Ketika Penyesalan berakhir Maut


Minggu lalu kita baru memperingati Jumat Agung dan merayakan Paskah. Dalam kejadian kematian Kristus, ada suatu peristiwa yang tidak terlalu disukai. Suatu peristiwa horor di antara peristiwa agung yang terjadi di hari Jumat itu. Suatu peristiwa yang bahkan banyak guru sekolah minggu tidak terlalu menyukainya.

Peristiwa itu tercatat hanya satu kali dalam Injil Matius 27:3 – 10. Benar sekali! Kisah bunuh diri… Dilakukan oleh seorang murid yang menyesal karena telah mengkhianati gurunya.

Yudas, seorang yang dipercaya menjadi bendahara, membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh Iblis… Demi 30 keping perak menyerahkan gurunya kepada orang-orang yang membenci-Nya.
image

Ada begitu banyak perdebatan mengenai Yudas. Beberapa beranggapan bahwa Yudas hanya alat dari rencana Tuhan. Bahwa karena Yudas maka rencana pengorbanan Kristus dapat terlaksana. Itulah mengapa muncul Injil Yudas. Sebuah Injil yang menganggap Yudas adalah semacam nabi yang menjadi pelaksana rencana Tuhan.

Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai ‘apa yang terjadi dengan Yudas’. Jika kita mendengar Yudas, apa yang kita rasakan? Simpatik? Kasihan? Kesal, atau benci?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Yudas?

Pertama, kita tahu bahwa Yudas adalah seorang bendahara kelompok. Saya bayangkan dalam kelompok 13 ini, Yudaslah yang mengeluarkan uang ketika mereka selesai makan. Yudaslah yang akan dipanggil oleh Guru ketika mereka harus mengeluarkan atau menerima uang (Yoh 13:29)

Yudas pertama menarik perhatian kita ketika ia mengomentari seorang wanita yang memberikan parfum mahalnya untuk Yesus, “untuk apa pemborosan ini? Bukankah lebih baik jika parfum itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”

Yudas adalah tipe yang lebih mementingkan pekerjaan daripada si pemberi pekerjaan.

Pernahkah Anda menjadi seperti Yudas? Ketika seseorang memberi untuk Tuhan kita menganggapnya “untuk apa semua itu”. Atau pernahkah kita mati-matian bekerja tanpa mempedulikan keinginan Dia, yang memberikan pekerjaan.

Jika kita pernah melakukannya, hati-hati… Mungkin kita sedang terserang gejala awal seperti Yudas.

Kedua, Yudas dikenal sebagai Yudas Iskariot. Beberapa ahli berpendapat bahwa golongan Iskariot adalah golongan yang berniat memberontak kepada Romawi. Mereka muak dengan penjajahan Romawi dan Yudas mungkin berharap Yesus akan datang sebagai kepala rombongan pemberontak.

Namun penantian Yudas rupanya tanpa hasil. Bukannya menghasut rakyat untuk melawan, Dia malah mengajar untuk mengasihi. Bukannya memerintahkan untuk membenci Romawi, Dia malah mengajar untuk mendoakan musuh.

Orang-orang seperti Yudas adalah mereka yang mengharapkan Tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara mereka, bukan cara Tuhan. Orang-orang yang seolah memiliki idealis sendiri dan merasa bahwa idealis itulah yang paling benar.

Pernahkah kita berbuat seperti ini? Ketika kita merasa bahwa apa yang kita rencanakan adalah sempurna, bahkan melebihi rencana Tuhan. Kemudian kita mulai marah ketika ternyata rencana Tuhan berbeda dengan rencana kita. Kita merasa “saya sudah capek-capek kok hasilnya begini”, dan akhirnya kita keluar sebagai orang yang lelah.

Jika Anda pernah merasakan itu, hati-hati… Mungkin Anda terserang gejala Yudas juga.

Ketiga,… Saya ingin mengajak Anda membaca:

Lukas 22:3-6 Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.

Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.

Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.

Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

Di bagian lain ditulis seperti ini:

Yohanes 13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Ketiga, Yudas membiarkan dirinya digerakkan oleh Iblis. Dari sekian banyak murid Kristus, Iblis memilih untuk membisiki hati Yudas, dan… Yudas merespon pada bisikan ini.

Pertanyaan mendasar adalah, kenapa Yudas?

Saya pikir Iblis tidak asal pilih. Bukankah Iblis seperti singa yang berkeliling mencari orang yang dapat ditelannya? (I Petrus 5:8). Iblis melihat dari 12 murid yang ada, Yudas adalah sasaran empuk yang dapat ditelan. Mengapa?
Sederhana! Karena ia memiliki keraguan kepada Tuhan.

Seseorang dengan mudah dipengaruhi Iblis ketika imannya goyah. Itulah sebabnya iman begitu penting bagi anak-anak Tuhan.

Setiap kita mungkin pernah mengalami goyah iman, seperti Yudas. Ketika kita meragukan Tuhan, makin besar peluang kita mengikuti bisikan Iblis. Harap dicatat, saya tidak mengatakan dibisiki Iblis, tapi mengikuti bisikan Iblis.

Mungkin saja Iblis salah sasaran, berbisik sekedar untuk mencobai. Pada titik ini, setiap kita memiliki pilihan… Untuk mengikuti bisikan Iblis, atau untuk mengusirnya. Yudas mengikuti teladan Hawa, mengikuti bisikan Iblis.

Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih penting, keraguan pada Tuhan dan kekecewaan karena harapannya tidak dipenuhi merupakan modal yang cukup bagi Yudas untuk merespon bisikan Iblis dan menyerahkan Yesus dengan 30 keping perak.
image

Menurut Anda, jika Yudas menolak bisikan Iblis, akankah Yesus tetap disalibkan? Dengan sangat yakin saya akan menjawab YA! Tapi mungkin Yudas dapat menyelamatkan dirinya.

Namun, anggaplah Yudas sudah terlanjur dan dia tidak dapat mundur. Apa dia masih memiliki kesempatan?

Kita masuk pada poin berikutnya. Ketika Yudas melihat bahwa Gurunya disiksa sedemikian rupa sampai mati, ia menyesal.

Kita pasti sering mendengar kalimat “penyesalan datang belakangan” dan “tidak ada gunanya menyesal.” Benar, penyesalan datang belakangan, tapi bukan berarti bahwa menyesal itu tidak ada gunanya. Penyesalan memang tidak akan mengubah keadaan yang sudah lewat, tapi mungkin menentukan keadaan berikutnya.

Petrus menyesal setelah ia menyangkali Yesus. Namun dia melakukan hal yang benar: dia menangis dengan sedihnya (Matius 26:75). Menangis adalah pertolongan pertama bagi penyesalan. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk mengambil nafas sebelum keputusan berikutnya. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk tidak gelap mata.

Setelah menangis, Petrus menanti… Dia menunggu… Sampai sebuah kabar menggetarkan hatinya “beritahukan pada murid-murid, dan juga kepada Petrus…Ia mendahului kami ke Galilea”

Petrus bertahan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dia, yang berhak mengampuni dosa. Akibatnya? Tuhan memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya dan dia mengakhiri hidupnya dengan gemilang sebagai rasul yang luar biasa.

Yudas menyesal ketika melihat Yesus mati, dan dia memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri. Sama seperti dia menganggap bahwa rencananya lebih baik dari rencana Tuhan… Demikian dia merasa bahwa caranya menyelesaikan penyesalan lebih baik dari cara Tuhan menyelesaikannya.

Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali akan mengampuninya. Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai “berdoa dan mengasihi mereka yang menganiaya kamu” akan mengasihinya.
Dan dia memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri menyelesaikan masalahnya: mengembalikan pembayarannya dan gantung diri…
image

Petrus dan Yudas, keduanya sama-sama menyesal, namun yang satu mengakhiri penyesalannya dengan berbalik kepada Tuhan dan menyerahkannya pada kedaulatan Tuhan, yang lain mengakhiri penyesalannya dengan caranya sendiri.

Saudara, kita mungkin pernah melakukan apa yang Yudas lakukan. Kita melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali dengan luar biasa. Ingatlah satu hal, penyesalan mungkin datang belakangan, namun jika direspon dengan tepat maka kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit lagi dan memulainya dari awal.

Advertisements

Tidak Sia-sia


Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin hanya akan ada kubur
Serta beberapa pelayat
Yang berziarah tiap tahun

Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin hanya ada keraguan
Apakah yang dikatakan-Nya adalah kiasan
Atau sekedar omong besar

Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin Dia hanya akan dikenang
Sebagai nabi yang mati
Dihukum tanpa kesalahan
Mengaku diriNya Tuhan tanpa bukti

Jika saja Dia tidak bangkit,
Tak perlu kita mempercayai-Nya
Karena seluruh perkataan-Nya pasti dusta
Karena seluruh janji-Nya pasti palsu

Jika saja Dia tidak bangkit
Tentu kita masih meratap
Menanti lahirnya Juruselamat
Seperti dijanjikan oleh Sang Kuasa

Jika saja Dia tidak bangkit
Maka kita masih terikat dalam dosa
Berusaha membebaskan diri tanpa hasil
Terbelenggu…
Terjajah…
Sia-sia

Tapi yang benar adalah…
Dia telah bangkit
Membuktikan bahwa Tuhan berkuasa atas kematian
Membuktikan bahwa Dia mengalahkan maut
Membuktikan bahwa Dia tak berdusta
Membuktikan bahwa Dia layak menerima kepercayaan sepenuhnya
Membuktikan bahwa Dia berkuasa
Membuktikan bahwa kita dapat mengikuti Dia
…yang dibangkitkan dari antara orang mati
Membuktikan bahwa iman kita tidak sia-sia

Selamat Paskah!
Karena dengan kematian Kristus
Kita semua terbebas dari maut
Dan dengan kebangkitan-Nya
Kita memiliki pengharapan untuk hidup kekal

Dari I Korintus 15:14,20

Ketopong Keselamatan


Ketopong (atau helm) melindungi kepala kita dari benturan benda keras. Kepala merupakan organ yang vital bagi manusia. Anda bisa saja selamat dengan patah kaki atau patah tangan, tapi patah batang leher… Mati seketika!!

Dalam bahasa Inggris Ketopong keselamatan sering disebutkan sebagai The Helmet – hope of Salvation, ketopong harapan keselamatan. Ya, HARAPAN! Setelah iman yang kita gunakan sebagai perisai, berikutnya kita membutuhkan harapan keselamatan. 

Harapan berada dalam pikiran kita, merupakan sesuatu yang sangat kita inginkan. Misalnya harapan akan hari esok yang lebih baik, harapan akan kebaikan putra/i kita, dll. Harapan memiliki arti yang jauh melampaui keinginan. Ketika seseorang memiliki harapan, ia akan berjuang melakukan bagiannya agar harapannya dapat tercapai.

Harapan juga adalah sesuatu yang kita miliki berdasarkan janji dari seseorang. Saya beri contoh, jika seorang ayah berkata pada putranya, “nak, besok kita berenang ya,” maka putranya ini akan berharap bahwa besok ia akan berenang. Harapannya ini didasarkan pada janji ayahnya.

Seorang ayah yang tepat janji akan membuat anaknya memiliki harapan. Sebaliknya, ayah yang selalu ingkar janji akan membuat anaknya berhenti berharap, bahkan sekalipun ayahnya memberikan janjinya.
Continue reading “Ketopong Keselamatan”

the Witnesses of the Cross


Setelah menunda hasrat saya untuk mengeluarkan album baru sekian lama, kemarin malam saya dan beberapa teman berkumpul untuk memulai proyek album penyembahan rohani “The Cross”.

Rencananya album The Cross yang berisi 8 lagu penyembahan (+ bonus minus one-nya) ini akan dikeluarkan sebulan sebelum Paskah tahun depan, berbarengan dengan buku the Witnesses.

Buku the Witnesses menceritakan perjumpaan beberapa tokoh dengan Kristus di kaki salib, sedangkan album the Cross berisi lagu penyembahan mereka yang sudah berjumpa dengan Kristus Sang Penebus dan salib-Nya. Continue reading “the Witnesses of the Cross”

Yang terakhir…diselamatkan juga


Kepalanya terkulai
Sebentar lagi dia akan dihukum mati
“Tapi setidaknya, aku tak disiksa seberat dia”

Dia melihat ke sampingnya,
Seorang yang berbadan cukup besar
Tapi tampangnya sudah sangat hancur
Mukanya rusak
Kulitnya terkelupas di sana-sini
Tubuhnya benar-benar hancur

Dia berpikir sesaat
“Kesalahanku besar, tapi aku tak mendapat siksaan seperti itu
Apa yang sebenarnya dia lakukan” Continue reading “Yang terakhir…diselamatkan juga”