Ketika seseorang di persimpangan


Aku berdiri di persimpangan yang bernama,… “keputusan”
Di kiriku terbentang jalan lebar, mudah dan mulus bernama “reputasi”
Di kananku terbentang jalan sempit, terlihat sulit bernama “integritas”

Mana yang harus kupilih saat kedua jalan ini tiba-tiba berpisah
Andai saja kedua jalan ini menyatu seperti sebelumnya…
Saat integritas menentukan reputasi,
Atau reputasi berarti didapat karena integritas

Tiba-tiba saja kedua jalan itu berpisah
Dan kini aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit

Jalan reputasi begitu terlihat begitu ramai,
kelihatannya hampir semua orang yang dihadapkan dengan persimpangan itu memilihnya

Jalan integritas begitu sepi
Sedikit sekali, hampir tidak ada orang yang memilihnya

Ah, mungkin akhir jalan ini akan sama
Siapa yang tahu kalau aku mengorbankan integritas dan memilih reputasi
Tidak ada orang yang melihat kalau aku berbohong sedikit atau menipu sedikit
Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya aku berpura-pura
Yang penting jalan ini mudah,
dan nama baikku selamat, setidaknya saat ini

Tidak akan ada yang tahu…
Atau…benarkah tidak ada yang tahu??
Bagaimana dengan diriku sendiri? Aku tahu
Bagaimana dengan Dia, yang melihat segala ciptaan? Dia tahu

Di sisi kanan jalan reputasi terbentang sebuah poster besar dan menarik
“No Body Knows”

Di sisi kanan jalan integrity terbentang sebuah poster
“God knows”

Di sisi kiri jalan reputasi terbentang sebuah poster besar bertuliskan
“You are the one who choose”

Di sisi kiri jalan integrity terbentang tulisan “CHARACTER”

Di depan jalan reputasi terbentang tulisan “praise from men”

Di depan jalan integrity terbentang tulisan “praise from heaven”

Ah, aku bertanya pada diriku sendiri
Tak ada yang melihat, apakah aku akan tetap berkata benar
Tak ada yang melihat, apakah aku akan tetap berbuat benar
Tak ada yang melihat, apakah aku tetap dapat memilih integritas??

to be continued

Note:
Suatu saat dalam kehidupan,
Kita akan menemukan, saat-saat dimana reputasi kita harus dipertaruhkan demi integritas
Tetap ingat..
Benar tetap BENAR walaupun tidak ada yang melihat
Benar tetap BENAR walaupun tidak ada orang yang melakukannya

Leadership


Waktu melihat becak di barisan pertama antrian mobil di lampu merah tiba-tiba terpikir:

*Kalau pemimpin adalah pengaruh, maka pengaruh seperti apa yang diberikan?*

Becak itu mau tidak mau membuat mobil berjalan sangat lambat.
Tidak ada pilihan bagi mobil di belakangnya karena di kiri kanannya ada mobil lain
Lantas, apakah becak itu dapat dikatakan pemimpin…setidaknya saat itu?

*Kalau pemimpin adalah pengaruh, mungkinkah pemimpin memperlambat kemajuan anak buahnya?*

Motor-motor juga berada di barisan paling depan.
Ketika lampu hijau menyala, mereka melesat maju, tapi tidak ada yang mengikuti
Sudah jelas bahwa motor-motor itu tidak memberi pengaruh, dan bukan pemimpin

*Mungkinkah ada pemimpin yang berjalan di depan, dan tidak ada yang mengikuti. Tidak memberikan pengaruh, hanya sekedar jabatan*

*Ada pemimpin yang berjalan terlalu cepat, ada pemimpin yang berjalan terlalu lambat.
Yang satu tidak memiliki pengikut, yang satu menghambat pengikutnya.
Lalu pemimpin harus seperti apa?*

Saya pernah harus mencari jalan. Saya bertanya pada seorang pengendara motor, dan dia menawarkan diri untuk mengantar.

Di lampu merah, dia ada di depan saya, terkadang di samping saya
Saat dia tak sengaja melewati lampu merah sebelum saya, dia akan menunggu saya
Dia memastikan saya mengikutinya…sampai tempat tujuan.

*Kalau pemimpin memberikan pengaruh, bukankah yang terpenting dia mengetahui dengan baik pengaruh seperti apa yang dia berikan*
*Kalau pemimpin memberikan pengaruh, bukankah dia harus tahu bahwa pengikutnya mengikuti*
*Kalau pemimpin memberikan pengaruh, bukankah dia harus tahu bahwa pengikutnya menjadi lebih baik*

Yes!!! Leadership is about influence, a good one…

Ngamuk vs self-control


Apa yang dilakukan orang kalau marah?Atau mundur deh pertanyaannya, boleh gak sih seseorang marah? Jawabannya jelas 1000000% boleh…orang boleh marah. Tapi masalahnya, bagaimana dia menangani kemarahannya? Ada yang menanganinya dengan ngamuk dan melampiaskannya dengan menghancurkan barang (gak sedikit lho orang yang gitu), katanya itu bisa menyalurkan emosinya, walau saya gak ngerti dimana letak penyalurannya.

Pilihan kedua adalah anger management, self control. Memanage marah dan mengendalikan diri. Saya juga baru tahu beberapa bulan belakangan kalau ada orang-orang yang jadi sakit karena menahan marah. Kayaknya kemarahan itu naik ke atas kepala dan bersarang di sana, meminta cepat-cepat dilampiaskan. Sebelumnya saya pikir itu cuma ada di kartun aja, orang marah sampe berasap, ternyata beneran hehehe

Ngomong-ngomong soal anger management, kayaknya harus mulai dari pemisahan antara pikiran dan perasaan ya. Gimana kemarahan mempengaruhi pikiran, atau perasaan kita dan adanya konektivitas antara pikiran dan perasaan. hehe, kok jdi rumit ya?

Masalahnya gini, terkadang orang cuma pake perasaannya saja, tapi gak pake logika. Waktu dia sangat marah, perasaannya mulai mengatakan bahwa “saya dilecehkan”,misalnya…nah karena perasaan yang mulai, selanjutnya dilanjutkan dengan hal-hal sentimentil lain deh, kaya “kenapa saya dilecehkan”, “orang itu tidak menghormati saya”, “sya orang paling malang”, dll..akibatnya, belum sempet otak mikir, yang ada tubuh udah melampiaskan apa yang dirasakan sang “perasaan”

Menurut saya, adanya ‘self control’ bukan berarti seseorang gak boleh marah. Adanya self control berarti seseorang dapat mengendalikan amarahnya dengan baik. Menarik nafas setiap ada sesuatu yang membuat marah. Berpikir, “pantas gak kalau saya marah-marah di sini”, atau “bisa ga masalah ini diselesaikan dengan baik2”, atau yang paling penting “apa konsekuensi kalau saya marah2 dan mengamuk” Beda lho marah-marah dan marah.

“Tapi gimana kalau gak sempet?”. Saya yakin saat seseorang merusakkan barang atau mengamuk, ada waktu sepersekian detik untuk mengambil keputusan bahwa dia akan mengamuk. Gimana kalau keputusan itu diganti jadi, menarik nafas panjang? mudah2an membantu, hehe

GBU

Fatalist vs perfeksionis


Pernah ada orang yang bilang sama saya…”Kamu ini fatalist juga ya, beda tipis lho antara fatalis dan perfeksionis”. Setelah beberapa hari saya baru sadar maknanya. Fatalis itu adalah orang yang hanya menerima0 dan 100 kalau memang skalanya 0 sampai 100. Sedangkan perfeksionis adalah orang yang hanya menerima 100 dan berusaha mendapatkannya

Setelh saya pikir-pikir, ternyata sebutan fatalis itu gak bisa dibanggakan,hahaha…Mau tau ciri-ciri fatalis? gini:

1. Orang fatalis akan mengatakan “Use my way, or i quit”. Pakai cara saya, atau saya gak mau ikut-ikutan lagi…gawat ya, hihi…mungkin karena orang fatalis itu terlalu percaya diri kali ya..menganggap bahwa caranya sudah pasti paling bagus…Tapi sekali lagi lho…ini sama sekali bukan kebanggaan, Dont try this at home, eh, anywhere..

2. Orang fatalis tidak mau menunggu, “Now, or never” sekarang, atau tidak usah…hehe, banyak temen-temen yang complain…kalau minta tolong suka gak bisa nunggu lamaan dikit. Begitu yang dimintain tolong gak bisa bantu langsung bilang “saya kerjain sendiri aja deh”. Wah, bukan sifat yang bagus kan?

3. Orang fatalis sulit memberi kesempatan kedua. Begitu orang yang dipercayanya mengecewakan (biasanya masalah kerjaan), wah, jangan harap orang fatalis akan memberinya kesempatan kedua. Lebih baik repot, dikerjakan sendiri daripada kecewa lagi

4. Orang fatalis lebih percaya sama diri sendiri daripada sama orang lain. jadi kalo di sekolah ada tugas yang boleh berkelompok, orang fatalis akan memilih untuk mengerjakan tugas sendirian daripada kerja kelompok.

Duh, makin lama ditulis kok makin serem ya…wish bisa berubah nih…dan temen-temen fatalis lainnya bisa bercermin bahwa menjadi fatalis itu repot 🙂

Definisi, cuma becanda


Keluarga adalah…produk yang dihasilkan dari dua orang yang merasa saling membutuhkan dan memutuskan untuk membina hidup bersama

Pernikahan adalah sebuah ikatan yang dibentuk dua orang. Yang menyenangkan pdaa awalnya tapi kebanyakan disesali pada akhirnya.

Suami istri adalah dua orang yang awalnya berpikir bahwa mereka saling membutuhkan dan tak bisa hidup tanpa pasangannya. Pada akhirnya mereka menemukan bahwa mereka bisa hidup tenang tanpa pasangannya

Suami adalah seorang yang membutuhkan seorang wanita untuk pengganti ibunya karena ia pikir bahwa ibunya sudah terlalu tua untuk mengurusnya

Istri adalah seorang yang tidak belajar dari kesalahan ibunya dengan menerima pria dengan sejuta rayuan yang sebenarnya dapat diucapkan siapa saja

Pada akhirnya,….anak adalah korban dari orang yang mempercayai definisi di atas…hehe

WINNER vs LOOSER


Sebenernya apa sih ukuran menang dan kalah? seseorang dikatakan kalah waktu dia babak belur tanpa peduli dia benar atau salah. Atau seseorang dikatakan menang jika terbukti dia yang benar, tanpa peduli dia sudah babak belur?

Misalnya dua orang memperdebatkan sesuatu dalam sebuah forum, katakan saja X dan Y (kenapa bukan A dan B? karna bosan haha). Sebenernya si X yang bener, dan memang dia yang benar. Tapi di forum itu semua mengatakan bahwa Y yang benar walaupun X sudah mati2an mempertahankan pendapatnya.Tapi X pulang dengan lesu karna semua orang tidak ada yang mendukungnya. Menurut kalian, siapa yang sesungguhnya menang?

Atau…menang adalah sikap hati? Seseorang dikatakan menang waktu dia berpikir bahwa dia menang? trus apa bukti kemenangannya? bukankah sebuah kemenangan harus dibuktikan?

Hmm, rumit ya?

Menurut saya, kemenangan suatu saat harus dibuktikan dari mereka yang benar…walaupun lama…Jdi, kalau yakin kalau benar, terus berjuang biar menang 🙂 kok jadi kaya kampanye pemilu ya hehe

GOSIP


Pernah ngegosip? pasti sering kan. Setiap hari kita lihat gosip di TV…menyenangkan memang nonton gosip, jdi tahu kehidupan di luar sana, tanpa peduli bener ato salah. Atauu,…sebenernya kita seneng karena sedikit banyak kita ngerasa kalau ternyata ada orang yang lebih (maaf) brengsek dari kita…dan perasaan bersalah kita sedikit berkurang. Yah, mungkin itu salah satu alasan kenapa kita seneng gosip yah?

Terus pertanyaan berikutnya…pernah digosipin?? Gak enak lho digosipin. Apalagi digosipin yang murahan gitu haha… Tau gak definisi gosip murahan menurut saya? Gosip murahan adalah gosip yang gak berdasar, malah cenderung gak masuk akal.

Pernah ada orang yang ngegosipin si anu kissing di gramedia di tutupin buk, ketangkep satpam. Waktu dikonfirmasi, yang bersangkutan cuma ngakak. Kalo mau gituan ngapain di gramedia, ditutup buku, emang lagi tantangan apa…

lebih sedih kalau ternyata orang-orang terdekat kita lebih percaya gosip ketimbang diri kita…bete yah…

Gimana guys? pernah ngalamin digosipin dan kerepotan nda?What do you think about gosip?

Siapa yang lebih tau?


Sering denger istilah “buat kebaikan kamu”? Yah, istilah itu sering banget dipake orangtua yang mencoba memilihkan “jalan hidup” buat anak-anaknya. “Nak, kamu kalau sudah besar nanti jadi dokter yah, soalnya papa dulu pengen jadi dokter tapi nda kesampaian”. Lah, kalau anaknya ternyata lebih berbakat di musik gimana?

Pertanyaannya sekarang adalah, sampai umur berapa sih orangtua bisa menentukan pilihan untuk anak-anaknya? Bagaimana mereka bisa tahu apa yang sebenarnya diinginkan anak-anaknya kalau mereka tidak memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk berkarya dan bicara.

Saya kenal orangtua, bahkan banyak orangtua yang terobsesi agar anaknya jadi pintar (mungkin seperti dirinya). Guru les dipanggil, anak-anaknya diawasi setiap jam “heh, kamu lagi belajar gak?”. Pertanyaan saya, apakah itu ekspresi kasih buat anaknya, atau buat dirinya sendiri? Mana yang lebih diutamakan, anak pintar agar orangtua bangga, atau kebahagiaan anak-anaknya?

Saya jadi bertanya-tanya, apakah orang – orang besar didukung oleh orangtuanya saat mereka memutuskan untuk menjalani kehidupannya.

Jangan2 orangtua cuma tinggal ‘nebeng’ bangga, waktu ternyata anaknya berhasil..

Hmm, tulisan saya kali ini agak keras ya…tapi emang orangtua kadang-kadang perlu waktu untuk berpikir, dan bercermin…

Facebook Fever


Sekarang gak punya teman bukan masalah ternyata…Kalaupun ada teman-teman, ternyata orang lebih memilih teman2 dari dunia maya.  Orang sibuk dengan dunianya dan perhatian terhadap lingkungan sekitar mulai berkurang.

Sepertinya, orang akan lebih memilih si “Budi” di dunia maya, daripada jika si Budi itu ada di hadapannya.

Sesuatu yang pada dua puluh tahun yang lalu dianggap TIDAK MUNGKIN “Bagaimana mungkin menyatukan semua orang di dunia”, sekarang menjadi sangat mungkin…cuma menekan satu tombol dan buzzz..dunia di hadapan Anda.

Dan anehnya, kalau dulu orang mengagung2kan yang namanya Privacy, saat ini orang mengobral privacynya…lagi kesel tulis di Facebook (yang mana semua orang bisa mengetahuinya), lagi mau mandi, tulis, mau makan, tulis…Wah…

Gak cuma semua orang bisa mengetahuinya, semua orang bisa mengomentarinya. Hmm…saya lagi berpikir, apakah ini tidak membuka suatu budaya dan kebiasaan baru..kebiasaan usil dan mau tahu urusan orang??

Tapi, kalau saja facebook dipakai dengan benar, untuk saling menguatkan, bertukar informasi yang lebih berguna…pasti bakalan lebih ok..

Tapi segala sesuatu pasti ada akhirnya, dan ketika itu berakhir…akan mulai suatu babak baru. Kita lihat, setelah orang saling membuka privacy, apa yang akan terjadi kemudian?

Keluarga…


Sebenarnya keluarga itu diciptakan Tuhan untuk apa? Bukankah untuk saling melindungi dan mempercayai? Sebagai ‘home’ ?? Kalau bangunan rumah adalah ‘house’, maka keluarga yang menjadikannya sebagai ‘home’.

Di ‘home’ orang merasa aman karena dipercayai.

Di ‘home’ orang merasa aman karena mendapatkan perlindungan

Di ‘home’ orang merasa aman karena mendapatkan kekuatan

Di ‘home’ orang merasa aman karena mendapatkan dukungan

Pertanyaannya sekarang adalah…bagaimana kalau kita tidak mendapatkan semua itu dari keluarga kita. Bagaimana kalau keluarga kita tidak bisa mempercayai, tidak bisa memberikan perlindungan, kekuatan dan dukungan? Sebaliknya malah memberikan kecurigaan, rasa tidak aman, mematahkan semangat dan mencibir pada kita?

Apa sih peran anak dalam sebuah keluarga? apakah cuma obyek yang tidak boleh berpikir dan bertindak sesuai kata hatinya? Apakah anak hanya sebuah ‘milik’ dari orangtua. Orangtua menentukan dengan siapa anak boleh dan tidak boleh bergaul?

Saya berpikir, alangkah lebih baiknya jika dalam keluarga pun ada pemisahan, antara masalah yang menjadi privacy dan masalah keluarga… Apakah harus orangtua menentukan apa yang harus menjadi karir anaknya? Apakah harus orangtua menentukan anaknya bergaul dengan siapa? Apakah diperbolehkan orangtua atau saudara melihat-lihat isi handphone anaknya atau anggota keluarga yang lain?

Seorang anak adalah milik masa depan…bukan milik orangtuanya..

Orangtua adalah orang kepercayaan Tuhan yang hanya diberikan sedikit waktu untuk membentuk anak panah di tangannya. Sekali anak panah itu lepas…sudah bukan tanggungjawabnya lagi ke mana anak panah itu akan berlari…

Orangtua adalah kepercayaan Tuhan yang hanya diberikan sedikit waktu untuk berinvestasi pada hidup anak-anaknya..setelah itu, anak-anaknya adalah seorang pribadi yang utuh…Pribadi yang juga bisa berpikir, pribadi yang bisa memiliki pendapat, pribadi yang memiliki perasaan.

Tapi kenapa banyak orang berpikir bahwa keluarga adalah tempat mereka menjalankan tirani karena di luar mereka tidak mendapatkan tampuk kekuasaan itu. Kenapa banyak orang merasa berhak memiliki anak-anaknya.

Kalau begitu, apakah ketika seseorang menjadi pembunuh, orangtuanya yang akan dipenjara? tidak…seseorang yang sudah dewasa akan menerima sendiri konsekuensi dari apa yang dilakukannya.

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang mengerti arti dari kedewasaan anaknya…

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang tetap mengatakan “papa mempercayaimu” karena dia tau bahwa dia sudah mendidik anaknya dengan benar

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang tetap mengatakan “papa mendukungmu” karena dia tahu bahwa anaknya sudah menjadi individu yang berrumbuh atas didikannya

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang lebih mempercayai anaknya daripada kata-kata orang…

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang menghargai anaknya sebagai pribadi yang utuh, lengkap dengan pikiran, perasaan dan kehendak…

Sebaliknya…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang mencurigai anaknya. Dia tidak yakin bahwa dia sudah menanamkan nilai-nilai yang tepat…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang tidak bisa mempercayai anaknya. Dia tidak yakin bahwa dia pun dapat dipercaya dalam mendidik anak…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang menceritakan keburukan anaknya pada orang lain. Mereka memilih anaknya yang malu daripada mereka sendiri yang malu…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang tidak bangga pada anaknya. Mereka merasa bukan mereka yang menjadikan anaknya berhasil…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang melibatkan orang lain dalam urusan rumahtangga dan keluarganya. Mereka merasa tidak mampu membereskan urusannya sendiri..

Jadi…orangtua seperti apakah Anda?