Kita Ketemu di Rumah Saja


Sebuah Cerpen, Seri Gereja Bintang Lima (feel free not to read it)

Aku masuk gedung megah itu, suasananya dingin, penerangan minim, hanya sedikit cahaya remang-remang di panggung, rupanya acara belum dimulai. Kulihat kanan dan kiriku, tampak beberapa orang muda sedang duduk menekuni smartphone mereka, beberapa yang sudah tua tampak khusuk berdoa.
 
Aku duduk dengan perasaan tak menentu, sudah lama sejak terakhir kali aku masuk ke gedung yang katanya tempat orang Kristen bersekutu. Terakhir kali aku masuk gereja adalah ketika usiaku masih sangat muda, bersama orang tuaku. Aku ingat orang tuaku menyuruhku duduk diam sebelum ibadah mulai, dan mereka berlutut untuk berdoa mempersiapkan hati sebelum ibadah.
 
Kenangan terakhirku di gereja adalah ketika aku kecewa dengan para pemimpin gereja kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari gereja. Aku terhilang.
 
Hari ini aku memutuskan untuk kembali. Gedung yang dulu biasa-biasa saja sekarang sudah tampak megah dan modern. Ruangan yang dahulu terang, kini remang-remang. LCD Proyektor yang dahulu tergantung di langit-langit berubah menjadi layar LED raksasa. Lampu neon berubah menjadi sistem penerangan canggih yang dapat diatur tingkat keredupannya (aku mengatakan tingkat keredupan karena tampaknya jarang sekali lampu itu disetel terang)
 
Tiba-tiba layar besar itu menampakkan hitungan mundur dan ketika hitungan itu tiba di angka 0, pemain drum menggebuk kencang drumnya, suara gitar melengking tinggi dan seorang pemandu acara (entah apakah aku sanggup menyebutnya worship leader) muncul entah dari mana sambil berteriak “Siap memuji Tuhan”.
 
Suara ini begitu bising, otakku seperti membeku mendengar bisingnya suara di sekelilingku. Aku pernah membaca:
“Beberapa studi telah menunjukkan bahwa stres akibat suara yang bising bisa memicu pelepasan kortisol (hormon stres). Kelebihan hormon ini bisa merusak fungsi di bagian prefrontal korteks yaitu pusat pembelanjaran emosional.”
 
Musik dihentak dalam frekuensi yang membuat denyut jantung berpacu semakin cepat dan otak tak dapat berpikir hal lain kecuali menggerakkan seluruh anggota badan. Seperti di tempat dugem, kenapa Anda pikir mereka menari menghentak-hentak? Karena musik dimainkan dalam frekuensi di mana otak tak dapat bereaksi lain selain menggerakkan tubuh.
 
Belum lagi kilatan lampu yang dimainkan begitu liar. Beberapa wanita tua menutupi matanya dengan tangan ketika lampu itu mengenai wajahnya, beberapa kagum melihat lampu. Aku? Aku menghitung jumlah alat penghasil lampu-lampu itu, terkagum…!
 
Aku tercenung sesaat, momen yang begitu canggung, dan aku menepukkan tanganku sekali dua kali, bingung bercampur terkejut. Ternyata cukup lama aku meninggalkan tempat ini.
 
Saat sekolah minggu aku pernah diajarkan, Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Aku hanya berpikir, dengan latar belakang musik yang begitu keras dan lampu yang bergerak liar, mungkinkah seseorang menggunakan hatinya, jiwanya dan akal budinya untuk menyembah Tuhan? Ataukah menyembah Tuhan bukan bagian dari mengasihi Tuhan?
 
Ataukah kita datang ke tempat ini hanya untuk rutinitas mingguan, tidak diharapkan menyembah dan memuji dengan sungguh-sungguh? (Karena toh menyembah dan memuji dapat dilakukan dengan lebih khusuk di dalam kamar).
 
Kemudian tiba waktunya, seorang berpakaian keren maju ke depan, dialah “Pastor” (Oya, aku tidak tahu kenapa tapi belakangan pemimpin gereja lebih suka disebut Pastor atau Senior Pastor daripada gembala). Dia membaca sebuah ayat dari LCD yang besar itu, kemudian bicara mengenai beberapa hal yang memotivasi dan menginspirasi jemaat untuk “diberkati lebih lagi”, dan ibadah ditutup dengan nyanyian merdu dari pemandu acara “Kiranya….Engkau memberkati aku melimpah-limpah….”
 
Setelah satu setengah jam yang melelahkan, aku kemudian masuk ke mobilku, menarik nafas panjang dan berkata dalam hatiku, “Tuhan, keberatankah Kau kalau kita bertemu di rumah saja?
Advertisements

I ONCE WAS BLIND


Sebuah pemikiran singkat…
Katakanlah, lima tahun yang lalu Anda menjadi seorang pecandu narkoba, kemudian Anda bertobat. Anda merasa Tuhan menunjukkan jalan yang benar dan dengan pertolongan-Nya Anda dapat berbalik dari kecanduan narkoba dan berhasil memulihkan diri.
 
Kemudian hari ini, lima tahun kemudian, seseorang berhasil menemukan catatan bahwa Anda dulu pernah menjadi seorang pecandu narkoba dan mengungkit hal tersebut.
 
Apa yang akan Anda lakukan?
 
Jika Anda sudah benar-benar berbalik, berkat pertolongan Tuhan, saya yakin Anda tidak akan marah. Sebaliknya Anda berkata “I once was blind, but now I see, was lost but now i am found” (Saya dulunya buta, tapi sekarang melihat. Dulunya terhilang, sekarang ditemukan).
 
Anda tidak akan mencak-mencak dan membenarkan perilaku kecanduan narkoba. Anda tidak akan menunjukkan jari pada siapa saja yang mengkritik perilaku pencandu narkoba dan berkata “tidak perlu menghakimi orang lain” atau “memangnya Anda sendiri tidak punya dosa”.
 
Ada batasan yang jelas antara kritik dengan penghakiman. Menunjukkan kesalahan itu kritik, memvonis itu menghakimi. Kritik berujung pada perbaikan, penghakiman berujung pada hukuman…
 
Ketika kita sudah mengakui bahwa “dulunya saya tidak benar”, maka tidak perlu marah ketika ada orang yang mengecam perilaku tidak benar yang Anda lakukan tempo hari. Justru Anda juga harus ikut ambil bagian dalam barisan orang yang mengecam kebiasaan lama Anda, bukankah kebiasaan itu buruk, dan saking buruknya maka Anda memutuskan untuk berubah.
 
Tidak ada salahnya berkata, “ya, itu lima tahun yang lalu…. saat-saat di mana saya masih buta dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Sekarang saya sudah berubah, mudah-mudahan saya bisa terus dalam keadaan seperti ini sehingga kalian bisa melihat perubahan yang baik dalam diri saya. Karena terus terang saja, Tuhan yang membuat saya berubah”

Air untuk Raja


Hari ini saya mendengar kotbah yang luar biasa dari seorang Hamba Tuhan di salah satu gereja di Kota Bandung. Kotbahnya tentang tiga orang pahlawan yang mengambilkan air dari Sumur Bethlehem untuk Daud (I Tawarikh 11:15-19). Bapak Pendeta menyamakan air dari sumur Bethlehem dengan “Air Hidup dari Bethlehem”, dan seterusnya, dan seterusnya…

Saya diberkati oleh Firman Tuhan yang dibagikan tersebut, namun ketika saya merenungkannya, saya mendapat hal lain dari kisah yang luar biasa tersebut.

Kisah itu adalah tentang tiga orang terbaik Daud yang mendengar keinginan Daud: ingin minum air dari sumur Di Bethlehem. Kondisinya saat itu Bethlehem sedang dikuasai oleh militer Filistin, sehingga hampir tidak mungkin mengambil air dari sumur tersebut.

Mendengar keinginan Daud, tiga orang ini menerobos perkemahan Filistin untuk mengambil air dari Sumur Betlehem. Setelah mereka memperoleh air itu, mereka membawanya kepada Daud.

Sampai sini saya membayangkan kondisinya jika saya menjadi satu dari tiga orang itu. Apa yang akan saya rasakan ketika Daud akhirnya meminum air yang saya dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa. Jika Anda menjadi satu dari tiga orang itu, apa yang akan Anda rasakan saat Daud meminum air yang Anda peroleh dengan pertaruhan nyawa? Senang? Puas? Bahagia?

Tentu Anda senang ketika pemimpin Anda “menikmati” hasil dari kerja keras Anda, bukan?

Apa yang terjadi dengan air itu? Daud tidak meminumnya, malah mencurahkan air itu sebagai korban untuk Tuhan.

Saya bayangkan lagi apa yang terjadi saat itu. Ketiga orang itu melihat ketika air itu dituangkan ke tanah, dipersembahkan kepada Tuhan. Apa yang mereka rasakan? Mana yang lebih mereka sukai? Air itu diminum oleh Daud atau dipersembahkan kepada Tuhan.

Para pemimpin, khususnya pemimpin gereja, seringkali Anda menuntut orang yang Anda pimpin melakukan ini dan itu, terkadang sesuatu yang tidak masuk akal. Mengharapkan mereka untuk memenuhi standar Anda yang luar biasa tinggi: “menerobos pertahanan musuh untuk mendapatkan ‘air hidup dari Betlehem'”.

Namun seringkali ketika anak buah Anda mendapatkan keberhasilan, yang Anda lakukan adalah ‘meminum air’ itu. Anda meminumnya dengan rakus, berharap nama Anda semakin besar, Anda semakin terkenal .

Percayalah, jika Daud meminumnya, ketiga orang itu tidak akan disebutkan sebagai ‘pahlawan’ dalam ayat ke 19. Mungkin jabatan mereka hanya sebagai “orang terbaiknya Daud” (ayat 15).

Karena Daud mempersembahkan air itu untuk Tuhan, maka ketiga orang itu dituliskan Alkitab sebagai “pahlawan”.

Ketika nama Yesus ditinggikan, dan setiap perbuatan baik dan keberhasilan dipersembahkan kepada Tuhan, Dia akan menarik semua orang datang kepada-Nya, dan kita akan menjadi pahlawan-pahlawan Tuhan…

Kelas untuk Pendeta Gereja Bintang Lima


Itu adalah kelas yang unik, setiap mahasiswa pasca sarjana yang ada di dalamnya begitu perlente, tak jarang mereka berdasi dan mengenakan jas mahal yang begitu bergaya. 

Mereka tidak belajar dengan tujuan untuk lebih mahir melakukan sesuatu, atau untuk lebih tahu akan sesuatu. Tidak! Mereka belajar untuk mendapat suatu gelar kehormatan “Doktor” yang merupakan syarat tak tertulis bagi para Pendeta yang memimpin sebuah Gereja Bintang Lima.

Cara berkotbah sudah mereka kuasai, isi Alkitab sudah mereka baca bolak balik tak terhitung berapa kali. Mereka bahkan dapat memahami Alkitab yang ditulis dengan bahasa aslinya. Mereka pun sudah merasa mengenal Tuhan, buktinya mereka hafal nama-nama Tuhan, baik dalam bahasa Ibrani, Yunani, hingga bahasa Arab.

Ilmu komunikasi? Jangan ditanya! Mereka sudah bisa membuat jemaat menangis termehek-mehek dan terbakar oleh semangat setiap kali habis mendengar kotbah mereka. Dalam hati bahkan mereka merasa, tanpa bantuan Roh Kudus pun mereka mampu melakukannya.

Ilmu Manajemen? Wah, walau bukan ahlinya, tapi siapa yang dapat menentang mereka? Lagipula, dengan adanya sistem software, keamanan dan teknologi yang baik, tak ada yang peduli dengan sistem manajemen yang benar.

Jangan tanya soal mengelola keuangan. Jika semua anak-anakmu sekolah di luar negeri, siapa yang berani bicara soal mengelola keuangan denganmu. Kau bahkan dapat menghasilkan ratusan juta hanya dengan bicara dan menantang orang di panggung mimbar selama 45 menit.

Ya, kelas itu memang kelas yang unik. Dosen yang mengenakan kacamata dan sepatu butut, yang mengabdikan hidup untuk mengajar dan mengendarai motor bebek adalah saluran berkat, tapi mereka bukan apa-apa dibanding para mahasiswa yang adalah Para Pendeta Gereja Bintang Lima yang terhormat.

Suatu kali pernah dibahas masalah LGBT di kelas itu. Sebagai pendeta Gereja Bintang Lima mereka tidak bisa terang-terangan menyebut itu dosa, tidak bisa! Jemaat mereka kebanyakan adalah orang berpendidikan yang menganut prinsip humanisme dan berpikir “masakan Tuhan tidak menghendaki umatnya bahagia dengan pilihan orientasi seksual mereka.” Jika pendeta Gereja Bintang Lima terang-terangan menentang hal ini, maka mereka akan ditinggal para manusia humanis modern yang memberikan perpuluhan besar untuk gereja. Biarkan saja para penginjil dan pendeta pedesaan yang menentang hal itu.

Suatu kali juga pernah dibahas mengenai ide bagaimana agar gereja bisa membangun gedung megah tanpa terlilit utang piutang. Sebuah gedung mewah yang akan meningkatkan gengsi para pendeta itu. Proyek janji iman, door prize bagi jemaat yang memberi perpuluhan, hingga program iuran berjangka menjadi jawaban. 

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya mereka mengembangkan software yang mendata seluruh jemaat, pekerjaan dan gajinya. Software itu juga bisa memberikan informasi siapa jemaat yang berpotensi memberi paling banyak untuk gereja Tuhan. Tujuannya agar Pendeta bisa melakukan follow up dan menjadwalkan kapan perlunya berkotbah tentang pentingnya memberi perpuluhan dan apa konsekuensi jika tidak memberi.

Ada juga pendeta yang mengatakan gerejanya memberikan semacam kupon undian bagi jemaat yang rutin hadir dan memberi persembahan dan perpuluhan. Kupon itu akan diundi akhir tahun, dan yang menang akan mendapatkan hadiah mobil keluaran terbaru.

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya semua jemaat dapat mendaftar untuk suatu program kematian. Mereka diwajibkan menyetorkan sejumlah uang setiap tahun, katakanlah Rp.200.000/anggota keluarga agar sewaktu-waktu jika ada anggota keluarga yang mati, gereja bisa memberi santunan sejumlah Rp.10.000.000. Jemaat pasti bersedia mendapat keuntungan berlipat seperti itu saat mereka mati. Bahagia di bumi, bahagia di Surga. Kemudian ada rekan pendeta yang bertanya “kalau sampai ada yang terlambat atau tidak bayar bagaimana, katakanlah di tahun ketiga?”. Setelah berpikir sejenak, pendeta itu menjawab “tentu saja haknya hilang, keanggotaannya gugur secara otomatis”

Ada pendeta yang mengatakan gerejanya menemukan suatu metode baru yang membuat para  pengunjung jemaat diperhatikan. Mereka yang terdaftar sebagai jemaat harus membuat kartu yang akan dikenal oleh alat pemindai di depan pintu. Alat pemindai itu dapat mengenali setiap (kartu identitas) jemaat dan menuliskan nama jemaat di layar monitor yang tersedia. Ah, para domba bodoh itu senang bukan kepalang saat namanya muncul di monitor, “Selamat datang Bapak Anu, minggu kemarin gak dateng ya, di program kami tidak terdetect soalnya.” Hanya saja pendeta itu mengatakan mereka masih belum menemukan cara jika kartu anggota ketinggalan di rumah. Mungkin chip yang ditanam di tangan adalah solusinya.

Gedung gereja dan teknologi merupakan suatu topik yang sering dibahas di kelas yang unik ini. Mereka sibuk menyelidiki satu dengan lainnya. Secara tersirat terasa sekali aroma persaingan di antara para pendeta ini. Jika yang satu diundang ke gereja yang lain, mata mereka akan menyapu gedung itu dengan cepat. Kemudian di pertemuan para pengerja (dan pengembang) dibahas “gereja kita harus membeli LED yang besar, gereja si Anu sudah memilikinya” atau “lighting kita sudah ketinggalan jaman, ganti semua dengan yang baru” atau “buat proposal untuk menjual space iklan di media pengumuman”.

Ketika suatu saat di kelas itu pak Dosen dengan sepatu butut bertanya “bagaimana dengan Tuhan”, kelas pun hening… satu orang memberanikan diri menjawab “bukankah dalam suatu pesta tamu kehormatan harus duduk diam? Mereka harus menghargai tuan rumah yang mengadakan acara”

Kemudian dari belakang kelas terdengar seorang pendeta bergumam”kami yang melakukan semuanya, bukan Tuhan”

Kemudian satu orang berkata, “Tuhan ini,… apakah Dia benar-benar bekerja? Kami lihat Dia diam saja. Ya, KAMI yang melakukan semuanya. Kami yang bekerja menemukan topik yang tepat untuk membuat pengunjung itu terhibur dan tetap mau datang ke gereja. Kami yang susah-susah memikirkan tempat parkir agar jemaat mau datang”

Dari sudut yang lain terdengar lagi, “benar, kami yang memancing pengunjung dengan ide kami tentang topik dan dekorasi yang menarik tiap minggunya. Kami yang melakukan audisi untuk para pelayan mimbar agar mereka terlihat menarik di mata siapa saja yang hadir”

Pak dosen duduk diam dan berkata, “lalu apa yang seharusnya Dia lakukan?”

Kali ini para pendeta itu terdiam… ya, apa yang seharusnya Tuhan lakukan… semua bagian sudah dilakukan oleh mereka. 

Sebuah suara terdengar, “di jaman modern ini, sebaiknya Dia diam saja. Kami lebih tahu situasi jaman daripada diriNya. Dia adalah topik yang menarik untuk dibicarakan dan diceritakan. Ya, dia produk yang menjual… Tapi, sebaiknya Dia diam saja”

Dosen bersepatu butut itu bertanya lagi, “bagaimana dengan doa dan kuasanya?”

Setelah keheningan yang tak lama seorang pendeta berkata “doa adalah topik yang menarik untuk dibawakan, tapi sudah lama kami tak mempercayai kuasa doa. Ayolah, kami bahkan hanya menaruh kartu -kartu doa itu di dalam kotak, sama sekali tak kami sentuh. Kami doakan kotak itu dengan seadanya saja dan mereka tetap datang pada kami di kebaktian doa”

Sebuah suara lagi terdengar “doa adalah sebuah pengalihan yang bagus sekali. Ketika seorang jemaat datang padamu dengan masalahnya kau tinggal berkata ‘berdoa saja’ tanpa harus repot-repot menjadi jawaban atas doa mereka. Kemudian, jadikan iman mereka sebagai kambing hitam jika doa-doa mereka tak terjawab” dan tawa pun meledak di kelas itu.

Setelah menarik nafas panjang, Dosen itu bertanya lagi, “bagaimana dengan kedatangan Yesus yang kedua”

Dan kelas pun hening untuk waktu yang sangat lama sampai akhirnya ada yang menjawab dengan bisikan lirih, “apakah Dia akan datang? Maksudku, apa Dia benar-benar akan datang?”

Kemudian Pak Dosen bersepatu butut itu meninggalkan kelas dengan tertunduk lesu sambil berbisik, “ya Tuhan, apa Kau benar-benar ada?”

—–

Ps: Hanya cerpen untuk refleksi, tolong jangan dianggap sebagai serangan…

Gereja Bintang Lima: Emas untuk Bait Suci Tuhan


Hari Minggu ini cerah sekali. Seperti biasa, Pendeta Besar akan diundang ke Gereja Besar lagi. Pendeta Gereja Bintang Lima seharusnya memang berkotbah di Gereja Bintang Lima lainnya bukan? Ga level kalau hanya di kelas Bintang tiga, apalagi kelas melati. Selain itu,… sekalian studi banding. Jika ada yang lebih baik bisa ditiru (dengan diam-diam tentunya, malu juga kalau meniru terang-terangan), kalau lebih buruk bisa dibawa ke Rapat Mingguan Pengerja, “Gereja kita lebih unggul di bidang lighting” atau “Gereja kita lebih baik sound systemnya, jauh lebih mahal”.

Bapak Pendeta dengan semangat naik ke mobilnya, mengendara dengan jantung berdegup kencang. Hari ini dia akan kotbah di gereja saingan terberat. Gereja yang sama-sama maju, sama-sama besar dan sama-sama memiliki lift (“tapi tidak memiliki eskalator” pikirnya bangga) dan memiliki basement (“nah, yang ini akan diusahakan“)

Dia tiba tepat waktu, tidak terlambat, tidak juga lebih cepat. Tepat waktu! Disambut oleh semacam koordinator ibadah dan dibawa ke barisan paling depan, tempat duduk VVIP, khusus Pendeta Besar seperti dirinya (“Entah di mana Yesus duduk saat itu, yang jelas, bangku VVIP adalah milikku“)

Pembukaan ibadah tidak mirip seperti di Gereja Bintang Lima miliknya. Gereja ini agak konservatif. Mereka masih berdoa sebelum memulai ibadah. Padahal trend terbaru dalam beribadah di Gereja Bintang Lima seharusnya adalah pemain drum atau gitar dengan tatanan rambut modern (jika perlu memakai kacamata hitam), kemudian ‘disirami’ lampu warna-warni. Seharusnya setelah itu masuk para entertainer berpakaian seragam lucu yang siap bergerak kiri kanan menghibur jemaat yang hadir, langsung saja…tidak perlu berdoa.

Kemudian setelah penyembahan yang cukup panjang, diakhiri dengan doa (yang konservatif menurut Bapak Pendeta), dimulailah rangkaian pujian yang semangat. Jemaat mengangkat tangan dan sebagian berjingkrak-jingkrak. Bapak Pendeta melihat ke belakang “Luar biasa!” pikirnya “Mereka semua begitu bergembira. Tentu saja, di Gereja Bintang Lima milikku pun semua bergembira….dan terhibur“.

Kemudian tibalah gilirannya berkotbah. Dia adalah pengkotbah handal, memiliki program di televisi lokal dan banyak digemari ibu-ibu hingga nenek-nenek. Kotbahnya penuh kata-kata motivasi yang menguatkan, diselingi dengan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipilihnya baik-baik. Menguatkan, meneduhkan dan menyemangati siapa saja yang hadir dan mendengarnya.

Kemudian tibalah saat itu… Saat-saat yang begitu menginspirasi. Ketika multimedia mulai menampilkan ‘pengumuman’. Scene pertama dari pengumuman itu menunjukkan lokasi pengambilan gambar, sebuah cafe yang bergaya klasik, dengan pajangan unik yang bergelantungan di sana sini. Belum lagi daftar menu yang membuat perut lapar, daftar harga pun sempat dilewati sekilas.

Bapak Pendeta tidak dapat fokus dengan isi dari iklan pengumuman sepekan yang ditampilkan. Kepalanya dipenuhi ide-ide luar biasa mengenai menjual space iklan pengumuman kepada pengusaha. Di gerejanya ada banyak pengusaha yang memiliki bisnis startup. Tidak ada salahnya menjual space pengumuman itu kepada mereka. Lagipula mereka kan sekalian membantu program gereja. Jangan katakan itu iklan atau sponsor, katakan saja “membantu pembangunan gereja”, lagipula mereka masih harus membangun basement.

Setidaknya studi banding hari itu membuahkan hasil, “gaya mereka konservatif, tapi mereka memiliki pemikiran yang luar biasa brilian, menjual space pengumuman untuk iklan build in”. Dia bisa memiliki ide yang lebih baik. Akan dibuatnya beberapa paket. Paket paling mahal adalah jika dia sendiri, Bapak Pendeta, yang ada di tempat yang akan diiklankan, sekedar berkotbah atau memberi motivasi. Bagaimana jika meneguk sedikit kopi dengan merk anu kemudian memberi renungan singkat.

Paket kedua adalah jika salah satu pemimpin lain yang ada di tempat yang akan diiklankan. Mungkin (seolah-olah) habis belanja, kemudian menyapa jemaat dengan senyum lebar. Paket paling murah adalah jika logo perusahaan sponsor agak diblur di pojok kanan bawah sambil host pengumuman memberi kilasan kegiatan sepekan. Yaa!! Ide yang brilian… Ada banyak uang yang bisa dihasilkan! Mungkin untuk membangun basement, atau untuk iklan mengenai dirinya di beberapa titik di kota ini, atau sekedar berangkat ke Yerusalem… Siapa tahu!

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ketika Yesus marah di Bait Suci karena ada yang menjual merpati dan menukar duit, “Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa….dan kamu menjadikan Rumah Bapa-Ku ini sarang penyamun”

Apakah tak apa menjual space pengumuman untuk iklan. Ah, pastinya tak apa-apa… Bukankah uangnya digunakan untuk membeli “Emas untuk Bait Suci Tuhan”, ya…dikembalikan pada Tuhan juga toh? Kalau gereja memiliki basement, bukankah itu adalah salah satu “Emas untuk Bait Suci Tuhan”?

Lagipula, mungkin saja Yesus marah-marah karena apa yang dijual orang-orang itu kotor dan bau. Jamannya sudah berubah, “Emas untuk Bait Suci Tuhan” semakin mahal. Apa yang dijual tak lagi kotor dan bau… Ia memejamkan mata lalu mengambil keputusan, “sepertinya tak apa,… selama itu untuk “emas untuk Bait Suci Tuhan”.

—-

Sementara itu di bangku VIP…

Pengusaha muda itu tak sabar menanti waktu-waktu itu. Kotbah yang isinya mirip dengan apa yang sering dilihatnya di TV tak terlalu menarik minatnya. Ia hanya tertarik pada pengumuman yang mengambil lokasi di Cafe baru miliknya. Ayahnya adalah penyumbang terbesar gereja ini.

Tak semua orang bisa memasang iklan di mimbar gereja, tapi ayahnya bisa. Bapak Pendeta gereja ini selalu mengatakan “milikilah mentalitas kerajaan”. Bahkan sebuah kerajaan pun memiliki kebutuhan, bukan? Hebatnya, raja yang bijak mengetahui bagaimana caranya memperlakukan para bangsawan. Lagipula, dari mana emas untuk pembangunan Bait Suci diperoleh kalau bukan dari orang-orang seperti ayahnya.

Ya, tak semua orang bisa melakukan apa yang ayahnya lakukan. Mungkin tak murah untuk memasang iklan di gereja, tapi bukankah uangnya untuk membeli “Emas untuk Bait Suci Tuhan”.

 

ps: Cuma cerpen, ojo baper! ojo tebak-tebakan!

 

PGI dan LGBT: Sebuah Ulasan dari Orang Awam


Rasanya kurang pantas jika saya membuat semacam surat terbuka, atau mengomentari Pernyataan Pastoral tentang LGBT yang ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekjen PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia), karena saya bukan pendeta dan tidak memiliki titel teologis apapun. Saya hanyalah seorang guru dan trainer yang banyak memberikan pertanyaan pancingan (selain mengajar tentu saja), dan seorang Management Consultant yang banyak memberikan pertanyaan jebakan supaya klien saya melihat lebih jernih, juga seorang penulis realis yang senang mengkritisi apa yang sedang terjadi. Jadi, ijinkan saya, melalui tulisan ini, mengajukan beberapa pertanyaan untuk direnungkan (saya tidak cukup PD untuk menulis ‘direnungkan oleh Yang Terhormat Ketua PGI’)

Beberapa hari ini umat Kristen merasa dikejutkan oleh sebuah Surat Pastoral ber-kop PGI dan bertandatangan Ketua Umum dan Sekjen PGI, isinya membahas mengenai pandangan gereja PGI mengenai LGBT. Di surat sepanjang 5 halaman tersebut, Yang Terhormat para Pengurus PGI membaginya menjadi  Surat Pendahuluan, Pengantar (poin 1 – 3), Titik Tolak (poin 4 – 7), Rekomendasi (poin 8 – 12) dan Penutup (Poin 13-14). Bagi Saudara yang penasaran dan belum pernah membaca, berikut saya berikan PDF yang saya buat dari gambar-gambar yang saya dapatkan: Surat Pastoral PGI

Baik, mari kita mulai (tulisan ini agak panjang, silahkan akhiri di sini jika Saudara merasa tidak tertarik)

Surat Pendahuluan

Saya membayangkan para pengurus PGI yang merupakan para pemuka gereja-gereja se Indonesia sedang duduk dalam sebuah sidang yang terhormat pada tanggal 26 – 28 Mei 2016 (halaman 1) membicarakan sebuah isu sensitif: bagaimana seharusnya sikap organisasi gereja (yang mereka wakili) terhadap LGBT. Para pendeta besar itu duduk di kursinya, berpikir, berdiskusi dan mengeluarkan butir-butir.

Dalam bayangan saya (sekali lagi, ini hanya bayangan saya), para Doktoral yang terhormat itu mengemukakan pendapatnya satu persatu mengenai masalah ini. Beberapa diam karena merasa tidak punya cukup referensi (walau Alkitab seharusnya sudah cukup jelas), beberapa berbicara dengan berapi-api (mungkin karena ada kenalan atau saudaranya yang juga merupakan bagian dari LGBT), beberapa menyampaikan pandangan, beberapa memandang ke depan dengan pandangan kosong sambil menantikan akhir jaman.

Kemudian setelah tiga hari yang terasa begitu panjang, dibuatlah sebuah rangkuman pembicaraan tersebut, ditujukan kepada Pimpinan Gereja Anggota PGI, entah sebagai “undang-undang” yang harus diterima atau hanya sebagai “draft keputusan”, saya tidak paham, yang saya tahu pasti dalam surat pendahuluan itu tertulis Pengantar Pernyataan Sikap PGI.

Surat pendahuluan itu diakhiri dengan himbauan agar organisasi gereja – gereja memberikan pandangannya agar PGI dapat menyempurnakan Sikap dan Pandangannya. Saya rasa ini satu-satunya bagian yang saya puji dari surat pendahuluan ini, terbuka untuk masukan, walau saya sesalkan juga. Jika memang ini merupakan sebuah bola api yang digulirkan untuk dibahas, bukankah PGI tidak perlu membuat tulisan Pernyataan Sikap? Mereka bisa menulisnya sebagai Usulan Pernyataan Sikap.

Disebutkan bahwa pertimbangan-pertimbangan PGI tidak bermaksud menyeragamkan pandangan organisasi gereja yang berbeda tentang LGBT. Jika memang demikian, lalu untuk apa Surat Pastoral ini dibuat?? Jika tidak perlu berdampak, untuk apa repot-repot mengadakan sidang MPH selama tiga hari hanya untuk membahas sesuatu yang ‘tidak perlu diterima’?? Jika PGI mewakili organisasi gereja-gereja di bawahnya, mengapa mengeluarkan Pernyataan Sikap yang ‘tidak perlu diterima’?

Pengantar

Sebuah poin yang menarik dari bagian pengantar adalah poin 2:

Allah menciptakan manusia, mahluk dan segala ciptaan yang beraneka ragam dan berbeda-beda satu sama lain. Kita hidup dalam keanekaragaman ras, etnik, genderorientasi seksual, dan agama. Keanekaragaman ini adalah sebuah realitas yang Allah berikan kepada kita, yang seharusnya kita terima dengan sikap positif dan realistis

WOW!!! Bukankah luar biasa?? Apakah maksudnya keanekaragaman orientasi seksual yang terjadi saat ini disamakan dengan keanekaragaman agama?

Setahu saya, Tuhan hanya menciptakan tiga gender di dunia:

  1. Wanita (Betina)
  2. Pria (Jantan)
  3. Hermafrodit (hewan yang membuahi dirinya sendiri)

Khusus untuk hewan tingkat tinggi dan manusia, Tuhan hanya memberikan dua saja: Pria dan Wanita. Selain untuk mengasihi satu dengan yang lain, tujuan Tuhan sederhana, supaya mereka bisa berkembang biak. Tuhan memberikan perangkat yang berbeda untuk pria dan wanita agar ketika disatukan, keduanya bekerjasama menghasilkan keturunan.

Jika memang gender hanya dua untuk manusia, apakah ini bisa dikatakan KEANEKARAGAMAN? Jika jenis tumbuhan hanya dua di dunia, apakah kita bisa mengatakan bahwa Tuhan menciptakan aneka ragam tumbuhan? Semoga Anda mengerti maksud saya.

Demikian juga orientasi seksual. Ada dua orientasi seksual yang kita kenal: Heteroseksual (tertarik pada lawan jenis) dan Homoseksual (tertarik pada sesama jenis). Apakah Yang Terhormat para Ketua PGI hendak mengatakan bahwa Tuhan yang patut bertanggungjawab dan dipersalahkan atas adanya Homoseksual?? Apakah Homoseksual merupakan produknya Tuhan?

Bagaimana dengan kecenderungan (orientasi) seksual orang yang meyukai binatang secara seksual, atau yang menyukai dan menikah dengan Menara Eiffel? Apakah itu salah satu keragaman orientasi seksual yang Tuhan ciptakan?
Sebagai non-pendeta dan non-gelar-teologis, saya sih tidak berani mengklaim demikian, bagaimana dengan Anda?

Sisanya Para Pendeta Besar yang terkumpul dalam kepengurusan PGI menghimbau agar kita bersikap positif, realistis dengan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada. Poin 3 tidak ada masalah saya setuju kita harus mengasihi siapapun, baik itu LGBT maupun manusia normal, baik itu wanita penghibur maupun istri pendeta, baik itu pembunuh maupun pendeta.

Titik Tolak

Poin 4:

Membicaraan LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan mahluk Allah yang sangat dikasihi-Nya.

Saya tidak mengerti poin ini. Rupanya mereka tidak dapat membedakan antara perilaku dengan pelaku. Ada perbedaan antara pelaku dan perilaku. Pelaku adalah manusia, sedangkan perilaku adalah apa yang diperbuatnya. Secara logika matematika, pernyataan ini tidak ada yang salah.

  • A: LGBT adalah manusia
  • B: Manusia merupakan mahluk yang dikasihi Tuhan
  • Kesimpulan: LGBT merupakan mahluk yang dikasihi Tuhan

Namun, kata “membicarakan” membuatnya menjadi fail! Ketika kita membicarakan LGBT, kita tidak sedang membicarakan manusia yang merupakan mahluk Tuhan yang sangat dikasihi-Nya. Ketika kita membicarakan LGBT, kita membicarakan sebuah perilaku dari manusia yang merupakan mahluk Tuham yang sangat dikasihi-Nya.

Oke, Anda mungkin berkata “kaya gitu aja kok diributin”. Ada alasan saya membahas ini, karena ada sebuah pernyataan di poin ke 6 (poin ini merupakan favorit saya di mana saya tertawa paling keras). Anda bisa membacanya sendiri, namun saya bisa merangkumnya dengan interpretasi saya (maafkan jika salah):

  1. Kita mengatakan bahwa LGBT itu melawan moral karena kita salah paham dalam mengartikan Alkitab
  2. Alkitab tidak pernah menghakimi LGBT, Alkitab mengkritisi perlakuan eksploitatif seksual (pemerkosaan)
  3. Heteroseksual adalah sebuah orientasi seksual yang “kita anggap normal” dan bukan orientasi seksual yang normal
  4. Dalam kisah penciptaan Adam dan Hawa tidak ada tertulis bahwa Tuhan menolak kaum LGBT.

Pertama, dalam penciptaan belum ada alat make up operasi plastik sehingga tidak ada transgender, kedua dalam penciptaan jika terdapat LGBT, maka jaman sekarang manusia tidak akan sebanyak ini di muka bumi… mungkin setengahnya, karena perintah Tuhan “penuhilah bumi” hanya bisa dilakukan oleh orang yang menurut PGI “dianggap normal”

Ketiga, berkaitan dengan poin sebelumya tentang pelaku dan perilaku. Jika memang kita salah paham (salah interpretasi) terhadap ayat yang mudah seperti I Korintus 6:9 (Atau tidak tahukah kamu, ahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga? Janganlah sesat! orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, pemburit), betapa banyak ayat yang kita bisa salah pahami. Dalam ayat 10 dikatakan “pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga”

Bagaimana jika kita juga salah paham?? Bagaimana jika ternyata korupsi diijinkan karena korupsi bukanlah bagian dari pencuri dan karena koruptor adalah manusia yang dikasihi Tuhan dan memiliki martabat?

Sekali lagi, bedakan antara perilaku dan pelaku. Tuhan mengasihi pelaku kejahatan itu betul, bahkan Yesus makan dengan orang berdosa. Tapi itu tidak dengan serta merta membuat Yesus berkata “manusia lahir dengan kecenderungan berbuat dosa, itu sudah bawaan lahir, jadi kita harus menerimanya sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diubah”

Rekomendasi

Jika poin 6 adalah tempat saya tertawa paling keras, poin rekomendasi adalah tempat saya merasa terkhianati oleh pemimpin gereja.

Kesimpulan poin 8 adalah PGI mengingatkan kita semua mempertimbangkan hasil-hasil penemuan mutakhir baik itu dari kedokteran, WHO, PDSKJI dan sebagainya tanpa sedikit pun mempertimbangkan hatinya Tuhan.

Disebutkan bahwa LGBT merupakan sesuatu yang natural, sudah diterima sejak manusia dilahirkan, walau ada juga karena pengaruh sosial.

Dalam salah satu kalimat di poin 8 disebutkan:

Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat. Kita juga tidak boleh memaksa mereka berubah, melainkan sebaliknya, kita harus mendorong mereka agar bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.

Saya ingin bertanya,

  1. Bagaimana caranya mendorong mereka agar menerima dirinya sendiri? “Kamu harus menerima kalau kamu lesbian, tidak apa-apa sukailah perempuan yang kau mau” ??
  2. Jika logika di atas dipakai (bahwa jika LGBT normal maka tidak perlu diubah), bolehkah saya mengatakan “Epilepsi adalah bawaan lahir. Karena itu epilepsi bukanlah suatu penyakit dan tidak perlu diobati. Karena apa yang merupakan bawaan lahir adalah normal!”

Adik saya berkata, dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan, sebuah obat bisa ditemukan jika diakui adanya masalah. Solusi baru dapat dibuat jika kita sadar ada masalah.

Organisasi pro-gay Amerika “Parents and Friends of Lesbians and Gays” mengatakan bahwa tidak ada satupun ilmuwan mengatakan bahwa gen dapat menentukan orientasi seksual. Jika gen tidak dapat menentukan orientasi seksual maka pada dasarnya LGBT tidak dilahirkan.

Baik, kita bicara soal ketidakseimbangan hormon. Ada pria yang memiliki hormon wanita berlebih, demikian juga sebaliknya. Jika pria bisa disuntik hormon wanita agar memiliki tubuh wanita, tidak mungkinkah pengobatan dibuat untuk hal ini? Entahlah, saya pun bukan ahli kedokteran.

Poin 9 menyebutkan:

Gereja sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai sebuah Keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT  sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai Tubuh Kristus. Kita harus memberi kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.

Ijinkan saya bertanya satu hal mengenai poin ini. Jika seorang LGBT dibina untuk bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan spiritual, maka mereka akan bertumbuh sebagai apa? Tentunya sebagai LGBT yang utuh secara fisik, mental, sosial dan spiritual. Apakah benar begitu?

Poin 10 cukup membuat saya terkejut. Inti dari poin ini adalah gereja harus mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral (ready???) kepada keluarga. Bukan kepada pelaku LGBT, tapi keluarga. Agar menerima saudara atau keluarga mereka yang LGBT.

Saya setuju dengan poin 10 ini. Peran keluarga sangatlah penting. Keluarga yang terus menerus menolak dengan kasar mungkin akhirnya dapat membuat keluarga mereka (yang LGBT) bunuh diri atau depresi. Namun yang saya soroti, tidakkah ada satu poin pun dari Yang Terhormat Pemimpin PGI menyebutkan agar gereja melakukan bimbingan pastoral kepada LGBT? Oh, saya lupa, tentu saja tidak ada, bukankah menurut mereka LGBT adalah sesuatu yang normal dan tidak perlu diubah.

Poin 11 dan 12 membuat saya bingung sekali. Poin ini berbicara mengenai “memperjuangkan hak-hak dan martabat” kaum LGBT. Saya ingin bertanya:

  1. Hak-hak seperti apa yang diperjuangkan?
  2. Apakah LGBT memiliki hak untuk menikah?
  3. Jika jawaban no 2 adalah ya, apakah mereka juga memiliki hak untuk diberkati di gereja?
  4. Jika jawaban no 3 adalah ya, apakah gereja-gereja di bawah PGI (setidaknya di bawah para pemimpin PGI yang saya pun merupakan salah satu anggotanya) mau menerima pemberkatan pernikahan untuk pernikahan LGBT?
  5. Jika jawaban no 2-4 adalah “tidak”, mari saya ajak Anda berpikir normal: suatu hubungan hetero (pria dan wanita) tidak berakhir di fase ‘saling suka’, tidak juga berakhir di fase ‘pacaran’. Pada suatu titik mereka rindu untuk membangun rumah tangga, dan berhubungan layaknya suami istri. Jika LGBT dianggap normal, maka mereka pun memiliki keinginan normal untuk membangun rumah tangga dna berhubungan layaknya suami istri, bukan begitu? Gereja tidak bisa naif dan berkata “oh, tidak maksud kami… kami hanya mendorong mereka untuk menerima diri, berhenti di titik itu saja” Tidak, pendeta BODOH!!!! Menerima diri berarti menerima bahwa dirinya menyukai orang lain yang sesama jenis dan ingin diperlakukan normal termasuk menikah dan membangun rumah tangga. Anda siap dengan itu, Bapak Pendeta?

Penutup

Bagian penutup merupakan bagian penting yang sangat perlu ditertawakan

LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kita yang mempersoalkannya. Kitalah yang memberinya stigma negatif.

Saya benar-benar menanti PGI mencabut Surat Pastoral ini. Sungguh!! Saya mengerti benar bagaimana perasaan Saudara Muslim yang malu ketika dirinya dianggap sama dengan FPI yang suka anarkis. Saya sungguh malu jika keputusan saya dianggap sama dengan pernyataan sikap PGI.


Notes:

Saya mendengar dari salah seorang teman bahwa beredarnya Surat Pernyataan Sikap merupakan sebuah “kecolongan”. Dengan tertawa saya bertanya “kecolongan seperti apa?”. Saya sungguh-sungguh berharap dia menjawab “kecolongan dalam hal keputusan, seharusnya tidak seperti itu. Ada oknum yang dengan sengaja mengubah isinya, dst”. Tapi ternyata tidak, kecolongan yang dimaksud adalah “seharusnya surat itu tidak tersebar di media sosial karena ditujukan untuk pemimpin gereja.

(Maafkan saya terpaksa kasar) HAI BODOH!!! Jika memang surat ini ditujukan untuk pemimpin gereja, bukankah ini lebih konyol lagi?? Apakah para pemimpin PGI menganggap bahwa pemimpin gereja demikian bodohnya? Dan terpikirkah oleh mereka perasaan jemaat ketika mengetahui pemimpinnya mendapat surat semacam itu? Kami, orang awam ini, merasa dipermalukan, dikhianati dan ditelikung oleh gembala kami sendiri.

Saya mengerti bahwa banyak gereja ber’kiblat’ ke Amerika dan mungkin ini adalah salah satunya. Bahwa banyak Hamba Tuhan menjadi Pendeta Humanis yang lebih condong kepada ‘Apa kata manusia’ daripada ‘Apa kata Tuhan’. Berdirinya bangunan mewah dengan lighting, sound system dan segala hal keren untuk memuaskan mata jemaat membuktikannya. Namun apakah berlebihan jika kami minta ke-humanis-an Anda berhenti pada gedung itu saja, jangan diperparah dengan pandangan humanis yang Anda masukkan ke gereja.

Ketika pemuka agama lain dengan berani menunjukkan sikap menentang tanpa peduli dianggap Homophobia atau anti-humanis, Yang Terhormat para Ketua PGI malah menunjukkan sebaliknya.

Saya angkat topi bagi para Hamba Tuhan yang langsung membuat surat pernyataan sikap terbuka yang menolak Surat Pernyataan Sikap Pastoral-nya PGI. Anda adalah pemimpin yang sangat bertanggungjawab!!

Dan bagi Anda, para pendeta yang belum membuat surat pernyataan, terutama yang namanya disebut dalam jajaran ketua dan pengurus PGI, bukankah itu hanya menunjukkan bahwa Anda menyetujui semua yang tertulis di sana?

Semoga Tuhan memberi kita semua hikmat Surgawi yang melampaui segala akal untuk mengartikan Firman Tuhan, mengaplikasikannya dan membagikannya.

Tuhan memberkati!

Ketika Tuhan Menolak ‘Persembahan Terbaik’ Kita


Saya suka dengan kisah Kain dan Habel. Bukan… bukan ketika Kain membunuh Habel, itu adalah kisah tragis yang memilukan (walau kisah tentang pembunuhan itu merupakan pelajaran yang baik mengenai seseorang yang tidak dapat mengendalikan diri dan menjadi ‘gelap mata’).

image

Saya suka kisah tentang Kain dan Habel yang mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan. Oh ya, saya rasa Kain pun memberikan yang terbaik untuk Tuhan… hanya saja dia menggunakan ukuran yang berbeda, yaitu ukurannya sendiri.

Saya bayangkan, mereka sudah dewasa dan sudah waktunya memberi sendiri korban pada Tuhan, tidak lagi dengan orang tuanya. Mereka sudah dewasa dan bertanggungjawab atas korbannya sendiri kepada Tuhan.

Merasa gengsi, atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak mulai membuat teorinya sendiri, “apa bedanya? Bukankah ladang ini juga ciptaan Tuhan dan aku bekerja dengan berpeluh untuk memberikan hasil tanah terbaik?”

Merasa gengsi, atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak membuat asumsi sendiri dan menyiapkan gandum dan sayur-sayuran terbaik untuk korban bakaran. Lupa akan artinya “darah yang tercurah” yang sudah pernah diceritakan orang tuanya yang terusir dari Eden.

Merasa gengsi atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak mengabaikan cara yang disukai Tuhan dan menggunakan cara yang disukainya. Ia mengabaikan apa yang dihendaki Tuhan dan menggantinya dengan apa yang diinginkannya.

Waktunya pun tiba, ketika batu mezbah dan ranting-ranting sudah disiapkan. Disimpannya gandum, sayur-sayuran dan buah-buahan di atas mezbah sementara adiknya menaruhkan anak domba tak bercacat di atas mezbahnya.

Kita tidak tahu apa tandanya sampai si sulung mengetahui bahwa Tuhan tidak menerima persembahannya. Mungkin saat itu api bakaran berasal dari Tuhan, seperti kisah Elia dan nabi-nabi palsu.

Ketika api sudah melalap habis anak domba, meneteskan lemak yang terbaik, gandum dan sayur dan buah-buahannya tetap tak tersentuh, lebih siap dijadikan salad daripada korban bakaran untuk Tuhan.

Si sulung kecewa berat, “bukankah aku sama lelahnya mengolah tanah ini? Dengan keringat dan peluh aku mengerjakan tanah ini agar memberi hasil yang baik. Lihat apa yang terjadi? DIA tak menyukainya”

Si sulung terpukul, “bukankah yang aku berikan juga yang terbaik? Gandum paling ranum, sayuran paling hijau dan buah-buahan paling segar? Lihat apa yang terjadi? DIA menolaknya!”

Kisah selanjutnya adalah apa yang sudah saya sebutkan di atas, “hati-hati Kain… dosa sedang mengintip…kau harus berkuasa atasnya”, dan Kain memilih menjadi pecundang yang kalah pada dosa yang mengintip.

Kisah ini menarik bukan? Ketika apa yang terbaik menurut kita ternyata ditolak oleh Tuhan. Setelah berjerih lelah memberikan apa yang MENURUT KITA paling baik, ternyata menurut Tuhan itu bukan yang terbaik.

Tahukah Anda apa sebabnya? Karena ukuran yang seharusnya kita gunakan adalah ukuran si penerima. Saya beri contoh, Anda ingin membantu seorang anak yang kurang gizi. Anda tidak bisa lantas memberi dia steak domba lezat karena itu makanan kesukaan Anda. perutnya mungkin tidak akan kuat dan dia mungkin malah mati.

Atau… Anda ingin memberi hadiah ulangtahun berupa buku impor mahal pada adik Anda yang suka main games dan tidak suka membaca. Dia terlihat kecewa dan tidak pernah membaca buku yang Anda berikan.

Apa Anda paham maksud saya? Ketika kita ingin memberi untuk Tuhan, maka ukuran yang harus kita berikan bukanlah ukuran kita,… tapi ukuran Tuhan.

Anda seorang Worship Leader dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu berdandan habis-habisan sebelum naik ke atas ‘panggung’, Anda melatih suara Anda agar indah didengar, Anda mengenakan pakaian terbaik, Anda berusaha agar pakaian Anda menarik dan enak dilihat jemaat. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang Guru Sekolah Minggu dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu mendekor ruangan habis-habisan dan membuat craft mahal dan indah agar anak-anak senang. Anda membuat kurikulum dari Alkitab dilengkapi kisah-kisah modern. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang pemusik dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu melatih chord-chord progresif yang tidak banyak orang tahu. Anda melatih kemampuan jari-jari Anda atau kemampuan memukul drum atau kemampuan menggesek biola. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang pengkotbah dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu mengikuti seminar, kursus public speaking, kuliah theologi hingga S3, dan sebagainya. Anda berusaha menjadi pengkotbah yang berapi-api dan disukai jemaat. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Jangan salah sangka, memberikan yang terbaik untuk Tuhan tidaklah salah… Tentu saja Anda harus memperlengkapi diri agar bisa memberikan yang terbaik. Sebagai Worship Leader, tentu melatih kemampuan vocal itu penting. Sebagai Guru Sekolah Minggu, tentu disukai anak itu penting. Sebagai pemusik, mengenal chord dan bermain musik dengan baik tentu penting. Sebagai pengkotbah, teknik berkotbah tentu penting.

Namun memberikan yang terbaik dengan standar manusia, dan tidak memperhitungkan Tuhan si penerima… itu yang salah.

Memberikan yang terbaik supaya nama kita ditinggikan dan bukan nama Tuhan yang ditinggikan… itu yang salah.

Memberikan yang terbaik karena takut Bapak Pendeta marah…itu yang salah.

Memberikan yang terbaik karena terobsesi untuk ‘kepuasan diri telah melakukan yang terbaik’… itu salah.

Bukankah lucu jika dipikir-pikir, ternyata standar Tuhan seolah-olah “tidak setinggi” standar manusia (atau Bapak Pendeta)? Oh, Tuhan tidak mempermasalahkan chord Anda. Dia tidak akan marah ketika Anda membuat pemain musik mengulang intro dua kali. Dia tidak akan marah ketika Anda harus memarahi anak-anak yang nakal.

Bukankah lucu jika dipikir-pikir, ketika Tuhan tidak marah namun Bapak Pendeta marah ketika PELAYAN TUHAN melakukan kesalahan? Seperti murid-murid yang marah ketika anak-anak datang pada Yesus.

Saudara, prioritas utama kita melayani Tuhan adalah membuat hati-Nya senang… dengan cara meninggikan nama-Nya.

Tak masalah kita berlatih vocal, sejauh itu dilakukan untuk Dia yang memberi kita suara. Tak masalah kita perfeksionis dalam menyajikan musik, sejauh itu dilakukan untuk Dia yang memberi kita kemampuan bermusik. Tak masalah kita mendekor ruangan Sekolah Minggu atau membuat acara untuk anak-anak, sejauh itu dilakukan untuk menyenangkan Dia yang mengasihi anak-anak itu.

Bukankah ketika nama Yesus ditinggikan, Dia akan membuat SEMUA orang datang pada-Nya? Bukan sekedar datang ke gedung gereja, tapi datang kepada-Nya.

Jadi, jika suatu saat kita ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan…pastikan kita menggunakan standar-Nya, yaitu memberikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan, untuk kemuliaan nama-Nya.

Gereja Bintang Lima: Live Streaming


image

“Sudah ibadah hari ini?” saya bertanya pada adik saya, dia menjawab santai, “sudah, live streaming”.

“Live streaming?” tanya saya. Lalu adik saya pun mengajari saya cara mengikuti ibadah dengan Live Streaming! Ternyata benar-benar menyenangkan dan sangat praktis. Untuk kita yang hidup di kota besar, Ibadah dengan Live Streaming adalah solusi yang dapat dipertimbangkan.

Bukankah gaya hidup di kota besar serba praktis? Mulai dari PHD hingga gojek memfasilitasi kita yang sibuk atau malas keluar rumah. Ingin beli tas? Lihat saja toko online dan barang akan datang. Ingin makan Pizza? Hubungi delivery dan pizza akan datang. Ingin berkencan? Cukup buka aplikasi chat dan chatting. Semua dilakukan hanya dengan menggunakan jari-jari dan mata, tidak perlu repot!

Bahkan gereja pun sekarang ternyata sudah mengikuti trend ini. Membuat solusi untuk orang-orang sibuk seperti kami (saya dan adik saya) yang begitu malas keluar rumah di hari libur. Bukankah hari libur adalah hari keluarga, waktunya istirahat bersama keluarga dan bermalas-malasan. Hari minggu adalah hari milik kita. Setelah enam hari begitu sibuk di luar rumah, hari Minggu adalah harinya bangun siang dan bermalas-malasan di tempat tidur, dan bagi saya Ibadah Live Streaming adalah solusi yang begitu brilian!

Saya diberitahu bahwa yang membedakan orang Kristen dengan bukan orang Kristen itu adalah karena orang Kristen ke gereja seminggu sekali. Tapi hal yang kurang menyenangkan dari gereja adalah, sulit sekali mencari tempat parkir. Gereja di mall lebih parah, uang parkirnya mahal sekali. Tapi Gereja Bintang Lima kebanggaan saya memfasilitasi masalah ini dengan menyediakan Ibadah Live Streaming.

Setelah hari ini, saya berjanji pada diri sendiri tidak akan malas-malasan lagi “Ibadah ke Gereja”. Saya berjanji akan rajin Live Streaming bersama dengan adik saya setiap minggu. Jika gereja sudah memfasilitasi, bukankah ini artinya sah untuk dilakukan? Maksud saya, bukankah dengan mengikuti Live Streaming artinya kita pun sudah mengikuti “ibadah”?

Anda mungkin bisa mengikuti kebiasaan baru saya ini. Semuanya begitu mudah…Tidak perlu repot-repot mengeluarkan mobil, tidak perlu repot-repot berdandan atau mempersiapkan diri dan penampilan, tidak perlu mandi, tidak perlu bayar parkir,… cukup buka telepon pintar Anda, buka aplikasi gereja Anda dan bukalah live streaming! Anda akan menyaksikan pertunjukkan ibadah yang luar biasa itu, tutup mata ketika ada yang berdoa, ikut bergumam sedikit saat waktunya pujian penyembahan, boleh mengangkat tangan jika mau, dan Anda dapat menyebut diri “saya sudah ibadah”… LUAR BIASA!

Saya rasa ibadah live streaming ini akan segera menjadi trend baru. Dengan ibadah live streaming gereja-gereja akan melakukan penghematan besar-besaran. Tidak perlu punya gedung gereja, cukup studio seukuran panggung dengan beberapa jemaat bayaran yang bisa berakting dengan baik. Tidak perlu body scanner, seluruh keamanan terjaga. Benar-benar aplikasi yang menguntungkan, benar-benar cerdas!

Tidak perlu banyak pelayan, cukup beberapa figuran yang berjalan hilir mudik. Tidak perlu berinvestasi pada manusia, cukup berinvestasi pada peralatan studio yang canggih. Benar-benar futuristik dan luar biasa, bukan? Saya rasa gereja yang visioner memang harus seperti ini.

Anda bisa ‘beribadah’ dalam keadaan mengantuk, sambil masak, sambil berbaring santai, sambil mengerjakan pekerjaan lain. Kemudian saat pertunjukkan ‘ibadah’ usai, maka kewajiban Anda selesai dan Anda adalah orang Kristen yang sempurna!

Jika ingin menjadi jemaat, cukup isi formulir dan subscribe channel gereja Anda, maka Anda otomatis menjadi anggota jemaat gereja hebat itu, yang tiap hari jumlah anggotanya makin bertambah seiring pertambahan orang yang mendaftar dan pengunjungnya makin banyak seiring dengan banyaknya subscriber.

Tidak perlu saling mengenal dengan berjabat tangan atau mendoakan di dunia nyata, bukankah disediakan chatroom di aplikasi itu, tempat jemaat boleh saling menyapa seperti aplikasi MIRC jaman dulu.

Anda sakit? Gereja Live Streaming ini solusinya. Anda bisa tetap ibadah di tempat tidur Anda. Lupakan bapak pendeta yang akan mengunjungi atau mendoakan Anda. Silahkan telepon ke hotline yang disediakan dan tunggu jawaban jika Anda beruntung.

Anda butuh Perjamuan Kudus? Mudah sekali! Anda bisa membeli roti perjamuan dan anggur cup dengan jasa delivery (gojek juga bisa) dan menyimpannya di tempat yang tertutup, kemudian mengikuti Perjamuan Kudus di rumah.

Memberi persembahan? Nah, itu tetap perlu dilakukan, tapi Anda cukup transfer ke no rekening yang disediakan atau bisa juga menggunakan kartu kredit. Bukankah jika ingin diberkati kita harus banyak memberi?

Saya berharap ke depannya akan dikembangkan aplikasi yang lebih modern atau lebih menyenangkan. Di mana kita bisa memilih avatar sendiri yang sedikit banyak menyerupai wajah kita (rambut, warna kulit, pakaian). Setengah jam sebelum ibadah dimulai, kita bisa bermain mendandani Avatar kita, kemudian jangan lupa tekan tombol “go” yang berarti Anda pergi ke gereja,.

Kemudian sebelum ibadah dimulai kita bisa ngopi-ngopi santai di Cafe Gereja (yang tentu saja ada di aplikasi itu) atau belanja di toko buku online milik gereja yang hanya dibuka di hari Minggu dan mengetik “enter” untuk memasuki ruang ibadah. Tidak perlu takut teroris atau apapun yang mengancam, sungguh ibadah dengan rasa aman.

Kita juga bisa memilih kursi yang ingin kita duduki (bisa juga kalau memesan tiket sebelumnya melalui aplikasi agar kebagian kursi). Silahkan lihat kanan dan kiri Anda dan tekan tombol “bersalaman” untuk bersalaman dengan avatar di sana dan ketikkan “Tuhan memberkati” untuk menguatkan mereka. Bayangkan, ada banyak tulisan “Tuhan memberkati” di program itu. Bukankah makin banyak tulisan maka Tuhan makin senang dan Dia akan makin memberkati kita?

Kemudian jangan lupa tekan tombol “tepuk tangan” dan “angkat tangan” saat diminta dan jangan lupa tekan “doa” saat harus berdoa! Semuanya sederhana dan yang penting menyenangkan dan kekinian.

TUHAN? Ah, bukankah Dia Maha Mengerti… mungkin Dia juga sedang membuat aplikasi Surga untuk Anda yang rajin datang ke membuka Gereja Live Streaming ini… Pastikan saja user name Anda akan terdaftar di Surga Virtual ini…

Jadi, Anda siap bergabung dengan Ibadah Live Streaming seperti saya?

Ketika Tuhan tidak memiliki kepentingan


imageSejak usia sangat kanak-kanak, orangtua saya mengirimkan saya ke Sekolah Minggu. Di usia tiga tahun lebih saya pergi berjalan kaki ke Sekolah Minggu yang letaknya dekat dengan rumah saya.

Saat-saat itu adalah saat tak terlupakan. Ketika adik saya yang baru berusia 2 tahunan tertidur di sekolah minggu karena memang masih begitu kecil, dan guru sekolah minggu kami menggendongnya berjalan kaki pulang ke rumah saya.

Saat-saat itu begitu luar biasa karena kami tak sabar menunggu Minggu Sore untuk kebaktian Sekolah Minggu yang diselenggarakan di garasi rumah seorang tetangga.

Guru Sekolah Minggu kami akan mengunjungi anak-anak yang tidak hadir untuk memastikan mereka baik-baik saja, dan mendoakan mereka yang sakit. Oh, betapa mereka banyak berinvestasi dalam kehidupan saya.  Continue reading “Ketika Tuhan tidak memiliki kepentingan”

Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment


image

Wekernya berbunyi tepat pukul 4. Sepertinya sudah terlambat untuk Saat Teduh. Tidak!! Tidak ada waktu untuk bersaat teduh, lagipula bukankah apa yang akan dilakukannya untuk menyenangkan Tuhan? Seharusnya begitu! “Jadi sudahlah,” pikirnya, “Dia pasti mengerti”

Hal pertama yang akan dilakukannya pagi itu adalah menghias dirinya. Seorang make up artis telah siap untuk mendandaninya dan teman-temannya. Sebagai wanita, dia suka sekali didandani, mengenakan bulu mata palsu, riasan wajah, rambut dihias bak puteri, “Ah, aku akan menjadi cantik dan semua pasti iri melihatku!” pikirnya.

Continue reading “Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment”