I ONCE WAS BLIND


Sebuah pemikiran singkat…
Katakanlah, lima tahun yang lalu Anda menjadi seorang pecandu narkoba, kemudian Anda bertobat. Anda merasa Tuhan menunjukkan jalan yang benar dan dengan pertolongan-Nya Anda dapat berbalik dari kecanduan narkoba dan berhasil memulihkan diri.
 
Kemudian hari ini, lima tahun kemudian, seseorang berhasil menemukan catatan bahwa Anda dulu pernah menjadi seorang pecandu narkoba dan mengungkit hal tersebut.
 
Apa yang akan Anda lakukan?
 
Jika Anda sudah benar-benar berbalik, berkat pertolongan Tuhan, saya yakin Anda tidak akan marah. Sebaliknya Anda berkata “I once was blind, but now I see, was lost but now i am found” (Saya dulunya buta, tapi sekarang melihat. Dulunya terhilang, sekarang ditemukan).
 
Anda tidak akan mencak-mencak dan membenarkan perilaku kecanduan narkoba. Anda tidak akan menunjukkan jari pada siapa saja yang mengkritik perilaku pencandu narkoba dan berkata “tidak perlu menghakimi orang lain” atau “memangnya Anda sendiri tidak punya dosa”.
 
Ada batasan yang jelas antara kritik dengan penghakiman. Menunjukkan kesalahan itu kritik, memvonis itu menghakimi. Kritik berujung pada perbaikan, penghakiman berujung pada hukuman…
 
Ketika kita sudah mengakui bahwa “dulunya saya tidak benar”, maka tidak perlu marah ketika ada orang yang mengecam perilaku tidak benar yang Anda lakukan tempo hari. Justru Anda juga harus ikut ambil bagian dalam barisan orang yang mengecam kebiasaan lama Anda, bukankah kebiasaan itu buruk, dan saking buruknya maka Anda memutuskan untuk berubah.
 
Tidak ada salahnya berkata, “ya, itu lima tahun yang lalu…. saat-saat di mana saya masih buta dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Sekarang saya sudah berubah, mudah-mudahan saya bisa terus dalam keadaan seperti ini sehingga kalian bisa melihat perubahan yang baik dalam diri saya. Karena terus terang saja, Tuhan yang membuat saya berubah”
Advertisements

Ketika Penyesalan berakhir Maut


Minggu lalu kita baru memperingati Jumat Agung dan merayakan Paskah. Dalam kejadian kematian Kristus, ada suatu peristiwa yang tidak terlalu disukai. Suatu peristiwa horor di antara peristiwa agung yang terjadi di hari Jumat itu. Suatu peristiwa yang bahkan banyak guru sekolah minggu tidak terlalu menyukainya.

Peristiwa itu tercatat hanya satu kali dalam Injil Matius 27:3 – 10. Benar sekali! Kisah bunuh diri… Dilakukan oleh seorang murid yang menyesal karena telah mengkhianati gurunya.

Yudas, seorang yang dipercaya menjadi bendahara, membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh Iblis… Demi 30 keping perak menyerahkan gurunya kepada orang-orang yang membenci-Nya.
image

Ada begitu banyak perdebatan mengenai Yudas. Beberapa beranggapan bahwa Yudas hanya alat dari rencana Tuhan. Bahwa karena Yudas maka rencana pengorbanan Kristus dapat terlaksana. Itulah mengapa muncul Injil Yudas. Sebuah Injil yang menganggap Yudas adalah semacam nabi yang menjadi pelaksana rencana Tuhan.

Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai ‘apa yang terjadi dengan Yudas’. Jika kita mendengar Yudas, apa yang kita rasakan? Simpatik? Kasihan? Kesal, atau benci?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Yudas?

Pertama, kita tahu bahwa Yudas adalah seorang bendahara kelompok. Saya bayangkan dalam kelompok 13 ini, Yudaslah yang mengeluarkan uang ketika mereka selesai makan. Yudaslah yang akan dipanggil oleh Guru ketika mereka harus mengeluarkan atau menerima uang (Yoh 13:29)

Yudas pertama menarik perhatian kita ketika ia mengomentari seorang wanita yang memberikan parfum mahalnya untuk Yesus, “untuk apa pemborosan ini? Bukankah lebih baik jika parfum itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”

Yudas adalah tipe yang lebih mementingkan pekerjaan daripada si pemberi pekerjaan.

Pernahkah Anda menjadi seperti Yudas? Ketika seseorang memberi untuk Tuhan kita menganggapnya “untuk apa semua itu”. Atau pernahkah kita mati-matian bekerja tanpa mempedulikan keinginan Dia, yang memberikan pekerjaan.

Jika kita pernah melakukannya, hati-hati… Mungkin kita sedang terserang gejala awal seperti Yudas.

Kedua, Yudas dikenal sebagai Yudas Iskariot. Beberapa ahli berpendapat bahwa golongan Iskariot adalah golongan yang berniat memberontak kepada Romawi. Mereka muak dengan penjajahan Romawi dan Yudas mungkin berharap Yesus akan datang sebagai kepala rombongan pemberontak.

Namun penantian Yudas rupanya tanpa hasil. Bukannya menghasut rakyat untuk melawan, Dia malah mengajar untuk mengasihi. Bukannya memerintahkan untuk membenci Romawi, Dia malah mengajar untuk mendoakan musuh.

Orang-orang seperti Yudas adalah mereka yang mengharapkan Tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara mereka, bukan cara Tuhan. Orang-orang yang seolah memiliki idealis sendiri dan merasa bahwa idealis itulah yang paling benar.

Pernahkah kita berbuat seperti ini? Ketika kita merasa bahwa apa yang kita rencanakan adalah sempurna, bahkan melebihi rencana Tuhan. Kemudian kita mulai marah ketika ternyata rencana Tuhan berbeda dengan rencana kita. Kita merasa “saya sudah capek-capek kok hasilnya begini”, dan akhirnya kita keluar sebagai orang yang lelah.

Jika Anda pernah merasakan itu, hati-hati… Mungkin Anda terserang gejala Yudas juga.

Ketiga,… Saya ingin mengajak Anda membaca:

Lukas 22:3-6 Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.

Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.

Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.

Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

Di bagian lain ditulis seperti ini:

Yohanes 13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Ketiga, Yudas membiarkan dirinya digerakkan oleh Iblis. Dari sekian banyak murid Kristus, Iblis memilih untuk membisiki hati Yudas, dan… Yudas merespon pada bisikan ini.

Pertanyaan mendasar adalah, kenapa Yudas?

Saya pikir Iblis tidak asal pilih. Bukankah Iblis seperti singa yang berkeliling mencari orang yang dapat ditelannya? (I Petrus 5:8). Iblis melihat dari 12 murid yang ada, Yudas adalah sasaran empuk yang dapat ditelan. Mengapa?
Sederhana! Karena ia memiliki keraguan kepada Tuhan.

Seseorang dengan mudah dipengaruhi Iblis ketika imannya goyah. Itulah sebabnya iman begitu penting bagi anak-anak Tuhan.

Setiap kita mungkin pernah mengalami goyah iman, seperti Yudas. Ketika kita meragukan Tuhan, makin besar peluang kita mengikuti bisikan Iblis. Harap dicatat, saya tidak mengatakan dibisiki Iblis, tapi mengikuti bisikan Iblis.

Mungkin saja Iblis salah sasaran, berbisik sekedar untuk mencobai. Pada titik ini, setiap kita memiliki pilihan… Untuk mengikuti bisikan Iblis, atau untuk mengusirnya. Yudas mengikuti teladan Hawa, mengikuti bisikan Iblis.

Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih penting, keraguan pada Tuhan dan kekecewaan karena harapannya tidak dipenuhi merupakan modal yang cukup bagi Yudas untuk merespon bisikan Iblis dan menyerahkan Yesus dengan 30 keping perak.
image

Menurut Anda, jika Yudas menolak bisikan Iblis, akankah Yesus tetap disalibkan? Dengan sangat yakin saya akan menjawab YA! Tapi mungkin Yudas dapat menyelamatkan dirinya.

Namun, anggaplah Yudas sudah terlanjur dan dia tidak dapat mundur. Apa dia masih memiliki kesempatan?

Kita masuk pada poin berikutnya. Ketika Yudas melihat bahwa Gurunya disiksa sedemikian rupa sampai mati, ia menyesal.

Kita pasti sering mendengar kalimat “penyesalan datang belakangan” dan “tidak ada gunanya menyesal.” Benar, penyesalan datang belakangan, tapi bukan berarti bahwa menyesal itu tidak ada gunanya. Penyesalan memang tidak akan mengubah keadaan yang sudah lewat, tapi mungkin menentukan keadaan berikutnya.

Petrus menyesal setelah ia menyangkali Yesus. Namun dia melakukan hal yang benar: dia menangis dengan sedihnya (Matius 26:75). Menangis adalah pertolongan pertama bagi penyesalan. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk mengambil nafas sebelum keputusan berikutnya. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk tidak gelap mata.

Setelah menangis, Petrus menanti… Dia menunggu… Sampai sebuah kabar menggetarkan hatinya “beritahukan pada murid-murid, dan juga kepada Petrus…Ia mendahului kami ke Galilea”

Petrus bertahan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dia, yang berhak mengampuni dosa. Akibatnya? Tuhan memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya dan dia mengakhiri hidupnya dengan gemilang sebagai rasul yang luar biasa.

Yudas menyesal ketika melihat Yesus mati, dan dia memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri. Sama seperti dia menganggap bahwa rencananya lebih baik dari rencana Tuhan… Demikian dia merasa bahwa caranya menyelesaikan penyesalan lebih baik dari cara Tuhan menyelesaikannya.

Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali akan mengampuninya. Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai “berdoa dan mengasihi mereka yang menganiaya kamu” akan mengasihinya.
Dan dia memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri menyelesaikan masalahnya: mengembalikan pembayarannya dan gantung diri…
image

Petrus dan Yudas, keduanya sama-sama menyesal, namun yang satu mengakhiri penyesalannya dengan berbalik kepada Tuhan dan menyerahkannya pada kedaulatan Tuhan, yang lain mengakhiri penyesalannya dengan caranya sendiri.

Saudara, kita mungkin pernah melakukan apa yang Yudas lakukan. Kita melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali dengan luar biasa. Ingatlah satu hal, penyesalan mungkin datang belakangan, namun jika direspon dengan tepat maka kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit lagi dan memulainya dari awal.