Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ini kalimat yang banyak diucapkan orangtua. Biasanya diucapkan ketika anak-anak mereka mulai “Meragukan otoritas” mereka. Ketika anak mereka berpacaran dengan orang yang tidak mereka setujui, ketika anak mereka melakukan hobi yang tidak mereka setujui, ketika anak mereka ingin kuliah di jurusan yang tidak mereka setujui, dll.

Apapun alasannya, pada kenyataannya semua orangtua memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Titik. Tunggu…. tulisan saya belum selesai… bukan itu inti dari tulisan ini.

Saya berusia 30 tahun. Saya mengalami masa-masa kecil yang indah dalam keluarga yang indah dan negara yang berada dalam kondisi merdeka, sama seperti kebanyakan orang-orang seangkatan saya lainnya. Ketika, teman-teman saya atau orangtua seusia saya lainnya membesarkan anaknya,  biasanya sebagian dari mereka akan mengacu pada pengalaman mereka saat mereka kecil. Atau jika masa kecil mereka tidak terlalu menyenangkan dan memuaskan secara finansial, mereka berusaha menghindarkan anaknya dari masalah serupa. Benar kan?

Hal ini bisa jadi berdampak buruk ketika orangtua mengira bahwa yang terbaik adalah memberikan kenyamanan dan kesenangan sebanyak mungkin karena dulu mereka tidak mendapatkannya, atau dulu mereka tidak mendapatkan sebanyak yang mereka mau, tanpa diimbangi disiplin. Karena seringkali berkata “tidak” pada keinginan anak dan membiarkan mereka sedikit sulit adalah salah satu bentuk mendidik.

Orangtua seusia saya memiliki orangtua berusia 60 tahunan. Kebanyakan dari mereka mengalami masa kecil yang sulit karena kondisi ekonomi dan kondisi bangsa saat mereka kecil tidak kondusif. Orangtua seusia orangtua saya biasa lebih bijak karena adanya keterbatasan dalam “memberi kenyamanan yang tidak pernah saya dapat” dan paham benar mengenai “pentingnya memberikan pendidikan mengenai hidup (life skill)”, dengan alasan agar anak mereka dapat lolos dari masalah yang mungkin pernah mereka alami.

Orangtua seusia saya, walau dibekali life skill, tidak melihat bahwa hal tersebut signifikan dalam kehidupan karena mereka tidak menemukan banyak masalah hidup yang harus ditaklukan atau diperjuangkan, sehingga kurang sekali mengajarkan ini pada anak-anak mereka. Ketambahan kesibukan dan gadget yang menyita perhatian.

Pola pengasuhan yang buruk, menurut pengamatan saya, disebabkan oleh sesuatu yang saya namakan “balas dendam sosial”. Ada beberapa jenis balas dendam sosial:
1. “Saya dulu tidak mendapatkan semua yang saya inginkan, anak saya harus mendapatkan semua yang dia inginkan, bahkan sebelum dia menginginkannya” kemudian mereka memberikan apapun yang diinginkan anaknya, tanpa kecuali.
Balas dendam jenis ini akan menghasilkan anak-anak yang manja, tidak sanggup menanggung masalah, egois, tidak tahu aturan.

2. “Saya dulu menderita, maka anak saya juga harus menderita”. Anda mungkin menertawakan saya, tapi percayalah, ada orangtua yang seperti ini, saya pernah menemukannya. Orangtua seperti ini akan menghasilkan anak-anak yang minder, tidak percaya diri, dan tertinggal dalam pergaulan sosial.

3. “Saya dulu tidak berhasil mendapatkan X, saya akan membuat anak saya mendapatkannya tidak peduli ia suka atau tidak. Karena saya toh orangtuanya, tahu yang terbaik untuknya”. Biasanya X ini dapat berupa les atau jurusan dalam kuliah, atau pekerjaan. Orangtua seperti ini akan menghasilkan anak-anak yang tertekan, pecundang, tidak percaya diri, dan pada akhirnya memberontak.

Saya memang belum menikah dan memiliki anak, tapi percayalah pada saya, apapun jenisnya balas dendam sosial tidak akan menghasilkan anak-anak pemenang.

Untuk menjadikan anak-anak Anda pemenang, Anda membutuhkan kombinasi dari belaian, disiplin, nasihat dan bagian terbesar adalah teladan hidup. Koreksi (hukum jika perlu) jika anak Anda menentang otoritas dan aturan. Beri pujian dan belaian ketika mereka menunjukkan ketaatan dan sikap baik.

Teladan hidup adalah sesuatu yang sangat penting. Tunjukkan mereka tentang kejujuran, dan mereka akan menjadi anak jujur. Tunjukkan pada mereka bahwa Anda respek pada orangtua atau mertua Anda, dan mereka akan respek pada Anda.

Namun seringkali juga kita perlu memberi mereka sedikit nasihat… nasihat yang baik, nasihat yang membangun, nasihat yang mengena. Tuhan bilang bahwa sebagai orangtua kita harus memberikan nasihat yang didasarkan pada Firman TUHAN, mengingatkan anak-anak kita siang dan malam.

Bingung mulai dari mana? “Letters from Parents” bisa jadi salah satu alternatif solusi untuk Anda. Diterbitkan Januari 2013, berisi 20 nasihat dengan topik yang mungkin menjadi pergumulan anak-anak kita.

Advertisements