Tokoh Antagonis dalam Kehidupan


Dalam sinetron atau film laga, kamu tak dapat memilih peran. Sekali sutradara menetapkanmu sebagai peran antagonis, maka marah-marah atau kelicikan, atau kecurangan, atau kejahatan yang harus kau perankan sepanjang film.

Tapi dalam kehidupan nyata, kamu punya pilihan. Hidup ini bukan panggung sandiwara… kamu punya pilihan untuk menentukan peranmu dalam kehidupan.

Banyak orang berkata bahwa kehidupan sudah digariskan dan manusia tidak memiliki kesempatan untuk memilih. Itu tidak benar! Kelahiranmu memang digariskan, jenis kelaminmu digariskan, orang tuamu digariskan, tapi peranmu dalam dunia adalah pilihanmu. Continue reading

Advertisements

Pilihan untuk kehidupan


Anakku,
Sebelum kau dilahirkan,
Kau bahkan tak memiliki pilihan untuk memilih
Sang Pencipta memilihkan untukmu,
Menaruhmu dalam rahim ibumu,
Itulah kenapa…
Hidupmu disebut anugerah

Selagi kau masih sangat kecil,
Kau tak memiliki banyak pilihan,
Bahkan hampir tak ada
Kami orang tuamu memilihkan untukmu,
Makanan yang kau makan,
Minuman yang kau minum,
Baju yang kau pakai,
Itulah kenapa…
Kami disebut orang tuamu,
Itulah kenapa…
Kami bertanggungjawab penuh atasmu Continue reading

Selamat Ulang Tahun ke-66, Papa


Kepemimpinan yang kau ajarkan adalah…
Kepemimpinan seorang ayah,
Meneladani, bukan menggurui…
Menasihati, bukan mengomeli…
Mengiringi, bukan menghalangi…

Semangat yang kau ajarkan adalah…
Semangat seorang pejuang,
Berusaha sampai bisa…
Bangkit setelah kalah…
Bekerja pantang menyerah…

Iman yang kau ajarkan adalah…
Iman yang hidup,
Dibuktikan melalui perbuatan…
Ditunjukkan melalui sikap hidup…
Dijaga, dan dipertahankan…

Kasih yang kau ajarkan adalah,
Mengasihi tanpa syarat,
Mengampuni saat disakiti…
Sabar saat dikecewakan…
Mengalah dan tak mencaci…

Hidup yang kau ajarkan adalah,
Selalu bersyukur…
Selalu berusaha…
Selalu berdoa…
Selalu melakukan yang terbaik…
Tunduk pada Sang Khalik,
Hormat pada sesama,
Mengasihi semua orang

Menjadi Papa adalah spesialismu,
Seahli penjunan membuat periuk…
Seahli arsitek merancang rumah…
Seahli pianis memainkan lagu indah…

Selamat ulang tahun, Papa
Menjadi anakmu adalah kebanggaan
Kehormatan, dan kebahagiaan…
I love you, Papa

Enosiophobia: antara input, kritik dan cela


Saya dan adik saya suka bergosip, seperti umumnya wanita lain (atau mungkin lebih tepatnya berdiskusi, seperti umumnya saudara lain). Kali ini kami membicarakan sesuatu mengenai ‘benteng’. Bagaimana seseorang mungkin membangun benteng yang indah, tinggi dan tebal dalam dirinya, melindungi kesempitan pikiran yang ada di balik benteng itu.

Bagaimana seseorang yang membangun benteng itu sesungguhnya ingin menyembunyikan gubug reyot yang ada di balik benteng itu. Gubug reyot berisi kebebalan dan pikiran naif.

Anda bingung dengan isi gosip kami? Ya, seiring pertambahan usia kita jadi suka membicarakan sesuatu yang cukup berat, bukan? Setidaknya lebih berat dari masalah si anu patah hati atau si itu yang punya mobil baru.

Orang-orang pembangun benteng membutuhkan benteng-benteng itu agar orang lain tidak mengetahui betapa rapuhnya mereka. Mereka tidak ingin orang lain mengetahui betapa reyotnya bangunan yang ada di dalam.. Karena toh biasanya benteng yang tebal dan tinggi untuk melindungi rumah yang indah dan megah.

Para pembangun benteng takut orang lain menilai dirinya, apalagi mengkritiknya. Sebelum orang lain sempat menilai dirinya, mereka dengan sukacita menceritakan dirinya, biasanya lebih dari yang sebenarnya. Hiperbola adalah nama tengah mereka.

Para pembangun benteng begitu takut hingga mereka tak lagi bisa membedakan masukan, kritik, juga cela. Bagi mereka ketiganya sama saja. Sama-sama merupakan serangan; dan setiap serangan harus dilawan.

Apa Anda bisa membedakan masukan, kritik dan cela. Saya akan memberi contoh untuk membedakannya. Masukan adalah ketika seseorang yang peduli padamu memberitahumu bagaimana agar lebih baik, seperti teori baru mengupas kentang atau teknik bicara di depan umum yang lebih menarik.

Mungkin juga dia memberitahu jika ada sesuatu yang tidak pas seperti dasi yang miring atau akun media sosial yang dibajak.

Kritik adalah ketika seseorang yang peduli padamu mengoreksimu untuk sesuatu yang salah yang telah kau lakukan… Seperti jika kau bicara terlalu kasar atau terlalu cepat… Atau jika kau mengambil keputusan yang salah…

Cela adalah ketika seseorang tak menyukaimu, atau membencimu, atau   iri padamu menjadikan perbuatanmu sebagai alasan untuk membunuh karaktermu. Kebanyakan adalah perbuatanmu yang salah… Tapi mereka yang berniat mencelamu akan selalu memiliki alasan tak peduli apa perbuatanmu. Mereka sesungguhnya tak peduli pada perbuatanmu. Satu-satunya yang mereka pedulikan adalah bagaimana menjatuhkanmu.

Masih ingat si pembangun benteng? Mereka tidak suka ada yang menganggu teritorial mereka yang kecil dan reyot. Mereka menganggap bahwa masukan dan kritik sekecil apapun sebagai cela yang membahayakan. Karena itulah mereka membangun benteng dan memolesnya agar terlihat indah…

Mereka menutupi kebodohan dengan kata-kata nan indah dan mencegah kritik dengan mengatakan bahwa semuanya baik… Menutup telinga terhadap masukan… Dan menjadi pahit karena celaan…

Ada istilah khusus untul orang-orang seperti itu: Enosiophobia, yaitu ketakutan berlebihan akan kritik. Ketakutan ini begitu besar hingga mereka cenderung menghindari relasi yang dekat dengan orang lain yang lebih pintar atau pandai dari dirinya.

Ketakutan ini juga mencakup takut akan mendapat penilaian buruk dari orang lain sehingga ia mati-matian memoles diri, menjaga sikap, melatih kata-kata manis dan memakai topeng.

Ketakutan ini juga mencakup takut jika apa yang mereka lakukan akan menjadi fitnah… Oh ya!! Begitu sering bukan kita mendengar “mencegah fitnah” atau “bisi piomongeun” (takut diomongin orang)

Bukankah saya pernah menulis ini sebelumnya…? Orang-orang Enosiophobia memanggul keledai di pundak mereka karena kuatir penilaian buruk dari orang lain…

Ngomong-ngomong, apa penyebab Fobia ini?  Enosiophobia disebabkan karena beberapa faktor. Faktor paling banyak yang jadi penyebab adalah penolakan sejak anak-anak. Penolakan membuat seseorang takut melakukan kesalahan, dan takut melakukan kesalahan membuat seseorang rentan akan teguran dan kritik.

Faktor berikutnya adalah seringnya dibanding-bandingkan sejak kecil. Benteng dibuat agar tak ada yang tahu seperti apa dirinya sebenarnya… Agar tak ada yang dapat membandingkannya dengan siapapun.

Lalu bagaimana?

Jika Anda mengalami gejala penyakit sosial ini… Ada beberapa tips bagaimana Anda dapat mengobatinya…
1. Terima keadaan dirimu
2. Akui tiap kelalaian atau kesalahan
3. Terima dan hargailah masukan.
4. Pertimbangkan kritik
5. Abaikan celaan
6. Mulailah mengembangkan diri

Bukankah…
“kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak?” Amsal 24:6

Jadi tunggu apalagi… Hancurkan dinding itu, perbaiki bagian dalamnya…

Ketika Kau dihukum Mati


image

Ketika kau dihukum mati,
Ada orangtua yang berduka,
Ada kekasih yang patah hati,
Ada teman-teman yang kehilangan

Ketika kau dihukum mati,
Ada harapan bahwa kau akan lebih baik
…dalam kehidupan selanjutnya
Setidaknya Tuhan berbelas kasihan

Ketika kau dihukum mati,
Ada penyesalan mendalam…
…dari orangtua yang menangis
Kalau saja dulu mereka lebih peduli,
Kalau saja dulu mereka lebih tegas,
Kalau saja dulu…

Ketika kau dihukum mati,
Ada penyesalan mendalam…
…dari kekasih yang bersedih
Kalau saja mereka tahu,
Kalau saja ada yang dapat dilakukan,
Kalau saja…

Ketika semuanya selesai,
Ketika hidupmu berakhir,
Kehidupan mereka yang kau kasihi terus berjalan
Disertai harapan…
Semoga saja kematianmu tak sia-sia

Mudah-mudahan saja…
Kematianmu dijadikan pelajaran
Bahwa hidup ini berharga,
Terlalu berharga untuk disia-siakan…
Bahwa setiap orang berharga,
Terlalu berharga untuk menyakiti sesama…

Bahwa anak-anak mereka berharga,
Terlalu berharga untuk diabaikan…
Dan kekasih mereka berharga,
Terlalu berharga untuk disakiti…

Nasi sudah menjadi bubur,
Palu hakim telah diketuk,
Senapan telah dibidik…

Ketika kau dihukum mati….
Ah, semoga saja kau beristirahat dalam damai, Saudaraku
Terkadang, kematian satu atau beberapa orang…
…diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan

Semoga Tuhan menyelamatkan jiwamu…
Ketika hukum tak dapat memberimu pengampunan…

Bandung, 29 April 2015
Pk. 01.25, satu jam setelah eksekusi mati…

Ketika Kau Memanggilku


Tuhan,
Ketika Kau tiba-tiba saja memanggilku
Dalam peristiwa tak terbayangkan
Atau penyakit tak terkira

Ketika Kau tiba-tiba saja memanggilku
Tanpa pemberitahuan
Tanpa peringatan

Ketika Kau tiba-tiba saja memanggilku
Di hari yang cerah,
Atau malam yang dingin,
Dalam keadaan sehat,
…atau sakit

Aku ingin hatiku siap…
MenyongsongMu…
Tanpa ketakutan,
Tanpa kekuatiran,

Aku ingin keluargaku tak menangis…
Mengingatku dalam senyum,
Mengenangku dalam kehidupan indah,
Melihat setiap jejak yang kutinggalkan dan berbangga…

Tuhanku,
Saat kematian datang menjemput
Saat tugasku di dunia telah selesai
Saat Kau merasa bahwa tiba waktuku dalam keabadian

Aku ingin meraih tangan-Mu
Aku ingin memandang wajah-Mu
Aku ingin melihat senyum-Mu
Aku ingin mendengar suara-Mu
Saat Kau berbisik,
“Selamat datang dalam kebahagiaan Tuanmu
Tugasmu sudah selesai…”

Karena bukankah bagiku hidup adalah Kristus,
Dan mati adalah keuntungan…
Karena aku akan berdiam
Dalam Rumah Tuhan sepanjang masa

-special for families of all passenger Air Asia QZ8501- may your beloved one rest in peace –

Anak Bawang


Anda pernah dengar istilah “anak bawang”? Anak bawang biasanya sering dipakai oleh anak-anak yang sedang bermain, untuk menunjuk kepada mereka yang masih terlalu kecil untuk diperhitungkan. Si Anak Bawang boleh ikut main, tapi ia boleh menolak untuk kalah.

Namun tidak hanya dalam permainan anak-anak, dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang dewasa pun kita kerap menjumpai anak bawang. Mungkin anak bawang bisa mengacu pada mereka yang usahanya tidak diperhitungkan.

Setelah saya pikir-pikir, ada banyak alasan mengapa seseorang tidak diperhitungkan, baik dalam pergaulan sosial maupun profesional.

Pertama adalah mereka yang rapuh, mudah marah dan tidak dapat menerima kritik. Kepada orang-orang seperti ini biasanya kita menganggap sebagai anak bawang. Ketika ia melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat diterima untuk ukuran orang ‘normal’, ia tidak akan dilawan atau dikiritik karena orang malas berurusan dengannya. “Sudahlah, dimengerti saja… dia sih orangnya memang begitu”

Kedua adalah mereka yang bodoh, berpikiran dan berwawasan sempit. Kepada mereka biasanya saya menjadi sangat sabar. Orang-orang seperti ini jarang kita perhitungkan pendapatnya karena biasanya tidak logis dan tidak applicable. ” Dia kok ditanya, jawabannya pasti aneh”

Ketiga adalah mereka yang malas. Kepada mereka yang malas biasanya kita menjadi kapok atau jengkel dan kemudian berjanji pada diri sendiri untuk tidak memperhitungkannya lagi karena jika kita memberi mereka kesempatan, kita pasti akan dikecewakan.

Jika kita menyimpulkan dari tiga alasan di atas, kita dapat mengatakan bahwa anak bawang adalah mereka yang bermasalah secara emosional, pengetahuan dan perilaku, tiga hal yang merupakan modal dasar bagi manusia dalam bersosialisasi atau bersikap profesional.

Namun ada juga orang-orang yang dianggap anak bawang karena mereka baru pertama kali masuk ke dalam suatu komunitas atau pekerjaan. Tidak dianggap merupakan suatu hal yang menyebalkan. Ketika kita pertama kali masuk ke dalam suatu komunitas atau pekerjaan seringkali kita tidak dianggap oleh rekan-rekan kerja kita.

Hal yang dapat kita lakukan agar predikat anak bawang itu hilang adalah berusaha untuk tidak memiliki masalah, baik secara emosional, wawasan maupun perilaku:

  1. Mengendalikan emosi, baik dalam bentuk mudah marah atau menangis
  2. Terbuka untuk wawasan, masukan dan teknologi baru
  3. Melakukan segala sesuatu dengan penuh tanggungjawab dan sebaik-baiknya

Semua orang ingin diperhitungkan, namun hanya beberapa yang sanggup membuat dirinya diperhitungkan. Akhir kata, saya mengutip apa yang dikatakan oleh Mantan Presiden Habibie “Setiap orang harus menapakkan jejak-jejaknya”. Walau singkat, kehidupan adalah sesuatu yang serius, buat diri kita diperhitungkan dan buat jejak-jejak selama kita hidup!