Menjadi Korban Kehidupan


Pria itu, Spencer, adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Saat kecil dia tinggal bersama tiga orang kakak perempuan, ibu yang pemabuk, seorang ayah yang peka dan nenek yang kejam.

Rupanya ada gen psikopat dalam diri keluarga ini. Tiga orang kakaknya senang sekali menyiksa dia, sementara ibunya mengatakan tak apa menyiksa seorang anak laki-laki karena anak laki-laki seharusnya kuat.

Saat kecil, ia pernah diracun dengan daging busuk oleh salah seorang kakaknya, diikat dan pukuli oleh kakaknya yang lain, disiram air panas oleh neneknya, dibakar rambutnya oleh kakaknya yang lain, disiksa ibunya, tapi sangat disayang oleh ayahnya.

Karena tidak tahan memiliki keluarga yang terdiri dari wanita-wanita yang gila, ayahnya kemudian bunuh diri, meninggalkannya dalam keadaan patah hati.

Setelah besar, semua kesedihan, kemarahan dan dendam yang dia rasakan akhirnya diekspresikannya dengan melukis wanita. Wanita-wanita itu kemudian dikelompokannya. Mereka yang terlihat mirip dengan nenek, ibu dan saudara-saudaranya dikelompokkan terpisah. Kemudian dia memilih salah satu dari kelompok itu, untuk dibunuh dengan cara kakak-kakak, ibu dan neneknya pernah menyiksanya.

Bagaimana? Kepada siapa Anda menaruh simpati? Sang pembunuh, atau para korban?
Anda meragukan ini terjadi di kisah nyata? Tentu saja ini tidak terjadi di kisah nyata.
Itu adalah garis besar sebuah seri dari serial kriminal favorit saya Law dan Order yang baru saja saya tonton.

Jalan ceritanya mungkin hanya terjadi dalam sebuah kisah fiktif, tapi sesuatu dalam cerita itu mengingatkan saya pada sisi manusiawi dari kita semua.

Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Mereka memiliki masalahnya sendiri dengan tingkat kerumitan yang beraneka ragam. Lucunya, sebenarnya manusia diberi kemampuan untuk bertahan hidup dalam masalah yang ada dalam jalan hidupnya sendiri itu.

Pernahkah Anda melihat kehidupan orang lain dan merasa kagum karena orang tersebut menjalaninya dengan tabah, kemudian Anda berpikir, “kalau aku yang mengalaminya mungkin aku tidak akan tahan”. Hey! Mungkin orang lain pun memiliki pemikiran sama terhadap Anda.

Untuk tiap permasalahan yang dihadapinya, setiap orang memiliki cara untuk mengekspresikan perasaan mereka terhadap masalah itu. Sebagian mengekspresikan dengan menangis, sebagian dengan berpura-pura kuat, sebagian dengan menyibukkan diri…

Dalam berekspresi ini, seringkali manusia dibatasi oleh sifat bawaan yang melekat dalam diri mereka, atau pengalaman masa kecil mereka. Ada orang yang dilarang menangis oleh orangtuanya, karena itu mereka memiliki kesulitan ketika mengekspresikan suatu kesedihan.

Nah, terlepas dari bagaimana berekspresi, biasanya manusia cenderung membutuhkan suatu pengakuan bahwa mereka adalah sebuah korban dari keadaan buruk yang tidak dapat dihindari.

Agak rumit apa yang saya jelaskan? Saya beri contoh… Pernahkah Anda melihat seseorang yang terus menerus mengisahkan kisah masa lalu mengenai ketidak adilan yang menimpanya? Atau pernahkah Anda sendiri merasa diperlakukan tidak adil, kemudian ingin menceritakannya pada orang-orang keadaan yang Anda alami?

Dalam bahasa sederhanya, (hampir) semua orang ingin merasa dikasihani. Mereka menikmati jika ada orang yang berempati terhadap mereka, atau sekedar mengasihani mereka.

Terlepas dari itu semua, yang sebenarnya ingin saya titik beratkan adalah, setiap orang memiliki takdirnya sendiri…sekaligus pilihan.

Mereka memiliki masalah masing-masing, memiliki cara masing-masing dalam berekspresi, namun mereka juga memiliki pilihan untuk menentukan tindakan mereka sebagai respons mereka terhadap masalah yang terjadi.

Mungkin kita adalah korban perceraian orangtua kita, tapi kita memiliki pilihan dalam menjaga rumah tangga kita sendiri…

Mungkin kita pernah dilecehkan orang lain saat kita kecil, tapi kita memiliki pilihan dalam memperlakukan diri kita sendiri… Apakah dengan rasa hormat pada Pencipta,…atau tidak.

Mungkin kita pernah mengalami hal buruk yang traumatis, tapi kita memiliki pilihan untuk menganggapnya sebagai pengalaman traumatis, atau pembelajaran hidup…

Spencer mengalami masa kecil yang memprihatinkan… Kita akan berempati dengan masa kecilnya… Namun dia menentukan pilihan yang membuat polisi pun tak lagi berempati, dan memilih untuk menjebloskannya ke dalam penjara…

Apakah Anda memiliki pengalaman buruk atau masalah? Percayalah, hanya kepada Anda Tuhan memberi kapasitas untuk bertahan dan melewati masalah itu. Kita tidak membutuhkan empati atau kasihan orang lain lebih daripada akal sehat untuk membuat pilihan yang tepat…

Dan hebatnya, pilihan yang Anda buat itulah yang menentukan apakah Anda akan menjadi pecundang, penjahat, atau pemenang…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s