Menjual Integritas


Kemarin, berita dihebohkan dengan seorang mentri sosial yang menerima dana suap bansos 17 Miliar Rupiah. Beliau yang dulu berkata bahwa mental korupsi itu bobrok, kita terpaksa mengakui bahwa mentalnya juga sama bobroknya dengan mereka yang korupsi.

Di tengah-tengah pemberitaan itu, seorang komedian menulis di twitnya seperti ini

Twit ini langsung dikecam, karena terkesan merasionalisasi sebuah kesalahan.

Tadi, anak asuh membuka percakapan mengenai hal ini, “Ka Greis tahu twit Imam Darto? Menurut Ka Greis gimana?” Selanjutnya dia berkata bahwa twit itu ada benarnya juga. Seseorang yang ditawari miliaran rupiah bisa saja tergoda.

Saya menjawab, “Sebenarnya,itu tergantung dari berapa harga integritas yang kau miliki. Jangankan 17 Miliar. Jika integritasmu begitu murah, ditawari 100 ribu pun akan kau jual.”

Kekayaan manusia memang dinilai dari berapa banyak uang yang ia miliki, tapi harga diri manusia dinilai dari integritas yang dimilikinya. Jika manusia menjual integritasnya demi uang,mungkin seumur hidup ia akan sulit mendapatkannya kembali. Jika manusia melihat integritasnya tak ternilai, berapa pun uang yang ditawarkan, dia akan merasa terhina dan tak akan menjual integritasnya.

Ahok: Antara Daniel dan Gembala


Tulisan saya kali ini mungkin agak membosankan bagi Anda yang tidak terlalu menyukai tulisan-tulisan serius dan rohani. Tapi sudah lama saya ingin menulis ini, dan saya akan berusaha menulisnya secara singkat dan tidak terlalu membosankan. Baik, mari kita mulai…

image

Ahok, yang memiliki nama panjang Basuki Tjahaja Purnama, mendadak disorot beberapa bulan belakangan. Dia adalah Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa yang berhasil merebut hati sebagian besar etnis di tanah air, tak terbatas golongan, ras atau agama tertentu.

Saya tak perlu membahas gaya berkomunikasinya yang blak-blakan dan spontan, kita semua mengetahuinya. Saya juga tak perlu membahas kiprahnya di dunia politik, Anda bisa langsung melihat buktinya di ibukota dan tulisannya di blog pribadinya.

Saya ingin membahas mengenai filosofi yang ia percayai… Bukan sekedar Tuhan yang ia sembah, tapi gaya hidup yang dia tunjukkan.

Ahok adalah manusia yang mengetahui tujuan hidupnya. Dalam salah satu kesaksiannya ia mengatakan sebuah kalimat yang menginspirasi dan sangat saya sukai:

Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang dianiaya. Sedangkan Justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang di rampok dan dianiaya.  Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Memang tak semua orang memiliki panggilan “Justice”. Kebanyakan Warga Negara Tionghoa atau yang beragama Kristen di Indonesia berpikir bahwa charity sudah cukup bagi mereka. Sebagian melakukannya agar tokonya tidak diganggu preman, sebagian agar dapat pahala, sebagian dengan tujuan ‘keagamaan’ tertentu. Jarang sekali yang melakukannya karena belas kasihan. Tapi sudahlah, tak salah memberi bagi yang membutuhkan, bukan?

Hanya sedikit saja orang Kristen seperti Ahok yang mampu mengenali panggilan untuk berpolitik. Bukan untuk urusan agama, tapi panggilan kemanusiaan, untuk keadilan.

Apa yang dilakukan Ahok mengingatkan saya pada seorang tokoh di Alkitab, minoritas yang menjadi pemimpin karena integritas dan rekam jejaknya. Tepat!! Dia adalah Daniel, warga jajahan yang memiliki spirit of excellent. Sikap hidup yang sempurna, standar kebenaran yang tinggi.

Apa yang terjadi pada Daniel? Ia dibenci rekan sejawatnya karena menjadi pejabat yang tidak bersedia korup dan mengikuti gaya kerja yang lain.

Apa yang terjadi pada Daniel? Ia hampir berakhir di gua singa, lolos dari mulut singa-singa lapar yang mendadak kenyang saat melihatnya.

Alkitab tak menjelaskan mengapa ia dibenci. Saya rasa menjadi kesayangan raja pun ada alasannya. Mengapa raja menyayangi Daniel? Atau,… Apakah ia dibenci karena ia adalah minoritas yang berhasil naik ke tingkat atas?

Mungkin ia dibenci karena sebagai minoritas ia lebih disukai banyak orang daripada rekan-rekannya…

Apa yang terjadi pada Daniel? Prinsip hidupnya membuat ia dikenal sebagai orang benar dan Tuhannya Daniel dikenal sebagai Tuhan yang benar.

Bagaimana dengan kita di tempat kerja? Apakah kita menghargai waktu dengan baik? Apakah kita tepat waktu saat datang di pagi hari dan saat setelah istirahat siang? Apakah kita menolak kompromi dengan kecurangan-kecurangan kecil? Apakah kita menolak menerima suap walau itu tiket ke luar negeri?

Apakah kita sudah bisa seperti Daniel? Jika tidak, jangan harap Anda mendapatkan kepercayaan lebih, dan jangan harap Anda menjadi iklan dari Tuhan yang Benar.

Hal kedua yang saya ingat dari gaya kepemimpinan Ahok adalah gaya gembala. Melalui program dan realisasinya, ia memberi rumput hijau dan air tenang, mengobati dan melindungi…

Saya bahkan berpikir gaya kepemimpinan ini yang jarang kita temui di gereja saat ini.

Penggembalaan tipe Ahok adalah membuka line telepon pribadi dan akunnya di media sosial untuk mendengar keluh kesan warganya dan memberi solusi yang tepat.

Bandingkan dengan banyak Pendeta yang menjadikan dirinya public figure di media sosial, menuai like sebanyak mungkin orang, namun hanya memposting fotonya jalan-jalan, eh… kunjungan kerja, eh…pelayanan ke luar negeri.

Bandingkan dengan banyak pendeta besar yang fokus pada dirinya sendiri, mimpi menjadi motivator tingkat dunia dengan hanya posting teori kalimat-kalimat bijak namun tak menggubris permintaan pertemanan atau sapaan jemaatnya, apalagi permohonan konsultasi atau minta didoakan.

Jadi kalau saya ditanya, kenapa Ahok disukai? Saya akan menjawab… Karena ia menerapkan prinsip kerja Daniel dan gaya kepemimpinan gembala.

Ngomong-ngomong, bagaimana prinsip kerja Anda? Jika Anda pemimpin, bagaimana gaya kepemimpinan Anda?

Nb: sebenarnya saya sudah lelah membahas segala sesuatu tentang Pendeta-pendeta itu,… Tapi ketika ada pembanding yang hebat, saya tergelitik untuk mengangkatnya lagi, hehe…

Petunjuk Menemukan Barang yang Hilang


Pertanyaan klasik yang banyak menjadi bahan dilematis adalah “Salahkah mengambil barang orang yang tertinggal?”

Beberapa orang menganggap bahwa jika suatu barang tertinggal, maka artinya sudah bukan lagi milik orang yang meninggalkannya. Beberapa kalimat penghapus dosa adalah “yang menemukan berarti memiliki” atau “salah sendiri kok bisa sampai ketinggalan” atau “saya kan ga mencuri, cuma menemukan”

Beberapa orang justru menganggap bahwa menemukan barang yang tertinggal adalah suatu berkat, sama seperti menemukan harta karun yang sudah berusia 100 tahun dan kepemilikannya sudah tidak dapat ditelusuri lagi.

Bagaimana menurut pandangan Saudara? Apakah salah jika kita mengambil barang orang yang tertinggal? Apakah menemukan barang yang tertinggal adalah suatu berkat seperti mendapat keuntungan di siang hari bolong?

Buat Saudara yang menduga-duga, apakah dosa mengambil barang yang tertinggal… Atau apakah mengambil barang yang tertinggal sama dengan mencuri, saya membawa suatu kabar baik… Saudara tidak perlu lagi berada dalam ketidakpastian karena ternyata Alkitab memberi kita petunjuk bagaimana jika kita menemukan barang yang tertinggal.

Ulangan 22:1-3  “Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu.

Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya.

Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu.

Saudara mungkin berkata, “ah… Itukan mahluk hidup”… Alkitab kita itu hebat… Dia menggunakan kasus yang sesuai dengan kondisi saat itu, namun inti dan pesan yang ingin disampaikannya tetap sama.

Jaman dahulu, harta kekayaan seseorang dilihat dari jumlah ternak yang mereka miliki… Abraham dikatakan kaya karena memiliki banyak ternak. Yakub berusaha mengambil hati Esau dengan ternak, dsb.

Hal pertama yang akan kita definisikan adalah “ternak dan barang” saudaramu. Saat ini mungkin kita dapat mendefinisikannya sebagai gadget, atau dompet. Ayat di atas berkata “keledai, pakaian dan SETIAP barang yang hilang”. Artinya tidak ada batasan dalam apa yang dimaksud dengan “barang” saudaramu.

Hal kedua yang akan kita definisikan adalah istilah “saudaramu”. Sebagian dari Anda mungkin berkata “iya, kalau punya Saudara sendiri sih saya balikin, kalau ga kenal orangnya sih diambil ga apa-apa”

Ternyata ada kondisi seperti ini pada ayat di atas:

Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya…

“Saudara” yang dimaksud dalam ayat di atas adalah sesama kita manusia, tak peduli apakah tinggalnya jauh atau dekat, tak peduli Anda mengenalnya atau tidak.

Oke, jadi kita sudah mendefinisikan dua hal penting, dan kesimpulan sementara adalah sebagai berikut: Jika Anda menemukan barang milik siapapun yang hilang atau tertinggal…

Sekarang kita lanjutkan ke pembahasan selanjutnya… Apa yang seharusnya dilakukan dengan barang hilang itu. Ayat di atas sudah memberikan aturan dan Standar Operasional Prosedur yang sangat baik:

1. Jangan pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak tahu bisa berarti pura-pura tidak lihat atau pura-pura tidak tahu bahwa itu milik orang lain.

2. Apakah Anda melihat sendiri orang itu menjatuhkan atau meninggalkan barangnya secara tidak sengaja? Jika ya, segera kembalikan pada orang tersebut. Jika tidak, lanjutkan ke langkah 4.

3. Apakah Anda tahu barang milik siapa yang Anda temukan? Atau apakah di barang tersebut ada identitas pemiliknya? Jika ya, segera kembalikan pada orang tersebut. Jika tidak, lanjutkan pada langkah berikutnya.

4. Jika jawaban untuk no 2 dan 3 adalah tidak, simpan dulu barang tersebut, tunggu sampai orang itu mencarinya.

A. Supaya orang itu tahu data Anda, di jaman sekarang, Anda dapat meninggalkan alamat atau pin BB atau bagaimanapun caranya Anda dapat dihubungi

B. Jika barang tersebut adalah handphone, tablet atau sejenisnya… Anda harus mengangkat telephone yang masuk. Hal paling tabu yang tidak boleh Anda lakukan adalah mematikan gadget atau mengganti kartu SIM.
Intinya, Anda HARUS memastikan bahwa Anda dapat dihubungi

5.  Simpan barangnya pada Anda, jangan digunakan atau dimiliki.

6. Kembalikan kepada orang itu tanpa mengharapkan imbalan.

Jadi sekarang kesimpulannya adalah “jika Anda menemukan barang milik siapapun yang hilang atau tertinggal, Anda harus berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikannya”

Sebagian dari Anda mungkin ada juga yang berkata, “ah, itu kan taurat”. Benar sekali… Dan Yesus sudah melengkapinya dengan

Lukas 6:31  Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Anda ingin barang-barang Anda yang tidak sengaja Anda hilangkan kembali pada Anda? Perbuatlah begitu juga pada barang-barang orang lain yang Anda temukan.

Ketika Satu Orang Mengubah Negeri


Nak, aku pernah mengatakan…
Jadilah orang yang berdampak
Jadilah orang yang berpengaruh
Jadilah orang yang diperhitungkan

Untuk membawa kebaikan
Untuk membawa perubahan
Untuk membawa perbaikan

Lihatlah negara ini
Setelah bertahun-tahun
Masyarakat skeptis dan apatis pada pemerintah Continue reading