Elia dan Nabi-nabi Baal itu


Menghadapi 4 November 2016, ada begitu banyak post di media sosial, sebagian merupakan guyonan sinis terhadap aksi tersebut, sebagian memohon pertolongan “Tuhannya masing-masing” untuk membantu mereka, entah untuk melancarkan atau menggagalkan aksi tersebut.

Saat ini saya membayangkan, apa yang dirasakan Ahok, takut, gentar, berserah, optimis? Entah mengapa ketika saya membayangkan hal itu saya teringat dengan kisah Elia dan nabi-nabi Baal. Anda ingat kisah itu? Saat itu Tuhan sedang menghukum bangsa Israel karena Ahab. Tidak ada hujan di Israel, membuatnya menjadi negeri yang kering kerontang. Kelaparan terjadi di seluruh negeri dan tidak ada yang dapat melakukan apa-apa.

Kemudian atas bantuan Obaja (Ah, baca sendiri saja ceritanya di 1 Raja-raja 18) Elia menemui Raja Ahab, yang kemudian diakhiri dengan sebuah tantangan dari Elia, sebuah tantangan untuk menunjukkan Tuhan mana yang hidup. Yahweh yang disembah Elia atau Baal dan Asyera yang disembah Izebel dan Ahab.

Sebenarnya ini aneh juga, sebuah iman yang luar biasa dari Elia. Iman bahwa Tuhan yang ia sembah akan menjawab doanya. Iman bahwa Tuhan yang ia sembah tidak akan mempermalukannya. Iman bahwa Tuhan yang ia sembah akan berperang ganti dia.

Dalam Alkitab, khususnya perjanjian lama, kita melihat ada banyak kejadian di mana Tuhan secara aktif menjadi Panglima Perang Israel. Tuhan, dengan cara-Nya yang ajaib, memberikan kemenangan demi kemenangan kepada mereka yang dikasihi-Nya, sebut saja Daud yang menang lawan Goliat atau Gideon yang menang perang melawan bani Midian, Amalek dan sekutnya. Bagaimana dengan Daniel yang dengan santai duduk di Gua Singa yang sedang kelaparan, atau Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menari-nari di dalam api yang panasnya luar biasa.

Elia, meyakini bahwa Tuhan yang ia sembah akan menunjukkan kekuasaan-Nya. Ia bahkan berani berkata kepada rakyat Israel “Kalau Yahweh adalah Tuhan, ikuti Dia…. kalau Baal adalah tuhan yang hidup, ikuti dia”. Jika kita ada di sana saat itu dan tidak memiliki iman sebesar Elia, tentunya kita akan berkata “Bagaimana jika tidak terjadi apa-apa saat Elia berdoa? Bagaimana jika….”

Dan pertarungan iman dimulai, satu orang nabi TUHAN melawan 450 orang nabi Baal. Dua ekor lembu dikorbankan, masing-masing mendapat satu ekor untuk persembahan kepada “Tuhannya masing-masing”

Nabi-nabi Baal merasa mereka perlu membela tuhan mereka yang dihina oleh Elia. Mereka mengelilingi lembu yang sudah dipotong-potong, meminta Baal menurunan api sambil berjingkat-jingkat bahkan menoreh diri dengan pedang dan tombak. Mereka melakukan itu dari pagi sampai petang dan tak ada yang terjadi.

Kemudian tiba giliran Elia. Membuktikan bahwa Tuhan tidak perlu pembelaan dan bantuan, ia menaruh dua belas batu, menunjukkan pada bangsa Israel bahwa Tuhan yang hidup itu adalah yang bersama mereka sejak leluhur mereka. Ia bahkan kemudian membuat parit yang mengelilingi mezbah dan memenuhinya dengan air.

Saudara, rakyat mempercayai apa yang mereka lihat. Sejak dulu, rakyat seperti domba-domba bodoh yang hanya mengikuti pemimpin mereka. Apa yang ditunjukkan pemimpin mereka, itulah yang dipercayai. Media sosial saat ini menunjukkan begitu banyak sehingga kita, domba-domba bodoh ini, menjadi bingung dan kehilangan pegangan.

Opini mereka digiring dengan mudahnya oleh orang-orang yang menyebut diri pemuka agama namun tidak mengenal Tuhan yang sebenarnya. Ya, nabi-nabi Baal itu menggunakan pakaian kenabian, tapi kita tahu tuhan yang seperti apa yang mereka ikuti.

Maafkan saya! Saya tidak sedang mendiskreditkan agama manapun. Bukankah Tuhan yang benar akan mengajarkan kebaikan. Dan jika pemuka agama mengajarkan mengenai kekejaman, anarkis dan pemberontakan di balik pakaian agamanya, bukankah itu berarti mereka tidak sedang mengajarkan ajaran dari Tuhan yang benar?

Apa yang terjadi kemudian dengan Elia. Tidak ada berjingkat-jingkat mengelilingi mezbah sambil berteriak keras-keras, apalagi sampai melukai diri. Elia menundukkan diri, berdoa dengan sepenuh hati kepada Tuhan yang hidup, “Biarlah diketahui orang bahwa Engkaulah Tuhan, dan bahwa aku ini hamba-Mu dan melakukan ini semua atas firman-Mu”. Tiga hal yang disebut oleh Elia: ‘siapa Tuhan, siapa dirinya sendiri dan apa peran Tuhan dalam hidupnya’

Saudara tahu apa yang terjadi? Alkitab mencatat “Lalu turunlah api TUHAN (dalam terjemahan sebenarnya disebutkan “api turun dari YAHWEH”) dan membakar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah, bahkan air yang ada dalam parit itu”

Saudara, Tuhan tidak perlu dibela… Dia bisa menunjukkan diri-Nya sendiri dengan cara yang berada di luar batas pemikiran kita. Tuhan yang besar itu sanggup membuat siapapun sujud kepada-Nya dengan cara apapun.

Tulisan ini dibuat sehari sebelum rencana demo 4 November. Saya berdoa agar Tuhan menyatakan diri-Nya dan membela anak-Nya seperti yang Ia lakukan pada Elia.

Saya akan berdoa seperti Daud ketika meminta kemenangan Raja…

“Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan…
Kiranya Dia membentengi engkau.
Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu di tempat yang kudus dan disokongnya engkau dari Sion.
Kiranya diingatnya segala korban ypersembahan dna korban bakaran yang telah kau berikan.
Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kau kehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kau rancangkan.

Tuhan memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabmu dari sorga yang kudus dengan kemenangan yang luar biasa oleh tangan kanan-Nya.

Orang-orang itu memegahkan kereta dan memegahkan kuda tetapi kita bermegah dalam nama YESUS, Tuhan kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak. 

Ya Tuhan beri kemenangan kepada orang yang yang kasihi ini!”

(diadaptasi dari Mazmur 20)

 

Baca juga : Ahok, antara Daniel dan gembala

 

 

Advertisements