Ketika Penyesalan berakhir Maut


Minggu lalu kita baru memperingati Jumat Agung dan merayakan Paskah. Dalam kejadian kematian Kristus, ada suatu peristiwa yang tidak terlalu disukai. Suatu peristiwa horor di antara peristiwa agung yang terjadi di hari Jumat itu. Suatu peristiwa yang bahkan banyak guru sekolah minggu tidak terlalu menyukainya.

Peristiwa itu tercatat hanya satu kali dalam Injil Matius 27:3 – 10. Benar sekali! Kisah bunuh diri… Dilakukan oleh seorang murid yang menyesal karena telah mengkhianati gurunya.

Yudas, seorang yang dipercaya menjadi bendahara, membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh Iblis… Demi 30 keping perak menyerahkan gurunya kepada orang-orang yang membenci-Nya.
image

Ada begitu banyak perdebatan mengenai Yudas. Beberapa beranggapan bahwa Yudas hanya alat dari rencana Tuhan. Bahwa karena Yudas maka rencana pengorbanan Kristus dapat terlaksana. Itulah mengapa muncul Injil Yudas. Sebuah Injil yang menganggap Yudas adalah semacam nabi yang menjadi pelaksana rencana Tuhan.

Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai ‘apa yang terjadi dengan Yudas’. Jika kita mendengar Yudas, apa yang kita rasakan? Simpatik? Kasihan? Kesal, atau benci?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Yudas?

Pertama, kita tahu bahwa Yudas adalah seorang bendahara kelompok. Saya bayangkan dalam kelompok 13 ini, Yudaslah yang mengeluarkan uang ketika mereka selesai makan. Yudaslah yang akan dipanggil oleh Guru ketika mereka harus mengeluarkan atau menerima uang (Yoh 13:29)

Yudas pertama menarik perhatian kita ketika ia mengomentari seorang wanita yang memberikan parfum mahalnya untuk Yesus, “untuk apa pemborosan ini? Bukankah lebih baik jika parfum itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”

Yudas adalah tipe yang lebih mementingkan pekerjaan daripada si pemberi pekerjaan.

Pernahkah Anda menjadi seperti Yudas? Ketika seseorang memberi untuk Tuhan kita menganggapnya “untuk apa semua itu”. Atau pernahkah kita mati-matian bekerja tanpa mempedulikan keinginan Dia, yang memberikan pekerjaan.

Jika kita pernah melakukannya, hati-hati… Mungkin kita sedang terserang gejala awal seperti Yudas.

Kedua, Yudas dikenal sebagai Yudas Iskariot. Beberapa ahli berpendapat bahwa golongan Iskariot adalah golongan yang berniat memberontak kepada Romawi. Mereka muak dengan penjajahan Romawi dan Yudas mungkin berharap Yesus akan datang sebagai kepala rombongan pemberontak.

Namun penantian Yudas rupanya tanpa hasil. Bukannya menghasut rakyat untuk melawan, Dia malah mengajar untuk mengasihi. Bukannya memerintahkan untuk membenci Romawi, Dia malah mengajar untuk mendoakan musuh.

Orang-orang seperti Yudas adalah mereka yang mengharapkan Tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara mereka, bukan cara Tuhan. Orang-orang yang seolah memiliki idealis sendiri dan merasa bahwa idealis itulah yang paling benar.

Pernahkah kita berbuat seperti ini? Ketika kita merasa bahwa apa yang kita rencanakan adalah sempurna, bahkan melebihi rencana Tuhan. Kemudian kita mulai marah ketika ternyata rencana Tuhan berbeda dengan rencana kita. Kita merasa “saya sudah capek-capek kok hasilnya begini”, dan akhirnya kita keluar sebagai orang yang lelah.

Jika Anda pernah merasakan itu, hati-hati… Mungkin Anda terserang gejala Yudas juga.

Ketiga,… Saya ingin mengajak Anda membaca:

Lukas 22:3-6 Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.

Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.

Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya.

Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

Di bagian lain ditulis seperti ini:

Yohanes 13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Ketiga, Yudas membiarkan dirinya digerakkan oleh Iblis. Dari sekian banyak murid Kristus, Iblis memilih untuk membisiki hati Yudas, dan… Yudas merespon pada bisikan ini.

Pertanyaan mendasar adalah, kenapa Yudas?

Saya pikir Iblis tidak asal pilih. Bukankah Iblis seperti singa yang berkeliling mencari orang yang dapat ditelannya? (I Petrus 5:8). Iblis melihat dari 12 murid yang ada, Yudas adalah sasaran empuk yang dapat ditelan. Mengapa?
Sederhana! Karena ia memiliki keraguan kepada Tuhan.

Seseorang dengan mudah dipengaruhi Iblis ketika imannya goyah. Itulah sebabnya iman begitu penting bagi anak-anak Tuhan.

Setiap kita mungkin pernah mengalami goyah iman, seperti Yudas. Ketika kita meragukan Tuhan, makin besar peluang kita mengikuti bisikan Iblis. Harap dicatat, saya tidak mengatakan dibisiki Iblis, tapi mengikuti bisikan Iblis.

Mungkin saja Iblis salah sasaran, berbisik sekedar untuk mencobai. Pada titik ini, setiap kita memiliki pilihan… Untuk mengikuti bisikan Iblis, atau untuk mengusirnya. Yudas mengikuti teladan Hawa, mengikuti bisikan Iblis.

Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih penting, keraguan pada Tuhan dan kekecewaan karena harapannya tidak dipenuhi merupakan modal yang cukup bagi Yudas untuk merespon bisikan Iblis dan menyerahkan Yesus dengan 30 keping perak.
image

Menurut Anda, jika Yudas menolak bisikan Iblis, akankah Yesus tetap disalibkan? Dengan sangat yakin saya akan menjawab YA! Tapi mungkin Yudas dapat menyelamatkan dirinya.

Namun, anggaplah Yudas sudah terlanjur dan dia tidak dapat mundur. Apa dia masih memiliki kesempatan?

Kita masuk pada poin berikutnya. Ketika Yudas melihat bahwa Gurunya disiksa sedemikian rupa sampai mati, ia menyesal.

Kita pasti sering mendengar kalimat “penyesalan datang belakangan” dan “tidak ada gunanya menyesal.” Benar, penyesalan datang belakangan, tapi bukan berarti bahwa menyesal itu tidak ada gunanya. Penyesalan memang tidak akan mengubah keadaan yang sudah lewat, tapi mungkin menentukan keadaan berikutnya.

Petrus menyesal setelah ia menyangkali Yesus. Namun dia melakukan hal yang benar: dia menangis dengan sedihnya (Matius 26:75). Menangis adalah pertolongan pertama bagi penyesalan. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk mengambil nafas sebelum keputusan berikutnya. Menangis memberikan waktu bagi hati yang menyesal untuk tidak gelap mata.

Setelah menangis, Petrus menanti… Dia menunggu… Sampai sebuah kabar menggetarkan hatinya “beritahukan pada murid-murid, dan juga kepada Petrus…Ia mendahului kami ke Galilea”

Petrus bertahan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dia, yang berhak mengampuni dosa. Akibatnya? Tuhan memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya dan dia mengakhiri hidupnya dengan gemilang sebagai rasul yang luar biasa.

Yudas menyesal ketika melihat Yesus mati, dan dia memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri. Sama seperti dia menganggap bahwa rencananya lebih baik dari rencana Tuhan… Demikian dia merasa bahwa caranya menyelesaikan penyesalan lebih baik dari cara Tuhan menyelesaikannya.

Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali akan mengampuninya. Dia tidak yakin bahwa Tuhan yang berfirman mengenai “berdoa dan mengasihi mereka yang menganiaya kamu” akan mengasihinya.
Dan dia memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri menyelesaikan masalahnya: mengembalikan pembayarannya dan gantung diri…
image

Petrus dan Yudas, keduanya sama-sama menyesal, namun yang satu mengakhiri penyesalannya dengan berbalik kepada Tuhan dan menyerahkannya pada kedaulatan Tuhan, yang lain mengakhiri penyesalannya dengan caranya sendiri.

Saudara, kita mungkin pernah melakukan apa yang Yudas lakukan. Kita melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali dengan luar biasa. Ingatlah satu hal, penyesalan mungkin datang belakangan, namun jika direspon dengan tepat maka kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit lagi dan memulainya dari awal.

Tidak Sia-sia


Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin hanya akan ada kubur
Serta beberapa pelayat
Yang berziarah tiap tahun

Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin hanya ada keraguan
Apakah yang dikatakan-Nya adalah kiasan
Atau sekedar omong besar

Jika saja Dia tidak bangkit
Mungkin Dia hanya akan dikenang
Sebagai nabi yang mati
Dihukum tanpa kesalahan
Mengaku diriNya Tuhan tanpa bukti

Jika saja Dia tidak bangkit,
Tak perlu kita mempercayai-Nya
Karena seluruh perkataan-Nya pasti dusta
Karena seluruh janji-Nya pasti palsu

Jika saja Dia tidak bangkit
Tentu kita masih meratap
Menanti lahirnya Juruselamat
Seperti dijanjikan oleh Sang Kuasa

Jika saja Dia tidak bangkit
Maka kita masih terikat dalam dosa
Berusaha membebaskan diri tanpa hasil
Terbelenggu…
Terjajah…
Sia-sia

Tapi yang benar adalah…
Dia telah bangkit
Membuktikan bahwa Tuhan berkuasa atas kematian
Membuktikan bahwa Dia mengalahkan maut
Membuktikan bahwa Dia tak berdusta
Membuktikan bahwa Dia layak menerima kepercayaan sepenuhnya
Membuktikan bahwa Dia berkuasa
Membuktikan bahwa kita dapat mengikuti Dia
…yang dibangkitkan dari antara orang mati
Membuktikan bahwa iman kita tidak sia-sia

Selamat Paskah!
Karena dengan kematian Kristus
Kita semua terbebas dari maut
Dan dengan kebangkitan-Nya
Kita memiliki pengharapan untuk hidup kekal

Dari I Korintus 15:14,20

Manusia yang menjadi anjing dan robot yang menjadi manusia


Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis resume film Unleashed (Danny the Dog) yang saya tonton di TV beberapa minggu yang lalu, namun waktu dan kesibukan yang padat membuat saya terus menerus menundanya. Ketika sekarang saya ingin menuliskannya, beberapa bagian pastinya sudah lepas dari ingatan saya.

Hal yang menggelitik saya menuliskan ini hari ini asalah ketika kemarin saya menonton Solo, sebuah film yang dibuat tahun 1996. Secara jalan cerita ‘Solo’ tentunya jauh berbeda dengan Danny the Dog. Namun inti dari kedua film ini begitu berkaitan dan bertolak belakang.

image

Danny the Dog atau Unleashed berkisah tentang Danny (diperankan oleh Jet Lee), seorang pemuda yang dibesarkan seperti seekor anjing oleh Bos Mafia. Kamarnya adalah kandang yang atapnya sejajar dengan lantai tempat Bos berpijak.

Danny tidak memiliki pilihan lain dalam hidupnya sejak ibunya dibunuh. Ia dibuat lupa dengan kejadian pembunuhan ibunya, dan dijadikan senjata tuannya, si Bos Mafia. Danny dipasangi kalung seperti anjing dan akan menjadi penyerang berbahaya ketika kalung itu dilepas oleh Sang Bos dan diberi perintah menyerang, namun sangat jinak ketika kalung itu tetap terpasang.

Danny adalah manusia yang dimatikan emosinya, artinya Sang Bos ingin Danny tidak memiliki belas kasihan, tidak mengerti arti sedih, marah, atau bahagia dan tidak memiliki keinginan apapun.

Masalah utama dimulai ketika sebuah kecelakaan membuat Danny merasa Bosnya meninggal dan dia bebas. Seorang ahli tuning piano membantunya. Ia dan anak tirinya perlahan-lahan memberi arti ‘menjadi manusia’ pada Danny. Danny belajar bermain piano, belajar tentang arti  menolong orang, makan es krim, belajar tentang sehingga akhirnya mau melepas kalung anjing yang ada di lehernya.

Ketika ia akhirnya bertemu lagi dengan Bosnya yang ternyata masih hidup, ia dapat membuat keputusan manusiawi, seperti tidak mau membunuh dan menyerang orang lain dan memiliki keinginan untuk mencari jati dirinya.

Anda bisa melihat review film yang saya beri acungan 4 jempol ini di internet atau mencari DVD nya untuk ditonton.

Inti dari film ini adalah manusia jika emosinya tidak dipelihara, maka dia akan menjadi sama dengan binatang… Emosi berkaitan dengan jiwa dan akal budi. Itu sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi Dia dengan segenap jiwa, kekuatan dan akal budi… Karena manusia memang diperlengkapi dengan semua itu.

image

Bandingkan dengan Solo, dalam film Solo yang dirilis tahun 1996. Seorang senjata menyerupai manusia yang dapat menyimpan memori. Ia tidak memiliki memori dan bertindak berdasarkan perintah komputer, namun memorinya yang luar biasa memungkinkan ia berkomunikasi dengan manusia seperti halnya manusia normal.

Ia merupakan senjata dengan kekuatan 15 kali kekuatan manusia terlatih dan kecepatan 10 kali kekuatan manusia terlatih. Hanya melakukan apa yanh diperintahkan, dan tidak memiliki belas kasihan…

Hingga suatu saat dia tidak melakukan apa yang diperintahkan, membunuh orang-orang tak bersenjata. Tidak hanya itu, Solo malah melindungi mereka.

Solo tidak memiliki belas kasihan, namun memori yang pernah ia tangkap mengenai menyerang warga sipil dan orang tak bersenjata membuatnya melakukan hal itu.

Hal ini membuat pemiliknya, angkatan bersenjata US merasa bahwa ada kerusakan dalak program Solo. Jadi ia memerintahkan programmer dan pencipta Solo untuk menghapus memorinya, meresetnya kembali ke kondisi awal saat ia diciptakan.

Solo yang mengetahui hal ini memberi perintah pada dirinya sendiri untuk mempertahankan diri, karena ia merasa bahwa memory adalah hal yang sangat penting baginya.

Solo melarikan diri dan ditemukan oleh seorang anak di salah satu perkampungan yang seringkali diserang pemberontak, kemudian membantu mereka mempertahankan diri.

Anda juga dapat membaca reviewnya di internet atau membeli DVDnya. Satu hal yang saya sukai adalah ketika Solo berkata pada seorang wanita kampung setempat bahwa ia tidak memiliki emosi, itu yang membuatnya hanya sekedar ‘ada’, tapi tidak hidup.

Emosi mencakup keinginan, kehendak dan belas kasihan. Bagi saya, Solo lebih hidup dari manusia saat ini karena memorinya dapat membuat ia menunjukkan kebaikan walau tanpa belas kasihan, perjuangan walau tanpa kehendak.

Kejadian begal motor dengan pembunuhan membuat kita berpikir ulang tentang definisi manusia, seolah ada spesies lain menyerupai manusia yang tak memiliki emosi dan akal budi. Spesiea yang bahkan lebih rendah dari hewan mamalia yang tak akan menyakiti sesamanya tanpa sebab.

Saudara yang kebetulan membaca tulisan saya sampai akhir, mari kita hargai hal terpenting yang Tuhan berikan pada kita… Emosi dan akal budi… Mari berbelas kasihan, mari berpikir sebelum bertindak, mari saling mengasihi… Karena tanpa itu, kita lebih rendah dari anjing.

I am 33 and feel “nothing”


Greissia's avatarGreissia Personal Diary

Beberapa orang sekedar mampir dalam kehidupan…
Hadir dalam kelahiran
Pulang dalam kematian
Menjalani antaranya tanpa keyakinan
Seolah hidup mengikuti aliran air

Beberapa orang menyesali kehidupan…
Hadir dalam kelahiran
Melarikan diri dalam kematian
Menjalani antaranya dengan berat hati
Seolah hidup adalah hukuman Sang Pencipta

Mereka pikir hidup ini tak adil
Kejam karena menjadikan mereka mangsa
Tragis karena menjadikan mereka korban
Lelah dengan masalah bertubi-tubi

Beberapa orang menghamburkan kehidupan
Hadir dalam kelahiran
Tak menyadari kematian akan menjemput
Menjalani antaranya dengan kesenangan
Tanpa makna…

Mereka pikir hidup hanya sekali
Patut diisi kesenangan dan kebahagiaan
Namun makin mereka berusaha
Kebahagiaan lari menjauh

Beberapa orang membenci kehidupan
Hadir dalam kelahiran
Menantikan kematian
Menjalani antaranya dengan terpaksa
Seolah hidup hanyalah rangkaian ujian

Mereka pikir hidup adalah hukuman
Mereka berbuat baik karena terpaksa
Menghindari neraka tak berujung
Namun makin mereka berusaha
Makin putus asa mereka jadinya

Beberapa orang memaknai kehidupan
Hadir dalam kelahiran
Bersiap dengan kematian
Menapakkan…

View original post 148 more words

Gembala kambing


Sebagai orang Kristen, kita lebih sering mendengar istilah gembala domba daripada gembala kambing. Jika Anda sedang main “tebak profesi”, maka gembala kambing dan gembala domba akan dianggap sama saja. Sama-sama gembala ternak yang bunyinya mengembik. Lagipula, tidak banyak yang bisa membedakan rasa daging kambing dan domba.

Tahukah Anda apa beda kambing dan domba selain dari bentuknya. Apakah diantara Anda ada yang tidak bisa membedakan kambinh dan domba? Baik, saya akan beri sedikit gambaran. Domba memiliki bulu lebat yang dapat dibuat menjadi wol, sedangkan kambing memiliki janggut di bawah mulutnya.

image

Kambing adalah binatang yang rajin. Mereka mandiri, dapat mencari makan sendiri dan memiliki ekor tegang seolah selalu siaga. Jika Anda menggembalakan kambing, Anda harus berjalan di belakang mereka karena sifat mereka yang aktif dan suka mencari jalan sendiri.

image

Kambing tidak suka berada di kerumunan. Mereka adalah bintang penasaran yang selalu ingin tahu. Gembala kambing harus berjalan di belakang untuk mengikuti kehendak dan keingintahuan sang kambing jika tidak ingin kehilangan.

Sementara itu, domba adalah binatang inferior bodoh yang tidak suka sendirian. Mereka suka berada di kerumunan, malas, dan bahkan tidak dapat memiliki inisiatif mencari makan sendiri.

Domba cenderung melangkah kemana saja sang gembala melangkah dan mereka akan berjalan bersama-sama, dengan lambat, dalam kerumunan para domba.  Karena mereka tinggal dalam kerumunan, resiko berkelahi menjadi besar dan gembala bertugas melerai dan mengobati luka yang ditimbulkannya.

Jika Anda seorang gembala domba, Anda harus berjalan di depan, paling tidak di antara mereka… Untuk memastikan mereka melihat dan mengikuti Anda.

image

Domba tidak memiliki keinginan, ia bahkan tak dapat berbuat apa-apa jika bulu di tubuhnya terlalu berat. Mereka benar-benar mengandalkan gembala mereka untuk menuntun, menggunting bulu, meminyaki, mengobati, menjaga mereka, bahkan melerai pertengkaran mereka.

Jika Anda orangtua jaman sekarang, saya yakin Anda lebih suka anak Anda berperilaku seperti kambing daripada domba, bukan begitu? Tidak merepotkan selama keinginan mereka terpenuhi, mandiri, cerdas… Orangtua manapun akan malas memiliki anak bodoh seperti domba, tidak mandiri, mengikut saja dan rentan.

Tapi lucunya, Alkitab kita menulis, Tuhan lebih suka pengikutnya seperti domba daripada kambing. Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai gembala domba, dan bukan gembala kambing.

Hal yang lebih lucu adalah, banyak gembala jemaat, guru-guru dan juga orangtua saat ini menganggap jemaatnya sebagai kambing daripada domba. Persaingan lapang rumput membuat gembala mengikuti keinginan kambing dan alih-alih menyediakan apa yang dibutuhkan, malah apa yang diinginkan.

Sibuknya jadwal dan kemajuan jaman membuat gembala mempersilahkan ternaknya mandiri… Tidak perlu ada luka yang diobati, beban yang digunting, konflik yang diselesaikan… Lebih mudah menjadi gembala kambing daripada gembala domba, bukan begitu?

Akhir minggu kemarin saya berada di SD Ekklesia Cikarang, senang sekali melihat guru-guru yang menyadari tugasnya sebagai gembala domba. Mengagumkan melihat guru yang menegur anak menjawab “heeh” dan memintanya mengganti dengan “iya, miss”.

Para pendidik Kristen, memang menyenangkan menjadi gembala kambing, tapi bukan itu panggilan Tuhan dalam hidup kita… Semoga renungan sore ini bermanfaat… See u

Ketika Kau Memanggilku


Tuhan,
Ketika Kau tiba-tiba saja memanggilku
Dalam peristiwa tak terbayangkan
Atau penyakit tak terkira

Ketika Kau tiba-tiba saja memanggilku
Tanpa pemberitahuan
Tanpa peringatan

Ketika Kau tiba-tiba saja memanggilku
Di hari yang cerah,
Atau malam yang dingin,
Dalam keadaan sehat,
…atau sakit

Aku ingin hatiku siap…
MenyongsongMu…
Tanpa ketakutan,
Tanpa kekuatiran,

Aku ingin keluargaku tak menangis…
Mengingatku dalam senyum,
Mengenangku dalam kehidupan indah,
Melihat setiap jejak yang kutinggalkan dan berbangga…

Tuhanku,
Saat kematian datang menjemput
Saat tugasku di dunia telah selesai
Saat Kau merasa bahwa tiba waktuku dalam keabadian

Aku ingin meraih tangan-Mu
Aku ingin memandang wajah-Mu
Aku ingin melihat senyum-Mu
Aku ingin mendengar suara-Mu
Saat Kau berbisik,
“Selamat datang dalam kebahagiaan Tuanmu
Tugasmu sudah selesai…”

Karena bukankah bagiku hidup adalah Kristus,
Dan mati adalah keuntungan…
Karena aku akan berdiam
Dalam Rumah Tuhan sepanjang masa

-special for families of all passenger Air Asia QZ8501- may your beloved one rest in peace –

Key to your heart


I remember the old times
When we always argued about almost everything
When I turned my face and ran into my room
When I was too arrogant to admit that I was wrong

I remember the old times
When I saw you as my enemy
Closed my mouth and refused to talk to you
Had a fight between pride and shame
Waiting for you to talked to me first

I remember the old times
When you punished me and hit me
And heal me at night
Maybe you cried
Maybe you feel sorry
But I surely know…
…you love me

I remember the old times
When you promised us…
To take us to the restaurant
If we get achievement at school
You accompanied us when we studied
And you keep your promise

I keep making mistake day by day
And I am always forgiven
And always be loved

As I have key to going home everyday I want to…
I always have key to your heart…
Ups No… I always in your heart…
As you always in my heart
Happy mothers day, Mama
And happy 62th birthday…

Christmas Season is Coming


Terlepas dari tidak adanya perintah merayakan Natal, dan isu-isu lainnya seputar Natal yang pernah saya tuliskan pada tahun-tahun sebelumnya, melalui tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan kegembiraan saya bahwa akhirnya Musim Natal sudah tiba.

Musim yang memiliki kontroversinya sendiri karena dianggap hanya milik satu agama saja. Musim yang indah buat mereka yang berada di bagian utara bumi karena turunnya salju dan mereka melihat warna putih di mana-mana. Musim yang juga indah buat mereka yang berada di bagian selatan bumi karena merasakan liburan dengan hangatnya sinar matahari musim panas. Musim yang tidak terlalu indah buat mereka yang berada di negara seperti kita, Indonesia…

Walau demikian, saya tetap menyukai bulan Desember. Bulan yang tidak mempedulikan mayoritas atau minoritas, menghiasi mall dan beberapa tempat umum dengan pohon tinggi indah dan hiasan warna-warni yang mencerahkan mata. Silahkan mengganti kata “Christmas” dengan “Holiday”, kami umat Kristen sama sekali tidak peduli… toh kami semua sudah mengakui dan bersukacita sepanjang tahun karena kerelaan Pencipta Alam Semesta untuk lahir ke dunia dan menjadi sama dengan manusia.

Saya menyukai bulan Desember karena bulan ini merupakan akhir dari sebuah babak panjang dalam kehidupan. Sama seperti peserta hiking yang melihat tempat peristirahatan yang menyediakan air jeruk segar sebelum melanjutkan perjalanan panjang lagi. Ketika setiap keluarga memiliki waktu cukup panjang untuk bersama dan berlibur, dan bersama-sama menyambut babak baru dalam kehidupan.

Saya menyukai bulan Desember karena bulan ini penuh dengan siraman hujan seolah membersihkan kesalahan di tahun ini dan mempersiapkan kita untuk berjuang lagi di tahun yang akan datang. Walaupun saya membenci hujan, namun suasana sejuk di kota Bandung dengan genangan air di mana-mana memberikan tambahan kegembiraan sendiri di bulan Desember.

Mungkin semakin usia kita bertambah, kita memaknai kehidupan dengan cara yang berbeda. Tahun ini, saya begitu menyukai bulan Desember. Begitu banyaknya kesibukan di bulan ini yang begitu bervariasi (mulai dari urusan konsultan manajemen sampai kotbah di acara Natal Anak) tidak menyurutkan kegairahan saya akan kedatangan bulan Desember.

Selamat datang Christmas Season… Musim Natal. Musim di mana sebagian umat di bumi merayakan dengan saling memberi untuk mengingat bahwa Pencipta telah memberi mereka hidup-Nya sendiri. Musim di mana sebagian umat di bumi merayakan bersama orang yang mereka kasihi untuk memperingati kedatangan Pencipta ke dunia untuk bisa bersama kita yang Dia kasihi. Musim di mana pohon dan warna-warni hiasan Natal dipasang untuk merayakan pesta peringatan kelahiran Dia yang membawa sukacita dan kehidupan baru.

Musim di mana sebagian umat merayakan kelahiran Raja Damai… Pendamai antara manusia dengan Tuhan yang lahir di tengah-tengah umat kesayangan-Nya.

Selamat Natal… bagi-Mu Tuhan telah lahir… !

 

 

Happy 37th Anniversary Papa and Mama


Pernikahan adalah…
Suatu keputusan untuk memulai…
Dan banyak keputusan untuk menjalani…
…sampai akhir

Sebuah perjalanan yang terus maju…
Perjalanan suci yang direstui Tuhan…
Tak ada kata untuk mundur…
Hingga maut memisahkan

Setidaknya itu yang kalian ajarkan
…dan tunjukkan

Saat perbedaan pendapat bukan masalah
Saat otoritas dibagi
Saat masalah dirundingkan
Saat keputusan dibuat

Aku belajar dari Papa dan Mana
Bahwa kasih bukanlah akibat…
Kasih adalah keputusan…
Keputusan untuk bersabar,
Keputusan untuk berbagi,
Keputusan untuk berkorban,
Keputusan untuk rendah hati,
Keputusan untuk menerima segala sesuatu
Keputusan untuk menutupi segala sesuatu
Keputusan untuk mengharapkan segala sesuatu..

Terimakasih karena telah menjadi orangtua yang luar biasa
Terimakasih karena melewatkan 5 tahun tanpa anak dan tak menyerah
Terimakasih buat keputusan untuk mengasihi satu dengan yang lain…
…dan keputusan mengasihi kami
Terimakasih karena memberikan keluarga yang hebat
Terimakasih karena membuat banyak keputusan penting yang berharga
Terimakasih karena mengajarkan arti cinta tanpa syarat
Terimakasih buat semuanya

Selamat merayakan 37 tahun kebersamaan yang luar biasa!

Sekali lagi,

Terimakasih untuk cinta…
Terimakasih ‘tuk keluarga yang indah…
Ku temukan kasih Tuhan dalam Papa-Mama
Setiap hari ku bersyukur pada Tuhan
Untuk keluarga yang Indah…
Papa, Mama,… Kalian yang terbaik!

Nasib


Kita sering mendengar kata “nasib”, atau “takdir”. KBBI mendefinisikan “nasib” sebagai “Sesuatu yang ditentukan Tuhan”. Jika saya boleh menyingkatnya, saya akan menuliskan bahwa takdir adalah “kedaulatan Tuhan”.

Beberapa minggu ini entah kenapa kata “nasib” terngiang di pikiran saya. Sejak saya melihat berita di TV tentang sebuah mobil yang sedang mengantri keluar dari tol di Jawa Timur secara tiba-tiba dari belakangnya. Anda bisa melihat videonya di bawah ini:

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=beWsoJ5nLD8]

Saya tidak dapat membayangkan apa yang ada di pikiran keluarga dari pengendara Jazz Pink yang tiba-tiba saja tertabrak dari arah belakang saat mobilnya dalam posisi diam. Mereka tentu menangis dan bertanya “kenapa Tuhan” atau “apa yang salah”.

Berbeda dengan mereka yang meninggal memang karena ugal-ugalan atau karena bunuh diri atau karena berkelahi. Korban kematian karena kecelakaan yang tidak disangka-sangka makin menyadarkan kita bahwa kematian adalah kedaulatan Tuhan.

Saat menonton berita di atas, saya baru saja tiba dari perjalanan Jakarta-Bandung, di malam hari dan saya yang menyetir sendiri. Kondisi mata saya yang minus besar dan silindris membuat saya sekali-sekali mengalami kesulitan melihat kendaraan di depan saya. Namun Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk tiba di rumah dengan selamat.

Pemikiran mengenai nasib ini tiba-tiba datang lagi saat tadi saya sedang menunggu lampu merah di perempatan Soekarno Hatta – Batununggal. Mobil di kiri saya, Livina abu-abu yang juga sedang berhenti menunggu lampu merah tiba-tiba saja ditabrak dari belakang oleh sebuah motor (saya sendiri tidak tahu kronologisnya mengapa si pengendara motor sampai bisa menabrak mobil itu). Mobil itu mengalami kerusakan cukup parah karena kaca belakangnya sampai pecah dan badan mobil belakang penyok luar biasa (hampir seperti ditabrak oleh mobil).

Saya bukannya bersyukur karena hal itu tidak menimpa saya (karena seperti saya katakan, saya berpendapat bahwa adalah hal yang kejam jika kita bersyukur atas suatu hal buruk yang tidak menimpa kita tapi menimpa orang lain). Saya hanya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika itu terjadi pada saya.

Kemudian pemikiran saya mulai melompat-lompat dari satu topik ke topik lainnya. Sebagai orang Kristen seringkali kita menghakimi orang yang mengalami hal buruk dengan kata “kurang berdoa” atau “hukuman Tuhan”. Saya bukannya hendak menyepelekan berdoa. Namun pertanyaan yang mengganggu benak saya adalah, “jika doa dapat meluputkan kita dari masalah, apakah berarti orang yang mendapat masalah adalah SELALU orang yang tidak pernah berdoa?”.

Seringkali kita menyebut ketidakberuntungan sebagai “nasib buruk”. Jika “nasib” adalah kedaulatan Tuhan, maka apakah jika sesuatu yang buruk terjadi pada kita maka artinya Tuhan sedang menghukum kita?

Dalam kitab Mazmur, kita sering membaca bagaimana Daud minta diluputkan Tuhan dari masalah dan dilepaskan dari musuh-musuhnya. Bagian dari Mazmur yang saya akan ajak Anda untuk membahasnya bersama adalah Mazmur 27:2-6

Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.

Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.

Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.

Nasib buruk bukanlah ketika penjahat menyerang, namun nasib buruk yang sesungguhnya adalah ketika Tuhan memutuskan untuk meninggalkan kita. Nasib buruk bukanlah ketika tentara berkemah mengepung kita, namun ketika ketakutan dan keraguan akan Tuhan itu datang.

Saya suka nyanyian Daud di atas. Seolah dia hendak mengatakan bahwa, “Hei! kita tidak bisa berharap kepada musuh, tapi kita bisa berharap kepada Tuhan”.

Satu pelajaran mengenai nasib yang saya pelajari hari ini adalah, kita tidak bisa berharap pada masalah (“masalah jangan datang dong”), dan kita juga tidak berhak meminta Tuhan menjauhkan masalah dari kita (bisa saja masalah itu merupakan ujian atau sesuatu yang terjadi karena kesalahan kita). Kita juga tidak bisa berdoa agar Tuhan menjauhkan kematian (karena hidup dan mati adalah kedaulatan Tuhan).

Satu hal yang bisa kita lakukan adalah meminta Tuhan memberi kita kekuatan. Kekuatan ketika kita harus menghadapi masalah. Kekuatan untuk menegakkan kepala kita dan mengatasi setiap masalah yang ada di sekeliling kita. Kekuatan untuk tetap menjaga iman dan percaya kita kepada Tuhan. Kekuatan untuk tetap bersyukur, menyanyi dan bermazmur pada Tuhan bahkan saat masalah menghimpit kita.