus.

Ayolah!!! Bahkan Tuhan Yesus tidak menggantikan orang di neraka… Dia menebus orang agar tidak ke neraka. Dia mati, sebagian orang percaya Dia turun ke neraka, tapi sesudahnya dia BANGKIT dan menjadi TUHAN dan RAJA. Jika Bapak Pendeta yang terhormat ini ingin menggantikan orang di neraka, apakah sebenarnya dia tidak percaya bahwa kematian Yesus di kayu salib sudah cukup? atau justru dia meragukan kedaulatan Tuhan? Saya tidak mengerti sama sekali.

Hal kedua adalah, alasan yang melatarbelakangi dia ingin “menggantikan orang di neraka”. Dia tahu benar bahwa Tuhan tidak ada di Neraka, tempatnya Tuhan bukan di Neraka. Jika dia ingin berada di neraka, apakah artinya dia tidak ingin menghabiskan keabadian bersama Tuhan?

Mungkin sebagian orang berkata “ayolah, jangan menanggapinya secara harafiah”. HARUS!!! Saya harus menanggapinya secara harafiah jika orang ini ingin dianggap martir dan se-Roh dengan Tuhan Yesus. Jika tidak diartikan secara harafiah, maka siapa saja bisa membual seperti dia.

Hal ketiga adalah, masih alasan yang melatarbelakangi dia ingin “menggantikan orang di neraka”. Apakah dia ingin berada di neraka karena dia begitu mengasihi orang yang ingin dia gantikan tempatnya di neraka? Jika begitu bukankah dia akan kehilangan kesempatan untuk menyelematkan orang yang masih hidup dari potensi neraka? Apakah ini semacam rayuan gombal anak SMA “aku bersedia mati menggantikanmu” atau “kenapa tidak aku saja yang mati”.

Ayolah, Tuhan Yesus memiliki kasih sebesar itu, Dia mengenal kita hingga Dia rela mati menggantikan kita. Tapi siapa bapak ini sehingga berani mengajukan diri menggantikan orang di neraka?? Ah, seandainya saja saya diijinkan mengumpat.

Hal keempat adalah… Definisi martir dalam Kristen BUKANLAH menggantikan tempat orang berdosa di neraka, tapi bersedia tetap berdiri teguh untuk mempertahankan iman, seperti Stefanus atau para murid yang mati martir demi nama Yesus. Tidak ada satu pun orang dikenal sebagai martir karena dia menggantikan tempat orang berdosa dalam keabadian neraka. Tidak ada!!

Hal kelima adalah, bukankah agama menjadi laris karena mereka menawarkan keselamatan? Bukankah kita percaya pada Kristus karena Dia menawarkan keselamatan? Bukankah inti dari kematian Kristus di salib adalah agar kita diselamatkan. Anda boleh mengatakan saya egois, tapi bukankah itu benar? Bukankah menjadi seperti Kristus dan mendapatkan keselamatan serta hidup kekal bersama Bapa di Surga adalah tujuan hidup setiap orang percaya?

Apakah bapak pendeta yang terhormat ini benar-benar bermaksud menawarkan dirinya menggantikan orang di neraka atau dia cuma melontarkan (maaf) b*llshit supaya dirinya dicap menjadi martir? Menurut Anda, jika dia benar-benar serius dengan tawarannya, dan Tuhan mengabulkannya, apa yang akan dia katakan?

Saya tahu, saya tahu,… Anda pasti hanya akan membaca kemarahan dalam tulisan saya kali ini, dan itu memang benar SAYA SANGAT MARAH dengan apa yang tertulis di brosur itu. Sebuah kalimat tolol dari seorang yang mengaku diri pendeta yang ingin menggantikan posisi orang di neraka hingga malah memberi kesan bahwa ia tidak percaya bahwa kematian Yesus sudah cukup, atau ia sendiri meragukan kedaulatan Tuhan….hmmm, atau mungkin hanya sekedar “cari muka” di hadapan Tuhan….

Pendeta, pembimbing rohani, guru sekolah minggu, atau siapapun yang (merasa dirinya) rohani, dengarlah nasihat orang awam ini sekali saja… lain kali hati-hatilah dengan statement Anda, baik itu tertulis maupun apa yang Anda ucapkan di atas mimbar. Jangan tersesat dalam kalimat-kalimat indah tanpa makna yang justru menyesatkan orang yang mendengarnya. Hati-hatilah… Tuhan tidak memberi Anda kepercayaan untuk Anda pakai seenaknya seperti ini.

Jika Anda masih melakukannya juga, menyesatkan orang lain…lain kali Anda berada di neraka bukan karena Anda meminta untuk menggantikan tempat seseorang, tapi mungkin  di sanalah tempat Anda yang seharusnya

 

 

Waktu


Waktu itu tak terlihat,
Namun ia mengambil segala yang kau miliki

Mengambil kemudaanmu
Menukarnya dengan pengalaman

Mengambil kenaifanmu
Menukarnya dengan hikmat

Mengambil kenanganmu
Menukarnya dengan kebijakan

Mengambil teman-temanmu
Menukarnya dengan sahabat

Mengambil harapanmu
Menukarnya dengan iman

Mengambil lukamu
Menukarnya dengan kekuatan

Mengambil egomu
Menukarnya dengan kerendahan hati

MENJADI PUSAT PERHATIAN


Setiap orang butuh perhatian, khususnya anak remaja. Hanya saja tiap orang memiliki persepsi berbeda tentang apa yang patut dijadikan obyek perhatian dari dirinya.
Sebagian menganggap wajah yang cantik adalah obyek yang tepat untuk perhatian orang lain. Sebagian lagi sifat yang baik, otak yang encer, gaya berpakaian, kedudukan orang tua dan banyak lagi, tergantung dari apa yang dianggap penting oleh orang tua mereka, sejak mereka kecil.

Bagi remaja, menjadi pusat perhatian adalah segalanya, dan mereka yang gagal mendapatkannya hanyalah pecundang yang tempatnya di pojokan, tak terlihat.

Seorang remaja di sebuah kota paling timur di Pulau Jawa berhasil mendapatkan perhatian seluruh negeri. Seorang penulis tanpa kertas dan pulpen, seorang pujangga tanpa selera seni dianggap sastrawan dalam sekejap karena tulisannya yang brilian di media sosial.

Sebuah tulisan yang menyuarakan hati rakyat yang sudah muak dengan eksploitasi agama untuk kepentingan politik dan eneg dengan kebanggaan semu sebagian ‘mayoritas’ akan kepemilikan surga.

Si remaja membuat kagum banyak orang, mulai dari rakyat awam hingga penguasa negeri. Diundang ke istana dan tampil di Mata Najwa mungkin adalah prestasi terbesarnya. 

Dia pun mungkin tak mengira, kekagumannya akan sebuah tulisan yang kemudian dimuatnya di media sosial pribadinya akan membawanya setinggi itu. Dia hanya remaja yang suka puja-puji dan tersanjung dengan banyaknya like di media sosial.

Dia hanya remaja yang belum sanggup berpikir panjang selain dirinya adalah yang terpenting di semesta ini. Remaja yang walaupun tahu apa yang salah tapi memilih tetap melakukannya karena kenaifannya.

Sorotan lampu media dan jepretan kamera membuatnya merasa jenius. Sudah terlambat untuk mengakui semuanya. Dalam pemikiran remajanya, “apa salahnya menjadi pusat perhatian sesekali.”

Hingga kenyataan menghempasnya dari tempat tingginya, dan lampu sorot padam seketika, meninggalkannya di sudut gelap menjadi mangsa kucing-kucing usil yang nyinyir. Tapi itulah kehidupan di kampung abstrak yang penduduknya bernama Netizen

Dengan sisa-sisa keinginannya untuk menjadi pusat perhatian, sekali lagi ia mencari di sumber kreativitas andalannya, media sosial. Masukan kata kunci “remaja, bully, curhat, bunuh diri” dan ia menemukan sesuatu untuk diikuti.

Si remaja begitu depresi, “biarlah aku menjadi pusat peratian sekali lagi, walau bukan menjadi remaja jenius tak apalah. Mereka harus tahu aku depresi”

Menjadi pusat perhatian adalah impian setiap remaja, orang tua yang mengasah pikiran tentang itu sejak kecil, bak mengasah anak panah yang akan ditembakkan ke sasaran. Orang tua yang menentukan sasarannya, apakah kecantikan, kepintaran, uang atau kebaikan hati.

Tak salah menjadi pusat perhatian, bahkan Tuhan pun memerintahkan kita menjadi pusat perhatian. Bukankah kota terletak di atas bukit tidak mungkin tersembunyi?