Mengajar Generasi Z


Saya mendapat kesempatan mengajar generasi Z selama satu semester mengenai Marketing Farmasi dan Kewirausahaan (dijadikan satu mata kuliah). Beberapa minggu sebelumnya saya mengobrol dengan seorang pengusaha yang berkata bahwa generasi Z ini memang harus diperlengkapi dengan kemampuan Wirausaha sehingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, menciptakan lapangan kerja mereka sendiri.

Saya sungguh bersyukur mendapat kesempatan mengajar mahasiswa yang menyerap seperti spons ini. Menerima setiap pelajaran yang diberikan dan menghasilkan produk-produk buatan mereka yang luar biasa.

Mereka bukanlah mahasiswa program Sarjana, tapi kegigihan, usaha dan kecerdasan mereka luar biasa. Produk mereka sangat menjanjikan, berkualitas dan saya rasa siapa pun akan sepakat dengan saya bahwa anak-anak generasi Z jika diarahkan dengan tepat akan menjadikan bangsa ini unggul di bidang apapun. Namun jika tidak diarahkan, dapat membuat bangsa ini mundur dan hancur dengan segera.

Kekuatan yang besar memang begitu, bukan? Saat digunakan untuk apa yang baik maka akan ada daya bangun yang luar biasa, sebaliknya jika digunakan untuk sesuatu yang buruk, daya hancurnya pun luar biasa.

Produk yang mereka hasilkan, seperti parfum, coklat, handbody lotion, face mist, masker dan lipbalm dikerjakan dengan sepenuh hati dan memiliki nilai jual yang sangat baik. Saya sendiri menyukai parfum dan coklat rasa cabe yang unik.

Terkadang anak-anak mengejutkan kita dengan apa yang mereka sampaikan, bukan begitu?? Jika Anda memiliki anak generasi Z, Anda akan sangat rugi jika tidak menghabiskan waktu bicara dengan mereka. Mengabaikan kesempatan untuk bicara dan mengajar mereka sama saja menyia-nyiakan waktu yang sungguh berharga sekaligus melepaskan kesempatan menjadi pahlawan yang membentuk hidup mereka, dan masa depan negara ini.

 

Walkout, Rumah Tuhan dan Racun


Sudah lama saya berhenti berpikir bahwa gedung gereja adalah “Rumah Tuhan”. Itu adalah tempat nama Tuhan dimuliakan, benar… tapi itu bukan Rumah Tuhan. Kalau itu Rumah Tuhan, tentulah tidak akan terjadi hal-hal melenceng di dalamnya, Tuhan tentu tidak mengijinkan rumah-Nya disalahgunakan.
 
Jadi saya tidak merasa bersalah ketika hari ini, untuk pertama kalinya kesabaran saya melebihi batasannya dan saya memutuskan untuk walkout 10 menit setelah pengkotbah dari Jakarta (dokter yang digelari pdm.) mulai berkotbah. Duh, saya mendengar sebagian dari teman-teman atau yang mengenal saya berkata “gak aneh!!!” dan “kebiasaan kamu sok benar!!!”… Hahaha, i can take that, saya tidak keberatan sama sekali dengan predikat ‘pemberontak’ ketika saya mengatakan “TIDAK” untuk sesuatu yang salah.
 
Sebenarnya perasaan saya sudah tidak enak ketika salah satu Worship Leader, yang adalah tim pelayanan dari bapak dokter ini, mengatakan “Tuhan itu baik dan Dia tidak meminta balasan apapun dari kita, karena itu kita harus tahu diri”. Sebagian dari Anda mungkin ada yang berpikir “apa salahnya?”. Ayolah, Anda pikir apa gunanya 10 hukum taurat? Anda pikir apa artinya ketika Tuhan Yesus berkata “kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu”?
 
Selanjutnya perasaan saya lebih tidak enak lagi ketika di doa awal kotbah Sang Dokter memimpin seperti ini “Kami bersyukur karena Engkau Baik, Tuhan. Kami bersyukur karena kami bisa hidup, karena kami bisa makan tiga kali sehari, karena tidak ada keluarga kami yang tercerai berai, karena tidak ada keluarga kami yang menggunakan narkoba,…”. Jika di antara jemaat ada mereka yang sedang susah hati karena keluarganya terlibat narkoba, atau orang tuanya bercerai, atau dia tidak dapat makan tiga kali sehari dan memutuskan ‘mencari Tuhan’ ke gedung itu… Apa artinya Tuhan tidak baik untuknya?
 
Hal berikutnya ketika di awal kotbah Bapak Dokter berkata “saya tahu kenapa Anda semua ada di sini, datang ke gereja… Pasti sama seperti saya, karena kita semua ingin masuk Surga”. Saat itu saya mulai menjadi sangat gelisah dan berbisik pada anak asuh saya “ini ga bener!”
 
Kotbah berikutnya dilanjutkan dengan menceritakan kehebatan Bapak dokter yang sekolah 10 tahun di Jerman hingga mengambil spesialis dan super spesialis, lalu ke Perancis, lalu ke London, ke Amerika (beberapa tempat sekaligus) dan ke Jepang, namun kemudian memutuskan kembali ke Indonesia. Lalu kemudian memutuskan melayani Tuhan karena (perhatikan baik-baik) dia ingin masuk Surga.
 
Saudara, jika Anda bersama anak Anda memutuskan untuk makan di suatu restoran, kemudian Anda melihat tukang masak restoran itu mengambil makanan yang sudah berceceran di lantai, memungutinya dan menaruh lagi di piring untuk disajikan kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan? Tentu Anda menolak untuk makan sampah itu walau terlihat enak. Terutama, Anda ingin supaya anak Anda tidak memakannya. Itulah yang saya lakukan, saya menolak untuk makan sampah, dan saya tidak mau anak asuh saya memakannya juga, jadi saya mengajaknya keluar.
 
Saya menjelaskan bahwa orang Kristen harus mengetahui prinsip-prinsip Dasar Kekristenan dan menolak ketika berhadapan dengan penyesat. Saya bangga ketika anak asuh saya sudah mengerti bahwa kita diselamatkan karena iman pada Yesus, bukan karena pergi ke gereja atau mengambil bagian dalam pelayanan.
 
Bapak-bapak yang melayani di mimbar, atau para pendeta yang menggembalakan jemaat. Bukankah Anda diberi tanggungjawab besar untuk memberi ‘roti’ pada mereka yang lapar. Lalu mengapa seringkali Anda mengijinkan orang lain memberi ‘racun’ pada jemaat yang Tuhan percayakan? Mengapa seringkali Anda tidak mengolah roti itu dengan benar sehingga mungkin membuat yang memakannya menjadi sakit perut?
 
Saya mendengar dari mama saya bahwa dulu ada pendeta yang sering berkata bahwa Neraka mulai dirasakan di bumi, ketika kita mendapat ‘masalah’ menuai akibat dari perbuatan kita. Penjelasan yang tidak baik menyebabkan jemaat yang tertimpa masalah berkata “salah saya apa Tuhan?” atau menghakimi orang yang tertimpa masalah dengan berkata “pasti dia pendosa!”
 
Para domba, sebagai sesama domba saya menasihati, jangan memakan apa saja yang disajikan pada Anda. Jadilah domba-domba cerdas yang tidak hanya duduk termangu-mangu.

Kehadiran Ayah dan Bunuh Diri


Salah satu kalimat yang menggelitik saya dalam kotbah hari ini adalah “Menurut penelitian 65 persen anak bunuh diri tanpa kehadiran sosok ayah…”,

Saya berpikir… Artinya, 35 persen anak bunuh diri walau ayahnya hadir, jumlah yang masih sangat besar. Pertanyaan saya, apakah ‘kehadiran ayah’ memiliki pengaruh yang cukup signifikan dari keputusan seorang anak bunuh diri?

Terlepas dari adanya kehadiran ayah atau tidak dalam diri anak (yang mana saya yakini bahwa kehadiran sosok ayah penting bagi setiap anak manapun), keputusan anak bunuh diri disebabkan rendahkan kemampuannya mengendalikan emosi, dengan kata lain rendahnya kecerdasan intrapersonal.

Sekali lagi, tanpa mengecilkan arti kehadiran ayah, kecerdasan intrapersonal yang rendah merupakan penyebab seseorang bunuh diri. Pertanyaannya, bagaimana melatih kecerdasan intrapersonal seorang anak?

Kecerdasan intrapersonal anak dilatih sejak ia masih sangat kecil. Jika Anda tak pernah mengijinkan seorang anak merasa kecewa, saat dewasa ia akan mengalami kesulitan menangani kekecewaan. Jika Anda tak pernah memotivasi anak saat ia kesulitan melakukan sesuatu di masa kecilnya, saat dewasa ia akan mengalami kesulitan menangani keputusasaan. Jika Anda selalu menyela dan tak punya cukup waktu mendengarkan saat mereka marah, saat dewasa ia akan kesulitan menangani kemarahan.

Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan dasar yang harus diajarkan pada anak, tapi sayangnya, bahkan dengan kehadiran seorang ayah, anak tidak mempelajari ini sejak kecil. Bahkan seringkali diperburuk oleh orang tua. Orang tua yang selalu menjatuhkan, orang tua yang terlalu “sayang” hingga mengabulkan semua keinginan anak dan tak mengijinkan anak kecewa atau menangis, orang tua yang tak punya cukup waktu mendengarkan anak.

Lagi dan lagi, tanpa mengecilkan kehadiran seorang ayah, sumber dari kecerdasan intrapersonal adalah kehadiran Tuhan dalam hidup anak. Adanya pengharapan dalam kesesakan, kesabaran dalam kesulitan, dan iman dalam ketidakjelasan adalah sepenuhnya karya Roh Kudus dalam tiap anak.

Artinya, menurut pendapat saya, kehadiran ayah akan sia-sia ketika ia tidak mengenalkan Tuhan dalam hidup anak. Jadi, menurut saya, pertanyaan utamanya pada akhirnya bukanlah apakah ayah hadir atau tidak dalam kehidupan anak, tapi apakah Tuhan hadir dan diperkenalkan sejak kecil dalam hidupnya.

Membunuh Sang Waktu


Betapa cepat kemajuan teknologi sepuluh hingga dua puluh tahun belakangan. Saya masih ingat sekitar 14 tahun yang lalu ketika saya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Saya kost di jakarta selama 6 bulan sebelum kemudian keluar dan kembali ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan.

Saat itu saya bingung bagaimana caranya “membunuh waktu”, terutama di hari Sabtu dan Minggu. Saat itu belum ada tol cipularang sehingga untuk pulang ke Bandung hari Sabtu siang (karena saya tidak libur di hari Sabtu) menghabiskan begitu banyak waktu (bisa sampai 8 jam). Biasanya saya menghabiskan waktu dengan menonton atau membaca buku, atau pergi ke warnet untuk chatting dengan teman. Saya bahkan pernah menghabiskan buku Harry Potter dalam satu hari karena benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membunuh waktu.

Tadi, saya bicara dengan seorang anak yang baru lulus SMK dan memiliki rencana kuliah di luar kota. Saya merasa diri sudah tua ketika tanpa berpikir saya berkata “bosan lho di tempat kost, harus bawa TV…” belum selesai saya menyelesaikan kalimat saya, saya tersadar, ah ya benar, ada youtube, viu dan banyak aplikasi lain di smartphone yang menjadi senjata kita membunuh waktu.

Kita berusaha mati-matian membunuh waktu. Di setopan lampu merah, saat mengantri di bank, saat menunggu kendaraan umum, di manapun kita ingin agar waktu berjalan tanpa kita sadari.

Namun tanpa sadar kitalah yang dirugikan dengan “matinya sang waktu”. Setidaknya itulah yang ada di pikiran kita. Kita pikir waktu telah mati, padahal kitalah yang seperti mati, waktu terus berjalan, tik tok tik tok. Bekasnya terlihat di mana-mana, rambut yang memutih, kerut yang semakin banyak, kondisi nenek kita yang menurun drastis, jerawat yang timbul. Waktu meninggalkan jejaknya di mana-mana.

Sang waktu tidak mati, kitalah yang sebenarnya “mati”. Kita menjalani hari seperti benda mati. Tak memaknainya, tak memberinya makna. Kita menjalani hari tanpa meninggalkan jejak yang berarti, dan tiba-tiba usia tua menyergap dari berbagai arah, entah orang tua kita yang tiba-tiba tua karena kita tidak menyadarinya akibat kurang menaruh perhatian dan menghabiskan waktu berasama, atau anak kita yang tiba-tiba besar karena kita tidak menikmati setiap proses pertumbuhannya. Atau diri kita sendiri saat kita bercermin.

Sesungguhnya sang waktu tak bisa mati, sebagaimanapun kita mencoba membunuhnya. Malah kitalah yang akan mati tanpa kita sadari. Taruh sebentar smartphone di tangan Anda, tegakkan kepala dan lihatlah sekitar Anda. Mungkin ada tempat di mana kita bisa membalas dendam pada Sang Waktu, dengan meninggalkan jejak kita yang berharga saat kita masih hidup di dunia.

Menggantikan orang di Neraka…???


Baru saja adik saya memberikan saya sebuah gambar yang cukup menarik. Sebuah iklan berbau dukun rohani, yang bertujuan menjerat pengusaha yang mengalami resesi ekonomi aka masalah keuangan. Langsung saja hati saya tergelitik untuk menuliskannya (mengingat sudah sekian lama saya tidak menulis dan bersikap nyinyir pada keanehan yang terjadi)

Hal yang menarik adalah ketika sebagian gereja (dan hamba Tuhan) berusaha menjadi jawaban atas masalah keuangan anggotanya, seolah mengaminkan bahwa satu-satunya indikator berkat Tuhan adalah ketika seseorang diberkati secara finansial.

Namun hal yang menarik perhatian saya dari brosur di samping bukanlah kalimat “PELEPASAN RESESI EKONOMI” yang dipampang besar-besar, tapi kalimat yang diberi lingkaran merah oleh siapapun yang membagi gambar itu pertama kali.

Disebutkan: (maaf, saya tidak berniat mensensor nama gereja dan pendeta absurd yang tertulis di brosur itu)

Dilayani Gembala Sidang Gereja Tiberias Indonesia yang diberikan Predikat seorang Martir yang tidak duniawi se-Roh dengan Tuhan Yesus karena mencium kaki Tuhan Yesus ingin menggantikan orang di neraka

Saya tidak tahu sebodoh apa para fulltime di gereja itu, yang saya tahu setiap kali mengeluarkan brosur atau apapun mereka sepertinya melupakan tanda baca seperti titik dan koma, seolah mereka tidak tahan untuk menyemburkan pujian pada junjungan mereka ini.

Hal yang teramat konyol (setidaknya bagi saya), adalah karena “ingin menggantikan orang di neraka” merupakan alasan mengapa pendeta ini dapat menyejajarkan dirinya dengan Tuhan Yesus.

Ayolah!!! Bahkan Tuhan Yesus tidak menggantikan orang di neraka… Dia menebus orang agar tidak ke neraka. Dia mati, sebagian orang percaya Dia turun ke neraka, tapi sesudahnya dia BANGKIT dan menjadi TUHAN dan RAJA. Jika Bapak Pendeta yang terhormat ini ingin menggantikan orang di neraka, apakah sebenarnya dia tidak percaya bahwa kematian Yesus di kayu salib sudah cukup? atau justru dia meragukan kedaulatan Tuhan? Saya tidak mengerti sama sekali.

Hal kedua adalah, alasan yang melatarbelakangi dia ingin “menggantikan orang di neraka”. Dia tahu benar bahwa Tuhan tidak ada di Neraka, tempatnya Tuhan bukan di Neraka. Jika dia ingin berada di neraka, apakah artinya dia tidak ingin menghabiskan keabadian bersama Tuhan?

Mungkin sebagian orang berkata “ayolah, jangan menanggapinya secara harafiah”. HARUS!!! Saya harus menanggapinya secara harafiah jika orang ini ingin dianggap martir dan se-Roh dengan Tuhan Yesus. Jika tidak diartikan secara harafiah, maka siapa saja bisa membual seperti dia.

Hal ketiga adalah, masih alasan yang melatarbelakangi dia ingin “menggantikan orang di neraka”. Apakah dia ingin berada di neraka karena dia begitu mengasihi orang yang ingin dia gantikan tempatnya di neraka? Jika begitu bukankah dia akan kehilangan kesempatan untuk menyelematkan orang yang masih hidup dari potensi neraka? Apakah ini semacam rayuan gombal anak SMA “aku bersedia mati menggantikanmu” atau “kenapa tidak aku saja yang mati”.

Ayolah, Tuhan Yesus memiliki kasih sebesar itu, Dia mengenal kita hingga Dia rela mati menggantikan kita. Tapi siapa bapak ini sehingga berani mengajukan diri menggantikan orang di neraka?? Ah, seandainya saja saya diijinkan mengumpat.

Hal keempat adalah… Definisi martir dalam Kristen BUKANLAH menggantikan tempat orang berdosa di neraka, tapi bersedia tetap berdiri teguh untuk mempertahankan iman, seperti Stefanus atau para murid yang mati martir demi nama Yesus. Tidak ada satu pun orang dikenal sebagai martir karena dia menggantikan tempat orang berdosa dalam keabadian neraka. Tidak ada!!

Hal kelima adalah, bukankah agama menjadi laris karena mereka menawarkan keselamatan? Bukankah kita percaya pada Kristus karena Dia menawarkan keselamatan? Bukankah inti dari kematian Kristus di salib adalah agar kita diselamatkan. Anda boleh mengatakan saya egois, tapi bukankah itu benar? Bukankah menjadi seperti Kristus dan mendapatkan keselamatan serta hidup kekal bersama Bapa di Surga adalah tujuan hidup setiap orang percaya?

Apakah bapak pendeta yang terhormat ini benar-benar bermaksud menawarkan dirinya menggantikan orang di neraka atau dia cuma melontarkan (maaf) b*llshit supaya dirinya dicap menjadi martir? Menurut Anda, jika dia benar-benar serius dengan tawarannya, dan Tuhan mengabulkannya, apa yang akan dia katakan?

Saya tahu, saya tahu,… Anda pasti hanya akan membaca kemarahan dalam tulisan saya kali ini, dan itu memang benar SAYA SANGAT MARAH dengan apa yang tertulis di brosur itu. Sebuah kalimat tolol dari seorang yang mengaku diri pendeta yang ingin menggantikan posisi orang di neraka hingga malah memberi kesan bahwa ia tidak percaya bahwa kematian Yesus sudah cukup, atau ia sendiri meragukan kedaulatan Tuhan….hmmm, atau mungkin hanya sekedar “cari muka” di hadapan Tuhan….

Pendeta, pembimbing rohani, guru sekolah minggu, atau siapapun yang (merasa dirinya) rohani, dengarlah nasihat orang awam ini sekali saja… lain kali hati-hatilah dengan statement Anda, baik itu tertulis maupun apa yang Anda ucapkan di atas mimbar. Jangan tersesat dalam kalimat-kalimat indah tanpa makna yang justru menyesatkan orang yang mendengarnya. Hati-hatilah… Tuhan tidak memberi Anda kepercayaan untuk Anda pakai seenaknya seperti ini.

Jika Anda masih melakukannya juga, menyesatkan orang lain…lain kali Anda berada di neraka bukan karena Anda meminta untuk menggantikan tempat seseorang, tapi mungkin  di sanalah tempat Anda yang seharusnya

 

 

Waktu


Waktu itu tak terlihat,
Namun ia mengambil segala yang kau miliki

Mengambil kemudaanmu
Menukarnya dengan pengalaman

Mengambil kenaifanmu
Menukarnya dengan hikmat

Mengambil kenanganmu
Menukarnya dengan kebijakan

Mengambil teman-temanmu
Menukarnya dengan sahabat

Mengambil harapanmu
Menukarnya dengan iman

Mengambil lukamu
Menukarnya dengan kekuatan

Mengambil egomu
Menukarnya dengan kerendahan hati