Catagelophobia


Sudah lama saya tidak menulis tentang Phobia (walau gak ada juga yang mengharuskan menulis tentang Phobia, tapi menurut saya, Phobia adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dibicarakan). Sebelum kita masuk ke dalam Catagelophobia,  mari kita ulas sedikit tentang Phobia.

Kalau Anda membaca dalam beberapa artikel tentang Phobia, maka gejala umum yang menimpa orang yang menderita Phobia akut terhadap sesuatu adalah mulut kering, jantung berdebar-debar, nafas pendek-pendek, berkeringat dingin, bahkan pingsan. Namun kenyataannya, dalam kehidupan kita sehari-hari, Phobia akut seperti itu sangat jarang, bukan?

Adik saya takut pada anjing, namun apakah dapat dikatakan dia seorang Cynophobia, atau sekedar takut saja? Apakah batasan phobia adalah seperti gejala yang saya sebutkan di atas?

Phobia berasa dari bahasa Yunani Phobos yang berarti takut. Namun digunakan dalam istilah psikologis dan maknanya bergeser menjadi tidak sekedar takut, namun “ketakutan berlebihan terhadap suatu obyek”.

Perasaan takut adalah sesuatu yang manusiawi, saya pernah membahasnya di sini. Namun takut terhadap obyek yang (menurut orang lain) tidak masuk akal, merupakan suatu Phobia, bervariasi mulai dari Phobia ringan, hingga akut.

Phobia dapat terjadi karena trauma masa kecil ditunjang oleh sifat bawaan tertentu yang dimiliki seseorang, khususnya untuk jenis Social Phobia (Phobia yang melibatkan situasi social).

Nah, yang akan kita bicarakan hari ini adalah Phobia yang termasuk dalam Social Phobia, yaitu Catagelophobia. Bagi Anda orang Indonesia, khususnya Sunda, mungkin akan tersenyum jika mendengar kata ini. Saya tidak mengada-ada, Catagelophobia merupakan salah satu jenis phobia dan Anda tidak boleh menuliskannya terpisah seperti Cata-GELO-phobia, walau agak nyambung juga antara “Gelo” dengan Catagelophobia (Gelo dalam bahasa Sunda merupakan makian yang berarti gila). Mungkin hal tersebut akan membuat Anda mudah mengingat jenis phobia ini.

Catagelophobia adalah ketakutan seseorang akan dipermalukan.  Tidak ada seorang pun yang senang dipermalukan, saya tidak… Anda juga tidak. Namun jika Anda memiliki ketakutan yang berlebihan akan dipermalukan, mungkin Anda menderita catagelophobia. Jika saat membaca ini Anda berpikir saya sedang membicarakan dan mempermalukan Anda di depan umum atau media sosial, bisa jadi Anda menderita Catagelophobia (Jangan salah sangka, saya benar-benar tidak sedang menyindir siapapun!)

Catagelophobia disebabkan oleh kombinasi antara sifat bawaan dan trauma masa kecil. Pada beberapa kasus mungkin ditambah bumbu “kondisi keluarga dan lingkungan yang tidak harmonis” seperti kurangnya kasih sayang dan bagaimana orangtua menuntut anaknya untuk selalu tampil sempurna.

Anda mungkin bertanya, “sifat bawaan yang bagaimana?”

Setiap orang memiliki sifat bawaannya masing-masing yang unik. Sifat bawaan itu terlihat sejak seseorang masih kanak-kanak, bahkan bayi. Ada beberapa bayi yang tampak begitu serius, ada bayi yang tampak begitu galak, ada bayi yang terlihat ceria dan ada yang terlihat tenang dan kalem.

Saya pernah menemukan ada anak yang secara alami marah ketika ia melakukan kesalahan dan orang lain menertawakannya, sementara anak lain mungkin bersikap tidak peduli, atau menangis, atau malah senang karena merasa telah membuat orang lain tertawa.

Tindakan konyol yang menyebabkan dirinya ditertawakan pada suatu kondisi tertentu bisa menyebabkan seorang anak (atau remaja) merasa trauma, khususnya anak-anak yang memiliki kecenderungan marah atau menangis saat orang lain menertawakannya seperti yang saya jelaskan pada alinea sebelumnya. Ketika trauma ini terjadi, maka jika tidak segera di atasi, ada kemungkinan anak itu akan mengalami Catagelophobia.

Pernahkan Anda melihat orang yang merasa tersinggung bahkan marah saat ada orang lain tertawa? Atau orang yang mukanya segera menjadi merah dan menarik diri ketika melakukan tindakan konyol yang tidak disengaja? Atau orang yang lebih suka mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain karena takut melakukan kesalahan? Mereka mungkin memiliki kecenderungan Catagelophobia.

Lalu bagaimana ini bisa diatasi?

Pada kasus terparah (penderita menunjukkan gejala ekstrim seperti jantung berdebar-debar, mulut kering, nafas pendek-pendek, dst), penderita membutuhkan bantuan terapis. Namun kita jarang menemukan kasus sampai seperti ini, bukan?

Bagi Anda guru dan orangtua, Anda akan dapat segera mengenali jika murid atau putera/i Anda mengidap gejala awal Catagelophobia. Ketika dulu saya masih mengajar di salah satu sekolah swasta, saya pernah menemukan sebuah kasus di mana seorang siswa SMP karena sudah tidak tahan lagi memutuskan untuk mengambil pisau dari dapur guru untuk menghabisi temannya. Alasannya karena temannya ini menjadi pemicu teman-teman lainnya menertawakannya.

Mungkin murid atau anak-anak Anda tidak separah siswa yang saya ceritakan di atas, tapi ketika seorang anak bereaksi berlebihan ketika ia ditertawakan, maka Anda harus segera menolongnya. Ketika seorang anak secara berlebihan ingin tampil sempurna, maka Anda harus segera menolongnya. Tapi bagaimana? Berikut saya akan memberikan beberapa tips pencegahan dan pertolongan pada penderita Catagelophobia.

Kenali dengan baik anak atau murid Anda.
Seperti yang telah saya katakan di awal tadi, setiap anak memiliki sifat bawaan yang unik. Kenali sedini mungkin sifat bawaan ini. Beberapa anak dapat dimotivasi dengan kalimat negatif, namun anak-anak lainnya harus dimotivasi dengan kalimat positif.

Tidak ada yang suka dibandingkan
Banyak orangtua suka membandingkan anaknya dengan anak saudara atau teman atau kerabatnya. Mereka seperti menemukan “anak impian” dalam diri anak orang lain, kemudian memaksakan anak-anak mereka memiliki sifat impian tersebut. Sebenarnya, masalahnya sederhana, “anak impian” tersebut mungkin memiliki sifat yang mirip / sama seperti orangtua ini, sementara anaknya berbeda. Sekali lagi, kenali anak-anak atau murid Anda dengan baik, hargai keunikannya, jangan bandingkan dengan orang lain.

Jangan menuntut secara berlebihan
Beberapa orangtua yang perfectionist seringkali memaksa anak-anak mereka untuk perfectionist. Tidak salah bersikap sempurna, tapi pertanyaannya, standar siapa yang dipakai? Ajari anak mengenai Tuhan, tata krama, sopan santun, etika, dan karakter. Jangan ajari mereka untuk tidak pernah berbuat salah, melainkan untuk belajar dari kesalahan. Dua hal itu memiliki perbedaan yang signifikan.

Jangan menjadikan murid-murid Anda sebagai bahan olok-olok 
Pernahkah Anda menemukan guru yang suka mengolok-olok siswanya? Beberapa guru secara tidak sengaja mungkin pernah melakukannya. Saat dirinya sedang penat dan salah seorang siswanya melakukan kesalahan siapapun tergoda untuk membentak atau mengata-ngatai siswanya: “kamu ini bodoh atau apa, kenapa terus menerus melakukan kesalahan”. Hati-hati, para guru, ini bisa menjadi sebuah pengalaman traumatis dan cikal bakal Catagelophobia.

Hati-hati dengan meng”anak-emas” kan siswa / anak
Merupakan suatu hal yang manusiawi jika kita lebih menyukai anak yang cantik daripada yang tidak, atau anak yang pintar daripada anak yang kurang pintar, atau anak yang baik daripada anak yang nakal. Tapi tahukah Anda, beberapa anak emas cenderung mem’bully’ anak lainnya dan ini pun dapat menjadi pengalaman traumatis tersendiri bagi anak yang dibully.

Beritahu siswa atau anak Anda bahwa mereka istimewa, dan bahwa Tuhan dan Anda mengasihi mereka apa adanya
Pengidap Catagelophobia memiliki masalah dengan penghargaan terhadap diri sendiri sejak ia kecil. Sedini mungkin beritahu mereka bahwa mereka ciptaan Tuhan yang istimewa, dan betapa Tuhan, mama dan papa mengasihi mereka. Katakan pada mereka bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan, dan bahwa orang yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang belajar dari kesalahan. Katakan juga pada mereka bahwa orang besar adalah orang yang dapat menertawakan diri mereka ketika salah, namun tidak takut memperbaiki diri sesudahnya.

Ajarkan etika dan sopan santun sejak dini
Manusia cenderung mengasihi diri mereka sendiri lebih daripada orang lain. Dalam usia pra-remaja hingga remaja biasanya rasa sayang terhadap diri sendiri ini menjadi terlalu berlebihan sehingga mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada perasaan orang lain. Beberapa anak merasa tidak bersalah ketika mem-bully temannya habis-habisan. Sejak dini, ajari mereka untuk “mengasihi orang lain seperti dirinya sendiri” dan “perlakukan orang lain seperti kau ingin diperlakukan”.

Ajari mereka bahwa berbisik-bisik di depan orang lain adalah hal yang tidak sopan. Ajari mereka untuk membantu orang yang sedang kesulitan dan bukannya menertawakan mereka.

Bicara empat mata, bantu mereka mencari solusi
Untuk anak-anak / orang dewasa yang sudah menunjukkan gejala Catagelophobia dalam batas wajar (tidak berlebihan), Anda dapat mengajak mereka bicara saat gejala seperti muka memerah, menangis, nafas pendek-pendek sudah terlihat. Bicaralah empat mata dengan mereka, dan jika mereka ditertawakan karena suatu sebab, bantu mereka untuk menemukan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi.

 

Jika Anda merasa memiliki kecenderungan Catagelophobia, saya ingin katakan pada Anda sebuah kabar baik: Semua orang melakukan kesalahan! Ketika Anda ditertawakan, itu karena Anda bukanlah bayangan yang tak terlihat, mereka memperhitungkan Anda. Ikutlah tertawa bersama mereka, katakan maaf jika Anda salah, dan berjanjilah dalam hati untuk memperbaiki setiap kesalahan yang mungkin telah Anda buat!

Jika Anda tidak merasa memiliki kecenderungan Catagelophobia, bantulah sekeliling Anda dengan bersikap sopan. Jangan berbisik-bisik di depan umum, jangan menertawakan ketika seharusnya Anda membantu.

Saya rasa tulisan saya kali ini sudah terlalu panjang… hehehe… semoga saya tidak membuat Anda bosan. Sampai jumpa di phobia berikutnya 🙂

Advertisements