Selamat Ulang Tahun ke 64, Mama!


Terkadang,
Kenangan itu datang tanpa diundang
Seringkali datang karena aku mengundangnya…

Saat-saat di mana Mama memarahiku saat kecil
Terasa kejam… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku benci dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Semua aturan yang Mama terapkan
Terasa mengekang… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku tangisi dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hukuman demi hukuman yang Mama berikan
Terasa begitu menyiksa… bagi seorang anak
Sesuatu yang tak kumengerti dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hadiah yang mama berikan saat bagi raport,
Sulit mendapat pujian Mama
Sekali mendapatkannya,
Kau akan merasa terbang ke angkasa

Rasa kuatir yang disembunyikan
… saat aku pulang sekolah naik angkutan umum pertama kalinya
… saat aku pulang sesudah ujian
… saat aku pulang membawa kabar tentang penerimaan universitas

Senyum kecil yang kau berikan
Saat aku membawa kabar yang memang kau harapan
terlalu gengsi menunjukkan bahagia
namun terlalu sayang untuk menyembunyikannya

Setiap kenangan adalah pelajaran
Proses yang membentuk seorang anak perempuan
…menjadi wanita dewasa

Setiap aturan adalah sumber hikmat
Proses yang membentuk seorang anak pembangkang
…menjadi tahu diri

Setiap hukuman adalah pembinaan
Proses yang membentuk seorang anak pemberontak
… menjadi taat

Setiap hadiah yang sulit diperoleh adalah pelajaran
Bahwa seringkali hidup membutuhkan perjuangan
Dan pencapaian itu sendiri adalah hadiah

Setiap kekuatiran yang berubah menjadi senyum adalah pelajaran
Bahwa kabar baik dari yang terkasih adalah sumber kebahagiaan
Pencapaian dari yang terkasih adalah prestasi untuk seorang ibu

Selamat ulang tahun yang ke 64, Mama!
Darimu aku belajar untuk menjadi kuat
Darimu aku belajar untuk menjadi tegar
Darimu aku belajar untuk menjadi cukup tanpa berpuas diri

Selamat ulang tahun, Professor Mama!
Darimu aku belajar mengenai hikmat
Darimu aku belajar mengenai pengendalian diri
Darimu aku belajar mengenai kemurahan hati

Karena mahkota setiap anak adalah orang tuanya
Dan aku… memiliki mahkota yang begitu bersinar!!

Bebal, ROH jahat atau KARAKTER


Saya akan membuka tulisan ini dengan sebuah cerita. Anggap saja (ingat ya… ini hanya anggapan, jangan terlalu diambil hati) tentang saya yang sangat terpengaruh dengan buku bacaan bahasa Indonesia saat kelas 1 SD. Saya suka membaca buku bahasa Indonesia sejak sangat kecil. Saya suka membaca ini Budi, ini Ayah Budi, ini Ibu Budi. Saya bahkan ingat kalau nama kakak Budi adalah Wati dan adiknya bernama Iwan. Walau tidak pernah keluar di ujian sekolah, saya bahkan bisa menjawab pertanyaan itu jika dibangunkan di pagi hari buta “Siapa nama kakak Budi”, saya akan lantang menjawab “Wati”. Walau saya agak lupa dengan temannya yang bernama Hasan…

Saya punya seorang Papa bernama Samuel. Dia punya banyak nama, lihat saja di Facebooknya. Karena namanya Samuel Sachiawan, saat muda beliau dipanggil (atau mungkin beliau membuatnya sendiri) Sekie. Saya memanggil Samuel Sachiawan atau Samuel atau Sekie ini dengan sebutan Papa.

Anggap saja suatu saat saya bosan dengan sebutan Papa yang mainstream itu. Saya ingin memanggilnya dengan Ayah. Dia tidak keberatan. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Ayah. Lalu ketika nama Ayah mulai mainstream, saya memanggilnya Babeh. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Babeh. Lalu saya panggil lagi dengan sebutan Daddy. Tapi karena tetangga kami bernama Om Dedi, ayah saya bilang… ssst….jangan panggil Daddy, nanti ga enak sama tetangga.

Akhirnya saya mengganti lagi panggilan Ayah saya dengan Bokap… “Bokap,… kok lama banget pulangnya”. Sekali lagi, Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Bokap

Lalu saya dengar ada trend baru di kalangan anak muda. Di mana mereka mengatakan, akan lebih asik kalau memanggil Ayahnya dengan namanya sendiri. Lalu saya panggil dia dengan sebutan “Samuel”. Awalnya Samuel terlihat keberatan. Tapi lama-lama dia paham juga… Toh dia terkenal sebagai orang yang asik, tak apa dipanggil nama oleh anak perempuan yang dikasihinya, toh memang lagi trend.

Tiba-tiba saya bosan dengan semua panggilan itu. Saya ingat bahwa dulu waktu kecil saya pernah belajar mengenai “Ini Ayah Budi”, karena saya anti-mainstream, saya panggil Samuel dengan sebutan Budi…. “Bud, nanti kalau sempet kirim uang ke rekening ku ya” atau “Bud, mau dibuatin telor ceplok?” atau “Bud, liburan yuk Bud”

Samuel keberatan dipanggil Budi. Saya berusaha membuatnya mengerti bahwa Budi nama yang oke. Bahwa mungkin tak lama lagi “Budi” akan menjadi nama panggilan untuk seluruh ayah di dunia. Apa bedanya Papa, Ayah, Babeh, Bokap, Daddy, Budi. Lagipula Daddy dan Budi terdengar mirip.

Sehari dua hari saya panggil Papa saya dengan sebutan Budi. “Bud, gue baru bikin paspor.. Jelek banget fotonya. Liat dong paspor lo”

Kemudian Mama saya memberitahu saya bahwa Papa terlihat keberatan jika dipanggil Budi. Apalagi, Budi itu nama saingan terberatnya saat di sekolah dulu. Bahkan pernah berantem berkali-kali hingga sering diskors dan dipanggil kepala sekolah.

Tapi saya ga peduli. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa… TITIK!!!

Adik saya kemudian memberi saya pengertian “Greis, Papa kita namanya Samuel. Dia orangnya memang asik. Bahkan dia ga keberatan kamu panggil dia namanya: Samuel. Tapi kamu panggil Dia Budi…Come on!!! Itu nama siapa”

Saya tidak peduli juga. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa. Dia mengerti kok… Tidak ada yang berubah. Saya tetap mengakuinya papa saya. Kalau diperlihatkan foto-foto, saya akan menunjuknya… “Ini dia Budi saya” Bodo amat orang lain melihat dengan pandangan bingung…Bagi saya Budi ya Budi…TITIK!


Saudara, tunggu… Anda pasti cukup pintar kan untuk tidak menganggap bahwa cerita di atas adalah fakta. Tidak, saya tidak memanggil Samuel dengan sebutan Budi. Saya tahu dia suka dipanggil Papa. Dia menyebut dirinya dengan Papa dan saya memanggilnya begitu.

Hal yang ingin saya jelaskan di sini adalah masalah KEBEBALAN. Berkali-kali dalam Alkitab kita membaca ayat mengenai orang bebal, saya pun pernah mengulasnya. Orang bebal atau tegar tengkuk menulikan telinga dan menutup mata terhadap kebenaran. Bagi mereka, lebih mudah menyangkali kebenaran daripada mengakui bahwa selama ini mereka salah. Bahkan bqgi mereka, apa yang mereka yakini sudah pasti benar, walau fakta tidak mendukungnya.

Saat ini kita disuguhkan tiap hari dengan drama kebebalan dari bangsa ini. Kasus “AHOK MENISTA AGAMA” adalah contoh yang paling besar. Kaum intelektual mencoba meyakinkan “tak ada penistaan agama”.

“Gus Dur pun mengatakan itu”
“Tapi Ahok itu Kristen. Dia tak berhak mengutip kitab suci agama lain. Gus Dur beda lagi!!! PENJARAKAN!!!”

Lalu:

“Secara struktur bahasa kata ‘pakai’ akan mengubah makna kalimat. ‘Makan sendok’ beda dengan ‘makan pakai sendok”
“Tapi kan dilempar batu sama dengan dilempar pakai batu”
“Nah, yang salah bukan batunya kan, tapi orang yang melemparnya”
“Bodo amat. PENJARAKAN!!”

“Tapi Ahok itu anti korupsi”
“Lebih baik yang korupsi. PENJARAKAN!!!”
“Dia bahkan membangun banyak mesjid”
“Tidak peduli!!! PENJARAKAN”

Contoh berikutnya soal pemboikotan Sari Roti. :
“Tapi memang bukan Sari Roti yang bagi-bagi gratis.”
“Harusnya ga usah klarifikasi. BOIKOOOT”
“Tapi kalau tidak klarifikasi nanti salah paham. Ini perusahaan besar, bukan pisang goreng”
“Ah, biar saja seperti itu. BOIKOTT”
“Kasihan kan yang memang sudah mendanai”
“Ah, tidak ada yang tahu kan.BOIKOTTT”
“Tapi sudah ada sertifikat HALAL dari MUI”
“Bukan masalah itu. BOIKOTT”

Saya bingung sekali. Apakah kebebalan yang masif di bangsa ini adalah sebagai kutukan, bawaan lahir, serangan roh jahat, ataukah memang karakter yang sudah mengakar?

Kebebalan ini membuat manusia mempercayai suatu persepsi yang salah dan tidak mau menerima kebenaran. Membuat mereka mudah dipengaruhi oleh siapapun dalang yang memiliki kebusukan hati.

Kebebalan ini membuat manusia hanya mempercayai apa yang mereka inginkan. Mempercayai kebiasaan yang sudah lama dipupuk walaupun kebiasaan itu salah. Tidak mau dikoreksi dan mudah tersulut emosinya ketika diberi pandangan baru dari luar.

Jika Anda tidak percaya bangsa ini memiliki kebebalan semacam ini. Buka saja media sosial, kemudian baca komentar dari berita-berita yang hangat. Saya tidak tahu apakah itu akun bayaran atau bagaimana. Biasanya mereka akan menandaskan komentarnya seolah mereka menempatkan “pokoknya” di setiap kalimat,

“Pokoknya begitu”
“Kenapa begitu”
“Karena memang begitu”
“Kamu yakin?”
“Yakin!!!”
“Dari mana kamu yakin”
“Karena memang begitu!!”

Sayangnya, walaupun sudah menulis panjang-panjang, saya tidak memiliki solusi untuk kebebalan yang masif ini. Saya akhirnya hanya menutup dengan percakapan saya dan adik saya.

Saya (G): Pasti Tuhan sangat menyayangi bangsa ini.
Adik saya (Y): Kenapa?
G : Dulu Tuhan menyayangi Bangsa Israel, bangsa yang bebal dan tegar tengkuk
Y : Lalu?
G : Pasti Tuhan lebih menyayangi Bangsa Indonesia yang lebih bebal dan lebih tegar tengkuk
Y : Tapi orang Yahudi itu cerdas, sedangkan Indonesia…
G : Makanya…karena itu Tuhan pasti lebih menyayangi bangsa ini… Bangsa yang bebal, dan (begitulah)

 

 

Pilihan untuk kehidupan


Anakku,
Sebelum kau dilahirkan,
Kau bahkan tak memiliki pilihan untuk memilih
Sang Pencipta memilihkan untukmu,
Menaruhmu dalam rahim ibumu,
Itulah kenapa…
Hidupmu disebut anugerah

Selagi kau masih sangat kecil,
Kau tak memiliki banyak pilihan,
Bahkan hampir tak ada
Kami orang tuamu memilihkan untukmu,
Makanan yang kau makan,
Minuman yang kau minum,
Baju yang kau pakai,
Itulah kenapa…
Kami disebut orang tuamu,
Itulah kenapa…
Kami bertanggungjawab penuh atasmu Continue reading

Kunci Kebahagiaan


Anakku,
Adalah hal yang biasa jika manusia,…
…bahagia ketika unggul dari orang lain
Atau bisa juga dikatakan…
…bahagia ketika melihat orang lain tidak lebih unggul dibanding dirinya
Atau bisa juga dikatakan…
…bahagia diam-diam,
ketika dirinya lebih beruntung dari orang lain…

Itulah sebabnya kau sering dipertontonkan
Tayangan mengenai kesedihan orang lain,
Mengenai ketidak beruntungan orang lain,
Mengenai kemalangan orang lain…
Dalihnya…
agar orang lain bisa merasa bersyukur…
…karena tidak berada di tempat mereka Continue reading

Tentang “Kenapa, Tuhan?”


Anakku,
Ketika usiamu bertambah,
Kau akan makin menyadari,
Bahwa pertanyaan,
“Kenapa Tuhan?”
Hanya retoris bodoh yang tak berguna

Pertanyaan itu…
Tak akan membawamu kemanapun
Tak akan membuat imanmu bertambah
Tak akan membuatmu lebih baik Continue reading

Ketuhanan Yang Maha Esa


Penghancuran rumah ibadah terjadi begitu sering di Indonesia. Saking seringnya sampai kita merasa terbiasa dan merasa bahwa itu biasa dilakukan mayoritas terhadap minoritas di daerahnya (tanpa melihat siapa mayoritas dan siapa minoritasnya).

Itulah hebatnya negeri ini… Isu mayoritas dan minoritas dalam hal agama menjadi isu panas yang normal.
Tiba-tiba saja saya berpikir, apakah ada yang salah dengan Pancasila kita, khususnya sila pertama. Atau kesalahan terletak pada pemahaman masyarakat terhadap ayat satu sila ini.

Tanpa melihat butir-butir Pancasila, kita mengartikan sila 1 “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai: bangsa ini mempercayai satu Tuhan. Namun jika memang begitu maknanya, maka pertanyaannya adalah, Tuhan yang mana?

Saya khawatir, orang-orang bodoh di luar sana yang merasa mayoritas, mengartikan sila pertama Pancasila ini sebagai “kamu harus percaya dan menyembah Tuhan yang sama dengan aku”.

Saya heran dengan motivasi orang-orang yang suka memaksakan agamanya pada orang lain. Ada dua kemungkinan motivasi orang seperti itu. Pertama iman mereka begitu besar sampai mereka ingin orang lain memeluk agamanya tapi bukankah orang beriman tak akan menggunakan cara kasar dan anarkis.

Kedua, mereka dijanjikan pahala begitu besar jika bisa membuat orang lain memeluk agamanya. Namun jika begitu,  bukankah artinya tuhan mereka mendidik mereka untuk egois. Jika tuhan mengajar umatnya untuk egois seperti itu, apakah ia memang benar Tuhan?

Sebenarnya butir-butir Pancasila mengatur hal ini dengan sangat baik. Sayangnya sekolah saat ini tidak memastikan anak didiknya mengetahui, mengerti dan memaknai butir-butir Pancasila ini. Dari 45 butir yang ada di sila 1, saya akan menuliskan di sini 7 butir yang seharusnya sangat mewakili moral dan attitude bangsa ini. Saya berharap siapa saja yang membaca ini dapat mulai mengerti dan memahami makna sila ke 1 Pancasila yang kita cintai.

1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Jadi, kalau saya simpulkan, arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila berarti, setiap agama mempercayai satu Tuhan. Lalu bagaimana dengan agama yang mempercayai adanya lebih dari satu Tuhan? Apakah artinya kita layak mencapnya bidat atau kafir atau sesat dan membakar tempat ibadahnya?

Bukankah urusan manusia-pencipta adalah urusan pribadi manusia?

Lingkaran Setan


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah lingkaran setan, atau dalam bahasa Inggris disebut vicious cycle. Lingkaran setan didefinisikan sebagai keadaan atau masalah yang tidak memiliki ujung pangkal, sulit dicari penyelesaiannya. Sedangkan vicious cycle didefinisikan sebagai masalah yang membawa masalah lain. Continue reading

Anak Bawang


Anda pernah dengar istilah “anak bawang”? Anak bawang biasanya sering dipakai oleh anak-anak yang sedang bermain, untuk menunjuk kepada mereka yang masih terlalu kecil untuk diperhitungkan. Si Anak Bawang boleh ikut main, tapi ia boleh menolak untuk kalah.

Namun tidak hanya dalam permainan anak-anak, dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang dewasa pun kita kerap menjumpai anak bawang. Mungkin anak bawang bisa mengacu pada mereka yang usahanya tidak diperhitungkan.

Setelah saya pikir-pikir, ada banyak alasan mengapa seseorang tidak diperhitungkan, baik dalam pergaulan sosial maupun profesional.

Pertama adalah mereka yang rapuh, mudah marah dan tidak dapat menerima kritik. Kepada orang-orang seperti ini biasanya kita menganggap sebagai anak bawang. Ketika ia melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat diterima untuk ukuran orang ‘normal’, ia tidak akan dilawan atau dikiritik karena orang malas berurusan dengannya. “Sudahlah, dimengerti saja… dia sih orangnya memang begitu”

Kedua adalah mereka yang bodoh, berpikiran dan berwawasan sempit. Kepada mereka biasanya saya menjadi sangat sabar. Orang-orang seperti ini jarang kita perhitungkan pendapatnya karena biasanya tidak logis dan tidak applicable. ” Dia kok ditanya, jawabannya pasti aneh”

Ketiga adalah mereka yang malas. Kepada mereka yang malas biasanya kita menjadi kapok atau jengkel dan kemudian berjanji pada diri sendiri untuk tidak memperhitungkannya lagi karena jika kita memberi mereka kesempatan, kita pasti akan dikecewakan.

Jika kita menyimpulkan dari tiga alasan di atas, kita dapat mengatakan bahwa anak bawang adalah mereka yang bermasalah secara emosional, pengetahuan dan perilaku, tiga hal yang merupakan modal dasar bagi manusia dalam bersosialisasi atau bersikap profesional.

Namun ada juga orang-orang yang dianggap anak bawang karena mereka baru pertama kali masuk ke dalam suatu komunitas atau pekerjaan. Tidak dianggap merupakan suatu hal yang menyebalkan. Ketika kita pertama kali masuk ke dalam suatu komunitas atau pekerjaan seringkali kita tidak dianggap oleh rekan-rekan kerja kita.

Hal yang dapat kita lakukan agar predikat anak bawang itu hilang adalah berusaha untuk tidak memiliki masalah, baik secara emosional, wawasan maupun perilaku:

  1. Mengendalikan emosi, baik dalam bentuk mudah marah atau menangis
  2. Terbuka untuk wawasan, masukan dan teknologi baru
  3. Melakukan segala sesuatu dengan penuh tanggungjawab dan sebaik-baiknya

Semua orang ingin diperhitungkan, namun hanya beberapa yang sanggup membuat dirinya diperhitungkan. Akhir kata, saya mengutip apa yang dikatakan oleh Mantan Presiden Habibie “Setiap orang harus menapakkan jejak-jejaknya”. Walau singkat, kehidupan adalah sesuatu yang serius, buat diri kita diperhitungkan dan buat jejak-jejak selama kita hidup!

Ketika Ayah dan Anak tidak sama saja


Saya sedang mempersiapkan bahan untuk Firman Tuhan minggu ini ketika tiba-tiba saja sesuatu menarik perhatian saya. Terkadang memang sesuatu yang sudah sering kita dengar tiba-tiba saja PLOP! melompat keluar dan menarik perhatian kita. Saya tertarik dengan Manasye, Amon dan Yosia.

Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, siapa itu Manasye, Amon dan Yosia. Sementara sebagian lagi mungkin langsung tahu siapa mereka bertiga. Ya, mereka adalah raja Yehuda dari Perjanjian Lama. Manasye sendiri adalah anak dari Hizkia, seorang raja yang berbuat benar di mata Tuhan, pernah meminta perpanjangan usia dan dikabulkan oleh Tuhannya Israel.

Manasye menjadi raja pada usia yang sangat muda, yaitu 12 tahun. Usia 12 tahun adalah ketika seorang anak tidak mau lagi disebut anak-anak, tapi juga terlalu muda untuk dapat dikatakan remaja. Di saat anak seusianya mungkin bermain dan berburu, Manasye telah menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat.

Hal yang menarik perhatian saya adalah karena kelakuan Manasye berbeda jauh dengan kelakuan ayahnya. Alkitab mencatat Hizkia sebagai raja yang “melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.”, sedangkan Manasye dicatat sebagai raja yang “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.”

Manasye ini, seharusnya telah melihat apa yang ayahnya lakukan seumur hidupnya. Ini yang Alkitab catat mengenai Hizkia (diambil dari II Raja-Raja 18:4-7)

Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia.

Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa.

Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung.

 

Seharusnya Manasye melihat bagaimana ayahnya telah menjadi raja yang beruntung kemanapun ia pergi berperang, dan seharusnya Manasye tahu bahwa yang menyebabkan ayahnya beruntung adalah karena Tuhan menyertai dia.

Namun Manasye justru melakukan hal yang sebaliknya. Bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh ayahnya didirikan kembali oleh Manasye. Seolah menganggap bahwa Hizkia adalah saingannya dan bukan ayahnya, ia melakukan apa yang dibenci oleh ayahnya selama ia masih hidup. Bukannya mengidolakan ayahnya, ia malah melakukan apa yang dilakukan Ahab, Raja Israel (Di jaman itu, Tuhan sudah memecah Kerajaan Israel dan Yehuda), yaitu membangun mezbah-mezbah untuk Baal dan membuat patung Asyera, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.

Tak cukup hanya itu, hal terburuk yang dilakukan Manasye adalah ia mengorbankan anaknya sendiri dalam api dan membuat mezbah untuk tentara langit di pelataran rumah Tuhan.

Cukup lama Manasye memerintah, lima puluh lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk dilihat oleh anak-anaknya. Waktu yang cukup lama untuk membuat bangsa Israel jauh dari Tuhan.

Namun berbeda dengan Hizkia yang tidak ditiru oleh anaknya. Manasye digantikan oleh seorang anak yang berkelakuan persis seperti dia. Amon, anak Manasye segera naik tahta setelah Manasye mangkat. Amon melakukan apa yang jahat, persis seperti ayahnya. Dia beribadah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa yang disembah oleh ayahnya.

Tak lama-lama Amon menjadi raja, hanya dua tahun saja. Rupanya ia bukan atasan yang baik, Amon mati di tangan pegawai-pegawainya sendiri, menyisakan tahtanya untuk anaknya yang masih berusia delapan tahun… YOSIA.

Yosia ini adalah seorang anak yang sudah pasti tidak mengenal kakek buyutnya, Hizkia. Sepanjang hidupnya ia menyaksikan kekejian demi kekejian yang dilakukan baik oleh kakeknya maupun oleh ayahnya. Namun sesuatu yang mengherankan terjadi, Yosia “melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (II Raja-raja 22:2)

Dalam masa pemerintahan Yosialah kitab Taurat ditemukan, setelah hilang (entah terselip atau terlupa) karena tidak diperhatikan di jaman kakeknya. Berdasarkan kitab tersebut, Yosia mengadakan pembaharuan agama. Anda bisa membaca sendiri apa yang dilakukan Yosia pada 2 Raja-raja 23.

Hal yang ingin saya bahas di sini mungkin di luar perkiraan Anda. Menurut Anda, dari antara Hizkia, Manasye, dan Amon… Siapakah Ayah yang dapat dikatakan “BERHASIL” ?

Hizkia yang tidak bisa mendidik anak? Manasye yang diikuti oleh anaknya? Atau Amon, seorang jahat yang dapat menghasilkan anak yang baik? Jika menjadi orangtua adalah ‘pengaruh’, maka saya dapat pastikan bahwa Manasye-lah yang paling berhasil mendidik anak.

Jaman sekarang ini, ketika “Parenting” tengah diangkat dan “peran orangtua” sedang banyak digembar gemborkan, kita banyak mendengar bahwa seorang ayah atau orangtua, bertanggungjawab atas kelakuan anak mereka.

Ketika saya membuat status berisi komplain dengan iklan di mana seorag anak berkata “kepo ih” ke orangtuanya, seorang teman berkata bahwa “itu salah orangtua” kalau sampai seorang anak bisa terpengaruh dengan iklan itu dan berkata “kepo ih” ke orangtuanya.

Saya berkata bahwa, jika dikembalikan ke orangtua… memang pada akhirnya seluruh kejahatan di muka bumi ini adalah salah orangtua…

Apakah benar begitu?

Saya pernah menulis bahwa ketika seorang anak masuk ke dalam penjara, maka orangtuanya tidak perlu menanggung perbuatannya (demikian juga sebaliknya). Memang betul, orangtua diberi tanggungjawab khusus oleh Tuhan menjadi pahlawan yang mengarahkan anak panah ke sasaran yang tepat. Sejak kecil seorang anak perlu diarahkan ke sasaran yang benar.

Kembali ke contoh Hizkia hingga Yosia,.. tahukah Anda bahwa Yosia mendapat kemurahan dari Tuhan… Kerajaan Yehuda tidak dihancurkan pada jaman pemerintahannya. Yosia wafat karena terbunuh di medan perang, dan anaknya Elyakim, yang diganti menjadi Yoyakim oleh Firaun, menggantikan dia. Yoyakim ini, kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan…seperti kakeknya.

Apa yang salah?

Anda mungkin berkata “mungkin Hizkia dan Yosia melupakan keluarganya selama mereka memerintah, mereka lupa mendidik anak-anak mereka”. Lalu bagaimana dengan Yosia? Siapa yang mendidiknya sehingga ia tidak meniru perbuatan Amon, ayahnya? Siapa yang mendidik Hizkia hingga ia tidak meniru perbuatan Ahas, ayahnya?

Saya menawarkan sebuah kata ajaib yang mungkin dapat menjadi jawaban dari permasalahan kita hari ini: PILIHAN!

Ketika Tuhan menciptakan manusia, disisipkannya hati nurani sebagai penanda, bahwa manusia merupakan mahluk istimewa yang Dia ciptakan. Ya! tak peduli bagaimana pun orangtua kita, Tuhan memberi kita pilihan.

Hizkia dan Yosia membuat pilihan yang benar. Sejak kecil ia mungkin tidak pernah mendengar tentang kebaikan dari orangtuanya, mungkin hanya dari ibunya saja (mungkin juga tidak). Kalaupun mereka mendengar dari ibunya saja, mereka tetap memiliki pilihan untuk mengikuti ayahnya, menjadi raja yang jahat, atau melakukan apa yang baik seperti Daud, leluhurnya.

Anda dan saya memiliki pilihan. Tak peduli bagaimana orangtua kita, tak peduli seperti apa lingkungan di mana kita berada, kita mempunyai pilihan untuk melakukan apa yang benar atau tidak.

Ketika kita memilih melakukan apa yang benar, Tuhan memberi kita balasannya,…Hizkia mendapat keberuntungan, dan Yosia lolos dari penghukuman akibat kesalahan orangtuanya.

Jadi… faktor apa yang mempengaruhi hidup Anda? Keturunan, lingkungan, atau hati nurani yang dititipkan Tuhan?

Jika Hidup Tak dijanjikan Pahala


Jika hidup tak dijanjikan pahala
Akankah nurani tetap bicara
Memberi bagi yang papa
Menolong mereka yang terluka

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Akankah nurani tetap bicara
…mengatakan apa yang benar
…melakukan apa yang benar

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Akankah nurani tetap bicara
Menjaga lidah untuk tak memaki
Memegang komitmen untuk setia
Mengasihi kehidupan
Berbelas kasihan

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Adakah dasar menaruhkan iman
Adakah dasar untuk berharap
Adakah alasan untuk mengasihi

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Apakah akan ada kekerasan atas nama agama
Apakah para pembela Tuhan akan bertindak
Akankah ada hati yang merendah
Akankah ada jiwa yang memohon
Akankah ada doa dinaikkan

Ah Tuhanku…

Untuk apa Kau ciptakan manusia
Mahluk yang katanya mulia dan luhur
Mahluk yang katanya menyerupai Engkau
Jika untuk berbuat baik saja…
…hadiah menjadi incarannya

Untuk apa Kau kasihi manusia
Mahluk yang katanya mulia dan luhur
Mahluk yang Kau ciptakan sesuai gambar-Mu
Jika kasih
Jika kejujuran,
Jika kesetiaan,
Jika kebaikan,
Jika belas kasihan,
Jika iman,
Jika pengharapan,
Dilakukan hanya untuk mendapat pahala
Dilakukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri

Ah Tuhanku,
Jika hidup hanya ada manusia dan diri-Mu,
Jika hidup tak dijanjikan Surga atau diancam Neraka
Jika hidup adalah tentang diri-Mu

Masih adakah kasih
Masih adakah kejujuran
Masih adakah kesetiaan
Masih adakah kebaikan
Masih adakah belas kasihan
Masih adakah iman
Masih adakah pengharapan

Jika hidup tak dijanjikan pahala, Saudaraku
Akankah ada alasan bagimu untuk tetap berbuat baik?