Apa itu Bahagia?


Apa itu bahagia?

Apakah bahagia itu…
…ketika kau mendengar sesuatu yang lucu?
Atau ketika kau melihat sesuatu yang menyenangkan?
Atau ketika kau makan makanan yang kau sukai?
Atau ketika kau dapat melakukan apapun yang kau suka?

Apakah bahagia itu…
…ketika kau tak marah?
Atau ketika kau tak sedih,
Atau ketika kau tak kecewa,
Atau ketika kau tau patah hati?

Apakah bahagia itu…
…ketika kau lebih baik dari orang lain?Atau ketika kau lebih unggul dari orang lain?
Atau ketika kau merasa menjadi nomor satu?
Atau ketika kau merasa menang?

Apakah bahagia itu…
…ketika kau merasa ada yang menyayangimu?
Atau ketika kau bersama orang yang kau cintai?
Atau ketika ada yang mengatakan bahwa dia mencintaimu?

Apakah bahagia itu…
…ketika kau tak kekurangan?
Atau ketika kau mendapatkan apa yang kau inginkan?
Atau ketika kau mencapai apa yang kau cita-citakan?
Atau ketika kau beruntung?

Apa itu bahagia?

Bukan lagi Pahlawanmu


Untuk anak perempuanku,

Anakku,
Ketika aku menggandeng tanganmu menuju pelaminan,
Kemudian menyerahkanmu pada pria muda itu,
Aku menyadari bahwa aku bukan lagi satu-satunya pria dalam hidupmu
Aku bukan lagi pahlawanmu

Aku menyadari,
Ketika aku menggandeng tanganmu saat itu,
Aku bukan lagi pria yang menjagamu,
Aku bukan lagi pria yang bertanggung jawab atasmu,
Aku bukan lagi kepala bagimu

Anakku,
Kini pria muda itulah pahlawanmu,
Dialah pria yang akan menjagamu,
Dialah pria yang bertanggungjawab atasmu,
Dialah kepala rumah tanggamu

Aku menyerahkan otoritasku atasmu kepadanya,
Tunduklah padanya,
Hormati dia,
Jadilah teman yang sepadan baginya

Namun anakku,
Aku tetap di sini,
Kunjungi kami sewaktu-waktu,
Kau dan suamimu,
dan cucuku jika Tuhan memberi
Mari kita saling berbagi kisah indah

Tapi simpanlah segala pertengkaran,
Simpanlah segala keluh kesah,
Selesaikanlah berdua,
Tak perlu melibatkan kami
Karena aku menyerahkanmu bukan hanya pada suamimu,
Tapi pada Tuhan…
Libatkan Dia

Anakku,
Berbahagialah,
Aku tetap sahabatmu selamanya
Aku tetap papamu selamanya
Walau bukan lagi pahlawanmu
Walau bukan lagi tanganku yang akan kau gandeng

Hey Boy


Hey sayang,
Tak sabar bertemu denganmu,
Melihat rupamu,
Mendengar tangismu,
Memandang langsung ke matamu,
Membelai kepalamu…
…dan menangis bahagia

Hey sayang,
Tak sabar bertemu denganmu,
Melihatmu menggeliat,
Menggendongmu,
Menimangmu,
Memberimu makanan pertamamu,
… dan terkagum-kagum

Hey sayang,
Tak sabar bertemu denganmu,
Mengganti popokmu,
Melewatkan malam tanpa tidur,
Mengkhawatirkanmu,
Mendoakanmu,
…dan menahan diri tak mengeluh

Sebelum waktu itu,
Dari dalam sana…
Dengarlah suara kami,
Dengarlah rasa syukur kami,
Dengarlah percakapan-percakapan kami,

Dari dalam sana,
Rasakan harapan kami,
Bertumbuhlah dengan baik,
Karena sebelum kau bakal anak pun,
Ada sepasang mata melihatmu
Mata Pencipta, pemilikmu

Dari dalam sana,
Ketahuilah,
Kami mengasihimu

Kabar tentang Menara Ministries


Seperti yang pernah saya muat di status-status sebelumnya, bahwa 2007, saya mengganti nama Persekutuan Pelajar Kristen Sekolah Dasar Negeri (yang saya mulai dari 2001) menjadi “Menara Ministries” dan mulai melayani di beberapa titik kota Bandung bersama rekan yang sekarang menjadi suami saya.

Dengan semangat muda, atas ijin Tuhan, mengadakan ibadah pelajar Kristen SD Negeri yang dihadiri hampir 1000 pelajar dari seluruh penjuru Bandung.

Tahun 2008 saya membuat kesalahan besar, ketika tidak mengandalkan Tuhan dan hanya hikmat manusia. Saya berpikir bahwa pelayanan ini butuh biaya, mengadakan konser dan kemudian semuanya mulai berbelok arah. Rekan yang menjadi suami saya sudah mengingatkan dan menegur saya, tapi dengan angkuh saya mengabaikannya…. Dan kemudian perpisahan kami mengikuti.

Menara Ministries yang sebelumnya murni merupakan pelayanan (dan bahkan saya hampir menghabiskan seluruh gaji untuk anak-anak binaan kami), mulai berbelok arah. Saya mendengarkan nasihat buruk mengenai “memulai bisnis untuk mendanai pelayanan”

Nama “Menara” menjadi semacam asset, ditambah-tambahi berbagai produk di belakang namanya: Menara Character Building, Menara Business Solution, Menara Production (sisanya Menara Healthy Solution dibuat oleh orang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan keadaan covid).

Sesuatu yang tidak berasal dari Tuhan terlihat dari buahnya. Bukannya mendapat dana untuk pelayanan, Menara semakin jauh dari tujuan semula. Saya mulai sibuk dengan pekerjaan yang walaupun sesuai dengan bidang studi saya (kebanyakan waktu saya menjadi konsultan manajemen) namun tidak sesuai panggilan Tuhan atas hidup saya.

Bukannya mendapat dana untuk pelayanan, saya justru habis-habisan (bahkan sempat menjual beberapa barang saya dan hutang kartu kredit yang untungnya saat ini sudah dilunasi). Saya memiliki karyawan (marketing) yang tidak kompeten yang justru membuat saya habis-habisan.

Bukannya mendapat dana untuk pelayanan, bahkan banyak cara dunia yang dilakukan marketing ini untuk “kemajuan Menara” yang sebenarnya tidak saya setujui namun saya diam saja, dan saya tahu pasti tidak disukai Tuhan.

Dan perlahan, saya melupakan visi Menara Ministries semula. Tahun 2017 saya membuat apotek dengan modal Papa saya untuk hidup saya karena saat itu saya merasa kehidupan saya sudah tak lagi baik-baik saja (jangan salah, apotek masih berjalan sampai saat ini, diberkati dengan personel luar biasa dan baik-baik saja)

Tuhan baik, apapun yang terjadi Dia tetap baik. Rekan yang sekarang menjadi suami saya tiba-tiba, out of the blue, menghubungi saya di awal 2022, sebuah angin segar yang datang di tengah-tengah meeting dengan salah satu klien.

Kemudian kami bertemu kembali, membicarakan banyak hal (kalau dipikir-pikir, sejak dulu dia teman bicara yang luar biasa menyenangkan. Bahkan sampai sekarang kami tidak pernah kehabisan topik pembicaraan). Setelah hampir setahun bertemu, kami mulai membahas Menara Ministries yang dulu kami mulai bersama.

Kami memutuskan untuk mengembalikannya ke jalur semula, melayani Tuhan. Marketing yang dulu membuat jalur kami berbelok sudah diberhentikan (kalau dia memulai lagi di satu tempat, itu bukan tanggungjawab saya)

Hati untuk anak-anak Sekolah Dasar Negeri yang beragama Kristen masih ada, namun kami tentu harus memikirkan cara melayani mereka mengingat kondisi tak lagi seperti dulu, begitu pula usia kami. Jika Tuhan berkenan, Dia yang akan membuka jalan, sama seperti Dia membuka jalan bagi kami bertemu dan memberi keberanian pada saya untuk mengakhiri apa yang salah.

Semoga Tuhan terus memberi kekuatan dan hikmat untuk setiap orang yang melayani Dia, sehingga tidak ada lagi yang berbuat kesalahan seperti saya.

Kehidupan Baru


Kehidupan baru
Calon penghuni bumi
Bukan karena kau
Bukan karena aku
Tapi karena Dia

Kehidupan baru
Setitik namun penuh harapan
Bukan dari kau
Bukan dari aku
Tapi dari Dia

Kehidupan baru
Mencoba bertahan
Walau sulit,
Walau berisiko

Namun…
Jika karena Dia
Jika dari Dia
Maka Dia yang pelihara
Siapa aku hingga berani menawar,
Aku hanya alat-Nya
Jadilah padaku apa yang Dia inginkan

31 Juli 2023

Rasa keadilan dan Hati Nurani


Lebih dari enam bulan rakyat Indonesia menanti-nantikan akhir drama pembunuhan Yosua Hutabarat yang dilakukan atasannya Ferdy Sambo dan beberapa anak buahnya.

Saya menyebutnya “drama” karena si pelaku utama, Irjen Ferdy Sambo dan istri terus berkelit membuat banyak skenario baru yang seringkali tidak masuk akal.

Hari ini adalah sidang penetapan hukuman untuk Richard Eliezer, yang berubah dari pelaku utama menjadi seorang ajudan yang taat kepada pemimpin.

Richard Eliezer dididik dalam militer polisi, tidak diajar untuk berpikir, hanya taat saja. Baginya, melawan perintah atasan sama berbahayanya seperti menyanggupi membunuh itu sendiri.

Richard Eliezer memiliki hati nurani. Hati nuraninya berkata bahwa membunuh adalah hal yang salah. Dia berdoa kepada Tuhan… sesuatu yang aneh karena jawaban Tuhan “membunuh atau tidak membunuh” seharusnya sudah jelas. Rasa takut dan taat pada pimpinan melebihi ketaatan pada perintah Tuhan “Jangan Membunuh”

Tuhan tidak mengabulkan doanya agar atasannya berubah pikiran. Bagaimana bisa, jika orang membiarkan setan menguasai pikirannya, Tuhan pun akan diabaikannya. Lagipula apa yang dia harapkan? Tuhan tiba-tiba membuat Sambo bertobat? Dia bisa! Tapi Dia memilih untuk menyerahkan pilihan pada anak-anakNya.

Akhirnya, pilihan dibuat, pistol dicabut dan ditembakkan. Hati nurani menutup telinga, rasa keadilan bersembunyi, peluru terlontar seiring jari menarik pelatuk. Nyawa seorang teman dihantar menuju pencipta-Nya.

Nasi sudah menjadi bubur, atasan menyelesaikan apa yang sudah dimulai oleh Bharada Richard. Nyawa sahabat dihabisi… dan skenario demi skenario pun dibuat.

Tapi ternyata hati nurani dan rasa keadilan belum sepenuhnya buta dan tuli. Mereka muncul ke permukaan. Dia sudah membunuh, nyawa sahabat tak bisa kembali, tapi setidaknya keluarga korban bisa mendapat keadilan. Kali ini keputusan yang benar dibuat: menjadi Justice Collaborator

Ini drama menarik. Lebih menarik karena di akhir drama, Richard Eliezer menunjukkan bahwa ketika seseorang memilih melakukan apa yang benar, Tuhan bersama mereka. Pilihan Richard menunjukkan bahwa sekalipun orang benar jatuh, dia tak akan sampai tergeletak, karena Tuhan memegang tangannya.

Tak sampai setahun dari sekarang Richard Eliezer akan dibebaskan. Dia divonis 1.5 tahun dipotong masa tahanan (yang sudah dijalaninya 7 bulan). Kabarnya, jika masa hukuman tidak sampai dua tahun, dia tidak akan dipecat dari kepolisian.

Kasus ini sedikit banyak mengingatkan saya pada kematian Yudas Iskariot. Keputusan pertama yang salah dibuat, tapi alih-alih bertobat dan membuat keputusan yang benar, dia menambahi kesalahan dengan kesalahan berikutnya, yaitu bunuh diri.

Juga kepada Petrus si penyangkal. Keputusan pertama yang salah dibuat… namun dia memutuskan bertobat dan sampai hari ini kita mengenalnya sebagai rasul yang dipakai luar biasa.

Kesalahan dibuat orang benar… tapi ketika dia memutuskan untuk bertobat, Tuhan mengangkatnya, dia tak akan sampai tergeletak.

Akhirnya… hati nuranilah yang menjadikan kita manusia… Tuhan berbisik di dalamnya, dengarkanlah…

Bukan siapa-siapa


Hai diriku,
Tak perlu berterimakasih pada dirimu sendiri…
Berterimakasihlah pada Pencipta-Mu,
Karena tanpa-Nya,
Kau bukan siapa-siapa..

Hidup yang kau miliki dari-Nya
Jika kau bertahan dalam arena pertandingan kehidupan,… itu karena-Nya
Jika kau dapat terus berlari…
kekuatanmu dari-Nya

Tak perlu berterimakasih pada dirimu
Karena sesungguhnya,
Tanpa Pencipta kau bukan siapa-siapa

1 Januari 2023

45 tahun


45 tahun,
Bukan tanpa masalah,
Bukan tanpa kesulitan,
Bukan tanpa perang dingin,
Bukan tanpa pertengkaran,
Bukan tanpa badai,
Bukan tanpa air mata,
Bukan tanpa kekecewaan,
Namun tetap bertahan

45 tahun,
Dua orang yang sama,
tapi dengan karakter yang sudah berbeda
Antara dulu dan sekarang…
Karena karakter teruji melalui pengalaman,
Baik atau buruk,

Tetap bertahan dimasa sukar,
Menghapus air mata,
Mengobati luka,

Karena kasih itu sabar,
Kasih itu murah hati,

Karena kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menanggung segala sesuatu

Terimakasih untuk cinta yang ditunjukkan,…
bukan yang berbunga-bunga atau romantis,
Tapi kasih yang tetap bertahan dalam segala sesuatu

Terimakasih untuk cinta,
Terimakasih untuk keluarga yang Indah
Terimakasih karena kutemukan kasih Tuhan dalam Papa dan Mama
Setiap hari ku bersyukur pada Tuhan untuk keluarga yang indah
Papa, Mama yang terbaik

Terbebas


Tertatih akhirnya ia keluar
Dari lubang penuh lumpur dalam
Setelah putus asa mencengkeram
Tak terpikir harapan masih ada

Mati adalah kepastian
Tapi merencanakannya adalah kebodohan
Walau hidup terasa penat
Dengan beban yang terlalu berat

Entah apa yang di benaknya
Waktu menjatuhkan diri dalam liang
Ketika hidup terasa hampa
Di dalam lubang dirinya terhilang

Dan di dalam lubang pekat
Dirinya terlalu jauh tersesat
Tak mampu melihat setitik cahaya
Tak mampu melihat setetes asa

Tertatih ia merangkak keluar
Hati pedih berbisik lirih
“Ampuni aku,
Aku salah,
Ampuni aku”

Kekuatannya tak banyak,
Namun terlihat cahaya di ujung jalan
Selangkah demi selangkah
Kehampaan terlepas sudah
Saat udara menerpa wajah

Dia telah tiba,
Di ujung jalan kebebasan
Tak akan lagi melihat ke belakang
Karena di dalam kegelapan
Hanya ada kengerian

Berjudi dengan Kehidupan


Sebagian orang mengira hidup adalah permainan,
Kau bertaruh di dalam permainan itu,
Berharap mengambil lebih dari kehidupan

Nama baik ditaruh di atas meja,
Dadu dilempar,
Kalau kau menang, kaya raya menanti
Kalau kau kalah, tak ada lagi yang mempercayaimu

Iman dtaruh di atas meja,
Roda keberuntungan diputar
Kalau kau menang, bahagia semu menanti
Kalau kau kalah, tak ada tersisa

Sebagian orang mengira hidup adalah permainan
Mereka berjudi dengan kehidupan
Berapapun peluang kemenangan diambil,
Demi bahagia,
Demi kaya,
Demi kepuasan

Jika memang hidup adalah permainan,
Apakah yang pentas ditaruh di atas meja itu?
Apakah yang pantas dipertaruhkan dan dimenangkan?
Apakah yang tak cukup berharga untuk kehilangan…
…atau cukup berharga untuk dimenangkan?