Manusia vs Gorilla


Saya sering menanyakan ini sama anak-anak saya “Apa sih yang membedakan manusia sama Gorilla?” Banyak dari mereka mengatakan “Matanya”, “Bentuk tubuh”, “muka”, dll…Dan saya menjawab “Wah, kalau cuma mata sih, mata saya dan kamu juga beda….muka kamu dan saya juga beda, bahkan bentuk tubuh kamu dan saya juga beda”

Apa sih yang membedakan manusia dan gorilla?

Ada satu hal yang sangat membedakan manusia dan Gorilla atau mahluk hidup lain yang Tuhan berikan pada manusia (selain roh tentu saja), Itu adalah otak korteks…

Ada tiga bagian dalam otak manusia…

1. Otak Reptil, dimiliki oleh reptil dan semua mahluk hidup yang berada di ‘atas’ reptil. Otak ini memungkinkan mahluk hidup memiliki insting, yaitu untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Seekor ular akan memagut jika diganggu, seekor cicak akan melepaskan buntutnya jika merasa terancam. Manusia juga punya otak reptil…Tapi tentu saja diharapkan bukan otak reptil yang dominan mengatur dan mengendalikan hidupnya

2. Otak Limbik, dimiliki oleh seluruh hewan mammalia, termasuk manusia. Pernahkah melihat anjing yang marah, atau kuda yang sedih? Otak limbik adalah bagian otak yang mengatur emosi mammalia. Dengan otak limbik, mammalia dapat merasakan sedih, senang, marah, kecewa

3. Otak Neo-Korteks. Nah, otak ini hanya dimiliki oleh manusia. Apa fungsinya? Otak Neo-Korteks yang memampukan manusia memiliki perasaan atas perasaan. Dengan kata lain memiliki kendali atas perasaan. Sebagai contoh, jika dalam suatu rapat tiba-tiba kita menerima telepon yang membuat kita sangat marah. Otak Neo Korteks lah yang akan menyampaikan pesan pada Otak Limbik untuk menahan emosi. Merasakan bahwa tidak sepantasnya marah di tengah-tengah rapat.

Kebanyakan orang saat ini tidak memiliki kendali yang baik atas otak Neo-Korteksnya. Melampiaskan kemarahan kapan saja, di mana saja. Melampiaskan kekecewaan, melakukan pembantaian, bunuh diri, dan banyak hal buruk lainnya.

Inilah yang dinamakan Emotional Quotient…Bagaimana Otak Korteks dan Otak Limbik bekerjasama…Sehingga manusia dapat dibedakan dari Gorilla…

Advertisements

Bahasa yang digunakan Bapa


Dalam salah satu guyonan kami,
Adik dan papa saya menggunakan satu komputer untuk chatting dengan saya
Adik saya suka sekali berpura-pura menjadi papa saya…
Dan lucunya, saya tidak tahu kalau sebenarnya saya sedang chatting dengan adik saya,
dan bukan dengan papa saya…

Penyebabnya?
Dia mengetahui bahasa yang biasa digunakan papa saya terhadap saya
Karena kami memiliki papa yang sama…:)

Pagi ini saya berpikir, dan merenungkan
Apakah kita mengetahui bahasa yang digunakan Bapa?
Apakah kita mengerti bahasa yang digunakan Bapa,

Masalahnya bukanlah apakah Bapa mengerti,
(karena Dia pasti mengerti)
Masalahnya adalah, apakah kita mengerti?

Kita adalah anggota tubuhNya…DIA adalah kepala
Penting sekali mengetahui apa yang DIA pikirkan
Penting sekali untuk mengerti bahasa yang dia gunakan

Apakah kita mengerti bahasa yang digunakan Bapa saat ia melihat anak-anak?
Apakah kita mengerti bahasa yang digunakan Bapa saat ia melihat orang-orang miskin?
Apakah kita mengerti bahasa yang digunakan Bapa saat ia berkata
“Carilah dulu Kerajaan-Ku dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”

Seringkali kita salah mengerti,
Menggunakan otak homo sapiens kita untuk mengerti maksud Bapa memang sulit
Tapi menyalahartikannya adalah tindakan bodoh..

“Mau kaya? Cari dahulu Kerajaan Allah”
“Berilah pada orang miskin, SUPAYA mendapat balasan berkali-kali lipat”

Pada akhirnya yang kita mengerti adalah
segala sesuatu berfokus pada KITA…
Bukan pada BAPA
segala sesuatu untuk menguntungkan kita
dengan menggunakan BAPA sebagai pemberi…

Apakah kita mengerti bahasa yang digunakan Bapa?
Apakah gereja mengerti bahasa yang digunakan Bapa?

Thats a very big question…

Jangan ada orang miskin di antara kita


Sekelompok anak-anak bermain peran

Pemimpin mereka membagikan peran yang ada “Kalian jadi orang miskin, aku dan dia jadi orang kaya” katanya

“Ingat, orang miskin selalu di bawah penguasaan orang kaya, kau harus menderita dan siap diperlakukan apa saja” lanjutnya…

Permainan peran itu berlangsung cukup seru. Diakhiri dengan penderitaan orang miskin karena dipekerjakan tanpa imbalan yang setimpal.

Saya bertanya dalam hati… dari mana anak-anak ini mendapat kesan, bahwa orang kaya boleh menindas orang miskin dan bahwa orang miskin tidak boleh melawan dan hanya boleh pasrah…

Suatu hari saya mendengar seorang berkata, “miskin itu dosa” Saya mengulanginya pada teman saya, seorang muslim yang taat Dia berkata,”Miskin itu tidak dosa…bodoh yang dosa. Tahukah kamu siapa orang paling miskin sedunia yang pernah tercatat”

Saya tidak menjawab,…Dalam agama saya memang dikatakan bahwa Yesus memilih untuk menjadi miskin agar kita menjadi kaya…

Tapi saya tidak mengatakannya,..saya bertanya, “siapa?” Teman saya menjawab, keterlaluan kalau kamu gak tau. Orang yang paling miskin sedunia adalah Yesus. Muhammad tercatat nomor 3″

Dia melanjutkan, “Tapi Yesus miskin karena dia memilih untuk menjadi demikian, walau sebenarnya Dia bisa untuk tidak menjadi miskin” Saya terdiam, hati saya seolah beku, tidak bisa menjawab…

Saya pernah masuk ke suatu ibadah yang mengatakan, “Miskin itu tanda bahwa seseorang berdosa dan belum bertobat.” dan sebuah slogan dipasang besar-besar ‘Jangan ada orang miskin di antara kita’

Can you imagine my sister and brother in Christ… Terpampang di gedung gereja , di ruang ibadah “Jangan ada orang miskin di antara kita”

Saya tidak mempermasalahkan makna yang terkandung di dalamnya Mungkin Saudara dapat berkata bahwa itu makna kiasan…

Terbayangkah oleh Saudara apa yang terjadi Jika ada seorang miskin,…lapar dan haus (baik dalam arti jasmani maupun rohani) masuk dalam gedung itu???

Well, ini hanya bahan pemikiran… Apakah miskin itu dosa? Church, apa yang sudah kita lakukan?? Apakah kita sedang menanamkan pemikiran pada anak-anak kita bahwa orang miskin selalu ditindas, dan orang kaya memegang kendali?

“Barangsiapa menyesatkan anak-anak, sebaiknya ikatkan batu kilangan, lemparkan ke laut” Church, apa yang harus kita lakukan pada “orang miskin”??

Andai hidup bisa di undo


Pernah gak ngebayangin seandainya hidup seperti komputer. Bisa di undo…Misalnya, waktu kita gak sengaja menumpahkan makanan…wah, jadi repot..coba kalau bisa di undo… Atau waktu keceplosan ngomong..ups, coba kalau bisa di undo…

Tapi masalahnya, hidup terus berjalan, dan setiap orang … sadar atau ngga, harus bertanggungjawab sama semua yang dilakukannya.

Kesalahan adalah hal yang harus disyukuri, bukan disesali. Dengan melakukan kesalahan kita banyak belajar bagaimana menemukan mana yang benar…

Dengan melakukan kesalahan kita disadarkan bahwa kita gak sempurna…

Dan terkadang, kesalahan kita bukanlah suatu “kesalahan”…

Jadi, walau terkadang saya berharap hidup bisa di undo…seringkali saya bersyukur bahwa hidup saya berjalan terus ke depan.  Karena hidup itu kaya puzzle, waktu kita menyerahkannya dalam tangan Tuhan.

Saya kadang gak ngerti, sesuatu yang saya sesali pada akhirnya adalah salah satu potongan puzzle penting yang melengkapi hidup saya. Misalnya, waktu saya kecil, sebel banget kalau disuruh les piano…

Saya pikir, les piano adalah suatu kesalahan. Tapi dengan saya les piano, ada pembina di gereja yang ngajarin keyboard (thank God for her, namanya Esther, she was my hero). Trus, saya jadi tahu kunci…akhirya itu yang jadi modal buat saya bikin lagu buat anak-anak

jadi…hidup tidak bisa di undo…tapi kita bisa memperbaiki kesalahan dan menjadikannya guru yang baik… Juga melihat kesalahan sebagai potongan puzzle yang tidak kalah penting dengan kejadian lain yang kita anggap sebagai ‘prestasi’

bingung ga?

Kepercayaan


Kadang, kepercayaan datanganya mirip sama penyesalan…belakangan. Saat kita mengambil suatu tindakan yang penuh resiko…maka kita harus bersiap-siap menghadapi dua kemungkinan…penyesalan, atau kepercayaan yang bertambah..

Bagian terberat ada ketika kita berada dalam posisi mengambil tindakan beresiko.. Apalagi ketika kita mengambil tindakan itu kepercayaan orang makin lama makin berkurang, karena mereka tidak yakin dengan apa yang kita lakukan.

trus, apa dong yang harus dilakukan? saya cuma bisa kepikiran dua tindakan sih:

  1. Berhenti melakukan tindakan itu dan lakukan apa yang orang lain harapkan biar kepercayaan mereka tetap atau sedikit bertambah (catatan: sedikit bertambah, atau malah berkurang juga…kalau kita selalu melakukan apa yang orang minta, bukannya kepercayaan bertambah, justru malah berkurang karena mereka jadi meragukan kita)
  2. Trus melakukan tindakan itu dan buktikan bahwa kita tahu apa yang sedang kita kerjakan. Resikonya…kita harus mengalami yang namanya ‘kehilangan kepercayaan’. Resiko kedua, waktu yang kita lakukan ternyata gagal..tapi toh segala sesuatu harus dicoba, dan orang pintar gak akan mengambil tindakan yang peluang gagalnya lebih besar daripada berhasil

Guys, what do you think

Pendidikan dan pembodohan


Setuju gak sama remedial berkali2?? Kalau Anda adalah murid, pasti Anda menjawab “SETUJUU”. Tapi bagaimana dengan guru?

Masalahnya, murid sekarang tidak melihat remedial sebagai suatu kesempatan untuk memperbaiki nilai. Tapi sebagai peluang untuk mendapat nilai jelek

Pemerintah pun seakan tidak mengerti akan dunia remaja. Mengusulkan remedial dengan alasan ‘yang penting semua siswa kompeten’

Mengerti gak mereka kalau itu justru menumbuhkan mentalitas “seadanya” dalam diri murid-murid… Kebanyakan murid akan melihat remedial sebagai kesempatan untuk dapat nilai buruk, daripada kesempatan untuk memperbaiki nilai.

Bagaimana dengan “nasib” guru. Dengan para siswa yang berpikir bahwa “gak belajar pun bisa remedial, dan kalau remedial masih jelek, masih ada remedial lagi”, guru-guru akan dicap sebagai tenaga kerja tidak kompeten yang tidak bisa mengajar karena semua nilai anak-anak jelek.

Padahal, para siswa pun (well, gak semua tapi sebagian besar) tidak terlalu mempedulikan nilai mereka…toh bisa remedial.

Remaja sekarang tidak diajar untuk mengerti arti dari KONSEKUENSI. Terlalu banyak penyelamat, terlalu banyak kesempatan…

Hmm, apa jadinya dunia pendidikan sekarang… Sepertinya, pemerintah harus bijaksana. Ketika menentukan suatu metode pendidikan, harus tau juga bagaimana itu semua dilihat dari sudut pandang REMAJA.

Talenta


Siapa sih yang gak punya talenta? Setiap orang pasti diberi talenta oleh Tuhan. Gak mungkin ada orang yang lahir ke dunia tidak dengan tujuan apapun. Karena manusia lahir dengan tujuan, maka minimal satu talenta udah pasti dikasih Tuhan…

Bagaimana cara Tuhan memberi talenta? Ia memberi berdasarkan kesanggupan manusia. Jadi bukan sembarang memberi. Trus, gimana dong dengan mereka yang mengubur talenta…Hmm, Tuhan tidak pernah salah, mereka sebenarnya sanggup. Ada banyak alasan mengapa orang menguburkan talentanya

  1. Tidak berani mengambil resiko
  2. Malas
  3. Takut omongan orang

Nah, pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya adalah, apakah waktu Tuhan memberikan kita talenta Dia ingin kita hidup dari talenta itu? Bagaimana jika kita mengembangkan talenta dan hasilnya menjadi milik orang lain?? Apakah itu namanya tidak bertanggungjawab?

Bagaimana kalau misalnya talenta kita adalah bermusik, tapi keadaan (bisa orangtua, teman, dll) membuat kita memilih untuk mengerjakan pekerjaan lain…Ada begitu banyak orang yang tidak bahagia karena melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai.

Apakah benar bahwa tidak egois itu sama dengan melakukan apa yang orang lain inginkan (sekalipun orangtua kita menginginkan agar kita melakukan apa yang tidak kita sukai dan bukan bagian dari talenta kita?)

Jadi, kalau Tuhan memberikan seorang manusia talenta untuk memperlengkapi mereka mewujudkan tujuan Tuhan dalam hidup mereka, pantaskah jika kita menyia-nyiakan talenta itu demi orang lain??

Leadership


Waktu melihat becak di barisan pertama antrian mobil di lampu merah tiba-tiba terpikir:

*Kalau pemimpin adalah pengaruh, maka pengaruh seperti apa yang diberikan?*

Becak itu mau tidak mau membuat mobil berjalan sangat lambat.
Tidak ada pilihan bagi mobil di belakangnya karena di kiri kanannya ada mobil lain
Lantas, apakah becak itu dapat dikatakan pemimpin…setidaknya saat itu?

*Kalau pemimpin adalah pengaruh, mungkinkah pemimpin memperlambat kemajuan anak buahnya?*

Motor-motor juga berada di barisan paling depan.
Ketika lampu hijau menyala, mereka melesat maju, tapi tidak ada yang mengikuti
Sudah jelas bahwa motor-motor itu tidak memberi pengaruh, dan bukan pemimpin

*Mungkinkah ada pemimpin yang berjalan di depan, dan tidak ada yang mengikuti. Tidak memberikan pengaruh, hanya sekedar jabatan*

*Ada pemimpin yang berjalan terlalu cepat, ada pemimpin yang berjalan terlalu lambat.
Yang satu tidak memiliki pengikut, yang satu menghambat pengikutnya.
Lalu pemimpin harus seperti apa?*

Saya pernah harus mencari jalan. Saya bertanya pada seorang pengendara motor, dan dia menawarkan diri untuk mengantar.

Di lampu merah, dia ada di depan saya, terkadang di samping saya
Saat dia tak sengaja melewati lampu merah sebelum saya, dia akan menunggu saya
Dia memastikan saya mengikutinya…sampai tempat tujuan.

*Kalau pemimpin memberikan pengaruh, bukankah yang terpenting dia mengetahui dengan baik pengaruh seperti apa yang dia berikan*
*Kalau pemimpin memberikan pengaruh, bukankah dia harus tahu bahwa pengikutnya mengikuti*
*Kalau pemimpin memberikan pengaruh, bukankah dia harus tahu bahwa pengikutnya menjadi lebih baik*

Yes!!! Leadership is about influence, a good one…

Aku Mencari Tuhan


Aku merindukan Tuhan….dan memutuskan untuk mencari-Nya
Aku masuki gedung gereja yang megah…
Dekorasi yang mewah…
Peralatan yang Mahal

Aku merindukan Tuhan….dan memutuskan untuk mencari-Nya
Aku berdiri di tengah jemaat-Nya

Suara musik terdengar menghentak…
Tak bedanya dengan yang biasa kudengar…
Di panggung nampak seorang …
Ah, aku bahkan tak tahu bagaimana menyebutnya
Dia berjingkrak dan melompat, sesekali melihat pada pemimpinnya yang berdiri di depan
dengan wajah berharap dan memohon…

Aku tak tahu siapa pemimpin yang berdiri di depan itu,
Mungkin dia adalah tangan kanan Tuhan.
Apakah pendapat dan seleranya begitu penting sehingga semua orang di depan melihat kepadanya?

Aku merindukan Tuhan…dan memutuskan untuk mencari-Nya
Aku duduk di tengah jemaat-Nya
Tak dapat kupejamkan mataku,
Lampu-lampu begitu temaram, gemerlapan, tampak begitu mewah
Kulihat sekelilingku, berbagai ekspresi ada di sana

Aku merindukan Tuhan….dan memutuskan untuk mencari-Nya
Aku bersiap untuk menyembah dan mendengar suara-Nya
Entah kenapa telingaku hanya menangkap hentakan musik yang keras
dan sesekali lengkingan gitar listrik yang memekakan telinga
juga suara rendah yang seolah menggetarkan jantungku…

Aku merindukan Tuhan…
Aku merindukan jemaatNya…

Tapi kemudian aku sadar..
Mungkin Tuhan tidak hanya dapat ditemui di gedung yang mewah itu…
Kalau memang Dia tidak berubah..
Kehadiran-Nya pastilah tidak dibatasi tempat dan waktu

Aku masih merindukan Tuhan…
Tapi kini…Aku akan mencari-Nya di tempat lain…
Aku akan mencari-Nya di tatapan anak-anak terlantar…
Aku akan mencari-Nya di penjara…
Aku akan mencari-Nya di panti jompo…
Aku akan mencari-Nya di rumah pesakitan..

Dan di tengah keheningan…
Aku akan memejamkan mataku,
berbicara padaNya..dan menantikan Dia berbicara padaku..
Dan kudengar Dia berkata,

“Baiklah kita bekerja bersama, kau dan Aku
Baiklah hatimu melekat dengan hati-Mu
Baiklah tanganmu menjadi tangan-Ku
Dan baiklah kakimu menjadi kaki-Ku
Dan kau akan menemukan-Ku”

Aku mencari Tuhan…
Dan kini sudah kudapati Dia…
Bukan di gedung itu…tapi di jalanan…

(Matius 25:31-46)

Facebook Fever


Sekarang gak punya teman bukan masalah ternyata…Kalaupun ada teman-teman, ternyata orang lebih memilih teman2 dari dunia maya.  Orang sibuk dengan dunianya dan perhatian terhadap lingkungan sekitar mulai berkurang.

Sepertinya, orang akan lebih memilih si “Budi” di dunia maya, daripada jika si Budi itu ada di hadapannya.

Sesuatu yang pada dua puluh tahun yang lalu dianggap TIDAK MUNGKIN “Bagaimana mungkin menyatukan semua orang di dunia”, sekarang menjadi sangat mungkin…cuma menekan satu tombol dan buzzz..dunia di hadapan Anda.

Dan anehnya, kalau dulu orang mengagung2kan yang namanya Privacy, saat ini orang mengobral privacynya…lagi kesel tulis di Facebook (yang mana semua orang bisa mengetahuinya), lagi mau mandi, tulis, mau makan, tulis…Wah…

Gak cuma semua orang bisa mengetahuinya, semua orang bisa mengomentarinya. Hmm…saya lagi berpikir, apakah ini tidak membuka suatu budaya dan kebiasaan baru..kebiasaan usil dan mau tahu urusan orang??

Tapi, kalau saja facebook dipakai dengan benar, untuk saling menguatkan, bertukar informasi yang lebih berguna…pasti bakalan lebih ok..

Tapi segala sesuatu pasti ada akhirnya, dan ketika itu berakhir…akan mulai suatu babak baru. Kita lihat, setelah orang saling membuka privacy, apa yang akan terjadi kemudian?