Kita Ketemu di Rumah Saja


Sebuah Cerpen, Seri Gereja Bintang Lima (feel free not to read it)

Aku masuk gedung megah itu, suasananya dingin, penerangan minim, hanya sedikit cahaya remang-remang di panggung, rupanya acara belum dimulai. Kulihat kanan dan kiriku, tampak beberapa orang muda sedang duduk menekuni smartphone mereka, beberapa yang sudah tua tampak khusuk berdoa.
 
Aku duduk dengan perasaan tak menentu, sudah lama sejak terakhir kali aku masuk ke gedung yang katanya tempat orang Kristen bersekutu. Terakhir kali aku masuk gereja adalah ketika usiaku masih sangat muda, bersama orang tuaku. Aku ingat orang tuaku menyuruhku duduk diam sebelum ibadah mulai, dan mereka berlutut untuk berdoa mempersiapkan hati sebelum ibadah.
 
Kenangan terakhirku di gereja adalah ketika aku kecewa dengan para pemimpin gereja kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari gereja. Aku terhilang.
 
Hari ini aku memutuskan untuk kembali. Gedung yang dulu biasa-biasa saja sekarang sudah tampak megah dan modern. Ruangan yang dahulu terang, kini remang-remang. LCD Proyektor yang dahulu tergantung di langit-langit berubah menjadi layar LED raksasa. Lampu neon berubah menjadi sistem penerangan canggih yang dapat diatur tingkat keredupannya (aku mengatakan tingkat keredupan karena tampaknya jarang sekali lampu itu disetel terang)
 
Tiba-tiba layar besar itu menampakkan hitungan mundur dan ketika hitungan itu tiba di angka 0, pemain drum menggebuk kencang drumnya, suara gitar melengking tinggi dan seorang pemandu acara (entah apakah aku sanggup menyebutnya worship leader) muncul entah dari mana sambil berteriak “Siap memuji Tuhan”.
 
Suara ini begitu bising, otakku seperti membeku mendengar bisingnya suara di sekelilingku. Aku pernah membaca:
“Beberapa studi telah menunjukkan bahwa stres akibat suara yang bising bisa memicu pelepasan kortisol (hormon stres). Kelebihan hormon ini bisa merusak fungsi di bagian prefrontal korteks yaitu pusat pembelanjaran emosional.”
 
Musik dihentak dalam frekuensi yang membuat denyut jantung berpacu semakin cepat dan otak tak dapat berpikir hal lain kecuali menggerakkan seluruh anggota badan. Seperti di tempat dugem, kenapa Anda pikir mereka menari menghentak-hentak? Karena musik dimainkan dalam frekuensi di mana otak tak dapat bereaksi lain selain menggerakkan tubuh.
 
Belum lagi kilatan lampu yang dimainkan begitu liar. Beberapa wanita tua menutupi matanya dengan tangan ketika lampu itu mengenai wajahnya, beberapa kagum melihat lampu. Aku? Aku menghitung jumlah alat penghasil lampu-lampu itu, terkagum…!
 
Aku tercenung sesaat, momen yang begitu canggung, dan aku menepukkan tanganku sekali dua kali, bingung bercampur terkejut. Ternyata cukup lama aku meninggalkan tempat ini.
 
Saat sekolah minggu aku pernah diajarkan, Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Aku hanya berpikir, dengan latar belakang musik yang begitu keras dan lampu yang bergerak liar, mungkinkah seseorang menggunakan hatinya, jiwanya dan akal budinya untuk menyembah Tuhan? Ataukah menyembah Tuhan bukan bagian dari mengasihi Tuhan?
 
Ataukah kita datang ke tempat ini hanya untuk rutinitas mingguan, tidak diharapkan menyembah dan memuji dengan sungguh-sungguh? (Karena toh menyembah dan memuji dapat dilakukan dengan lebih khusuk di dalam kamar).
 
Kemudian tiba waktunya, seorang berpakaian keren maju ke depan, dialah “Pastor” (Oya, aku tidak tahu kenapa tapi belakangan pemimpin gereja lebih suka disebut Pastor atau Senior Pastor daripada gembala). Dia membaca sebuah ayat dari LCD yang besar itu, kemudian bicara mengenai beberapa hal yang memotivasi dan menginspirasi jemaat untuk “diberkati lebih lagi”, dan ibadah ditutup dengan nyanyian merdu dari pemandu acara “Kiranya….Engkau memberkati aku melimpah-limpah….”
 
Setelah satu setengah jam yang melelahkan, aku kemudian masuk ke mobilku, menarik nafas panjang dan berkata dalam hatiku, “Tuhan, keberatankah Kau kalau kita bertemu di rumah saja?
Advertisements

Kelas untuk Pendeta Gereja Bintang Lima


Itu adalah kelas yang unik, setiap mahasiswa pasca sarjana yang ada di dalamnya begitu perlente, tak jarang mereka berdasi dan mengenakan jas mahal yang begitu bergaya. 

Mereka tidak belajar dengan tujuan untuk lebih mahir melakukan sesuatu, atau untuk lebih tahu akan sesuatu. Tidak! Mereka belajar untuk mendapat suatu gelar kehormatan “Doktor” yang merupakan syarat tak tertulis bagi para Pendeta yang memimpin sebuah Gereja Bintang Lima.

Cara berkotbah sudah mereka kuasai, isi Alkitab sudah mereka baca bolak balik tak terhitung berapa kali. Mereka bahkan dapat memahami Alkitab yang ditulis dengan bahasa aslinya. Mereka pun sudah merasa mengenal Tuhan, buktinya mereka hafal nama-nama Tuhan, baik dalam bahasa Ibrani, Yunani, hingga bahasa Arab.

Ilmu komunikasi? Jangan ditanya! Mereka sudah bisa membuat jemaat menangis termehek-mehek dan terbakar oleh semangat setiap kali habis mendengar kotbah mereka. Dalam hati bahkan mereka merasa, tanpa bantuan Roh Kudus pun mereka mampu melakukannya.

Ilmu Manajemen? Wah, walau bukan ahlinya, tapi siapa yang dapat menentang mereka? Lagipula, dengan adanya sistem software, keamanan dan teknologi yang baik, tak ada yang peduli dengan sistem manajemen yang benar.

Jangan tanya soal mengelola keuangan. Jika semua anak-anakmu sekolah di luar negeri, siapa yang berani bicara soal mengelola keuangan denganmu. Kau bahkan dapat menghasilkan ratusan juta hanya dengan bicara dan menantang orang di panggung mimbar selama 45 menit.

Ya, kelas itu memang kelas yang unik. Dosen yang mengenakan kacamata dan sepatu butut, yang mengabdikan hidup untuk mengajar dan mengendarai motor bebek adalah saluran berkat, tapi mereka bukan apa-apa dibanding para mahasiswa yang adalah Para Pendeta Gereja Bintang Lima yang terhormat.

Suatu kali pernah dibahas masalah LGBT di kelas itu. Sebagai pendeta Gereja Bintang Lima mereka tidak bisa terang-terangan menyebut itu dosa, tidak bisa! Jemaat mereka kebanyakan adalah orang berpendidikan yang menganut prinsip humanisme dan berpikir “masakan Tuhan tidak menghendaki umatnya bahagia dengan pilihan orientasi seksual mereka.” Jika pendeta Gereja Bintang Lima terang-terangan menentang hal ini, maka mereka akan ditinggal para manusia humanis modern yang memberikan perpuluhan besar untuk gereja. Biarkan saja para penginjil dan pendeta pedesaan yang menentang hal itu.

Suatu kali juga pernah dibahas mengenai ide bagaimana agar gereja bisa membangun gedung megah tanpa terlilit utang piutang. Sebuah gedung mewah yang akan meningkatkan gengsi para pendeta itu. Proyek janji iman, door prize bagi jemaat yang memberi perpuluhan, hingga program iuran berjangka menjadi jawaban. 

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya mereka mengembangkan software yang mendata seluruh jemaat, pekerjaan dan gajinya. Software itu juga bisa memberikan informasi siapa jemaat yang berpotensi memberi paling banyak untuk gereja Tuhan. Tujuannya agar Pendeta bisa melakukan follow up dan menjadwalkan kapan perlunya berkotbah tentang pentingnya memberi perpuluhan dan apa konsekuensi jika tidak memberi.

Ada juga pendeta yang mengatakan gerejanya memberikan semacam kupon undian bagi jemaat yang rutin hadir dan memberi persembahan dan perpuluhan. Kupon itu akan diundi akhir tahun, dan yang menang akan mendapatkan hadiah mobil keluaran terbaru.

Ada satu pendeta yang mengatakan bahwa di gerejanya semua jemaat dapat mendaftar untuk suatu program kematian. Mereka diwajibkan menyetorkan sejumlah uang setiap tahun, katakanlah Rp.200.000/anggota keluarga agar sewaktu-waktu jika ada anggota keluarga yang mati, gereja bisa memberi santunan sejumlah Rp.10.000.000. Jemaat pasti bersedia mendapat keuntungan berlipat seperti itu saat mereka mati. Bahagia di bumi, bahagia di Surga. Kemudian ada rekan pendeta yang bertanya “kalau sampai ada yang terlambat atau tidak bayar bagaimana, katakanlah di tahun ketiga?”. Setelah berpikir sejenak, pendeta itu menjawab “tentu saja haknya hilang, keanggotaannya gugur secara otomatis”

Ada pendeta yang mengatakan gerejanya menemukan suatu metode baru yang membuat para  pengunjung jemaat diperhatikan. Mereka yang terdaftar sebagai jemaat harus membuat kartu yang akan dikenal oleh alat pemindai di depan pintu. Alat pemindai itu dapat mengenali setiap (kartu identitas) jemaat dan menuliskan nama jemaat di layar monitor yang tersedia. Ah, para domba bodoh itu senang bukan kepalang saat namanya muncul di monitor, “Selamat datang Bapak Anu, minggu kemarin gak dateng ya, di program kami tidak terdetect soalnya.” Hanya saja pendeta itu mengatakan mereka masih belum menemukan cara jika kartu anggota ketinggalan di rumah. Mungkin chip yang ditanam di tangan adalah solusinya.

Gedung gereja dan teknologi merupakan suatu topik yang sering dibahas di kelas yang unik ini. Mereka sibuk menyelidiki satu dengan lainnya. Secara tersirat terasa sekali aroma persaingan di antara para pendeta ini. Jika yang satu diundang ke gereja yang lain, mata mereka akan menyapu gedung itu dengan cepat. Kemudian di pertemuan para pengerja (dan pengembang) dibahas “gereja kita harus membeli LED yang besar, gereja si Anu sudah memilikinya” atau “lighting kita sudah ketinggalan jaman, ganti semua dengan yang baru” atau “buat proposal untuk menjual space iklan di media pengumuman”.

Ketika suatu saat di kelas itu pak Dosen dengan sepatu butut bertanya “bagaimana dengan Tuhan”, kelas pun hening… satu orang memberanikan diri menjawab “bukankah dalam suatu pesta tamu kehormatan harus duduk diam? Mereka harus menghargai tuan rumah yang mengadakan acara”

Kemudian dari belakang kelas terdengar seorang pendeta bergumam”kami yang melakukan semuanya, bukan Tuhan”

Kemudian satu orang berkata, “Tuhan ini,… apakah Dia benar-benar bekerja? Kami lihat Dia diam saja. Ya, KAMI yang melakukan semuanya. Kami yang bekerja menemukan topik yang tepat untuk membuat pengunjung itu terhibur dan tetap mau datang ke gereja. Kami yang susah-susah memikirkan tempat parkir agar jemaat mau datang”

Dari sudut yang lain terdengar lagi, “benar, kami yang memancing pengunjung dengan ide kami tentang topik dan dekorasi yang menarik tiap minggunya. Kami yang melakukan audisi untuk para pelayan mimbar agar mereka terlihat menarik di mata siapa saja yang hadir”

Pak dosen duduk diam dan berkata, “lalu apa yang seharusnya Dia lakukan?”

Kali ini para pendeta itu terdiam… ya, apa yang seharusnya Tuhan lakukan… semua bagian sudah dilakukan oleh mereka. 

Sebuah suara terdengar, “di jaman modern ini, sebaiknya Dia diam saja. Kami lebih tahu situasi jaman daripada diriNya. Dia adalah topik yang menarik untuk dibicarakan dan diceritakan. Ya, dia produk yang menjual… Tapi, sebaiknya Dia diam saja”

Dosen bersepatu butut itu bertanya lagi, “bagaimana dengan doa dan kuasanya?”

Setelah keheningan yang tak lama seorang pendeta berkata “doa adalah topik yang menarik untuk dibawakan, tapi sudah lama kami tak mempercayai kuasa doa. Ayolah, kami bahkan hanya menaruh kartu -kartu doa itu di dalam kotak, sama sekali tak kami sentuh. Kami doakan kotak itu dengan seadanya saja dan mereka tetap datang pada kami di kebaktian doa”

Sebuah suara lagi terdengar “doa adalah sebuah pengalihan yang bagus sekali. Ketika seorang jemaat datang padamu dengan masalahnya kau tinggal berkata ‘berdoa saja’ tanpa harus repot-repot menjadi jawaban atas doa mereka. Kemudian, jadikan iman mereka sebagai kambing hitam jika doa-doa mereka tak terjawab” dan tawa pun meledak di kelas itu.

Setelah menarik nafas panjang, Dosen itu bertanya lagi, “bagaimana dengan kedatangan Yesus yang kedua”

Dan kelas pun hening untuk waktu yang sangat lama sampai akhirnya ada yang menjawab dengan bisikan lirih, “apakah Dia akan datang? Maksudku, apa Dia benar-benar akan datang?”

Kemudian Pak Dosen bersepatu butut itu meninggalkan kelas dengan tertunduk lesu sambil berbisik, “ya Tuhan, apa Kau benar-benar ada?”

—–

Ps: Hanya cerpen untuk refleksi, tolong jangan dianggap sebagai serangan…

Gereja Bintang Lima: Emas untuk Bait Suci Tuhan


Hari Minggu ini cerah sekali. Seperti biasa, Pendeta Besar akan diundang ke Gereja Besar lagi. Pendeta Gereja Bintang Lima seharusnya memang berkotbah di Gereja Bintang Lima lainnya bukan? Ga level kalau hanya di kelas Bintang tiga, apalagi kelas melati. Selain itu,… sekalian studi banding. Jika ada yang lebih baik bisa ditiru (dengan diam-diam tentunya, malu juga kalau meniru terang-terangan), kalau lebih buruk bisa dibawa ke Rapat Mingguan Pengerja, “Gereja kita lebih unggul di bidang lighting” atau “Gereja kita lebih baik sound systemnya, jauh lebih mahal”.

Bapak Pendeta dengan semangat naik ke mobilnya, mengendara dengan jantung berdegup kencang. Hari ini dia akan kotbah di gereja saingan terberat. Gereja yang sama-sama maju, sama-sama besar dan sama-sama memiliki lift (“tapi tidak memiliki eskalator” pikirnya bangga) dan memiliki basement (“nah, yang ini akan diusahakan“)

Dia tiba tepat waktu, tidak terlambat, tidak juga lebih cepat. Tepat waktu! Disambut oleh semacam koordinator ibadah dan dibawa ke barisan paling depan, tempat duduk VVIP, khusus Pendeta Besar seperti dirinya (“Entah di mana Yesus duduk saat itu, yang jelas, bangku VVIP adalah milikku“)

Pembukaan ibadah tidak mirip seperti di Gereja Bintang Lima miliknya. Gereja ini agak konservatif. Mereka masih berdoa sebelum memulai ibadah. Padahal trend terbaru dalam beribadah di Gereja Bintang Lima seharusnya adalah pemain drum atau gitar dengan tatanan rambut modern (jika perlu memakai kacamata hitam), kemudian ‘disirami’ lampu warna-warni. Seharusnya setelah itu masuk para entertainer berpakaian seragam lucu yang siap bergerak kiri kanan menghibur jemaat yang hadir, langsung saja…tidak perlu berdoa.

Kemudian setelah penyembahan yang cukup panjang, diakhiri dengan doa (yang konservatif menurut Bapak Pendeta), dimulailah rangkaian pujian yang semangat. Jemaat mengangkat tangan dan sebagian berjingkrak-jingkrak. Bapak Pendeta melihat ke belakang “Luar biasa!” pikirnya “Mereka semua begitu bergembira. Tentu saja, di Gereja Bintang Lima milikku pun semua bergembira….dan terhibur“.

Kemudian tibalah gilirannya berkotbah. Dia adalah pengkotbah handal, memiliki program di televisi lokal dan banyak digemari ibu-ibu hingga nenek-nenek. Kotbahnya penuh kata-kata motivasi yang menguatkan, diselingi dengan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipilihnya baik-baik. Menguatkan, meneduhkan dan menyemangati siapa saja yang hadir dan mendengarnya.

Kemudian tibalah saat itu… Saat-saat yang begitu menginspirasi. Ketika multimedia mulai menampilkan ‘pengumuman’. Scene pertama dari pengumuman itu menunjukkan lokasi pengambilan gambar, sebuah cafe yang bergaya klasik, dengan pajangan unik yang bergelantungan di sana sini. Belum lagi daftar menu yang membuat perut lapar, daftar harga pun sempat dilewati sekilas.

Bapak Pendeta tidak dapat fokus dengan isi dari iklan pengumuman sepekan yang ditampilkan. Kepalanya dipenuhi ide-ide luar biasa mengenai menjual space iklan pengumuman kepada pengusaha. Di gerejanya ada banyak pengusaha yang memiliki bisnis startup. Tidak ada salahnya menjual space pengumuman itu kepada mereka. Lagipula mereka kan sekalian membantu program gereja. Jangan katakan itu iklan atau sponsor, katakan saja “membantu pembangunan gereja”, lagipula mereka masih harus membangun basement.

Setidaknya studi banding hari itu membuahkan hasil, “gaya mereka konservatif, tapi mereka memiliki pemikiran yang luar biasa brilian, menjual space pengumuman untuk iklan build in”. Dia bisa memiliki ide yang lebih baik. Akan dibuatnya beberapa paket. Paket paling mahal adalah jika dia sendiri, Bapak Pendeta, yang ada di tempat yang akan diiklankan, sekedar berkotbah atau memberi motivasi. Bagaimana jika meneguk sedikit kopi dengan merk anu kemudian memberi renungan singkat.

Paket kedua adalah jika salah satu pemimpin lain yang ada di tempat yang akan diiklankan. Mungkin (seolah-olah) habis belanja, kemudian menyapa jemaat dengan senyum lebar. Paket paling murah adalah jika logo perusahaan sponsor agak diblur di pojok kanan bawah sambil host pengumuman memberi kilasan kegiatan sepekan. Yaa!! Ide yang brilian… Ada banyak uang yang bisa dihasilkan! Mungkin untuk membangun basement, atau untuk iklan mengenai dirinya di beberapa titik di kota ini, atau sekedar berangkat ke Yerusalem… Siapa tahu!

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ketika Yesus marah di Bait Suci karena ada yang menjual merpati dan menukar duit, “Rumah-Ku akan disebut Rumah Doa….dan kamu menjadikan Rumah Bapa-Ku ini sarang penyamun”

Apakah tak apa menjual space pengumuman untuk iklan. Ah, pastinya tak apa-apa… Bukankah uangnya digunakan untuk membeli “Emas untuk Bait Suci Tuhan”, ya…dikembalikan pada Tuhan juga toh? Kalau gereja memiliki basement, bukankah itu adalah salah satu “Emas untuk Bait Suci Tuhan”?

Lagipula, mungkin saja Yesus marah-marah karena apa yang dijual orang-orang itu kotor dan bau. Jamannya sudah berubah, “Emas untuk Bait Suci Tuhan” semakin mahal. Apa yang dijual tak lagi kotor dan bau… Ia memejamkan mata lalu mengambil keputusan, “sepertinya tak apa,… selama itu untuk “emas untuk Bait Suci Tuhan”.

—-

Sementara itu di bangku VIP…

Pengusaha muda itu tak sabar menanti waktu-waktu itu. Kotbah yang isinya mirip dengan apa yang sering dilihatnya di TV tak terlalu menarik minatnya. Ia hanya tertarik pada pengumuman yang mengambil lokasi di Cafe baru miliknya. Ayahnya adalah penyumbang terbesar gereja ini.

Tak semua orang bisa memasang iklan di mimbar gereja, tapi ayahnya bisa. Bapak Pendeta gereja ini selalu mengatakan “milikilah mentalitas kerajaan”. Bahkan sebuah kerajaan pun memiliki kebutuhan, bukan? Hebatnya, raja yang bijak mengetahui bagaimana caranya memperlakukan para bangsawan. Lagipula, dari mana emas untuk pembangunan Bait Suci diperoleh kalau bukan dari orang-orang seperti ayahnya.

Ya, tak semua orang bisa melakukan apa yang ayahnya lakukan. Mungkin tak murah untuk memasang iklan di gereja, tapi bukankah uangnya untuk membeli “Emas untuk Bait Suci Tuhan”.

 

ps: Cuma cerpen, ojo baper! ojo tebak-tebakan!

 

Kompromi


​Untuk kalangan sendiri…

Saya tidak dapat berkata bahwa ini hasil pemikiran saya. Dalam perjalanan saat kami ke Bangkok, saat kepala saya sedang beristirahat dari memikirkan yang berat-berat, sesuatu dalam hati saya dengan jelas meminta saya menuliskan hal ini. Saya seperti mendapat pelajaran satu sesi dari dalam hati saya.

Saya merasa Tuhan ingin saya menuliskan tentang ini dan saya tidak bisa menolaknya. Tulisan ini hanya untuk kalangan sendiri, artinya hanya untuk mereka yang percaya bahwa Yesus sudah mati dan menyelamatkan hidup mereka.

Baik, saya akan mulai…

Di Sekolah Minggu kita sering mendengar cerita mengenai tiga anak muda pemberani yang tidak kompromi bernama Sadrakh, Mesakh dan Abednego…

Tiga pemuda Ibrani yang menolak tunduk menyembah pada patung Raja saat diperintahkan…

Tiga pemuda Ibrani yang berani mengambil resiko dimasukkan ke dapur api dari pada membuat hati Tuhan sedih…

Tiga pemuda Ibrani yang tidak beralasan “Tuhan melihat hati. Badanku membungkuk pada patung raja tapi hatiku untuk Yahweh yang Maha Besar” agar tidak dihukum mati..

Tiga pemuda Ibrani yang terlalu percaya bahwa Tuhan tidak akan melupakan mereka dan terlalu percaya bahwa Tuhan memiliki kekuasaan tak terbatas…

Tiga pemuda Ibrani yang tidak kompromi…

Tiga pemuda Ibrani yang mendapat kehormatan berpesta bersama Tuhan di dapur api yang panasnya luar biasa…

Saya pernah mengetahui dengan pasti mengenai seorang pendeta besar dari sebuah gereja BESAR (ada yang protes karena saya selalu menggunakan istilah Gereja Bintang Lima) yang menggunakan istilah “penginjilan kontekstual” yang kurang lebih berarti “gunakan kebiasaan agama lain untuk perlahan-lahan menceritakan tentang Kasih Tuhan”.

Sebuah gaya penginjilan yang lebih mirip kompromi dari pada menginjil: gunakan tattoo agar dapat bergabung dengan orang bertattoo, atau masuk dan sembahyang di tempat ibadah agama lain dengan cara seperti mereka tak apa asalkan hati tetap pada Yesus.

Saya agak kuatir dengan gaya kontekstual seperti ini. Pertama, seperti yang saya pernah tulis: jika Anda domba, janganlah gunakan bulu serigala untuk menyamar. Anda tidak akan pernah tahu apakah bulu itu suatu saat dapat dilepas atau malah menempel di badan Anda. Tuhan tidak mengajar mengenai “domba yang menyamar” tapi “domba yang diutus ke tengah-tengah serigala”

Tuhan Yesus memberi contoh yang luar biasa mengenai hal ini. Dia tidak menyamar menjadi orang Farisi untuk dapat masuk ke lingkungan agamawi Yahudi. Atau menyamar sebagai pria hidung belang ketika bergaul dengan pelacur. Dia tetap memegang kebenaran Firman Tuhan dan dikenal sebagai Orang Benar.

Kedua, jika Tuhan menerima gaya kontekstual seperti ini, dia tidak akan menghargai Sadrakh, Mesakh dan Abednego sebesar itu hingga turun langsung menemani mereka di dapur api.

Ketiga, walau Tuhan melihat hati, tapi iman tanpa perbuatan adalah mati! Anda boleh berkata beriman pada Tuhan, tapi perbuatan Anda harus menunjukkanya. Anda berkata bahwa Anda menyembah Tuhan yang sama dengan Dia yang menyertai bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Anda harus menyembah Dia dengan cara bagaimana Dia ingin disembah dan memanggil-Nya dengan cara bagaimana Dia ingin dipanggil.

Dalam kitab Wahyu sudah disebutkan apa saja yang akan terjadi di akhir jaman, termasuk para penyesat, penggunaan chip dan lain-lain. Dengan otak modern kita, suatu kompromi akan dibenarkan: “Tuhan kan penuh kasih, tak mungkin dia membiarkan anaknya menderita seperti ini hanya karena menolak tanda 666 di tangan atau dahi mereka”

Saudara, dulu kita berpikir bahwa ancaman terbesar dari gereja adalah terorisme atau nabi-nabi palsu, atau ajaran-ajaran sesat seperti gereja setan. Namun sekarang kita tahu bahwa ancaman terbesar dari gereja adalah HUMANISME.

Saat PGI mengeluarkan Surat Pernyataan Sikap mengenai LGBT, kita tahu bahwa humanisme telah menguasai gereja dengan luar biasa. Rasa nyaman telah menggantikan Standar Firman Tuhan. Anggapan yang salah dan tak seimbang mengenai Kasih Tuhan telah menutup sifat Keagungan Tuhan. Kemanusiaan menjadi kompromi kita terhadap standar Firman Tuhan.

Kita mendengar transgender bersaksi bahwa hidupnya terasa lebih baik dan hatinya lega setelah berganti kelamin, kemudian tanpa sadar kita mulai meragukan Tuhan dan berpikir “Tuhan menginginkan anak-anakNya merasa nyaman. Jika dia memang nyaman seperti itu, mengapa tidak?”. Kemanusiaan dan humanisme menjadi kompromi kita terhadap standar Firman Tuhan.

Pendeta yang humanis berkata bahwa penyembahan pada Tuhan harus mengikuti jaman. Di jaman modern (bahkan paska modern), di mana “orang-orang” mulai tidak suka berada di gereja dalam waktu lama, maka gereja harus menyesuaikan diri dengan memangkas waktu ibadah, menggunakan rundown sebagai pengganti liturgis, mengingatkan pendeta yang bicara terlalu lama, memotong waktu penyembahan… semua agar jemaat merasa nyaman, persetan dengan apa yang Tuhan inginkan!

Pendeta yang humanis berkata bahwa di jaman paska modern, indera manusia menjadi sesuatu yang mendominasi keputusan-keputusanya, bukan lagi aturan atau tradisi turun temurun. Maka dibuatlah gedung gereja dan dekorasi yang memuaskan mata jemaat, sound system hebat yang memuaskan telinga jemaat, sistem pendingin ruangan, karpet, bangku empuk yang memuaskan jemaat. Tak peduli di mana Tuhan akan bertahta, pilihlah Worship Leader cantik atau tampan dengan gerakan gemulai dan keahlian menghibur yang luar biasa… semua agar jemaat tertarik untuk datang. Persetan apakah Tuhan dipuaskan atau tidak.

Pendeta yang humanis mulai kompromi terhadap kebenaran Firman Tuhan karena mengikuti perkembangan jaman dan apa yang kebanyakan orang pikirkan.

Saudaraku, kompromi terhadap Firman Tuhan merupakan bahaya bagi kehidupan kekristenan kita, terutama kompromi yang dibungkus dengan anggapan yang salah tentang Kasih Tuhan.

Kompromi terhadap Firman Tuhan merupakan ancaman bagi kehidupan kekristenan kita, terutama kompromi yang dibalut dengan kemanusiaan dan humanisme.

Semoga Tuhan Yesus memberi kita hikmat yang melampaui segala akal untuk melihat tanda-tanda jaman, tetap berpegang pada Firman Tuhan dan tidak kompromi terhadap Standar Tertinggi yang sudah ditetapkan bagi kita.

Gereja Bintang Lima: Live Streaming


image

“Sudah ibadah hari ini?” saya bertanya pada adik saya, dia menjawab santai, “sudah, live streaming”.

“Live streaming?” tanya saya. Lalu adik saya pun mengajari saya cara mengikuti ibadah dengan Live Streaming! Ternyata benar-benar menyenangkan dan sangat praktis. Untuk kita yang hidup di kota besar, Ibadah dengan Live Streaming adalah solusi yang dapat dipertimbangkan.

Bukankah gaya hidup di kota besar serba praktis? Mulai dari PHD hingga gojek memfasilitasi kita yang sibuk atau malas keluar rumah. Ingin beli tas? Lihat saja toko online dan barang akan datang. Ingin makan Pizza? Hubungi delivery dan pizza akan datang. Ingin berkencan? Cukup buka aplikasi chat dan chatting. Semua dilakukan hanya dengan menggunakan jari-jari dan mata, tidak perlu repot!

Bahkan gereja pun sekarang ternyata sudah mengikuti trend ini. Membuat solusi untuk orang-orang sibuk seperti kami (saya dan adik saya) yang begitu malas keluar rumah di hari libur. Bukankah hari libur adalah hari keluarga, waktunya istirahat bersama keluarga dan bermalas-malasan. Hari minggu adalah hari milik kita. Setelah enam hari begitu sibuk di luar rumah, hari Minggu adalah harinya bangun siang dan bermalas-malasan di tempat tidur, dan bagi saya Ibadah Live Streaming adalah solusi yang begitu brilian!

Saya diberitahu bahwa yang membedakan orang Kristen dengan bukan orang Kristen itu adalah karena orang Kristen ke gereja seminggu sekali. Tapi hal yang kurang menyenangkan dari gereja adalah, sulit sekali mencari tempat parkir. Gereja di mall lebih parah, uang parkirnya mahal sekali. Tapi Gereja Bintang Lima kebanggaan saya memfasilitasi masalah ini dengan menyediakan Ibadah Live Streaming.

Setelah hari ini, saya berjanji pada diri sendiri tidak akan malas-malasan lagi “Ibadah ke Gereja”. Saya berjanji akan rajin Live Streaming bersama dengan adik saya setiap minggu. Jika gereja sudah memfasilitasi, bukankah ini artinya sah untuk dilakukan? Maksud saya, bukankah dengan mengikuti Live Streaming artinya kita pun sudah mengikuti “ibadah”?

Anda mungkin bisa mengikuti kebiasaan baru saya ini. Semuanya begitu mudah…Tidak perlu repot-repot mengeluarkan mobil, tidak perlu repot-repot berdandan atau mempersiapkan diri dan penampilan, tidak perlu mandi, tidak perlu bayar parkir,… cukup buka telepon pintar Anda, buka aplikasi gereja Anda dan bukalah live streaming! Anda akan menyaksikan pertunjukkan ibadah yang luar biasa itu, tutup mata ketika ada yang berdoa, ikut bergumam sedikit saat waktunya pujian penyembahan, boleh mengangkat tangan jika mau, dan Anda dapat menyebut diri “saya sudah ibadah”… LUAR BIASA!

Saya rasa ibadah live streaming ini akan segera menjadi trend baru. Dengan ibadah live streaming gereja-gereja akan melakukan penghematan besar-besaran. Tidak perlu punya gedung gereja, cukup studio seukuran panggung dengan beberapa jemaat bayaran yang bisa berakting dengan baik. Tidak perlu body scanner, seluruh keamanan terjaga. Benar-benar aplikasi yang menguntungkan, benar-benar cerdas!

Tidak perlu banyak pelayan, cukup beberapa figuran yang berjalan hilir mudik. Tidak perlu berinvestasi pada manusia, cukup berinvestasi pada peralatan studio yang canggih. Benar-benar futuristik dan luar biasa, bukan? Saya rasa gereja yang visioner memang harus seperti ini.

Anda bisa ‘beribadah’ dalam keadaan mengantuk, sambil masak, sambil berbaring santai, sambil mengerjakan pekerjaan lain. Kemudian saat pertunjukkan ‘ibadah’ usai, maka kewajiban Anda selesai dan Anda adalah orang Kristen yang sempurna!

Jika ingin menjadi jemaat, cukup isi formulir dan subscribe channel gereja Anda, maka Anda otomatis menjadi anggota jemaat gereja hebat itu, yang tiap hari jumlah anggotanya makin bertambah seiring pertambahan orang yang mendaftar dan pengunjungnya makin banyak seiring dengan banyaknya subscriber.

Tidak perlu saling mengenal dengan berjabat tangan atau mendoakan di dunia nyata, bukankah disediakan chatroom di aplikasi itu, tempat jemaat boleh saling menyapa seperti aplikasi MIRC jaman dulu.

Anda sakit? Gereja Live Streaming ini solusinya. Anda bisa tetap ibadah di tempat tidur Anda. Lupakan bapak pendeta yang akan mengunjungi atau mendoakan Anda. Silahkan telepon ke hotline yang disediakan dan tunggu jawaban jika Anda beruntung.

Anda butuh Perjamuan Kudus? Mudah sekali! Anda bisa membeli roti perjamuan dan anggur cup dengan jasa delivery (gojek juga bisa) dan menyimpannya di tempat yang tertutup, kemudian mengikuti Perjamuan Kudus di rumah.

Memberi persembahan? Nah, itu tetap perlu dilakukan, tapi Anda cukup transfer ke no rekening yang disediakan atau bisa juga menggunakan kartu kredit. Bukankah jika ingin diberkati kita harus banyak memberi?

Saya berharap ke depannya akan dikembangkan aplikasi yang lebih modern atau lebih menyenangkan. Di mana kita bisa memilih avatar sendiri yang sedikit banyak menyerupai wajah kita (rambut, warna kulit, pakaian). Setengah jam sebelum ibadah dimulai, kita bisa bermain mendandani Avatar kita, kemudian jangan lupa tekan tombol “go” yang berarti Anda pergi ke gereja,.

Kemudian sebelum ibadah dimulai kita bisa ngopi-ngopi santai di Cafe Gereja (yang tentu saja ada di aplikasi itu) atau belanja di toko buku online milik gereja yang hanya dibuka di hari Minggu dan mengetik “enter” untuk memasuki ruang ibadah. Tidak perlu takut teroris atau apapun yang mengancam, sungguh ibadah dengan rasa aman.

Kita juga bisa memilih kursi yang ingin kita duduki (bisa juga kalau memesan tiket sebelumnya melalui aplikasi agar kebagian kursi). Silahkan lihat kanan dan kiri Anda dan tekan tombol “bersalaman” untuk bersalaman dengan avatar di sana dan ketikkan “Tuhan memberkati” untuk menguatkan mereka. Bayangkan, ada banyak tulisan “Tuhan memberkati” di program itu. Bukankah makin banyak tulisan maka Tuhan makin senang dan Dia akan makin memberkati kita?

Kemudian jangan lupa tekan tombol “tepuk tangan” dan “angkat tangan” saat diminta dan jangan lupa tekan “doa” saat harus berdoa! Semuanya sederhana dan yang penting menyenangkan dan kekinian.

TUHAN? Ah, bukankah Dia Maha Mengerti… mungkin Dia juga sedang membuat aplikasi Surga untuk Anda yang rajin datang ke membuka Gereja Live Streaming ini… Pastikan saja user name Anda akan terdaftar di Surga Virtual ini…

Jadi, Anda siap bergabung dengan Ibadah Live Streaming seperti saya?

Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment


image

Wekernya berbunyi tepat pukul 4. Sepertinya sudah terlambat untuk Saat Teduh. Tidak!! Tidak ada waktu untuk bersaat teduh, lagipula bukankah apa yang akan dilakukannya untuk menyenangkan Tuhan? Seharusnya begitu! “Jadi sudahlah,” pikirnya, “Dia pasti mengerti”

Hal pertama yang akan dilakukannya pagi itu adalah menghias dirinya. Seorang make up artis telah siap untuk mendandaninya dan teman-temannya. Sebagai wanita, dia suka sekali didandani, mengenakan bulu mata palsu, riasan wajah, rambut dihias bak puteri, “Ah, aku akan menjadi cantik dan semua pasti iri melihatku!” pikirnya.

Continue reading “Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment”

Menyimpang


Artikel saya kali ini agak sensitif dan mungkin harus saya cantumkan “untuk kalangan sendiri” agar saya terbebas dari masalah (walau sebenarnya saya sendiri tidak merasa keberatan dengan masalah yang ditimbulkan oleh tulisan-tulisan saya yang dinilai ironis dan nyeleneh). Ya, setelah saya pertimbangkan, akhirnya saya memutuskan untuk memasukkannya ke web, tidak sekedar menjadi catatan di notes saya.

Masih ingat Gereja Bintang Lima yang saya tulis di sini? Tulisan ini masih agak sedikit nyambung dari tulisan saya tersebut. Sebuah artikel yang saya temukan dengan referensi seseorang yang luar biasa. Saya membaca artikel yang berjudul “Seeker-Sensitive” movement tersebut dan berpikir, “aha, ini dia penjelasan yang lebih teologis dari sekedar artikel Gereja Bintang Lima.

Daripada menuliskan ulang artikel  tersebut, saya akan membahasnya dengan gaya saya, mudah-mudahan pembaca sekalian tidak keberatan.

Tanpa bermaksud menunjuk seorang pendeta secara spesifik, dalam Gereja Bintang Lima saya menjelaskan tentang seorang pendeta yang menginginkan yang “terbaik” untuk gerejanya. Menjadikannya lebih baik dan lebih menghibur mereka yang hadir. Memanjakan mata dan telinga jemaat dengan sebuah hiburan yang berkualitas.

“Seeker-sensitive” Church adalah gereja yang bertujuan membuat sebuah gereja yang lebih “menarik” untuk mereka yang belum ke gereja sebelumnya (teorinya: untuk orang yang belum mengenal Sang Pemilik Gereja). Kebanyakan gereja yang seperti ini, menggunakan teknologi dan media untuk menjangkau komunitas.

Gereja-gereja ini berusaha menyentuh sisi emosional dari seseorang, membuatnya merasa “nyaman” dan “wow, keren bo!!” ketika datang ke gereja. Idenya adalah, sulitnya PERGI mengabarkan Injil secara langsung kepada mereka yang belum percaya. Lebih mudah membuat suatu hal yang MENARIK sehingga orang akan DATANG karena tertarik. Harapannya? siapa tahu mereka yang datang karena tertarik ini ‘kecantol’ dengan gospel dan akhirnya menjadi orang percaya.

Sepertinya saya berubah pikiran, saya akan mengutip sedikit dari artikel yang saya baca:

“The focus on the seeker-sensitive church is on that of the seeker and not much on God. It is very important on how the seeker feels on issues regarding worship, the program and the teaching environment. The concern is not on the foundation, but on the appearance.

The leaders of this church will ask questions usually pertaining to how they can make the church look more attractive to others. How far can they go without offending Christians? Ministry is no longer ministry, but it has evolved to a stressful weekly job with goals forgetting the main purpose. Offering is even overlooked in fear of the fact that unbelievers might not appreciate the idea. If giving and worshipping to God fully is taken away, then my question would be, “What is left to give to God?”

(Fokus dari gereja “Seeker sensitive” adalah lebih kepada pencari (jemaat) dan tidak banyak kepada Tuhan. Bagi mereka yang terpenting adalah apa yang jemaat RASAKAN selama penyembahan, program di gereja dan lingkungan pengajaran. Concernnya bukan pada dasar iman, tapi pada penampilan.

Para pemimpin gereja ini akan mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana mereka dapat membuat gereja terlihat lebih menarik bagi orang lain. Seberapa jauh yang dapat mereka lakukan tanpa membuat orang Kristen merasa tidak enak? Pelayanan tidak lagi pelayanan, tetapi telah berkembang menjadi sebuah pekerjaan mingguan yang melelahkan dengan tujuan yang jauh dari tujuan utama. Persembahan bahkan diabaikan karena takut orang-orang tidak percaya tidak menyukainya. Jika memberi dan menyembah kepada Tuhan sepenuhnya diambil, maka pertanyaan saya akan, “Apa yang tersisa untuk diberikan kepada Tuhan?”)

Diambil dari http://www.christianexaminer.com

Ya, kalau saya boleh katakan, “Seeker-sensitive” Church adalah sebuah gereja yang menolak untuk “pergi keluar”, sebaliknya memilih untuk “diam di tempat dan beratraksi” menunggu. Bukannya domba yang diutus ke tengah serigala, tapi keju yang dipasang dalam perangkap tikus.

Sebuah gereja yang menyerupai panggung broadway dan bukannya tempat para penyembah.

“In the seeker-friendly church there is a lack of biblical analysis and more topical subjects when it comes to the sermon. On Sunday you are more likely to hear a sermon on “How to improve your money situation?” or “How to be successful” rather than an actual biblical breakdown. The church is becoming more of a how-to-better-your-life situation and it doesn’t focus on the meaningful word of God.”

(Dalam Gereja “Seeker-friendly” ada kekurangan analisa alkitab dan lebih banyak subyek-subyek dengan topik populer. Dalam ibadah Minggu, Anda mungkin akan lebih mendengar kotbah tentang “Bagaimana memperbaiki situasi keuangan Anda” atau “Bagaimana menjadi sukses” daripada pendalaman Alkitab. Gereja lebih menjawab kebutuhan mengenai “bagaimana-menjadi-lebih-baik-dalam-situasi-hidup” daripada pada arti dari Firman Tuhan)

Gawatnya adalah, kebanyakan jemaat yang hadir di gereja ini kemungkinan memiliki pengetahuan yang dangkal akan Firman Tuhan. Mereka dipuaskan secara telinga untuk dapat menjadi orang yang berhasil di lingkungannya, atau mendengar apa yang memang ingin mereka dengar.

Well, mungkin sebagian Anda akan membaca tulisan ini dan mengatakan kalau saya menghakimi. Harap dicatat. Artikel kali ini saya benar-benar hanya mengulas sebuah fenomena. Saya akan meringkas ulasan itu sebagai berikut:

Saat ini, terdapat fenomena gereja “seeker-sensitive” atau “Seeker-friendly” dengan cir-ciri

  1. Malas menjangkau keluar, sebaliknya menunggu kedatangan orang yang tidak percaya
  2. Memperindah gereja dengan teknologi dan media dengan harapan hal tersebut dapat memancing orang yang tidak percaya
  3. Menekankan fokus pada jemaat yang “seolah-olah” dipuaskan oleh Tuhan melalui media dan teknologi dan bukannya  Tuhan yang dipuaskan oleh jemaat
  4. Memuaskan jemaat dengan kotbah-kotbah minggu mengenai bagaimana menjadi sukses (biasanya dalam segi karir maupun keuangan)
  5. Gereja lebih takut mengecewakan jemaat daripada mengecewakan Tuhan.

Jadi bagaimana, setelah Anda mempelajarinya, apakah tempat Anda beribadah termasuk jenis gereja seperti ini?

 

Tempat hiburan malam vs Gereja Bintang Lima


Ada perbedaan dan persamaan antara tempat hiburan malam dengan gereja bintang lima di era modern

Persamaan:
1.Tempatnya remang-remang dengan lampu penerangan seadanya tapi lighting keren

2.Musiknya keras, memekakan telinga

3.Sebagian datang krn kebiasaan sebagian karena kebutuhan

4.Karena lampu dinyalakan seadanya, antara satu pengunjung dan pengunjung lain tdk saling mengenal, apalagi menyapa

5.Mereka yang di atas panggung adalah yang (ingin) menjadi pusat perhatian

Tenang dulu… Ada kok perbedaannya

Perbedaan:
1. (Seharusnya) di gereja yang datang akan dipuaskan secara rohani, di pub hanya secara jiwani

2. (Seharusnya) di gereja, Tuhan yang menjadi fokus utama, walau fokus lampu ke arah panggung

3. (Seharusnya) di gereja musik yang dimainkan adalah untuk memuliakan Tuhan, bukan kepuasan jemaat. Di pub untuk kepuasan yang hadir

4. (Seharusnya) di gereja ada kehangatan yang dibangun karena kasih Kristus… Kalau di pub krn berdesakan dan asap rokok

5. (Seharusnya) Tuhan yang mengontrol acara di gereja…, di pub EO dan DJ

Jangan kuatir, jika perbedaannya masih ada, persamaan (sepertinya) tidak masalah kok 🙂

Gereja Bintang Lima… sebuah ulasan


Masih ingat dengan note saya Gereja Bintang Lima? entah mengapa note itu cukup kontroversial. Banyak yang mendebatkannya.. Banyak yang menduga-duga, kira-kira siapa yang saya maksud dalam note tersebut. Sebagian hamba Tuhan mungkin merasa tersinggung (walau saya tidak mengerti alasannya). Sebagian menuduh saya merusak nama baik gereja tertentu, sebagian setuju, sebagian men-share-nya di facebook (dan mengelak bahwa mereka yang membuat ketika ada kritik), sebagian men-share-nya di blognya.

Sebagian sahabat mengingatkan saya bahwa saya cukup keras dengan note tersebut. Ada yang mengatakan bahwa saya seperti orang yang berani mengucapkan “Voldemort” sementara yang lain tidak berani.

Apapun reaksi Anda,Ijinkan saya menyampaikan beberapa hal : Continue reading “Gereja Bintang Lima… sebuah ulasan”

Gereja Bintang Lima


Ada seorang pendeta, memiliki mimpi yang besar, ingin membuat gereja bintang lima, dengan dekorasi dan hiasan berwarna-warni, lampu spot yang besar, karpet yang menutupi seluruh lantai, musik yang hingar bingar, televisi plasma yang mahal. Benar-benar sebuah gereja mewah yang terbaik di seluruh kota.

Dengan karisma dan kemampuannya yang hebat ia memberikan perintah pada pengurus dan penatua yang lain “Kita akan membuat gereja bintang lima, jangan tanya kenapa, karena apa yang kukatakan, pasti BENAR”.

Diadakanlah suatu program di gedung yang besar dan megah “Siapa yang beriman, praktekan imanmu, beri yang TERBAIK untuk TUHAN” katanya di mimbar “dan untuk gereja bintang lima impiankukatanya dalam hatinya. “Bukan soal jumlah, tapi soal iman” katanya di mimbar. “Tapi pemberian kalian harus jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan gereja untuk mengumpulkan kalian di gedung ini” katanya dalam hatinya. Continue reading “Gereja Bintang Lima”