Mengakomodir Kemalasan


Pernahkah Anda makan di restoran cepat saji dan merasa malas cuci tangan? Sebuah rumah makan (atau mungkin lebih tepat disebut cafe) memahami Anda. Mereka menyediakan sarung tangan plastik di setiap meja.

Sarung tangan plastik yang disediakan bukanlah sarung tangan khusus untuk makan. Anda bisa menemukan sarung tangan seperti itu di wadah semir rambut atau dibundling dengan cairan pembersih porselen. Ya, sarung tangan plastik semacam itu.

Ketika makan ke rumah makan itu (yang kebetulan punya seorang teman), saya melihat sebagian besar tamu memilih untuk menggunakan sarung tangan itu untuk makan.

Saya kemudian bertanya kepada teman saya. Ketika kita makan dengan menggunakan tangan, mana yang lebih dikhawatirkan, tangan kita menjadi kotor OLEH makanan, atau makanan itu menjadi kotor oleh tangan kita? Anda bisa menangkap maksud saya bukan?

Saya menanyakan ini juga ketika melihat seorang ibu penjual Kebab pinggir jalan yang menggunakan sarung tangan plastik yang dilepas pakai berkali-kali dan disimpan di tempat yang tidak dapat dijamin kebersihannya. Saya bertanya pada teman saya,”ibu itu mengenakan sarung tangan supaya makanannya tidak kotor atau supaya tangannya tidak kotor?”

Jawaban yang kita harapkan tentunya adalah “untuk menjamin kebersihan makanan yang dia sajikan”, tapi jujur sajalah, kenyataannya adalah “supaya tangannya tidak kotor dan dia tidak perlu repot-repot cuci tangan setiap kali melayani pembeli”

Lucunya, sebuah maksud yang baik, atau setidaknya terlihat baik, seringkali tidak benar-benar membawa kebaikan.

Sebenarnya, jauh lebih aman dan bersih jika Anda menghabiskan beberapa menit berjalan ke wastafel, mencuci tangan dengan sabun, dan kemudian mencucinya lagi setelah Anda makan, daripada Anda menggunakan plastik yang tidak dapat dijamin kebersihan (mungkin saja terkena debu) dan keamanannya (siapa yang tahu reaksi kimia yang terjadi pada plastik yang terkena nasi panas).

Sesuatu yang baik seringkali tidak benar-benar membawa kebaikan. Anda dapat menemukan contohnya dalam sebuah keluarga dimana sang ayah yang sudah tua merupakan perokok berat. Semakin tua seorang pria, biasanya ia akan menjadi cerewet, makin menuntut, dan ingin diperhatikan.. Maka istri dan anak-anaknya biasanya mengabulkan apa saja keinginannya tanpa mempedulikan kesehatannya, termasuk memberinya rokok setiap hari, “asal diberi rokok, dia sudah senang”

Sesuatu yang terlihat baik seringkali tidak benar-benar membawa kebaikan. Jika Anda terus menerus mengabulkan keinginan anak Anda yang mengamuk di pusat perbelanjaan karena ingin diberikan sesuatu… Maka jangan heran jika sampai besar, anak-anak Anda yang memegang otoritas atas Anda.

Seringkali kebaikan didapatkan dari sedikit saja pengorbanan atau kesulitan.

Saya sedang mengalami kesulitan dengan wajah saya 2 tahun belakangan. Iritasi, komedo dan jerawat merupakan sumber masalahnya. Sedikit ekstra perhatian pada kulit mungkin dapat menyembuhkannya, malas sih.. Tapi jika dilakukan, hasilnya akan setimpal…

Dalam kasus anak mengamuk, sedikit rasa malu karena membentak anak di mall mungkin akan setimpal dengan pendidikan karakter yang akan diperoleh buah hati Anda.

Sesuatu yang terlihat baik, belum tentu benar-benar menghasilkan kebaikan… Kebaikan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang eksak: benar atau salah! Sesuatu yang baik belum tentu sesuatu yang benar. Ketika Anda berusaha melakukan sesuatu yang baik, pastikan bahwa yang Anda lakukan itu sudah benar!

Tulisan saya kali ini pendek saja. Intinya, jika Anda orangtua, atau guru atau sahabat atau siapapun yang berusaha melakukan sesuatu yang baik… Pastikan bahwa kebaikan Anda juga adalah “benar”!

Advertisements