Tentang Sekolah


Anakku,
Seringkali kau mengeluh tentang sekolahmu
Tentang banyaknya PR-mu
Tentang guru-guru yang suka menghukum
Tentang soal ujian yang sulit
Tentang teman-teman yang tidak menyenangkan
Tentang tugas-tugas yang menumpuk

Tahukah kau, Anakku
Sekolah mengajarimu tentang banyak hal
Banyak hal dalam kehidupan
Hal-hal yang akan kau hadapi kelak
… saat kau dewasa

Kau mengeluh tentang PR-mu
Tahukah kau…
PR mengajarimu tentang prioritas
Bagaimana kau mengatur waktu
Mengesampingkan kesenangan
…untuk menjalankan kewajiban

PR mengajarimu tentang usaha
Bagaimana kau mengerjakan sesuatu
Dengan usahamu sendiri
Dengan kerja kerasmu sendiri
Dengan kreativitasmu sendiri

Kau mengeluh tentang guru-guru yang menghukum
Tahukah kau…
Hukuman mengajarimu tentang konsekuensi
Ada akibat yang ditanggung untuk kesalahan
Itulah yang terjadi dalam kehidupan, bukan?
Ada akibat untuk sebab
Ada konsekuensi untuk perbuatan

Ya, aku mengijinkan gurumu menghukummu
Dalam taraf wajar, kau memerlukannya
Agar kau belajar…
Untuk berpikir sebelum bertindak
Untuk bertanggungjawab atas tindakanmu

Kau mengeluh tentang soal ujian yang sulit…
Anakku, hidup ini tidak mudah
Seringkali kita menemukan banyak hal sulit
Seringkali kita menemukan banyak masalah
Tapi tahukah kau,…
Masalah akan membuatmu naik satu tingkat lebih tinggi
…ketika kau berhasil melaluinya

Tahukah kau…
Soal ujian yang sulit mengajarimu pentingnya persiapan…
Hanya mereka yang bijak,
Yang siap saat masalah datang
Yang siap menghadapi saat-saat sulit
Persiapkan dirimu dengan baik
Dan hadiahi dirimu sesudahnya
…dengan kepuasan setelah melaluinya

Kau mengeluh tentang teman-teman yang tak menyenangkan…
Tahukah kau,
Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar memaafkan,
Sebelum hatimu terlalu keras

Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar toleransi,
Sebelum fanatisme membutakanmu

Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar mengalah,
Sebelum egoisme menguasaimu

Lagipula,
Bukankah besi menajamkan besi,
Dan manusia menajamkan sesamanya?

Kau mengeluh tentang tugas-tugas yang menumpuk,
Tahukah kau?
Hidup adalah tentang tanggung jawab
Dalam setiap aspek kehidupan,
Selalu ada tanggung jawab
Dan untuk setiap tanggung jawab,
Akan ada kepercayaan

Selesaikan seluruh tugasmu
…dengan sekuat tenaga
…seperti untuk Tuhan

Selesaikan seluruh tugasmu
…dengan tanggung jawab
…dan keinginan melakukan yang terbaik

Tugas-tugasmu mengajarimu tentang itu
Karena nantinya hidup tidak akan lebih mudah

Jadi Anakku,
Ketika suatu saat kau mengeluh tentang sekolahmu
Ingatlah,…
Tak ada yang dapat aku lakukan,
Itu adalah peperanganmu
Lakukan yang terbaik,
Dan jadilah pemenang

Advertisements

Gembala kambing


Sebagai orang Kristen, kita lebih sering mendengar istilah gembala domba daripada gembala kambing. Jika Anda sedang main “tebak profesi”, maka gembala kambing dan gembala domba akan dianggap sama saja. Sama-sama gembala ternak yang bunyinya mengembik. Lagipula, tidak banyak yang bisa membedakan rasa daging kambing dan domba.

Tahukah Anda apa beda kambing dan domba selain dari bentuknya. Apakah diantara Anda ada yang tidak bisa membedakan kambinh dan domba? Baik, saya akan beri sedikit gambaran. Domba memiliki bulu lebat yang dapat dibuat menjadi wol, sedangkan kambing memiliki janggut di bawah mulutnya.

image

Kambing adalah binatang yang rajin. Mereka mandiri, dapat mencari makan sendiri dan memiliki ekor tegang seolah selalu siaga. Jika Anda menggembalakan kambing, Anda harus berjalan di belakang mereka karena sifat mereka yang aktif dan suka mencari jalan sendiri.

image

Kambing tidak suka berada di kerumunan. Mereka adalah bintang penasaran yang selalu ingin tahu. Gembala kambing harus berjalan di belakang untuk mengikuti kehendak dan keingintahuan sang kambing jika tidak ingin kehilangan.

Sementara itu, domba adalah binatang inferior bodoh yang tidak suka sendirian. Mereka suka berada di kerumunan, malas, dan bahkan tidak dapat memiliki inisiatif mencari makan sendiri.

Domba cenderung melangkah kemana saja sang gembala melangkah dan mereka akan berjalan bersama-sama, dengan lambat, dalam kerumunan para domba.  Karena mereka tinggal dalam kerumunan, resiko berkelahi menjadi besar dan gembala bertugas melerai dan mengobati luka yang ditimbulkannya.

Jika Anda seorang gembala domba, Anda harus berjalan di depan, paling tidak di antara mereka… Untuk memastikan mereka melihat dan mengikuti Anda.

image

Domba tidak memiliki keinginan, ia bahkan tak dapat berbuat apa-apa jika bulu di tubuhnya terlalu berat. Mereka benar-benar mengandalkan gembala mereka untuk menuntun, menggunting bulu, meminyaki, mengobati, menjaga mereka, bahkan melerai pertengkaran mereka.

Jika Anda orangtua jaman sekarang, saya yakin Anda lebih suka anak Anda berperilaku seperti kambing daripada domba, bukan begitu? Tidak merepotkan selama keinginan mereka terpenuhi, mandiri, cerdas… Orangtua manapun akan malas memiliki anak bodoh seperti domba, tidak mandiri, mengikut saja dan rentan.

Tapi lucunya, Alkitab kita menulis, Tuhan lebih suka pengikutnya seperti domba daripada kambing. Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai gembala domba, dan bukan gembala kambing.

Hal yang lebih lucu adalah, banyak gembala jemaat, guru-guru dan juga orangtua saat ini menganggap jemaatnya sebagai kambing daripada domba. Persaingan lapang rumput membuat gembala mengikuti keinginan kambing dan alih-alih menyediakan apa yang dibutuhkan, malah apa yang diinginkan.

Sibuknya jadwal dan kemajuan jaman membuat gembala mempersilahkan ternaknya mandiri… Tidak perlu ada luka yang diobati, beban yang digunting, konflik yang diselesaikan… Lebih mudah menjadi gembala kambing daripada gembala domba, bukan begitu?

Akhir minggu kemarin saya berada di SD Ekklesia Cikarang, senang sekali melihat guru-guru yang menyadari tugasnya sebagai gembala domba. Mengagumkan melihat guru yang menegur anak menjawab “heeh” dan memintanya mengganti dengan “iya, miss”.

Para pendidik Kristen, memang menyenangkan menjadi gembala kambing, tapi bukan itu panggilan Tuhan dalam hidup kita… Semoga renungan sore ini bermanfaat… See u

Semua tidak sia-sia


Waktu berjalan begitu cepat,
Tidak… Dia berlari…
Atau bahkan terbang…

Aku mengingat kalian sebagai anak-anak
Namun tiba-tiba kalian sudah remaja
Aku mengingat kalian…
Ketika menggandeng tanganku
Namun tiba-tiba aku bertemu kalian
Berjerawat dengan tatapan malu khas remaja
“Kakak masih ingat?” Continue reading

Prioritas!! Sebuah cerpen sederhana


Hari itu adalah hari penentu kelulusannya. Setelah dua belas tahun sekolah, akhirnya tibalah hari Ujian Nasional, hari yang ditunggu-tunggu seluruh siswa SMA di Indonesia.

Dia sudah belajar sejak beberapa hari yang lalu, tidak ada kesulitan baginya, dia adalah bintang kelas sejak dulu.

Ibunya menaruh harapan padanya. Mereka memang bukan dari keluarga kaya, apalagi setelah ayahnya meninggal. Tapi ibunya berjanji bahwa dia tidak perlu bekerja selepas sekolah, hanya perlu belajar rajin untuk masuk universitas negeri ternama, dan ibunya akan berusaha mencukupi semuanya.

Di sekolah, ia termasuk salah satu siswa berprestasi, semua orang menyukainya Ya, semua orang kecuali Dimas, si anak orang kaya itu. Dimas menganggapnya saingan karena dulu sebelum ia pindah ke sekolah ini, Dimas adalah juara umum sekolah, tapi sekarang tidak lagi sejak ia masuk. Continue reading

Sekolah Khusus Anak Raja


Anak Raja harus mendapat pendidikan terbaik
Di tempat terbaik, dengan biaya termahal
Di mana di dalamnya hanya ada anak-anak raja
Tidak pantas anak raja bergaul dengan rakyat jelata

Anak Raja harus dikumpulkan dengan sesama anak Raja
Tidak perlu tahu apa yang terjadi di luar sana
Tidak perlu tahu bagiamana bergaul dengan rakyat jelata

Rakyat jelata…
Hmmm, mereka hanya orang-orang aneh Continue reading

Investasi termahal


Membina karakter anak membutuhkan investasi yang sangat besar
Lebih besar dari gedung sekolah yang mahal
Lebih besar dari gaji orangtua selama bertahun-tahun
Lebih besar dari gaji seumur hidup dari guru yang terbaik
Lebih besar dari biaya royalti seorang programmer
Lebih besar dari air mata dan keringat seorang pendeta
Lebih besar dari kurikulum yang didatangkan dari negara manapun

Membina karakter anak membutuhkan investasi yang sangat besar
Mata…yang dapat memancarkan harapan dan bukan kemarahan
Telinga…yang siap mendengar bahkan cerita yang sepele skalipun
Mulut…yang siap mengajar, tertawa, dan marah pada porsi yang tepat, waktu yang tepat
Tangan…yang siap membantu, dan menepuk bahu
Kaki…yang siap berjalan bersama mereka

Membina karakter anak membutuhkan investasi yang sangat besar
Kesabaran…bahkan ketika mereka melakukan kesalahan yang sama ratusan kali
Kemurahan hati…bahkan ketika kita harus memberikan hal terakhir yang kita miliki
Hikmat…bahkan ketika kita dalam keadaan terjepit dan sangat lelah
Kesetiaan…bahkan ketika mereka tidak mempercayai kita
Ketekunan…bahkan ketika tidak ada dasar lagi tuk berharap

Membina karakter anak membutuhkan investasi yang sangat besar
Keteguhan hati… untuk terus melakukannya sampai akhir
Penyangkalan diri…untuk terus melakukan apa yang benar

Membina karakter anak membutuhkan investasi yang sangat besar
waktu…
hati…
pikiran…
HIDUP…

Kalau dipikir-pikir…bukankah itu yang sudah Tuhan lakukan bagi kita?

untuk semua pelayan anak…God Bless You