“Hidup itu adalah pilihan”, adalah kata-kata yang sering didengung-dengungkan oleh trainer, motivator, pengkotbah, pendeta, dan sebangsanya.

Sayangnya kalimat “hidup adalah pilihan” yang sering didengung-dengungkan itu kurang dipahami dengan baik oleh masyarakat kita saat ini. Mereka berkata-kata tanpa dipikir, bersikap tanpa dipikir, marah tanpa dipikir dan sedih tanpa dipikir… Tanpa dipikir yang saya maksudkan di sini adalah melakukan sesuatu seolah-olah ia tidak memilih untuk melakukannya, tapi terpaksa dan harus melakukannya.

Seringkali alasan yang dikemukakan adalah “itu kan masalah emosi, bukan pikiran”. Dari apa yang saya pelajari, yang membedakan manusia dengan mamalia lain adalah karena manusia memiliki kendali atas emosi. Manusia dapat berpikir sebelum marah, sebelum sedih, sebelum mengamuk, tapi hewan tidak.

Manusia dapat berpikir tenang sebelum melakukan sesuatu dan karenanya dapat dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ya, bagi manusia, hidup adalah pilihan… Ketika kita melakukan sesuatu, kita dengan sadar memilih untuk melakukan itu…, ketika kita bereaksi atas sesuatu kita dengan sadar memilih reaksi yang paling tepat untuk sesuatu itu… Itulah kelebihan manusia dibanding mahluk lainnya.

Hari ini saya dan teman-teman sedang membahas tentang ular. Kami melihat bagaimana ular-ular menangkap mangsanya dengan tanpa belas kasihan. Hewan reptil yang tidak memiliki emosi ini akan langsung membelit sampai mati mangsanya dan menelan habis mangsanya.

Mangsa mulai dari tikus, babi, sampai kerbau mengalami nasib yang sama di (tangan) ular-ular tanpa otak itu.

Satu video yang menarik perhatian saya adalah ketika si pemangsa mati oleh (yang seharusnya) menjadi mangsa. Seekor tupai dengan gagah berani menghampiri ular itu, menggigiti kulitnya. Saat ular itu berbalik ingin menggigit, tupai itu tidak pantang menyerah, dia terus mencoba menggigiti tubuh ular itu (mungkin disangkanya batang kayu).

Tupai adalah binatang mamalia, dia sedikit lebih tinggi dari ular. Tupai bisa belajar… Saat dia melihat kepala ular “sumber bahaya”, dia mundur sejenak, kemudian lompat menggigit kepala ular itu. Kepala ular itu berdarah, dan sejak itu ular tersebut tidak berusaha menyerang atau melilit. Tupai itu terus menggigiti tubuh ular.

Ketika ular itu menjauh, tupai itu mengejar dan terus menggigit hingga akhirnya ular itu mati.

Apa hubungan cerita ini dengan “hidup adalah pilihan”? Walau tupai terlihat seolah-olah memilih untuk menggigit ular (yang pada akhirnya membunuhnya), tapi kita tidak bisa mengatakan bahwa tupai “memilih” untuk menggigit ular. Tupai tersebut tidak tahu bahayanya mencari gara-gara dengan ular.

Ketika manusia melihat ular, dia tentunya tidak akan melakukan apa yang tupai tersebut lakukan. Kita tidak akan menghampiri ular kemudian menggigit tubuhnya begitu saja. Kita akan menghampirinya diam-diam dan membunuhnya terlebih dahulu.

Kenapa? Karena kita tahu bahayanya main-main dengan ular. Kita tahu bagaimana cara yang tepat membunuh ular tanpa membahayakan nyawa kita.

Hidup adalah pilihan, dan karena manusia memiliki kapasitas otak cukup untuk memilih dengan sadar, maka manusia seharusnya dapat bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya…

Memilih untuk bertindak itu sama dengan memilih untuk bertanggung jawab atas tindakan itu…

Bagi manusia, hidup adalah PILIHAN.

Greissia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s