Christmas Season is Coming


Terlepas dari tidak adanya perintah merayakan Natal, dan isu-isu lainnya seputar Natal yang pernah saya tuliskan pada tahun-tahun sebelumnya, melalui tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan kegembiraan saya bahwa akhirnya Musim Natal sudah tiba.

Musim yang memiliki kontroversinya sendiri karena dianggap hanya milik satu agama saja. Musim yang indah buat mereka yang berada di bagian utara bumi karena turunnya salju dan mereka melihat warna putih di mana-mana. Musim yang juga indah buat mereka yang berada di bagian selatan bumi karena merasakan liburan dengan hangatnya sinar matahari musim panas. Musim yang tidak terlalu indah buat mereka yang berada di negara seperti kita, Indonesia…

Walau demikian, saya tetap menyukai bulan Desember. Bulan yang tidak mempedulikan mayoritas atau minoritas, menghiasi mall dan beberapa tempat umum dengan pohon tinggi indah dan hiasan warna-warni yang mencerahkan mata. Silahkan mengganti kata “Christmas” dengan “Holiday”, kami umat Kristen sama sekali tidak peduli… toh kami semua sudah mengakui dan bersukacita sepanjang tahun karena kerelaan Pencipta Alam Semesta untuk lahir ke dunia dan menjadi sama dengan manusia.

Saya menyukai bulan Desember karena bulan ini merupakan akhir dari sebuah babak panjang dalam kehidupan. Sama seperti peserta hiking yang melihat tempat peristirahatan yang menyediakan air jeruk segar sebelum melanjutkan perjalanan panjang lagi. Ketika setiap keluarga memiliki waktu cukup panjang untuk bersama dan berlibur, dan bersama-sama menyambut babak baru dalam kehidupan.

Saya menyukai bulan Desember karena bulan ini penuh dengan siraman hujan seolah membersihkan kesalahan di tahun ini dan mempersiapkan kita untuk berjuang lagi di tahun yang akan datang. Walaupun saya membenci hujan, namun suasana sejuk di kota Bandung dengan genangan air di mana-mana memberikan tambahan kegembiraan sendiri di bulan Desember.

Mungkin semakin usia kita bertambah, kita memaknai kehidupan dengan cara yang berbeda. Tahun ini, saya begitu menyukai bulan Desember. Begitu banyaknya kesibukan di bulan ini yang begitu bervariasi (mulai dari urusan konsultan manajemen sampai kotbah di acara Natal Anak) tidak menyurutkan kegairahan saya akan kedatangan bulan Desember.

Selamat datang Christmas Season… Musim Natal. Musim di mana sebagian umat di bumi merayakan dengan saling memberi untuk mengingat bahwa Pencipta telah memberi mereka hidup-Nya sendiri. Musim di mana sebagian umat di bumi merayakan bersama orang yang mereka kasihi untuk memperingati kedatangan Pencipta ke dunia untuk bisa bersama kita yang Dia kasihi. Musim di mana pohon dan warna-warni hiasan Natal dipasang untuk merayakan pesta peringatan kelahiran Dia yang membawa sukacita dan kehidupan baru.

Musim di mana sebagian umat merayakan kelahiran Raja Damai… Pendamai antara manusia dengan Tuhan yang lahir di tengah-tengah umat kesayangan-Nya.

Selamat Natal… bagi-Mu Tuhan telah lahir… !

 

 

Pro dan kontra Natal


image

Entah sejak kapan begitu banyak pro kontra mengenai Hari Natal. Sebagian gereja menolak merayakan Natal karena menurut mereka Natal merupakan budaya pagan, dan bahkan Yesus sendiri tidak meminta pengikut-Nya untuk merayakan kelahiran-Nya. Sebagian gereja lagi merayakannya besar-besaran, menghabiskan dana ratusan juta untuk dekor dan hadiah sekolah minggu.

Mana yang benar?

Sebelum abad ke 4, hari raya utama gereja adalah Paskah. Namun sejak abad ke 4, gereja (saat itu dikuasai Katolik Roma) memutuskan untuk merayakan kelahiran Yesus. Namun karena Alkitab tidak memberi tanggal pastinya, maka Paus Julius 1 memutuskan 25 Desember sebagai hari Natal. Diyakini bahwa Paus melakukannya karena mengadopsi perayaan pagan untuk menghormati Saturnalia dan merayakan ulangtahun Mithra, dewa matahari.

Mau tahu ceritanya? Mari terus lanjutkan membaca… Continue reading

Apakah Yesus Lahir di Kandang?


Menjelang Natal, saya berencana menulis lagi rangkaian diary series Christmas Edition. Saya berpikir mengenai orang yang memiliki tempat di mana Yesus dilahirkan. Apakah itu kandang?

Sejak kita sekolah minggu, kita diajar bahwa Yesus lahir di kandang hewan karena kemalaman dan tidak mendapatkan tempat di penginapan (Lukas 2:7). Namun hal yang mencengangkan saya beberapa hari belakangan adalah, tidak ada tertulis sama sekali di bagian manapun dalam Alkitab bahwa Yesus dilahirkan di kandang binatang. Nubuat hanya menceritakan bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, sebuah kota kecil. Kisah mengenai kelahiran hanya mencatat bahwa Yesus dibaringkan di palungan dan dibungkus lampin.

Hal ini menimbulkan begitu banyak pertanyaan bagi saya. Apakah setega itu masyarakat Betlehem menerima warganya yang sedang mengunjungi tanah asalnya? Apakah tidak ada rasa kemanusiaan sedikitpun dari pemilik penginapan melihat wanita yang sedang akan melahirkan? Apakah mungkin seseorang menawarkan kandangnya sebagai ganti kamar di penginapan? Continue reading