Apakah Yesus Lahir di Kandang?


Menjelang Natal, saya berencana menulis lagi rangkaian diary series Christmas Edition. Saya berpikir mengenai orang yang memiliki tempat di mana Yesus dilahirkan. Apakah itu kandang?

Sejak kita sekolah minggu, kita diajar bahwa Yesus lahir di kandang hewan karena kemalaman dan tidak mendapatkan tempat di penginapan (Lukas 2:7). Namun hal yang mencengangkan saya beberapa hari belakangan adalah, tidak ada tertulis sama sekali di bagian manapun dalam Alkitab bahwa Yesus dilahirkan di kandang binatang. Nubuat hanya menceritakan bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, sebuah kota kecil. Kisah mengenai kelahiran hanya mencatat bahwa Yesus dibaringkan di palungan dan dibungkus lampin.

Hal ini menimbulkan begitu banyak pertanyaan bagi saya. Apakah setega itu masyarakat Betlehem menerima warganya yang sedang mengunjungi tanah asalnya? Apakah tidak ada rasa kemanusiaan sedikitpun dari pemilik penginapan melihat wanita yang sedang akan melahirkan? Apakah mungkin seseorang menawarkan kandangnya sebagai ganti kamar di penginapan? Continue reading

Terdengar indah


Terdengar indah diucapkan
Tapi sulit dilakukan

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”

Bagaimana jika diganti menjadi…
Kasihilah orang seagamamu seperti dirimu sendiri
Atau
Kasihilah orang yang sudah pindah ke agamamu seperti dirimu sendiri 

Untuk apa susah-susah Continue reading

A Note from Little Hamster


Dear Master,

Kau masukkan aku ke kandang,
Kau beri aku makan,
Kau beri aku minum
Kau berikan aku semua yang dibutuhkan
Tapi aku ingin bebas

Kau pandang aku dengan sayang
Kau menaruhku di genggaman tanganmu
Kau bicara padaku,
Namun tak dapat ku mengerti
Aku hanya ingin bebas Continue reading

About Patience and Tolerance


Sometimes i wish
That all people around me
could behave just like me
they think the way i think
they talk with my accent
they choose my choice

or at least
All people think the same way
talk with the same accent
have the same values Continue reading

Seperti seorang anak


Ah, andai aku seperti seorang anak kecil
Mereka melihat hujan sebagai alasan untuk bersukacita
Dan bukan alasan untuk bersungut-sungut
Bermain dan berlompatan di bawah hujan
Dan bukan mengurung diri dan mengomel sepanjang hari

Ah, andai aku seperti seorang anak kecil
Menerima hal-hal baik sebagai keajaiban
Dan bukannya hak yang harus diterima Continue reading

Tidak, bukan mereka!!


Orang bilang anak-anak sekarang payah
Mereka menginginkan sesuatu yang serba instan
Tidak suka proses dan ingin cepat

Tapi…
Bukankah itu yang kita ajarkan
Mulai dari operasi caesar dan susu formula
Mulai dari pampers pengganti popok
Kita pun ingin menjadi orangtua instan

Orang bilang anak-anak sekarang payah
Tidak ada inisiatif dan harus selalu diingatkan
Inginnya main dan bersenang-senang Continue reading

Anggur baru dan kantong tua


Anakku,
Apa yang akan ku katakan akan sulit kau mengerti
Tapi aku akan mencoba membuatmu mengerti
Karena apa yang ku sampaikan sangat penting

Apakah kau pernah melihat tarzan ke kota
Dia akan mengacak-acak apa yang dia lihat
Karena dia tidak tahu apa fungsinya
Seandainya saja dia tahu,
Dia tidak akan berbuat begitu…
Dia harus tahu…. itu kuncinya Continue reading

Orang lain juga begitu!!


Ketika dihadapkan pada usia tertentu, seseorang akan dituntut untuk melakukan sesuatu yang lazim dilakukan oleh orang2 seusianya.

Seorang anak berusia 7 tahun dan belum sekolah akan ditanya “lho, kok ga sekolah? Temen-temen yang lain udah sekolah” (walau anak ini ga bisa jawab, pertanyaannya sebenarnya diajukan untuk orangtuanya). Padahal kemampuan setiap orang berbeda, mungkin saja anak ini belum menunjukkan prestasi terbaiknya…

Seorang remaja berusia 19 tahun dan belum lulus dari SMA atau belum kuliah/kerja akan ditanya “lho, kenapa masih sekolah? Masuknya telat ya? Atau pernah ga naik?”. Kalau pun tidak langsung ditanyakan, akan jadi omongan di belakang. Padahal ada banyak alasan yang cukup logis mungkin kenapa remaja itu belum lulus…

Seorang berusia 25 tahun dan tidak (kelihatan) bekerja akan dikata-katai “kasihan orangtuanya ya, masih membiayai dia”. Padahal, orang-orang itu tidak tahu juga apakah orang itu masih dibiayai atau tidak.

Seorang gadis single berusia hampir 30 tahun, akan ditanya “sudah punya anak brapa? Apa? Belum menikah? Kenapa belum menikah? Orang lain seumurmu sudah pada gendong anak, malah ada yang sudah antar anak sekolah….Mungkin kamu terlalu pemilih…. Gimana kalau dikenalin….. (Bla bla bla)”. Padahal, orang-orang itu tidak tanya juga apakah memang gadis itu mau menikah, siap menikah…. Atau orang-orang itu tidak memikirkan perasaan gadis itu

Seorang bapak berusia 60 atau 70 tahun dan masih bekerja akan ditanya “kenapa masih kerja? Apa dulu tidak menabung? Apa tidak ada uang pensiun? Bapak-bapak lain seumur Anda sudah menikmati masa pensiun bersama cucu”. Padahal mungkin Bapak itu lebih merasa hidup ketika bekerja atau melakukan sesuatu.

Kadang suka mikir juga, kenapa orang-orang yang bertanya itu punya cukup waktu dan tenaga untuk mengurusi urusan orang lain. Dan siapa yang memberi aturan mengenai batas usia sekolah, usia bekerja, usia menikah, usia pensiun, bahkan usia mati?

Panggilan Usia


Bermain dengan boneka dan benang-benang
Berkhayal menjadi putri cantik
Mengubah selimut menjadi tenda dalam bayangan
Dan guling sebagai kuda

Itu dulu….
Entah kapan semuanya itu tidak menarik lagi
Selimut kupandang hanya kain penghangat
Putri cantik hanya dalam dongeng
Dan apa yang dilakukan anak-anak adalah hal konyol Continue reading