Agateophobia – Takut menjadi GILA


Dunia ini semakin maju… BENAR! Namun sayangnya ternyata kemajuan di bidang teknologi berbanding terbalik dengan moral. Saat teknologi semakin berkembang, moral manusia semakin merosot. Media sosial seolah memberikan ide-ide mengenai kegilaan, kebrutalan dan kesadisan sehingga makin lama kita melihat begitu banyak berita-berita yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Hal yang paling gila adalah ketika kita, manusia, terbiasa dengan kegilaan ini sehingga kita merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dunia di mana kita tinggal. Ketika intoleransi dianggap sebagai ‘memiliki prinsip’, ketika saling mencaci dianggap sebagai diskusi dan ketika perbuatan tidak hormat dianggap sebagai bentuk aktualisasi diri.

Beberapa orang yang “normal” mulai memiliki sebuah ketakutan tersendiri. Kita takut menjadi terbiasa dengan dan bahkan menjadi bagian dari kegilaan itu. Jika ketakutan ini ditarik sampai batas ekstrim dan tak wajar, maka ketakutan itu akan berubah menjadi phobia yang bernama “agateophobia”

Agateophobia adalah ketakutan akan kegilaan, atau takut menjadi gila. Phobia ini dapat menimbulkan serangan kepanikan sewaktu-waktu yang membuat akhirnya tercipta jarak antara penderita dan keluarga / teman-teman. Ironis bukan, ketakutan akan kegilaan dapat membuat seseorang menjadi gila sungguhan.

APA PENYEBABNYA?

Tahukah Anda bahwa setiap orang memiliki batas kesabaran dan ketahanan diri yang berbeda. Hal ini bisa disebabkan faktor traumatis masa lalu, atau faktor keturunan. Tidak heran jika kita melihat ada suatu keluarga yang memiliki banyak anggota dengan penyakit jiwa dan perlu direhabilitasi.

Sebuah peristiwa dapat dianggap sebagai ‘angin lalu’ oleh seseorang, tapi dapat menimbulkan trauma yang mendalam untuk orang lainnya (bahkan dapat menimbulkan kegilaan untuk orang lain).

Takut menjadi gila yang berlebihan (Agateophobia) mungkin disebabkan karena traumatis masa lalu, atau juga karena banyaknya sejarah penderita gangguan jiwa dalam keluarga. Sebenarnya, ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri (melindungi diri dari kegilaan).

BAGAIMANA MENANGANINYA?

Penyakit jiwa adalah ketika seseorang kehilangan kendali atas pikirannya dan phobia adalah ketika pikiran seseorang dikendalikan oleh ketakutan. Ketakutan yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas pikirannya (agak membingungkan, tapi semoga Anda mengerti maksud saya).

Ada beberapa cara menangani Agateophobia. Cara pertama yang paling tidak dianjurkan dokter adalah obat penenang. Cara berikutnya yang paling banyak dianjurkan adalah NLP (Neuro-linguistic programming), hipnoterapi, konseling dan psikoterapi.

Namun ada satu cara yang paling ampuh. Cara ini setidaknya manjur pada seorang Raja besar yang pernah menderita gangguan jiwa selama tujuh masa: Nebukadnezar. Cara itu adalah:

Mengakui bahwa Tuhan berdaulat SEPENUHNYA atas hidup kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas jiwa kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas pikiran kita.

Ketika Nebukadnezar mengakui ini, Tuhan mengembalikan seluruh ingatannya kepadanya dan dia tidak lagi pernah mengalami gangguan jiwa.

LALU BAGAIMANA DENGAN DUNIA YANG GILA ITU?

Masalahnya belum selesai bukan? Masih ada dunia gila di sekeliling kita yang terus bertambah gila. Lalu kita harus bagaimana agar tidak benar-benar menjadi GILA?

Caranya sama,

Akui bahwa Tuhan berdaulat SEPENUHNYA atas hidup kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas jiwa kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas pikiran kita.

Dunia boleh menjadi gila, tapi ketika Tuhan berkuasa atas pikiran, jiwa, hati dan hidup kita,… maka kita berada di dalam tangan perlindungan-Nya yang luar biasa!

Enosiophobia: antara input, kritik dan cela


Saya dan adik saya suka bergosip, seperti umumnya wanita lain (atau mungkin lebih tepatnya berdiskusi, seperti umumnya saudara lain). Kali ini kami membicarakan sesuatu mengenai ‘benteng’. Bagaimana seseorang mungkin membangun benteng yang indah, tinggi dan tebal dalam dirinya, melindungi kesempitan pikiran yang ada di balik benteng itu.

Bagaimana seseorang yang membangun benteng itu sesungguhnya ingin menyembunyikan gubug reyot yang ada di balik benteng itu. Gubug reyot berisi kebebalan dan pikiran naif.

Anda bingung dengan isi gosip kami? Ya, seiring pertambahan usia kita jadi suka membicarakan sesuatu yang cukup berat, bukan? Setidaknya lebih berat dari masalah si anu patah hati atau si itu yang punya mobil baru.

Orang-orang pembangun benteng membutuhkan benteng-benteng itu agar orang lain tidak mengetahui betapa rapuhnya mereka. Mereka tidak ingin orang lain mengetahui betapa reyotnya bangunan yang ada di dalam.. Karena toh biasanya benteng yang tebal dan tinggi untuk melindungi rumah yang indah dan megah.

Para pembangun benteng takut orang lain menilai dirinya, apalagi mengkritiknya. Sebelum orang lain sempat menilai dirinya, mereka dengan sukacita menceritakan dirinya, biasanya lebih dari yang sebenarnya. Hiperbola adalah nama tengah mereka.

Para pembangun benteng begitu takut hingga mereka tak lagi bisa membedakan masukan, kritik, juga cela. Bagi mereka ketiganya sama saja. Sama-sama merupakan serangan; dan setiap serangan harus dilawan.

Apa Anda bisa membedakan masukan, kritik dan cela. Saya akan memberi contoh untuk membedakannya. Masukan adalah ketika seseorang yang peduli padamu memberitahumu bagaimana agar lebih baik, seperti teori baru mengupas kentang atau teknik bicara di depan umum yang lebih menarik.

Mungkin juga dia memberitahu jika ada sesuatu yang tidak pas seperti dasi yang miring atau akun media sosial yang dibajak.

Kritik adalah ketika seseorang yang peduli padamu mengoreksimu untuk sesuatu yang salah yang telah kau lakukan… Seperti jika kau bicara terlalu kasar atau terlalu cepat… Atau jika kau mengambil keputusan yang salah…

Cela adalah ketika seseorang tak menyukaimu, atau membencimu, atau   iri padamu menjadikan perbuatanmu sebagai alasan untuk membunuh karaktermu. Kebanyakan adalah perbuatanmu yang salah… Tapi mereka yang berniat mencelamu akan selalu memiliki alasan tak peduli apa perbuatanmu. Mereka sesungguhnya tak peduli pada perbuatanmu. Satu-satunya yang mereka pedulikan adalah bagaimana menjatuhkanmu.

Masih ingat si pembangun benteng? Mereka tidak suka ada yang menganggu teritorial mereka yang kecil dan reyot. Mereka menganggap bahwa masukan dan kritik sekecil apapun sebagai cela yang membahayakan. Karena itulah mereka membangun benteng dan memolesnya agar terlihat indah…

Mereka menutupi kebodohan dengan kata-kata nan indah dan mencegah kritik dengan mengatakan bahwa semuanya baik… Menutup telinga terhadap masukan… Dan menjadi pahit karena celaan…

Ada istilah khusus untul orang-orang seperti itu: Enosiophobia, yaitu ketakutan berlebihan akan kritik. Ketakutan ini begitu besar hingga mereka cenderung menghindari relasi yang dekat dengan orang lain yang lebih pintar atau pandai dari dirinya.

Ketakutan ini juga mencakup takut akan mendapat penilaian buruk dari orang lain sehingga ia mati-matian memoles diri, menjaga sikap, melatih kata-kata manis dan memakai topeng.

Ketakutan ini juga mencakup takut jika apa yang mereka lakukan akan menjadi fitnah… Oh ya!! Begitu sering bukan kita mendengar “mencegah fitnah” atau “bisi piomongeun” (takut diomongin orang)

Bukankah saya pernah menulis ini sebelumnya…? Orang-orang Enosiophobia memanggul keledai di pundak mereka karena kuatir penilaian buruk dari orang lain…

Ngomong-ngomong, apa penyebab Fobia ini?  Enosiophobia disebabkan karena beberapa faktor. Faktor paling banyak yang jadi penyebab adalah penolakan sejak anak-anak. Penolakan membuat seseorang takut melakukan kesalahan, dan takut melakukan kesalahan membuat seseorang rentan akan teguran dan kritik.

Faktor berikutnya adalah seringnya dibanding-bandingkan sejak kecil. Benteng dibuat agar tak ada yang tahu seperti apa dirinya sebenarnya… Agar tak ada yang dapat membandingkannya dengan siapapun.

Lalu bagaimana?

Jika Anda mengalami gejala penyakit sosial ini… Ada beberapa tips bagaimana Anda dapat mengobatinya…
1. Terima keadaan dirimu
2. Akui tiap kelalaian atau kesalahan
3. Terima dan hargailah masukan.
4. Pertimbangkan kritik
5. Abaikan celaan
6. Mulailah mengembangkan diri

Bukankah…
“kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak?” Amsal 24:6

Jadi tunggu apalagi… Hancurkan dinding itu, perbaiki bagian dalamnya…

Hippopotomonstrosesquipedaliophobia


Anda kesulitan membaca judul dari tulisan saya ini? Sama! Saya juga mengalami kesulitan membacanya, apalagi menuliskannya… bagaimana jika kita mengejanya: hip – po – po – to – mons – tro – ses- qui – pe – da – li – o – phobia

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, saya akan menjelaskan asal katanya:

  • Hippopotamus – “Kuda Nil”, sesuatu yang sering dihubungkan dengan sesuatu yang besar dan nama yang panjang untuk hewan
  • Monstro – “Monster”
  • Sesquipedalian – berarti “kata yang panjang”
  • Phobia – Ketakutan yang ekstrim

Continue reading

Mnemophobia


Sebuah kenangan tidak selalu baik dan tidak selalu buruk. Sebagian orang hidup di masa lalunya, menganggap kenangan sebagai suatu bagian yang tak dapat dilepaskan dari hidupnya dan beberapa orang terjebak di sana.

Saya membagi kenangan menjadi dua, kenangan pengalaman dan perasaan. Kenangan pengalaman mungkin hanya sebuah aktivitas di masa lalu yang masih kita ingat. Sebagian pengalaman mungkin membuat kita tersenyum, sebagian lain ingin kita lupakan karena menimbulkan sebuah sensasi perasaan buruk dan membuat perut kita mual.

Kenangan perasaan hanyalah sebuah kenangan akan perasaan yang dulu pernah ada namun saat ini tidak lagi kita miliki, mungkin perasaan pada orang, atau tempat tertentu. Kenangan akan perasaan seharusnya hanyalah sebuah ingatan, karena jika kita masih merasakannya, artinya itu bukan kenangan, tapi masih menjadi bagian dari hidup kita.

Tulisan ini kita akan membahas Mnemophonia, berasal dari kata Yunani Mnem dan Phobia. Mnem berarti memory, atau kenangan dan  Phobia berarti ketakutan yang tidak masuk akal. Ya, mnemophobia adalah phobia kepada kenangan atau memory masa lalu. Seorang yang menderita Mnemophobia memiliki ketakutan akan memiliki kenangan atau bahkan kehilangan kenangan (biasanya Mnemophobia jenis ini menyerang orang-orang tua, mereka takut suatu saat akan pikun dan kehilangan memori).

Setiap orang memiliki pengalaman buruk, entah itu ngompol di kelas (ngomong-ngomong saya pernah lho ngompol di kelas karena saking takutnya minta ijin ke WC waktu masih TK, hehe), pengalaman dihukum oleh guru, dipecat, perceraian, ditolak, dan pengalaman buruk lain. Sebagian pengalaman buruk dapat kita lupakan dengan mudah, sebagian lagi begitu membekas hingga kita sulit melupakannya.

Saya pernah dihukum secara keterlaluan oleh guru saya semasa SD. Waktu itu saya sekitar kelas tiga atau empat, disuruh membawa kompor minyak tanah ke sekolah dalam acara pramuka. Waktu itu Papa saya bekerja di luar kota, dan mama saya dalam keadaan pemulihan kesehatan setelah kecelakaan. Akibatnya saya tidak bisa membawa kompor minyak tanah ke sekolah. Waktu itu ada acara membuat pisang goreng. Entah apakah guru saya sedang stress atau memang dia masih terlalu muda, ia membuat keputusan yang tidak masuk akal. Pisang dimasukkan ke dalam tepung yang dicampur air dan kemudian kelompok saya disuruh menghabiskan pisang berbalut tepung mentah tersebut.

Terus terang, itu pengalaman yang tidak bisa dibilang menyenangkan. Namun, ketika mengingatnya saya sama sekali tidak merasa kesal, dendam atau jengkel pada guru saya. Justru saya merasa kasihan dan heran akan keputusannya. Beberapa dari Anda juga mungkin memiliki pengalaman walau buruk namun tidak menimbulkan kekesalan saat mengingatnya.

Namun beberapa pengalaman tetap membekas dalam perasaan kita. Membuat kita merasa kesal setiap kali mengingatnya. Seorang yang mengidap Mnemophobia mungkin memiliki terlalu banyak pengalaman buruk yang membekas sehingga membuat mereka ketakutan akan kenangan tersebut. Seorang yang mengidap Mnemophobia biasanya:

  • Menghindari percakapan mengenai masa lalu
  • Berusaha tidak terlibat pertemanan terlalu jauh karena takut mereka akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan
  • Takut pada tempat-tempat yang mengingatkan mereka pada masa lalu

Pertanyaan yang umum saya tanyakan selanjutnya adalah, apakah ini bisa disembuhkan? Jika setelah membaca penjelasan saya di atas kemudian Anda berpikir, “jangan-jangan saya menderita Mnemophobia”, ini ada beberapa berita baik untuk Anda:

Firman Tuhan berkata bahwa kasih dapat melenyapkan ketakutan (I Yohanes 4:18). Ketakutan akan masa lalu biasanya disebabkan oleh kesalahan. Pengalaman buruk dimulai dari kesalahan satu orang, bukan? Satu orang tersebut bisa saja diri kita sendiri, atau orang lain yang menyebabkan kita terluka. Ulah satu orang tersebut membuat kita saat itu merasa malu, atau marah, atau depresi atau perasaan negatif lainnya, dan perasaan tersebut begitu dalam sehingga kita sulit melupakannya untuk waktu yang lama bahkan akhirnya membuat kita takut luar biasa bahwa perasaan seperti itu akan kita rasakan lagi.

Hal pertama yang harus kita lakukan untuk sembuh dari ketakutan akan kenangan masa lalu adalah MENGAMPUNI. Jika saat itu Anda yang melakukan kesalahan, maafkan diri Anda. Ingatlah bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Bahwa kesalahan adalah suatu hal yang sangat manusiawi dan justru dapat memberi kita pelajaran yang sangat berharga. Kesalahan di masa lalu membuat kita terhindar dari kesalahan yang lebih besar di masa yang akan datang.

Jika saat itu yang melakukan kesalahan adalah orang yang Anda kasihi (biasanya ini lebih menimbulkan bekas), maafkan mereka. Ingatlah bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Ingatlah bahwa kepahitan hanya akan mengeringkan tulang dan membuat banyak penyakit dalam diri Anda.

Mintalah pada Tuhan untuk dapat memberikan Anda kasih-Nya yang dapat mengampuni kesalahan terbesar sekalipun. Ketika Anda sudah berhasil mengampuni, Anda hanya akan melihat pengalaman buruk di masa lalu sebagai suatu pelajaran berharga yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik

Hal kedua yang harus kita lakukan untuk sembuh dari ketakutan akan kenangan masa lalu adalah MENGHADAPInya. Kebanyakan psikolog meminta para pasien phobia untuk menghadapi ketakutan terbesar mereka. Jika Anda memiliki ketakutan akan kenangan, maka Anda harus menghadapinya. Tuliskan apa saja hal baik yang telah Anda alami di masa lalu. Hitunglah setiap berkat yang sudah Tuhan berikan kepada Anda dan ingatlah bagaimana pengalaman buruk sekalipun telah berkontribusi positif dalam kehidupan Anda saat ini.

Hal ketiga adalah PERCAYA dan membuktikannya. Setelah membaca dua poin di atas Anda mungkin berkata “tidak, saat ini saya terpuruk akibat pengalaman buruk itu. Saya bangkrut dan tidak tahu harus berbuat apa”. Saudara, Tuhan memiliki rencana indah untuk setiap kita. Ketika Anda percaya bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidup Anda, maka Anda akan menyerahkan kendali kepada Tuhan. Seburuk apapun masa lalu Anda, jika saat ini Anda bersama Tuhan… Dia akan membuat masa depan Anda penuh harapan.

Jangan takuti masa lalu Anda karena tanpa masa lalu itu, tidak ada Anda hari ini dan tanpa Anda hari ini, tidak akan ada Anda yang akan berhasil di masa yang akan datang.

Hal keempat adalah berTINDAK. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu. Anda mungkin justru bisa menceritakan pengalaman buruk Anda kepada orang lain sebagai suatu pembelajaran bagi mereka. Anda bisa mengajar mereka untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Anda.

Kesimpulan:

Anda sulit terlepas dari kenangan buruk? Cobalah empat langkah ini: AMPUNI – HADAPI – PERCAYA – BERTINDAK!

Athazagoraphobia



Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Sebagian meninggalkan bekas, sebagian kita lupakan begitu saja. Teman-teman semasa kecil mungkin hanya menjadi penghias album foto yang hanya dibuka sesekali, itu pun kita lupa nama mereka satu per satu. Teman-teman remaja hanya tersisa dalam kenangan, mereka yang pernah meninggalkan kenangan manis, atau mungkin juga luka dalam hati kita. Sebagian mereka mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya, baik dengan cara yang manis maupun pahit.

Semakin besar, teman-teman yang kita kenal semakin sedikit. Di bangku kuliah, kita hanya mengenal sedikit sekali orang yang duduk sekelas dengan kita, apalagi jika kombinasi mereka berganti-ganti tiap masa kuliah. Orang-orang yang akan berbekas dalam ingatan kita hanyalah beberapa orang saja. Jumlah sahabat sudah pasti lebih sedikit dari teman-teman yang hanya sekedar meminjam catatan atau satu angkutan umum.

Beberapa orang menghadapi peralihan suasana, lingkungan dan teman-teman dengan cepat. Mereka tidak merasa masalah mengganti teman-teman TK dengan teman-teman SD, teman-teman SD dengan teman-teman SD, teman-teman SD dengan SMP dan seterusnya hingga saat ini. Namun beberapa orang menghadapinya dengan lebih sulit, terutama mereka yang mengidap Athazagoraphobia.

Hari ini kita akan membahas satu phobia yang bahkan kita akan melupakan namanya setelah membaca artikel ini. Athazagoraphobia adalah perasaan takut yang amat sangat akan dilupakan, diabaikan atau tidak dipedulikan. Perasaan takut diabaikan merupakan perasaan alami umat manusia. Jika Anda memiliki anak yang masih balita, kemudian Anda menaruhnya di kursi atau box bayi dan sibuk bermain bersama bayi atau anak lain, maka apa yang akan dilakukan anak Anda? sebagian besar anak akan langsung menangis, ya.. mereka takut jika orangtua mereka melupakan dan mengabaikan mereka.

Merasa diinginkan dan dicintai dan dipedulikan, terutama oleh orang-orang yang kita cintai merupakan hal yang sangat manusiawi. Manusia diciptakan dengan kapasitas memberi dan menerima cinta satu dengan yang lain. Ketika perasaan ini ternyata bertepuk sebelah tangan, maka biasanya manusia akan merasa terluka dan patah hati. Sebagian orang dapat dengan mudah melupakan perasaan ini, sebagian lagi mengalami kesulitan, namun waktu kemudian menyembuhkannya. Nah, sebagian kecil orang yang menderita Athazagoraphobia menghadapi kesulitan luar biasa untuk menghadapi perasaan ini.

Mereka mungkin pernah terluka atau mengalami traumatis yang begitu besar sehingga mereka memiliki ketakutan yang sangat besar akan perasaan dilupakan, diabaikan atau tidak dipedulikan. Mereka mungkin menyadari bahwa perasaan mereka tidak rasional dan tidak benar, namun mereka tidak dapat mengendalikannya. Jantung mereka tiba-tiba saja berdebar-debar ketika orang yang mereka pedulikan suatu saat mengabaikan mereka atau mungkin sekedar lupa mengirimkan pesan singkat. Mereka panik ketika orang yang mereka cintai tiba-tiba berubah, walau mungkin mereka berubah karena kesibukan atau hal lain.

Percaya atau tidak, di jaman sekarang ini semakin banyak orang yang menderita Athazagoraphobia. Apalagi saat berkomunikasi menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. BBM, telephone murah (bahkan gratis), email dan media sosial membuat sebagian orang merasa bahwa keep contact harus dilakukan secara intens dan terus menerus. Temperamen atau sifat dasar mempengaruhi hal ini. Mereka yang dilahirkan dengan sifat dasar membutuhkan perhatian yang begitu besar biasanya akan sangat senang ketika seseorang mengomentari statusnya atau sekedar menyapa di BBM.

Kemudian mereka akan merasa “apa susahnya sih sekedar menyapa atau membalas BBM atau memberi komentar di media sosial” ketika perhatian yang mereka inginkan tidak diperoleh,

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkata pada teman saya bahwa saya merasa terganggu dengan kontak-kontak remaja di BBM saya. Mereka sering sekali mengirimkan broadcast message yang isinya kurang lebih mengajak kontak BBMnya untuk chat, seperti “mau chat? PM”. Bagi saya ini sangat mengganggu. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang lain, maka kita akan merasa kasihan pada mereka.

Baik, mungkin sekedar ingin diperhatikan adalah perasaan yang normal. Namun ketika perhatian ini tidak mereka dapatkan, kemudian mereka merasa panik, gugup, jantung berdebar-debar atau ketakutan yang amat sangat (seperti merasa “saya salah apa ya” atau “kok dia begitu ya. Jangan-jangan….”) maka mereka harus berhati-hati, mungkin mereka menderita Athazagoraphobia.

Kebanyakan orang yang menderita phobia jenis ini adalah mereka yang memiliki self esteem yang rendah. Mereka merasa diri mereka tidak cukup berharga untuk diperhatikan, namun mereka ingin diperhatikan. Sehingga ketika perhatian tidak mereka peroleh, apalagi dibuktikan oleh ketidakpedulian seseorang kepada dirinya, maka hal ini seperti membenarkan pemikirannya soal betapa tidak berharganya dirinya dan ini akan semakin merusak self esteem (penghargaan terhadap diri) mereka.

Saudara, jika ketika membaca ini Anda berpikir “apakah saya menderita phobia jenis ini? Dapatkah hal ini disembuhkan?”.

Tentu saja Athazagoraphobia dapat disembuhkan. Saya mengerti, jika Anda menderita Athazagoraphobia, Anda juga mungkin memiliki perasaan takut diabaikan atau dilupakan oleh Tuhan. Namun kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah melupakan atau mengabaikan Anda. Saya akan mengajak kita melihat sebuah  ayat di Yesaya 49:14 – 15

Sion berkata :TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku”. Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Hal pertama yang ingin saya sampaikan, ketika Anda merasa takut bahwa tak seorang pun mempedulikan Anda, atau orang yang Anda kasihi mengabaikan Anda, ingatlah satu hal. Tuhanmu, Pencipta semesta tak melupakan dan mengabaikanmu. Ia bahkan melukiskan Anda di telapak tangan-Nya (ayat 16). Dia mengenal Anda sejak dalam kandungan dan Dia tidak akan melupakan Anda sampai saatnya tiba Anda dipanggil pulang dan hidup bersama-Nya.

Yang harus Anda ingat adalah, manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat, mengasihi dan mempedulikan sesamanya, namun Tuhan memiliki kapasitas yang tak terbatas untuk mengasihi dan memperhatikan Anda.

Anda mungkin menjawab “tapi Dia juga mengabaikan saya. Dia membiarkan saya mengalami masalah dan tidak menjawab ketika saya meminta pertolongan.

Masalah seringkali datang dengan alasan yang berbeda. Mungkin suatu kali kita melupakan Dia, kita menulikan telinga terhadap peringatan-peringatan-Nya. Kita melakukan apa yang tidak Dia inginkan. Kemudian kita menanggung akibatnya…. Kita berteriak kepada Tuhan “jangan abaikan aku, ya Tuhan. Bantu aku keluar dari masalahku.” Jika ini yang terjadi, sebuah ayat dalam Ratapan 3:39:40 mungkin dapat membantu kita:

Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya. Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan.

Daud pernah melakukan kesalahan satu kali. Ia mengambil istri Uria, menghamililinya, berusaha menyembunyikan perbuatannya dengan berencana seolah-olah istri Uria hamil karena suaminya, tidak berhasil, kemudian membuat skenario pembunuhan Uria dan mengambil istrinya. Tuhan tidak suka hal ini, putera Daud akibat zinahnya dengan istri Batsyeba diberi penyakit yang parah. Apa yang dilakukan Daud mungkin bisa menjadi contoh bagi kita. (Anda bisa membaca kisahnya di sini)

Ia meratap dan memohon, meminta Tuhan menyelidiki dan mengampuni dosanya. Tuhan menghukumnya untuk ini semua, ya! Puteranya mati. Tapi selanjutnya Tahan tidak meninggalkannya… Bahkan menyebut Daud sebagai “orang yang berkenan di hati-Ku”

Masalah mungkin juga datang sebagai ujian… Seorang teman mengirim gambar seperti di samping kiri ini. Ketika masalah datang sebagai ujian. Buktikan pada Guru Agung kita bahwa kita tetap tidak melupakan Dia dan mengandalkan Dia seberat apapun masalah yang menimpa kita.

Ada banyak obat penenang yang dapat Anda pakai untuk menyembunyikan kepanikan dan phobia Anda. Namun Anda bisa melupakan obat-obatan itu ketika Anda berpaling pada Tuhan dan mengingat dalam hati Anda… Tuhan tidak pernah melupakan Anda…. Dan kalimat seperti yang dikatakan Daud ini dapat menjadi obat bagi Anda

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 118:6)

Hal kedua yang harus Anda ingat adalah… Kita hidup di dunia bukan untuk menerima tapi untuk memberi. Tuhan mengutus kita untuk menjadi terang di tengah-tengah gelap. Jika Anda tidak mendapat perhatian atau kasih seperti yang Anda harapkan dari seseorang. Ada begitu banyak orang yang membutuhkan perhatian dan kasih Anda… salurkan pada mereka.

Ketika Yesus disalibkan, Dia diabaikan oleh seluruh murid-Nya yang kocar kacir ketakutan… dan bagaimana dengan orang-orang yang berteriak “salibkan Dia, salibkan Dia”

Namun hal ini tidak mengubah kasih-Nya kepada mereka, juga kepada kita. Dia tetap membuktikan bahwa kualitas pribadi seseorang tidak ditentukan oleh orang lain, tapi oleh dirinya sendiri. Kualitas dan harga diri kita tidak ditentukan oleh apakah orang mempedulikan atau mengasihi kita, tapi apakah kita mengasihi atau mempedulikan orang lain. Jadi jika suatu saat Anda diabaikan atau dilupakan orang, tunjukkan kualitas Anda dengan tidak mengabaikan dan melupakan orang lain.

Kesimpulan:

Athazagoraphobia adalah takut diabaikan, tidak dipedulikan dan dilupakan. Jika Anda salah satu penderita Athazagoraphobia, obat bagi Anda adalah:

  1. Ingat bahwa Tuhan tidak pernah melupakan Anda
  2. Tunjukkan kualitas diri Anda dengan membagikan kasih, kepedulian dan perhatian Anda pada orang lain

Catagelophobia


Sudah lama saya tidak menulis tentang Phobia (walau gak ada juga yang mengharuskan menulis tentang Phobia, tapi menurut saya, Phobia adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dibicarakan). Sebelum kita masuk ke dalam Catagelophobia,  mari kita ulas sedikit tentang Phobia.

Kalau Anda membaca dalam beberapa artikel tentang Phobia, maka gejala umum yang menimpa orang yang menderita Phobia akut terhadap sesuatu adalah mulut kering, jantung berdebar-debar, nafas pendek-pendek, berkeringat dingin, bahkan pingsan. Namun kenyataannya, dalam kehidupan kita sehari-hari, Phobia akut seperti itu sangat jarang, bukan? Continue reading

Zeusophobia


Hari ini, setelah sekian lama, kembali saya ajak kita semua belajar tentang sebuah phobia. Phobia berikutnya yang akan kita bahas adalah ZEUSOPHOBIA. Nama lain dari Zeusophobia adalah Theophobia, yaitu ketakutan akan Tuhan atau dewa-dewa.

Rasa takut pada Zeusophobia ini berbeda dengan rasa takut yang Tuhan maksudkan dalam Ulangan 5:29 “Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!” dan pada Ulangan 6:13 “Engkau harus takut akan TUHAN, kepada DIa haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah” dan banyak ayat-ayat lainnya. Continue reading

Gnosiophobia


Hari ini kita akan membahas sebuah jenis ketakutan yang banyak menimpa orang-orang yang sudah berumur (walaupun tidak jarang juga menimpa anak muda). Sebuah penyakit psikologis yang umum dan sering dijumpai dalam jaman modern yang sering berkembang ini.

Penyakit Gnosiophobia ini paling sering saya jumpai dan sering membuat saya kesal, apalagi dalam profesi saya sebagai konsultan manajemen. Ada saja orang-orang penderita penyakit Gnosiophobia ini yang resisten dan menentang perubahan.

Tentu Anda bertanya-tanya, apa itu Gnosiophobia…? Continue reading

Gelophobia


Ketika membaca judul ini tentu Anda semua akan tertawa. Sebagian Anda mungkin berpikir bahwa Gelophobia adalah ketakutan dikata-katai “Gelo” oleh orang lain.

Beberapa hari yang yang lalu saya mendapat kata ini dari seorang teman (Thank you Ronny:-), merasa tertarik dan memutuskan untuk menuliskannya di sini.

Gelophobia, atau gelotophobia, atau geliophobia berasal dari bahasa Yunani “Gelos” yang berarti tertawa dan “phobias” yang berarti takut. Continue reading

Allodoxaphobia


Hari ini kita masih membahas tentang Phobia. Kalau kemarin kita membahas Panophobia dan Taphephobia, hari ini saya kita akan membahas Allodoxaphobia.

Allodoxaphobia adalah takut pada pendapat orang lain. Setiap orang (normal) mengasihi dirinya sendiri melebihi kasihnya kepada orang lain (itulah mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi orang lain SEPERTI kepada diri sendiri).

Seorang normal yang mengasihi dirinya sendiri tidak suka ketika ada orang lain yang tidak mengasihinya atau berpandangan buruk mengenai dirinya. Dalam taraf tertentu yang berlebihan, penyakit psikologis ini dinamakan Allodoxaphobia, yaitu ketika seseorang merasa ketakutan berlebihan akan pendapat orang lain.  Continue reading