#RIPIntan


Nak Intan,
Hidup terkadang seperti tidak adil kan? Usiamu masih sangat muda dan kehidupan direnggut darimu oleh satu orang… Tidak! Sebenarnya bukan oleh satu orang, tapi oleh ideologi sesat. Ideologi yang menjunjung dendam dalam bab pertamanya, dan teror adalah wajahnya. Ideologi yang tidak mengenal kata kasih, toleransi, dan kemanusiaan.

Tapi sudahlah nak, kau tak perlu tahu semua itu. Sebenarnya, kau beruntung. Sekarang kau bisa bertanya langsung pada Tuhan, yang nama-Nya kau dengar dari kakak Sekolah Minggu. Kau bisa tanyakan langsung… kenapa Tuhan menciptakan gorila seperti King Kong yang badannya besar tapi kakinya pendek, atau mengapa bebek lehernya panjang… 

Ada teman-teman bermainmu yang masih berjuang dengan hidupnya. Kalaupun hidup, mereka akan memiliki bekas api itu di tubuh mereka, seolah pengingat bahwa hidup terkadang memang tidak adil… bahwa terkadang manusia bisa berbuat begitu kejam.

Tapi tahukah kau… setiap kehidupan memiliki porsinya sendiri… Teman-temanmu akan menjalani hidupnya sendiri. Jika mereka bertahan, Tuhan tak akan pernah meninggalkannya. Jika hidup terasa tidak adil, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang adil. Tak hanya itu, dia juga penuh kasih. Dia memberi kesempatan pada temanmu untuk menjadi pahlawan iman, tetap hidup dan mengampuni. Menjadi teladan dalam perbuatan baik…

Nak Intan,

Ayah ibumu pastilah orang-orang hebat. Orang-orang yang tidak hanya mengajakmu ke gereja, tapi menghidupi Firman Tuhan itu sendiri. Mereka mengampuni orang yang membuat anak mereka tidak terlihat cantik di waktu-wakti terakhir hidupnya… Mungkin karena mereka tahu bahwa saat ini wajahmu sudah kembali cantik dan bersinar. Mungkin mereka tahu bahwa kini kau berada di tempat yang tepat, pangkuan Sang Khalik.

Hanya orang hebat yang bisa memilih kasih daripada benci, dan menemukan kekuatan dalam air mata. Hanya orang hebat yang bisa meneruskan hidup ketika buah hati mereka direnggut paksa darinya. Hanya orang hebat yang tetap bisa mempertahankan imannya pada Tuhan bahkan ketika hidup terasa tak adil.

Nak, tugasmu di dunia hanya dua tahun saja. Tapi kami semua tahu, bahwa bangsa ini mendapat pelajaran yang begitu besar dari kisahmu dan keluargamu. Ya, tugasmu sudah selesai,… dan kau menyelesaikannya dengan gemilang. Lihatlah lilin-lilin yang dipasang untukmu, dan air mata yang mengalir untukmu. Ada tempat yang istimewa untuk anak istimewa sepertimu. 

Bersenang-senanglah dalam pelukan Bapa Surgawi, Nak. Kami akan melihatmu suatu saat nanti, Intan Olivia yang pemberani…
#RIPIntan

ps: karena beragama saja tidak menjadikanmu manusia yang memiliki kemanusiaan… 

You are 67, Papa!


Bagiku, kau tidak berubah
Kau masih orang yang sama
…yang memberiku nama
…yang mengantarku tidur saat kecil
…yang menceritakan tentang kebesaran Tuhan

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang membawaku liburan
…yang menjawab semua pertanyaanku
…yang membantuku dengan tugas sekolahku

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang menyuruhku diam saat bertengkar dengan adikku
…yang menghela nafas ketika kesal
…yang mengingatkanku caranya agar tidak melupakan segala sesuatu

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang memberiku kepercayaan
…yang mendoakanku saat sakit
…yang menjadi teman diskusi yang asyik

Bagiku, kau masih orang yang sama
…yang memegang kebenaran di atas segalanya
…yang tak bisa menyembunyikan perasaan dari wajahmu
…yang sabar namun keras kepala

Bagiku, ku masih orang yang sama
Dengan semangat yang sama
Dengan iman yang sama
Dengan pengharapan yang sama
Dengan kesabaran yang sama
Dengan kasih yang sama

Kau masih orang yang sama
Dengan usia yang lebih tua
Dengan rambut yang lebih putih
Dengan hati yang lebih besar
Dengan suara yang lebih keras
Dengan kacamata yang lebih tebal

Selamat Ulang Tahun yang ke 67, Papa tercinta
Karena keberuntungan setiap anak perempuan adalah…
… memiliki Papa yang luar biasa
Dan aku… adalah anak perempuan yang beruntung

Proyek Lagu Baru Sekolah Minggu


Saya mengajar Sekolah Minggu sejak tahun 1997. Sejak kecil saya selalu ingin menjadi guru dan seringkali bermain permainan “sekolah minggu” dengan adik saya, bergantian siapa yang menjadi guru dan murid.

Saat berusia 15 tahun akhirnya saya mengambil keputusan untuk mulai melayani Sekolah Minggu, dimulai dengan menjadi helper dalam sebuah Camp untuk anak-anak di salah satu gereja lokal.

Saya tidak akan melupakan suatu siang saat koordinator Sekolah Minggu mencoba mengalihkan perhatian saya (yang saat itu adalah remaja yang tidak bisa diam) ketika beliau sedang rapat dengan orang dewasa lain. Ia meminta saya membuat lagu tema untuk salah satu acara Sekolah Minggu. Sebagai remaja polos saya menurut saja walau saya tahu dia sebenarnya tidak sungguh-sungguh meminta saya melakukannya.

Remaja gemuk itu kemudian mulai melaksanakan tugasnya dandengan bantuan Sang Guru Agung jadilah sebuah lagu berjudul “Aku Tentara Allah” yang kemudian menjadi lagu teman untuk Vacation Bible School. Saya selalu merasa sejak itu bahwa semua lagu yang dihasilkan adalah pemberian dari Tuhan.

Karena saya merasa itu pemberian Tuhan, maka bulan April lalu saya memutuskan untuk mengembalikannya untuk pekerjaanTuhan. Dengan bantuan beberapa Saudara terkasih, kami membuat sebuah proyek Sekolahminggu.org yang bertujuan membantu guru-guru sekolah minggu, baik dengan artikel, maupun dengan lagu-lagu baru untuk Sekolah Minggu.

Sebenarnya saya ingin sekali bisa menghasilkan satu lagu tiap bulan, tapi karena beberapa hambatan, kesibukan dan keterbatasan, kami tidak dapat mengeluarkannya tiap bulan. Ada lima buah lagu (termasuk lagu baru bulan Oktober yang baru dibuat) yang sudah dibagikan. Anda dapat mendownloadnya secara cuma-cuma di sini.

Anda bisa ikut ambil bagian dalam proyek ini dengan cara yang sangat mudah. Cukup men-share link lagu baru yang Saudara sukai kepada teman, rekan sekerja atau siapapun yang dirasa memerlukannya. Jika Saudara ingin mengambil bagian lebih, Saudara dapat menghubungi kami di contact@sekolahminggu.org atau menghubungi saya secara langsung di contact@greissia.com

Nah, lagu baru untuk bulan ini dapat Saudara buka di –> https://sekolahminggu.org/2016/10/20/lagu-baru-tuhanku-besar/

Terimakasih buat perhatiannya. Tuhan Yesus memberkati!

 

Happy Birthday, sib!


Kita sering bertengkar saat kecil,
(Bahkan sekarang pun masih sesekali)
Mulai dari perdebatan,
Hingga pertengkaran hebat

Tapi kita tahu caranya berbaikan,
Dan semuanya dimulai lagi
Tanpa “bekas paku” seperti yang orang lain katakan

Aku pikir… 
Seharusnya memang seperti itu bukan?
Tak pernah ada sakit hati
Atau mengungkit kesalahan masa lampau
Jika kita Kakak dan Adik,
Dendam, sakit hati dan kepahitan tak ada dalam kamus kita…

Kita sering berbagi sejak kecil
Bahkan menyimpan pemberian orang lain…
untuk dibagi bersama
Sama-sama berebut memberikan bagian terbaik untuk yang lain
jika memang keadilan tak dapat terwujud

Tapi memang seharusnya seperti itu bukan?
Jika kita Kakak dan Adik,
Berbagi adalah kesenangan
dan mengalah adalah bagian tak terpisahkan

Kita sering bercerita
Kau pemegang rahasiaku
Jika kau membongkarnya,
habislah aku…
demikian sebaliknya…

Tapi memang seharusnya seperti itu bukan?
Jika kita Kakak dan Adik 
Rahasia adalah mainan kita
Dan saling membantu menyelesaikan masalah…
… adalah bagian darinya

Selamat ulang tahun
sahabat terbaik
musuh terberat
hadiah termanis
adik tersayang
Berkat dari Bapa di Surga
Melimpah untukmu…

Tentang Sekolah


Anakku,
Seringkali kau mengeluh tentang sekolahmu
Tentang banyaknya PR-mu
Tentang guru-guru yang suka menghukum
Tentang soal ujian yang sulit
Tentang teman-teman yang tidak menyenangkan
Tentang tugas-tugas yang menumpuk

Tahukah kau, Anakku
Sekolah mengajarimu tentang banyak hal
Banyak hal dalam kehidupan
Hal-hal yang akan kau hadapi kelak
… saat kau dewasa

Kau mengeluh tentang PR-mu
Tahukah kau…
PR mengajarimu tentang prioritas
Bagaimana kau mengatur waktu
Mengesampingkan kesenangan
…untuk menjalankan kewajiban

PR mengajarimu tentang usaha
Bagaimana kau mengerjakan sesuatu
Dengan usahamu sendiri
Dengan kerja kerasmu sendiri
Dengan kreativitasmu sendiri

Kau mengeluh tentang guru-guru yang menghukum
Tahukah kau…
Hukuman mengajarimu tentang konsekuensi
Ada akibat yang ditanggung untuk kesalahan
Itulah yang terjadi dalam kehidupan, bukan?
Ada akibat untuk sebab
Ada konsekuensi untuk perbuatan

Ya, aku mengijinkan gurumu menghukummu
Dalam taraf wajar, kau memerlukannya
Agar kau belajar…
Untuk berpikir sebelum bertindak
Untuk bertanggungjawab atas tindakanmu

Kau mengeluh tentang soal ujian yang sulit…
Anakku, hidup ini tidak mudah
Seringkali kita menemukan banyak hal sulit
Seringkali kita menemukan banyak masalah
Tapi tahukah kau,…
Masalah akan membuatmu naik satu tingkat lebih tinggi
…ketika kau berhasil melaluinya

Tahukah kau…
Soal ujian yang sulit mengajarimu pentingnya persiapan…
Hanya mereka yang bijak,
Yang siap saat masalah datang
Yang siap menghadapi saat-saat sulit
Persiapkan dirimu dengan baik
Dan hadiahi dirimu sesudahnya
…dengan kepuasan setelah melaluinya

Kau mengeluh tentang teman-teman yang tak menyenangkan…
Tahukah kau,
Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar memaafkan,
Sebelum hatimu terlalu keras

Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar toleransi,
Sebelum fanatisme membutakanmu

Selama di sekolah, pada usiamu ini…
Kau perlu belajar mengalah,
Sebelum egoisme menguasaimu

Lagipula,
Bukankah besi menajamkan besi,
Dan manusia menajamkan sesamanya?

Kau mengeluh tentang tugas-tugas yang menumpuk,
Tahukah kau?
Hidup adalah tentang tanggung jawab
Dalam setiap aspek kehidupan,
Selalu ada tanggung jawab
Dan untuk setiap tanggung jawab,
Akan ada kepercayaan

Selesaikan seluruh tugasmu
…dengan sekuat tenaga
…seperti untuk Tuhan

Selesaikan seluruh tugasmu
…dengan tanggung jawab
…dan keinginan melakukan yang terbaik

Tugas-tugasmu mengajarimu tentang itu
Karena nantinya hidup tidak akan lebih mudah

Jadi Anakku,
Ketika suatu saat kau mengeluh tentang sekolahmu
Ingatlah,…
Tak ada yang dapat aku lakukan,
Itu adalah peperanganmu
Lakukan yang terbaik,
Dan jadilah pemenang

Manusia-manusia Topeng


Manusia-manusia topeng berjalan
Wajah tengadah bak bangsawan
Melangkah ringan dengan elegan
Senyum tersungging nan menawan

Jauh di dalam relung jiwa
Ada pahit tak tertahan
Mengeroposkan tulang
Menusuk jantung
Menghancurkan hati

“Aku tak apa”
“Aku bahagia”
“Aku senang”
Topeng tersenyum

Aku hancur”
Aku sedih
Aku pahit
Manusia menangis

“Aku tak ada masalah denganmu”
“Aku menyukaimu”
“Aku siap membantu kapan saja”
Topeng tersenyum

Aku membencimu
Aku sungguh muak denganmu
Aku senang melihatmu hancur
Manusia merengut

Senja tiba…
Waktu melepas topeng
Rumah adalah neraka
Dan keluarga adalah puing-puing

Manusia-manusia merengut
Manusia-manusia lesu
Manusia-manusia pahit

Sementara
Topeng-topeng tergantung,
Tersenyum…

Apa Rasanya menjadi Tua


Apa rasanya menjadi tua
Ketika berjalan mendekati akhir hidup
Dan ketika setiap hari diisi dengan tanya
Hari inikah hari terakhir?

Apa rasanya menjadi tua
Ketika usia mendekati seabad
Melihat yang lain dipanggil pulang
Berpikir “kapan giliranku?”

Apa rasanya menjadi tua
Ketika tubuh tak lagi sanggup
Begitu lelah dan tak berdaya
Sanggupkah bertahan sehari lagi?

Apa rasanya menjadi tua
Ketika sekelilingmu melihat
Dengan penuh khawatir dan siaga
Bertanya-tanya, “apa yang kau rasakan?”

Apa rasanya menjadi tua
Ketika lutut terasa sakit,
Ketika mata menjadi buram,
Ketika pendengaran berkurang

Kematian memang bisa datang kapan saja
Pada yang muda dan yang tua
Tapi bagi yang tua,
Kematian adalah kepastian

Namun mungkin kita tak pernah tahu
Sebelum kita mengalaminya sendiri
Karena hidup memiliki caranya
Dan Tuhan menyimpan misteri-Nya

Ketika pertandingan hampir mencapai akhir
Sebuah pertandingan panjang yang melelahkan
Diisi dengan keringat dan kerja keras
Mencapai akhirnya adalah kemenangan besar

Ketika perjalanan hampir tiba di tujuan
Perjalanan yang begitu panjang
Dengan banyak pahit manis kehidupan
Mencapai tujuan adalah hadiah yang luar biasa

Ketika hidup hampir usai,
Menjadi tua adalah anugerah
Sebuah kemenangan akan segera diraih
Dan hadiah akan segera diperoleh

Ketika usia telah menjadi tua
Umur panjang adalah hadiah
Telah melihat banyak,
Telah mendengar banyak,
Telah mengalami banyak,
Telah memberkati banyak,
Telah berdampak banyak,
Telah mengasihi banyak,

Selamat jalan untuk kakek-nenek
Yang menghadap Tuhan di usia emas
Rindu melihat kecantikan dan ketampanan yang Tuhan telah siapkan

Sampai kita bertemu lagi…

Ditulis untuk mengenang kembaran dari nenekku terkasih… until we meet again

image

Si Kerdil yang Tidak Punya Rasa Malu


Baru-baru ini kita mendengar kisah memalukan dari para turis Tiongkok yang sedang mengunjungi Hong Kong. Entah karena tidak dapat menemukan toilet atau karena mereka takut berada ditoilet cubical (di Cina kebanyakan dalam satu ruang toilet terdapat banyak lubang pembuangan), mereka memutuskan untuk jongkok di sembarang tempat dan menyelesaikan urusannya.
image

Ini bukan hal yang baru, karena kita pun pernah mendengar kisah yang sama terjadi di Singapura. Di mana seorang wanita, tidak dapat menahan diri, membuka celananya dan membuang kotorannya di Bandara International Changi. Sebuah cerita yang lucu-lucu-jijik!
image

Saya pernah cerita, bahwa sepupu saya yang saat ini sedang belajar di Negeri Tiongkok mengatakan itu memang bukan hal yang aneh untuk orang Cina (saya pakai kata ‘Cina’ ini sajalah ya? Mudah-mudahan tak ada yang tersinggung, toh namanya memang China, kan?). 
image

Orang-orang Cina tak siap dengan kemajuan pesat yang melanda negara mereka. Di saat negara mereka sedang bertumbuh menjadi raksasa industri, mereka seolah baru terbangun dari tidur panjang di masa lalu. Mereka terkejut dengan kemajuan peradaban masa kini. Produk mereka boleh saja melanglang buana ke negara-negara Asia hingga Amerika, tapi pemerintah melupakan satu hal: derajat suatu bangsa ditentukan oleh manusianya.

Pemerintah Cina merasa sangat malu dengan ulah rakyatnya ini yang tidak berpikir panjang ketika jongkok dan menyelesaikan “urusan”nya di jalanan Hing Kong. Pemerintah yang malu itu kemudian membuat program toilet training (ya ampun Koh, kemana aja??). Didirikannya toilet di mana-mana dengan jumlah yang sama dengan teknologi yang lebih maju agar warganya terbiasa buang air di tempatnya dan tidak membuat malu lagi.
image

Ini hal yang positif dari pemerintah Cina saya rasa. Pemerintah yang cepat tanggap dan tidak buang-buang waktu untuk menanggulangi rasa malunya. Dalam bahasa manajemen, pemerintah yang segera mengambil tindakan corrective dan preventive sekaligus dalam menyelesaikan masalah.

Bagaimana dengan bangsa Indonesia? Saya rasa bangsa kita masih memiliki kadar malu yang sedikit lebih tinggi dari orang Cina, bukan? Mereka yang sanggup mendanai diri sendiri ke luar negeri tentu adalah orang yang cukup mampu, dan saya rasa orang-orang seperti itu tidak akan melakukan…yah, Anda tahu… jongkok dan…

Rasa malu memang penting. Walau rasa malu ini merupakan akibat dari dosa (Adam dan Hawa pertama kali merasa malu setelah kejatuhannya dalam dosa), namun sekarang ini rasa malu mengindikasikan bahwa kita adalah manusia beradab.

Anda mungkin berkata, tapi di Cina orang-orang tidak korupsi! ya, Pemerintah Cina dulu juga kewalahan dengan korupsi, mereka malu dan memberlakukan hukuman mati untuk siapa saja yang korupsi. 

Sekali lagi, bagaimana dengan Indonesia? Kita sudah menang dalam hal “rasa malu tidak buang kotoran sembarangan di muka umum”, apakah kita juga menang dalam hal “rasa malu tidak merugikan orang lain”?  

Apakah kita, bangsa Indonesia yang (ingin dikatakan) beradab ini memiliki rasa malu ketika membuang sampah sembarangan? Atau ketika membully orang yang lebih lemah? Atau ketika melanggar lampu lalu lintas? Atau ketika menyontek? Atau ketika korupsi?

Jika ternyata kita belum memiliki rasa malu, maka kita belum dapat dikatakan bangsa beradab…!

Negara Cina adalah raksasa yang sedang merasa malu…pemerintah mereka bertindak supaya di kemudian hari tidak lagi terulang hal-hal yang memalukan Cina di mata dunia… mulai dari membuat toilet hingga hukuman mati bagi koruptor.

Pemerintah kita sedang berusaha dengan Revolusi Mentalnya… apakah kita mau mendukung pemerintah dengan memulainya dari diri sendiri…?

Jangan sampai kita jadi si Kerdil yang Tidak Punya Rasa Malu!

Kota Tua Itu…


image

Kota tua tak lagi sanggup membendung
Dirinya terlalu tua untuk menampung
Menampung air yang tak henti tertumpah
Dan manusia-manusia bodoh pembuang sampah

Kota tua tak sanggup lagi menahan
Dirinya terlalu tua untuk bertahan
Bertahan tetap kering di musim hujan
Bertahan untuk memberi rasa aman

Dan kota tua pun menangis,
Menumpahkan air cokelat bau amis
Bercampur sampah plastik
Memberi pemandangan yang tak cantik

Ah, kota tua… dulu kau pasti elok
Sampai pendudukmu makin banyak
Mengirimimu sampah dan limbah

Ah kota tua… kini kesulitan saja yang kau dapat
Setahun sekali jadi bahan bagi berita
Kota tua terkena banjir

Ah kota tua… mungkin sudah waktunya
Mereka mengalah pada keadaan
Berpindah dan meninggalkanmu

Ah kota tua…

#BanjirDayeuhKolot2016

Thirty fourth round…


Misteri dalam hidup adalah…

Mengapa perputaran bumi,
Berdampak demikian hebat pada fisik manusia…
Kita jadi semakin tua,
sebagian semakin cepat lelah,
sebagian menjadi rabun dekat,
sebagian menderita rematik

Mengapa perputaran bumi,
Berdampak demikian hebat pada jiwa manusia…
Kita jadi semakin tua,
sebagian menjadi makin apatis
sebagian menjadi makin bijak
sebagian menjadi keras kepala Continue reading