Halloween… apa sih?


Di beberapa tempat yang memiliki akar dari luar negeri, seperti Gold’s Gym, akhir Oktober merupakan saat di mana dekorasi labu dan pernak-pernik halloween dipasang. Lucunya, di Gold’s Gym Indonesia, mereka memasang pocong dengan wajah berteriak seperti dalam film the Scream yang berdiri disamping peti mati, ya mungkin percampuran budaya (di luar negeri kan ga ada pocong).

Ya, 31 Oktober merupakan hari yang dirayakan sebagai Halloween. Tapi sebenarnya apa itu Halloween, dan apakah sebagai orang Kristen kita boleh merayakannya? Continue reading

Other Project “Letters from Parents”


Dengan semangat yang sama, saya sedang menyiapkan sebuah proyek buku yang diberi judul “letters from parents”. Buku ini ditujukan untuk orangtua sebagai masukan dalam memberi nasihat untuk anak-anaknya.

Terinspirasi oleh papa saya yang luar biasa dalam memberi nasihat-nasihat dan jawaban-jawaban untuk anak sulungnya yang luar biasa cerewet, selalu ingin tahu dan tidak bisa diam. Juga terinspirasi oleh apa yang terjadi di sekitar kita dewasa ini.

Berbeda dengan buku “the Witnesses”, dalam buku ini saya memberanikan diri untuk mengedit sendiri kata-kata di dalamnya sambil meminta masukan dari para pendeta dan motivator yang profesional untuk isinya.

Sangat berharap bahwa kata-kata dalam buku ini bisa jadi berkat buat para orangtua dan anak…

Saat ini beberapa hamba Tuhan sedang membantu saya menuliskan kata pengantar dan masukan. Terimakasih buat Pdt Gagan Gunawidjaja dari House for All nations International Church – Vancouver yang sudah mengirimkan kembali kata pengantarnya, saya sungguh berterimakasih, terutama untuk masukan-masukannya. Continue reading

the Witnesses of the Cross


Setelah menunda hasrat saya untuk mengeluarkan album baru sekian lama, kemarin malam saya dan beberapa teman berkumpul untuk memulai proyek album penyembahan rohani “The Cross”.

Rencananya album The Cross yang berisi 8 lagu penyembahan (+ bonus minus one-nya) ini akan dikeluarkan sebulan sebelum Paskah tahun depan, berbarengan dengan buku the Witnesses.

Buku the Witnesses menceritakan perjumpaan beberapa tokoh dengan Kristus di kaki salib, sedangkan album the Cross berisi lagu penyembahan mereka yang sudah berjumpa dengan Kristus Sang Penebus dan salib-Nya. Continue reading

Happy 63rd Birthday Papa


You may describe your father as a hero
Ready to kick anyone’s butt for you
Or maybe you describe your father as a piggy bank
Ready to give you money whenever you need

I describe my father as an answer key
He always ready to answer my question
Even the answer is as silly as “I will ask first before I answer you” Continue reading

Apakah Aku Juga Cantik, Kak?


Wahai kakak sekolah minggu
Aku ingin kau tahu
Aku mengagumimu
Rambutmu yang panjang
Kulitmu yang putih
Tubuhmu yang harum
Dan tawamu yang enak didengar

Wahai kakak sekolah minggu
Aku ingin kau tahu
Aku mengagumimu
Ceritamu yang menarik
Suaramu yang merdu
Dan doamu yang indah Continue reading

Apakah semua ORANG juga MANUSIA!


Menanggapi pernyataan saya kemarin tentang keMUNAFIKan, ada seorang bapak yang me-reply dengan “pendeta juga manusia”. Maksudnya mungkin, tidak apa-apa jika antara apa yang dikotbahkan pendeta berbeda dengan yang dikerjakannya, kan “pendeta juga manusia”

Atau mungkin juga maksudnya, tidak apa-apa sesekali keceplosan, maklumi saja toh “pendeta juga manusia”.

No offense, saya menulis ini karena di tulisan saya sebelumnya saya mengatakan terbuka untuk diskusi. Jadi, mari kita diskusikan.

Kata-kata “xxx juga manusia” dipopulerkan oleh sebuah group band rock dengan lagunya “rocker juga manusia”. Dimaksudkan bahwa walaupun memiliki tampang sangar dan suka teriak-teriak, tapi rocker juga memiliki hati dan perasaan. Harap dicatat maknanya: “walaupun negatif, tapi ada positifnya”

Sama seperti jika kita berbicara mengenai seorang anak: walau nakal, dia toh hanya seorang anak. Atau, walau bengal, dia tetap memiliki emosi juga.

Seolah mendapat pembelaan, kalimat “xxx juga manusia” menjadi populer di masyarakat. Anggota DPR tidur di ruang rapat, “anggota DPR juga manusia”, artis menggunakan narkoba, “artis juga manusia”, dst.

Ironisnya pembenaran demi pembenaran dilontarkan berbarengan dengan dieksposenya keburukan mereka. Sungguh ironis!

Baik, mari kita bicara soal manusia. Memang benar bahwa manusia jatuh dalam dosa, memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Namun karena Tuhan menciptakan manusia seperti rupa dan gambarnya, manusia dianugerahi dengan hati nurani yang tombolnya di-on-kan saat manusia makan buah yang dilarang.

Keberadaan hati nurani ini membuat manusia memiliki perasaan bersalah saat melakukan dosa dan malu saat ketahuan. Namun insting “hewani” manusia membuat mereka berkelit saat ketahuan, bahkan terkadang membuat perlawanan balik (yang seringkali tidak masuk akal).

Pencarian manusia akan Tuhan adalah kesadaran manusia akan adanya pribadi yang sepenuhnya baik, menginginkan kebaikan dan membenci kejahatan. Itu sebabnya manusia memutuskan untuk beragama.

Dalam setiap agama ada pemuka agama, sosok yang diagungkan, dianggap pilihan Tuhan. Sosok yang pantas berkata “narapidana juga manusia” dan menjangkau mereka agar bertobat.

Namun alangkah ironisnya jika tokoh yang dianggap Pilihan Tuhan ini, yang berkotbah seminggu sekali (yang berisi kebaikan pastinya), tidak melakukan apa yang dikotbahkannya, menolak untuk mendengarkan hati nuraninya, dan menjadi batu sandungan bagi jemaat yang mendengar kotbahnya.

Ironis sekali jika hamba Tuhan yang berkotbah “tetap berbuat baik pada orang yang tidak kau sukai” dengan sengaja tidak menyalami jemaat yang memberi tangan padanya.

Ironis sekali jika hamba Tuhan yang berkotbah “hati-hati dengan lidahmu” mengata-ngatai fulltimenya, apalagi sampai memakinya.

Itulah mengapa saya katakan, jadi pendeta sebaiknya munafik saja. Bukan berarti “tidak menjadi diri sendiri”, tp lawan hal buruk yang ingin dilakukan, sebaiknya berpura-puralah dengan melakukan hal baik.

Bukankah pembentukan karakter pun berarti “menekan keinginan melakukan apa yang salah, dan melakukan apa yang baik, walau sebenarnya tidak diinginkan”

Jika manusia biasa saja harus munafik 24/7, apalagi Pemuka agama. Tidak ada alasan “pendeta juga manusia” untuk membenarkan hal buruk yang dilakukannya. Jika ingin melakukan hal buruk, sekali lagi saya katakan, munafik sajalah!

MUNAFIK yuk!!


Minggu kemarin adik saya cerita tentang seorang pendeta besar yang bersikap “jutek” dan menolak bersalaman dengan seseorang tanpa alasan yang jelas. Jadi ceritanya pendeta besar ini lagi salaman dengan sekelompok guru SM. Entah karena alasan tidak suka atau kenapa, dia dengan sengaja melewati salah satu guru SM yang sudah memberi tangan padanya (untuk disalami), meninggalkan guru SM tsb yang bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya “what’s wrong with me??”

Cerita lagi dari seorang teman tentang kisah “tragis” yang baru-baru ini terjadi, di mana seorang fulltime gereja hampir melempar pendeta (atasannya) dengan kursi. Ceritanya pendeta ini membuat suatu aturan tertulis. Kemudian di hari berikutnya sang pendeta mengubah pikirannya dan mengganti aturan, tanpa komunikasi yang jelas. Fulltime yang malang ini tidak tahu pergantian aturan yang baru dibuat sehingga dia tidak mematuhinya. Entah berseloroh atau serius pendeta itu mengatakan di depan umum “hati-hati, saya bisa pecat kamu kalau saya mau”.

Saya berpikir, sebagai manusia, memiliki perasaan tidak suka itu wajar, termasuk sebagai hamba Tuhan. Tapi masalahnya, jika hal itu ditunjukkan maka artinya hamba Tuhan tsb telah melanggar kata-katanya sendiri yang diucapkan dengan gagah berani di mimbar gereja, seperti “jadilah terang” atau “kasihilah sesamamu manusia” atau “kasihilah musuhmu dan berbuat baiklah pada mereka yang menganiaya kamu”

Ada double kesalahan bagi hamba Tuhan yang seperti itu: kesalahan karena “membenci”, kesalahan karena “menjadi batu sandungan” dan kesalahan karena “mengecewakan orang” (tiga kesalahan berarti ya?)

Mungkin yang akan saya katakan ini agak ekstrim, tapi silahkan dipertimbangkan dan dipikirkan kebenarannya, dan saya terbuka untuk diskusi. Menurut saya, jika tidak bisa melakukan apa yang difirmankannya setidaknya pendeta harus punya kemampuan MUNAFIK.

Ya, jika seorang pendeta muak dengan seseorang misalnya, dan ia bertemu orang itu di jalan, pendeta tersebut harus pura-pura suka, munafik aja… Yang penting dia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Urusan benci membenci itu urusannya dengan Tuhan.

Ada begitu banyak cerita di mana orang-orang malas ke gereja karena kecewa pada pendetanya yang omongan dan kelakuannya beda. Pendeta-pendeta tersebut, menurut saya, harus belajar MUNAFIK. Ingin membentak orang dengan kasar? Munafiklah, tahan diri, bicara sabar.

Yaaa, pada dasarnya manusia itu memang mahluk berdosa toh. Supaya jadi orang baik, memang harus munafik, tapi sebaiknya memang munafik dilakukan 24/7, artinya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kalau pendeta ga bisa munafik 24/7 setidaknya munafiklah saat ada jemaat, biar ga jadi batu sandungan. Asal, jangan sampai ketahuan juga kalau dia munafik… Munafiklah dengan cerdas 🙂

Bangsa yang Beradab


Apa itu peradaban? Sebagian orang mungkin mengatakan peradaban adalah ketika manusia mulai mengenal budaya dan bagaimana cara untuk hidup lebih baik. Mereka yang tinggal di hutan tentu tidak akan dikatakan “mengenal peradaban”.

Lebih jauh, apa itu “beradab”? Lagi, sebagian orang akan menjawab bahwa beradab adalah keadaan manusia yang mengerti nilai, norma dan tidak hidup seperti suku pedalaman.

Lalu, apa itu “bangsa yang beradab”? Kalau diminta mengelompokkan, apakah Anda akan mengelompokkan Indonesia sebagai bangsa yang beradab?

Menurut saya, bangsa yang beradab adalah bangsa yang tahu nilai, norma, dan aturan dalam hidup. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang tahu bagaimana caranya hidup di era abad ke 21 ini.

Saya akan coba membuat daftar beberapa ciri bangsa yang beradab menurut pendapat saya:
1. Bangsa yang beradab tahu aturan:
– tidak melanggar lampu merah
– tidak menyogok
– tahu bagaimana menggunakan toilet umum
– tahu waktu
– tidak malas-malasan
– tidak korupsi (termasuk waktu)
– tidak demo tanpa pertimbangan matang
– bertanggungjawab
– antri
Dan segudang aturan lain

2. Bangsa yang beradab membatasi kebebasannya untuk menghormati hak-hak orang lain:
– tidak merokok di tempat umum
– tidak teriak-teriak di tempat umum
– tidak menutupi jalan umum
– tidak ikut campur urusan orang
– tidak melakukan sweeping sembarangan seperti FPI
dan banyak lagi untuk ditambahkan ke dalam daftar

3. Bangsa yang beradab tidak merusak lingkungan
– tidak membuang sampah sembarangan
– tidak pipis sembarangan
– tidak mengotori lingkungan dengan limbah (termasuk asap rokok)
– merawat tanaman
Dan banyak hal lain

4. Bangsa yang beradab memperlakukan orang lain dengan hormat
– menahan pintu goyang saat dilewati untuk orang di belakangnya
– tidak duduk saat orangtua berdiri
– tidak mengangkat kaki di meja di hadapan orang lain
– tidak mengganggu wanita yang lewat dengan bersuit-suit
– menawarkan bantuan
– mengucapkan salam

Sekarang, waktunya kita evaluasi, apakah kita sudah jadi bangsa yang beradab? Demi mewujudkan Indonesia yang beradab, Indonesia yang lebih baik?

Yang lebih penting


Saat muda aku pikir
Kehebatan adalah memiliki karir
Dapat membeli apa saja yang aku mau
Dapat dihormati dan dihargai semua orang
Dikagumi dan mendapat penghargaan

Saat muda aku berpikir
Bahwa uang adalah jalan keluar
Dapat membeli apa saja
Dapat membayar apa saja
Dapat membuat orang tunduk

Saat muda aku berpikir
Bahwa nama besar itu penting
Bahwa ketenaran itu segalanya
Bahwa menjadi populer itu hebat
Bahwa menjadi cantik itu harus Continue reading

Pancasila itu Mahluk Apa


Hari ini kita merayakan kesaktian Pancasila. Empat puluh tujuh tahun yang lalu, dini hari terjadi pembunuhan besar-besaran, suatu peristiwa kotor yang kemudian dibersihkan oleh orang yang saat itu diagung-agungkan sebagai pahlawan, pak Harto.

Sepertinya itu memang kebiasaan pemerintah turun temurun. Kemarin Braga festival dibuat tanpa aturan sehingga jalan Braga terlihat sangat kotor. Subuhnya dalam sekejap jalan Braga menjadi bersih kembali. Mengotori, membersihkan, mendapat kredit.

Pak Harto membuat skenario berdarah untuk kemudian beliau muncul sebagai pahlawan yang membersihkan kotoran yang dibuat oleh PKI, kambing hitamnya, dan tercetuslah 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Continue reading