Athazagoraphobia


Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Sebagian meninggalkan bekas, sebagian kita lupakan begitu saja. Teman-teman semasa kecil mungkin hanya menjadi penghias album foto yang hanya dibuka sesekali, itu pun kita lupa nama mereka satu per satu. Teman-teman remaja hanya tersisa dalam kenangan, mereka yang pernah meninggalkan kenangan manis, atau mungkin juga luka dalam hati kita. Sebagian mereka mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya, baik dengan cara yang manis maupun pahit.

Semakin besar, teman-teman yang kita kenal semakin sedikit. Di bangku kuliah, kita hanya mengenal sedikit sekali orang yang duduk sekelas dengan kita, apalagi jika kombinasi mereka berganti-ganti tiap masa kuliah. Orang-orang yang akan berbekas dalam ingatan kita hanyalah beberapa orang saja. Jumlah sahabat sudah pasti lebih sedikit dari teman-teman yang hanya sekedar meminjam catatan atau satu angkutan umum.

Beberapa orang menghadapi peralihan suasana, lingkungan dan teman-teman dengan cepat. Mereka tidak merasa masalah mengganti teman-teman TK dengan teman-teman SD, teman-teman SD dengan teman-teman SD, teman-teman SD dengan SMP dan seterusnya hingga saat ini. Namun beberapa orang menghadapinya dengan lebih sulit, terutama mereka yang mengidap Athazagoraphobia.

Hari ini kita akan membahas satu phobia yang bahkan kita akan melupakan namanya setelah membaca artikel ini. Athazagoraphobia adalah perasaan takut yang amat sangat akan dilupakan, diabaikan atau tidak dipedulikan. Perasaan takut diabaikan merupakan perasaan alami umat manusia. Jika Anda memiliki anak yang masih balita, kemudian Anda menaruhnya di kursi atau box bayi dan sibuk bermain bersama bayi atau anak lain, maka apa yang akan dilakukan anak Anda? sebagian besar anak akan langsung menangis, ya.. mereka takut jika orangtua mereka melupakan dan mengabaikan mereka.

Merasa diinginkan dan dicintai dan dipedulikan, terutama oleh orang-orang yang kita cintai merupakan hal yang sangat manusiawi. Manusia diciptakan dengan kapasitas memberi dan menerima cinta satu dengan yang lain. Ketika perasaan ini ternyata bertepuk sebelah tangan, maka biasanya manusia akan merasa terluka dan patah hati. Sebagian orang dapat dengan mudah melupakan perasaan ini, sebagian lagi mengalami kesulitan, namun waktu kemudian menyembuhkannya. Nah, sebagian kecil orang yang menderita Athazagoraphobia menghadapi kesulitan luar biasa untuk menghadapi perasaan ini.

Mereka mungkin pernah terluka atau mengalami traumatis yang begitu besar sehingga mereka memiliki ketakutan yang sangat besar akan perasaan dilupakan, diabaikan atau tidak dipedulikan. Mereka mungkin menyadari bahwa perasaan mereka tidak rasional dan tidak benar, namun mereka tidak dapat mengendalikannya. Jantung mereka tiba-tiba saja berdebar-debar ketika orang yang mereka pedulikan suatu saat mengabaikan mereka atau mungkin sekedar lupa mengirimkan pesan singkat. Mereka panik ketika orang yang mereka cintai tiba-tiba berubah, walau mungkin mereka berubah karena kesibukan atau hal lain.

Percaya atau tidak, di jaman sekarang ini semakin banyak orang yang menderita Athazagoraphobia. Apalagi saat berkomunikasi menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. BBM, telephone murah (bahkan gratis), email dan media sosial membuat sebagian orang merasa bahwa keep contact harus dilakukan secara intens dan terus menerus. Temperamen atau sifat dasar mempengaruhi hal ini. Mereka yang dilahirkan dengan sifat dasar membutuhkan perhatian yang begitu besar biasanya akan sangat senang ketika seseorang mengomentari statusnya atau sekedar menyapa di BBM.

Kemudian mereka akan merasa “apa susahnya sih sekedar menyapa atau membalas BBM atau memberi komentar di media sosial” ketika perhatian yang mereka inginkan tidak diperoleh,

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkata pada teman saya bahwa saya merasa terganggu dengan kontak-kontak remaja di BBM saya. Mereka sering sekali mengirimkan broadcast message yang isinya kurang lebih mengajak kontak BBMnya untuk chat, seperti “mau chat? PM”. Bagi saya ini sangat mengganggu. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang lain, maka kita akan merasa kasihan pada mereka.

Baik, mungkin sekedar ingin diperhatikan adalah perasaan yang normal. Namun ketika perhatian ini tidak mereka dapatkan, kemudian mereka merasa panik, gugup, jantung berdebar-debar atau ketakutan yang amat sangat (seperti merasa “saya salah apa ya” atau “kok dia begitu ya. Jangan-jangan….”) maka mereka harus berhati-hati, mungkin mereka menderita Athazagoraphobia.

Kebanyakan orang yang menderita phobia jenis ini adalah mereka yang memiliki self esteem yang rendah. Mereka merasa diri mereka tidak cukup berharga untuk diperhatikan, namun mereka ingin diperhatikan. Sehingga ketika perhatian tidak mereka peroleh, apalagi dibuktikan oleh ketidakpedulian seseorang kepada dirinya, maka hal ini seperti membenarkan pemikirannya soal betapa tidak berharganya dirinya dan ini akan semakin merusak self esteem (penghargaan terhadap diri) mereka.

Saudara, jika ketika membaca ini Anda berpikir “apakah saya menderita phobia jenis ini? Dapatkah hal ini disembuhkan?”.

Tentu saja Athazagoraphobia dapat disembuhkan. Saya mengerti, jika Anda menderita Athazagoraphobia, Anda juga mungkin memiliki perasaan takut diabaikan atau dilupakan oleh Tuhan. Namun kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah melupakan atau mengabaikan Anda. Saya akan mengajak kita melihat sebuah  ayat di Yesaya 49:14 – 15

Sion berkata :TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku”. Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Hal pertama yang ingin saya sampaikan, ketika Anda merasa takut bahwa tak seorang pun mempedulikan Anda, atau orang yang Anda kasihi mengabaikan Anda, ingatlah satu hal. Tuhanmu, Pencipta semesta tak melupakan dan mengabaikanmu. Ia bahkan melukiskan Anda di telapak tangan-Nya (ayat 16). Dia mengenal Anda sejak dalam kandungan dan Dia tidak akan melupakan Anda sampai saatnya tiba Anda dipanggil pulang dan hidup bersama-Nya.

Yang harus Anda ingat adalah, manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat, mengasihi dan mempedulikan sesamanya, namun Tuhan memiliki kapasitas yang tak terbatas untuk mengasihi dan memperhatikan Anda.

Anda mungkin menjawab “tapi Dia juga mengabaikan saya. Dia membiarkan saya mengalami masalah dan tidak menjawab ketika saya meminta pertolongan.

Masalah seringkali datang dengan alasan yang berbeda. Mungkin suatu kali kita melupakan Dia, kita menulikan telinga terhadap peringatan-peringatan-Nya. Kita melakukan apa yang tidak Dia inginkan. Kemudian kita menanggung akibatnya…. Kita berteriak kepada Tuhan “jangan abaikan aku, ya Tuhan. Bantu aku keluar dari masalahku.” Jika ini yang terjadi, sebuah ayat dalam Ratapan 3:39:40 mungkin dapat membantu kita:

Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya. Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan.

Daud pernah melakukan kesalahan satu kali. Ia mengambil istri Uria, menghamililinya, berusaha menyembunyikan perbuatannya dengan berencana seolah-olah istri Uria hamil karena suaminya, tidak berhasil, kemudian membuat skenario pembunuhan Uria dan mengambil istrinya. Tuhan tidak suka hal ini, putera Daud akibat zinahnya dengan istri Batsyeba diberi penyakit yang parah. Apa yang dilakukan Daud mungkin bisa menjadi contoh bagi kita. (Anda bisa membaca kisahnya di sini)

Ia meratap dan memohon, meminta Tuhan menyelidiki dan mengampuni dosanya. Tuhan menghukumnya untuk ini semua, ya! Puteranya mati. Tapi selanjutnya Tahan tidak meninggalkannya… Bahkan menyebut Daud sebagai “orang yang berkenan di hati-Ku”

Masalah mungkin juga datang sebagai ujian… Seorang teman mengirim gambar seperti di samping kiri ini. Ketika masalah datang sebagai ujian. Buktikan pada Guru Agung kita bahwa kita tetap tidak melupakan Dia dan mengandalkan Dia seberat apapun masalah yang menimpa kita.

Ada banyak obat penenang yang dapat Anda pakai untuk menyembunyikan kepanikan dan phobia Anda. Namun Anda bisa melupakan obat-obatan itu ketika Anda berpaling pada Tuhan dan mengingat dalam hati Anda… Tuhan tidak pernah melupakan Anda…. Dan kalimat seperti yang dikatakan Daud ini dapat menjadi obat bagi Anda

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 118:6)

Hal kedua yang harus Anda ingat adalah… Kita hidup di dunia bukan untuk menerima tapi untuk memberi. Tuhan mengutus kita untuk menjadi terang di tengah-tengah gelap. Jika Anda tidak mendapat perhatian atau kasih seperti yang Anda harapkan dari seseorang. Ada begitu banyak orang yang membutuhkan perhatian dan kasih Anda… salurkan pada mereka.

Ketika Yesus disalibkan, Dia diabaikan oleh seluruh murid-Nya yang kocar kacir ketakutan… dan bagaimana dengan orang-orang yang berteriak “salibkan Dia, salibkan Dia”

Namun hal ini tidak mengubah kasih-Nya kepada mereka, juga kepada kita. Dia tetap membuktikan bahwa kualitas pribadi seseorang tidak ditentukan oleh orang lain, tapi oleh dirinya sendiri. Kualitas dan harga diri kita tidak ditentukan oleh apakah orang mempedulikan atau mengasihi kita, tapi apakah kita mengasihi atau mempedulikan orang lain. Jadi jika suatu saat Anda diabaikan atau dilupakan orang, tunjukkan kualitas Anda dengan tidak mengabaikan dan melupakan orang lain.

Kesimpulan:

Athazagoraphobia adalah takut diabaikan, tidak dipedulikan dan dilupakan. Jika Anda salah satu penderita Athazagoraphobia, obat bagi Anda adalah:

  1. Ingat bahwa Tuhan tidak pernah melupakan Anda
  2. Tunjukkan kualitas diri Anda dengan membagikan kasih, kepedulian dan perhatian Anda pada orang lain
Advertisements