Ketuhanan Yang Maha Esa


Penghancuran rumah ibadah terjadi begitu sering di Indonesia. Saking seringnya sampai kita merasa terbiasa dan merasa bahwa itu biasa dilakukan mayoritas terhadap minoritas di daerahnya (tanpa melihat siapa mayoritas dan siapa minoritasnya).

Itulah hebatnya negeri ini… Isu mayoritas dan minoritas dalam hal agama menjadi isu panas yang normal.
Tiba-tiba saja saya berpikir, apakah ada yang salah dengan Pancasila kita, khususnya sila pertama. Atau kesalahan terletak pada pemahaman masyarakat terhadap ayat satu sila ini.

Tanpa melihat butir-butir Pancasila, kita mengartikan sila 1 “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai: bangsa ini mempercayai satu Tuhan. Namun jika memang begitu maknanya, maka pertanyaannya adalah, Tuhan yang mana?

Saya khawatir, orang-orang bodoh di luar sana yang merasa mayoritas, mengartikan sila pertama Pancasila ini sebagai “kamu harus percaya dan menyembah Tuhan yang sama dengan aku”.

Saya heran dengan motivasi orang-orang yang suka memaksakan agamanya pada orang lain. Ada dua kemungkinan motivasi orang seperti itu. Pertama iman mereka begitu besar sampai mereka ingin orang lain memeluk agamanya tapi bukankah orang beriman tak akan menggunakan cara kasar dan anarkis.

Kedua, mereka dijanjikan pahala begitu besar jika bisa membuat orang lain memeluk agamanya. Namun jika begitu,  bukankah artinya tuhan mereka mendidik mereka untuk egois. Jika tuhan mengajar umatnya untuk egois seperti itu, apakah ia memang benar Tuhan?

Sebenarnya butir-butir Pancasila mengatur hal ini dengan sangat baik. Sayangnya sekolah saat ini tidak memastikan anak didiknya mengetahui, mengerti dan memaknai butir-butir Pancasila ini. Dari 45 butir yang ada di sila 1, saya akan menuliskan di sini 7 butir yang seharusnya sangat mewakili moral dan attitude bangsa ini. Saya berharap siapa saja yang membaca ini dapat mulai mengerti dan memahami makna sila ke 1 Pancasila yang kita cintai.

1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Jadi, kalau saya simpulkan, arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila berarti, setiap agama mempercayai satu Tuhan. Lalu bagaimana dengan agama yang mempercayai adanya lebih dari satu Tuhan? Apakah artinya kita layak mencapnya bidat atau kafir atau sesat dan membakar tempat ibadahnya?

Bukankah urusan manusia-pencipta adalah urusan pribadi manusia?

Ahok: Antara Daniel dan Gembala


Tulisan saya kali ini mungkin agak membosankan bagi Anda yang tidak terlalu menyukai tulisan-tulisan serius dan rohani. Tapi sudah lama saya ingin menulis ini, dan saya akan berusaha menulisnya secara singkat dan tidak terlalu membosankan. Baik, mari kita mulai…

image

Ahok, yang memiliki nama panjang Basuki Tjahaja Purnama, mendadak disorot beberapa bulan belakangan. Dia adalah Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa yang berhasil merebut hati sebagian besar etnis di tanah air, tak terbatas golongan, ras atau agama tertentu.

Saya tak perlu membahas gaya berkomunikasinya yang blak-blakan dan spontan, kita semua mengetahuinya. Saya juga tak perlu membahas kiprahnya di dunia politik, Anda bisa langsung melihat buktinya di ibukota dan tulisannya di blog pribadinya.

Saya ingin membahas mengenai filosofi yang ia percayai… Bukan sekedar Tuhan yang ia sembah, tapi gaya hidup yang dia tunjukkan.

Ahok adalah manusia yang mengetahui tujuan hidupnya. Dalam salah satu kesaksiannya ia mengatakan sebuah kalimat yang menginspirasi dan sangat saya sukai:

Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang dianiaya. Sedangkan Justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang di rampok dan dianiaya.  Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Memang tak semua orang memiliki panggilan “Justice”. Kebanyakan Warga Negara Tionghoa atau yang beragama Kristen di Indonesia berpikir bahwa charity sudah cukup bagi mereka. Sebagian melakukannya agar tokonya tidak diganggu preman, sebagian agar dapat pahala, sebagian dengan tujuan ‘keagamaan’ tertentu. Jarang sekali yang melakukannya karena belas kasihan. Tapi sudahlah, tak salah memberi bagi yang membutuhkan, bukan?

Hanya sedikit saja orang Kristen seperti Ahok yang mampu mengenali panggilan untuk berpolitik. Bukan untuk urusan agama, tapi panggilan kemanusiaan, untuk keadilan.

Apa yang dilakukan Ahok mengingatkan saya pada seorang tokoh di Alkitab, minoritas yang menjadi pemimpin karena integritas dan rekam jejaknya. Tepat!! Dia adalah Daniel, warga jajahan yang memiliki spirit of excellent. Sikap hidup yang sempurna, standar kebenaran yang tinggi.

Apa yang terjadi pada Daniel? Ia dibenci rekan sejawatnya karena menjadi pejabat yang tidak bersedia korup dan mengikuti gaya kerja yang lain.

Apa yang terjadi pada Daniel? Ia hampir berakhir di gua singa, lolos dari mulut singa-singa lapar yang mendadak kenyang saat melihatnya.

Alkitab tak menjelaskan mengapa ia dibenci. Saya rasa menjadi kesayangan raja pun ada alasannya. Mengapa raja menyayangi Daniel? Atau,… Apakah ia dibenci karena ia adalah minoritas yang berhasil naik ke tingkat atas?

Mungkin ia dibenci karena sebagai minoritas ia lebih disukai banyak orang daripada rekan-rekannya…

Apa yang terjadi pada Daniel? Prinsip hidupnya membuat ia dikenal sebagai orang benar dan Tuhannya Daniel dikenal sebagai Tuhan yang benar.

Bagaimana dengan kita di tempat kerja? Apakah kita menghargai waktu dengan baik? Apakah kita tepat waktu saat datang di pagi hari dan saat setelah istirahat siang? Apakah kita menolak kompromi dengan kecurangan-kecurangan kecil? Apakah kita menolak menerima suap walau itu tiket ke luar negeri?

Apakah kita sudah bisa seperti Daniel? Jika tidak, jangan harap Anda mendapatkan kepercayaan lebih, dan jangan harap Anda menjadi iklan dari Tuhan yang Benar.

Hal kedua yang saya ingat dari gaya kepemimpinan Ahok adalah gaya gembala. Melalui program dan realisasinya, ia memberi rumput hijau dan air tenang, mengobati dan melindungi…

Saya bahkan berpikir gaya kepemimpinan ini yang jarang kita temui di gereja saat ini.

Penggembalaan tipe Ahok adalah membuka line telepon pribadi dan akunnya di media sosial untuk mendengar keluh kesan warganya dan memberi solusi yang tepat.

Bandingkan dengan banyak Pendeta yang menjadikan dirinya public figure di media sosial, menuai like sebanyak mungkin orang, namun hanya memposting fotonya jalan-jalan, eh… kunjungan kerja, eh…pelayanan ke luar negeri.

Bandingkan dengan banyak pendeta besar yang fokus pada dirinya sendiri, mimpi menjadi motivator tingkat dunia dengan hanya posting teori kalimat-kalimat bijak namun tak menggubris permintaan pertemanan atau sapaan jemaatnya, apalagi permohonan konsultasi atau minta didoakan.

Jadi kalau saya ditanya, kenapa Ahok disukai? Saya akan menjawab… Karena ia menerapkan prinsip kerja Daniel dan gaya kepemimpinan gembala.

Ngomong-ngomong, bagaimana prinsip kerja Anda? Jika Anda pemimpin, bagaimana gaya kepemimpinan Anda?

Nb: sebenarnya saya sudah lelah membahas segala sesuatu tentang Pendeta-pendeta itu,… Tapi ketika ada pembanding yang hebat, saya tergelitik untuk mengangkatnya lagi, hehe…

Ketika Karya mendahului Pembuatnya


Akhir tahun 2014 yang lalu, seorang teman lama menelepon saya dan mengatakan bahwa teman baiknya membutuhkan karya saya untuk albumnya. Dia katakan bahwa temannya tersebut kebetulan memainkan lagu saya di pernikahan adiknya, dan menyukai melody lagu tersebut. Selanjutnya tanggal 23 Desember saya menerima sebuah email dari temannya tersebut yang isinya sebagai berikut:

Dear Greissia
Greetings! My name is Yenn, a friend and brother of Christian Chandra.
Recently I was in Bandung attending the wedding of Sunty, brother of
Christian. During the wedding, I was asked to play on the violin a song
that you wrote, “Thank You Father and Mother.” I really liked the melody
and thought if I could add new Chinese lyrics to your melody and record
it on our ministry’s mandarin album for next year. Christian gave me
your email so that I can write this letter to you.

I belong to a ministry called New Heart. You can find more information
about our ministry at http://www.NewHeartMusic.org

Each year, we will produce a worship CD of original songs and lyrics
that we pray will become a blessing to the church. We are currently
working on a new Mandarin album for 2015. The recording will begin next
month. I am the producer of the CD and I realized that your melody is
very different from the more Chinese-oriented melodies that we had in
the past, and will love to include it in our album, with your permission
of course.

As we are a non-profit Christian organization that rely on donation from
brothers and sisters to operate (about 70% of our income is from
donation), we ask for your gracious permission to donate to our ministry
the right of the copyright of the song, together with the arrangement,
recording, and production rights for three years. We will definitely
list you as the composer on our CD and songbooks.

I have attached a standard form that we send to our composers. Please
let me know if you have any question.

Thanks so much.

In his Name
Yenn

Singkatnya, beliau meminta ijin saya untuk dapat menggunakan melodi lagu Terima Kasih untuk Cinta (atau yang biasa dikenal Terimakasih Papa dan Mama) untuk dapat digunakan dalam albumnya yang berbahasa Mandarin, dengan penyesuaian tema lagu dan bahasa.

Awalnya saya agak keberatan mengingat lagu tersebut akan diterjemahkan dalam bahasa Mandarin dengan arti yang jauh berbeda dengan aslinya. Maksud saya… saya pikir melody lagu Terima Kasih untuk Cinta sangat pas untuk sebuah lagu terimakasih bagi orang tua. Saya tidak dapat membayangkan jika makna dari lagu tersebut diubah menjadi sebuah lagu rohani. Bukannya tidak mungkin, namun saya masih berpikir bahwa sebuah lagu rohani seharusnya memang diawali dengan niat membuat lagu rohani, jika Anda paham maksud saya.

Namun ketika beliau mengatakan dalam email berikutnya bahwa lagu tersebut hanya dinyanyikan di USA, Taiwan, Singapura dan Malaysia dan saya melihatnya juga sebagai kesempatan untuk menyimpan karya di negara-negara yang jauh itu, maka akhirnya saya memberi mereka ijin dengan kondisi saya dapat menuliskan tentang kesempatan tersebut di sini.

Sebagian dari Anda tentu bertanya-tanya mengenai maksud saya.. Saya sangat mengenal bangsa ini dan walau mereka sering bangga dengan prestasi bangsanya di kancah internasional, namun mereka lebih mempercayai orang asing dibanding orang mereka sendiri. Maksud saya, jika suatu saat Anda mendengar lagu saya dinyanyikan dalam bahasa Mandarin (atau mungkin Inggris) dan dinyanyikan bukan oleh orang Indonesia, maka Anda akan berpikir bahwa saya adalah seorang plagiator yang menggunakan melody orang lain…

Saya sangat menghargai Dr. Yenn atas etika dan sopan santun yang luar biasa, dengan gaya tulisan yang sangat baik dan permohonan ijin yang jelas diberikan secara tertulis (berbeda dengan yang sering saya alami dengan produser-produser album rohani Indonesia….yang walau sama-sama minta “gratisan” namun cara dan gaya bahasa mereka membuat saya ilfil duluan).

Beliau memberikan update mengenai album tersebut dan memberi saya notasi serta teks lagu tersebut (setelah penyesuaian) yang sama sekali tidak saya mengerti.. (Namun kemudian saya meminta terjemahannya dalam bahasa Inggris dan beliau memberikannya)

(Anda bisa mengklik nya di –> Jesus I Thank You)

Akhirnya, 29 Mei 2015 saya menandatangani surat ijin penggunaan lagu tersebut, kontrak

dan baru saja minggu yang lalu teman lama yang saya ceritakan di awal artikel memberikan CD tersebut kepada saya.

Sangat puas dengan profesionalitas, dan hasil rekaman yang luar biasa. Saya menyukai enam belas lagu dalam album ini… dengan musik yang indah dan vokal yang menakjubkan…

Jika Anda seorang composer, Anda akan paham maksud saya… lebih memuaskan ketika karya Anda disandingkan dengan karya-karya indah lain (walau itu berarti karya Anda tidak menonjol di album itu) daripada jika karya Anda disandingkan dengan karya-karya lain yang tak indah (walau itu berarti karya Anda menonjol, dapat menjadi yang terbaik dalam album itu).

Enosiophobia: antara input, kritik dan cela


Saya dan adik saya suka bergosip, seperti umumnya wanita lain (atau mungkin lebih tepatnya berdiskusi, seperti umumnya saudara lain). Kali ini kami membicarakan sesuatu mengenai ‘benteng’. Bagaimana seseorang mungkin membangun benteng yang indah, tinggi dan tebal dalam dirinya, melindungi kesempitan pikiran yang ada di balik benteng itu.

Bagaimana seseorang yang membangun benteng itu sesungguhnya ingin menyembunyikan gubug reyot yang ada di balik benteng itu. Gubug reyot berisi kebebalan dan pikiran naif.

Anda bingung dengan isi gosip kami? Ya, seiring pertambahan usia kita jadi suka membicarakan sesuatu yang cukup berat, bukan? Setidaknya lebih berat dari masalah si anu patah hati atau si itu yang punya mobil baru.

Orang-orang pembangun benteng membutuhkan benteng-benteng itu agar orang lain tidak mengetahui betapa rapuhnya mereka. Mereka tidak ingin orang lain mengetahui betapa reyotnya bangunan yang ada di dalam.. Karena toh biasanya benteng yang tebal dan tinggi untuk melindungi rumah yang indah dan megah.

Para pembangun benteng takut orang lain menilai dirinya, apalagi mengkritiknya. Sebelum orang lain sempat menilai dirinya, mereka dengan sukacita menceritakan dirinya, biasanya lebih dari yang sebenarnya. Hiperbola adalah nama tengah mereka.

Para pembangun benteng begitu takut hingga mereka tak lagi bisa membedakan masukan, kritik, juga cela. Bagi mereka ketiganya sama saja. Sama-sama merupakan serangan; dan setiap serangan harus dilawan.

Apa Anda bisa membedakan masukan, kritik dan cela. Saya akan memberi contoh untuk membedakannya. Masukan adalah ketika seseorang yang peduli padamu memberitahumu bagaimana agar lebih baik, seperti teori baru mengupas kentang atau teknik bicara di depan umum yang lebih menarik.

Mungkin juga dia memberitahu jika ada sesuatu yang tidak pas seperti dasi yang miring atau akun media sosial yang dibajak.

Kritik adalah ketika seseorang yang peduli padamu mengoreksimu untuk sesuatu yang salah yang telah kau lakukan… Seperti jika kau bicara terlalu kasar atau terlalu cepat… Atau jika kau mengambil keputusan yang salah…

Cela adalah ketika seseorang tak menyukaimu, atau membencimu, atau   iri padamu menjadikan perbuatanmu sebagai alasan untuk membunuh karaktermu. Kebanyakan adalah perbuatanmu yang salah… Tapi mereka yang berniat mencelamu akan selalu memiliki alasan tak peduli apa perbuatanmu. Mereka sesungguhnya tak peduli pada perbuatanmu. Satu-satunya yang mereka pedulikan adalah bagaimana menjatuhkanmu.

Masih ingat si pembangun benteng? Mereka tidak suka ada yang menganggu teritorial mereka yang kecil dan reyot. Mereka menganggap bahwa masukan dan kritik sekecil apapun sebagai cela yang membahayakan. Karena itulah mereka membangun benteng dan memolesnya agar terlihat indah…

Mereka menutupi kebodohan dengan kata-kata nan indah dan mencegah kritik dengan mengatakan bahwa semuanya baik… Menutup telinga terhadap masukan… Dan menjadi pahit karena celaan…

Ada istilah khusus untul orang-orang seperti itu: Enosiophobia, yaitu ketakutan berlebihan akan kritik. Ketakutan ini begitu besar hingga mereka cenderung menghindari relasi yang dekat dengan orang lain yang lebih pintar atau pandai dari dirinya.

Ketakutan ini juga mencakup takut akan mendapat penilaian buruk dari orang lain sehingga ia mati-matian memoles diri, menjaga sikap, melatih kata-kata manis dan memakai topeng.

Ketakutan ini juga mencakup takut jika apa yang mereka lakukan akan menjadi fitnah… Oh ya!! Begitu sering bukan kita mendengar “mencegah fitnah” atau “bisi piomongeun” (takut diomongin orang)

Bukankah saya pernah menulis ini sebelumnya…? Orang-orang Enosiophobia memanggul keledai di pundak mereka karena kuatir penilaian buruk dari orang lain…

Ngomong-ngomong, apa penyebab Fobia ini?  Enosiophobia disebabkan karena beberapa faktor. Faktor paling banyak yang jadi penyebab adalah penolakan sejak anak-anak. Penolakan membuat seseorang takut melakukan kesalahan, dan takut melakukan kesalahan membuat seseorang rentan akan teguran dan kritik.

Faktor berikutnya adalah seringnya dibanding-bandingkan sejak kecil. Benteng dibuat agar tak ada yang tahu seperti apa dirinya sebenarnya… Agar tak ada yang dapat membandingkannya dengan siapapun.

Lalu bagaimana?

Jika Anda mengalami gejala penyakit sosial ini… Ada beberapa tips bagaimana Anda dapat mengobatinya…
1. Terima keadaan dirimu
2. Akui tiap kelalaian atau kesalahan
3. Terima dan hargailah masukan.
4. Pertimbangkan kritik
5. Abaikan celaan
6. Mulailah mengembangkan diri

Bukankah…
“kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak?” Amsal 24:6

Jadi tunggu apalagi… Hancurkan dinding itu, perbaiki bagian dalamnya…

Hanya oleh Percaya


Here one song from the Witnesses… Hope you like it… For more info, please send your mail to contact@greissia.com

Hanya oleh Percaya.m4a by greissia, voc: Yedida Dina #np on #SoundCloud
https://soundcloud.com/greissia/yedida-dina-hanya-oleh

Ketika Kau dihukum Mati


image

Ketika kau dihukum mati,
Ada orangtua yang berduka,
Ada kekasih yang patah hati,
Ada teman-teman yang kehilangan

Ketika kau dihukum mati,
Ada harapan bahwa kau akan lebih baik
…dalam kehidupan selanjutnya
Setidaknya Tuhan berbelas kasihan

Ketika kau dihukum mati,
Ada penyesalan mendalam…
…dari orangtua yang menangis
Kalau saja dulu mereka lebih peduli,
Kalau saja dulu mereka lebih tegas,
Kalau saja dulu…

Ketika kau dihukum mati,
Ada penyesalan mendalam…
…dari kekasih yang bersedih
Kalau saja mereka tahu,
Kalau saja ada yang dapat dilakukan,
Kalau saja…

Ketika semuanya selesai,
Ketika hidupmu berakhir,
Kehidupan mereka yang kau kasihi terus berjalan
Disertai harapan…
Semoga saja kematianmu tak sia-sia

Mudah-mudahan saja…
Kematianmu dijadikan pelajaran
Bahwa hidup ini berharga,
Terlalu berharga untuk disia-siakan…
Bahwa setiap orang berharga,
Terlalu berharga untuk menyakiti sesama…

Bahwa anak-anak mereka berharga,
Terlalu berharga untuk diabaikan…
Dan kekasih mereka berharga,
Terlalu berharga untuk disakiti…

Nasi sudah menjadi bubur,
Palu hakim telah diketuk,
Senapan telah dibidik…

Ketika kau dihukum mati….
Ah, semoga saja kau beristirahat dalam damai, Saudaraku
Terkadang, kematian satu atau beberapa orang…
…diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan

Semoga Tuhan menyelamatkan jiwamu…
Ketika hukum tak dapat memberimu pengampunan…

Bandung, 29 April 2015
Pk. 01.25, satu jam setelah eksekusi mati…

Ketika Penyesalan berakhir Maut


Minggu lalu kita baru memperingati Jumat Agung dan merayakan Paskah. Dalam kejadian kematian Kristus, ada suatu peristiwa yang tidak terlalu disukai. Suatu peristiwa horor di antara peristiwa agung yang terjadi di hari Jumat itu. Suatu peristiwa yang bahkan banyak guru sekolah minggu tidak terlalu menyukainya.

Peristiwa itu tercatat hanya satu kali dalam Injil Matius 27:3 – 10. Benar sekali! Kisah bunuh diri… Dilakukan oleh seorang murid yang menyesal karena telah mengkhianati gurunya.

Yudas, seorang yang dipercaya menjadi bendahara, membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh Iblis… Demi 30 keping perak menyerahkan gurunya kepada orang-orang yang membenci-Nya.
image

Ada begitu banyak perdebatan mengenai Yudas. Beberapa beranggapan bahwa Yudas hanya alat dari rencana Tuhan. Bahwa karena Yudas maka rencana pengorbanan Kristus dapat terlaksana. Itulah mengapa muncul Injil Yudas. Sebuah Injil yang menganggap Yudas adalah semacam nabi yang menjadi pelaksana rencana Tuhan.

Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai ‘apa yang terjadi dengan Yudas’. Jika kita mendengar Yudas, apa yang kita rasakan? Simpatik? Kasihan? Kesal, atau benci?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Yudas?

Pertama, kita tahu bahwa Yudas adalah seorang bendahara kelompok. Saya bayangkan dalam kelompok 13 ini, Yudaslah yang mengeluarkan uang ketika mereka selesai makan. Yudaslah yang akan dipanggil oleh Guru ketika mereka harus mengeluarkan atau menerima uang (Yoh 13:29)

Yudas pertama menarik perhatian kita ketika ia mengomentari seorang wanita yang memberikan parfum mahalnya untuk Yesus, “untuk apa pemborosan ini? Bukankah lebih baik jika parfum itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”

Yudas adalah tipe yang lebih mementingkan pekerjaan daripada si pemberi pekerjaan.

Pernahkah Anda menjadi seperti Yudas? Ketika seseorang memberi untuk Tuhan kita menganggapnya “untuk apa semua itu”. Atau pernahkah kita mati-matian bekerja tanpa mempedulikan keinginan Dia, yang memberikan pekerjaan.

Jika kita pernah melakukannya, hati-hati… Mungkin kita sedang terserang gejala awal seperti Yudas.

Kedua, Yudas dikenal sebagai Yudas Iskariot. Beberapa ahli berpendapat bahwa golongan Iskariot adalah golongan yang berniat memberontak kepada Romawi. Mereka muak dengan penjajahan Romawi dan Yudas mungkin berharap Yesus akan datang sebagai kepala rombongan pemberontak.

Namun penantian Yudas rupanya tanpa hasil. Bukannya menghasut rakyat untuk melawan, Dia malah mengajar untuk mengasihi. Bukannya memerintahkan untuk membenci Romawi, Dia malah mengajar untuk mendoakan musuh.

Orang-orang seperti Yudas adalah mereka yang mengharapkan Tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara mereka, bukan cara Tuhan. Orang-orang yang seolah memiliki idealis sendiri dan merasa bahwa idealis itulah yang paling benar.

Pernahkah kita berbuat seperti ini? Ketika kita merasa bahwa apa yang kita rencanakan adalah sempurna, bahkan melebihi rencana Tuhan. Kemudian kita mulai marah ketika ternyata rencana Tuhan berbeda dengan rencana kita. Kita merasa “saya sudah capek-capek kok hasilnya begini”, dan akhirnya kita keluar sebagai orang yang lelah.

Jika Anda pernah merasakan itu, hati-hati… Mungkin Anda terserang gejala Yudas juga.

Ketiga,… Saya ingin mengajak Anda membaca:

Lukas 22:3-6 Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.

Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.

Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.

Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

Di bagian lain ditulis seperti ini:

Yohanes 13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Ketiga, Yudas membiarkan dirinya digerakkan oleh Iblis. Dari sekian banyak murid Kristus, Iblis memilih untuk membisiki hati Yudas, dan… Yudas merespon pada bisikan ini.

Pertanyaan mendasar adalah, kenapa Yudas?

Saya pikir Iblis tidak asal pilih. Bukankah Iblis seperti singa yang berkeliling mencari orang yang dapat ditelannya? (I Petrus 5:8). Iblis melihat dari 12 murid yang ada, Yudas adalah sasaran empuk yang dapat ditelan. Mengapa?
Sederhana! Karena ia memiliki keraguan kepada Tuhan.

Seseorang dengan mudah dipengaruhi Iblis ketika imannya goyah. Itulah sebabnya iman begitu penting bagi anak-anak Tuhan.

Setiap kita mungkin pernah mengalami goyah iman, seperti Yudas. Ketika kita meragukan Tuhan, makin besar peluang kita mengikuti bisikan Iblis. Harap dicatat, saya tidak mengatakan dibisiki Iblis, tapi mengikuti bisikan Iblis.

Mungkin saja Iblis salah sasaran, berbisik sekedar untuk mencobai. Pada titik ini, setiap kita memiliki pilihan… Untuk mengikuti bisikan Iblis, atau untuk mengusirnya. Yudas mengikuti teladan Hawa, mengikuti bisikan Iblis.

Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih penting, keraguan pada Tuhan dan kekecewaan karena harapannya tidak dipenuhi merupakan modal yang cukup bagi Yudas untuk merespon bisikan Iblis dan menyerahkan Yesus dengan 30 keping perak.
image

Menurut Anda, jika Yudas menolak bisikan Iblis, akankah Yesus tetap disalibkan? Dengan sangat yakin saya akan menjawab YA! Tapi mungkin Yudas dapat menyelamatkan dirinya.

Namun, anggaplah Yudas sudah terlanjur dan dia tidak dapat mundur. Apa dia masih memiliki kesempatan?

Kita masuk pada poin berikutnya. Ketika Yudas melihat bahwa Gurunya disiksa sedemikian rupa sampai mati, ia menyesal.

Kita pasti sering mendengar kalimat “penyesalan datang belakangan” dan “tidak ada gunanya menyesal.” Benar, penyesalan datang belakangan, tapi bukan berarti bahwa menyesal itu tidak ada gunanya. Penyesalan memang tidak akan mengubah keadaan yang sudah lewat, tapi mungkin menentukan keadaan berikutnya.

Petrus menyesal setelah ia menyangkali Yesus. Namun dia melakukan hal yang benar: dia menangis dengan sedihnya (Matius 26:75). Menangis adalah pertolongan pertama bagi penyesalan. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk mengambil nafas sebelum keputusan berikutnya. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk tidak gelap mata.

Setelah menangis, Petrus menanti… Dia menunggu… Sampai sebuah kabar menggetarkan hatinya “beritahukan pada murid-murid, dan juga kepada Petrus…Ia mendahului kami ke Galilea”

Petrus bertahan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dia, yang berhak mengampuni dosa. Akibatnya? Tuhan memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya dan dia mengakhiri hidupnya dengan gemilang sebagai rasul yang luar biasa.

Yudas menyesal ketika melihat Yesus mati, dan dia memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri. Sama seperti dia menganggap bahwa rencananya lebih baik dari rencana Tuhan… Demikian dia merasa bahwa caranya menyelesaikan penyesalan lebih baik dari cara Tuhan menyelesaikannya.

Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali akan mengampuninya. Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai “berdoa dan mengasihi mereka yang menganiaya kamu” akan mengasihinya.
Dan dia memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri menyelesaikan masalahnya: mengembalikan pembayarannya dan gantung diri…
image

Petrus dan Yudas, keduanya sama-sama menyesal, namun yang satu mengakhiri penyesalannya dengan berbalik kepada Tuhan dan menyerahkannya pada kedaulatan Tuhan, yang lain mengakhiri penyesalannya dengan caranya sendiri.

Saudara, kita mungkin pernah melakukan apa yang Yudas lakukan. Kita melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali dengan luar biasa. Ingatlah satu hal, penyesalan mungkin datang belakangan, namun jika direspon dengan tepat maka kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit lagi dan memulainya dari awal.

Tidak Sia-sia


Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin hanya akan ada kubur
Serta beberapa pelayat
Yang berziarah tiap tahun

Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin hanya ada keraguan
Apakah yang dikatakan-Nya adalah kiasan
Atau sekedar omong besar

Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin Dia hanya akan dikenang
Sebagai nabi yang mati
Dihukum tanpa kesalahan
Mengaku diriNya Tuhan tanpa bukti

Jika saja Dia tidak bangkit,
Tak perlu kita mempercayai-Nya
Karena seluruh perkataan-Nya pasti dusta
Karena seluruh janji-Nya pasti palsu

Jika saja Dia tidak bangkit
Tentu kita masih meratap
Menanti lahirnya Juruselamat
Seperti dijanjikan oleh Sang Kuasa

Jika saja Dia tidak bangkit
Maka kita masih terikat dalam dosa
Berusaha membebaskan diri tanpa hasil
Terbelenggu…
Terjajah…
Sia-sia

Tapi yang benar adalah…
Dia telah bangkit
Membuktikan bahwa Tuhan berkuasa atas kematian
Membuktikan bahwa Dia mengalahkan maut
Membuktikan bahwa Dia tak berdusta
Membuktikan bahwa Dia layak menerima kepercayaan sepenuhnya
Membuktikan bahwa Dia berkuasa
Membuktikan bahwa kita dapat mengikuti Dia
…yang dibangkitkan dari antara orang mati
Membuktikan bahwa iman kita tidak sia-sia

Selamat Paskah!
Karena dengan kematian Kristus
Kita semua terbebas dari maut
Dan dengan kebangkitan-Nya
Kita memiliki pengharapan untuk hidup kekal

Dari I Korintus 15:14,20

Manusia yang menjadi anjing dan robot yang menjadi manusia


Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis resume film Unleashed (Danny the Dog) yang saya tonton di TV beberapa minggu yang lalu, namun waktu dan kesibukan yang padat membuat saya terus menerus menundanya. Ketika sekarang saya ingin menuliskannya, beberapa bagian pastinya sudah lepas dari ingatan saya.

Hal yang menggelitik saya menuliskan ini hari ini asalah ketika kemarin saya menonton Solo, sebuah film yang dibuat tahun 1996. Secara jalan cerita ‘Solo’ tentunya jauh berbeda dengan Danny the Dog. Namun inti dari kedua film ini begitu berkaitan dan bertolak belakang.

image

Danny the Dog atau Unleashed berkisah tentang Danny (diperankan oleh Jet Lee), seorang pemuda yang dibesarkan seperti seekor anjing oleh Bos Mafia. Kamarnya adalah kandang yang atapnya sejajar dengan lantai tempat Bos berpijak.

Danny tidak memiliki pilihan lain dalam hidupnya sejak ibunya dibunuh. Ia dibuat lupa dengan kejadian pembunuhan ibunya, dan dijadikan senjata tuannya, si Bos Mafia. Danny dipasangi kalung seperti anjing dan akan menjadi penyerang berbahaya ketika kalung itu dilepas oleh Sang Bos dan diberi perintah menyerang, namun sangat jinak ketika kalung itu tetap terpasang.

Danny adalah manusia yang dimatikan emosinya, artinya Sang Bos ingin Danny tidak memiliki belas kasihan, tidak mengerti arti sedih, marah, atau bahagia dan tidak memiliki keinginan apapun.

Masalah utama dimulai ketika sebuah kecelakaan membuat Danny merasa Bosnya meninggal dan dia bebas. Seorang ahli tuning piano membantunya. Ia dan anak tirinya perlahan-lahan memberi arti ‘menjadi manusia’ pada Danny. Danny belajar bermain piano, belajar tentang arti  menolong orang, makan es krim, belajar tentang sehingga akhirnya mau melepas kalung anjing yang ada di lehernya.

Ketika ia akhirnya bertemu lagi dengan Bosnya yang ternyata masih hidup, ia dapat membuat keputusan manusiawi, seperti tidak mau membunuh dan menyerang orang lain dan memiliki keinginan untuk mencari jati dirinya.

Anda bisa melihat review film yang saya beri acungan 4 jempol ini di internet atau mencari DVD nya untuk ditonton.

Inti dari film ini adalah manusia jika emosinya tidak dipelihara, maka dia akan menjadi sama dengan binatang… Emosi berkaitan dengan jiwa dan akal budi. Itu sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi Dia dengan segenap jiwa, kekuatan dan akal budi… Karena manusia memang diperlengkapi dengan semua itu.

image

Bandingkan dengan Solo, dalam film Solo yang dirilis tahun 1996. Seorang senjata menyerupai manusia yang dapat menyimpan memori. Ia tidak memiliki memori dan bertindak berdasarkan perintah komputer, namun memorinya yang luar biasa memungkinkan ia berkomunikasi dengan manusia seperti halnya manusia normal.

Ia merupakan senjata dengan kekuatan 15 kali kekuatan manusia terlatih dan kecepatan 10 kali kekuatan manusia terlatih. Hanya melakukan apa yanh diperintahkan, dan tidak memiliki belas kasihan…

Hingga suatu saat dia tidak melakukan apa yang diperintahkan, membunuh orang-orang tak bersenjata. Tidak hanya itu, Solo malah melindungi mereka.

Solo tidak memiliki belas kasihan, namun memori yang pernah ia tangkap mengenai menyerang warga sipil dan orang tak bersenjata membuatnya melakukan hal itu.

Hal ini membuat pemiliknya, angkatan bersenjata US merasa bahwa ada kerusakan dalak program Solo. Jadi ia memerintahkan programmer dan pencipta Solo untuk menghapus memorinya, meresetnya kembali ke kondisi awal saat ia diciptakan.

Solo yang mengetahui hal ini memberi perintah pada dirinya sendiri untuk mempertahankan diri, karena ia merasa bahwa memory adalah hal yang sangat penting baginya.

Solo melarikan diri dan ditemukan oleh seorang anak di salah satu perkampungan yang seringkali diserang pemberontak, kemudian membantu mereka mempertahankan diri.

Anda juga dapat membaca reviewnya di internet atau membeli DVDnya. Satu hal yang saya sukai adalah ketika Solo berkata pada seorang wanita kampung setempat bahwa ia tidak memiliki emosi, itu yang membuatnya hanya sekedar ‘ada’, tapi tidak hidup.

Emosi mencakup keinginan, kehendak dan belas kasihan. Bagi saya, Solo lebih hidup dari manusia saat ini karena memorinya dapat membuat ia menunjukkan kebaikan walau tanpa belas kasihan, perjuangan walau tanpa kehendak.

Kejadian begal motor dengan pembunuhan membuat kita berpikir ulang tentang definisi manusia, seolah ada spesies lain menyerupai manusia yang tak memiliki emosi dan akal budi. Spesiea yang bahkan lebih rendah dari hewan mamalia yang tak akan menyakiti sesamanya tanpa sebab.

Saudara yang kebetulan membaca tulisan saya sampai akhir, mari kita hargai hal terpenting yang Tuhan berikan pada kita… Emosi dan akal budi… Mari berbelas kasihan, mari berpikir sebelum bertindak, mari saling mengasihi… Karena tanpa itu, kita lebih rendah dari anjing.

I am 33 and feel “nothing”


Greissia's avatarGreissia Personal Diary

Beberapa orang sekedar mampir dalam kehidupan…
Hadir dalam kelahiran
Pulang dalam kematian
Menjalani antaranya tanpa keyakinan
Seolah hidup mengikuti aliran air

Beberapa orang menyesali kehidupan…
Hadir dalam kelahiran
Melarikan diri dalam kematian
Menjalani antaranya dengan berat hati
Seolah hidup adalah hukuman Sang Pencipta

Mereka pikir hidup ini tak adil
Kejam karena menjadikan mereka mangsa
Tragis karena menjadikan mereka korban
Lelah dengan masalah bertubi-tubi

Beberapa orang menghamburkan kehidupan
Hadir dalam kelahiran
Tak menyadari kematian akan menjemput
Menjalani antaranya dengan kesenangan
Tanpa makna…

Mereka pikir hidup hanya sekali
Patut diisi kesenangan dan kebahagiaan
Namun makin mereka berusaha
Kebahagiaan lari menjauh

Beberapa orang membenci kehidupan
Hadir dalam kelahiran
Menantikan kematian
Menjalani antaranya dengan terpaksa
Seolah hidup hanyalah rangkaian ujian

Mereka pikir hidup adalah hukuman
Mereka berbuat baik karena terpaksa
Menghindari neraka tak berujung
Namun makin mereka berusaha
Makin putus asa mereka jadinya

Beberapa orang memaknai kehidupan
Hadir dalam kelahiran
Bersiap dengan kematian
Menapakkan…

View original post 148 more words