Mengajar Generasi Z


Saya mendapat kesempatan mengajar generasi Z selama satu semester mengenai Marketing Farmasi dan Kewirausahaan (dijadikan satu mata kuliah). Beberapa minggu sebelumnya saya mengobrol dengan seorang pengusaha yang berkata bahwa generasi Z ini memang harus diperlengkapi dengan kemampuan Wirausaha sehingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, menciptakan lapangan kerja mereka sendiri.

Saya sungguh bersyukur mendapat kesempatan mengajar mahasiswa yang menyerap seperti spons ini. Menerima setiap pelajaran yang diberikan dan menghasilkan produk-produk buatan mereka yang luar biasa.

Mereka bukanlah mahasiswa program Sarjana, tapi kegigihan, usaha dan kecerdasan mereka luar biasa. Produk mereka sangat menjanjikan, berkualitas dan saya rasa siapa pun akan sepakat dengan saya bahwa anak-anak generasi Z jika diarahkan dengan tepat akan menjadikan bangsa ini unggul di bidang apapun. Namun jika tidak diarahkan, dapat membuat bangsa ini mundur dan hancur dengan segera.

Kekuatan yang besar memang begitu, bukan? Saat digunakan untuk apa yang baik maka akan ada daya bangun yang luar biasa, sebaliknya jika digunakan untuk sesuatu yang buruk, daya hancurnya pun luar biasa.

Produk yang mereka hasilkan, seperti parfum, coklat, handbody lotion, face mist, masker dan lipbalm dikerjakan dengan sepenuh hati dan memiliki nilai jual yang sangat baik. Saya sendiri menyukai parfum dan coklat rasa cabe yang unik.

Terkadang anak-anak mengejutkan kita dengan apa yang mereka sampaikan, bukan begitu?? Jika Anda memiliki anak generasi Z, Anda akan sangat rugi jika tidak menghabiskan waktu bicara dengan mereka. Mengabaikan kesempatan untuk bicara dan mengajar mereka sama saja menyia-nyiakan waktu yang sungguh berharga sekaligus melepaskan kesempatan menjadi pahlawan yang membentuk hidup mereka, dan masa depan negara ini.

 

Setelah Facebook


Sudah lama tidak menulis dan tidak bermedia sosial. Sejak facebook kurang diminati dan isinya hanya orang yang berjualan online, rasanya malas sekali menulis. Karena selama ini hanya “mempromosikan” tulisan dari facebook. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya lebih sering menulis untuk diri sendiri, syukur-syukur jika memang itu bisa berguna buat orang lain.

Facebook sekarang berisi berita, curhat, foto-foto yang merupakan sinkronisasi dari instagram, sehingga jika ada tulisan kurang bermutu seperti blog saya ini (yang kebanyakan ditulis untuk kepuasan diri sendiri), akhirnya akan dilewatkan begitu saja. Yaah, begitulah kehidupan, hal-hal tidak penting akan dilewatkan begitu saja.

Ngomong-ngomong soal hal-hal tidak penting. Saya sedang berpikir bahwa ada terlalu banyak hal dalam kehidupan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, hal-hal yang tadinya kita anggap penting tidak lagi akan kita anggap penting.

Sebelumnya membuka facebook, posting status atau upload gambar adalah hal yang penting. Kemudian komentar orang-orang terhadap foto kita, adalah hal yang penting juga. Kita menjadi kesal ketika ada komentar yang tak sepaham dan senang bukan kepalang jika ada yang mendukung kita. Kita menjadi senang hanya karena hal tidak penting seperti jumlah like di foto kita atau komentar “cantik”.

Namun seiring berjalannya waktu, kita menjadi bosan dan hal-hal seperti itu tidak penting lagi, bukan?

Dulu saya banyak menulis karena melihat ada begitu banyak hal ironis dalam kehidupan. Sekarang saya melihat bahwa hal-hal ironis adalah normal dalam hidup. Apa yang bisa kita harapkan dari hidup di dunia? Surga di dunia hanya bisa kita rasakan jika kehendak Bapa jadi sepenuhnya dalam dunia ini, persis seperti doa Yesus.

Dulu saya akan melihat ditabrak motor kemudian ‘dipalakin’ pengendara motor yang bersalah itu adalah sebuah ironi, konyol, tidak masuk akal. Sekarang saya sudah bisa menerima bahwa di negeri ini, memang itu normal terjadi, tak perlu dituliskan, tak perlu dibahas, toh tak akan berubah juga.

Lalu saya berpikir, bukankah akhirnya sebuah kerusakan sistem dimulai dari toleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil? Ah, tapi masa bodoh dengan semuanya. Apa gunanya jika suara kita toh tidak akan membawa perubahan.

Akhirnya bukankah setiap orang akan hidup untuk dirinya sendiri?

26 Oktober 2019, dari otak yang sedang kusut.

 

Terjebak di antara keduanya.


Ada tiga jenis manusia hidup di jaman sekarang. Pertama adalah mereka yang hidup tanpa teknologi, masih hidup dengan cara yang lama. Oh ya, mereka masih ada. Coba saja Anda lihat mereka yang hidup di pulau terpencil, tidak ada jaringan, tidak ada televisi, hanya ada mereka dan alam. Kedua, mereka yang hidup full teknologi. Tidak dapat hidup tanpa bantuan robot atau mesin, atau tidak dapat hidup tanpa gadget di tangan mereka. Ketiga adalah orang yang terjebak di antara keduanya.

Ya, ada orang-orang yang terjebak di antara primitif dan teknologi. Entah sebaiknya kita memanggil mereka apa. Mereka hidup dikelilingi teknologi tapi mereka tidak memahaminya. Mereka masih hidup dengan cara yang sama seperti saat tidak ada teknologi. Mereka masih membual seolah kata-kata mereka tidak dapat dicek kebenarannya. Mereka masih berbohong mencoba mengutil seolah tidak ada CCTV yang melihat mereka.

Mereka ini yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini…. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknologi.

Sebut saja drama politik negara ini setelah pilpres. Satu pihak menuding pihak lainnya berbuat curang tanpa sadar bahwa jaman sekarang yang seperti itu dengan mudah dibuktikan. Atau sebaliknya jika ada yang berbuat curang dalam input hasil perolehan pemilu tanpa sadar teknologi dapat memungkinkan setiap mata mengawasi mereka.

Kita hidup di mana guru-guru modern mengatakan pada anak SMAnya, “oke buka gadget kalian dan tolong searching mengenai anu. Saya akan kasih kalian waktu 10 menit untuk mencari tahu dan setelah itu kita diskusi.” Sementara ada juga sekolah (di kota besar) yang melarang siswa-siswinya membawa gadget ke sekolah.

Saat guru-guru modern meminta anak didiknya mengumpulkan tugas lewat google class, masih ada sekolah di kota yang masih menyuruh siswinya mengumpulkan tugas menyalin dari google. COME ONE!!

Setelah dipikir-pikir akar permasalahannya, ternyata mengenai “integritas”. Jika saya disuruh menjelaskan satu kata sulit ini “Integritas” pada anak-anak. Saya akan mengatakan bahwa Integritas adalah dapat dipercaya dan dapat diandalkan dari segi kejujuran!

Sekolah atau guru yang terjebak antara primitif dan teknologi tidak dapat mempercayai siswa-siswinya jika mereka diijinkan membawa gadget ke kelas. Jadi alih-alih memanfaatkan teknologi mereka memilih membatasinya. Alih-alih mengajarkan nilai integritas agar anak menunjukkan sikap dapat dipercaya, mereka memilih menutup kesempatan anak berbuat curang. Paham maksud saya?

Ya, masalahnya memang rumit. Di satu sisi ada teknologi, di sisi lain ada karakter, jika keduanya dapat sejalan, bayangkan dahsyatnya masyarakat di mana kita tinggal. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknolgi adalah mereka yang tidak dapat mengejar teknologi dengan karakter positif, mereka yang tidak dapat bertanggungjawab atas teknologi yang ada di depan mata mereka… dengan kata lain, orang-orang yang norak!

Apakah kata ‘norak’ terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang ‘piknik’ di stasiun MRT saat stasiun itu baru dibuka? atau mereka yang bergelantungan di MRT dan menginjak bangku MRT?

Apakah kata “norak” terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang mengklaim kemenangan padahal hasil teknologi mengatakan sebaliknya?

Jadi jika kita mau dikatakan bijak, alih-alih norak, manfaatkan teknologi dengan bertanggungjawab dan pupuk karakter positif, serta sadari ada “CCTV” di manapun Anda berada!

Tentang Menyombongkan Diri


Anakku,
Suatu saat kau pulang dengan sedih,
Katamu temanmu mengatakan wajahmu tak secantik mereka,
Dan kau tak sekaya mereka,
Dan kau tak sepintar mereka.

Anakku,
Ada banyak hal dalam dunia yang dapat disombongkan manusia,
Mereka bisa menyombongkan penampilannya,
Atau menyombongkan kepintarannya,
Atau menyombongkan kekayaannya,
Atau menyombongkan kedudukannya.

Kebanggaan manusia adalah apa yang ia miliki,
Kemudian mereka merasa lebih baik daripada yang lain,
Menyombongkannya dan menjadi lupa…
Bahwa sesungguhnya mereka tak memiliki apa-apa
Bahwa apa yang ada pada mereka adalah titipan Pencipta.

Keelokan wajah tak perlu disombongkan,
Tuhan berkata semuanya baik,
Semua manusia istimewa,
indah dalam pandangan Penciptanya

Namun… kau harus ingat
Bertanggungjawab artinya menjaga tubuhmu dengan baik
Berpenampilan pantas, membersihkan diri
Karena kepercayaan diri memancarkan kecantikan
Dan kebaikan hati mengeluarkan pesonamu.

Kepintaran bukan untuk disombongkan,
Namun diberikan Tuhan untuk membantu sesama
Gunakan akal budimu sebaik mungkin
Kendalikan diri dan gunakan kecerdasanmu dengan baik
Bertanggungjawab artinya mau belajar,
Berpikir kritis dan tidak malas.

Kekayaan bukan untuk disombongkan,
Namun seberapa banyak yang Tuhan percayakan padamu,
Pergunakan dan kelola itu dengan bijak.
Bertanggungjawab artinya menjadi berkat melalui apa yang kita miliki,
Berbagi dan menolong orang lain adalah apa yang Tuhan perintahkan

Kedudukan bukan untuk disombongkan,
Ada di posisi manapun kau saat ini,
Tugasmu adalah melakukan yang terbaik
Berusaha semampumu,
Tidak menjadi arogan ketika kau ada di atas,
Dan tidak iri ketika kau ada di bawah
Bertanggungjawab artinya bersikap bijak dengan kuasa yang kau miliki,

Tahukah kau apa yang dapat kau sombongkan dalam hidup?
Kau dapat menyombongkan Tuhanmu,
Kau dapat bermegah dalam Nama-Nya
Ketika orang memujimu,
Pujilah Tuhan, sombongkanlah Dia
Sebutlah Nama-Nya yang kudus, sombongkanlah Dia
Katakan bahwa semua dari diri-Nya, sombongkanlah Dia

Kau dapat menyombongkan Tuhanmu,
Kau dapat bermegah dalam Nama-Nya
Ketika kau mulai besar kepala, pujilah Tuhanmu!
Katakan semuanya dari Dia
Kecantikan, kepintaran, kekayaan, kedudukan
Semuanya sia-sia tanpa Dia

Sombongkanlah Dia,
Bermegahlah dalam Dia
Bermegahlah dalam Nama-Nya yang kudus,
Biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan

Insinyur Semesta


Kemarin, keran tempat cuci piring di tempat saya rusak (mungkin Anda sudah melihat video dua menit curhat saya). Sebenarnya sudah berhari-hari, dan saya menggunakan solusi cepat tapi tidak efektif, yaitu menggunakan karet gelang supaya bocornya bisa tertahan. Papa saya insinyur (selalu saya banggakan), dan bagi Papa hal-hal seperti ini sangat mudah. Tapi saya tidak langsung bilang sama Papa. Saya berusaha menyelesaikannya sendiri, sampai kemarin kerusakannya sudah tidak mungkin ditahan lagi. Air menetes terus dan keran tidak bisa digunakan lagi.

Saya telepon Papa saya (saat itu malam-malam sekitar jam 7 malam), berkata dalam kepanikan, “Pa, ini gimana, kerannya rusak”.

Papa saya menjawab (ngeselin sih jawaban pertama) “ya harus dibenerin dong kalau rusak”.

“Ya tapi gimana, apa harus panggil orang buat benerin keran rusak”

“Ga usah, benerin sendiri aja, gampang itu mah.”

“Tapi Greissia ga bisa benerinnya, ini ga bisa berenti airnya gimana.”  (ya baik, saya memang seperti anak kecil memanggil nama pada diri sendiri kalau ke Papa dan Mama saya)

“Gampang itu mah tinggal diganti aja. Nanti sebentar Papa mandi dulu terus langsung ke sana”

Tidak lama kemudian Papa saya datang untuk melihat duduk permasalahannya. Papa datang membawa kotak perkakas berat yang isinya kunci-kunci untuk keperluan memperbaiki keran. Saat itu saya sudah berhasil memutar keran pada posisi yang tepat, tapi kalau kena dikit saja pasti airnya keluar lagi.

“Oh, ini sih harus ganti keran. Ya sudah besok pagi-pagi Papa beli keran terus ke sini. Ini jangan diputar-putar dulu, sementara pakai keran kamar mandi saja”

Besok paginya, Papa saya datang, membawa keran baru dan memperbaiki keran dengan cepat.

Orang Kristen saat ini terbagi menjadi dua kutub, mereka yang ‘melupakan Tuhan’ ketika ada masalah dan berusaha menyelesaikan dengan caranya sendiri (seperti saya saat tahu keran rusak), dan mereka yang serakah dan suka “memotivasi Tuhan” untuk memberkati mereka.

Dapatkah Anda membayangkan kalau saya telepon Papa saya dan berkata seperti ini “Papa, Greissia percaya papa sanggup memperbaiki keran. Greissia sebagai anak mengklaim bahwa Papa akan membelikan keran baru dan memperbaiki keran yang rusak”.

Bagi saya itu tindakan kurang ajar! Sama sepert yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “ayo Nak, mama percaya kamu bisa membereskan mainan setelah selesai digunakan”, semacam tindakan memotivasi dan Tuhan tidak perlu dimotivasi. Memotivasi Tuhan sama seperti melecehkan-Nya.

Ada perbedaan yang jelas antara beriman dengan memotivasi Tuhan melakukan apa yang kita inginkan dengan “bahasa penuh iman”.

Kalimat yang diawali “aku percaya…” adalah kalimat untuk diri sendiri. Saya percaya Papa saya bisa memperbaiki keran, maka dengan penuh iman saya berkata “Papa, tolooong”. Kita beriman Tuhan sanggup menolong kita, maka ketika kita berada dalam masalah kita berkata “Tuhan, tolooong”.

Tapi permintaan tolong bukanlah tuntutan. Saya tidak menuntut Papa saya untuk menolong saya, saya tahu Papa saya menolong saya karena dia sanggup melakukannya. Ketika dia berkata “besok Papa ke sini” saya tidak boleh berkata “sekarang Papa!! Perbaiki sekarang!” Semoga Anda memahami maksud saya.

Memasuki tahun yang baru ada banyak pendeta (biasanya dari aliran karismatik) yang menghimbau jemaat untuk “mengklaim janji Tuhan”. Mengklaim artinya menuntut. Silahkan pikirkan sendiri pantaskah kita menuntut Tuhan?

Dalam video di bawah ini diperlihatkan pendeta memimpin jemaatnya meyakini bahwa Tuhan akan memberi rumah baru, mobil baru, hutang-hutang lunas, menjadikan pemimpin, menjadikan kaya. HEY!! Itu bukan doa! Itu kurang ajar!

Kalau Bapamu memberimu ‘berkat’, itu bukan karena kamu menuntut Dia, itu karena Dia berpikir kamu bisa mengelola berkat itu dengan baik. Kalau kamu datang pada Bapa untuk minta berkat, atau memberi sejumlah uang supaya diberkati, apa bedanya dengan pergi ke gunung Kawi untuk minta pesugihan??

Kalau Bapamu tidak memberimu apa yang kau inginkan, itu karena Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Jika Dia memang tidak akan memberikannya, mengklaim, memotivasi, atau apapun tidak akan membuat Dia tergerak untuk memberikannya.

Tuhan dekat dengan orang yang patah hatinya dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya (Mazmur 34:19), dan tidak ada tertulis Dia dekat dengan orang yang serakah, atau memberi kepada orang tamak.

Jadi lain kali ketika Anda mau mengklaim, atau menuntut, atau memotivasi Tuhan, ingat…Mungkin Anda harus patah hati dan remuk jiwa dulu baru Dia mendengarkan Anda. Itupun bukan melakukan apa yang Anda inginkan, tapi melakukan apa yang Dia inginkan!

Dia adalah insinyur semesta, Dia tahu apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan dan apa dampaknya ketika itu dilakukan (atau tidak dilakukan). Percaya saja, berserah pada-Nya ketika hati Anda patah atau jiwa Anda remuk, tapi jangan sok-sokan mengajari atau memotivasi Dia mengenai apa yang seharusnya atau tidak seharusnya Dia berikan dalam kehidupan Anda. Karena ada perbedaan antara beriman dan sok tahu!

Antara Benci dan Cinta


Anakku,
Ku bertanya “bolehkah kita membenci orang?”
Aku jawab “tidak,”

Tapi… kau harus bisa membedakan
Antara membenci dan tidak sejalan
Antara membenci dan tidak sepakat
Antara membenci dan tidak bersahabat

Kita tidak boleh membenci
Tapi juga tidak harus sejalan dengan orang lain,
Terutama jika mereka melakukan apa yang tak baik
Karena Firman Tuhan berkata
“Berbahagialah orang yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh”

Kau harus memilih dengan siapa kau bergaul
Tapi kau harus bisa menjadi berkat bagi semua orang
Itu adalah dua hal yang berbeda

Jangan berjalan menuruti nasihat yang tidak baik dari teman-teman yang tak baik
Tapi jadilah teladan,
Berbuat baik kepada mereka yang tak baik

Jangan berdiri di jalan orang berdosa
Melakukan apa yang dilarang Firman Tuhan
Atau yang sering ku katakan ”jangan..”
Tapi jadilah teladan
Lakukan apa yang benar sekalipun tak ada yang melakukannya

Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti sama dengan orang lain

Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti ikut-ikutan melakukan ini itu

Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti melakukan semua yang orang lain ingin kau lakukan

Anakku,
Ketika kau memahami hal ini
Kau akan memahami maknanya menjadi terang yang mempengaruhi kegelapan
Bukan terang yang pudar
Atau terang yang suram

Ketika kau memahami hal ini
Kau akan memahami maknanya menjadi garam yang mengasinkan
Bukan yang tawar dan tak berguna

Kasihilah sesamamu manusia
Tapi tetaplah menjadi jati dirimu
Terang dunia…

Walkout, Rumah Tuhan dan Racun


Sudah lama saya berhenti berpikir bahwa gedung gereja adalah “Rumah Tuhan”. Itu adalah tempat nama Tuhan dimuliakan, benar… tapi itu bukan Rumah Tuhan. Kalau itu Rumah Tuhan, tentulah tidak akan terjadi hal-hal melenceng di dalamnya, Tuhan tentu tidak mengijinkan rumah-Nya disalahgunakan.
 
Jadi saya tidak merasa bersalah ketika hari ini, untuk pertama kalinya kesabaran saya melebihi batasannya dan saya memutuskan untuk walkout 10 menit setelah pengkotbah dari Jakarta (dokter yang digelari pdm.) mulai berkotbah. Duh, saya mendengar sebagian dari teman-teman atau yang mengenal saya berkata “gak aneh!!!” dan “kebiasaan kamu sok benar!!!”… Hahaha, i can take that, saya tidak keberatan sama sekali dengan predikat ‘pemberontak’ ketika saya mengatakan “TIDAK” untuk sesuatu yang salah.
 
Sebenarnya perasaan saya sudah tidak enak ketika salah satu Worship Leader, yang adalah tim pelayanan dari bapak dokter ini, mengatakan “Tuhan itu baik dan Dia tidak meminta balasan apapun dari kita, karena itu kita harus tahu diri”. Sebagian dari Anda mungkin ada yang berpikir “apa salahnya?”. Ayolah, Anda pikir apa gunanya 10 hukum taurat? Anda pikir apa artinya ketika Tuhan Yesus berkata “kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu”?
 
Selanjutnya perasaan saya lebih tidak enak lagi ketika di doa awal kotbah Sang Dokter memimpin seperti ini “Kami bersyukur karena Engkau Baik, Tuhan. Kami bersyukur karena kami bisa hidup, karena kami bisa makan tiga kali sehari, karena tidak ada keluarga kami yang tercerai berai, karena tidak ada keluarga kami yang menggunakan narkoba,…”. Jika di antara jemaat ada mereka yang sedang susah hati karena keluarganya terlibat narkoba, atau orang tuanya bercerai, atau dia tidak dapat makan tiga kali sehari dan memutuskan ‘mencari Tuhan’ ke gedung itu… Apa artinya Tuhan tidak baik untuknya?
 
Hal berikutnya ketika di awal kotbah Bapak Dokter berkata “saya tahu kenapa Anda semua ada di sini, datang ke gereja… Pasti sama seperti saya, karena kita semua ingin masuk Surga”. Saat itu saya mulai menjadi sangat gelisah dan berbisik pada anak asuh saya “ini ga bener!”
 
Kotbah berikutnya dilanjutkan dengan menceritakan kehebatan Bapak dokter yang sekolah 10 tahun di Jerman hingga mengambil spesialis dan super spesialis, lalu ke Perancis, lalu ke London, ke Amerika (beberapa tempat sekaligus) dan ke Jepang, namun kemudian memutuskan kembali ke Indonesia. Lalu kemudian memutuskan melayani Tuhan karena (perhatikan baik-baik) dia ingin masuk Surga.
 
Saudara, jika Anda bersama anak Anda memutuskan untuk makan di suatu restoran, kemudian Anda melihat tukang masak restoran itu mengambil makanan yang sudah berceceran di lantai, memungutinya dan menaruh lagi di piring untuk disajikan kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan? Tentu Anda menolak untuk makan sampah itu walau terlihat enak. Terutama, Anda ingin supaya anak Anda tidak memakannya. Itulah yang saya lakukan, saya menolak untuk makan sampah, dan saya tidak mau anak asuh saya memakannya juga, jadi saya mengajaknya keluar.
 
Saya menjelaskan bahwa orang Kristen harus mengetahui prinsip-prinsip Dasar Kekristenan dan menolak ketika berhadapan dengan penyesat. Saya bangga ketika anak asuh saya sudah mengerti bahwa kita diselamatkan karena iman pada Yesus, bukan karena pergi ke gereja atau mengambil bagian dalam pelayanan.
 
Bapak-bapak yang melayani di mimbar, atau para pendeta yang menggembalakan jemaat. Bukankah Anda diberi tanggungjawab besar untuk memberi ‘roti’ pada mereka yang lapar. Lalu mengapa seringkali Anda mengijinkan orang lain memberi ‘racun’ pada jemaat yang Tuhan percayakan? Mengapa seringkali Anda tidak mengolah roti itu dengan benar sehingga mungkin membuat yang memakannya menjadi sakit perut?
 
Saya mendengar dari mama saya bahwa dulu ada pendeta yang sering berkata bahwa Neraka mulai dirasakan di bumi, ketika kita mendapat ‘masalah’ menuai akibat dari perbuatan kita. Penjelasan yang tidak baik menyebabkan jemaat yang tertimpa masalah berkata “salah saya apa Tuhan?” atau menghakimi orang yang tertimpa masalah dengan berkata “pasti dia pendosa!”
 
Para domba, sebagai sesama domba saya menasihati, jangan memakan apa saja yang disajikan pada Anda. Jadilah domba-domba cerdas yang tidak hanya duduk termangu-mangu.