Surat untuk Ibu Pertiwi


Ibu Pertiwi,
Memang benar, nenek moyang kami datang dari jauh, sebagian dari mereka menghindar dari keadaan buruk di tanah asal mereka dan datang padamu mencari perlindungan. Sebagian lagi datang dengan barang dagangan, berharap menjalin hubungan baik dengan anak-anakmu, Ibu.

Kami tak tahu alasan mereka datang, yang kami tahu, mereka melahirkan kami di tanahmu, Ibu. Dengan sadar mereka membiarkan kami diadopsi olehmu, mengatakan pada kami bahwa inilah tanah air kami dan kami harus mencintai tanah ini, berjuang untuk kemajuan bangsa ini.

Ibu Pertiwi, salahkah kami jika berusaha lebih keras, belajar lebih giat dan bekerja lebih gigih untuk mendapat simpatikmu. Kamu hanya tidak ingin dibeda-bedakan dan dianggap anak tiri olehmu, Ibu. Karena cerita dari masa kecil kami mengatakan bahwa ibu tiru itu kejam dan itu menakutkan bagi kami. Kami ingin kau menyayangi kami, walau kami dianggap anak adopsi.

Jika ada yang bertanya siapa ibu kami, yang kami kenal hanya dirimu, Ibu Pertiwi. Kami tak mengenal tanah yang lain, bangsa yang lain, negara yang lain selain Indonesia, kesayanganmu. Jika ada saudara kami yang mengunjungi tanah nenek moyang kami, percayalah, di sana kami hanya turis. Karena kami berkebangsaan Indonesia dan tanah yang kami tahu hanya Indonesia dan Ibu yang kami kenal hanya Ibu Pertiwi, dan bendera yang kami sayangi hanya merah putih, dan lagu kebangsaan yang kmi banggakan adalah Indonesia Raya.

Ibu, dalam pertandingan olahraga manapun, air mata kami akan mengalir, ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di kancah Internasional, tak pernah sebersitpun terpikir untuk membela negara nenek moyang kami. Kami hanya mengasihimu, Ibu…dan berdoa pada Tuhan untuk kejayaanmu.

Di luar negeri dan di manapun kami berada, saat ada orang yang menanakan asal kami, dengan bangga kami akan menjawab, “Indonesia, negeri yang indah dengan penduduk yang ramah. Negeri yang kaya dengan budaya yang melimpah. Negeri yang elok dengan pemandangan yang indah.” Dan kemudian kami akan mengajaknya untuk melihat-lihat negeri kami. Apakah kami salah, Ibu?

Permintaan kami hanya satu, sayangilah kami… Kami yang kau adopsi, yang lahir dan besar di negeri ini, yang belajar dan bertumbuh di negeri ini, yang begitu mencintai bahasamu. Tolong jangan bedakan kami dengan anak-anak kandungmu karena percayalah, kami memiliki cinta yang sama…Cinta untuk Ibu Pertiwi, Indonesia.

Yang menyayangimu,
Anakmu

Getsemani, malam itu


Getsemani, malam itu…
Sang Guru berdoa hingga berpeluh,
Darah keluar dalam tangisan pilu
Seandainya cawan ini dapat lalu…
“Tapi biar semuanya seperti yang Kau mau”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terlelap tak tahu…
…apa yang akan menimpa Sang Guru
Andai mereka tahu…
“Tak dapatkah kalian berjaga dengan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Si Pengkhianat bersiap maju
Dengan pasukan siap memburu…
…Dia yang dipanggilnya Guru
“Dengan ciuman kau menyerahkan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terdiam,
Melihat bukti dari sebuah teori
Tentang mengasihi dan mengampuni
Saat telinga tersambung kembali,
“Sarungkan pedangmu!”

Getsemani, malam itu…
Sang Guru menyerahkan diri
Bukan karena tak sanggup melawan,
Tapi karena Dia tahu…
Cawan itu harus diminum-Nya

Getsemani, malam itu…
Menjadi saksi,
Sebuah doa yang pilu,
Sebuah ciuman pengkhianatan,
Dan kasih yang besar

Tentang Pengendalian Diri


Anakku, 
Jika hatimu senang,
Kau akan melihat segala sesuatu menyenangkan…
Bahkan ketika langit berawan
Bahkan ketika panas terik atau hujan
Bahkan ketika burung bernyanyi tak beraturan
Atau ketika temanmu menyebalkan

Namun jika hatimu galau,
Kau akan melihat segala sesuatu menyebalkan…
Bahkan ketika langit cerah,
Bahkan ketika udara sejuk
Bahkan ketika nyanyian burung begitu merdu
Atau ketika temanmu mengajakmu bermain

Lalu responmu terhadap sekeliling,
Akan menentukan bagaimana orang menilaimu,
Sebagai pemarah,… atau periang
Sebagai pemaaf,… atau pendendam
Sebagai orang yang tahu bersyukur,… atau penggerutu
Sebagai orang yang menyenangkan,… atau menyebalkan

Bukankah hati yang gembira membuat muka berseri
Tapi hati yang pedih mematahkan semangat

Anakku,
Apa yang terjadi kepadamu tak bisa kau kendalikan…
Mereka akan menentukan keadaan hatimu,
Kau akan merasa senang atau sedih,
merasa menang atau kalah
merasa bahagia atau iri hati

Namun bagaimana kau menguasai perasaanmu,
dan mengendalikan tindakanmu
itulah yang menentukan kualitas dirimu

Dosa mengintip ketika kau merasa sedih,…
atau merasa kalah,…
atau merasa iri hati…
Kau harus berkuasa atasnya…
Ya, kau harus menguasai perasaanmu,
…bukan sebaliknya

Jangan mengikuti perasaanmu,
Kau manusia berbudi…

Tak apa sedih sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat sedih,
dan kembali bangkit tanpa depresi

Tak apa marah sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat marah,
dan kembali mengampuni tanpa dendam

Tak apa kecewa sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat kecewa, 
dan kembali berjalan maju tanpa frustrasi

Anakku ingatlah,
Kualitas manusia ditentukan dari bagaimana ia mengendalikan emosinya,
Kemudian menguasai diri dalam segala hal

Hati Nurani


Setiap manusia lahir dengan Hati Nurani
Hati nurani yang menemanimu kemana pun
Mengetahui apa yang kau buat
Dan memberitahumu saat kau salah

Tidak ada yang tahu dari mana hati nurani berasal
Mungkin asalnya saat TUHAN menciptakan manusia
Dan meniupkan nafas kehidupan ke dalamnya
Nafas kehidupan itu mengandung hati nurani

Mungkin juga hati nurani berasal dari buah pengetahuan
Sebuah cerita dari Kitab Kejadian
Buah yang membuatmu menjadi seperti Tuhan
Tahu mana yang baik, dan mana yang buruk

Hati nurani membatasi gerakmu
Seperti undang-undang tak tertulis yang ada di benakmu
Bergerak tak tentu arah, mendesak
…saat kau melakukan apa yang salah

Hati nurani perlu dipelihara
Dalam doa dengan si Pemberi,
Dalam pertobatan kepada Ilahi,
Dalam ibadah kepada Sang Khalik,

Jika tidak, ia akan mati
Dan saat ia mati, 
Kemanusiaanmu akan mati bersamanya

Kau tak kan lagi bisa membedakan
Baik dan buruk
Benar dan salah

Kau tak lagi bisa merasa tak nyaman
Ketika sesuatu tak pada tempatnya
Ketika keadaan seharusnya tak terjadi

Kau tak lagi bisa mengendalikan diri,
Menguasai lidah untuk tak memaki
Mengasai hati untuk tak membenci
Menguasai tangan untuk tak memukul

Saat hati nuranimu mati
Kau seperti memutus nafas Tuhanmu
Menjadikanmu mahluk buas tanpa kendali
Egois dan hanya memikirkan diri sendiri

Saat hati nuranimu mati,
Kau sebenarnya sudah mati di dalam
Hanya cangkang tanpa kehidupan
Manusia tanpa kasih dan belas kasihan

Tuhan yang Kejam


Kau gunakan nama Tuhanmu untuk berteriak dan memaki
Tuhan yang kau bilang maha pengasih dan penyayang
Kau gunakan nama-Nya seakan sebuah mantra
Atau pelindung dari keberingasanmu

Kau sebut Tuhanmu Maha Pengampun
Namun berteriak “bunuh” untuk sesamamu manusia
Seolah hanya hidupmu yang berharga
Dan Tuhanmu memaklumi tindakanmu

Kau sebut Tuhanmu besar dan suci
Tapi kau merasa perlu membela-Nya
Dengan kekerasan, ancaman dan makian
Seolah Dia memerintahmu melakukannya

Kau sebut Tuhanmu sumber segala hikmat
Tapi kau menutup akalmu untuk belajar
Tak menerima nasihat dan didikan
Seolah membatasi akal-Nya dalam kepalamu

Tuhan seperti apa yang sedang kau perkenalkan?

Jika kau sebut nama-Nya setiap kali melakukan kekerasan,
Jangan salahkan orang mengira Tuhanmu kejam
Jika kau sebut nama-Nya setiap kali melontarkan ancaman pada sesamamu,
Jangan salahkan orang mengira Tuhanmu pendendam
Jika kau merasa perlu membela-Nya dengan nyawamu,
Jangan salahkan orang mengira Tuhanmu lemah

Tuhan seperti apa yang kejam, pendendam dan lemah?

Jika kau ingin orang melihat Tuhanmu penuh kasih…
Maka kasihilah sesamamu manusia

Jika kau ingin orang melihat Tuhanmu pengampun,
Maka ampunilah mereka yang bersalah padamu

Jika kau ingin orang melihat Tuhanmu Maha Besar
Maka percayalah pada kedaulatanNya, 
…jangan melakukan apa yang menjadi bagianNya
…biar Dia yang menghukum, 
…biar Dia yang mengganjar
Bukan kamu!

Tuhan seperti apa yang sedang kau perkenalkan,
Kau tunjukkan dari perbuatanmu

Pasti berat jadi Anak Presiden


Waktu aku kecil setiap anak ingin jadi anak presiden. Pasti keren menjadi anak penguasa nomor satu di negeri ini… tapi itu dulu, saat keluarga Cendana berkuasa.

Dalam pikiran kami saat itu, jadi anak presiden tentu menyenangkan, tinggal tunjuk pasti dapat. Punya banyak barang mewah dan bisa melakukan apa saja… tapi itu dulu, saat kami kecil, saat keluarga Cendana berkuasa.

Anak Presiden saat itu terlihat gagah, berpakaian perlente, naik mobil mewah, bahkan punya merk mobil sendiri… ya, anak dari Keluarga Cendana.

Tapi kini,…

Saya rasa siapapun akan berpikir dua kali jika berkata “ingin jadi anak Presiden”. Bagaimana tidak,… setiap hari melihat orang-orang bodoh memaki ayahmu, melancarkan fitnah tiada henti. 

Hati anak mana yang tak terluka… jika pahlawannya sejak kecil mendapat penghinaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Memang orang-orang bodoh yang melakukannya sih… tapi orang-orang bodoh ini bersuara paling keras, seperti kata pepatah ‘tong kosong NYARING bunyinya’.

Pasti berat jadi anak Presiden. Ketika ayahmu menjadi ‘sasaran tembak’. Berbuat benar saja jadi kesalahan besar di negeri ini. Mematikan ladang para koruptor memiliki resiko paling besar.

Hari ini, banyak anak-anak mengidolakan Bapak Presiden. Tak hanya anak-anak saya rasa… mungkin mahasiswa bodoh yang sok-sokan jadi pahlawan tak bisa masuk hitungan. Mereka yang ingin ikut-ikutan Mahasiswa tahun 98, demo pada pemerintah. Masanya beda, Dik… kala itu Keluarga Cendana memerintah 32 tahun, sampai anak presiden punya merk mobil sendiri… sekarang, anak presiden hanya tukang martabak.

Namun, walau banyak anak-anak mengidolakan Bapak Presiden,… saya rasa mereka pun berpikir dua kali jika berkata “aku ingin jadi anak Presiden”, kecuali mereka ingin jadi anak Presiden korup yang tak memiliki integritas.

Yesus, hater dan demo


Yesus itu orang benar… pengikutnya banyak. Dia bahkan bisa membuat mujizat, mulai dari menyembuhkan orang sampai memberi makan ribuan orang. Urusan perut dipikirkannya, demikian juga akhlak bahkan keselamatan jiwa.

Dia mengajarkan pengikutnya apa yang benar, mulai dari mengampuni hingga mengasihi musuh. Mulai dari mengasihi Tuhan hingga melayani sesama. Tak ada ajaran-Nya yang salah dan bertentangan dengan kemanusiaan.

Ia bisa juga bersikap keras ketika berhadapan dengan orang Farisi, mereka yang suka korupsi untuk Rumah Tuhan, mereka yang suka bawa-bawa agama untuk menutupi kelakuan busuk.

“Hai kamu keturunan ular beludak” katanya,… “Kamu seperti kuburan yang dicat putih”

Alhasil para Farisi itu makin keki, dicarinya ide untuk menjatuhkan Dia. Pernah sekali waktu mereka bertanya untuk menjebak Dia, “menurut-Mu, wajibkah bayar pajak pada kaisar?”. Berharap menempatkan-Nya dalam dilema. Jika Dia berkata wajib, maka kepercayaan umat akan surut, karena artinya Dia berpihak pada penjajah asing (belum ada aseng). Jika Dia menjawab tak wajib, maka penjajah itu yang akan menganggap Dia siap memimpin pemberontakan karena menghasut warga untuk tak bayar pajak.

Namun bagaimana mungkin ciptaan bermain-main dengan pencipta. Bagaimana mungkin si sok pintar coba-coba dengan sumber hikmat. “Bawakan padaku sebuah koin…. gambar siapa yang ada di sana?”, dijawab “gambar kaisar”

Sebuah logika sederhana dari si Sumber Hikmat, “kalau ada gambar Kaisar artinya milik kaisar. Berikan pada Kaisar apa yang menjadi haknya” kata-Nya, “dan pada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya”

Sulit sekali mendapat kesalahan Yesus ini. Jebakan demi jebakan diberikan, namun pengikut-Nya makin banyak saja. Orang-orang yang mengikuti-Nya kemana-mana. Membahayakan pemasukan Sinagoge. Orang lebih percaya pada-Nya dibanding Farisi dan Saduki.

Akhirnya kesempatan yang dicari tiba. Seorang murid yang kecewa karena Yesus ternyata bukan pemimpin pemberontakan memutuskan untuk menyerahkan Dia. Dakwaan gimana nanti, yang penting tangkap dulu. Karena alasan kan bisa dicari.

Entah darimana datangnya para pendemo itu. Mungkin juga beberapa adalah massa bayaran. Di antaranya mungkin ada juga yang labil, mengikuti ke mana mayoritas berpihak. 

“Aku tak bisa menemukan kesalahan” kata Pilatus, si pembuat keputusan.

“Salibkan Dia, Salibkan Dia”

“Aku kasih pilihan deh, mana yang mau kamu bebaskan…. Barabas, si perompak dan pembunuh atau Yesus, orang benar”

“Bebaskan Barabas, salibkan Yesus”

Oh, iya benar… mereka lebih suka membebaskan penjahat daripada orang benar. Tak ada yang suka jika kesalahannya ditunjukkan padanya. Kebenaran itu pahit, kawan!

Mereka lebih suka bersama dengan orang jahat, setidaknya orag jahat tak pernah mengusik nurani mereka yang gemar melakukan korupsi dan kejahatan. Tapi Orang Benar ini… kebenaran-Nya membuat kejahatan tampak semakin buruk.

Nurani Pilatus melonjak, namun tekanan massa begitu besar, “Dia orang benar, aku ini hakim… masakan aku menghukum orang benar… tapi tekanan massa ini”

Jalan satu-satunya adalah melakukan sebuah upacara simbolis, mencuci tangan “aku ga ada hubungannya dengan ini… silahkan perbuat pada-Nya apa yang kau mau… aku tak bertanggungjawab”

Pendemo berteriak makin keras “Salibkan Dia… biar dosanya kami yang tanggung”

Perkara dosa mendosakan, kafir mengkafirkan sejak dahulu memang sudah menjadi trend untuk menjatuhkan hukuman tak adil pada Orang Benar.

Kemana pengikut-Nya? Sebagian kabur, sebagian menangis meratap, ada juga yang menyangkalinya. Terlalu takut untuk berdiri di sisi kebenaran, saat kejahatan menguasai keadaan.

Namun kematian Yesus adalah bagian dari suatu rencana agung. Salah satunya menunjukkan pada kita, bahwa Dia sudah mengalami semua hukuman, supaya kita tak perlu lagi menanggung hukuman.

Juga menunjukkan, bahwa jika Orang Benar saja mengalami siksa demikian rupa karena melakukan apa yang benar, terlebih kita orang berdosa saat melakukan kebenaran…memiliki hater itu biasa!

Juga menunjukkan bahwa menjadi pengikut-Nya artinya tetap melakukan apa yang benar, sekalipun semua orang melakukan sebaliknya. Tidak melakukan apa yang salah, sekalipun semua orang melakukannya.

Ia menunjukkan bahwa menjadi martir bukanlah mereka yang mati karena korban dari keadaan, tapi mereka yang menjunjung kebenaran. Bukan untuk membela Tuhan, tapi mempertahankan iman.

Betapa ajaib saat menyadari, ternyata agama masih dijadikan alasan untuk menbenci, di jaman sekarang… melihat bahwa justru banyak kejahatan dilakukan oleh mereka yang berjubah agama.

Ternyata setelah dua ribuan tahun… kebenaran masih dibenci oleh mereka yang terlihat gelap karenanya.

Jubah berganti, agama bertambah, tapi manusia, tetap mahluk ciptaan yang membutuhkan bantuan Pencipta untuk mendapat keselamatan kekal…

Bersembunyi di balik tempurung…


Untuk kalangan sendiri

Suatu hari orang-orang Farisi, yaitu mereka yang digambarkan berpakaian putih panjang dan suka mencari-cari kesalahan Yesus, mendatangi Yesus dengan sebuah pertanyaan… 

“Bagaimana menurutmu, Rabbi… apakah kita harus memberi pajak kepada Kaisar?”

Ini merupakan pertanyaan jebakan. Sesuatu yang saya namakan ‘dilema rohani’ dihadapi Yesus saat itu. Semua orang yang ada di situ menunggu jawabannya. Sebagian besar berharap Yesus menjawab ‘tidak perlu’. Saat itu mereka sedang berada di bawah bangsa Romawi dan tak dipungkiri banyak yang berharap Yesus akan memimpin pemberontakan melawan Romawi dan membebaskan bangsanya.

Jika saya boleh menerjemahkan ke dalam bahasa sekarang, pertanyaan itu menjadi, “bagaimana Tuhan, kami harus taat pada hukum negara atau tidak”

Lebih ekstrim lagi, “Bagaimana Tuhan, apakah kami harus meletakkan hukum negara di atas hukum agama atau tidak?”

Jawaban Yesus merupakan jawaban diplomatis paling jelas yang pernah saya dengar, “ada yang punya uang? berikan Aku satu koin”

Setelah Ia memegang koin, “gambar siapa ini yang ada di koin ini?” 

Merasa sudah dapat menebak.jawaban selanjutnya, orang-orang Farisi itu menggumam “gambar Kaisar”

Dalam bayangan saya, Yesus akan mengembalikan koin itu pada pemiliknya sambil dilempar dan mengedipkan sebelah mata “berikan pada kaisar apa yang WAJIB kamu berikan pada kaisar, dan pada Tuhan apa yang WAJIB kamu berikan pada Tuhan.”

Saya menggaris bawahi kata WAJIB. bicara soal kewajiban, apa saja yang kita wajib berikan pada penguasa negara kita?

Saya orang awam, bagi saya Yesus sedang berkata, “taat dan tunduklah pada hukum negara di mana pun kamu berada”

Sekali lagi, bicara soal kewajiban, apa yang wajib kita berikan pada negara di.mana kita ditempatkan? Pajak berarti kontribusi. Umat Kristen wajib memberikan kontribusi kepada negara.

Saya pernah membaca capturan buku dari seorang teman yang isinya Yesus tidak memimpin revolusi sosial. Ia tidak memimpin rakyatnya melawan penjajahan Romawi, melawan ketidakadilan sosial dan ekonomi, atau memperjuangkan hak-hak sipil untuk pendidikan dan upah yang lebih baik.

Betul sekali Yesus memang tidak melakukan itu semua, karena Dia sedang meletakkan dasar yang kokoh dalam kedatangan-Nya ke dunia kala itu. Sesuatu yang lebih penting dari sekedar upah yang rendah dan pendidikan yang kurang. Dia memperjuangkan agar kita tidak menerima upah dosa dan kurangnya wawasan akan Kasih Tuhan. 

Tapi pertanyaan saya, apakag dengan demikian maka kita orang Kristen tidak perlu memoerhatikan keadilan sosial, memperjuangkan pendidikan yang layak, menentang ketidak adilan, bermasyarakat?

Ingatlah, Dia memerintahkan kita untuk: 1. Tunduk undang-undang yang berlaku di negara dan 2. Berkontribusi dalam pembangunan negara di mana kita ditempatkan.

Bagi saya, kontribusi pada pembangunan tidak melulu masalah uang. Bagaimana dengan “pendidikan”? Apakah orang Kristen hanya fokus pada pendidikan keluarga Kristen saja sehingga mendirikan sekolah-sekolah mewah dengan harga selangit?

Bagaimana dengan keadilan sosial? Apakah orang Kristen tidak perlu peduli dengan keadilan sosial, “bayar saja orang untuk mengurusi urusan kita,  kita kan minoritas”

Bagaimana dengan keamanan negara? Apakah kita terlalu takut berkontribusi sehingga bersembunyi di balik “Tuhan yang tahu”, namun diam saja saat ada pelanggaran hukum terjadi di depan mata kita?

Bagaimana dengan bermasyarakat? Apakah kita terlalu sibuk dengan urusan gereja hingga lupa untuk bermasyarakat dengan mereka yang ada di sekeliling kita…  Sorry to say, sekolah-sekolah Kristen yang biasa didominasi oleh Warga Negara Keturunan TIDAK mendidik siswanya untuk bermasyarakat. Tidak membina mereka untuk dapat berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat. Menjadikan mereka anak-anak songong yang jago kandang, eksklusif, dan mengalami banyak kesulitan ketika tiba saatnya bermasyarakat.

Saya begitu sedih ketika ada yang berpikiran bahwa tulisan saya sebelumnya mengenai menjadi terang melulu bicara soal penginjilan.

Saudara, jika Anda terus-terusan berada dalam gedung mewah itu, hanya sesekali keluar untuk beli keperluan ke pasar, itu pun dengan menawar secara gila-gilaan, bagaimana Anda berharap nama Tuhan dimuliakan, sekalipun Anda menyumbang untuk penginjilan??

Saudara, jika Anda terus-terusan sibuk dengan latihan ini dan itu di gedung mewah itu, menghadiri pertemuan ini dan itu, bahkan sering ijin dari tempat kerja karena acara di gedung itu, bagaimana Anda berharap nama Tuhan dimuliakan, sekalipun Anda berdoa syafaat semalam suntuk untuk suku-suku di Afrika?

Kontribusi pada pembangunan negara dimulai dari hal sederhana. Sapa tetangga Anda, berkomunikasilah dengan baik, tunjukkan kasih pada pembantu Rumah Tangga, tunjukkan hormat pada semua orang, mulailah ikut dalam kegiatan masyarakat, kenali hukum-hukum dasar, dan banyak hal sederhana lain…

Tolong, jangan bersembunyi terus di balik tempurung yang sudah dihias indah itu…

“Teguhkan Hatimu”


Fenomena orang ini luar biasa…. seperti Daniel yang tetap berpegang pada kebenaran, Elia masa kini yang melawan begitu banyak koruptor dan Raja Daud yang mengakui kesalahannya… 

Sebuah lagu untuk Pak Ahok dari Bandung… semoga Tuhan menyertai Bapak… Karena jika bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sia pengawal berjaga-jaga.. Tuhan sudah membawa Bapak sejauh ini… Dia tidak akan membuarkanmu jatuh atau meninggalkanmu sendirian.

Terimakasih sudah menjadi contoh bagi generasi muda mengenai makna memperjuangkan kebenaran sekalipun itu sulit… 

Ketika perasaan itu menyergapmu


Ketika kau masih sangat muda, 
katakanlah masih kanak-kanak, 
hidup terasa amat panjang…
tak pernah sekalipun berpikir 
…tentang kematian,
…kapan maut akan menjemput

Ketika kau masih sangat muda, 
katakanlah masih anak-anak,
Kau bahkan tak mengerti makna kematian…
Mengapa orang dewasa menangis,
Saat yang terkasih harus pergi
Bukankah mereka memang sudah tua,
dari kau lahir sudau seperti itu

Saat kau masih sangat muda,
katakanlah masih remaja,
Hidup adalah kesenangan,
untuk apa menghitung hari-hari
untuk apa memikirkan kematian
Toh hidup harus dinikmati
Walau terkadang tugas sekolah membebani

Saat kau dewasa,
dan tiba-tiba menghadapi kenyataan,
Bahwa mereka yang kau kasihi…
Satu persatu meninggalkanmu
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Ketika mereka yang kau kenal sejak kecil
Mereka yang dulu muda, 
Mereka yang dulu begitu bersemangat,
Mereka yang dulu kuat dan sehat,
Tiba-tiba berasa di penghujung hidupnya,
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Ketika kau melangkah di lantai dingin
Menuju sebuah peti berbentuk kotak
Dan mereka yang kau kenal sejak kecil,
Berbaring tak berdaya di sana
Memakai pakaian indah khas kematian
Dengan kaus kaki putih dan sarung tangan,
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Gurumu yang dahulu mengajarmu,
Tantemu yang dahulu tersenyum melihatmu,
Pamanmu yang dahulu bermain bersamamu,
Bapak pendeta yang dahulu berdoa untukmu
Ketika kau melihat mereka di peti,
Maka perasaan itu akan menyergapmu

Dan seluruh ayat-ayat itu berlompatan keluar,
Ajari kami menghitung hari-hari kami,
Hidup manusia seperti asap,
Untuk segala sesuatu ada waktunya,
Hidup seperti gelanggang pertandingan,

Kemudian, kau akan mulai menyadari
Bahwa tidak ada yang kekal,
Bahkan hidupmu sendiri…
…suatu saat akan berakhir
Entah dengan cara apa

Kau akan menyadari,
Bahwa sesungguhnya kehidupan ini tidaklah panjang
Waktu yang kau miliki sedang berlari
Dan kau sedang tergopoh-gopoh mengejarnya
Memintanya berhenti sesaat saja

Kau akan menyadari,
Bahwa makna kehidupan,
Bukanlah kesenangan yang kau dapat saat hidup
Tapi kenangan yang kau tinggalkan
Dan jejak-jejak yang kau buat

Kau akan menyadari,
Bahwa kau tak bisa menawar kehidupan
Sekali Pencipta memanggilmu,
kau tak bisa menolak
dan tubuhmu akan terbaring di peti itu
Sementara jiwamu… 
ke mana jiwamu akan pergi?

Kau akan menyadari,

Bahwa jika kematian adalah kepastian,
Maka kehidupan patut dimaknai
Karena hidup adalah Kristus,
dan mati adalah keuntungan

teruntuk: para kekasih yang mengakhiri pertandingan dengan baik…sampai bertemu lagi di Rumah Kristus…