Tokoh Antagonis dalam Kehidupan


Dalam sinetron atau film laga, kamu tak dapat memilih peran. Sekali sutradara menetapkanmu sebagai peran antagonis, maka marah-marah atau kelicikan, atau kecurangan, atau kejahatan yang harus kau perankan sepanjang film.

Tapi dalam kehidupan nyata, kamu punya pilihan. Hidup ini bukan panggung sandiwara… kamu punya pilihan untuk menentukan peranmu dalam kehidupan.

Banyak orang berkata bahwa kehidupan sudah digariskan dan manusia tidak memiliki kesempatan untuk memilih. Itu tidak benar! Kelahiranmu memang digariskan, jenis kelaminmu digariskan, orang tuamu digariskan, tapi peranmu dalam dunia adalah pilihanmu. Continue reading “Tokoh Antagonis dalam Kehidupan”

Advertisements

Pilihan untuk kehidupan


Anakku,
Sebelum kau dilahirkan,
Kau bahkan tak memiliki pilihan untuk memilih
Sang Pencipta memilihkan untukmu,
Menaruhmu dalam rahim ibumu,
Itulah kenapa…
Hidupmu disebut anugerah

Selagi kau masih sangat kecil,
Kau tak memiliki banyak pilihan,
Bahkan hampir tak ada
Kami orang tuamu memilihkan untukmu,
Makanan yang kau makan,
Minuman yang kau minum,
Baju yang kau pakai,
Itulah kenapa…
Kami disebut orang tuamu,
Itulah kenapa…
Kami bertanggungjawab penuh atasmu Continue reading “Pilihan untuk kehidupan”

Rendah Hati dan Lemah Lembut


Sesuai janji saya kemarin di blog saya yang lain (http://greissiadiary.wordpress.com), hari ini saya akan menulis tentang kerendahan hati menurut Alkitab.

Sebagian orang menganggap bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang tidak banyak bicara… Lalu, apakah kemudian seorang sanguin yang suka bicara adalah orang yang tidak rendah hati?

Sebagian orang menganggap bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang sederhana dan tidak berlebihan… Lalu, apakah kemudian aktor dan aktris adalah orang yang tidak rendah hati?

Teman saya menganggap bahwa orang yang rendah hati adalah orang yang tidak suka menunjukkan karyanya di depan umum… Lalu, apakah kemudian seniman dan seniwati, para pelukis dan penari adalah orang yang tidak rendah hati? Continue reading “Rendah Hati dan Lemah Lembut”

Kenalkan,…namaku PILIHAN


Kenalkan, namaku “Pilihan”
Aku adalah sebuah persimpangan
Ya, persimpangan pada jalanmu
Kau tak bisa meneruskan perjalanan
…tanpa melewatiku

Kenalkan, namaku “Pilihan”
Aku adalah sebuah perhentian
Setelah masa-masa sulit
Setelah perjalanan yang melelahkan
Setelah badai yang melanda hidupmu Continue reading “Kenalkan,…namaku PILIHAN”

How do you know Him?


Some people know Him as a long hair man
Live in the early centuries
Wearing long clothes
Not an expensive one

Some people know Him as an ordinary carpenter
Comes from ordinary family
Has an ordinary face
Living an ordinary life

Some people know Him as an eccentric teacher
Teaching from hills to hills
Teaching from fishing boat
Teaching something different
About kindness and love Continue reading “How do you know Him?”

Prioritas!! Sebuah cerpen sederhana


Hari itu adalah hari penentu kelulusannya. Setelah dua belas tahun sekolah, akhirnya tibalah hari Ujian Nasional, hari yang ditunggu-tunggu seluruh siswa SMA di Indonesia.

Dia sudah belajar sejak beberapa hari yang lalu, tidak ada kesulitan baginya, dia adalah bintang kelas sejak dulu.

Ibunya menaruh harapan padanya. Mereka memang bukan dari keluarga kaya, apalagi setelah ayahnya meninggal. Tapi ibunya berjanji bahwa dia tidak perlu bekerja selepas sekolah, hanya perlu belajar rajin untuk masuk universitas negeri ternama, dan ibunya akan berusaha mencukupi semuanya.

Di sekolah, ia termasuk salah satu siswa berprestasi, semua orang menyukainya Ya, semua orang kecuali Dimas, si anak orang kaya itu. Dimas menganggapnya saingan karena dulu sebelum ia pindah ke sekolah ini, Dimas adalah juara umum sekolah, tapi sekarang tidak lagi sejak ia masuk. Continue reading “Prioritas!! Sebuah cerpen sederhana”

One book from you for them…


Saat ini, buku Letters from Parents sedang naik cetak… rencana semula untuk launching bulan Desember terpaksa diundur menjadi Januari. Bagi yang belum tahu, buku Letters from Parents berisi dua puluh topik nasihat orangtua untuk anak. Buku ini ditujukan bagi orangtua, srbagai inspirasi dalam memberi wejangan hikmat untuk putra-putrinya.

Untuk memberi gambaran, berikut saya kutip beberapa endorsrment untuk buku ini:

image

image

Menyadari bahwa pembangunan bangsa dimulai dari keluarga tanpa memandang lapisan dan golongan, kami memutuskan untuk membeti buku ini secara cuma-cuma pada mrreka yang kurang mampu.

Kami mengajak Anda berpartisipasi dalam pembangunan bangsa ini. Untuk setiap buku yang Anda beli, ada satu buku gratis yang akan dibagikan, di mana laporan pembagiannya nanti dapat Anda lihat di http://www.lettersfromparents.com (aktif per Januari)

Bagi Saudara yang memiliki info mengenai komunitas yang membutuhkan, Anda dapat email saya di greissia@yahoo.com.

Jika Anda memiliki perusahaan atau organisasi yang berniat memberikan buku ini pada suatu komunitas, Anda juga dapat menghubungi saya. Jika Anda memberi minimal 500 buku, kami akan mencetak nama organisasi atau perusahaan Anda di buku yang akan dibagikan.

Untuk harga buku, akan saya infokan kemudian, yang jelas ada perbedan harga untuk pembelian individu  dan organisasi yang membeli untuk dibagikan.

Sekian dulu info untuk buku ini…. mohon doa Anda…. untuk Indonesia yang lebih baik.

Balas dendam sosial


Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ini kalimat yang banyak diucapkan orangtua. Biasanya diucapkan ketika anak-anak mereka mulai “Meragukan otoritas” mereka. Ketika anak mereka berpacaran dengan orang yang tidak mereka setujui, ketika anak mereka melakukan hobi yang tidak mereka setujui, ketika anak mereka ingin kuliah di jurusan yang tidak mereka setujui, dll.

Apapun alasannya, pada kenyataannya semua orangtua memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Titik. Tunggu…. tulisan saya belum selesai… bukan itu inti dari tulisan ini.

Continue reading “Balas dendam sosial”

Halloween… apa sih?


Di beberapa tempat yang memiliki akar dari luar negeri, seperti Gold’s Gym, akhir Oktober merupakan saat di mana dekorasi labu dan pernak-pernik halloween dipasang. Lucunya, di Gold’s Gym Indonesia, mereka memasang pocong dengan wajah berteriak seperti dalam film the Scream yang berdiri disamping peti mati, ya mungkin percampuran budaya (di luar negeri kan ga ada pocong).

Ya, 31 Oktober merupakan hari yang dirayakan sebagai Halloween. Tapi sebenarnya apa itu Halloween, dan apakah sebagai orang Kristen kita boleh merayakannya? Continue reading “Halloween… apa sih?”

MUNAFIK yuk!!


Minggu kemarin adik saya cerita tentang seorang pendeta besar yang bersikap “jutek” dan menolak bersalaman dengan seseorang tanpa alasan yang jelas. Jadi ceritanya pendeta besar ini lagi salaman dengan sekelompok guru SM. Entah karena alasan tidak suka atau kenapa, dia dengan sengaja melewati salah satu guru SM yang sudah memberi tangan padanya (untuk disalami), meninggalkan guru SM tsb yang bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya “what’s wrong with me??”

Cerita lagi dari seorang teman tentang kisah “tragis” yang baru-baru ini terjadi, di mana seorang fulltime gereja hampir melempar pendeta (atasannya) dengan kursi. Ceritanya pendeta ini membuat suatu aturan tertulis. Kemudian di hari berikutnya sang pendeta mengubah pikirannya dan mengganti aturan, tanpa komunikasi yang jelas. Fulltime yang malang ini tidak tahu pergantian aturan yang baru dibuat sehingga dia tidak mematuhinya. Entah berseloroh atau serius pendeta itu mengatakan di depan umum “hati-hati, saya bisa pecat kamu kalau saya mau”.

Saya berpikir, sebagai manusia, memiliki perasaan tidak suka itu wajar, termasuk sebagai hamba Tuhan. Tapi masalahnya, jika hal itu ditunjukkan maka artinya hamba Tuhan tsb telah melanggar kata-katanya sendiri yang diucapkan dengan gagah berani di mimbar gereja, seperti “jadilah terang” atau “kasihilah sesamamu manusia” atau “kasihilah musuhmu dan berbuat baiklah pada mereka yang menganiaya kamu”

Ada double kesalahan bagi hamba Tuhan yang seperti itu: kesalahan karena “membenci”, kesalahan karena “menjadi batu sandungan” dan kesalahan karena “mengecewakan orang” (tiga kesalahan berarti ya?)

Mungkin yang akan saya katakan ini agak ekstrim, tapi silahkan dipertimbangkan dan dipikirkan kebenarannya, dan saya terbuka untuk diskusi. Menurut saya, jika tidak bisa melakukan apa yang difirmankannya setidaknya pendeta harus punya kemampuan MUNAFIK.

Ya, jika seorang pendeta muak dengan seseorang misalnya, dan ia bertemu orang itu di jalan, pendeta tersebut harus pura-pura suka, munafik aja… Yang penting dia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Urusan benci membenci itu urusannya dengan Tuhan.

Ada begitu banyak cerita di mana orang-orang malas ke gereja karena kecewa pada pendetanya yang omongan dan kelakuannya beda. Pendeta-pendeta tersebut, menurut saya, harus belajar MUNAFIK. Ingin membentak orang dengan kasar? Munafiklah, tahan diri, bicara sabar.

Yaaa, pada dasarnya manusia itu memang mahluk berdosa toh. Supaya jadi orang baik, memang harus munafik, tapi sebaiknya memang munafik dilakukan 24/7, artinya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau pendeta ga bisa munafik 24/7 setidaknya munafiklah saat ada jemaat, biar ga jadi batu sandungan. Asal, jangan sampai ketahuan juga kalau dia munafik… Munafiklah dengan cerdas 🙂