Membunuh Sang Waktu


Betapa cepat kemajuan teknologi sepuluh hingga dua puluh tahun belakangan. Saya masih ingat sekitar 14 tahun yang lalu ketika saya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Saya kost di jakarta selama 6 bulan sebelum kemudian keluar dan kembali ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan.

Saat itu saya bingung bagaimana caranya “membunuh waktu”, terutama di hari Sabtu dan Minggu. Saat itu belum ada tol cipularang sehingga untuk pulang ke Bandung hari Sabtu siang (karena saya tidak libur di hari Sabtu) menghabiskan begitu banyak waktu (bisa sampai 8 jam). Biasanya saya menghabiskan waktu dengan menonton atau membaca buku, atau pergi ke warnet untuk chatting dengan teman. Saya bahkan pernah menghabiskan buku Harry Potter dalam satu hari karena benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membunuh waktu.

Tadi, saya bicara dengan seorang anak yang baru lulus SMK dan memiliki rencana kuliah di luar kota. Saya merasa diri sudah tua ketika tanpa berpikir saya berkata “bosan lho di tempat kost, harus bawa TV…” belum selesai saya menyelesaikan kalimat saya, saya tersadar, ah ya benar, ada youtube, viu dan banyak aplikasi lain di smartphone yang menjadi senjata kita membunuh waktu.

Kita berusaha mati-matian membunuh waktu. Di setopan lampu merah, saat mengantri di bank, saat menunggu kendaraan umum, di manapun kita ingin agar waktu berjalan tanpa kita sadari.

Namun tanpa sadar kitalah yang dirugikan dengan “matinya sang waktu”. Setidaknya itulah yang ada di pikiran kita. Kita pikir waktu telah mati, padahal kitalah yang seperti mati, waktu terus berjalan, tik tok tik tok. Bekasnya terlihat di mana-mana, rambut yang memutih, kerut yang semakin banyak, kondisi nenek kita yang menurun drastis, jerawat yang timbul. Waktu meninggalkan jejaknya di mana-mana.

Sang waktu tidak mati, kitalah yang sebenarnya “mati”. Kita menjalani hari seperti benda mati. Tak memaknainya, tak memberinya makna. Kita menjalani hari tanpa meninggalkan jejak yang berarti, dan tiba-tiba usia tua menyergap dari berbagai arah, entah orang tua kita yang tiba-tiba tua karena kita tidak menyadarinya akibat kurang menaruh perhatian dan menghabiskan waktu berasama, atau anak kita yang tiba-tiba besar karena kita tidak menikmati setiap proses pertumbuhannya. Atau diri kita sendiri saat kita bercermin.

Sesungguhnya sang waktu tak bisa mati, sebagaimanapun kita mencoba membunuhnya. Malah kitalah yang akan mati tanpa kita sadari. Taruh sebentar smartphone di tangan Anda, tegakkan kepala dan lihatlah sekitar Anda. Mungkin ada tempat di mana kita bisa membalas dendam pada Sang Waktu, dengan meninggalkan jejak kita yang berharga saat kita masih hidup di dunia.

Advertisements

Saat Kau Keriput


Tanganku,
Suatu saat kau akan keriput
Tapi sebelum saat itu
Aku harap sudah banyak yang kau kerjakan
Berguna bagi orang lain,
Membantu sesama,
Melakukan apa yang hebat,
Menghasilkan karya besar,
Mengubahkan dunia

Wajahku,
Suatu saat kau akan keriput,
Tapi sebelum dan bahkan sesudah saat itu
Aku harap banyak yang kau tunjukkan,
Senyum yang menenangkan
Tawa yang hangat
Kemarahan yang dikendalikan,
Perhatian tulus saat ada yang bicara,

Mataku,
Suatu saat penglihatanmu akan kabur
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau lihat
Banyak yang sudah kau pelajari,
Banyak yang sudah kau baca,
Banyak yang sudah kau kenali,

Telingaku,
Suatu saat pendengaranmu mungkin akan berkurang
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau dengar
Banyak keluhan yang kau dengarkan
Banyak cerita yang kau tangkap
Banyak pelajaran yang kau dapatkan

Mulutku,
Suatu saat mungkin kau akan banyak bicara,
Mengeluh ini itu,
Mengomel ini itu,
Tapi sebelum saat itu,
Aku harap kau biaa mengendalikannya
Seperti kekang pada kuda
Lambat berkata-kata
Memilah mana yang harus diucapkan
Berlatih untuk tak memaki
Berlatih untuk tak mengomel
Berlatih untuk mengatakan apa yang manis

Tubuhku,
Suatu saat kau akan renta
Tapi sebelum saat itu,
Berkaryalah,
Berbuatlah banyak,
Bersyukurlah,
Bantulah mereka yang membutuhkan

Agar ketika saatnya tiba,
di tengah keriputmu,
Kau dapat tersenyum,
Ketika Pencipta memanggil.

KLAKSON


Sebuah pemikiran singkat lagi…
 
Suatu hari, saya pernah bertemu dengan pertigaan, ketika mencari sebuah jalan (dan tidak ketemu). Saya ingin kembali ke jalan utama, ketika berhadapan dengan pertigaan itu. Sebuah keputusan harus segera dibuat, belok kanan atau kiri. Menurut analisa saya, akan lebih dekat jika saya belok kiri saja. Karena tidak ada larangan belok kiri saya pun langsung belok kiri.
 
TIdak sampai 10 meter ketika banyak motor dari arah berlawanan mengklakson saya, banyak bapak-bapak meneriaki saya. Menyadari ada yang salah, saya membuka jendela dan bertanya pada supir angkot yang lewat “ini satu arah ya Pak”
 
Seorang bapak yang baik hati yang sedang berjalan kaki di sebelah kiri mobil mempersilahkan saya melakukan putar balik ke arah yang berlawanan dan akhirnya saya kembali di arah yang benar.
 
Klakson dipasang untuk memberi peringatan bahaya, semacam alarm yang perlu kita tekan untuk memperingatkan mobil lainnya (sudah jelas bukan dibuat untuk pengemudi mobil itu sendiri, bukan?).
 
Namun akhir-akhir ini banyak orang yang belum paham soal demokrasi berjalan raya. Ketika mereka main HP sambil naik motor sehingga hampir mengambil jalan orang yang berbahaya dan diberi klakson peringatan oleh kendaraan di belakangnya, bukannya berterimakasih mereka malah marah dan sibuk ingin mempolisikan orang yang memberinya peringatan.
 
Atau saya pernah bercerita soal motor yang tiba-tiba memotong jalan saya dengan kaki penumpang direntangkan, kemudian berkendara zigzag tidak keruan, dan tidak mengenakan helm. Karena kuatir mengendara di belakang yang bersangkutan, saya pun mengklakson dan saat ada kesempatan menyusulnya dari kanan. Tidak terima, motor itu mengejar saya, kemudian memaki-maki saya di jalanan karena tidak suka diklakson dan didahului.
 
Padahal, klakson bukanlah alat penghakiman, melainkan alat peringatan. Anda tidak serta merta masuk ke penjara ketika diklakson orang. Nama baik Anda tidak serta merta rusak ketika Anda diklakson orang.
 
Saya pernah diklakson orang berkali-kali, merasa ada yang salah, membuka kaca mobil dan benar saja, yang bersangkutan ingin memberitahu bahwa pintu mobil saya belum tertutup dengan rapat.
 
Jangan menganggap bahwa klakson orang lain adalah serangan pada pribadi kita. Mungkin itu hanya alarm peringatan yang diberikan orang lain agar kita kembali ke jalur yang benar, atau karena ada yang tidak beres dengan kendaraan kita. Kalau bunyi klakson itu beranekaragam, bukankah memang mereka diciptakan berbeda-beda… Ada yang bunyi HONKKKKK, ada yang bunyi DIT DITTTT ada yang berbunyi TEEEEETTT… tidak masalah dengan bunyinya, bukan?

I ONCE WAS BLIND


Sebuah pemikiran singkat…
Katakanlah, lima tahun yang lalu Anda menjadi seorang pecandu narkoba, kemudian Anda bertobat. Anda merasa Tuhan menunjukkan jalan yang benar dan dengan pertolongan-Nya Anda dapat berbalik dari kecanduan narkoba dan berhasil memulihkan diri.
 
Kemudian hari ini, lima tahun kemudian, seseorang berhasil menemukan catatan bahwa Anda dulu pernah menjadi seorang pecandu narkoba dan mengungkit hal tersebut.
 
Apa yang akan Anda lakukan?
 
Jika Anda sudah benar-benar berbalik, berkat pertolongan Tuhan, saya yakin Anda tidak akan marah. Sebaliknya Anda berkata “I once was blind, but now I see, was lost but now i am found” (Saya dulunya buta, tapi sekarang melihat. Dulunya terhilang, sekarang ditemukan).
 
Anda tidak akan mencak-mencak dan membenarkan perilaku kecanduan narkoba. Anda tidak akan menunjukkan jari pada siapa saja yang mengkritik perilaku pencandu narkoba dan berkata “tidak perlu menghakimi orang lain” atau “memangnya Anda sendiri tidak punya dosa”.
 
Ada batasan yang jelas antara kritik dengan penghakiman. Menunjukkan kesalahan itu kritik, memvonis itu menghakimi. Kritik berujung pada perbaikan, penghakiman berujung pada hukuman…
 
Ketika kita sudah mengakui bahwa “dulunya saya tidak benar”, maka tidak perlu marah ketika ada orang yang mengecam perilaku tidak benar yang Anda lakukan tempo hari. Justru Anda juga harus ikut ambil bagian dalam barisan orang yang mengecam kebiasaan lama Anda, bukankah kebiasaan itu buruk, dan saking buruknya maka Anda memutuskan untuk berubah.
 
Tidak ada salahnya berkata, “ya, itu lima tahun yang lalu…. saat-saat di mana saya masih buta dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Sekarang saya sudah berubah, mudah-mudahan saya bisa terus dalam keadaan seperti ini sehingga kalian bisa melihat perubahan yang baik dalam diri saya. Karena terus terang saja, Tuhan yang membuat saya berubah”

Air untuk Raja


Hari ini saya mendengar kotbah yang luar biasa dari seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di Kota Bandung. Kotbahnya tentang tiga orang pahlawan yang mengambilkan air dari Sumur Bethlehem untuk Daud (I Tawarikh 11:15-19). Bapak Pendeta menyamakan air dari sumur Bethlehem dengan “Air Hidup dari Bethlehem”, dan seterusnya, dan seterusnya…

Saya diberkati oleh Firman Tuhan yang dibagikan tersebut, namun ketika saya merenungkannya, saya mendapat hal lain dari kisah yang luar biasa tersebut.

Kisah itu adalah tentang tiga orang terbaik Daud yang mendengar keinginan Daud: ingin minum air dari sumur Di Bethlehem. Kondisinya saat itu Bethlehem sedang dikuasai oleh militer Filistin, sehingga hampir tidak mungkin mengambil air dari sumur tersebut.

Mendengar keinginan Daud, tiga orang ini menerobos perkemahan Filistin untuk mengambil air dari Sumur Betlehem. Setelah mereka memperoleh air itu, mereka membawanya kepada Daud.

Sampai sini saya membayangkan kondisinya jika saya menjadi satu dari tiga orang itu. Apa yang akan saya rasakan ketika Daud akhirnya meminum air yang saya dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa. Jika Anda menjadi satu dari tiga orang itu, apa yang akan Anda rasakan saat Daud meminum air yang Anda peroleh dengan pertaruhan nyawa? Senang? Puas? Bahagia?

Tentu Anda senang ketika pemimpin Anda “menikmati” hasil dari kerja keras Anda, bukan?

Apa yang terjadi dengan air itu? Daud tidak meminumnya, malah mencurahkan air itu sebagai korban untuk Tuhan.

Saya bayangkan lagi apa yang terjadi saat itu. Ketiga orang itu melihat ketika air itu dituangkan ke tanah, dipersembahkan kepada Tuhan. Apa yang mereka rasakan? Mana yang lebih mereka sukai? Air itu diminum oleh Daud atau dipersembahkan kepada Tuhan.

Para pemimpin, khususnya pemimpin gereja, seringkali Anda menuntut orang yang Anda pimpin melakukan ini dan itu, terkadang sesuatu yang tidak masuk akal. Mengharapkan mereka untuk memenuhi standar Anda yang luar biasa tinggi: “menerobos pertahanan musuh untuk mendapatkan ‘air hidup dari Betlehem'”.

Namun seringkali ketika anak buah Anda mendapatkan keberhasilan, yang Anda lakukan adalah ‘meminum air’ itu. Anda meminumnya dengan rakus, berharap nama Anda semakin besar, Anda semakin terkenal .

Percayalah, jika Daud meminumnya, ketiga orang itu tidak akan disebutkan sebagai ‘pahlawan’ dalam ayat ke 19. Mungkin jabatan mereka hanya sebagai “orang terbaiknya Daud” (ayat 15).

Karena Daud mempersembahkan air itu untuk Tuhan, maka ketiga orang itu dituliskan Alkitab sebagai “pahlawan”.

Ketika nama Yesus ditinggikan, dan setiap perbuatan baik dan keberhasilan dipersembahkan kepada Tuhan, Dia akan menarik semua orang datang kepada-Nya, dan kita akan menjadi pahlawan-pahlawan Tuhan…

Pemimpin yang Melayani


Image result for chain of commandMenyadari pentingnya pengelolaan manajemen yang baik, salah seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di sebuah kota di Indonesia menghubungi kami untuk membantu beliau menata manajemennya. Dalam perbincangan santai dengan salah seorang Hamba Tuhan di gereja tersebut kemarin (setelah rapat konsultasi usai), saya mengatakan bahwa salah satu pokok persoalan yang menyulitkan dalam memperbaiki manajemen gereja (untuk beberapa gereja) adalah istilah “Pemimpin yang melayani”.

Saya menceritakan bahwa dalam dunia sekuler, Job Desc merupakan daftar tugas yang menjadi acuan seseorang bekerja. Tidak boleh ada inisiatif kebablasan yang membuat seseorang merasa harus mengerjakan tugas orang lain. Setiap orang harus menghormati wilayah pekerjaan dan wewenang orang lain, dalam dunia sekuler. Dalam dunia sekuler, walaupun sebagai pemilik perusahaan, namun batasan pekerjaan tetap dibuat. Sebagai konsultan, saya akan menganjurkan agar pemilik perusahaan tidak ‘ujug2’ mengepel lantai atau membuang sampah. Alasannya? Hal tersebut dapat merusak “chain of command” dalam perusahaan tersebut.

Saya akan bercerita sedikit apa itu chain of command. Chain of Command adalah sebuah hubungan dalam struktur organisasi yang menunjukkan siapa melaporkan pekerjaan pada siapa, siapa bertanggungjawab kepada siapa, siapa harus menjawab apa kepada siapa. Chain of Command yang baik menjamin bahwa ada satu orang yang bertanggungjawab untuk setiap tugas dan posisi.

Sekarang bayangkan jika seorang manager tiba-tiba berusaha mengepel lantai. Manager tersebut berinisiatif untuk membersihkan lantai ketika ada seorang yang muntah. Siapa yang menjamin bahwa apa yang dilakukannya sesuai dengan prosedur yang berlaku? Siapa yang menjamin bahwa hasil akhir dari pekerjaannya sempurna? Jika tidak sempurna, siapa yang bertanggungjawab?

Nah, hal tersebut sulit sekali diterapkan di dalam gereja. Dalam sebuah gereja saya pernah melihat ketika “pemilik gereja” yang adalah pengusaha (jaman sekarang gereja bisa dimiliki oleh seorang pengusaha yang bukan pendeta dan kemudian memanggil pendeta-pendeta bergelar Pdt. untuk berkotbah) tiba-tiba tergerak untuk memarkirkan kendaraan yang masuk ke gedung sebuah guest house yang adalah miliknya. Tanpa bermaksud seudzon, Beliau mungkin ingin menunjukkan pada pendeta yang berkotbah bahwa beliau termasuk “pemimpin yang melayani”

Baik, di beberapa gereja mungkin memang ada “pelayanan parkir”. Tapi dalam kasus ini tidak begitu, ada petugas parkir yang sedang bertugas di sana. Petugas parkir tersebut, sesuai dengan budaya timur, tentu saja tidak dapat menghampiri si Bapak dan berkata “maaf Pak, saya yang bertanggungjawab mengatur parkir di sini, biarkan saya melakukan tugas saya… Bapak masuk saja”. Tentu yang bersangkutan takut dipecat.

Ada banyak kesalahan yang dapat terjadi ketika seorang atasan tiba-tiba mengambil alih job desc bawahan, diantaranya:

  1. Ketika kesalahan terjadi, sulit mencari siapa yang bertanggungjawab.
  2. Ketika kesalahan terjadi, wibawa atasan akan jatuh di depan anak buah.
  3. Ketika yang dilakukan benar, kinerja anak buah justru akan menurun

Di gereja, menanamkan pemahaman ini menjadi begitu sulit karena adanya konsep “pemimpin yang melayani”. Mungkin Anda kemudian berkata, “kalau begitu apakah kamu setuju jika para pendeta bersikap bossy?”

Saya akan balik bertanya: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridnya mencari makanan ke warung ketika 5000 orang laki-laki mengikutinya? Mengapa tidak dia sendiri saja yang pergi mencari makanan?

Atau: Mengapa Yesus menyuruh murid-muridNya mencari keledai untuk Dia tunggangi di hari raya Pondok Daun, kenapa tidak Dia saja yang mencarinya? Kenapa Dia menyuruh murid-murid-Nya yang mencari loteng untuk mereka makan Paskah terakhir, mengapa tidak Dia saja?

Apa Anda menangkap maksud saya? Menjadi pemimpin yang melayani tidak berarti bahwa Anda mengerjakan bagian orang lain. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Menjadi pemimpin yang melayani berarti Anda melakukan tugas Anda dengan sikap hati yang benar untuk kepentingan banyak orang, bukan hanya sekedar untuk kepentingan Anda. Menjadi pemimpin yang melayani adalah mempercayai peran semua orang dalam organisasi yang Anda pimpin, mengakui bahwa bukan Anda satu-satunya yang hebat, menghargai setiap orang atas kinerja mereka yang tidak ada intervensi seenaknya.

Saya tahu beberapa orang akan menunjukkan saya definisi boss dan leader… Lihatlah gambar di bawah, jika Anda seorang leader, Anda akan memastikan perahu yang Anda naiki bergerak ke arah yang benar  dan bukannya merebut dayung dan ikut mendayung… Jika Anda melakukannya karena ingin menjadi “pemimpin yang melayani”, percayalah, mungkin kapal Anda akan menabrak karang. Seorang boss akan duduk santai dan menyalahkan semua orang ketika perahu tidak sampai di tujuan atau mengambil alih tujuan ketika perahu tiba di tujuan dengan selamat.

Image result for leader

Memang terkadang kita perlu bersabar ketika kinerja orang lain tidak sebaik yang kita harapkan. Pemimpin yang melayani memberi kesempatan dan motivasi, bukan mengambil alih…

Ketika Anda menjadi pemimpin, walau itu di dalam gereja, saya sarankan… Hormati Chain of Command!

Tentang Hidup oleh Iman


Anakku,

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Kegelisahan akan apa yang akan terjadi nanti
Kegelisahan akan apa yang mungkin kita alami
Kegelisahan akan apa yang dapat menimpa kita

Kita hidup dikelilingi oleh ketidakpastian
Ketidakpastian akan kematian
Ketidakpastian akan keberuntungan
Ketidakpastian akan keselamatan

Tidak ada yang dapat membuat kita bertahan
Tanpa merasa gelisah
Tanpa merasa resah
kecuali dengan iman…

Itu sebabnya ada tertulis
“Orang benar akan hidup oleh iman”

Tanpa iman,…
Kau tak akan dapat menjalani hidup dengan ketidakpastian
Kau akan gelisah dan resah
Tak tenang dalam hidupmu

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hari esok akan datang
…dengan penuh harapan menyongsongnya
…dengan penuh semangat menjalaninya

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa Penciptamu mengasihimu
Bahwa Dia memeliharamu
Seperti Dia memelihara burung pipit
Atau mendandani bunga bakung

Hanya oleh iman…
Kau akan yakin bahwa hidupmu tak sia-sia
Setiap detik memiliki arti
…dan kau dapat menjadi harapan bagi orang lain

Hanya oleh iman…
Kita akan menatap masa depan dengan tersenyum
Karena masa depan sungguh ada
Dan harapanmu tak kan hilang

Hanya oleh iman…
Kau tak takut menghadapi kematian
Karena kau yakin akan kehidupan setelahnya
Bahwa Bapa di Surga siap menyambutmu

Ya anakku,
Ingatlah ini selalu
Orang benar akan hidup oleh iman

 

Tentang Melakukan apa yang Benar


Anakku,
Menjadi orang benar tidak berarti…
…bahwa kau akan disukai
…bahwa kau akan berhasil di dunia
…bahwa hidup akan lebih mudah

Melakukan apa yang benar tidak berarti…
… semua orang setuju dengan yang kau lakukan
… semua orang suka dengan yang kau lakukan
… semua orang akan membelamu

Dalam sejarah kau akan melihat
Ada orang memutuskan untuk mengatakan apa yang benar
…dan mereka dicemooh

Ada orang memutuskan untuk memilih apa yang benar
…dan mereka diasingkan

Ada orang memutuskan untuk bersikap benar
…dan mereka dipersekusi

Anakku,
Aku sudah menceritakan padamu banyak contoh
Mulai dari Daniel sampai Yesus
Mereka memilih kebenaran
…dan orang-orang membenci mereka

Kecenderungan manusia adalah memikirkan diri sendiri
Untuk menguntungkan diri sendiri,
Mereka rela melakukan apa yang tidak benar
Dan benci kalau ada ‘orang benar’
Karena semakin berkilau emas,
semakin terlihat kusam kayu di sampingnya

Namun anakku,
Berbuat benar adalah keputusan yang paling tepat
Mengatakan apa yang benar adalah keputusan yang bijak
dan memilih apa yang benar adalah keputusan seorang pahlawan

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu membuktikan pada mereka
Bahwa kau adalah emas murni yang berkilau
Tak ada yang dapat memadamkan kilau itu

Ketika kamu memilih kebenaran,
di saat sekitarmu memilih sebaliknya,
Kamu menunjukkan kualitasmu pada mereka
Bahwa kau adalah cahaya yang bersinar
Tak ada yang dapat memadamkan sinar itu

Anakku,
Kita memilih kebenaran karena memang itu yang sepatutnya dilakukan
Karena itu yang diajarkan Pencipta
Karena itu yang disukai-Nya
Karena itu yang dilakukan-Nya

Ketika kita melakukan apa yang benar,
Kita sedang mengikuti jejak-Nya
Kita sedang meneladani-Nya
Kita sedang bersinar di dunia

Putuskanlah apa yang benar, anakku
Bahkan jika itu berarti kau akan dicemooh
Bahkan jika itu berarti kau akan diasingkan
Bahkan jika itu berarti kau akan dipersekusi
Pilihlah apa yang benar

Karena saat kau melakukannya,
Kau sedang membuat Penciptamu tersenyum…

Berkat dari Memberi


Anakku,
Berkat dari memberi itu…
Bukanlah ketika kau mendapat balasan
Tapi senyuman dari mereka yang menerima

Berkat dari menolong itu…
Bukanlah saat suatu saat mereka membalas budi
Tapi hidup yang berubah dari mereka yang ditolong

Berkat dari berbuat baik itu…
Bukanlah saat kau menerima pahala,
Tapi karena itu sesuatu yang benar untuk dilakukan
Dan Tuhanmu tersenyum karenanya

Berkat dari membantu sesama itu…
Bukanlah saat kau menerim pujian dari orang lain
Tapi saat kau tahu,…
bahwa kau melakukan sebagian kecil dari yang sudah Tuhan lakukan padamu

Anakku,
Kehidupan di dunia bukanlah soal dirimu
Menjadi bahagia…
Bukanlah soal memuaskan dirimu
Bukanlah soal menyenangkan hatimu
Bukanlah soal membahagiakan jiwamu

Tapi bagaimana kau membuat orang lain tersenyum,
Bagaimana kau mengubahkan hidup orang lain,
Bagaimana kau membuat Tuhan senang,
Bagaimana kau membalas kebaikan Tuhanmu,

Berkat dari ini semua jauh lebih besar,
Karena yang kau senangkan bukan hanya dirimu seorang
Tapi banyak orang,
Terlebih Tuhan

Anakku,
Berkat dari melakukan itu semua
Adalah ketika kau menjadi manusia…
Yang melakukan apa yang diharapkan Penciptanya…
Yang memuliakan nama Penciptanya
Yang menyukakan hati Penciptanya

Ingatlah yang selalu kukatakan
Kota di atas gunung tidak mungkin tersembunyi…