Anak Bawang


Anda pernah dengar istilah “anak bawang”? Anak bawang biasanya sering dipakai oleh anak-anak yang sedang bermain, untuk menunjuk kepada mereka yang masih terlalu kecil untuk diperhitungkan. Si Anak Bawang boleh ikut main, tapi ia boleh menolak untuk kalah.

Namun tidak hanya dalam permainan anak-anak, dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang dewasa pun kita kerap menjumpai anak bawang. Mungkin anak bawang bisa mengacu pada mereka yang usahanya tidak diperhitungkan.

Setelah saya pikir-pikir, ada banyak alasan mengapa seseorang tidak diperhitungkan, baik dalam pergaulan sosial maupun profesional.

Pertama adalah mereka yang rapuh, mudah marah dan tidak dapat menerima kritik. Kepada orang-orang seperti ini biasanya kita menganggap sebagai anak bawang. Ketika ia melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat diterima untuk ukuran orang ‘normal’, ia tidak akan dilawan atau dikiritik karena orang malas berurusan dengannya. “Sudahlah, dimengerti saja… dia sih orangnya memang begitu”

Kedua adalah mereka yang bodoh, berpikiran dan berwawasan sempit. Kepada mereka biasanya saya menjadi sangat sabar. Orang-orang seperti ini jarang kita perhitungkan pendapatnya karena biasanya tidak logis dan tidak applicable. ” Dia kok ditanya, jawabannya pasti aneh”

Ketiga adalah mereka yang malas. Kepada mereka yang malas biasanya kita menjadi kapok atau jengkel dan kemudian berjanji pada diri sendiri untuk tidak memperhitungkannya lagi karena jika kita memberi mereka kesempatan, kita pasti akan dikecewakan.

Jika kita menyimpulkan dari tiga alasan di atas, kita dapat mengatakan bahwa anak bawang adalah mereka yang bermasalah secara emosional, pengetahuan dan perilaku, tiga hal yang merupakan modal dasar bagi manusia dalam bersosialisasi atau bersikap profesional.

Namun ada juga orang-orang yang dianggap anak bawang karena mereka baru pertama kali masuk ke dalam suatu komunitas atau pekerjaan. Tidak dianggap merupakan suatu hal yang menyebalkan. Ketika kita pertama kali masuk ke dalam suatu komunitas atau pekerjaan seringkali kita tidak dianggap oleh rekan-rekan kerja kita.

Hal yang dapat kita lakukan agar predikat anak bawang itu hilang adalah berusaha untuk tidak memiliki masalah, baik secara emosional, wawasan maupun perilaku:

  1. Mengendalikan emosi, baik dalam bentuk mudah marah atau menangis
  2. Terbuka untuk wawasan, masukan dan teknologi baru
  3. Melakukan segala sesuatu dengan penuh tanggungjawab dan sebaik-baiknya

Semua orang ingin diperhitungkan, namun hanya beberapa yang sanggup membuat dirinya diperhitungkan. Akhir kata, saya mengutip apa yang dikatakan oleh Mantan Presiden Habibie “Setiap orang harus menapakkan jejak-jejaknya”. Walau singkat, kehidupan adalah sesuatu yang serius, buat diri kita diperhitungkan dan buat jejak-jejak selama kita hidup!

Advertisements