Saya mendapat kesempatan mengajar generasi Z selama satu semester mengenai Marketing Farmasi dan Kewirausahaan (dijadikan satu mata kuliah). Beberapa minggu sebelumnya saya mengobrol dengan seorang pengusaha yang berkata bahwa generasi Z ini memang harus diperlengkapi dengan kemampuan Wirausaha sehingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, menciptakan lapangan kerja mereka sendiri.
Saya sungguh bersyukur mendapat kesempatan mengajar mahasiswa yang menyerap seperti spons ini. Menerima setiap pelajaran yang diberikan dan menghasilkan produk-produk buatan mereka yang luar biasa.
Mereka bukanlah mahasiswa program Sarjana, tapi kegigihan, usaha dan kecerdasan mereka luar biasa. Produk mereka sangat menjanjikan, berkualitas dan saya rasa siapa pun akan sepakat dengan saya bahwa anak-anak generasi Z jika diarahkan dengan tepat akan menjadikan bangsa ini unggul di bidang apapun. Namun jika tidak diarahkan, dapat membuat bangsa ini mundur dan hancur dengan segera.
Kekuatan yang besar memang begitu, bukan? Saat digunakan untuk apa yang baik maka akan ada daya bangun yang luar biasa, sebaliknya jika digunakan untuk sesuatu yang buruk, daya hancurnya pun luar biasa.
Produk yang mereka hasilkan, seperti parfum, coklat, handbody lotion, face mist, masker dan lipbalm dikerjakan dengan sepenuh hati dan memiliki nilai jual yang sangat baik. Saya sendiri menyukai parfum dan coklat rasa cabe yang unik.
Terkadang anak-anak mengejutkan kita dengan apa yang mereka sampaikan, bukan begitu?? Jika Anda memiliki anak generasi Z, Anda akan sangat rugi jika tidak menghabiskan waktu bicara dengan mereka. Mengabaikan kesempatan untuk bicara dan mengajar mereka sama saja menyia-nyiakan waktu yang sungguh berharga sekaligus melepaskan kesempatan menjadi pahlawan yang membentuk hidup mereka, dan masa depan negara ini.
Sudah lama tidak menulis dan tidak bermedia sosial. Sejak facebook kurang diminati dan isinya hanya orang yang berjualan online, rasanya malas sekali menulis. Karena selama ini hanya “mempromosikan” tulisan dari facebook. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya lebih sering menulis untuk diri sendiri, syukur-syukur jika memang itu bisa berguna buat orang lain.
Facebook sekarang berisi berita, curhat, foto-foto yang merupakan sinkronisasi dari instagram, sehingga jika ada tulisan kurang bermutu seperti blog saya ini (yang kebanyakan ditulis untuk kepuasan diri sendiri), akhirnya akan dilewatkan begitu saja. Yaah, begitulah kehidupan, hal-hal tidak penting akan dilewatkan begitu saja.
Ngomong-ngomong soal hal-hal tidak penting. Saya sedang berpikir bahwa ada terlalu banyak hal dalam kehidupan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, hal-hal yang tadinya kita anggap penting tidak lagi akan kita anggap penting.
Sebelumnya membuka facebook, posting status atau upload gambar adalah hal yang penting. Kemudian komentar orang-orang terhadap foto kita, adalah hal yang penting juga. Kita menjadi kesal ketika ada komentar yang tak sepaham dan senang bukan kepalang jika ada yang mendukung kita. Kita menjadi senang hanya karena hal tidak penting seperti jumlah like di foto kita atau komentar “cantik”.
Namun seiring berjalannya waktu, kita menjadi bosan dan hal-hal seperti itu tidak penting lagi, bukan?
Dulu saya banyak menulis karena melihat ada begitu banyak hal ironis dalam kehidupan. Sekarang saya melihat bahwa hal-hal ironis adalah normal dalam hidup. Apa yang bisa kita harapkan dari hidup di dunia? Surga di dunia hanya bisa kita rasakan jika kehendak Bapa jadi sepenuhnya dalam dunia ini, persis seperti doa Yesus.
Dulu saya akan melihat ditabrak motor kemudian ‘dipalakin’ pengendara motor yang bersalah itu adalah sebuah ironi, konyol, tidak masuk akal. Sekarang saya sudah bisa menerima bahwa di negeri ini, memang itu normal terjadi, tak perlu dituliskan, tak perlu dibahas, toh tak akan berubah juga.
Lalu saya berpikir, bukankah akhirnya sebuah kerusakan sistem dimulai dari toleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil? Ah, tapi masa bodoh dengan semuanya. Apa gunanya jika suara kita toh tidak akan membawa perubahan.
Akhirnya bukankah setiap orang akan hidup untuk dirinya sendiri?
Ada tiga jenis manusia hidup di jaman sekarang. Pertama adalah mereka yang hidup tanpa teknologi, masih hidup dengan cara yang lama. Oh ya, mereka masih ada. Coba saja Anda lihat mereka yang hidup di pulau terpencil, tidak ada jaringan, tidak ada televisi, hanya ada mereka dan alam. Kedua, mereka yang hidup full teknologi. Tidak dapat hidup tanpa bantuan robot atau mesin, atau tidak dapat hidup tanpa gadget di tangan mereka. Ketiga adalah orang yang terjebak di antara keduanya.
Ya, ada orang-orang yang terjebak di antara primitif dan teknologi. Entah sebaiknya kita memanggil mereka apa. Mereka hidup dikelilingi teknologi tapi mereka tidak memahaminya. Mereka masih hidup dengan cara yang sama seperti saat tidak ada teknologi. Mereka masih membual seolah kata-kata mereka tidak dapat dicek kebenarannya. Mereka masih berbohong mencoba mengutil seolah tidak ada CCTV yang melihat mereka.
Mereka ini yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini…. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknologi.
Sebut saja drama politik negara ini setelah pilpres. Satu pihak menuding pihak lainnya berbuat curang tanpa sadar bahwa jaman sekarang yang seperti itu dengan mudah dibuktikan. Atau sebaliknya jika ada yang berbuat curang dalam input hasil perolehan pemilu tanpa sadar teknologi dapat memungkinkan setiap mata mengawasi mereka.
Kita hidup di mana guru-guru modern mengatakan pada anak SMAnya, “oke buka gadget kalian dan tolong searching mengenai anu. Saya akan kasih kalian waktu 10 menit untuk mencari tahu dan setelah itu kita diskusi.” Sementara ada juga sekolah (di kota besar) yang melarang siswa-siswinya membawa gadget ke sekolah.
Saat guru-guru modern meminta anak didiknya mengumpulkan tugas lewat google class, masih ada sekolah di kota yang masih menyuruh siswinya mengumpulkan tugas menyalin dari google. COME ONE!!
Setelah dipikir-pikir akar permasalahannya, ternyata mengenai “integritas”. Jika saya disuruh menjelaskan satu kata sulit ini “Integritas” pada anak-anak. Saya akan mengatakan bahwa Integritas adalah dapat dipercaya dan dapat diandalkan dari segi kejujuran!
Sekolah atau guru yang terjebak antara primitif dan teknologi tidak dapat mempercayai siswa-siswinya jika mereka diijinkan membawa gadget ke kelas. Jadi alih-alih memanfaatkan teknologi mereka memilih membatasinya. Alih-alih mengajarkan nilai integritas agar anak menunjukkan sikap dapat dipercaya, mereka memilih menutup kesempatan anak berbuat curang. Paham maksud saya?
Ya, masalahnya memang rumit. Di satu sisi ada teknologi, di sisi lain ada karakter, jika keduanya dapat sejalan, bayangkan dahsyatnya masyarakat di mana kita tinggal. Mereka yang terjebak di antara primitif dan teknolgi adalah mereka yang tidak dapat mengejar teknologi dengan karakter positif, mereka yang tidak dapat bertanggungjawab atas teknologi yang ada di depan mata mereka… dengan kata lain, orang-orang yang norak!
Apakah kata ‘norak’ terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang ‘piknik’ di stasiun MRT saat stasiun itu baru dibuka? atau mereka yang bergelantungan di MRT dan menginjak bangku MRT?
Apakah kata “norak” terlalu keras? Bagaimana dengan orang yang mengklaim kemenangan padahal hasil teknologi mengatakan sebaliknya?
Jadi jika kita mau dikatakan bijak, alih-alih norak, manfaatkan teknologi dengan bertanggungjawab dan pupuk karakter positif, serta sadari ada “CCTV” di manapun Anda berada!
Anakku,
Suatu saat kau pulang dengan sedih,
Katamu temanmu mengatakan wajahmu tak secantik mereka,
Dan kau tak sekaya mereka,
Dan kau tak sepintar mereka.
Anakku,
Ada banyak hal dalam dunia yang dapat disombongkan manusia,
Mereka bisa menyombongkan penampilannya,
Atau menyombongkan kepintarannya,
Atau menyombongkan kekayaannya,
Atau menyombongkan kedudukannya.
Kebanggaan manusia adalah apa yang ia miliki,
Kemudian mereka merasa lebih baik daripada yang lain,
Menyombongkannya dan menjadi lupa…
Bahwa sesungguhnya mereka tak memiliki apa-apa
Bahwa apa yang ada pada mereka adalah titipan Pencipta.
Keelokan wajah tak perlu disombongkan,
Tuhan berkata semuanya baik,
Semua manusia istimewa,
indah dalam pandangan Penciptanya
Namun… kau harus ingat
Bertanggungjawab artinya menjaga tubuhmu dengan baik
Berpenampilan pantas, membersihkan diri
Karena kepercayaan diri memancarkan kecantikan
Dan kebaikan hati mengeluarkan pesonamu.
Kepintaran bukan untuk disombongkan,
Namun diberikan Tuhan untuk membantu sesama
Gunakan akal budimu sebaik mungkin
Kendalikan diri dan gunakan kecerdasanmu dengan baik
Bertanggungjawab artinya mau belajar,
Berpikir kritis dan tidak malas.
Kekayaan bukan untuk disombongkan,
Namun seberapa banyak yang Tuhan percayakan padamu,
Pergunakan dan kelola itu dengan bijak.
Bertanggungjawab artinya menjadi berkat melalui apa yang kita miliki,
Berbagi dan menolong orang lain adalah apa yang Tuhan perintahkan
Kedudukan bukan untuk disombongkan,
Ada di posisi manapun kau saat ini,
Tugasmu adalah melakukan yang terbaik
Berusaha semampumu,
Tidak menjadi arogan ketika kau ada di atas,
Dan tidak iri ketika kau ada di bawah
Bertanggungjawab artinya bersikap bijak dengan kuasa yang kau miliki,
Tahukah kau apa yang dapat kau sombongkan dalam hidup?
Kau dapat menyombongkan Tuhanmu,
Kau dapat bermegah dalam Nama-Nya
Ketika orang memujimu,
Pujilah Tuhan, sombongkanlah Dia
Sebutlah Nama-Nya yang kudus, sombongkanlah Dia
Katakan bahwa semua dari diri-Nya, sombongkanlah Dia
Kau dapat menyombongkan Tuhanmu,
Kau dapat bermegah dalam Nama-Nya
Ketika kau mulai besar kepala, pujilah Tuhanmu!
Katakan semuanya dari Dia
Kecantikan, kepintaran, kekayaan, kedudukan
Semuanya sia-sia tanpa Dia
Sombongkanlah Dia,
Bermegahlah dalam Dia
Bermegahlah dalam Nama-Nya yang kudus,
Biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan
Kemarin, keran tempat cuci piring di tempat saya rusak (mungkin Anda sudah melihat video dua menit curhat saya). Sebenarnya sudah berhari-hari, dan saya menggunakan solusi cepat tapi tidak efektif, yaitu menggunakan karet gelang supaya bocornya bisa tertahan. Papa saya insinyur (selalu saya banggakan), dan bagi Papa hal-hal seperti ini sangat mudah. Tapi saya tidak langsung bilang sama Papa. Saya berusaha menyelesaikannya sendiri, sampai kemarin kerusakannya sudah tidak mungkin ditahan lagi. Air menetes terus dan keran tidak bisa digunakan lagi.
Saya telepon Papa saya (saat itu malam-malam sekitar jam 7 malam), berkata dalam kepanikan, “Pa, ini gimana, kerannya rusak”.
Papa saya menjawab (ngeselin sih jawaban pertama) “ya harus dibenerin dong kalau rusak”.
“Ya tapi gimana, apa harus panggil orang buat benerin keran rusak”
“Ga usah, benerin sendiri aja, gampang itu mah.”
“Tapi Greissia ga bisa benerinnya, ini ga bisa berenti airnya gimana.” (ya baik, saya memang seperti anak kecil memanggil nama pada diri sendiri kalau ke Papa dan Mama saya)
“Gampang itu mah tinggal diganti aja. Nanti sebentar Papa mandi dulu terus langsung ke sana”
Tidak lama kemudian Papa saya datang untuk melihat duduk permasalahannya. Papa datang membawa kotak perkakas berat yang isinya kunci-kunci untuk keperluan memperbaiki keran. Saat itu saya sudah berhasil memutar keran pada posisi yang tepat, tapi kalau kena dikit saja pasti airnya keluar lagi.
“Oh, ini sih harus ganti keran. Ya sudah besok pagi-pagi Papa beli keran terus ke sini. Ini jangan diputar-putar dulu, sementara pakai keran kamar mandi saja”
Besok paginya, Papa saya datang, membawa keran baru dan memperbaiki keran dengan cepat.
Orang Kristen saat ini terbagi menjadi dua kutub, mereka yang ‘melupakan Tuhan’ ketika ada masalah dan berusaha menyelesaikan dengan caranya sendiri (seperti saya saat tahu keran rusak), dan mereka yang serakah dan suka “memotivasi Tuhan” untuk memberkati mereka.
Dapatkah Anda membayangkan kalau saya telepon Papa saya dan berkata seperti ini “Papa, Greissia percaya papa sanggup memperbaiki keran. Greissia sebagai anak mengklaim bahwa Papa akan membelikan keran baru dan memperbaiki keran yang rusak”.
Bagi saya itu tindakan kurang ajar! Sama sepert yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “ayo Nak, mama percaya kamu bisa membereskan mainan setelah selesai digunakan”, semacam tindakan memotivasi dan Tuhan tidak perlu dimotivasi. Memotivasi Tuhan sama seperti melecehkan-Nya.
Ada perbedaan yang jelas antara beriman dengan memotivasi Tuhan melakukan apa yang kita inginkan dengan “bahasa penuh iman”.
Kalimat yang diawali “aku percaya…” adalah kalimat untuk diri sendiri. Saya percaya Papa saya bisa memperbaiki keran, maka dengan penuh iman saya berkata “Papa, tolooong”. Kita beriman Tuhan sanggup menolong kita, maka ketika kita berada dalam masalah kita berkata “Tuhan, tolooong”.
Tapi permintaan tolong bukanlah tuntutan. Saya tidak menuntut Papa saya untuk menolong saya, saya tahu Papa saya menolong saya karena dia sanggup melakukannya. Ketika dia berkata “besok Papa ke sini” saya tidak boleh berkata “sekarang Papa!! Perbaiki sekarang!” Semoga Anda memahami maksud saya.
Memasuki tahun yang baru ada banyak pendeta (biasanya dari aliran karismatik) yang menghimbau jemaat untuk “mengklaim janji Tuhan”. Mengklaim artinya menuntut. Silahkan pikirkan sendiri pantaskah kita menuntut Tuhan?
Dalam video di bawah ini diperlihatkan pendeta memimpin jemaatnya meyakini bahwa Tuhan akan memberi rumah baru, mobil baru, hutang-hutang lunas, menjadikan pemimpin, menjadikan kaya. HEY!! Itu bukan doa! Itu kurang ajar!
Kalau Bapamu memberimu ‘berkat’, itu bukan karena kamu menuntut Dia, itu karena Dia berpikir kamu bisa mengelola berkat itu dengan baik. Kalau kamu datang pada Bapa untuk minta berkat, atau memberi sejumlah uang supaya diberkati, apa bedanya dengan pergi ke gunung Kawi untuk minta pesugihan??
Kalau Bapamu tidak memberimu apa yang kau inginkan, itu karena Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Jika Dia memang tidak akan memberikannya, mengklaim, memotivasi, atau apapun tidak akan membuat Dia tergerak untuk memberikannya.
Tuhan dekat dengan orang yang patah hatinya dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya (Mazmur 34:19), dan tidak ada tertulis Dia dekat dengan orang yang serakah, atau memberi kepada orang tamak.
Jadi lain kali ketika Anda mau mengklaim, atau menuntut, atau memotivasi Tuhan, ingat…Mungkin Anda harus patah hati dan remuk jiwa dulu baru Dia mendengarkan Anda. Itupun bukan melakukan apa yang Anda inginkan, tapi melakukan apa yang Dia inginkan!
Dia adalah insinyur semesta, Dia tahu apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan dan apa dampaknya ketika itu dilakukan (atau tidak dilakukan). Percaya saja, berserah pada-Nya ketika hati Anda patah atau jiwa Anda remuk, tapi jangan sok-sokan mengajari atau memotivasi Dia mengenai apa yang seharusnya atau tidak seharusnya Dia berikan dalam kehidupan Anda. Karena ada perbedaan antara beriman dan sok tahu!
Anakku,
Kau bertanya “bolehkah kita membenci orang?”
Aku jawab “tidak,”
Tapi… kau harus bisa membedakan
Antara membenci dan tidak sejalan
Antara membenci dan tidak sepakat
Antara membenci dan tidak bersahabat
Kita tidak boleh membenci
Tapi juga tidak harus sejalan dengan orang lain,
Terutama jika mereka melakukan apa yang tak baik
Karena Firman Tuhan berkata
“Berbahagialah orang yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh”
Kau harus memilih dengan siapa kau bergaul
Tapi kau harus bisa menjadi berkat bagi semua orang
Itu adalah dua hal yang berbeda
Jangan berjalan menuruti nasihat yang tidak baik dari teman-teman yang tak baik
Tapi jadilah teladan,
Berbuat baik kepada mereka yang tak baik
Jangan berdiri di jalan orang berdosa
Melakukan apa yang dilarang Firman Tuhan
Atau yang sering ku katakan ”jangan..”
Tapi jadilah teladan
Lakukan apa yang benar sekalipun tak ada yang melakukannya
Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti sama dengan orang lain
Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti ikut-ikutan melakukan ini itu
Kau tak boleh membenci
Tapi mengasihi tak berarti melakukan semua yang orang lain ingin kau lakukan
Anakku,
Ketika kau memahami hal ini
Kau akan memahami maknanya menjadi terang yang mempengaruhi kegelapan
Bukan terang yang pudar
Atau terang yang suram
Ketika kau memahami hal ini
Kau akan memahami maknanya menjadi garam yang mengasinkan
Bukan yang tawar dan tak berguna
Kasihilah sesamamu manusia
Tapi tetaplah menjadi jati dirimu
Terang dunia…
Salah satu kalimat yang menggelitik saya dalam kotbah hari ini adalah “Menurut penelitian 65 persen anak bunuh diri tanpa kehadiran sosok ayah…”,
Saya berpikir… Artinya, 35 persen anak bunuh diri walau ayahnya hadir, jumlah yang masih sangat besar. Pertanyaan saya, apakah ‘kehadiran ayah’ memiliki pengaruh yang cukup signifikan dari keputusan seorang anak bunuh diri?
Terlepas dari adanya kehadiran ayah atau tidak dalam diri anak (yang mana saya yakini bahwa kehadiran sosok ayah penting bagi setiap anak manapun), keputusan anak bunuh diri disebabkan rendahkan kemampuannya mengendalikan emosi, dengan kata lain rendahnya kecerdasan intrapersonal.
Sekali lagi, tanpa mengecilkan arti kehadiran ayah, kecerdasan intrapersonal yang rendah merupakan penyebab seseorang bunuh diri. Pertanyaannya, bagaimana melatih kecerdasan intrapersonal seorang anak?
Kecerdasan intrapersonal anak dilatih sejak ia masih sangat kecil. Jika Anda tak pernah mengijinkan seorang anak merasa kecewa, saat dewasa ia akan mengalami kesulitan menangani kekecewaan. Jika Anda tak pernah memotivasi anak saat ia kesulitan melakukan sesuatu di masa kecilnya, saat dewasa ia akan mengalami kesulitan menangani keputusasaan. Jika Anda selalu menyela dan tak punya cukup waktu mendengarkan saat mereka marah, saat dewasa ia akan kesulitan menangani kemarahan.
Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan dasar yang harus diajarkan pada anak, tapi sayangnya, bahkan dengan kehadiran seorang ayah, anak tidak mempelajari ini sejak kecil. Bahkan seringkali diperburuk oleh orang tua. Orang tua yang selalu menjatuhkan, orang tua yang terlalu “sayang” hingga mengabulkan semua keinginan anak dan tak mengijinkan anak kecewa atau menangis, orang tua yang tak punya cukup waktu mendengarkan anak.
Lagi dan lagi, tanpa mengecilkan kehadiran seorang ayah, sumber dari kecerdasan intrapersonal adalah kehadiran Tuhan dalam hidup anak. Adanya pengharapan dalam kesesakan, kesabaran dalam kesulitan, dan iman dalam ketidakjelasan adalah sepenuhnya karya Roh Kudus dalam tiap anak.
Artinya, menurut pendapat saya, kehadiran ayah akan sia-sia ketika ia tidak mengenalkan Tuhan dalam hidup anak. Jadi, menurut saya, pertanyaan utamanya pada akhirnya bukanlah apakah ayah hadir atau tidak dalam kehidupan anak, tapi apakah Tuhan hadir dan diperkenalkan sejak kecil dalam hidupnya.
Pancasila itu dasar yang bagus. Bagus sekali malah, mencakup seluruh aspek kebangsaan. Di jaman saya dulu, anak-anak TK sudah bisa menghafal Pancasila. Orang tua membantu anaknya menghafal Pancasila sehingga mau tidak mau mereka pun hafal Pancasila.
Tapi mengaku saja, saat kita TK Pancasila hanya sesuatu yang kita hafalkan tanpa kita maknai, persis seperti ayat hafalan yang sering diberikan oleh Guru Sekolah Minggu. Panjang, tapi tidak dimengerti!
Parahnya, seiring dengan berjalannya waktu, sesuatu yang dihafalkan tanpa dimaknai akan tetap seperti itu, dihafal tapi maknanya tak pernah sekalipun kita pikirkan, tak pernah sekalipun kita resapi, tak pernah sekalipun kita mengerti.
Sila pertama ditulis dengan gagah disamping lambang bintang “Ketuhanan yang Maha Esa”, begitu indah, dan akhirnya dimaknai secara sembarangan. Tuhan itu hanya satu, kalau kamu tak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhanku, kamu pasti kafir, karena itu orang kafir halal darahnya!
Katanya Bintang melambangkan cahaya, seperti Tuhan, itu makanya dipilih sebagai lambang sila pertama. Tapi kalau kita mau melihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda, kenyataannya banyak bintang di alam semesta ini, kamu boleh memiliki bintangmu, aku bintangku sendiri, walau keduanya sama-sama terang.
Sila kedua ditulis dengan ketegasan disandingkan dengan rantai: “Kemanusiaan yang adil dan beradab“. Saat kita kecil kita menerima saja penjelasan mengapa rantai dipilih untuk sila ini, yaitu kondisi manusia yang saling membantu, sebuah kondisi peradaban umat manusia: saling membantu.
Mungkin karena maknanya sebatas saling membantu bergotong royong maka arti adil dan beradab tidak dimaknai lebih dalam. Beradab berarti menjadi bagian dalam masyarakat dengan segala resikonya, taat aturan dan siap mengambil konsekuensi jika melanggarnya.
Sila ketiga ditulis adem di bawah pohon beringin: “Persatuan Indonesia“. Suatu sila yang begitu banyak disakiti akhir-akhir ini. Persatuan berarti “kau dan aku berbeda namun dapat bersatu” dan bukan berarti “kau dan aku sama”. Beringin dengan satu akar tunggal yang masuk dalam tanah namun memiliki banyak akar gantung di ranting-rantingnya.
Entah di mana letak kekeliruan memaknai sila ini. Bagaimana Batak dan Jawa bisa dianggap sama, karena memang berbeda, tapi keduanya Indonesia? Bagaimana Padang dan Ambon bisa dianggap sama karena berbeda tapi bukankah keduanya Indonesia? Bagaimana keturunan Arab dan Tionghoa bisa dianggap sama, karena memang berbeda, tapi bukankah keduanya yang tinggal di Indonesia berbangsa Indonesia?
Sila keempat selalu merupakan sila yang paling sulit untuk dihafalkan anak TK, terlalu banyak bahasa yang sulit dimengerti, karena itu sampai besar kita tak pernah benar-benar memaknainya, hanya menghafal begitu saja: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” (Belum lagi lambangnya agak menakutkan, Banteng dengan dasar merah)
Sila ini untuk pemimpin, yang harus memimpin dengan hikmat dan bijaksana. Tidak mungkin seorang dapat memimpin jika ia tidak memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Tapi lucunya hari-hari ini kita disuguhkan dagelan dari para wakil rakyat, belum lagi korupsi yang merajalela.
Kepemimpinan dengan hikmat dan bijaksana ini dinaungi oleh dua kata sulit lainnya: permusyawaratan dan perwakilan. Semua harus dirembukkan, karena itu Presiden memiliki banyak mentri. Kemudian rakyat memiliki wakil… yang senantiasa melucu di gedung hijau itu.
Sila kelima adalah sila kegemaran saya: Keadilan sosial bagi SELURUH rakyat Indonesia (penekanan dari saya) dengan lambang padi dan kapas yang menggambarkan pangan dan sandang.
Ini juga selama beberapa puluh tahun tak pernah terjadi. Ada daerah yang baru didatangi presidennya di empat tahun belakangan. Ada daerah yang baru melihat aspal dalam empat tahun belakangan (dan daerah lainnya yang bahkan tidak tahu aspal itu apa).
Jika saya menjadi Pancasila, dengan pelanggaran besar-besaran seperti ini, tentunya saya menangis. Tak ada satupun sila yang benar-benar diterapkan di negara. Suatu dasar ideal yang tetap menjadi mimpi karena tak pernah terwujud.
Selamat hari jadi, Pancasila, sedih sekali karena tahun ini, kau masih harus menangis.
Betapa cepat kemajuan teknologi sepuluh hingga dua puluh tahun belakangan. Saya masih ingat sekitar 14 tahun yang lalu ketika saya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Saya kost di jakarta selama 6 bulan sebelum kemudian keluar dan kembali ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan.
Saat itu saya bingung bagaimana caranya “membunuh waktu”, terutama di hari Sabtu dan Minggu. Saat itu belum ada tol cipularang sehingga untuk pulang ke Bandung hari Sabtu siang (karena saya tidak libur di hari Sabtu) menghabiskan begitu banyak waktu (bisa sampai 8 jam). Biasanya saya menghabiskan waktu dengan menonton atau membaca buku, atau pergi ke warnet untuk chatting dengan teman. Saya bahkan pernah menghabiskan buku Harry Potter dalam satu hari karena benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membunuh waktu.
Tadi, saya bicara dengan seorang anak yang baru lulus SMK dan memiliki rencana kuliah di luar kota. Saya merasa diri sudah tua ketika tanpa berpikir saya berkata “bosan lho di tempat kost, harus bawa TV…” belum selesai saya menyelesaikan kalimat saya, saya tersadar, ah ya benar, ada youtube, viu dan banyak aplikasi lain di smartphone yang menjadi senjata kita membunuh waktu.
Kita berusaha mati-matian membunuh waktu. Di setopan lampu merah, saat mengantri di bank, saat menunggu kendaraan umum, di manapun kita ingin agar waktu berjalan tanpa kita sadari.
Namun tanpa sadar kitalah yang dirugikan dengan “matinya sang waktu”. Setidaknya itulah yang ada di pikiran kita. Kita pikir waktu telah mati, padahal kitalah yang seperti mati, waktu terus berjalan, tik tok tik tok. Bekasnya terlihat di mana-mana, rambut yang memutih, kerut yang semakin banyak, kondisi nenek kita yang menurun drastis, jerawat yang timbul. Waktu meninggalkan jejaknya di mana-mana.
Sang waktu tidak mati, kitalah yang sebenarnya “mati”. Kita menjalani hari seperti benda mati. Tak memaknainya, tak memberinya makna. Kita menjalani hari tanpa meninggalkan jejak yang berarti, dan tiba-tiba usia tua menyergap dari berbagai arah, entah orang tua kita yang tiba-tiba tua karena kita tidak menyadarinya akibat kurang menaruh perhatian dan menghabiskan waktu berasama, atau anak kita yang tiba-tiba besar karena kita tidak menikmati setiap proses pertumbuhannya. Atau diri kita sendiri saat kita bercermin.
Sesungguhnya sang waktu tak bisa mati, sebagaimanapun kita mencoba membunuhnya. Malah kitalah yang akan mati tanpa kita sadari. Taruh sebentar smartphone di tangan Anda, tegakkan kepala dan lihatlah sekitar Anda. Mungkin ada tempat di mana kita bisa membalas dendam pada Sang Waktu, dengan meninggalkan jejak kita yang berharga saat kita masih hidup di dunia.
Tanganku,
Suatu saat kau akan keriput
Tapi sebelum saat itu
Aku harap sudah banyak yang kau kerjakan
Berguna bagi orang lain,
Membantu sesama,
Melakukan apa yang hebat,
Menghasilkan karya besar,
Mengubahkan dunia
Wajahku,
Suatu saat kau akan keriput,
Tapi sebelum dan bahkan sesudah saat itu
Aku harap banyak yang kau tunjukkan,
Senyum yang menenangkan
Tawa yang hangat
Kemarahan yang dikendalikan,
Perhatian tulus saat ada yang bicara,
Mataku,
Suatu saat penglihatanmu akan kabur
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau lihat
Banyak yang sudah kau pelajari,
Banyak yang sudah kau baca,
Banyak yang sudah kau kenali,
Telingaku,
Suatu saat pendengaranmu mungkin akan berkurang
Tapi sebelum saat itu
Aku harap banyak yang sudah kau dengar
Banyak keluhan yang kau dengarkan
Banyak cerita yang kau tangkap
Banyak pelajaran yang kau dapatkan
Mulutku,
Suatu saat mungkin kau akan banyak bicara,
Mengeluh ini itu,
Mengomel ini itu,
Tapi sebelum saat itu,
Aku harap kau bisa mengendalikannya
Seperti kekang pada kuda
Lambat berkata-kata
Memilah mana yang harus diucapkan
Berlatih untuk tak memaki
Berlatih untuk tak mengomel
Berlatih untuk mengatakan apa yang manis
Tubuhku,
Suatu saat kau akan renta
Tapi sebelum saat itu,
Berkaryalah,
Berbuatlah banyak,
Bersyukurlah,
Bantulah mereka yang membutuhkan
Agar ketika saatnya tiba,
di tengah keriputmu,
Kau dapat tersenyum,
Ketika Pencipta memanggil.