About Greissia

A children educator, composer, writer and management consultant

Kehadiran Ayah dan Bunuh Diri


Salah satu kalimat yang menggelitik saya dalam kotbah hari ini adalah “Menurut penelitian 65 persen anak bunuh diri tanpa kehadiran sosok ayah…”,

Saya berpikir… Artinya, 35 persen anak bunuh diri walau ayahnya hadir, jumlah yang masih sangat besar. Pertanyaan saya, apakah ‘kehadiran ayah’ memiliki pengaruh yang cukup signifikan dari keputusan seorang anak bunuh diri?

Terlepas dari adanya kehadiran ayah atau tidak dalam diri anak (yang mana saya yakini bahwa kehadiran sosok ayah penting bagi setiap anak manapun), keputusan anak bunuh diri disebabkan rendahkan kemampuannya mengendalikan emosi, dengan kata lain rendahnya kecerdasan intrapersonal.

Sekali lagi, tanpa mengecilkan arti kehadiran ayah, kecerdasan intrapersonal yang rendah merupakan penyebab seseorang bunuh diri. Pertanyaannya, bagaimana melatih kecerdasan intrapersonal seorang anak?

Kecerdasan intrapersonal anak dilatih sejak ia masih sangat kecil. Jika Anda tak pernah mengijinkan seorang anak merasa kecewa, saat dewasa ia akan mengalami kesulitan menangani kekecewaan. Jika Anda tak pernah memotivasi anak saat ia kesulitan melakukan sesuatu di masa kecilnya, saat dewasa ia akan mengalami kesulitan menangani keputusasaan. Jika Anda selalu menyela dan tak punya cukup waktu mendengarkan saat mereka marah, saat dewasa ia akan kesulitan menangani kemarahan.

Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan dasar yang harus diajarkan pada anak, tapi sayangnya, bahkan dengan kehadiran seorang ayah, anak tidak mempelajari ini sejak kecil. Bahkan seringkali diperburuk oleh orang tua. Orang tua yang selalu menjatuhkan, orang tua yang terlalu “sayang” hingga mengabulkan semua keinginan anak dan tak mengijinkan anak kecewa atau menangis, orang tua yang tak punya cukup waktu mendengarkan anak.

Lagi dan lagi, tanpa mengecilkan kehadiran seorang ayah, sumber dari kecerdasan intrapersonal adalah kehadiran Tuhan dalam hidup anak. Adanya pengharapan dalam kesesakan, kesabaran dalam kesulitan, dan iman dalam ketidakjelasan adalah sepenuhnya karya Roh Kudus dalam tiap anak.

Artinya, menurut pendapat saya, kehadiran ayah akan sia-sia ketika ia tidak mengenalkan Tuhan dalam hidup anak. Jadi, menurut saya, pertanyaan utamanya pada akhirnya bukanlah apakah ayah hadir atau tidak dalam kehidupan anak, tapi apakah Tuhan hadir dan diperkenalkan sejak kecil dalam hidupnya.

Advertisements

Ketika Pancasila Menangis


Pancasila itu dasar yang bagus. Bagus sekali malah, mencakup seluruh aspek kebangsaan. Di jaman saya dulu, anak-anak TK sudah bisa menghafal Pancasila. Orang tua membantu anaknya menghafal Pancasila sehingga mau tidak mau mereka pun hafal Pancasila.
 
Tapi mengaku saja, saat kita TK Pancasila hanya sesuatu yang kita hafalkan tanpa kita maknai, persis seperti ayat hafalan yang sering diberikan oleh Guru Sekolah Minggu. Panjang, tapi tidak dimengerti!
 
Parahnya, seiring dengan berjalannya waktu, sesuatu yang dihafalkan tanpa dimaknai akan tetap seperti itu, dihafal tapi maknanya tak pernah sekalipun kita pikirkan, tak pernah sekalipun kita resapi, tak pernah sekalipun kita mengerti.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila pertama ditulis dengan gagah disamping lambang bintang “Ketuhanan yang Maha Esa”, begitu indah, dan akhirnya dimaknai secara sembarangan. Tuhan itu hanya satu, kalau kamu tak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhanku, kamu pasti kafir, karena itu orang kafir halal darahnya!
 
Katanya Bintang melambangkan cahaya, seperti Tuhan, itu makanya dipilih sebagai lambang sila pertama. Tapi kalau kita mau melihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda, kenyataannya banyak bintang di alam semesta ini, kamu boleh memiliki bintangmu, aku bintangku sendiri, walau keduanya sama-sama terang.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila kedua ditulis dengan ketegasan disandingkan dengan rantai: “Kemanusiaan yang adil dan beradab“. Saat kita kecil kita menerima saja penjelasan mengapa rantai dipilih untuk sila ini, yaitu kondisi manusia yang saling membantu, sebuah kondisi peradaban umat manusia: saling membantu.
 
Mungkin karena maknanya sebatas saling membantu bergotong royong maka arti adil dan beradab tidak dimaknai lebih dalam. Beradab berarti menjadi bagian dalam masyarakat dengan segala resikonya, taat aturan dan siap mengambil konsekuensi jika melanggarnya.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila ketiga ditulis adem di bawah pohon beringin: “Persatuan Indonesia“. Suatu sila yang begitu banyak disakiti akhir-akhir ini. Persatuan berarti “kau dan aku berbeda namun dapat bersatu” dan bukan berarti “kau dan aku sama”. Beringin dengan satu akar tunggal yang masuk dalam tanah namun memiliki banyak akar gantung di ranting-rantingnya.
 
Entah di mana letak kekeliruan memaknai sila ini. Bagaimana Batak dan Jawa bisa dianggap sama, karena memang berbeda, tapi keduanya Indonesia? Bagaimana Padang dan Ambon bisa dianggap sama karena berbeda tapi bukankah keduanya Indonesia? Bagaimana keturunan Arab dan Tionghoa bisa dianggap sama, karena memang berbeda, tapi bukankah keduanya yang tinggal di Indonesia berbangsa Indonesia?
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila keempat selalu merupakan sila yang paling sulit untuk dihafalkan anak TK, terlalu banyak bahasa yang sulit dimengerti, karena itu sampai besar kita tak pernah benar-benar memaknainya, hanya menghafal begitu saja: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” (Belum lagi lambangnya agak menakutkan, Banteng dengan dasar merah)
 
Sila ini untuk pemimpin, yang harus memimpin dengan hikmat dan bijaksana. Tidak mungkin seorang dapat memimpin jika ia tidak memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Tapi lucunya hari-hari ini kita disuguhkan dagelan dari para wakil rakyat, belum lagi korupsi yang merajalela.
 
Kepemimpinan dengan hikmat dan bijaksana ini dinaungi oleh dua kata sulit lainnya: permusyawaratan dan perwakilan. Semua harus dirembukkan, karena itu Presiden memiliki banyak mentri. Kemudian rakyat memiliki wakil… yang senantiasa melucu di gedung hijau itu.
 
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologiSila kelima adalah sila kegemaran saya: Keadilan sosial bagi SELURUH rakyat Indonesia (penekanan dari saya) dengan lambang padi dan kapas yang menggambarkan pangan dan sandang.
 
Ini juga selama beberapa puluh tahun tak pernah terjadi. Ada daerah yang baru didatangi presidennya di empat tahun belakangan. Ada daerah yang baru melihat aspal dalam empat tahun belakangan (dan daerah lainnya yang bahkan tidak tahu aspal itu apa).
 
Jika saya menjadi Pancasila, dengan pelanggaran besar-besaran seperti ini, tentunya saya menangis. Tak ada satupun sila yang benar-benar diterapkan di negara. Suatu dasar ideal yang tetap menjadi mimpi karena tak pernah terwujud.
 
Selamat hari jadi, Pancasila, sedih sekali karena tahun ini, kau masih harus menangis.

Membunuh Sang Waktu


Betapa cepat kemajuan teknologi sepuluh hingga dua puluh tahun belakangan. Saya masih ingat sekitar 14 tahun yang lalu ketika saya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Saya kost di jakarta selama 6 bulan sebelum kemudian keluar dan kembali ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan.

Saat itu saya bingung bagaimana caranya “membunuh waktu”, terutama di hari Sabtu dan Minggu. Saat itu belum ada tol cipularang sehingga untuk pulang ke Bandung hari Sabtu siang (karena saya tidak libur di hari Sabtu) menghabiskan begitu banyak waktu (bisa sampai 8 jam). Biasanya saya menghabiskan waktu dengan menonton atau membaca buku, atau pergi ke warnet untuk chatting dengan teman. Saya bahkan pernah menghabiskan buku Harry Potter dalam satu hari karena benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membunuh waktu.

Tadi, saya bicara dengan seorang anak yang baru lulus SMK dan memiliki rencana kuliah di luar kota. Saya merasa diri sudah tua ketika tanpa berpikir saya berkata “bosan lho di tempat kost, harus bawa TV…” belum selesai saya menyelesaikan kalimat saya, saya tersadar, ah ya benar, ada youtube, viu dan banyak aplikasi lain di smartphone yang menjadi senjata kita membunuh waktu.

Kita berusaha mati-matian membunuh waktu. Di setopan lampu merah, saat mengantri di bank, saat menunggu kendaraan umum, di manapun kita ingin agar waktu berjalan tanpa kita sadari.

Namun tanpa sadar kitalah yang dirugikan dengan “matinya sang waktu”. Setidaknya itulah yang ada di pikiran kita. Kita pikir waktu telah mati, padahal kitalah yang seperti mati, waktu terus berjalan, tik tok tik tok. Bekasnya terlihat di mana-mana, rambut yang memutih, kerut yang semakin banyak, kondisi nenek kita yang menurun drastis, jerawat yang timbul. Waktu meninggalkan jejaknya di mana-mana.

Sang waktu tidak mati, kitalah yang sebenarnya “mati”. Kita menjalani hari seperti benda mati. Tak memaknainya, tak memberinya makna. Kita menjalani hari tanpa meninggalkan jejak yang berarti, dan tiba-tiba usia tua menyergap dari berbagai arah, entah orang tua kita yang tiba-tiba tua karena kita tidak menyadarinya akibat kurang menaruh perhatian dan menghabiskan waktu berasama, atau anak kita yang tiba-tiba besar karena kita tidak menikmati setiap proses pertumbuhannya. Atau diri kita sendiri saat kita bercermin.

Sesungguhnya sang waktu tak bisa mati, sebagaimanapun kita mencoba membunuhnya. Malah kitalah yang akan mati tanpa kita sadari. Taruh sebentar smartphone di tangan Anda, tegakkan kepala dan lihatlah sekitar Anda. Mungkin ada tempat di mana kita bisa membalas dendam pada Sang Waktu, dengan meninggalkan jejak kita yang berharga saat kita masih hidup di dunia.

Saat Kau Keriput


Tanganku,
Suatu saat kau akan keriput
Tapi sebelum saat itu
Aku harap sudah banyak yang kau kerjakan
Berguna bagi orang lain,
Membantu sesama,
Melakukan apa yang hebat,
Menghasilkan karya besar,
Mengubahkan dunia

Wajahku,
Suatu saat kau akan keriput,
Tapi sebelum dan bahkan sesudah saat itu
Aku harap banyak yang kau tunjukkan,
Senyum yang menenangkan
Tawa yang hangat
Kemarahan yang dikendalikan,
Perhatian tulus saat ada yang bicara,

Mataku,
Suatu saat penglihatanmu akan kabur
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau lihat
Banyak yang sudah kau pelajari,
Banyak yang sudah kau baca,
Banyak yang sudah kau kenali,

Telingaku,
Suatu saat pendengaranmu mungkin akan berkurang
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau dengar
Banyak keluhan yang kau dengarkan
Banyak cerita yang kau tangkap
Banyak pelajaran yang kau dapatkan

Mulutku,
Suatu saat mungkin kau akan banyak bicara,
Mengeluh ini itu,
Mengomel ini itu,
Tapi sebelum saat itu,
Aku harap kau biaa mengendalikannya
Seperti kekang pada kuda
Lambat berkata-kata
Memilah mana yang harus diucapkan
Berlatih untuk tak memaki
Berlatih untuk tak mengomel
Berlatih untuk mengatakan apa yang manis

Tubuhku,
Suatu saat kau akan renta
Tapi sebelum saat itu,
Berkaryalah,
Berbuatlah banyak,
Bersyukurlah,
Bantulah mereka yang membutuhkan

Agar ketika saatnya tiba,
di tengah keriputmu,
Kau dapat tersenyum,
Ketika Pencipta memanggil.

KLAKSON


Sebuah pemikiran singkat lagi…
 
Suatu hari, saya pernah bertemu dengan pertigaan, ketika mencari sebuah jalan (dan tidak ketemu). Saya ingin kembali ke jalan utama, ketika berhadapan dengan pertigaan itu. Sebuah keputusan harus segera dibuat, belok kanan atau kiri. Menurut analisa saya, akan lebih dekat jika saya belok kiri saja. Karena tidak ada larangan belok kiri saya pun langsung belok kiri.
 
TIdak sampai 10 meter ketika banyak motor dari arah berlawanan mengklakson saya, banyak bapak-bapak meneriaki saya. Menyadari ada yang salah, saya membuka jendela dan bertanya pada supir angkot yang lewat “ini satu arah ya Pak”
 
Seorang bapak yang baik hati yang sedang berjalan kaki di sebelah kiri mobil mempersilahkan saya melakukan putar balik ke arah yang berlawanan dan akhirnya saya kembali di arah yang benar.
 
Klakson dipasang untuk memberi peringatan bahaya, semacam alarm yang perlu kita tekan untuk memperingatkan mobil lainnya (sudah jelas bukan dibuat untuk pengemudi mobil itu sendiri, bukan?).
 
Namun akhir-akhir ini banyak orang yang belum paham soal demokrasi berjalan raya. Ketika mereka main HP sambil naik motor sehingga hampir mengambil jalan orang yang berbahaya dan diberi klakson peringatan oleh kendaraan di belakangnya, bukannya berterimakasih mereka malah marah dan sibuk ingin mempolisikan orang yang memberinya peringatan.
 
Atau saya pernah bercerita soal motor yang tiba-tiba memotong jalan saya dengan kaki penumpang direntangkan, kemudian berkendara zigzag tidak keruan, dan tidak mengenakan helm. Karena kuatir mengendara di belakang yang bersangkutan, saya pun mengklakson dan saat ada kesempatan menyusulnya dari kanan. Tidak terima, motor itu mengejar saya, kemudian memaki-maki saya di jalanan karena tidak suka diklakson dan didahului.
 
Padahal, klakson bukanlah alat penghakiman, melainkan alat peringatan. Anda tidak serta merta masuk ke penjara ketika diklakson orang. Nama baik Anda tidak serta merta rusak ketika Anda diklakson orang.
 
Saya pernah diklakson orang berkali-kali, merasa ada yang salah, membuka kaca mobil dan benar saja, yang bersangkutan ingin memberitahu bahwa pintu mobil saya belum tertutup dengan rapat.
 
Jangan menganggap bahwa klakson orang lain adalah serangan pada pribadi kita. Mungkin itu hanya alarm peringatan yang diberikan orang lain agar kita kembali ke jalur yang benar, atau karena ada yang tidak beres dengan kendaraan kita. Kalau bunyi klakson itu beranekaragam, bukankah memang mereka diciptakan berbeda-beda… Ada yang bunyi HONKKKKK, ada yang bunyi DIT DITTTT ada yang berbunyi TEEEEETTT… tidak masalah dengan bunyinya, bukan?

I ONCE WAS BLIND


Sebuah pemikiran singkat…
Katakanlah, lima tahun yang lalu Anda menjadi seorang pecandu narkoba, kemudian Anda bertobat. Anda merasa Tuhan menunjukkan jalan yang benar dan dengan pertolongan-Nya Anda dapat berbalik dari kecanduan narkoba dan berhasil memulihkan diri.
 
Kemudian hari ini, lima tahun kemudian, seseorang berhasil menemukan catatan bahwa Anda dulu pernah menjadi seorang pecandu narkoba dan mengungkit hal tersebut.
 
Apa yang akan Anda lakukan?
 
Jika Anda sudah benar-benar berbalik, berkat pertolongan Tuhan, saya yakin Anda tidak akan marah. Sebaliknya Anda berkata “I once was blind, but now I see, was lost but now i am found” (Saya dulunya buta, tapi sekarang melihat. Dulunya terhilang, sekarang ditemukan).
 
Anda tidak akan mencak-mencak dan membenarkan perilaku kecanduan narkoba. Anda tidak akan menunjukkan jari pada siapa saja yang mengkritik perilaku pencandu narkoba dan berkata “tidak perlu menghakimi orang lain” atau “memangnya Anda sendiri tidak punya dosa”.
 
Ada batasan yang jelas antara kritik dengan penghakiman. Menunjukkan kesalahan itu kritik, memvonis itu menghakimi. Kritik berujung pada perbaikan, penghakiman berujung pada hukuman…
 
Ketika kita sudah mengakui bahwa “dulunya saya tidak benar”, maka tidak perlu marah ketika ada orang yang mengecam perilaku tidak benar yang Anda lakukan tempo hari. Justru Anda juga harus ikut ambil bagian dalam barisan orang yang mengecam kebiasaan lama Anda, bukankah kebiasaan itu buruk, dan saking buruknya maka Anda memutuskan untuk berubah.
 
Tidak ada salahnya berkata, “ya, itu lima tahun yang lalu…. saat-saat di mana saya masih buta dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Sekarang saya sudah berubah, mudah-mudahan saya bisa terus dalam keadaan seperti ini sehingga kalian bisa melihat perubahan yang baik dalam diri saya. Karena terus terang saja, Tuhan yang membuat saya berubah”

Air untuk Raja


Hari ini saya mendengar kotbah yang luar biasa dari seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di Kota Bandung. Kotbahnya tentang tiga orang pahlawan yang mengambilkan air dari Sumur Bethlehem untuk Daud (I Tawarikh 11:15-19). Bapak Pendeta menyamakan air dari sumur Bethlehem dengan “Air Hidup dari Bethlehem”, dan seterusnya, dan seterusnya…

Saya diberkati oleh Firman Tuhan yang dibagikan tersebut, namun ketika saya merenungkannya, saya mendapat hal lain dari kisah yang luar biasa tersebut.

Kisah itu adalah tentang tiga orang terbaik Daud yang mendengar keinginan Daud: ingin minum air dari sumur Di Bethlehem. Kondisinya saat itu Bethlehem sedang dikuasai oleh militer Filistin, sehingga hampir tidak mungkin mengambil air dari sumur tersebut.

Mendengar keinginan Daud, tiga orang ini menerobos perkemahan Filistin untuk mengambil air dari Sumur Betlehem. Setelah mereka memperoleh air itu, mereka membawanya kepada Daud.

Sampai sini saya membayangkan kondisinya jika saya menjadi satu dari tiga orang itu. Apa yang akan saya rasakan ketika Daud akhirnya meminum air yang saya dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa. Jika Anda menjadi satu dari tiga orang itu, apa yang akan Anda rasakan saat Daud meminum air yang Anda peroleh dengan pertaruhan nyawa? Senang? Puas? Bahagia?

Tentu Anda senang ketika pemimpin Anda “menikmati” hasil dari kerja keras Anda, bukan?

Apa yang terjadi dengan air itu? Daud tidak meminumnya, malah mencurahkan air itu sebagai korban untuk Tuhan.

Saya bayangkan lagi apa yang terjadi saat itu. Ketiga orang itu melihat ketika air itu dituangkan ke tanah, dipersembahkan kepada Tuhan. Apa yang mereka rasakan? Mana yang lebih mereka sukai? Air itu diminum oleh Daud atau dipersembahkan kepada Tuhan.

Para pemimpin, khususnya pemimpin gereja, seringkali Anda menuntut orang yang Anda pimpin melakukan ini dan itu, terkadang sesuatu yang tidak masuk akal. Mengharapkan mereka untuk memenuhi standar Anda yang luar biasa tinggi: “menerobos pertahanan musuh untuk mendapatkan ‘air hidup dari Betlehem'”.

Namun seringkali ketika anak buah Anda mendapatkan keberhasilan, yang Anda lakukan adalah ‘meminum air’ itu. Anda meminumnya dengan rakus, berharap nama Anda semakin besar, Anda semakin terkenal .

Percayalah, jika Daud meminumnya, ketiga orang itu tidak akan disebutkan sebagai ‘pahlawan’ dalam ayat ke 19. Mungkin jabatan mereka hanya sebagai “orang terbaiknya Daud” (ayat 15).

Karena Daud mempersembahkan air itu untuk Tuhan, maka ketiga orang itu dituliskan Alkitab sebagai “pahlawan”.

Ketika nama Yesus ditinggikan, dan setiap perbuatan baik dan keberhasilan dipersembahkan kepada Tuhan, Dia akan menarik semua orang datang kepada-Nya, dan kita akan menjadi pahlawan-pahlawan Tuhan…