Proyek Lagu Baru Sekolah Minggu


Saya mengajar Sekolah Minggu sejak tahun 1997. Sejak kecil saya selalu ingin menjadi guru dan seringkali bermain permainan “sekolah minggu” dengan adik saya, bergantian siapa yang menjadi guru dan murid.

Saat berusia 15 tahun akhirnya saya mengambil keputusan untuk mulai melayani Sekolah Minggu, dimulai dengan menjadi helper dalam sebuah Camp untuk anak-anak di salah satu gereja lokal.

Saya tidak akan melupakan suatu siang saat koordinator Sekolah Minggu mencoba mengalihkan perhatian saya (yang saat itu adalah remaja yang tidak bisa diam) ketika beliau sedang rapat dengan orang dewasa lain. Ia meminta saya membuat lagu tema untuk salah satu acara Sekolah Minggu. Sebagai remaja polos saya menurut saja walau saya tahu dia sebenarnya tidak sungguh-sungguh meminta saya melakukannya.

Remaja gemuk itu kemudian mulai melaksanakan tugasnya dandengan bantuan Sang Guru Agung jadilah sebuah lagu berjudul “Aku Tentara Allah” yang kemudian menjadi lagu teman untuk Vacation Bible School. Saya selalu merasa sejak itu bahwa semua lagu yang dihasilkan adalah pemberian dari Tuhan.

Karena saya merasa itu pemberian Tuhan, maka bulan April lalu saya memutuskan untuk mengembalikannya untuk pekerjaanTuhan. Dengan bantuan beberapa Saudara terkasih, kami membuat sebuah proyek Sekolahminggu.org yang bertujuan membantu guru-guru sekolah minggu, baik dengan artikel, maupun dengan lagu-lagu baru untuk Sekolah Minggu.

Sebenarnya saya ingin sekali bisa menghasilkan satu lagu tiap bulan, tapi karena beberapa hambatan, kesibukan dan keterbatasan, kami tidak dapat mengeluarkannya tiap bulan. Ada lima buah lagu (termasuk lagu baru bulan Oktober yang baru dibuat) yang sudah dibagikan. Anda dapat mendownloadnya secara cuma-cuma di sini.

Anda bisa ikut ambil bagian dalam proyek ini dengan cara yang sangat mudah. Cukup men-share link lagu baru yang Saudara sukai kepada teman, rekan sekerja atau siapapun yang dirasa memerlukannya. Jika Saudara ingin mengambil bagian lebih, Saudara dapat menghubungi kami di contact@sekolahminggu.org atau menghubungi saya secara langsung di contact@greissia.com

Nah, lagu baru untuk bulan ini dapat Saudara buka di –> https://sekolahminggu.org/2016/10/20/lagu-baru-tuhanku-besar/

Terimakasih buat perhatiannya. Tuhan Yesus memberkati!

 

Happy Birthday, sib!


Kita sering bertengkar saat kecil,
(Bahkan sekarang pun masih sesekali)
Mulai dari perdebatan,
Hingga pertengkaran hebat

Tapi kita tahu caranya berbaikan,
Dan semuanya dimulai lagi
Tanpa “bekas paku” seperti yang orang lain katakan

Aku pikir… 
Seharusnya memang seperti itu bukan?
Tak pernah ada sakit hati
Atau mengungkit kesalahan masa lampau
Jika kita Kakak dan Adik,
Dendam, sakit hati dan kepahitan tak ada dalam kamus kita…

Kita sering berbagi sejak kecil
Bahkan menyimpan pemberian orang lain…
untuk dibagi bersama
Sama-sama berebut memberikan bagian terbaik untuk yang lain
jika memang keadilan tak dapat terwujud

Tapi memang seharusnya seperti itu bukan?
Jika kita Kakak dan Adik,
Berbagi adalah kesenangan
dan mengalah adalah bagian tak terpisahkan

Kita sering bercerita
Kau pemegang rahasiaku
Jika kau membongkarnya,
habislah aku…
demikian sebaliknya…

Tapi memang seharusnya seperti itu bukan?
Jika kita Kakak dan Adik 
Rahasia adalah mainan kita
Dan saling membantu menyelesaikan masalah…
… adalah bagian darinya

Selamat ulang tahun
sahabat terbaik
musuh terberat
hadiah termanis
adik tersayang
Berkat dari Bapa di Surga
Melimpah untukmu…

Tentang Sekolah


Anakku,
Seringkali kau mengeluh tentang sekolahmu
Tentang banyaknya PR-mu
Tentang guru-guru yang suka menghukum
Tentang soal ujian yang sulit
Tentang teman-teman yang tidak menyenangkan
Tentang tugas-tugas yang menumpuk

Tahukah kau, Anakku
Sekolah mengajarimu tentang banyak hal
Banyak hal dalam kehidupan
Hal-hal yang akan kau hadapi kelak
… saat kau dewasa

Kau mengeluh tentang PR-mu
Tahukah kau…
PR mengajarimu tentang prioritas
Bagaimana kau mengatur waktu
Mengesampingkan kesenangan
…untuk menjalankan kewajiban

PR mengajarimu tentang usaha
Bagaimana kau mengerjakan sesuatu
Dengan usahamu sendiri
Dengan kerja kerasmu sendiri
Dengan kreativitasmu sendiri

Kau mengeluh tentang guru-guru yang menghukum
Tahukah kau…
Hukuman mengajarimu tentang konsekuensi
Ada akibat yang ditanggung untuk kesalahan
Itulah yang terjadi dalam kehidupan, bukan?
Ada akibat untuk sebab
Ada konsekuensi untuk perbuatan

Ya, aku mengijinkan gurumu menghukummu
Dalam taraf wajar, kau memerlukannya
Agar kau belajar…
Untuk berpikir sebelum bertindak
Untuk bertanggungjawab atas tindakanmu

Kau mengeluh tentang soal ujian yang sulit…
Anakku, hidup ini tidak mudah
Seringkali kita menemukan banyak hal sulit
Seringkali kita menemukan banyak masalah
Tapi tahukah kau,…
Masalah akan membuatmu naik satu tingkat lebih tinggi
…ketika kau berhasil melaluinya

Tahukah kau…
Soal ujian yang sulit mengajarimu pentingnya persiapan…
Hanya mereka yang bijak,
Yang siap saat masalah datang
Yang siap menghadapi saat-saat sulit
Persiapkan dirimu dengan baik
Dan hadiahi dirimu sesudahnya
…dengan kepuasan setelah melaluinya

Kau mengeluh tentang teman-teman yang tak menyenangkan…
Tahukah kau,
Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar memaafkan,
Sebelum hatimu terlalu keras

Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar toleransi,
Sebelum fanatisme membutakanmu

Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar mengalah,
Sebelum egoisme menguasaimu

Lagipula,
Bukankah besi menajamkan besi,
Dan manusia menajamkan sesamanya?

Kau mengeluh tentang tugas-tugas yang menumpuk,
Tahukah kau?
Hidup adalah tentang tanggung jawab
Dalam setiap aspek kehidupan,
Selalu ada tanggung jawab
Dan untuk setiap tanggung jawab,
Akan ada kepercayaan

Selesaikan seluruh tugasmu
…dengan sekuat tenaga
…seperti untuk Tuhan

Selesaikan seluruh tugasmu
…dengan tanggung jawab
…dan keinginan melakukan yang terbaik

Tugas-tugasmu mengajarimu tentang itu
Karena nantinya hidup tidak akan lebih mudah

Jadi Anakku,
Ketika suatu saat kau mengeluh tentang sekolahmu
Ingatlah,…
Tak ada yang dapat aku lakukan,
Itu adalah peperanganmu
Lakukan yang terbaik,
Dan jadilah pemenang

Manusia-manusia Topeng


Manusia-manusia topeng berjalan
Wajah tengadah bak bangsawan
Melangkah ringan dengan elegan
Senyum tersungging nan menawan

Jauh di dalam relung jiwa
Ada pahit tak tertahan
Mengeroposkan tulang
Menusuk jantung
Menghancurkan hati

“Aku tak apa”
“Aku bahagia”
“Aku senang”
Topeng tersenyum

Aku hancur”
Aku sedih
Aku pahit
Manusia menangis

“Aku tak ada masalah denganmu”
“Aku menyukaimu”
“Aku siap membantu kapan saja”
Topeng tersenyum

Aku membencimu
Aku sungguh muak denganmu
Aku senang melihatmu hancur
Manusia merengut

Senja tiba…
Waktu melepas topeng
Rumah adalah neraka
Dan keluarga adalah puing-puing

Manusia-manusia merengut
Manusia-manusia lesu
Manusia-manusia pahit

Sementara
Topeng-topeng tergantung,
Tersenyum…

PGI dan LGBT: Sebuah Ulasan dari Orang Awam


Rasanya kurang pantas jika saya membuat semacam surat terbuka, atau mengomentari Pernyataan Pastoral tentang LGBT yang ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekjen PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia), karena saya bukan pendeta dan tidak memiliki titel teologis apapun. Saya hanyalah seorang guru dan trainer yang banyak memberikan pertanyaan pancingan (selain mengajar tentu saja), dan seorang Management Consultant yang banyak memberikan pertanyaan jebakan supaya klien saya melihat lebih jernih, juga seorang penulis realis yang senang mengkritisi apa yang sedang terjadi. Jadi, ijinkan saya, melalui tulisan ini, mengajukan beberapa pertanyaan untuk direnungkan (saya tidak cukup PD untuk menulis ‘direnungkan oleh Yang Terhormat Ketua PGI’)

Beberapa hari ini umat Kristen merasa dikejutkan oleh sebuah Surat Pastoral ber-kop PGI dan bertandatangan Ketua Umum dan Sekjen PGI, isinya membahas mengenai pandangan gereja PGI mengenai LGBT. Di surat sepanjang 5 halaman tersebut, Yang Terhormat para Pengurus PGI membaginya menjadi  Surat Pendahuluan, Pengantar (poin 1 – 3), Titik Tolak (poin 4 – 7), Rekomendasi (poin 8 – 12) dan Penutup (Poin 13-14). Bagi Saudara yang penasaran dan belum pernah membaca, berikut saya berikan PDF yang saya buat dari gambar-gambar yang saya dapatkan: Surat Pastoral PGI

Baik, mari kita mulai (tulisan ini agak panjang, silahkan akhiri di sini jika Saudara merasa tidak tertarik)

Surat Pendahuluan

Saya membayangkan para pengurus PGI yang merupakan para pemuka gereja-gereja se Indonesia sedang duduk dalam sebuah sidang yang terhormat pada tanggal 26 – 28 Mei 2016 (halaman 1) membicarakan sebuah isu sensitif: bagaimana seharusnya sikap organisasi gereja (yang mereka wakili) terhadap LGBT. Para pendeta besar itu duduk di kursinya, berpikir, berdiskusi dan mengeluarkan butir-butir.

Dalam bayangan saya (sekali lagi, ini hanya bayangan saya), para Doktoral yang terhormat itu mengemukakan pendapatnya satu persatu mengenai masalah ini. Beberapa diam karena merasa tidak punya cukup referensi (walau Alkitab seharusnya sudah cukup jelas), beberapa berbicara dengan berapi-api (mungkin karena ada kenalan atau saudaranya yang juga merupakan bagian dari LGBT), beberapa menyampaikan pandangan, beberapa memandang ke depan dengan pandangan kosong sambil menantikan akhir jaman.

Kemudian setelah tiga hari yang terasa begitu panjang, dibuatlah sebuah rangkuman pembicaraan tersebut, ditujukan kepada Pimpinan Gereja Anggota PGI, entah sebagai “undang-undang” yang harus diterima atau hanya sebagai “draft keputusan”, saya tidak paham, yang saya tahu pasti dalam surat pendahuluan itu tertulis Pengantar Pernyataan Sikap PGI.

Surat pendahuluan itu diakhiri dengan himbauan agar organisasi gereja – gereja memberikan pandangannya agar PGI dapat menyempurnakan Sikap dan Pandangannya. Saya rasa ini satu-satunya bagian yang saya puji dari surat pendahuluan ini, terbuka untuk masukan, walau saya sesalkan juga. Jika memang ini merupakan sebuah bola api yang digulirkan untuk dibahas, bukankah PGI tidak perlu membuat tulisan Pernyataan Sikap? Mereka bisa menulisnya sebagai Usulan Pernyataan Sikap.

Disebutkan bahwa pertimbangan-pertimbangan PGI tidak bermaksud menyeragamkan pandangan organisasi gereja yang berbeda tentang LGBT. Jika memang demikian, lalu untuk apa Surat Pastoral ini dibuat?? Jika tidak perlu berdampak, untuk apa repot-repot mengadakan sidang MPH selama tiga hari hanya untuk membahas sesuatu yang ‘tidak perlu diterima’?? Jika PGI mewakili organisasi gereja-gereja di bawahnya, mengapa mengeluarkan Pernyataan Sikap yang ‘tidak perlu diterima’?

Pengantar

Sebuah poin yang menarik dari bagian pengantar adalah poin 2:

Allah menciptakan manusia, mahluk dan segala ciptaan yang beraneka ragam dan berbeda-beda satu sama lain. Kita hidup dalam keanekaragaman ras, etnik, genderorientasi seksual, dan agama. Keanekaragaman ini adalah sebuah realitas yang Allah berikan kepada kita, yang seharusnya kita terima dengan sikap positif dan realistis

WOW!!! Bukankah luar biasa?? Apakah maksudnya keanekaragaman orientasi seksual yang terjadi saat ini disamakan dengan keanekaragaman agama?

Setahu saya, Tuhan hanya menciptakan tiga gender di dunia:

  1. Wanita (Betina)
  2. Pria (Jantan)
  3. Hermafrodit (hewan yang membuahi dirinya sendiri)

Khusus untuk hewan tingkat tinggi dan manusia, Tuhan hanya memberikan dua saja: Pria dan Wanita. Selain untuk mengasihi satu dengan yang lain, tujuan Tuhan sederhana, supaya mereka bisa berkembang biak. Tuhan memberikan perangkat yang berbeda untuk pria dan wanita agar ketika disatukan, keduanya bekerjasama menghasilkan keturunan.

Jika memang gender hanya dua untuk manusia, apakah ini bisa dikatakan KEANEKARAGAMAN? Jika jenis tumbuhan hanya dua di dunia, apakah kita bisa mengatakan bahwa Tuhan menciptakan aneka ragam tumbuhan? Semoga Anda mengerti maksud saya.

Demikian juga orientasi seksual. Ada dua orientasi seksual yang kita kenal: Heteroseksual (tertarik pada lawan jenis) dan Homoseksual (tertarik pada sesama jenis). Apakah Yang Terhormat para Ketua PGI hendak mengatakan bahwa Tuhan yang patut bertanggungjawab dan dipersalahkan atas adanya Homoseksual?? Apakah Homoseksual merupakan produknya Tuhan?

Bagaimana dengan kecenderungan (orientasi) seksual orang yang meyukai binatang secara seksual, atau yang menyukai dan menikah dengan Menara Eiffel? Apakah itu salah satu keragaman orientasi seksual yang Tuhan ciptakan?
Sebagai non-pendeta dan non-gelar-teologis, saya sih tidak berani mengklaim demikian, bagaimana dengan Anda?

Sisanya Para Pendeta Besar yang terkumpul dalam kepengurusan PGI menghimbau agar kita bersikap positif, realistis dengan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada. Poin 3 tidak ada masalah saya setuju kita harus mengasihi siapapun, baik itu LGBT maupun manusia normal, baik itu wanita penghibur maupun istri pendeta, baik itu pembunuh maupun pendeta.

Titik Tolak

Poin 4:

Membicaraan LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan mahluk Allah yang sangat dikasihi-Nya.

Saya tidak mengerti poin ini. Rupanya mereka tidak dapat membedakan antara perilaku dengan pelaku. Ada perbedaan antara pelaku dan perilaku. Pelaku adalah manusia, sedangkan perilaku adalah apa yang diperbuatnya. Secara logika matematika, pernyataan ini tidak ada yang salah.

  • A: LGBT adalah manusia
  • B: Manusia merupakan mahluk yang dikasihi Tuhan
  • Kesimpulan: LGBT merupakan mahluk yang dikasihi Tuhan

Namun, kata “membicarakan” membuatnya menjadi fail! Ketika kita membicarakan LGBT, kita tidak sedang membicarakan manusia yang merupakan mahluk Tuhan yang sangat dikasihi-Nya. Ketika kita membicarakan LGBT, kita membicarakan sebuah perilaku dari manusia yang merupakan mahluk Tuham yang sangat dikasihi-Nya.

Oke, Anda mungkin berkata “kaya gitu aja kok diributin”. Ada alasan saya membahas ini, karena ada sebuah pernyataan di poin ke 6 (poin ini merupakan favorit saya di mana saya tertawa paling keras). Anda bisa membacanya sendiri, namun saya bisa merangkumnya dengan interpretasi saya (maafkan jika salah):

  1. Kita mengatakan bahwa LGBT itu melawan moral karena kita salah paham dalam mengartikan Alkitab
  2. Alkitab tidak pernah menghakimi LGBT, Alkitab mengkritisi perlakuan eksploitatif seksual (pemerkosaan)
  3. Heteroseksual adalah sebuah orientasi seksual yang “kita anggap normal” dan bukan orientasi seksual yang normal
  4. Dalam kisah penciptaan Adam dan Hawa tidak ada tertulis bahwa Tuhan menolak kaum LGBT.

Pertama, dalam penciptaan belum ada alat make up operasi plastik sehingga tidak ada transgender, kedua dalam penciptaan jika terdapat LGBT, maka jaman sekarang manusia tidak akan sebanyak ini di muka bumi… mungkin setengahnya, karena perintah Tuhan “penuhilah bumi” hanya bisa dilakukan oleh orang yang menurut PGI “dianggap normal”

Ketiga, berkaitan dengan poin sebelumya tentang pelaku dan perilaku. Jika memang kita salah paham (salah interpretasi) terhadap ayat yang mudah seperti I Korintus 6:9 (Atau tidak tahukah kamu, ahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga? Janganlah sesat! orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, pemburit), betapa banyak ayat yang kita bisa salah pahami. Dalam ayat 10 dikatakan “pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga”

Bagaimana jika kita juga salah paham?? Bagaimana jika ternyata korupsi diijinkan karena korupsi bukanlah bagian dari pencuri dan karena koruptor adalah manusia yang dikasihi Tuhan dan memiliki martabat?

Sekali lagi, bedakan antara perilaku dan pelaku. Tuhan mengasihi pelaku kejahatan itu betul, bahkan Yesus makan dengan orang berdosa. Tapi itu tidak dengan serta merta membuat Yesus berkata “manusia lahir dengan kecenderungan berbuat dosa, itu sudah bawaan lahir, jadi kita harus menerimanya sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diubah”

Rekomendasi

Jika poin 6 adalah tempat saya tertawa paling keras, poin rekomendasi adalah tempat saya merasa terkhianati oleh pemimpin gereja.

Kesimpulan poin 8 adalah PGI mengingatkan kita semua mempertimbangkan hasil-hasil penemuan mutakhir baik itu dari kedokteran, WHO, PDSKJI dan sebagainya tanpa sedikit pun mempertimbangkan hatinya Tuhan.

Disebutkan bahwa LGBT merupakan sesuatu yang natural, sudah diterima sejak manusia dilahirkan, walau ada juga karena pengaruh sosial.

Dalam salah satu kalimat di poin 8 disebutkan:

Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat. Kita juga tidak boleh memaksa mereka berubah, melainkan sebaliknya, kita harus mendorong mereka agar bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.

Saya ingin bertanya,

  1. Bagaimana caranya mendorong mereka agar menerima dirinya sendiri? “Kamu harus menerima kalau kamu lesbian, tidak apa-apa sukailah perempuan yang kau mau” ??
  2. Jika logika di atas dipakai (bahwa jika LGBT normal maka tidak perlu diubah), bolehkah saya mengatakan “Epilepsi adalah bawaan lahir. Karena itu epilepsi bukanlah suatu penyakit dan tidak perlu diobati. Karena apa yang merupakan bawaan lahir adalah normal!”

Adik saya berkata, dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan, sebuah obat bisa ditemukan jika diakui adanya masalah. Solusi baru dapat dibuat jika kita sadar ada masalah.

Organisasi pro-gay Amerika “Parents and Friends of Lesbians and Gays” mengatakan bahwa tidak ada satupun ilmuwan mengatakan bahwa gen dapat menentukan orientasi seksual. Jika gen tidak dapat menentukan orientasi seksual maka pada dasarnya LGBT tidak dilahirkan.

Baik, kita bicara soal ketidakseimbangan hormon. Ada pria yang memiliki hormon wanita berlebih, demikian juga sebaliknya. Jika pria bisa disuntik hormon wanita agar memiliki tubuh wanita, tidak mungkinkah pengobatan dibuat untuk hal ini? Entahlah, saya pun bukan ahli kedokteran.

Poin 9 menyebutkan:

Gereja sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai sebuah Keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT  sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai Tubuh Kristus. Kita harus memberi kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.

Ijinkan saya bertanya satu hal mengenai poin ini. Jika seorang LGBT dibina untuk bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan spiritual, maka mereka akan bertumbuh sebagai apa? Tentunya sebagai LGBT yang utuh secara fisik, mental, sosial dan spiritual. Apakah benar begitu?

Poin 10 cukup membuat saya terkejut. Inti dari poin ini adalah gereja harus mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral (ready???) kepada keluarga. Bukan kepada pelaku LGBT, tapi keluarga. Agar menerima saudara atau keluarga mereka yang LGBT.

Saya setuju dengan poin 10 ini. Peran keluarga sangatlah penting. Keluarga yang terus menerus menolak dengan kasar mungkin akhirnya dapat membuat keluarga mereka (yang LGBT) bunuh diri atau depresi. Namun yang saya soroti, tidakkah ada satu poin pun dari Yang Terhormat Pemimpin PGI menyebutkan agar gereja melakukan bimbingan pastoral kepada LGBT? Oh, saya lupa, tentu saja tidak ada, bukankah menurut mereka LGBT adalah sesuatu yang normal dan tidak perlu diubah.

Poin 11 dan 12 membuat saya bingung sekali. Poin ini berbicara mengenai “memperjuangkan hak-hak dan martabat” kaum LGBT. Saya ingin bertanya:

  1. Hak-hak seperti apa yang diperjuangkan?
  2. Apakah LGBT memiliki hak untuk menikah?
  3. Jika jawaban no 2 adalah ya, apakah mereka juga memiliki hak untuk diberkati di gereja?
  4. Jika jawaban no 3 adalah ya, apakah gereja-gereja di bawah PGI (setidaknya di bawah para pemimpin PGI yang saya pun merupakan salah satu anggotanya) mau menerima pemberkatan pernikahan untuk pernikahan LGBT?
  5. Jika jawaban no 2-4 adalah “tidak”, mari saya ajak Anda berpikir normal: suatu hubungan hetero (pria dan wanita) tidak berakhir di fase ‘saling suka’, tidak juga berakhir di fase ‘pacaran’. Pada suatu titik mereka rindu untuk membangun rumah tangga, dan berhubungan layaknya suami istri. Jika LGBT dianggap normal, maka mereka pun memiliki keinginan normal untuk membangun rumah tangga dna berhubungan layaknya suami istri, bukan begitu? Gereja tidak bisa naif dan berkata “oh, tidak maksud kami… kami hanya mendorong mereka untuk menerima diri, berhenti di titik itu saja” Tidak, pendeta BODOH!!!! Menerima diri berarti menerima bahwa dirinya menyukai orang lain yang sesama jenis dan ingin diperlakukan normal termasuk menikah dan membangun rumah tangga. Anda siap dengan itu, Bapak Pendeta?

Penutup

Bagian penutup merupakan bagian penting yang sangat perlu ditertawakan

LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kita yang mempersoalkannya. Kitalah yang memberinya stigma negatif.

Saya benar-benar menanti PGI mencabut Surat Pastoral ini. Sungguh!! Saya mengerti benar bagaimana perasaan Saudara Muslim yang malu ketika dirinya dianggap sama dengan FPI yang suka anarkis. Saya sungguh malu jika keputusan saya dianggap sama dengan pernyataan sikap PGI.


Notes:

Saya mendengar dari salah seorang teman bahwa beredarnya Surat Pernyataan Sikap merupakan sebuah “kecolongan”. Dengan tertawa saya bertanya “kecolongan seperti apa?”. Saya sungguh-sungguh berharap dia menjawab “kecolongan dalam hal keputusan, seharusnya tidak seperti itu. Ada oknum yang dengan sengaja mengubah isinya, dst”. Tapi ternyata tidak, kecolongan yang dimaksud adalah “seharusnya surat itu tidak tersebar di media sosial karena ditujukan untuk pemimpin gereja.

(Maafkan saya terpaksa kasar) HAI BODOH!!! Jika memang surat ini ditujukan untuk pemimpin gereja, bukankah ini lebih konyol lagi?? Apakah para pemimpin PGI menganggap bahwa pemimpin gereja demikian bodohnya? Dan terpikirkah oleh mereka perasaan jemaat ketika mengetahui pemimpinnya mendapat surat semacam itu? Kami, orang awam ini, merasa dipermalukan, dikhianati dan ditelikung oleh gembala kami sendiri.

Saya mengerti bahwa banyak gereja ber’kiblat’ ke Amerika dan mungkin ini adalah salah satunya. Bahwa banyak Hamba Tuhan menjadi Pendeta Humanis yang lebih condong kepada ‘Apa kata manusia’ daripada ‘Apa kata Tuhan’. Berdirinya bangunan mewah dengan lighting, sound system dan segala hal keren untuk memuaskan mata jemaat membuktikannya. Namun apakah berlebihan jika kami minta ke-humanis-an Anda berhenti pada gedung itu saja, jangan diperparah dengan pandangan humanis yang Anda masukkan ke gereja.

Ketika pemuka agama lain dengan berani menunjukkan sikap menentang tanpa peduli dianggap Homophobia atau anti-humanis, Yang Terhormat para Ketua PGI malah menunjukkan sebaliknya.

Saya angkat topi bagi para Hamba Tuhan yang langsung membuat surat pernyataan sikap terbuka yang menolak Surat Pernyataan Sikap Pastoral-nya PGI. Anda adalah pemimpin yang sangat bertanggungjawab!!

Dan bagi Anda, para pendeta yang belum membuat surat pernyataan, terutama yang namanya disebut dalam jajaran ketua dan pengurus PGI, bukankah itu hanya menunjukkan bahwa Anda menyetujui semua yang tertulis di sana?

Semoga Tuhan memberi kita semua hikmat Surgawi yang melampaui segala akal untuk mengartikan Firman Tuhan, mengaplikasikannya dan membagikannya.

Tuhan memberkati!

Apa Rasanya menjadi Tua


Apa rasanya menjadi tua
Ketika berjalan mendekati akhir hidup
Dan ketika setiap hari diisi dengan tanya
Hari inikah hari terakhir?

Apa rasanya menjadi tua
Ketika usia mendekati seabad
Melihat yang lain dipanggil pulang
Berpikir “kapan giliranku?”

Apa rasanya menjadi tua
Ketika tubuh tak lagi sanggup
Begitu lelah dan tak berdaya
Sanggupkah bertahan sehari lagi?

Apa rasanya menjadi tua
Ketika sekelilingmu melihat
Dengan penuh khawatir dan siaga
Bertanya-tanya, “apa yang kau rasakan?”

Apa rasanya menjadi tua
Ketika lutut terasa sakit,
Ketika mata menjadi buram,
Ketika pendengaran berkurang

Kematian memang bisa datang kapan saja
Pada yang muda dan yang tua
Tapi bagi yang tua,
Kematian adalah kepastian

Namun mungkin kita tak pernah tahu
Sebelum kita mengalaminya sendiri
Karena hidup memiliki caranya
Dan Tuhan menyimpan misteri-Nya

Ketika pertandingan hampir mencapai akhir
Sebuah pertandingan panjang yang melelahkan
Diisi dengan keringat dan kerja keras
Mencapai akhirnya adalah kemenangan besar

Ketika perjalanan hampir tiba di tujuan
Perjalanan yang begitu panjang
Dengan banyak pahit manis kehidupan
Mencapai tujuan adalah hadiah yang luar biasa

Ketika hidup hampir usai,
Menjadi tua adalah anugerah
Sebuah kemenangan akan segera diraih
Dan hadiah akan segera diperoleh

Ketika usia telah menjadi tua
Umur panjang adalah hadiah
Telah melihat banyak,
Telah mendengar banyak,
Telah mengalami banyak,
Telah memberkati banyak,
Telah berdampak banyak,
Telah mengasihi banyak,

Selamat jalan untuk kakek-nenek
Yang menghadap Tuhan di usia emas
Rindu melihat kecantikan dan ketampanan yang Tuhan telah siapkan

Sampai kita bertemu lagi…

Ditulis untuk mengenang kembaran dari nenekku terkasih… until we meet again

image

Agateophobia – Takut menjadi GILA


Dunia ini semakin maju… BENAR! Namun sayangnya ternyata kemajuan di bidang teknologi berbanding terbalik dengan moral. Saat teknologi semakin berkembang, moral manusia semakin merosot. Media sosial seolah memberikan ide-ide mengenai kegilaan, kebrutalan dan kesadisan sehingga makin lama kita melihat begitu banyak berita-berita yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Hal yang paling gila adalah ketika kita, manusia, terbiasa dengan kegilaan ini sehingga kita merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dunia di mana kita tinggal. Ketika intoleransi dianggap sebagai ‘memiliki prinsip’, ketika saling mencaci dianggap sebagai diskusi dan ketika perbuatan tidak hormat dianggap sebagai bentuk aktualisasi diri.

Beberapa orang yang “normal” mulai memiliki sebuah ketakutan tersendiri. Kita takut menjadi terbiasa dengan dan bahkan menjadi bagian dari kegilaan itu. Jika ketakutan ini ditarik sampai batas ekstrim dan tak wajar, maka ketakutan itu akan berubah menjadi phobia yang bernama “agateophobia”

Agateophobia adalah ketakutan akan kegilaan, atau takut menjadi gila. Phobia ini dapat menimbulkan serangan kepanikan sewaktu-waktu yang membuat akhirnya tercipta jarak antara penderita dan keluarga / teman-teman. Ironis bukan, ketakutan akan kegilaan dapat membuat seseorang menjadi gila sungguhan.

APA PENYEBABNYA?

Tahukah Anda bahwa setiap orang memiliki batas kesabaran dan ketahanan diri yang berbeda. Hal ini bisa disebabkan faktor traumatis masa lalu, atau faktor keturunan. Tidak heran jika kita melihat ada suatu keluarga yang memiliki banyak anggota dengan penyakit jiwa dan perlu direhabilitasi.

Sebuah peristiwa dapat dianggap sebagai ‘angin lalu’ oleh seseorang, tapi dapat menimbulkan trauma yang mendalam untuk orang lainnya (bahkan dapat menimbulkan kegilaan untuk orang lain).

Takut menjadi gila yang berlebihan (Agateophobia) mungkin disebabkan karena traumatis masa lalu, atau juga karena banyaknya sejarah penderita gangguan jiwa dalam keluarga. Sebenarnya, ini merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri (melindungi diri dari kegilaan).

BAGAIMANA MENANGANINYA?

Penyakit jiwa adalah ketika seseorang kehilangan kendali atas pikirannya dan phobia adalah ketika pikiran seseorang dikendalikan oleh ketakutan. Ketakutan yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas pikirannya (agak membingungkan, tapi semoga Anda mengerti maksud saya).

Ada beberapa cara menangani Agateophobia. Cara pertama yang paling tidak dianjurkan dokter adalah obat penenang. Cara berikutnya yang paling banyak dianjurkan adalah NLP (Neuro-linguistic programming), hipnoterapi, konseling dan psikoterapi.

Namun ada satu cara yang paling ampuh. Cara ini setidaknya manjur pada seorang Raja besar yang pernah menderita gangguan jiwa selama tujuh masa: Nebukadnezar. Cara itu adalah:

Mengakui bahwa Tuhan berdaulat SEPENUHNYA atas hidup kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas jiwa kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas pikiran kita.

Ketika Nebukadnezar mengakui ini, Tuhan mengembalikan seluruh ingatannya kepadanya dan dia tidak lagi pernah mengalami gangguan jiwa.

LALU BAGAIMANA DENGAN DUNIA YANG GILA ITU?

Masalahnya belum selesai bukan? Masih ada dunia gila di sekeliling kita yang terus bertambah gila. Lalu kita harus bagaimana agar tidak benar-benar menjadi GILA?

Caranya sama,

Akui bahwa Tuhan berdaulat SEPENUHNYA atas hidup kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas jiwa kita; bahwa DIA berdaulat SEPENUHNYA atas pikiran kita.

Dunia boleh menjadi gila, tapi ketika Tuhan berkuasa atas pikiran, jiwa, hati dan hidup kita,… maka kita berada di dalam tangan perlindungan-Nya yang luar biasa!

Si Kerdil yang Tidak Punya Rasa Malu


Baru-baru ini kita mendengar kisah memalukan dari para turis Tiongkok yang sedang mengunjungi Hong Kong. Entah karena tidak dapat menemukan toilet atau karena mereka takut berada ditoilet cubical (di Cina kebanyakan dalam satu ruang toilet terdapat banyak lubang pembuangan), mereka memutuskan untuk jongkok di sembarang tempat dan menyelesaikan urusannya.
image

Ini bukan hal yang baru, karena kita pun pernah mendengar kisah yang sama terjadi di Singapura. Di mana seorang wanita, tidak dapat menahan diri, membuka celananya dan membuang kotorannya di Bandara International Changi. Sebuah cerita yang lucu-lucu-jijik!
image

Saya pernah cerita, bahwa sepupu saya yang saat ini sedang belajar di Negeri Tiongkok mengatakan itu memang bukan hal yang aneh untuk orang Cina (saya pakai kata ‘Cina’ ini sajalah ya? Mudah-mudahan tak ada yang tersinggung, toh namanya memang China, kan?). 
image

Orang-orang Cina tak siap dengan kemajuan pesat yang melanda negara mereka. Di saat negara mereka sedang bertumbuh menjadi raksasa industri, mereka seolah baru terbangun dari tidur panjang di masa lalu. Mereka terkejut dengan kemajuan peradaban masa kini. Produk mereka boleh saja melanglang buana ke negara-negara Asia hingga Amerika, tapi pemerintah melupakan satu hal: derajat suatu bangsa ditentukan oleh manusianya.

Pemerintah Cina merasa sangat malu dengan ulah rakyatnya ini yang tidak berpikir panjang ketika jongkok dan menyelesaikan “urusan”nya di jalanan Hing Kong. Pemerintah yang malu itu kemudian membuat program toilet training (ya ampun Koh, kemana aja??). Didirikannya toilet di mana-mana dengan jumlah yang sama dengan teknologi yang lebih maju agar warganya terbiasa buang air di tempatnya dan tidak membuat malu lagi.
image

Ini hal yang positif dari pemerintah Cina saya rasa. Pemerintah yang cepat tanggap dan tidak buang-buang waktu untuk menanggulangi rasa malunya. Dalam bahasa manajemen, pemerintah yang segera mengambil tindakan corrective dan preventive sekaligus dalam menyelesaikan masalah.

Bagaimana dengan bangsa Indonesia? Saya rasa bangsa kita masih memiliki kadar malu yang sedikit lebih tinggi dari orang Cina, bukan? Mereka yang sanggup mendanai diri sendiri ke luar negeri tentu adalah orang yang cukup mampu, dan saya rasa orang-orang seperti itu tidak akan melakukan…yah, Anda tahu… jongkok dan…

Rasa malu memang penting. Walau rasa malu ini merupakan akibat dari dosa (Adam dan Hawa pertama kali merasa malu setelah kejatuhannya dalam dosa), namun sekarang ini rasa malu mengindikasikan bahwa kita adalah manusia beradab.

Anda mungkin berkata, tapi di Cina orang-orang tidak korupsi! ya, Pemerintah Cina dulu juga kewalahan dengan korupsi, mereka malu dan memberlakukan hukuman mati untuk siapa saja yang korupsi. 

Sekali lagi, bagaimana dengan Indonesia? Kita sudah menang dalam hal “rasa malu tidak buang kotoran sembarangan di muka umum”, apakah kita juga menang dalam hal “rasa malu tidak merugikan orang lain”?  

Apakah kita, bangsa Indonesia yang (ingin dikatakan) beradab ini memiliki rasa malu ketika membuang sampah sembarangan? Atau ketika membully orang yang lebih lemah? Atau ketika melanggar lampu lalu lintas? Atau ketika menyontek? Atau ketika korupsi?

Jika ternyata kita belum memiliki rasa malu, maka kita belum dapat dikatakan bangsa beradab…!

Negara Cina adalah raksasa yang sedang merasa malu…pemerintah mereka bertindak supaya di kemudian hari tidak lagi terulang hal-hal yang memalukan Cina di mata dunia… mulai dari membuat toilet hingga hukuman mati bagi koruptor.

Pemerintah kita sedang berusaha dengan Revolusi Mentalnya… apakah kita mau mendukung pemerintah dengan memulainya dari diri sendiri…?

Jangan sampai kita jadi si Kerdil yang Tidak Punya Rasa Malu!

Gereja Bintang Lima: Christian Entertainment


image

Wekernya berbunyi tepat pukul 4. Sepertinya sudah terlambat untuk Saat Teduh. Tidak!! Tidak ada waktu untuk bersaat teduh, lagipula bukankah apa yang akan dilakukannya untuk menyenangkan Tuhan? Seharusnya begitu! “Jadi sudahlah,” pikirnya, “Dia pasti mengerti”

Hal pertama yang akan dilakukannya pagi itu adalah menghias dirinya. Seorang make up artis telah siap untuk mendandaninya dan teman-temannya. Sebagai wanita, dia suka sekali didandani, mengenakan bulu mata palsu, riasan wajah, rambut dihias bak puteri, “Ah, aku akan menjadi cantik dan semua pasti iri melihatku!” pikirnya.

Continue reading

Tokoh Antagonis dalam Kehidupan


Dalam sinetron atau film laga, kamu tak dapat memilih peran. Sekali sutradara menetapkanmu sebagai peran antagonis, maka marah-marah atau kelicikan, atau kecurangan, atau kejahatan yang harus kau perankan sepanjang film.

Tapi dalam kehidupan nyata, kamu punya pilihan. Hidup ini bukan panggung sandiwara… kamu punya pilihan untuk menentukan peranmu dalam kehidupan.

Banyak orang berkata bahwa kehidupan sudah digariskan dan manusia tidak memiliki kesempatan untuk memilih. Itu tidak benar! Kelahiranmu memang digariskan, jenis kelaminmu digariskan, orang tuamu digariskan, tapi peranmu dalam dunia adalah pilihanmu. Continue reading