Terjebak di antara keduanya.


Ada tiga jenis manusia hidup di jaman sekarang. Pertama adalah mereka yang hidup tanpa teknologi, masih hidup dengan cara yang lama. Oh ya, mereka masih ada. Coba saja Anda lihat mereka yang hidup di pulau terpencil, tidak ada jaringan, tidak ada televisi, hanya ada mereka dan alam. Kedua, mereka yang hidup full teknologi. Tidak dapat hidup tanpa bantuan robot atau mesin, atau tidak dapat hidup tanpa gadget di tangan mereka. Ketiga adalah orang yang terjebak di antara keduanya.

Ya, ada orang-orang yang terjebak di antara primitif dan teknologi. Entah sebaiknya kita memanggil mereka apa. Mereka hidup dikelilingi teknologi tapi mereka tidak memahaminya. Mereka masih hidup dengan cara yang sama seperti saat tidak ada teknologi. Mereka masih membual seolah kata-kata mereka tidak dapat dicek kebenarannya. Mereka masih berbohong mencoba mengutil seolah tidak ada CCTV yang melihat mereka.

Mereka ini yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini…. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknologi.

Sebut saja drama politik negara ini setelah pilpres. Satu pihak menuding pihak lainnya berbuat curang tanpa sadar bahwa jaman sekarang yang seperti itu dengan mudah dibuktikan. Atau sebaliknya jika ada yang berbuat curang dalam input hasil perolehan pemilu tanpa sadar teknologi dapat memungkinkan setiap mata mengawasi mereka.

Kita hidup di mana guru-guru modern mengatakan pada anak SMAnya, “oke buka gadget kalian dan tolong searching mengenai anu. Saya akan kasih kalian waktu 10 menit untuk mencari tahu dan setelah itu kita diskusi.” Sementara ada juga sekolah (di kota besar) yang melarang siswa-siswinya membawa gadget ke sekolah.

Saat guru-guru modern meminta anak didiknya mengumpulkan tugas lewat google class, masih ada sekolah di kota yang masih menyuruh siswinya mengumpulkan tugas menyalin dari google. COME ONE!!

Setelah dipikir-pikir akar permasalahannya, ternyata mengenai “integritas”. Jika saya disuruh menjelaskan satu kata sulit ini “Integritas” pada anak-anak. Saya akan mengatakan bahwa Integritas adalah dapat dipercaya dan dapat diandalkan dari segi kejujuran!

Sekolah atau guru yang terjebak antara primitif dan teknologi tidak dapat mempercayai siswa-siswinya jika mereka diijinkan membawa gadget ke kelas. Jadi alih-alih memanfaatkan teknologi mereka memilih membatasinya. Alih-alih mengajarkan nilai integritas agar anak menunjukkan sikap dapat dipercaya, mereka memilih menutup kesempatan anak berbuat curang. Paham maksud saya?

Ya, masalahnya memang rumit. Di satu sisi ada teknologi, di sisi lain ada karakter, jika keduanya dapat sejalan, bayangkan dahsyatnya masyarakat di mana kita tinggal. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknolgi adalah mereka yang tidak dapat mengejar teknologi dengan karakter positif, mereka yang tidak dapat bertanggungjawab atas teknologi yang ada di depan mata mereka… dengan kata lain, orang-orang yang norak!

Apakah kata ‘norak’ terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang ‘piknik’ di stasiun MRT saat stasiun itu baru dibuka? atau mereka yang bergelantungan di MRT dan menginjak bangku MRT?

Apakah kata “norak” terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang mengklaim kemenangan padahal hasil teknologi mengatakan sebaliknya?

Jadi jika kita mau dikatakan bijak, alih-alih norak, manfaatkan teknologi dengan bertanggungjawab dan pupuk karakter positif, serta sadari ada “CCTV” di manapun Anda berada!

Advertisements

Tentang Menyombongkan Diri


Anakku,
Suatu saat kau pulang dengan sedih,
Katamu temanmu mengatakan wajahmu tak secantik mereka,
Dan kau tak sekaya mereka,
Dan kau tak sepintar mereka.

Anakku,
Ada banyak hal dalam dunia yang dapat disombongkan manusia,
Mereka bisa menyombongkan penampilannya,
Atau menyombongkan kepintarannya,
Atau menyombongkan kekayaannya,
Atau menyombongkan kedudukannya.

Kebanggaan manusia adalah apa yang ia miliki,
Kemudian mereka merasa lebih baik daripada yang lain,
Menyombongkannya dan menjadi lupa…
Bahwa sesungguhnya mereka tak memiliki apa-apa
Bahwa apa yang ada pada mereka adalah titipan Pencipta.

Keelokan wajah tak perlu disombongkan,
Tuhan berkata semuanya baik,
Semua manusia istimewa,
indah dalam pandangan Penciptanya

Namun… kau harus ingat
Bertanggungjawab artinya menjaga tubuhmu dengan baik
Berpenampilan pantas, membersihkan diri
Karena kepercayaan diri memancarkan kecantikan
Dan kebaikan hati mengeluarkan pesonamu.

Kepintaran bukan untuk disombongkan,
Namun diberikan Tuhan untuk membantu sesama
Gunakan akal budimu sebaik mungkin
Kendalikan diri dan gunakan kecerdasanmu dengan baik
Bertanggungjawab artinya mau belajar,
Berpikir kritis dan tidak malas.

Kekayaan bukan untuk disombongkan,
Namun seberapa banyak yang Tuhan percayakan padamu,
Pergunakan dan kelola itu dengan bijak.
Bertanggungjawab artinya menjadi berkat melalui apa yang kita miliki,
Berbagi dan menolong orang lain adalah apa yang Tuhan perintahkan

Kedudukan bukan untuk disombongkan,
Ada di posisi manapun kau saat ini,
Tugasmu adalah melakukan yang terbaik
Berusaha semampumu,
Tidak menjadi arogan ketika kau ada di atas,
Dan tidak iri ketika kau ada di bawah
Bertanggungjawab artinya bersikap bijak dengan kuasa yang kau miliki,

Tahukah kau apa yang dapat kau sombongkan dalam hidup?
Kau dapat menyombongkan Tuhanmu,
Kau dapat bermegah dalam Nama-Nya
Ketika orang memujimu,
Pujilah Tuhan, sombongkanlah Dia
Sebutlah Nama-Nya yang kudus, sombongkanlah Dia
Katakan bahwa semua dari diri-Nya, sombongkanlah Dia

Kau dapat menyombongkan Tuhanmu,
Kau dapat bermegah dalam Nama-Nya
Ketika kau mulai besar kepala, pujilah Tuhanmu!
Katakan semuanya dari Dia
Kecantikan, kepintaran, kekayaan, kedudukan
Semuanya sia-sia tanpa Dia

Sombongkanlah Dia,
Bermegahlah dalam Dia
Bermegahlah dalam Nama-Nya yang kudus,
Biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan

Insinyur Semesta


Kemarin, keran tempat cuci piring di tempat saya rusak (mungkin Anda sudah melihat video dua menit curhat saya). Sebenarnya sudah berhari-hari, dan saya menggunakan solusi cepat tapi tidak efektif, yaitu menggunakan karet gelang supaya bocornya bisa tertahan. Papa saya insinyur (selalu saya banggakan), dan bagi Papa hal-hal seperti ini sangat mudah. Tapi saya tidak langsung bilang sama Papa. Saya berusaha menyelesaikannya sendiri, sampai kemarin kerusakannya sudah tidak mungkin ditahan lagi. Air menetes terus dan keran tidak bisa digunakan lagi.

Saya telepon Papa saya (saat itu malam-malam sekitar jam 7 malam), berkata dalam kepanikan, “Pa, ini gimana, kerannya rusak”.

Papa saya menjawab (ngeselin sih jawaban pertama) “ya harus dibenerin dong kalau rusak”.

“Ya tapi gimana, apa harus panggil orang buat benerin keran rusak”

“Ga usah, benerin sendiri aja, gampang itu mah.”

“Tapi Greissia ga bisa benerinnya, ini ga bisa berenti airnya gimana.”  (ya baik, saya memang seperti anak kecil memanggil nama pada diri sendiri kalau ke Papa dan Mama saya)

“Gampang itu mah tinggal diganti aja. Nanti sebentar Papa mandi dulu terus langsung ke sana”

Tidak lama kemudian Papa saya datang untuk melihat duduk permasalahannya. Papa datang membawa kotak perkakas berat yang isinya kunci-kunci untuk keperluan memperbaiki keran. Saat itu saya sudah berhasil memutar keran pada posisi yang tepat, tapi kalau kena dikit saja pasti airnya keluar lagi.

“Oh, ini sih harus ganti keran. Ya sudah besok pagi-pagi Papa beli keran terus ke sini. Ini jangan diputar-putar dulu, sementara pakai keran kamar mandi saja”

Besok paginya, Papa saya datang, membawa keran baru dan memperbaiki keran dengan cepat.

Orang Kristen saat ini terbagi menjadi dua kutub, mereka yang ‘melupakan Tuhan’ ketika ada masalah dan berusaha menyelesaikan dengan caranya sendiri (seperti saya saat tahu keran rusak), dan mereka yang serakah dan suka “memotivasi Tuhan” untuk memberkati mereka.

Dapatkah Anda membayangkan kalau saya telepon Papa saya dan berkata seperti ini “Papa, Greissia percaya papa sanggup memperbaiki keran. Greissia sebagai anak mengklaim bahwa Papa akan membelikan keran baru dan memperbaiki keran yang rusak”.

Bagi saya itu tindakan kurang ajar! Sama sepert yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “ayo Nak, mama percaya kamu bisa membereskan mainan setelah selesai digunakan”, semacam tindakan memotivasi dan Tuhan tidak perlu dimotivasi. Memotivasi Tuhan sama seperti melecehkan-Nya.

Ada perbedaan yang jelas antara beriman dengan memotivasi Tuhan melakukan apa yang kita inginkan dengan “bahasa penuh iman”.

Kalimat yang diawali “aku percaya…” adalah kalimat untuk diri sendiri. Saya percaya Papa saya bisa memperbaiki keran, maka dengan penuh iman saya berkata “Papa, tolooong”. Kita beriman Tuhan sanggup menolong kita, maka ketika kita berada dalam masalah kita berkata “Tuhan, tolooong”.

Tapi permintaan tolong bukanlah tuntutan. Saya tidak menuntut Papa saya untuk menolong saya, saya tahu Papa saya menolong saya karena dia sanggup melakukannya. Ketika dia berkata “besok Papa ke sini” saya tidak boleh berkata “sekarang Papa!! Perbaiki sekarang!” Semoga Anda memahami maksud saya.

Memasuki tahun yang baru ada banyak pendeta (biasanya dari aliran karismatik) yang menghimbau jemaat untuk “mengklaim janji Tuhan”. Mengklaim artinya menuntut. Silahkan pikirkan sendiri pantaskah kita menuntut Tuhan?

Dalam video di bawah ini diperlihatkan pendeta memimpin jemaatnya meyakini bahwa Tuhan akan memberi rumah baru, mobil baru, hutang-hutang lunas, menjadikan pemimpin, menjadikan kaya. HEY!! Itu bukan doa! Itu kurang ajar!

Kalau Bapamu memberimu ‘berkat’, itu bukan karena kamu menuntut Dia, itu karena Dia berpikir kamu bisa mengelola berkat itu dengan baik. Kalau kamu datang pada Bapa untuk minta berkat, atau memberi sejumlah uang supaya diberkati, apa bedanya dengan pergi ke gunung Kawi untuk minta pesugihan??

Kalau Bapamu tidak memberimu apa yang kau inginkan, itu karena Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Jika Dia memang tidak akan memberikannya, mengklaim, memotivasi, atau apapun tidak akan membuat Dia tergerak untuk memberikannya.

Tuhan dekat dengan orang yang patah hatinya dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya (Mazmur 34:19), dan tidak ada tertulis Dia dekat dengan orang yang serakah, atau memberi kepada orang tamak.

Jadi lain kali ketika Anda mau mengklaim, atau menuntut, atau memotivasi Tuhan, ingat…Mungkin Anda harus patah hati dan remuk jiwa dulu baru Dia mendengarkan Anda. Itupun bukan melakukan apa yang Anda inginkan, tapi melakukan apa yang Dia inginkan!

Dia adalah insinyur semesta, Dia tahu apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan dan apa dampaknya ketika itu dilakukan (atau tidak dilakukan). Percaya saja, berserah pada-Nya ketika hati Anda patah atau jiwa Anda remuk, tapi jangan sok-sokan mengajari atau memotivasi Dia mengenai apa yang seharusnya atau tidak seharusnya Dia berikan dalam kehidupan Anda. Karena ada perbedaan antara beriman dan sok tahu!

Tentang Buah Sulung


Kalau mau bicara hal-hal yang berbau rohani, maka awal tahun seperti ini paling tepat membahas mengenai “buah sulung”. Beberapa gereja memiliki program buah sulung, yaitu meminta menghimbau jemaat untuk memberikan kepada Tuhan gereja penghasilan pertama mereka di bulan Januari. Artinya, jika kamu kerja, kamu harus memberikan seluruh gaji bulan Januari kepada gereja. Saya belum tahu bagaimana hukumnya untuk wiraswasta atau pedagang. (Saya juga tidak tahu apakah artinya seluruh fulltime gereja tersebut tidak akan menerima gaji di bulan Januari karena auto debit untuk persembahan buah sulung).

Dalam tulisan kali ini (walaupun sedikit nyinyir – karena sifat tersebut sulit dihilangkan), saya tidak akan mengatakan apakah persembahan sulung yang dicanangkan beberapa gereja itu baik atau tidak, benar atau salah. Saya juga tidak akan mengatakan apakah sebaiknya kita memberi buah sulung atau tidak. Dalam tulisan kali ini saya hanya akan mengajak kita sama-sama belajar mengenai ‘Sebenarnya buah sulung itu apa sih’. Setelah itu, jika Anda jemaat yang cerdas, silahkan putuskan sendiri apakah sebaiknya (atau seharusnya) memberikan buah sulung atau tidak.

Buah Sulung dalam Perjanjian Lama

Istilah Buah Sulung (dalam bahasa Inggris ‘first fruit’) pertama dikenal oleh Bangsa Israel yang hidup dari bercocok tanam. Musim menuai adalah musim yang sangat dinanti oleh Petani yang selama masa menanam sudah bersusah payah. Jerih lelah mereka terbayar dengan menuai apa yang mereka tanam.

Saat itu Tuhan meminta umat-Nya untuk membawa seberkas hasil pertama panen (first fruit) kepada Tuhan sebagai persembahan, untuk menguji ketaatan dan sikap hormat umat-Nya kepada Tuhan. Juga menguji seberapa besar iman umat-Nya bahwa Tuhan sanggup menyediakan.

Saat itu, ada banyak aturan yang terkait dengan Persembahan Buah Sulung. Buah Sulung tersebut harus dibawa ke para imam dan tidak ada tanaman lain yang bisa dipanen sampai buah pertama telah disajikan. Oh ya, rumit sekali aturan yang ditetapkan saat itu.

Persembahan Sulung dibawa ke Bait Suci pada Hari Raya Buah Sulung (SFIRAT HA’OMER <- silahkan Klik link ini untuk penjelasan lebih lanjut)

Buah Sulung diserahkan kepada Imam untuk kemudian dibagi. Berapa banyak yang diserahkan dalam Buah Sulung?? Imamat 23:10-17 mencatat Tuhan berfirman pada Musa agar orang Israel membawa “seberkas hasil pertama dari penuaianmu” (bukan seluruh hasil pertama). Kemudian imam akan membawa persembahan itu kepada Tuhan (CATAT: Jaman itu hanya Imam yang boleh menghadap kepada Tuhan). Bersama dengan seberkas hasil pertama itu, umat Tuhan harus membawa seekor domba berumur setahun yang tidak bercela sebagai korban bakaran untuk Tuhan. (silahkan baca sendiri lanjutannya)

Ini adalah aturan yang ditetapkan Tuhan untuk Umat Israel sebagai bagian dari ‘ritual’ ibadah Yahudi yang mungkin masih mereka lakukan sampai saat ini.

Buah Sulung dalam Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, kita tidak pernah menemukan Yesus berbicara mengenai Buah Sulung. Buah Sulung di perjanjian baru mengacu pada Kristus (I Korintus 15:20, 23), yang telah mengorbankan diri-Nya sebagai ganti kita supaya kita yang seharusnya binasa diselamatkan.

Dalam Roma 11:16 Paulus berkata:

    Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.

Jaman Perjanjian Lama, seberkas buah sulung diberikan kepada Tuhan dengan dasar pemikiran bahwa jika yang sulung kudus, maka sisanya kudus. Jika yang sulung dipersembahkan kepada Tuhan, maka sisanya akan dikuduskan Tuhan

Dalam Perjanjian Baru, Yesus datang agar Diri-Nya dipersembahkan sebagai yang sulung agar dengan pengorbanannya kita menjadi kudus… Ini sudah digenapi!

Persembahan yang saya temukan di Perjanjian Baru dicatat dalam kebiasaan Jemaat Mula-mula, yaitu mereka yang berkelebihan memberi pada mereka yang kekurangan. Pemberian yang dibahas Yesus pun adalah memberi pada mereka yang kekurangan (Matius 25:31-46). Dibahas lagi oleh Paulus dalam 2 Korintus 8:14 (Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.)

Kesimpulan (saya yang menarik, silahkan Anda menarik kesimpulan Anda sendiri)

Persembahan Buah Sulung adalah salah satu aturan dari Hukum Taurat yang mengikat Umat Israel saat itu.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, dari banyak Hukum Taurat selain Buah Sulung yang mengikat Umat Israel, mengapa Buah Sulung ini diambil orang sebagian gereja dan diterapkan saat ini? Seolah-olah hal ini juga mengikat Umat Kristen. Seolah-olah Tuhan mensyaratkan ini untuk umat-Nya saat ini? Mengapa aturan-aturan lainnya (katakanlah aturan tidak boleh makan babi) tidak diterapkan juga? Mengapa pendeta seolah-olah punya hak memilih-milih aturan yang mana yang dapat diterapkan saat ini dan mana yang tidak perlu?

Jawabannya mudah! Pertama, Karena jaman sekarang semua orang perlu uang. Bahkan operasional gereja pun memerlukan uang,dan Buah Sulung merupakan sumber pemasukan yang cukup besar untuk operasional gereja di awal tahun (terutama setelah besar-besaran mengadakan perayaan Natal).

Kedua, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk serakah dan jemaat adalah domba bodoh (yang serakah). Mudah sekali mengiming-imingi berkat dengan investasi Persembahan Buah Sulung kepada mereka jemaat.

Sekali lagi, ini adalah kesimpulan yang saya tarik sendiri. Jika Anda tidak setuju dengan kesimpulan yang saya tarik, silahkan Anda menarik kesimpulan Anda sendiri, dan silahkan Anda memutuskan,…

Apakah Anda ingin hidup di bawah Hukum Taurat atau Kasih Karunia. Jika Anda hidup di bawah hukum Taurat, Anda memberi supaya Anda diberikati. Jika Anda hidup di bawah Kasih Karunia, Anda memberi pada mereka yang membutuhkan karena Anda sudah menerima berkat.

 

 

 

Antara Benci dan Cinta


Anakku,
Ku bertanya “bolehkah kita membenci orang?”
Aku jawab “tidak,”

Tapi… kau harus bisa membedakan
Antara membenci dan tidak sejalan
Antara membenci dan tidak sepakat
Antara membenci dan tidak bersahabat

Kita tidak boleh membenci
Tapi juga tidak harus sejalan dengan orang lain,
Terutama jika mereka melakukan apa yang tak baik
Karena Firman Tuhan berkata
“Berbahagialah orang yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh”

Kau harus memilih dengan siapa kau bergaul
Tapi kau harus bisa menjadi berkat bagi semua orang
Itu adalah dua hal yang berbeda

Jangan berjalan menuruti nasihat yang tidak baik dari teman-teman yang tak baik
Tapi jadilah teladan,
Berbuat baik kepada mereka yang tak baik

Jangan berdiri di jalan orang berdosa
Melakukan apa yang dilarang Firman Tuhan
Atau yang sering ku katakan ”jangan..”
Tapi jadilah teladan
Lakukan apa yang benar sekalipun tak ada yang melakukannya

Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti sama dengan orang lain

Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti ikut-ikutan melakukan ini itu

Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti melakukan semua yang orang lain ingin kau lakukan

Anakku,
Ketika kau memahami hal ini
Kau akan memahami maknanya menjadi terang yang mempengaruhi kegelapan
Bukan terang yang pudar
Atau terang yang suram

Ketika kau memahami hal ini
Kau akan memahami maknanya menjadi garam yang mengasinkan
Bukan yang tawar dan tak berguna

Kasihilah sesamamu manusia
Tapi tetaplah menjadi jati dirimu
Terang dunia…

Kita Ketemu di Rumah Saja


Sebuah Cerpen, Seri Gereja Bintang Lima (feel free not to read it)

Aku masuk gedung megah itu, suasananya dingin, penerangan minim, hanya sedikit cahaya remang-remang di panggung, rupanya acara belum dimulai. Kulihat kanan dan kiriku, tampak beberapa orang muda sedang duduk menekuni smartphone mereka, beberapa yang sudah tua tampak khusuk berdoa.
 
Aku duduk dengan perasaan tak menentu, sudah lama sejak terakhir kali aku masuk ke gedung yang katanya tempat orang Kristen bersekutu. Terakhir kali aku masuk gereja adalah ketika usiaku masih sangat muda, bersama orang tuaku. Aku ingat orang tuaku menyuruhku duduk diam sebelum ibadah mulai, dan mereka berlutut untuk berdoa mempersiapkan hati sebelum ibadah.
 
Kenangan terakhirku di gereja adalah ketika aku kecewa dengan para pemimpin gereja kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari gereja. Aku terhilang.
 
Hari ini aku memutuskan untuk kembali. Gedung yang dulu biasa-biasa saja sekarang sudah tampak megah dan modern. Ruangan yang dahulu terang, kini remang-remang. LCD Proyektor yang dahulu tergantung di langit-langit berubah menjadi layar LED raksasa. Lampu neon berubah menjadi sistem penerangan canggih yang dapat diatur tingkat keredupannya (aku mengatakan tingkat keredupan karena tampaknya jarang sekali lampu itu disetel terang)
 
Tiba-tiba layar besar itu menampakkan hitungan mundur dan ketika hitungan itu tiba di angka 0, pemain drum menggebuk kencang drumnya, suara gitar melengking tinggi dan seorang pemandu acara (entah apakah aku sanggup menyebutnya worship leader) muncul entah dari mana sambil berteriak “Siap memuji Tuhan”.
 
Suara ini begitu bising, otakku seperti membeku mendengar bisingnya suara di sekelilingku. Aku pernah membaca:
“Beberapa studi telah menunjukkan bahwa stres akibat suara yang bising bisa memicu pelepasan kortisol (hormon stres). Kelebihan hormon ini bisa merusak fungsi di bagian prefrontal korteks yaitu pusat pembelanjaran emosional.”
 
Musik dihentak dalam frekuensi yang membuat denyut jantung berpacu semakin cepat dan otak tak dapat berpikir hal lain kecuali menggerakkan seluruh anggota badan. Seperti di tempat dugem, kenapa Anda pikir mereka menari menghentak-hentak? Karena musik dimainkan dalam frekuensi di mana otak tak dapat bereaksi lain selain menggerakkan tubuh.
 
Belum lagi kilatan lampu yang dimainkan begitu liar. Beberapa wanita tua menutupi matanya dengan tangan ketika lampu itu mengenai wajahnya, beberapa kagum melihat lampu. Aku? Aku menghitung jumlah alat penghasil lampu-lampu itu, terkagum…!
 
Aku tercenung sesaat, momen yang begitu canggung, dan aku menepukkan tanganku sekali dua kali, bingung bercampur terkejut. Ternyata cukup lama aku meninggalkan tempat ini.
 
Saat sekolah minggu aku pernah diajarkan, Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Aku hanya berpikir, dengan latar belakang musik yang begitu keras dan lampu yang bergerak liar, mungkinkah seseorang menggunakan hatinya, jiwanya dan akal budinya untuk menyembah Tuhan? Ataukah menyembah Tuhan bukan bagian dari mengasihi Tuhan?
 
Ataukah kita datang ke tempat ini hanya untuk rutinitas mingguan, tidak diharapkan menyembah dan memuji dengan sungguh-sungguh? (Karena toh menyembah dan memuji dapat dilakukan dengan lebih khusuk di dalam kamar).
 
Kemudian tiba waktunya, seorang berpakaian keren maju ke depan, dialah “Pastor” (Oya, aku tidak tahu kenapa tapi belakangan pemimpin gereja lebih suka disebut Pastor atau Senior Pastor daripada gembala). Dia membaca sebuah ayat dari LCD yang besar itu, kemudian bicara mengenai beberapa hal yang memotivasi dan menginspirasi jemaat untuk “diberkati lebih lagi”, dan ibadah ditutup dengan nyanyian merdu dari pemandu acara “Kiranya….Engkau memberkati aku melimpah-limpah….”
 
Setelah satu setengah jam yang melelahkan, aku kemudian masuk ke mobilku, menarik nafas panjang dan berkata dalam hatiku, “Tuhan, keberatankah Kau kalau kita bertemu di rumah saja?

Batal jadi Pendeta


BATAL JADI PENDETA

Dua hari ini kita dihebohkan dengan berita seorang Pendeta Pengusaha (atau Pengusaha Pendeta, intinya Pendeta yang juga Pengusaha) yang diminta KPK segera menyerahkan diri karena terlibat dengan kasus suap Meikarta. Saya tidak perlu menyebutkan nama gerejanya, yang jelas yang bersangkutan memiliki gereja mewah nan megah yang merupakan impian tiap pendeta (saya tidak tahu juga apakah tiap pendeta bermimpi memiliki Gereja Bintang Lima seperti mall).

Jujur saja, tidak semua dari kita (bahkan jika itu Hamba Tuhan) merasa menyesal mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Sebagian pasti ada yang merasa “sukurin”, ada juga yang merasa “sudah kuduga” atau merasa “ga ngaruh juga buat hidup gue”. Apapun perasaan Anda, saya ingin membahasnya dengan mempertimbangkan sebuah kisah dalam Alkitab

Anda dan saya pasti pernah mendengar kisah ini, tentang seorang kaya yang datang pada Yesus. Membaca dari ciri-cirinya, saya rasa dia ini pengusaha, punya banyak uang, suka menyumbang. Ya, dia pasti pengusaha!

Pengusaha ini ingin memperoleh hidup yang kekal. Jadi dia bertanya “perbuatan baik apa yang harus kuperbuat?” Entah Anda bagaimana, saya melihat orang kaya ini sebagai pribadi angkuh yang merasa dirinya sudah melakukan segala hal. Dia baik dalam hal ini, baik dalam hal itu. Ketika Yesus menjawab agar dia mengikuti seluruh Perintah Tuhan, dia jawab, “aku sudah melakukannya”.

Sama seperti anak SD yang sudah mengerjakan semua PR, semua nilai ujiannya 100 dan datang kepada guru di hadapan teman-temannya yang lain dan berkata, “apakah aku murid yang baik menurutmu, Bu Guru?”

Yesus berkata padanya”jika kamu mau sempurna, jual seluruh milikmu, bagikan itu pada orang miskin, kemudian datanglah pada-Ku, ikutlah Aku”. Orang kaya ini pulang dengan wajah tertunduk lesu.

Saya berpikir, seandainya dia melakukan apan yang Yesus katakan, tentulah namanya akan tercatat dalam Alkitab, bukan sekedar menjadi contoh orang kaya yang sukar masuk Kerajaan Surga.

Apa hubungannya dengan kisah Pendeta Pengusaha yang kita bicarakan di awal tulisan saya?

Bagaimana jika, kisah orang kaya itu ditujukan Yesus untuk Pengusaha yang mau melayani Yesus sepenuh waktu? “Jika kamu mau sempurna, layani Aku sepenuh waktu. Jika kamu mau melayani Aku sepenuh waktu, tinggalkan hartamu, juallah, bagikan pada orang miskin, dan jadilah pendeta”

Anda menangkap maksud saya?

Jika (saya katakan JIKA) saat ini Yesus mengatakan hal tersebut pada para pengusaha kaya yang ‘merasa terpanggil’ menjadi pendeta, yang datang pada Yesus dan berkata “apa yang harus kulakukan?”. Kemudian Yesus berkata “juallah hartamu, bagikan pada orang miskin, dan ikutlah aku”, ada berapa banyak pengusaha (yang merasa terpanggil jadi pendeta) akan batal jadi pendeta? pulang dengan wajah tertunduk lesu seperti orang kaya dalam kisah Yesus…

Update: Yang bersangkutan bos Lippo sudah ditangkap kemarin malam di rumahnya (sangat disesalkan, sebagai Pendeta seharusnya menyerahkan diri saat diminta). Semoga Tuhan memberinya hikmat agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya.