Antara Sombong, Minder dan Iri hati


Baru-baru ini seorang ibu menuduh saya sirik terhadap anak perempuannya yang berselisih usia beberapa tahun lebih muda dari saya. Dengan segala kerendahan hati, saya berpikir dan menganalisa diri saya dengan beberapa pertanyaan ini, “apakah benar saya sirik? jika ya, kenapa saya harus sirik? Apakah ada sesuatu dalam dirinya yang bisa membuat saya sirik?” Jika saya menyampaikan pertanyaan itu, tentunya orang-orang akan mencap saya sombong  (walau saya lebih memilih dikatai sombong atau arogan daripada sirik pada anak ibu itu).

Untuk menghindari perdebatan, sampai saat ini saya sama sekali tidak memberikan jawaban atau respon pada yang bersangkutan. Ketika saya mendiskusikannya dengan sahabat saya, yaitu adik saya… dia memberikan jawaban di luar dugaan saya, “kasihan, ingin orang lain sirik sama dia”. Saya tertawa dan mengatakan saya tidak pernah melihatnya dari sudut pandang tersebut, yaitu bahwa orang yang menuduh orang lain sirik sesungguhnya memiliki keinginan untuk “lebih baik” yang akan membuat orang lain iri hati padanya.

Bicara soal iri hati, saya bertemu dengan banyak kata ini sejak lama. Kata “iri hati” itu bersaudara dekat dengan “dibandingkan-dengan-orang-lain”, dan “tidak-menerima-diri-sendiri”. Setiap orang memiliki naluri iri hati karena dosa. Ya, dosa yang membuat seseorang tidak bisa menerima dirinya, mulai membandingkan dengan yang lain, dan merasa iri hati. Dosa juga membuat orangtua tidak dapat menerima anaknya apa adanya, membandingkan dengan anak lain, hingga anaknya merasa iri hati (beruntung saya memiliki orangtua yang mengenal saya dengan baik, dan tidak pernah membandingkan saya dengan teman-teman, sepupu, atau anak lainnya).

Seorang yang iri hati sebenarnya memiliki perasaan minder akan keadaan dirinya, dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tidak suka saat orang lain memiliki sesuatu yang bagus. Pasti langsung berusaha menyamainya.
2. Selalu ingin tahu kondisi orang lain up-to-date sehingga dapat segera menyainginya
3. Berusaha mencati keburukan orang lain yang ia rasa lebih baik dari dirinya, agar ia merasa dirinya ga jelek-jelek amat
4. Tidak memiliki kerendahan hati untuk mengakui kelebihan orang lain, sebaliknya mencap bahwa orang lain yang lebih baik dari dirinya adalah orang yang sombong.

Sekarang kita lihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai iri hati:
“Sesungguhnya orang bebal dimatikan oleh iri hati”  Ayub 5:2
Wohoooo…. seorang yang iri hati, adalah orang bebal… tidak dapat menghidupi dirinya dengan baik sehingga akhirnya akan dimatikan oleh iri hatinya sendiri

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” amsal 14:30
Orang bijak ini membandingkan iri hati dengan hati yang tenang. Benar sekali… iri hati membuat hati (sebenarnya lebih tepat diterjemahkan jantung) tidak tenang, aliran darah jadi tidak teratur, dan pembusukkan tulang, mengerikan!

“Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin” pengkotbah 4:4
Jika segala sesutu yang kita lakukan didorong oleh rasa iri hati terhadap yang lain, maka hasilnya adalah sia-sia. Karena iri hati membuat kita tidak pernah puas, apapun yang dilakukan akan terasa sia-sia dan tak menghasilkan apapun.

Sekarang kita lihat dari sudut pandang lain. Jika orang yang iri hati adalah orang yang minder, apakah orang yang tidak pernah iri hati adalah orang yang sombong? Ah, itu kan kata orang yang iri hati…! Orang yang tidak iri hati adalah mereka yang dapat menerima dirinya dan mensyukuri apa yang Tuhan berikan padanya.

Dari tadi kita berbicara tentang masalah, mari kita bicara tentang solusi sekarang…. gimana caranya supaya kita tidak iri hati, mengingat iri hati muncul karena dosa dan merupakan sifat dasar manusia (karena manusia lahir dalam dosa, maka memiliki kecenderungan berbuat dosa)
1. Kenali dengan baik dirimu.
Ambil waktu untuk menuliskan apa saja yang kau miliki, keahlianmu, kelebihanmu. Jangan bilang tidak ada, karena Tuhan tidak pernah gagal, dan kau adalah salah satu karyanya yang terrrrrrindah.

2. Kagumi dirimu, kagumi Tuhanmu
Berdirilah di depan cermin untuk mengagumi betapa indahnya matamu, hidungmu, kakimu, semua yang ada padamu. Tidak ada yang seperti itu lagi di muka bumi, satu-satunya milikmu. Ketika kau mulai mengagumi dirimu, kau sedang mengagumi Tuhanmu karena kau adalah salah satu karyanya yang terrrrindah.

3. Terima kekuranganmu, serahkan pada Tuhanmu
Kau pikir kenapa Tuhan menciptakan begitu banyak manusia dan bukan hanya satu? Supaya ada cukup banyak orang untuk melakukan banyak tugas. Supaya tidak ada satu orangpun jadi superman karena setiap orang memiliki kekurangan dan butuh orang lain. Tentu saja kekurangan yang saya maksud di sini bukan dalam hal karakter buruk seperti, suka berbohong atau jorok. Itu sih jangan diterima begitu saja, harus diubah.

Kekurangan yang saya maksud di sini adalah dalam hal bakat dan kecerdasan. Bukan bakatmu menghitung angka yang rumit dan menciptakan teknologi? Tenang saja, ada akuntan dan ilmuwan yang sudah mengerjakannya untukmu. Bukan bakatmu bernyanyi? Tak apa, ada penyanyi yang melakukannya untukmu.

Jangan fokus pada apa yang tidak kau kuasai, tapi fokus pada apa yang kau kuasai, dan jadilah ahli. Tapi jangan lakukan itu karena iri hati. Lakukan itu karena memang itu tugasmu di dunia, dan kau ingin menyenangkan penciptamu.

4. Mau belajar dan berusaha jadi lebih baik
Beberapa sifat buruk seringkali membuat kita berada dalam masalah sehingga kita jauh tertinggal dalam hal prestasi. Bukan tertinggal dari orang lain, tapi tertinggal dari potensi kita. Saya beri contoh, seorang pelari dengan kecepatan dan kekuatan fisiknya, misalnya, harus dapat menempuh 100 meter dalam 5 detik, namun karena dia mudah teralihkan perhatiannya, dia melakukannya dalam waktu 12 detik. Dia tertinggal dari potensinya…

Seringkali kita jauh lebih baik dari apa yang kita pikirkan dan apa yang sudah pernah kita capai. Hanya saja kita tidak bisa mencapai posisi lebih baik itu karena sifat atau kebiasaan buruk kita. Daripada mencari-cari kelemahan orang lain, lebih baik kita fokus pada sifat atau kebiasaan buruk yang harus kita perbaiki dari diri kita. Tanpa disadari kita akan menjadi cukup sibuk sehingga tidak akan ada waktu untuk iri hati.

Saya rasa cukup untuk hari ini… semoga apa yang saya tulis meresahkan Anda…karena jika ya, artinya tulisan ini sedang berbicara pada Anda, dan waktunya Anda untuk menghilangkan iri hati dari dalam sana… selamat mencoba… ingat… KAMU ISTIMEWA!!!!!

Advertisements