Pasti berat jadi Anak Presiden


Waktu aku kecil setiap anak ingin jadi anak presiden. Pasti keren menjadi anak penguasa nomor satu di negeri ini… tapi itu dulu, saat keluarga Cendana berkuasa.

Dalam pikiran kami saat itu, jadi anak presiden tentu menyenangkan, tinggal tunjuk pasti dapat. Punya banyak barang mewah dan bisa melakukan apa saja… tapi itu dulu, saat kami kecil, saat keluarga Cendana berkuasa.

Anak Presiden saat itu terlihat gagah, berpakaian perlente, naik mobil mewah, bahkan punya merk mobil sendiri… ya, anak dari Keluarga Cendana.

Tapi kini,…

Saya rasa siapapun akan berpikir dua kali jika berkata “ingin jadi anak Presiden”. Bagaimana tidak,… setiap hari melihat orang-orang bodoh memaki ayahmu, melancarkan fitnah tiada henti. 

Hati anak mana yang tak terluka… jika pahlawannya sejak kecil mendapat penghinaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Memang orang-orang bodoh yang melakukannya sih… tapi orang-orang bodoh ini bersuara paling keras, seperti kata pepatah ‘tong kosong NYARING bunyinya’.

Pasti berat jadi anak Presiden. Ketika ayahmu menjadi ‘sasaran tembak’. Berbuat benar saja jadi kesalahan besar di negeri ini. Mematikan ladang para koruptor memiliki resiko paling besar.

Hari ini, banyak anak-anak mengidolakan Bapak Presiden. Tak hanya anak-anak saya rasa… mungkin mahasiswa bodoh yang sok-sokan jadi pahlawan tak bisa masuk hitungan. Mereka yang ingin ikut-ikutan Mahasiswa tahun 98, demo pada pemerintah. Masanya beda, Dik… kala itu Keluarga Cendana memerintah 32 tahun, sampai anak presiden punya merk mobil sendiri… sekarang, anak presiden hanya tukang martabak.

Namun, walau banyak anak-anak mengidolakan Bapak Presiden,… saya rasa mereka pun berpikir dua kali jika berkata “aku ingin jadi anak Presiden”, kecuali mereka ingin jadi anak Presiden korup yang tak memiliki integritas.

Yesus, hater dan demo


Yesus itu orang benar… pengikutnya banyak. Dia bahkan bisa membuat mujizat, mulai dari menyembuhkan orang sampai memberi makan ribuan orang. Urusan perut dipikirkannya, demikian juga akhlak bahkan keselamatan jiwa.

Dia mengajarkan pengikutnya apa yang benar, mulai dari mengampuni hingga mengasihi musuh. Mulai dari mengasihi Tuhan hingga melayani sesama. Tak ada ajaran-Nya yang salah dan bertentangan dengan kemanusiaan.

Ia bisa juga bersikap keras ketika berhadapan dengan orang Farisi, mereka yang suka korupsi untuk Rumah Tuhan, mereka yang suka bawa-bawa agama untuk menutupi kelakuan busuk.

“Hai kamu keturunan ular beludak” katanya,… “Kamu seperti kuburan yang dicat putih”

Alhasil para Farisi itu makin keki, dicarinya ide untuk menjatuhkan Dia. Pernah sekali waktu mereka bertanya untuk menjebak Dia, “menurut-Mu, wajibkah bayar pajak pada kaisar?”. Berharap menempatkan-Nya dalam dilema. Jika Dia berkata wajib, maka kepercayaan umat akan surut, karena artinya Dia berpihak pada penjajah asing (belum ada aseng). Jika Dia menjawab tak wajib, maka penjajah itu yang akan menganggap Dia siap memimpin pemberontakan karena menghasut warga untuk tak bayar pajak.

Namun bagaimana mungkin ciptaan bermain-main dengan pencipta. Bagaimana mungkin si sok pintar coba-coba dengan sumber hikmat. “Bawakan padaku sebuah koin…. gambar siapa yang ada di sana?”, dijawab “gambar kaisar”

Sebuah logika sederhana dari si Sumber Hikmat, “kalau ada gambar Kaisar artinya milik kaisar. Berikan pada Kaisar apa yang menjadi haknya” kata-Nya, “dan pada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya”

Sulit sekali mendapat kesalahan Yesus ini. Jebakan demi jebakan diberikan, namun pengikut-Nya makin banyak saja. Orang-orang yang mengikuti-Nya kemana-mana. Membahayakan pemasukan Sinagoge. Orang lebih percaya pada-Nya dibanding Farisi dan Saduki.

Akhirnya kesempatan yang dicari tiba. Seorang murid yang kecewa karena Yesus ternyata bukan pemimpin pemberontakan memutuskan untuk menyerahkan Dia. Dakwaan gimana nanti, yang penting tangkap dulu. Karena alasan kan bisa dicari.

Entah darimana datangnya para pendemo itu. Mungkin juga beberapa adalah massa bayaran. Di antaranya mungkin ada juga yang labil, mengikuti ke mana mayoritas berpihak. 

“Aku tak bisa menemukan kesalahan” kata Pilatus, si pembuat keputusan.

“Salibkan Dia, Salibkan Dia”

“Aku kasih pilihan deh, mana yang mau kamu bebaskan…. Barabas, si perompak dan pembunuh atau Yesus, orang benar”

“Bebaskan Barabas, salibkan Yesus”

Oh, iya benar… mereka lebih suka membebaskan penjahat daripada orang benar. Tak ada yang suka jika kesalahannya ditunjukkan padanya. Kebenaran itu pahit, kawan!

Mereka lebih suka bersama dengan orang jahat, setidaknya orag jahat tak pernah mengusik nurani mereka yang gemar melakukan korupsi dan kejahatan. Tapi Orang Benar ini… kebenaran-Nya membuat kejahatan tampak semakin buruk.

Nurani Pilatus melonjak, namun tekanan massa begitu besar, “Dia orang benar, aku ini hakim… masakan aku menghukum orang benar… tapi tekanan massa ini”

Jalan satu-satunya adalah melakukan sebuah upacara simbolis, mencuci tangan “aku ga ada hubungannya dengan ini… silahkan perbuat pada-Nya apa yang kau mau… aku tak bertanggungjawab”

Pendemo berteriak makin keras “Salibkan Dia… biar dosanya kami yang tanggung”

Perkara dosa mendosakan, kafir mengkafirkan sejak dahulu memang sudah menjadi trend untuk menjatuhkan hukuman tak adil pada Orang Benar.

Kemana pengikut-Nya? Sebagian kabur, sebagian menangis meratap, ada juga yang menyangkalinya. Terlalu takut untuk berdiri di sisi kebenaran, saat kejahatan menguasai keadaan.

Namun kematian Yesus adalah bagian dari suatu rencana agung. Salah satunya menunjukkan pada kita, bahwa Dia sudah mengalami semua hukuman, supaya kita tak perlu lagi menanggung hukuman.

Juga menunjukkan, bahwa jika Orang Benar saja mengalami siksa demikian rupa karena melakukan apa yang benar, terlebih kita orang berdosa saat melakukan kebenaran…memiliki hater itu biasa!

Juga menunjukkan bahwa menjadi pengikut-Nya artinya tetap melakukan apa yang benar, sekalipun semua orang melakukan sebaliknya. Tidak melakukan apa yang salah, sekalipun semua orang melakukannya.

Ia menunjukkan bahwa menjadi martir bukanlah mereka yang mati karena korban dari keadaan, tapi mereka yang menjunjung kebenaran. Bukan untuk membela Tuhan, tapi mempertahankan iman.

Betapa ajaib saat menyadari, ternyata agama masih dijadikan alasan untuk menbenci, di jaman sekarang… melihat bahwa justru banyak kejahatan dilakukan oleh mereka yang berjubah agama.

Ternyata setelah dua ribuan tahun… kebenaran masih dibenci oleh mereka yang terlihat gelap karenanya.

Jubah berganti, agama bertambah, tapi manusia, tetap mahluk ciptaan yang membutuhkan bantuan Pencipta untuk mendapat keselamatan kekal…

Selamat Ulang Tahun ke 64, Mama!


Terkadang,
Kenangan itu datang tanpa diundang
Seringkali datang karena aku mengundangnya…

Saat-saat di mana Mama memarahiku saat kecil
Terasa kejam… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku benci dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Semua aturan yang Mama terapkan
Terasa mengekang… bagi seorang anak
Sesuatu yang aku tangisi dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hukuman demi hukuman yang Mama berikan
Terasa begitu menyiksa… bagi seorang anak
Sesuatu yang tak kumengerti dahulu
Namun ku syukuri sekarang

Hadiah yang mama berikan saat bagi raport,
Sulit mendapat pujian Mama
Sekali mendapatkannya,
Kau akan merasa terbang ke angkasa

Rasa kuatir yang disembunyikan
… saat aku pulang sekolah naik angkutan umum pertama kalinya
… saat aku pulang sesudah ujian
… saat aku pulang membawa kabar tentang penerimaan universitas

Senyum kecil yang kau berikan
Saat aku membawa kabar yang memang kau harapan
terlalu gengsi menunjukkan bahagia
namun terlalu sayang untuk menyembunyikannya

Setiap kenangan adalah pelajaran
Proses yang membentuk seorang anak perempuan
…menjadi wanita dewasa

Setiap aturan adalah sumber hikmat
Proses yang membentuk seorang anak pembangkang
…menjadi tahu diri

Setiap hukuman adalah pembinaan
Proses yang membentuk seorang anak pemberontak
… menjadi taat

Setiap hadiah yang sulit diperoleh adalah pelajaran
Bahwa seringkali hidup membutuhkan perjuangan
Dan pencapaian itu sendiri adalah hadiah

Setiap kekuatiran yang berubah menjadi senyum adalah pelajaran
Bahwa kabar baik dari yang terkasih adalah sumber kebahagiaan
Pencapaian dari yang terkasih adalah prestasi untuk seorang ibu

Selamat ulang tahun yang ke 64, Mama!
Darimu aku belajar untuk menjadi kuat
Darimu aku belajar untuk menjadi tegar
Darimu aku belajar untuk menjadi cukup tanpa berpuas diri

Selamat ulang tahun, Professor Mama!
Darimu aku belajar mengenai hikmat
Darimu aku belajar mengenai pengendalian diri
Darimu aku belajar mengenai kemurahan hati

Karena mahkota setiap anak adalah orang tuanya
Dan aku… memiliki mahkota yang begitu bersinar!!

Bersembunyi di balik tempurung…


Untuk kalangan sendiri

Suatu hari orang-orang Farisi, yaitu mereka yang digambarkan berpakaian putih panjang dan suka mencari-cari kesalahan Yesus, mendatangi Yesus dengan sebuah pertanyaan… 

“Bagaimana menurutmu, Rabbi… apakah kita harus memberi pajak kepada Kaisar?”

Ini merupakan pertanyaan jebakan. Sesuatu yang saya namakan ‘dilema rohani’ dihadapi Yesus saat itu. Semua orang yang ada di situ menunggu jawabannya. Sebagian besar berharap Yesus menjawab ‘tidak perlu’. Saat itu mereka sedang berada di bawah bangsa Romawi dan tak dipungkiri banyak yang berharap Yesus akan memimpin pemberontakan melawan Romawi dan membebaskan bangsanya.

Jika saya boleh menerjemahkan ke dalam bahasa sekarang, pertanyaan itu menjadi, “bagaimana Tuhan, kami harus taat pada hukum negara atau tidak”

Lebih ekstrim lagi, “Bagaimana Tuhan, apakah kami harus meletakkan hukum negara di atas hukum agama atau tidak?”

Jawaban Yesus merupakan jawaban diplomatis paling jelas yang pernah saya dengar, “ada yang punya uang? berikan Aku satu koin”

Setelah Ia memegang koin, “gambar siapa ini yang ada di koin ini?” 

Merasa sudah dapat menebak.jawaban selanjutnya, orang-orang Farisi itu menggumam “gambar Kaisar”

Dalam bayangan saya, Yesus akan mengembalikan koin itu pada pemiliknya sambil dilempar dan mengedipkan sebelah mata “berikan pada kaisar apa yang WAJIB kamu berikan pada kaisar, dan pada Tuhan apa yang WAJIB kamu berikan pada Tuhan.”

Saya menggaris bawahi kata WAJIB. bicara soal kewajiban, apa saja yang kita wajib berikan pada penguasa negara kita?

Saya orang awam, bagi saya Yesus sedang berkata, “taat dan tunduklah pada hukum negara di mana pun kamu berada”

Sekali lagi, bicara soal kewajiban, apa yang wajib kita berikan pada negara di.mana kita ditempatkan? Pajak berarti kontribusi. Umat Kristen wajib memberikan kontribusi kepada negara.

Saya pernah membaca capturan buku dari seorang teman yang isinya Yesus tidak memimpin revolusi sosial. Ia tidak memimpin rakyatnya melawan penjajahan Romawi, melawan ketidakadilan sosial dan ekonomi, atau memperjuangkan hak-hak sipil untuk pendidikan dan upah yang lebih baik.

Betul sekali Yesus memang tidak melakukan itu semua, karena Dia sedang meletakkan dasar yang kokoh dalam kedatangan-Nya ke dunia kala itu. Sesuatu yang lebih penting dari sekedar upah yang rendah dan pendidikan yang kurang. Dia memperjuangkan agar kita tidak menerima upah dosa dan kurangnya wawasan akan Kasih Tuhan. 

Tapi pertanyaan saya, apakag dengan demikian maka kita orang Kristen tidak perlu memoerhatikan keadilan sosial, memperjuangkan pendidikan yang layak, menentang ketidak adilan, bermasyarakat?

Ingatlah, Dia memerintahkan kita untuk: 1. Tunduk undang-undang yang berlaku di negara dan 2. Berkontribusi dalam pembangunan negara di mana kita ditempatkan.

Bagi saya, kontribusi pada pembangunan tidak melulu masalah uang. Bagaimana dengan “pendidikan”? Apakah orang Kristen hanya fokus pada pendidikan keluarga Kristen saja sehingga mendirikan sekolah-sekolah mewah dengan harga selangit?

Bagaimana dengan keadilan sosial? Apakah orang Kristen tidak perlu peduli dengan keadilan sosial, “bayar saja orang untuk mengurusi urusan kita,  kita kan minoritas”

Bagaimana dengan keamanan negara? Apakah kita terlalu takut berkontribusi sehingga bersembunyi di balik “Tuhan yang tahu”, namun diam saja saat ada pelanggaran hukum terjadi di depan mata kita?

Bagaimana dengan bermasyarakat? Apakah kita terlalu sibuk dengan urusan gereja hingga lupa untuk bermasyarakat dengan mereka yang ada di sekeliling kita…  Sorry to say, sekolah-sekolah Kristen yang biasa didominasi oleh Warga Negara Keturunan TIDAK mendidik siswanya untuk bermasyarakat. Tidak membina mereka untuk dapat berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat. Menjadikan mereka anak-anak songong yang jago kandang, eksklusif, dan mengalami banyak kesulitan ketika tiba saatnya bermasyarakat.

Saya begitu sedih ketika ada yang berpikiran bahwa tulisan saya sebelumnya mengenai menjadi terang melulu bicara soal penginjilan.

Saudara, jika Anda terus-terusan berada dalam gedung mewah itu, hanya sesekali keluar untuk beli keperluan ke pasar, itu pun dengan menawar secara gila-gilaan, bagaimana Anda berharap nama Tuhan dimuliakan, sekalipun Anda menyumbang untuk penginjilan??

Saudara, jika Anda terus-terusan sibuk dengan latihan ini dan itu di gedung mewah itu, menghadiri pertemuan ini dan itu, bahkan sering ijin dari tempat kerja karena acara di gedung itu, bagaimana Anda berharap nama Tuhan dimuliakan, sekalipun Anda berdoa syafaat semalam suntuk untuk suku-suku di Afrika?

Kontribusi pada pembangunan negara dimulai dari hal sederhana. Sapa tetangga Anda, berkomunikasilah dengan baik, tunjukkan kasih pada pembantu Rumah Tangga, tunjukkan hormat pada semua orang, mulailah ikut dalam kegiatan masyarakat, kenali hukum-hukum dasar, dan banyak hal sederhana lain…

Tolong, jangan bersembunyi terus di balik tempurung yang sudah dihias indah itu…

Bebal, ROH jahat atau KARAKTER


Saya akan membuka tulisan ini dengan sebuah cerita. Anggap saja (ingat ya… ini hanya anggapan, jangan terlalu diambil hati) tentang saya yang sangat terpengaruh dengan buku bacaan bahasa Indonesia saat kelas 1 SD. Saya suka membaca buku bahasa Indonesia sejak sangat kecil. Saya suka membaca ini Budi, ini Ayah Budi, ini Ibu Budi. Saya bahkan ingat kalau nama kakak Budi adalah Wati dan adiknya bernama Iwan. Walau tidak pernah keluar di ujian sekolah, saya bahkan bisa menjawab pertanyaan itu jika dibangunkan di pagi hari buta “Siapa nama kakak Budi”, saya akan lantang menjawab “Wati”. Walau saya agak lupa dengan temannya yang bernama Hasan…

Saya punya seorang Papa bernama Samuel. Dia punya banyak nama, lihat saja di Facebooknya. Karena namanya Samuel Sachiawan, saat muda beliau dipanggil (atau mungkin beliau membuatnya sendiri) Sekie. Saya memanggil Samuel Sachiawan atau Samuel atau Sekie ini dengan sebutan Papa.

Anggap saja suatu saat saya bosan dengan sebutan Papa yang mainstream itu. Saya ingin memanggilnya dengan Ayah. Dia tidak keberatan. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Ayah. Lalu ketika nama Ayah mulai mainstream, saya memanggilnya Babeh. Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Babeh. Lalu saya panggil lagi dengan sebutan Daddy. Tapi karena tetangga kami bernama Om Dedi, ayah saya bilang… ssst….jangan panggil Daddy, nanti ga enak sama tetangga.

Akhirnya saya mengganti lagi panggilan Ayah saya dengan Bokap… “Bokap,… kok lama banget pulangnya”. Sekali lagi, Samuel ini orang yang asik, dia mau saja dipanggil Bokap

Lalu saya dengar ada trend baru di kalangan anak muda. Di mana mereka mengatakan, akan lebih asik kalau memanggil Ayahnya dengan namanya sendiri. Lalu saya panggil dia dengan sebutan “Samuel”. Awalnya Samuel terlihat keberatan. Tapi lama-lama dia paham juga… Toh dia terkenal sebagai orang yang asik, tak apa dipanggil nama oleh anak perempuan yang dikasihinya, toh memang lagi trend.

Tiba-tiba saya bosan dengan semua panggilan itu. Saya ingat bahwa dulu waktu kecil saya pernah belajar mengenai “Ini Ayah Budi”, karena saya anti-mainstream, saya panggil Samuel dengan sebutan Budi…. “Bud, nanti kalau sempet kirim uang ke rekening ku ya” atau “Bud, mau dibuatin telor ceplok?” atau “Bud, liburan yuk Bud”

Samuel keberatan dipanggil Budi. Saya berusaha membuatnya mengerti bahwa Budi nama yang oke. Bahwa mungkin tak lama lagi “Budi” akan menjadi nama panggilan untuk seluruh ayah di dunia. Apa bedanya Papa, Ayah, Babeh, Bokap, Daddy, Budi. Lagipula Daddy dan Budi terdengar mirip.

Sehari dua hari saya panggil Papa saya dengan sebutan Budi. “Bud, gue baru bikin paspor.. Jelek banget fotonya. Liat dong paspor lo”

Kemudian Mama saya memberitahu saya bahwa Papa terlihat keberatan jika dipanggil Budi. Apalagi, Budi itu nama saingan terberatnya saat di sekolah dulu. Bahkan pernah berantem berkali-kali hingga sering diskors dan dipanggil kepala sekolah.

Tapi saya ga peduli. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa… TITIK!!!

Adik saya kemudian memberi saya pengertian “Greis, Papa kita namanya Samuel. Dia orangnya memang asik. Bahkan dia ga keberatan kamu panggil dia namanya: Samuel. Tapi kamu panggil Dia Budi…Come on!!! Itu nama siapa”

Saya tidak peduli juga. Buat saya Budi nama yang paling tepat untuk Papa saya. Lagipula, kan Samuel orangnya asik. Seharusnya dia ga keberatan dipanggil apapun. Buat saya, Budi itu artinya Papa. Dia mengerti kok… Tidak ada yang berubah. Saya tetap mengakuinya papa saya. Kalau diperlihatkan foto-foto, saya akan menunjuknya… “Ini dia Budi saya” Bodo amat orang lain melihat dengan pandangan bingung…Bagi saya Budi ya Budi…TITIK!


Saudara, tunggu… Anda pasti cukup pintar kan untuk tidak menganggap bahwa cerita di atas adalah fakta. Tidak, saya tidak memanggil Samuel dengan sebutan Budi. Saya tahu dia suka dipanggil Papa. Dia menyebut dirinya dengan Papa dan saya memanggilnya begitu.

Hal yang ingin saya jelaskan di sini adalah masalah KEBEBALAN. Berkali-kali dalam Alkitab kita membaca ayat mengenai orang bebal, saya pun pernah mengulasnya. Orang bebal atau tegar tengkuk menulikan telinga dan menutup mata terhadap kebenaran. Bagi mereka, lebih mudah menyangkali kebenaran daripada mengakui bahwa selama ini mereka salah. Bahkan bqgi mereka, apa yang mereka yakini sudah pasti benar, walau fakta tidak mendukungnya.

Saat ini kita disuguhkan tiap hari dengan drama kebebalan dari bangsa ini. Kasus “AHOK MENISTA AGAMA” adalah contoh yang paling besar. Kaum intelektual mencoba meyakinkan “tak ada penistaan agama”.

“Gus Dur pun mengatakan itu”
“Tapi Ahok itu Kristen. Dia tak berhak mengutip kitab suci agama lain. Gus Dur beda lagi!!! PENJARAKAN!!!”

Lalu:

“Secara struktur bahasa kata ‘pakai’ akan mengubah makna kalimat. ‘Makan sendok’ beda dengan ‘makan pakai sendok”
“Tapi kan dilempar batu sama dengan dilempar pakai batu”
“Nah, yang salah bukan batunya kan, tapi orang yang melemparnya”
“Bodo amat. PENJARAKAN!!”

“Tapi Ahok itu anti korupsi”
“Lebih baik yang korupsi. PENJARAKAN!!!”
“Dia bahkan membangun banyak mesjid”
“Tidak peduli!!! PENJARAKAN”

Contoh berikutnya soal pemboikotan Sari Roti. :
“Tapi memang bukan Sari Roti yang bagi-bagi gratis.”
“Harusnya ga usah klarifikasi. BOIKOOOT”
“Tapi kalau tidak klarifikasi nanti salah paham. Ini perusahaan besar, bukan pisang goreng”
“Ah, biar saja seperti itu. BOIKOTT”
“Kasihan kan yang memang sudah mendanai”
“Ah, tidak ada yang tahu kan.BOIKOTTT”
“Tapi sudah ada sertifikat HALAL dari MUI”
“Bukan masalah itu. BOIKOTT”

Saya bingung sekali. Apakah kebebalan yang masif di bangsa ini adalah sebagai kutukan, bawaan lahir, serangan roh jahat, ataukah memang karakter yang sudah mengakar?

Kebebalan ini membuat manusia mempercayai suatu persepsi yang salah dan tidak mau menerima kebenaran. Membuat mereka mudah dipengaruhi oleh siapapun dalang yang memiliki kebusukan hati.

Kebebalan ini membuat manusia hanya mempercayai apa yang mereka inginkan. Mempercayai kebiasaan yang sudah lama dipupuk walaupun kebiasaan itu salah. Tidak mau dikoreksi dan mudah tersulut emosinya ketika diberi pandangan baru dari luar.

Jika Anda tidak percaya bangsa ini memiliki kebebalan semacam ini. Buka saja media sosial, kemudian baca komentar dari berita-berita yang hangat. Saya tidak tahu apakah itu akun bayaran atau bagaimana. Biasanya mereka akan menandaskan komentarnya seolah mereka menempatkan “pokoknya” di setiap kalimat,

“Pokoknya begitu”
“Kenapa begitu”
“Karena memang begitu”
“Kamu yakin?”
“Yakin!!!”
“Dari mana kamu yakin”
“Karena memang begitu!!”

Sayangnya, walaupun sudah menulis panjang-panjang, saya tidak memiliki solusi untuk kebebalan yang masif ini. Saya akhirnya hanya menutup dengan percakapan saya dan adik saya.

Saya (G): Pasti Tuhan sangat menyayangi bangsa ini.
Adik saya (Y): Kenapa?
G : Dulu Tuhan menyayangi Bangsa Israel, bangsa yang bebal dan tegar tengkuk
Y : Lalu?
G : Pasti Tuhan lebih menyayangi Bangsa Indonesia yang lebih bebal dan lebih tegar tengkuk
Y : Tapi orang Yahudi itu cerdas, sedangkan Indonesia…
G : Makanya…karena itu Tuhan pasti lebih menyayangi bangsa ini… Bangsa yang bebal, dan (begitulah)

 

 

“Teguhkan Hatimu”


Fenomena orang ini luar biasa…. seperti Daniel yang tetap berpegang pada kebenaran, Elia masa kini yang melawan begitu banyak koruptor dan Raja Daud yang mengakui kesalahannya… 

Sebuah lagu untuk Pak Ahok dari Bandung… semoga Tuhan menyertai Bapak… Karena jika bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sia pengawal berjaga-jaga.. Tuhan sudah membawa Bapak sejauh ini… Dia tidak akan membuarkanmu jatuh atau meninggalkanmu sendirian.

Terimakasih sudah menjadi contoh bagi generasi muda mengenai makna memperjuangkan kebenaran sekalipun itu sulit… 

Ketika perasaan itu menyergapmu


Ketika kau masih sangat muda, 
katakanlah masih kanak-kanak, 
hidup terasa amat panjang…
tak pernah sekalipun berpikir 
…tentang kematian,
…kapan maut akan menjemput

Ketika kau masih sangat muda, 
katakanlah masih anak-anak,
Kau bahkan tak mengerti makna kematian…
Mengapa orang dewasa menangis,
Saat yang terkasih harus pergi
Bukankah mereka memang sudah tua,
dari kau lahir sudau seperti itu

Saat kau masih sangat muda,
katakanlah masih remaja,
Hidup adalah kesenangan,
untuk apa menghitung hari-hari
untuk apa memikirkan kematian
Toh hidup harus dinikmati
Walau terkadang tugas sekolah membebani

Saat kau dewasa,
dan tiba-tiba menghadapi kenyataan,
Bahwa mereka yang kau kasihi…
Satu persatu meninggalkanmu
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Ketika mereka yang kau kenal sejak kecil
Mereka yang dulu muda, 
Mereka yang dulu begitu bersemangat,
Mereka yang dulu kuat dan sehat,
Tiba-tiba berasa di penghujung hidupnya,
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Ketika kau melangkah di lantai dingin
Menuju sebuah peti berbentuk kotak
Dan mereka yang kau kenal sejak kecil,
Berbaring tak berdaya di sana
Memakai pakaian indah khas kematian
Dengan kaus kaki putih dan sarung tangan,
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Gurumu yang dahulu mengajarmu,
Tantemu yang dahulu tersenyum melihatmu,
Pamanmu yang dahulu bermain bersamamu,
Bapak pendeta yang dahulu berdoa untukmu
Ketika kau melihat mereka di peti,
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Dan seluruh ayat-ayat itu berlompatan keluar,
Ajari kami menghitung hari-hari kami,
Hidup manusia seperti asap,
Untuk segala sesuatu ada waktunya,
Hidup seperti gelanggang pertandingan,

Kemudian, kau akan mulai menyadari
Bahwa tidak ada yang kekal,
Bahkan hidupmu sendiri…
…suatu saat akan berakhir
Entah dengan cara apa

Kau akan menyadari,
Bahwa sesungguhnya kehidupan ini tidaklah panjang
Waktu yang kau miliki sedang berlari
Dan kau sedang tergopoh-gopoh mengejarnya
Memintanya berhenti sesaat saja

Kau akan menyadari,
Bahwa makna kehidupan,
Bukanlah kesenangan yang kau dapat saat hidup
Tapi kenangan yang kau tinggalkan
Dan jejak-jejak yang kau buat

Kau akan menyadari,
Bahwa kau tak bisa menawar kehidupan
Sekali Pencipta memanggilmu,
kau tak bisa menolak
dan tubuhmu akan terbaring di peti itu
Sementara jiwamu… 
ke mana jiwamu akan pergi?

Kau akan menyadari,

Bahwa jika kematian adalah kepastian,
Maka kehidupan patut dimaknai
Karena hidup adalah Kristus,
dan mati adalah keuntungan

teruntuk: para kekasih yang mengakhiri pertandingan dengan baik…sampai bertemu lagi di Rumah Kristus…

#RIPIntan


Nak Intan,
Hidup terkadang seperti tidak adil kan? Usiamu masih sangat muda dan kehidupan direnggut darimu oleh satu orang… Tidak! Sebenarnya bukan oleh satu orang, tapi oleh ideologi sesat. Ideologi yang menjunjung dendam dalam bab pertamanya, dan teror adalah wajahnya. Ideologi yang tidak mengenal kata kasih, toleransi, dan kemanusiaan.

Tapi sudahlah nak, kau tak perlu tahu semua itu. Sebenarnya, kau beruntung. Sekarang kau bisa bertanya langsung pada Tuhan, yang nama-Nya kau dengar dari kakak Sekolah Minggu. Kau bisa tanyakan langsung… kenapa Tuhan menciptakan gorila seperti King Kong yang badannya besar tapi kakinya pendek, atau mengapa bebek lehernya panjang… 

Ada teman-teman bermainmu yang masih berjuang dengan hidupnya. Kalaupun hidup, mereka akan memiliki bekas api itu di tubuh mereka, seolah pengingat bahwa hidup terkadang memang tidak adil… bahwa terkadang manusia bisa berbuat begitu kejam.

Tapi tahukah kau… setiap kehidupan memiliki porsinya sendiri… Teman-temanmu akan menjalani hidupnya sendiri. Jika mereka bertahan, Tuhan tak akan pernah meninggalkannya. Jika hidup terasa tidak adil, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang adil. Tak hanya itu, dia juga penuh kasih. Dia memberi kesempatan pada temanmu untuk menjadi pahlawan iman, tetap hidup dan mengampuni. Menjadi teladan dalam perbuatan baik…

Nak Intan,

Ayah ibumu pastilah orang-orang hebat. Orang-orang yang tidak hanya mengajakmu ke gereja, tapi menghidupi Firman Tuhan itu sendiri. Mereka mengampuni orang yang membuat anak mereka tidak terlihat cantik di waktu-wakti terakhir hidupnya… Mungkin karena mereka tahu bahwa saat ini wajahmu sudah kembali cantik dan bersinar. Mungkin mereka tahu bahwa kini kau berada di tempat yang tepat, pangkuan Sang Khalik.

Hanya orang hebat yang bisa memilih kasih daripada benci, dan menemukan kekuatan dalam air mata. Hanya orang hebat yang bisa meneruskan hidup ketika buah hati mereka direnggut paksa darinya. Hanya orang hebat yang tetap bisa mempertahankan imannya pada Tuhan bahkan ketika hidup terasa tak adil.

Nak, tugasmu di dunia hanya dua tahun saja. Tapi kami semua tahu, bahwa bangsa ini mendapat pelajaran yang begitu besar dari kisahmu dan keluargamu. Ya, tugasmu sudah selesai,… dan kau menyelesaikannya dengan gemilang. Lihatlah lilin-lilin yang dipasang untukmu, dan air mata yang mengalir untukmu. Ada tempat yang istimewa untuk anak istimewa sepertimu. 

Bersenang-senanglah dalam pelukan Bapa Surgawi, Nak. Kami akan melihatmu suatu saat nanti, Intan Olivia yang pemberani…
#RIPIntan

ps: karena beragama saja tidak menjadikanmu manusia yang memiliki kemanusiaan… 

Elia dan Nabi-nabi Baal itu


Menghadapi 4 November 2016, ada begitu banyak post di media sosial, sebagian merupakan guyonan sinis terhadap aksi tersebut, sebagian memohon pertolongan “Tuhannya masing-masing” untuk membantu mereka, entah untuk melancarkan atau menggagalkan aksi tersebut.

Saat ini saya membayangkan, apa yang dirasakan Ahok, takut, gentar, berserah, optimis? Entah mengapa ketika saya membayangkan hal itu saya teringat dengan kisah Elia dan nabi-nabi Baal. Anda ingat kisah itu? Saat itu Tuhan sedang menghukum bangsa Israel karena Ahab. Tidak ada hujan di Israel, membuatnya menjadi negeri yang kering kerontang. Kelaparan terjadi di seluruh negeri dan tidak ada yang dapat melakukan apa-apa.

Kemudian atas bantuan Obaja (Ah, baca sendiri saja ceritanya di 1 Raja-raja 18) Elia menemui Raja Ahab, yang kemudian diakhiri dengan sebuah tantangan dari Elia, sebuah tantangan untuk menunjukkan Tuhan mana yang hidup. Yahweh yang disembah Elia atau Baal dan Asyera yang disembah Izebel dan Ahab.

Sebenarnya ini aneh juga, sebuah iman yang luar biasa dari Elia. Iman bahwa Tuhan yang ia sembah akan menjawab doanya. Iman bahwa Tuhan yang ia sembah tidak akan mempermalukannya. Iman bahwa Tuhan yang ia sembah akan berperang ganti dia.

Dalam Alkitab, khususnya perjanjian lama, kita melihat ada banyak kejadian di mana Tuhan secara aktif menjadi Panglima Perang Israel. Tuhan, dengan cara-Nya yang ajaib, memberikan kemenangan demi kemenangan kepada mereka yang dikasihi-Nya, sebut saja Daud yang menang lawan Goliat atau Gideon yang menang perang melawan bani Midian, Amalek dan sekutnya. Bagaimana dengan Daniel yang dengan santai duduk di Gua Singa yang sedang kelaparan, atau Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menari-nari di dalam api yang panasnya luar biasa.

Elia, meyakini bahwa Tuhan yang ia sembah akan menunjukkan kekuasaan-Nya. Ia bahkan berani berkata kepada rakyat Israel “Kalau Yahweh adalah Tuhan, ikuti Dia…. kalau Baal adalah tuhan yang hidup, ikuti dia”. Jika kita ada di sana saat itu dan tidak memiliki iman sebesar Elia, tentunya kita akan berkata “Bagaimana jika tidak terjadi apa-apa saat Elia berdoa? Bagaimana jika….”

Dan pertarungan iman dimulai, satu orang nabi TUHAN melawan 450 orang nabi Baal. Dua ekor lembu dikorbankan, masing-masing mendapat satu ekor untuk persembahan kepada “Tuhannya masing-masing”

Nabi-nabi Baal merasa mereka perlu membela tuhan mereka yang dihina oleh Elia. Mereka mengelilingi lembu yang sudah dipotong-potong, meminta Baal menurunan api sambil berjingkat-jingkat bahkan menoreh diri dengan pedang dan tombak. Mereka melakukan itu dari pagi sampai petang dan tak ada yang terjadi.

Kemudian tiba giliran Elia. Membuktikan bahwa Tuhan tidak perlu pembelaan dan bantuan, ia menaruh dua belas batu, menunjukkan pada bangsa Israel bahwa Tuhan yang hidup itu adalah yang bersama mereka sejak leluhur mereka. Ia bahkan kemudian membuat parit yang mengelilingi mezbah dan memenuhinya dengan air.

Saudara, rakyat mempercayai apa yang mereka lihat. Sejak dulu, rakyat seperti domba-domba bodoh yang hanya mengikuti pemimpin mereka. Apa yang ditunjukkan pemimpin mereka, itulah yang dipercayai. Media sosial saat ini menunjukkan begitu banyak sehingga kita, domba-domba bodoh ini, menjadi bingung dan kehilangan pegangan.

Opini mereka digiring dengan mudahnya oleh orang-orang yang menyebut diri pemuka agama namun tidak mengenal Tuhan yang sebenarnya. Ya, nabi-nabi Baal itu menggunakan pakaian kenabian, tapi kita tahu tuhan yang seperti apa yang mereka ikuti.

Maafkan saya! Saya tidak sedang mendiskreditkan agama manapun. Bukankah Tuhan yang benar akan mengajarkan kebaikan. Dan jika pemuka agama mengajarkan mengenai kekejaman, anarkis dan pemberontakan di balik pakaian agamanya, bukankah itu berarti mereka tidak sedang mengajarkan ajaran dari Tuhan yang benar?

Apa yang terjadi kemudian dengan Elia. Tidak ada berjingkat-jingkat mengelilingi mezbah sambil berteriak keras-keras, apalagi sampai melukai diri. Elia menundukkan diri, berdoa dengan sepenuh hati kepada Tuhan yang hidup, “Biarlah diketahui orang bahwa Engkaulah Tuhan, dan bahwa aku ini hamba-Mu dan melakukan ini semua atas firman-Mu”. Tiga hal yang disebut oleh Elia: ‘siapa Tuhan, siapa dirinya sendiri dan apa peran Tuhan dalam hidupnya’

Saudara tahu apa yang terjadi? Alkitab mencatat “Lalu turunlah api TUHAN (dalam terjemahan sebenarnya disebutkan “api turun dari YAHWEH”) dan membakar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah, bahkan air yang ada dalam parit itu”

Saudara, Tuhan tidak perlu dibela… Dia bisa menunjukkan diri-Nya sendiri dengan cara yang berada di luar batas pemikiran kita. Tuhan yang besar itu sanggup membuat siapapun sujud kepada-Nya dengan cara apapun.

Tulisan ini dibuat sehari sebelum rencana demo 4 November. Saya berdoa agar Tuhan menyatakan diri-Nya dan membela anak-Nya seperti yang Ia lakukan pada Elia.

Saya akan berdoa seperti Daud ketika meminta kemenangan Raja…

“Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan…
Kiranya Dia membentengi engkau.
Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu di tempat yang kudus dan disokongnya engkau dari Sion.
Kiranya diingatnya segala korban ypersembahan dna korban bakaran yang telah kau berikan.
Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kau kehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kau rancangkan.

Tuhan memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabmu dari sorga yang kudus dengan kemenangan yang luar biasa oleh tangan kanan-Nya.

Orang-orang itu memegahkan kereta dan memegahkan kuda tetapi kita bermegah dalam nama YESUS, Tuhan kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak. 

Ya Tuhan beri kemenangan kepada orang yang yang kasihi ini!”

(diadaptasi dari Mazmur 20)

 

Baca juga : Ahok, antara Daniel dan gembala

 

 

You are 67, Papa!


Bagiku, kau tidak berubah
Kau masih orang yang sama
…yang memberiku nama
…yang mengantarku tidur saat kecil
…yang menceritakan tentang kebesaran Tuhan

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang membawaku liburan
…yang menjawab semua pertanyaanku
…yang membantuku dengan tugas sekolahku

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang menyuruhku diam saat bertengkar dengan adikku
…yang menghela nafas ketika kesal
…yang mengingatkanku caranya agar tidak melupakan segala sesuatu

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang memberiku kepercayaan
…yang mendoakanku saat sakit
…yang menjadi teman diskusi yang asyik

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang memegang kebenaran di atas segalanya
…yang tak bisa menyembunyikan perasaan dari wajahmu
…yang sabar namun keras kepala

Bagiku, ku masih orang yang sama
Dengan semangat yang sama
Dengan iman yang sama
Dengan pengharapan yang sama
Dengan kesabaran yang sama
Dengan kasih yang sama

Kau masih orang yang sama
Dengan usia yang lebih tua
Dengan rambut yang lebih putih
Dengan hati yang lebih besar
Dengan suara yang lebih keras
Dengan kacamata yang lebih tebal

Selamat Ulang Tahun yang ke 67, Papa tercinta
Karena keberuntungan setiap anak perempuan adalah…
… memiliki Papa yang luar biasa
Dan aku… adalah anak perempuan yang beruntung