Ketika Ayah dan Anak tidak sama saja


Saya sedang mempersiapkan bahan untuk Firman Tuhan minggu ini ketika tiba-tiba saja sesuatu menarik perhatian saya. Terkadang memang sesuatu yang sudah sering kita dengar tiba-tiba saja PLOP! melompat keluar dan menarik perhatian kita. Saya tertarik dengan Manasye, Amon dan Yosia.

Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, siapa itu Manasye, Amon dan Yosia. Sementara sebagian lagi mungkin langsung tahu siapa mereka bertiga. Ya, mereka adalah raja Yehuda dari Perjanjian Lama. Manasye sendiri adalah anak dari Hizkia, seorang raja yang berbuat benar di mata Tuhan, pernah meminta perpanjangan usia dan dikabulkan oleh Tuhannya Israel.

Manasye menjadi raja pada usia yang sangat muda, yaitu 12 tahun. Usia 12 tahun adalah ketika seorang anak tidak mau lagi disebut anak-anak, tapi juga terlalu muda untuk dapat dikatakan remaja. Di saat anak seusianya mungkin bermain dan berburu, Manasye telah menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat.

Hal yang menarik perhatian saya adalah karena kelakuan Manasye berbeda jauh dengan kelakuan ayahnya. Alkitab mencatat Hizkia sebagai raja yang “melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.”, sedangkan Manasye dicatat sebagai raja yang “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.”

Manasye ini, seharusnya telah melihat apa yang ayahnya lakukan seumur hidupnya. Ini yang Alkitab catat mengenai Hizkia (diambil dari II Raja-Raja 18:4-7)

Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia.

Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa.

Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung.

 

Seharusnya Manasye melihat bagaimana ayahnya telah menjadi raja yang beruntung kemanapun ia pergi berperang, dan seharusnya Manasye tahu bahwa yang menyebabkan ayahnya beruntung adalah karena Tuhan menyertai dia.

Namun Manasye justru melakukan hal yang sebaliknya. Bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh ayahnya didirikan kembali oleh Manasye. Seolah menganggap bahwa Hizkia adalah saingannya dan bukan ayahnya, ia melakukan apa yang dibenci oleh ayahnya selama ia masih hidup. Bukannya mengidolakan ayahnya, ia malah melakukan apa yang dilakukan Ahab, Raja Israel (Di jaman itu, Tuhan sudah memecah Kerajaan Israel dan Yehuda), yaitu membangun mezbah-mezbah untuk Baal dan membuat patung Asyera, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.

Tak cukup hanya itu, hal terburuk yang dilakukan Manasye adalah ia mengorbankan anaknya sendiri dalam api dan membuat mezbah untuk tentara langit di pelataran rumah Tuhan.

Cukup lama Manasye memerintah, lima puluh lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk dilihat oleh anak-anaknya. Waktu yang cukup lama untuk membuat bangsa Israel jauh dari Tuhan.

Namun berbeda dengan Hizkia yang tidak ditiru oleh anaknya. Manasye digantikan oleh seorang anak yang berkelakuan persis seperti dia. Amon, anak Manasye segera naik tahta setelah Manasye mangkat. Amon melakukan apa yang jahat, persis seperti ayahnya. Dia beribadah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa yang disembah oleh ayahnya.

Tak lama-lama Amon menjadi raja, hanya dua tahun saja. Rupanya ia bukan atasan yang baik, Amon mati di tangan pegawai-pegawainya sendiri, menyisakan tahtanya untuk anaknya yang masih berusia delapan tahun… YOSIA.

Yosia ini adalah seorang anak yang sudah pasti tidak mengenal kakek buyutnya, Hizkia. Sepanjang hidupnya ia menyaksikan kekejian demi kekejian yang dilakukan baik oleh kakeknya maupun oleh ayahnya. Namun sesuatu yang mengherankan terjadi, Yosia “melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (II Raja-raja 22:2)

Dalam masa pemerintahan Yosialah kitab Taurat ditemukan, setelah hilang (entah terselip atau terlupa) karena tidak diperhatikan di jaman kakeknya. Berdasarkan kitab tersebut, Yosia mengadakan pembaharuan agama. Anda bisa membaca sendiri apa yang dilakukan Yosia pada 2 Raja-raja 23.

Hal yang ingin saya bahas di sini mungkin di luar perkiraan Anda. Menurut Anda, dari antara Hizkia, Manasye, dan Amon… Siapakah Ayah yang dapat dikatakan “BERHASIL” ?

Hizkia yang tidak bisa mendidik anak? Manasye yang diikuti oleh anaknya? Atau Amon, seorang jahat yang dapat menghasilkan anak yang baik? Jika menjadi orangtua adalah ‘pengaruh’, maka saya dapat pastikan bahwa Manasye-lah yang paling berhasil mendidik anak.

Jaman sekarang ini, ketika “Parenting” tengah diangkat dan “peran orangtua” sedang banyak digembar gemborkan, kita banyak mendengar bahwa seorang ayah atau orangtua, bertanggungjawab atas kelakuan anak mereka.

Ketika saya membuat status berisi komplain dengan iklan di mana seorag anak berkata “kepo ih” ke orangtuanya, seorang teman berkata bahwa “itu salah orangtua” kalau sampai seorang anak bisa terpengaruh dengan iklan itu dan berkata “kepo ih” ke orangtuanya.

Saya berkata bahwa, jika dikembalikan ke orangtua… memang pada akhirnya seluruh kejahatan di muka bumi ini adalah salah orangtua…

Apakah benar begitu?

Saya pernah menulis bahwa ketika seorang anak masuk ke dalam penjara, maka orangtuanya tidak perlu menanggung perbuatannya (demikian juga sebaliknya). Memang betul, orangtua diberi tanggungjawab khusus oleh Tuhan menjadi pahlawan yang mengarahkan anak panah ke sasaran yang tepat. Sejak kecil seorang anak perlu diarahkan ke sasaran yang benar.

Kembali ke contoh Hizkia hingga Yosia,.. tahukah Anda bahwa Yosia mendapat kemurahan dari Tuhan… Kerajaan Yehuda tidak dihancurkan pada jaman pemerintahannya. Yosia wafat karena terbunuh di medan perang, dan anaknya Elyakim, yang diganti menjadi Yoyakim oleh Firaun, menggantikan dia. Yoyakim ini, kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan…seperti kakeknya.

Apa yang salah?

Anda mungkin berkata “mungkin Hizkia dan Yosia melupakan keluarganya selama mereka memerintah, mereka lupa mendidik anak-anak mereka”. Lalu bagaimana dengan Yosia? Siapa yang mendidiknya sehingga ia tidak meniru perbuatan Amon, ayahnya? Siapa yang mendidik Hizkia hingga ia tidak meniru perbuatan Ahas, ayahnya?

Saya menawarkan sebuah kata ajaib yang mungkin dapat menjadi jawaban dari permasalahan kita hari ini: PILIHAN!

Ketika Tuhan menciptakan manusia, disisipkannya hati nurani sebagai penanda, bahwa manusia merupakan mahluk istimewa yang Dia ciptakan. Ya! tak peduli bagaimana pun orangtua kita, Tuhan memberi kita pilihan.

Hizkia dan Yosia membuat pilihan yang benar. Sejak kecil ia mungkin tidak pernah mendengar tentang kebaikan dari orangtuanya, mungkin hanya dari ibunya saja (mungkin juga tidak). Kalaupun mereka mendengar dari ibunya saja, mereka tetap memiliki pilihan untuk mengikuti ayahnya, menjadi raja yang jahat, atau melakukan apa yang baik seperti Daud, leluhurnya.

Anda dan saya memiliki pilihan. Tak peduli bagaimana orangtua kita, tak peduli seperti apa lingkungan di mana kita berada, kita mempunyai pilihan untuk melakukan apa yang benar atau tidak.

Ketika kita memilih melakukan apa yang benar, Tuhan memberi kita balasannya,…Hizkia mendapat keberuntungan, dan Yosia lolos dari penghukuman akibat kesalahan orangtuanya.

Jadi… faktor apa yang mempengaruhi hidup Anda? Keturunan, lingkungan, atau hati nurani yang dititipkan Tuhan?

Jika Hidup Tak dijanjikan Pahala


Jika hidup tak dijanjikan pahala
Akankah nurani tetap bicara
Memberi bagi yang papa
Menolong mereka yang terluka

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Akankah nurani tetap bicara
…mengatakan apa yang benar
…melakukan apa yang benar

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Akankah nurani tetap bicara
Menjaga lidah untuk tak memaki
Memegang komitmen untuk setia
Mengasihi kehidupan
Berbelas kasihan

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Adakah dasar menaruhkan iman
Adakah dasar untuk berharap
Adakah alasan untuk mengasihi

Jika hidup tak dijanjikan pahala
Apakah akan ada kekerasan atas nama agama
Apakah para pembela Tuhan akan bertindak
Akankah ada hati yang merendah
Akankah ada jiwa yang memohon
Akankah ada doa dinaikkan

Ah Tuhanku…

Untuk apa Kau ciptakan manusia
Mahluk yang katanya mulia dan luhur
Mahluk yang katanya menyerupai Engkau
Jika untuk berbuat baik saja…
…hadiah menjadi incarannya

Untuk apa Kau kasihi manusia
Mahluk yang katanya mulia dan luhur
Mahluk yang Kau ciptakan sesuai gambar-Mu
Jika kasih
Jika kejujuran,
Jika kesetiaan,
Jika kebaikan,
Jika belas kasihan,
Jika iman,
Jika pengharapan,
Dilakukan hanya untuk mendapat pahala
Dilakukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri

Ah Tuhanku,
Jika hidup hanya ada manusia dan diri-Mu,
Jika hidup tak dijanjikan Surga atau diancam Neraka
Jika hidup adalah tentang diri-Mu

Masih adakah kasih
Masih adakah kejujuran
Masih adakah kesetiaan
Masih adakah kebaikan
Masih adakah belas kasihan
Masih adakah iman
Masih adakah pengharapan

Jika hidup tak dijanjikan pahala, Saudaraku
Akankah ada alasan bagimu untuk tetap berbuat baik?

Mengakomodir Kemalasan


Pernahkah Anda makan di restoran cepat saji dan merasa malas cuci tangan? Sebuah rumah makan (atau mungkin lebih tepat disebut cafe) memahami Anda. Mereka menyediakan sarung tangan plastik di setiap meja.

Sarung tangan plastik yang disediakan bukanlah sarung tangan khusus untuk makan. Anda bisa menemukan sarung tangan seperti itu di wadah semir rambut atau dibundling dengan cairan pembersih porselen. Ya, sarung tangan plastik semacam itu.

Ketika makan ke rumah makan itu (yang kebetulan punya seorang teman), saya melihat sebagian besar tamu memilih untuk menggunakan sarung tangan itu untuk makan.

Saya kemudian bertanya kepada teman saya. Ketika kita makan dengan menggunakan tangan, mana yang lebih dikhawatirkan, tangan kita menjadi kotor OLEH makanan, atau makanan itu menjadi kotor oleh tangan kita? Anda bisa menangkap maksud saya bukan?

Saya menanyakan ini juga ketika melihat seorang ibu penjual Kebab pinggir jalan yang menggunakan sarung tangan plastik yang dilepas pakai berkali-kali dan disimpan di tempat yang tidak dapat dijamin kebersihannya. Saya bertanya pada teman saya,”ibu itu mengenakan sarung tangan supaya makanannya tidak kotor atau supaya tangannya tidak kotor?”

Jawaban yang kita harapkan tentunya adalah “untuk menjamin kebersihan makanan yang dia sajikan”, tapi jujur sajalah, kenyataannya adalah “supaya tangannya tidak kotor dan dia tidak perlu repot-repot cuci tangan setiap kali melayani pembeli”

Lucunya, sebuah maksud yang baik, atau setidaknya terlihat baik, seringkali tidak benar-benar membawa kebaikan.

Sebenarnya, jauh lebih aman dan bersih jika Anda menghabiskan beberapa menit berjalan ke wastafel, mencuci tangan dengan sabun, dan kemudian mencucinya lagi setelah Anda makan, daripada Anda menggunakan plastik yang tidak dapat dijamin kebersihan (mungkin saja terkena debu) dan keamanannya (siapa yang tahu reaksi kimia yang terjadi pada plastik yang terkena nasi panas).

Sesuatu yang baik seringkali tidak benar-benar membawa kebaikan. Anda dapat menemukan contohnya dalam sebuah keluarga dimana sang ayah yang sudah tua merupakan perokok berat. Semakin tua seorang pria, biasanya ia akan menjadi cerewet, makin menuntut, dan ingin diperhatikan.. Maka istri dan anak-anaknya biasanya mengabulkan apa saja keinginannya tanpa mempedulikan kesehatannya, termasuk memberinya rokok setiap hari, “asal diberi rokok, dia sudah senang”

Sesuatu yang terlihat baik seringkali tidak benar-benar membawa kebaikan. Jika Anda terus menerus mengabulkan keinginan anak Anda yang mengamuk di pusat perbelanjaan karena ingin diberikan sesuatu… Maka jangan heran jika sampai besar, anak-anak Anda yang memegang otoritas atas Anda.

Seringkali kebaikan didapatkan dari sedikit saja pengorbanan atau kesulitan.

Saya sedang mengalami kesulitan dengan wajah saya 2 tahun belakangan. Iritasi, komedo dan jerawat merupakan sumber masalahnya. Sedikit ekstra perhatian pada kulit mungkin dapat menyembuhkannya, malas sih.. Tapi jika dilakukan, hasilnya akan setimpal…

Dalam kasus anak mengamuk, sedikit rasa malu karena membentak anak di mall mungkin akan setimpal dengan pendidikan karakter yang akan diperoleh buah hati Anda.

Sesuatu yang terlihat baik, belum tentu benar-benar menghasilkan kebaikan… Kebaikan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang eksak: benar atau salah! Sesuatu yang baik belum tentu sesuatu yang benar. Ketika Anda berusaha melakukan sesuatu yang baik, pastikan bahwa yang Anda lakukan itu sudah benar!

Tulisan saya kali ini pendek saja. Intinya, jika Anda orangtua, atau guru atau sahabat atau siapapun yang berusaha melakukan sesuatu yang baik… Pastikan bahwa kebaikan Anda juga adalah “benar”!

Petunjuk Menemukan Barang yang Hilang


Pertanyaan klasik yang banyak menjadi bahan dilematis adalah “Salahkah mengambil barang orang yang tertinggal?”

Beberapa orang menganggap bahwa jika suatu barang tertinggal, maka artinya sudah bukan lagi milik orang yang meninggalkannya. Beberapa kalimat penghapus dosa adalah “yang menemukan berarti memiliki” atau “salah sendiri kok bisa sampai ketinggalan” atau “saya kan ga mencuri, cuma menemukan”

Beberapa orang justru menganggap bahwa menemukan barang yang tertinggal adalah suatu berkat, sama seperti menemukan harta karun yang sudah berusia 100 tahun dan kepemilikannya sudah tidak dapat ditelusuri lagi.

Bagaimana menurut pandangan Saudara? Apakah salah jika kita mengambil barang orang yang tertinggal? Apakah menemukan barang yang tertinggal adalah suatu berkat seperti mendapat keuntungan di siang hari bolong?

Buat Saudara yang menduga-duga, apakah dosa mengambil barang yang tertinggal… Atau apakah mengambil barang yang tertinggal sama dengan mencuri, saya membawa suatu kabar baik… Saudara tidak perlu lagi berada dalam ketidakpastian karena ternyata Alkitab memberi kita petunjuk bagaimana jika kita menemukan barang yang tertinggal.

Ulangan 22:1-3  “Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu.

Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya.

Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu.

Saudara mungkin berkata, “ah… Itukan mahluk hidup”… Alkitab kita itu hebat… Dia menggunakan kasus yang sesuai dengan kondisi saat itu, namun inti dan pesan yang ingin disampaikannya tetap sama.

Jaman dahulu, harta kekayaan seseorang dilihat dari jumlah ternak yang mereka miliki… Abraham dikatakan kaya karena memiliki banyak ternak. Yakub berusaha mengambil hati Esau dengan ternak, dsb.

Hal pertama yang akan kita definisikan adalah “ternak dan barang” saudaramu. Saat ini mungkin kita dapat mendefinisikannya sebagai gadget, atau dompet. Ayat di atas berkata “keledai, pakaian dan SETIAP barang yang hilang”. Artinya tidak ada batasan dalam apa yang dimaksud dengan “barang” saudaramu.

Hal kedua yang akan kita definisikan adalah istilah “saudaramu”. Sebagian dari Anda mungkin berkata “iya, kalau punya Saudara sendiri sih saya balikin, kalau ga kenal orangnya sih diambil ga apa-apa”

Ternyata ada kondisi seperti ini pada ayat di atas:

Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya…

“Saudara” yang dimaksud dalam ayat di atas adalah sesama kita manusia, tak peduli apakah tinggalnya jauh atau dekat, tak peduli Anda mengenalnya atau tidak.

Oke, jadi kita sudah mendefinisikan dua hal penting, dan kesimpulan sementara adalah sebagai berikut: Jika Anda menemukan barang milik siapapun yang hilang atau tertinggal…

Sekarang kita lanjutkan ke pembahasan selanjutnya… Apa yang seharusnya dilakukan dengan barang hilang itu. Ayat di atas sudah memberikan aturan dan Standar Operasional Prosedur yang sangat baik:

1. Jangan pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak tahu bisa berarti pura-pura tidak lihat atau pura-pura tidak tahu bahwa itu milik orang lain.

2. Apakah Anda melihat sendiri orang itu menjatuhkan atau meninggalkan barangnya secara tidak sengaja? Jika ya, segera kembalikan pada orang tersebut. Jika tidak, lanjutkan ke langkah 4.

3. Apakah Anda tahu barang milik siapa yang Anda temukan? Atau apakah di barang tersebut ada identitas pemiliknya? Jika ya, segera kembalikan pada orang tersebut. Jika tidak, lanjutkan pada langkah berikutnya.

4. Jika jawaban untuk no 2 dan 3 adalah tidak, simpan dulu barang tersebut, tunggu sampai orang itu mencarinya.

A. Supaya orang itu tahu data Anda, di jaman sekarang, Anda dapat meninggalkan alamat atau pin BB atau bagaimanapun caranya Anda dapat dihubungi

B. Jika barang tersebut adalah handphone, tablet atau sejenisnya… Anda harus mengangkat telephone yang masuk. Hal paling tabu yang tidak boleh Anda lakukan adalah mematikan gadget atau mengganti kartu SIM.
Intinya, Anda HARUS memastikan bahwa Anda dapat dihubungi

5.  Simpan barangnya pada Anda, jangan digunakan atau dimiliki.

6. Kembalikan kepada orang itu tanpa mengharapkan imbalan.

Jadi sekarang kesimpulannya adalah “jika Anda menemukan barang milik siapapun yang hilang atau tertinggal, Anda harus berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikannya”

Sebagian dari Anda mungkin ada juga yang berkata, “ah, itu kan taurat”. Benar sekali… Dan Yesus sudah melengkapinya dengan

Lukas 6:31  Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Anda ingin barang-barang Anda yang tidak sengaja Anda hilangkan kembali pada Anda? Perbuatlah begitu juga pada barang-barang orang lain yang Anda temukan.

Negara Dolanan


Ini negara dolanan
Demokrasi berubah jadi mainan
Capres kalah merasa dirinya macan
Mengamuk, menghasut dan menekan

Ini negara dolanan
Sang Macan terluka jadi pimpinan
Membentuk koalisi dengan napsu kekuasaan
Membabi buta menerjang lawan

Ini negara dolanan
Presiden pun tak tahan
Melawan rakyat dengan kedaulatan
Kau berkhianat, nama baik menjadi taruhan

Ini negara dolanan
Agama dijadikan alasan sejumlah preman
Berbaju putih, dengan janggut dan sorban
Mengintimidasi dan menghancurkan
Jangan andalkan aparat kemanan

Ini negara dolanan
Apatisme adalah syarat bertahan
Nasionalisme hanya untuk alasan
Tetap tinggal di negara dolanan

Setiap orang memainkan peranan
Sebagian berusaha jadi pahlawan
Sebagian tak tahan godaan
Sebagian jadi korban

Setiap orang memiliki pilihan
Untuk menjadi pahlawan
Untuk menjadi setan
Atau menjadi korban

Jika ini negara dolanan
Setidaknya bermainlah dengan Iman
Ikuti dolanan dengan aturan
Agar ketika Tuhan berkenan
Dolanan akan jadi sungguhan

Mnemophobia


Sebuah kenangan tidak selalu baik dan tidak selalu buruk. Sebagian orang hidup di masa lalunya, menganggap kenangan sebagai suatu bagian yang tak dapat dilepaskan dari hidupnya dan beberapa orang terjebak di sana.

Saya membagi kenangan menjadi dua, kenangan pengalaman dan perasaan. Kenangan pengalaman mungkin hanya sebuah aktivitas di masa lalu yang masih kita ingat. Sebagian pengalaman mungkin membuat kita tersenyum, sebagian lain ingin kita lupakan karena menimbulkan sebuah sensasi perasaan buruk dan membuat perut kita mual.

Kenangan perasaan hanyalah sebuah kenangan akan perasaan yang dulu pernah ada namun saat ini tidak lagi kita miliki, mungkin perasaan pada orang, atau tempat tertentu. Kenangan akan perasaan seharusnya hanyalah sebuah ingatan, karena jika kita masih merasakannya, artinya itu bukan kenangan, tapi masih menjadi bagian dari hidup kita.

Tulisan ini kita akan membahas Mnemophonia, berasal dari kata Yunani Mnem dan Phobia. Mnem berarti memory, atau kenangan dan  Phobia berarti ketakutan yang tidak masuk akal. Ya, mnemophobia adalah phobia kepada kenangan atau memory masa lalu. Seorang yang menderita Mnemophobia memiliki ketakutan akan memiliki kenangan atau bahkan kehilangan kenangan (biasanya Mnemophobia jenis ini menyerang orang-orang tua, mereka takut suatu saat akan pikun dan kehilangan memori).

Setiap orang memiliki pengalaman buruk, entah itu ngompol di kelas (ngomong-ngomong saya pernah lho ngompol di kelas karena saking takutnya minta ijin ke WC waktu masih TK, hehe), pengalaman dihukum oleh guru, dipecat, perceraian, ditolak, dan pengalaman buruk lain. Sebagian pengalaman buruk dapat kita lupakan dengan mudah, sebagian lagi begitu membekas hingga kita sulit melupakannya.

Saya pernah dihukum secara keterlaluan oleh guru saya semasa SD. Waktu itu saya sekitar kelas tiga atau empat, disuruh membawa kompor minyak tanah ke sekolah dalam acara pramuka. Waktu itu Papa saya bekerja di luar kota, dan mama saya dalam keadaan pemulihan kesehatan setelah kecelakaan. Akibatnya saya tidak bisa membawa kompor minyak tanah ke sekolah. Waktu itu ada acara membuat pisang goreng. Entah apakah guru saya sedang stress atau memang dia masih terlalu muda, ia membuat keputusan yang tidak masuk akal. Pisang dimasukkan ke dalam tepung yang dicampur air dan kemudian kelompok saya disuruh menghabiskan pisang berbalut tepung mentah tersebut.

Terus terang, itu pengalaman yang tidak bisa dibilang menyenangkan. Namun, ketika mengingatnya saya sama sekali tidak merasa kesal, dendam atau jengkel pada guru saya. Justru saya merasa kasihan dan heran akan keputusannya. Beberapa dari Anda juga mungkin memiliki pengalaman walau buruk namun tidak menimbulkan kekesalan saat mengingatnya.

Namun beberapa pengalaman tetap membekas dalam perasaan kita. Membuat kita merasa kesal setiap kali mengingatnya. Seorang yang mengidap Mnemophobia mungkin memiliki terlalu banyak pengalaman buruk yang membekas sehingga membuat mereka ketakutan akan kenangan tersebut. Seorang yang mengidap Mnemophobia biasanya:

  • Menghindari percakapan mengenai masa lalu
  • Berusaha tidak terlibat pertemanan terlalu jauh karena takut mereka akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan
  • Takut pada tempat-tempat yang mengingatkan mereka pada masa lalu

Pertanyaan yang umum saya tanyakan selanjutnya adalah, apakah ini bisa disembuhkan? Jika setelah membaca penjelasan saya di atas kemudian Anda berpikir, “jangan-jangan saya menderita Mnemophobia”, ini ada beberapa berita baik untuk Anda:

Firman Tuhan berkata bahwa kasih dapat melenyapkan ketakutan (I Yohanes 4:18). Ketakutan akan masa lalu biasanya disebabkan oleh kesalahan. Pengalaman buruk dimulai dari kesalahan satu orang, bukan? Satu orang tersebut bisa saja diri kita sendiri, atau orang lain yang menyebabkan kita terluka. Ulah satu orang tersebut membuat kita saat itu merasa malu, atau marah, atau depresi atau perasaan negatif lainnya, dan perasaan tersebut begitu dalam sehingga kita sulit melupakannya untuk waktu yang lama bahkan akhirnya membuat kita takut luar biasa bahwa perasaan seperti itu akan kita rasakan lagi.

Hal pertama yang harus kita lakukan untuk sembuh dari ketakutan akan kenangan masa lalu adalah MENGAMPUNI. Jika saat itu Anda yang melakukan kesalahan, maafkan diri Anda. Ingatlah bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Bahwa kesalahan adalah suatu hal yang sangat manusiawi dan justru dapat memberi kita pelajaran yang sangat berharga. Kesalahan di masa lalu membuat kita terhindar dari kesalahan yang lebih besar di masa yang akan datang.

Jika saat itu yang melakukan kesalahan adalah orang yang Anda kasihi (biasanya ini lebih menimbulkan bekas), maafkan mereka. Ingatlah bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Ingatlah bahwa kepahitan hanya akan mengeringkan tulang dan membuat banyak penyakit dalam diri Anda.

Mintalah pada Tuhan untuk dapat memberikan Anda kasih-Nya yang dapat mengampuni kesalahan terbesar sekalipun. Ketika Anda sudah berhasil mengampuni, Anda hanya akan melihat pengalaman buruk di masa lalu sebagai suatu pelajaran berharga yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik

Hal kedua yang harus kita lakukan untuk sembuh dari ketakutan akan kenangan masa lalu adalah MENGHADAPInya. Kebanyakan psikolog meminta para pasien phobia untuk menghadapi ketakutan terbesar mereka. Jika Anda memiliki ketakutan akan kenangan, maka Anda harus menghadapinya. Tuliskan apa saja hal baik yang telah Anda alami di masa lalu. Hitunglah setiap berkat yang sudah Tuhan berikan kepada Anda dan ingatlah bagaimana pengalaman buruk sekalipun telah berkontribusi positif dalam kehidupan Anda saat ini.

Hal ketiga adalah PERCAYA dan membuktikannya. Setelah membaca dua poin di atas Anda mungkin berkata “tidak, saat ini saya terpuruk akibat pengalaman buruk itu. Saya bangkrut dan tidak tahu harus berbuat apa”. Saudara, Tuhan memiliki rencana indah untuk setiap kita. Ketika Anda percaya bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidup Anda, maka Anda akan menyerahkan kendali kepada Tuhan. Seburuk apapun masa lalu Anda, jika saat ini Anda bersama Tuhan… Dia akan membuat masa depan Anda penuh harapan.

Jangan takuti masa lalu Anda karena tanpa masa lalu itu, tidak ada Anda hari ini dan tanpa Anda hari ini, tidak akan ada Anda yang akan berhasil di masa yang akan datang.

Hal keempat adalah berTINDAK. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu. Anda mungkin justru bisa menceritakan pengalaman buruk Anda kepada orang lain sebagai suatu pembelajaran bagi mereka. Anda bisa mengajar mereka untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Anda.

Kesimpulan:

Anda sulit terlepas dari kenangan buruk? Cobalah empat langkah ini: AMPUNI – HADAPI – PERCAYA – BERTINDAK!

Athazagoraphobia



Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Sebagian meninggalkan bekas, sebagian kita lupakan begitu saja. Teman-teman semasa kecil mungkin hanya menjadi penghias album foto yang hanya dibuka sesekali, itu pun kita lupa nama mereka satu per satu. Teman-teman remaja hanya tersisa dalam kenangan, mereka yang pernah meninggalkan kenangan manis, atau mungkin juga luka dalam hati kita. Sebagian mereka mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya, baik dengan cara yang manis maupun pahit.

Semakin besar, teman-teman yang kita kenal semakin sedikit. Di bangku kuliah, kita hanya mengenal sedikit sekali orang yang duduk sekelas dengan kita, apalagi jika kombinasi mereka berganti-ganti tiap masa kuliah. Orang-orang yang akan berbekas dalam ingatan kita hanyalah beberapa orang saja. Jumlah sahabat sudah pasti lebih sedikit dari teman-teman yang hanya sekedar meminjam catatan atau satu angkutan umum.

Beberapa orang menghadapi peralihan suasana, lingkungan dan teman-teman dengan cepat. Mereka tidak merasa masalah mengganti teman-teman TK dengan teman-teman SD, teman-teman SD dengan teman-teman SD, teman-teman SD dengan SMP dan seterusnya hingga saat ini. Namun beberapa orang menghadapinya dengan lebih sulit, terutama mereka yang mengidap Athazagoraphobia.

Hari ini kita akan membahas satu phobia yang bahkan kita akan melupakan namanya setelah membaca artikel ini. Athazagoraphobia adalah perasaan takut yang amat sangat akan dilupakan, diabaikan atau tidak dipedulikan. Perasaan takut diabaikan merupakan perasaan alami umat manusia. Jika Anda memiliki anak yang masih balita, kemudian Anda menaruhnya di kursi atau box bayi dan sibuk bermain bersama bayi atau anak lain, maka apa yang akan dilakukan anak Anda? sebagian besar anak akan langsung menangis, ya.. mereka takut jika orangtua mereka melupakan dan mengabaikan mereka.

Merasa diinginkan dan dicintai dan dipedulikan, terutama oleh orang-orang yang kita cintai merupakan hal yang sangat manusiawi. Manusia diciptakan dengan kapasitas memberi dan menerima cinta satu dengan yang lain. Ketika perasaan ini ternyata bertepuk sebelah tangan, maka biasanya manusia akan merasa terluka dan patah hati. Sebagian orang dapat dengan mudah melupakan perasaan ini, sebagian lagi mengalami kesulitan, namun waktu kemudian menyembuhkannya. Nah, sebagian kecil orang yang menderita Athazagoraphobia menghadapi kesulitan luar biasa untuk menghadapi perasaan ini.

Mereka mungkin pernah terluka atau mengalami traumatis yang begitu besar sehingga mereka memiliki ketakutan yang sangat besar akan perasaan dilupakan, diabaikan atau tidak dipedulikan. Mereka mungkin menyadari bahwa perasaan mereka tidak rasional dan tidak benar, namun mereka tidak dapat mengendalikannya. Jantung mereka tiba-tiba saja berdebar-debar ketika orang yang mereka pedulikan suatu saat mengabaikan mereka atau mungkin sekedar lupa mengirimkan pesan singkat. Mereka panik ketika orang yang mereka cintai tiba-tiba berubah, walau mungkin mereka berubah karena kesibukan atau hal lain.

Percaya atau tidak, di jaman sekarang ini semakin banyak orang yang menderita Athazagoraphobia. Apalagi saat berkomunikasi menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. BBM, telephone murah (bahkan gratis), email dan media sosial membuat sebagian orang merasa bahwa keep contact harus dilakukan secara intens dan terus menerus. Temperamen atau sifat dasar mempengaruhi hal ini. Mereka yang dilahirkan dengan sifat dasar membutuhkan perhatian yang begitu besar biasanya akan sangat senang ketika seseorang mengomentari statusnya atau sekedar menyapa di BBM.

Kemudian mereka akan merasa “apa susahnya sih sekedar menyapa atau membalas BBM atau memberi komentar di media sosial” ketika perhatian yang mereka inginkan tidak diperoleh,

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkata pada teman saya bahwa saya merasa terganggu dengan kontak-kontak remaja di BBM saya. Mereka sering sekali mengirimkan broadcast message yang isinya kurang lebih mengajak kontak BBMnya untuk chat, seperti “mau chat? PM”. Bagi saya ini sangat mengganggu. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang lain, maka kita akan merasa kasihan pada mereka.

Baik, mungkin sekedar ingin diperhatikan adalah perasaan yang normal. Namun ketika perhatian ini tidak mereka dapatkan, kemudian mereka merasa panik, gugup, jantung berdebar-debar atau ketakutan yang amat sangat (seperti merasa “saya salah apa ya” atau “kok dia begitu ya. Jangan-jangan….”) maka mereka harus berhati-hati, mungkin mereka menderita Athazagoraphobia.

Kebanyakan orang yang menderita phobia jenis ini adalah mereka yang memiliki self esteem yang rendah. Mereka merasa diri mereka tidak cukup berharga untuk diperhatikan, namun mereka ingin diperhatikan. Sehingga ketika perhatian tidak mereka peroleh, apalagi dibuktikan oleh ketidakpedulian seseorang kepada dirinya, maka hal ini seperti membenarkan pemikirannya soal betapa tidak berharganya dirinya dan ini akan semakin merusak self esteem (penghargaan terhadap diri) mereka.

Saudara, jika ketika membaca ini Anda berpikir “apakah saya menderita phobia jenis ini? Dapatkah hal ini disembuhkan?”.

Tentu saja Athazagoraphobia dapat disembuhkan. Saya mengerti, jika Anda menderita Athazagoraphobia, Anda juga mungkin memiliki perasaan takut diabaikan atau dilupakan oleh Tuhan. Namun kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah melupakan atau mengabaikan Anda. Saya akan mengajak kita melihat sebuah  ayat di Yesaya 49:14 – 15

Sion berkata :TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku”. Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Hal pertama yang ingin saya sampaikan, ketika Anda merasa takut bahwa tak seorang pun mempedulikan Anda, atau orang yang Anda kasihi mengabaikan Anda, ingatlah satu hal. Tuhanmu, Pencipta semesta tak melupakan dan mengabaikanmu. Ia bahkan melukiskan Anda di telapak tangan-Nya (ayat 16). Dia mengenal Anda sejak dalam kandungan dan Dia tidak akan melupakan Anda sampai saatnya tiba Anda dipanggil pulang dan hidup bersama-Nya.

Yang harus Anda ingat adalah, manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat, mengasihi dan mempedulikan sesamanya, namun Tuhan memiliki kapasitas yang tak terbatas untuk mengasihi dan memperhatikan Anda.

Anda mungkin menjawab “tapi Dia juga mengabaikan saya. Dia membiarkan saya mengalami masalah dan tidak menjawab ketika saya meminta pertolongan.

Masalah seringkali datang dengan alasan yang berbeda. Mungkin suatu kali kita melupakan Dia, kita menulikan telinga terhadap peringatan-peringatan-Nya. Kita melakukan apa yang tidak Dia inginkan. Kemudian kita menanggung akibatnya…. Kita berteriak kepada Tuhan “jangan abaikan aku, ya Tuhan. Bantu aku keluar dari masalahku.” Jika ini yang terjadi, sebuah ayat dalam Ratapan 3:39:40 mungkin dapat membantu kita:

Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya. Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan.

Daud pernah melakukan kesalahan satu kali. Ia mengambil istri Uria, menghamililinya, berusaha menyembunyikan perbuatannya dengan berencana seolah-olah istri Uria hamil karena suaminya, tidak berhasil, kemudian membuat skenario pembunuhan Uria dan mengambil istrinya. Tuhan tidak suka hal ini, putera Daud akibat zinahnya dengan istri Batsyeba diberi penyakit yang parah. Apa yang dilakukan Daud mungkin bisa menjadi contoh bagi kita. (Anda bisa membaca kisahnya di sini)

Ia meratap dan memohon, meminta Tuhan menyelidiki dan mengampuni dosanya. Tuhan menghukumnya untuk ini semua, ya! Puteranya mati. Tapi selanjutnya Tahan tidak meninggalkannya… Bahkan menyebut Daud sebagai “orang yang berkenan di hati-Ku”

Masalah mungkin juga datang sebagai ujian… Seorang teman mengirim gambar seperti di samping kiri ini. Ketika masalah datang sebagai ujian. Buktikan pada Guru Agung kita bahwa kita tetap tidak melupakan Dia dan mengandalkan Dia seberat apapun masalah yang menimpa kita.

Ada banyak obat penenang yang dapat Anda pakai untuk menyembunyikan kepanikan dan phobia Anda. Namun Anda bisa melupakan obat-obatan itu ketika Anda berpaling pada Tuhan dan mengingat dalam hati Anda… Tuhan tidak pernah melupakan Anda…. Dan kalimat seperti yang dikatakan Daud ini dapat menjadi obat bagi Anda

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 118:6)

Hal kedua yang harus Anda ingat adalah… Kita hidup di dunia bukan untuk menerima tapi untuk memberi. Tuhan mengutus kita untuk menjadi terang di tengah-tengah gelap. Jika Anda tidak mendapat perhatian atau kasih seperti yang Anda harapkan dari seseorang. Ada begitu banyak orang yang membutuhkan perhatian dan kasih Anda… salurkan pada mereka.

Ketika Yesus disalibkan, Dia diabaikan oleh seluruh murid-Nya yang kocar kacir ketakutan… dan bagaimana dengan orang-orang yang berteriak “salibkan Dia, salibkan Dia”

Namun hal ini tidak mengubah kasih-Nya kepada mereka, juga kepada kita. Dia tetap membuktikan bahwa kualitas pribadi seseorang tidak ditentukan oleh orang lain, tapi oleh dirinya sendiri. Kualitas dan harga diri kita tidak ditentukan oleh apakah orang mempedulikan atau mengasihi kita, tapi apakah kita mengasihi atau mempedulikan orang lain. Jadi jika suatu saat Anda diabaikan atau dilupakan orang, tunjukkan kualitas Anda dengan tidak mengabaikan dan melupakan orang lain.

Kesimpulan:

Athazagoraphobia adalah takut diabaikan, tidak dipedulikan dan dilupakan. Jika Anda salah satu penderita Athazagoraphobia, obat bagi Anda adalah:

  1. Ingat bahwa Tuhan tidak pernah melupakan Anda
  2. Tunjukkan kualitas diri Anda dengan membagikan kasih, kepedulian dan perhatian Anda pada orang lain

To Keep My Faith in You


When trouble comes
And my heart becomes too busy
I try to keep my faith in You

When i feel lonely
And no one can even understand
I try to close my eyes
And keeping my faith in You

Even I can’t see You by my side
Or feel Your presence beside me
In my darkest time
I try to keep my faith in You

When problem taking control of my head
And also my heart
When it seems like no one could help me
I try to keep my faith in You

Because I know
I always know
That you are always watching over me
And never leave me alone

The hardest part is not praying nor believing
But to have faith and prove it

And I do really understand
That if I have faith
But I do otherwise
My faith is useless

I do really understand
If I have faith
but I immerse in deep sorrow
My faith is useless

I do really understand
If i have faith
but always say that I am alone
my faith is useless

I do really understand
If i have faith
And say that You are never there and care for me
My faith is useless

I do really understand
If I loose control of myself
And not giving the wheel to You
My faith is useless

Then, Lord
When it seems that the world against me
Or I walk in a dark valley
Teach me to understand
Teach me to keep my faith in You

Teach me to understand
That You always there even I can’t see You
That You always care even I can’t feel You
That sometimes in life
You are just very quiet
To let me try…
To keep my faith in You

Ku Istimewa Link!!


Hello All…

Saya tidak akan berpanjang-panjang di tulisan kali ini. Saya hanya ingin memberitahu semuanya, khususnya yang subscribe blog saya… bahwa sekarang Anda bisa mendownload secara FREE lagu-lagu saya di http://www.kuistimewa.com.

Anda hanya tinggal memilih lagunya, kemudian di sebelah kanan kotak lagu Anda akan menemukan kode “download”, klik saja dan lagu yang Anda inginkan akan segera terdownload.

Saya memutuskan untuk membagi secara gratis lagu-lagu saya karena motivasi awal saya membuat lagu anak memang tidak untuk komersil, dan saya pun tidak mendapat sepeser pun dari lagu-lagu saya sejak tahun 2003… Jadi…. daripada lagu-lagu itu hanya dapat didengarkan oleh sebagian orang yang sanggup membeli CD, lebih saya membagikannya secara cuma-cuma.

Jangan ragu untuk mampir ke web http://www.kuistimewa.com ya….! Oya, jika Anda sempet mendownload, jangan lupa untuk mengisi komentar atau memasukkan data diri Anda di form manapun yang ada di web itu… Beritahu saya kalau Anda mampir, oke?!

Buat adik-adik yang ingin curhat atau cerita, kalian bisa mengisi form di page HOME dan saya pasti akan membalasnya (juga memuatnya di web tersebut)…

So, tunggu apalagi, saya tunggu kehadirannya!

 

Ketika Dia menghampiriku


 

 

Aku berpikir bahwa
Memberi Tuhan segala dosaku
Adalah sebuah tindakan kurang ajar
Aku harus membereskan sendiri dosa-dosaku
Dengan menebusnya sendiri
Dengan berbuat banyak kebaikan

Tapi semakin aku berusaha
Semakin aku berputus asa
Semakin aku tahu bahwa tak mungkin
Tak mungkin menebus kesalahan
Yang tak pernah habis-habis Continue reading