Hutang Kepada Pencipta (A Short Story)


Aku tidak bodoh… Tidak! Aku bukan gadis bodoh. Baik, mungkin kau dapat mengatakan aku ini sombong, tapi aku tidak bodoh. Mungkin sedikit gila, tapi tidak bodoh. Di dalam kepalaku ada sel-sel yang saling berhubungan satu dengan lain, dan hantaran listrik di dalamnya begitu banyak. Aku tidak bodoh!

Banyak orang yang bilang aku bodoh. Mungkin aku sedikit berpura-pura bahwa aku tidak sepintar yang sebenarnya. Menunjukkan tatapan mata kosong sesekali, atau berpura-pura tidak mengerti sesekali. Tapi itu hanya untuk memancing informasi yang lebih banyak dari orang itu. Menikmati bahwa lawan bicaraku merasa pintar dan bicara lebih banyak, karena aku sedang malas bicara. Tapi sekali lagi ku katakan, aku ini tidak bodoh.

Aku begitu banyak membaca sejak kecil, kata-kata bermain-main dalam otakku, membuatnya semakin hari semakin kuat, semakin penuh, semakin berisi, semakin pandai. Hanya orang yang naïf dan berwawasan sempit yang mengatakan bahwa aku tidak pintar.

Suatu hari, aku bertemu dengan seorang bapak saat aku sedang menunggu kereta api. Kami bercakap-cakap cukup lama, mulai dari lintasan planet hingga kandungan yang terdapat di dalam bumi. Aku juga tidak tahu kenapa percakapan kami begitu melebar. Sebelum berpisah Bapak itu mengatakan sesuatu yang mengejutkanku, katanya aku harus berhati-hati dengan isi kepalaku, karena jika tidak, itu akan sangat menyulitkan aku suatu saat.

Aku memikirkan perkataannya beberapa saat lamanya. Aku tahu aku ini termasuk mahluk paling pintar yang pernah diciptakan Tuhan. Arogan mungkin, tapi aku memiliki alasan untuk arogansiku. Namun sekeras apapun aku berpikir, aku tidak mengerti maksud perkataannya bahwa suatu saat isi kepalaku ini akan menyulitkan aku.

Aku tidak mengerti, sampai hari itu tiba, setidaknya dari hari itulah aku akan memulai kisah ini. Hari itu aku sedang berjalan-jalan seorang diri. Aku selalu menghabiskan waktu sendiri. Mungkin aku bersama temanku sesekali, tapi aku lebih sering menghabiskan waktu sendiri. Aku membutuhkan waktu untuk memikirkan sesuatu yang akan aku lakukan.
Hari itu seorang gelandangan mendekatiku. Tampangnya lusuh sekali, ia mengenakan celana dan baju robek-robek yang warnanya sudah tidak jelas. Pipinya cekung dan hidungnya agak bengkok. Umurnya sekitar enam puluh tahunan dan sorot matanya tidak menyiratkan pekerjaannya, ia terlihat sangat cerdas. Aku bisa mengetahui kecerdasan seseorang dari sorot matanya. Ia tidak kelihatan seperti pengemis atau gelandangan biasa.

“Neng, tahukah neng kalau setiap orang punya tugas” katanya pelan.

“Maaf, apa kata Bapak barusan?” Aku menjawab dengan agak terperanjat. Tidak biasanya seorang gelandangan mendekati orang yang sedang berjalan-jalan kemudian mengatakan sesuatu dengan jelas seperti Bapak ini. Saking kagetnya aku merasa perlu mendengar ulang apa yang dikatakan Bapak itu.

“Bapak bilang, setiap orang punya tugasnya masing-masing. Bapak punya tugas, Neng punya tugas. Orang-orang di jalan itu juga punya tugas,”ulangnya.

“Oh, eh, ya… saya rasa Bapak benar, kita semua punya tugas. Bahkan anak-anak pun diberi tugas di sekolahnya. Ehm, begitu kan maksud bapak?”

“Maksud Bapak bukan tugas seperti di kantor atau di sekolah Neng. Maksud Bapak lebih besar dari itu. Setiap orang punya tugas besar. Sayangnya, tidak semua orang menyadarinya”

Aku heran sekali dengan kata-katanya. Sebenarnya yang lebih membuat aku heran adalah susunan bahasa dan kalimat yang dipilihnya. Ia tidak bicara seperti seorang gelandangan. Ia bicara seperti seorang,… apa ya, guru besar, atau mungkin seperti seorang pendeta.

Karena merasa omongan kami akan panjang, dan karena aku mulai tertarik, maka aku mengajak Bapak ini minum kopi di kafe yang ada dekat situ. Bapak itu tidak menolak. Tapi aku melihat dia tidak menolak bukan karena semata-mata akan ditraktir minum kopi dan kue kecil. Dia hampir tidak mau memesan apapun dan menerima apa saja yang disodorkan padanya.

“Baik Pak. Sekarang kita bisa bicara” kataku sambil menatap dalam-dalam matanya.

“Neng, Bapak melihat Neng barusan sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya neng sedang berpikir, ‘apa yang harus aku lakukan selanjutnya’, apa betul Neng”

Sekali lagi aku kaget, bagaimana mungkin Bapak ini bisa tahu apa yang aku pikirkan, “Sebenarnya Pak, saya sedang bosan. Saya ingin melakukan sesuatu yang besar, yang benar-benar….benar-benar…”

“Benar-benar menunjukkan kecerdasan Neng, begitu?”

Di titik itu aku mulai merasa seram. Kenapa Bapak itu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang aku pikirkan. Bagaimana mungkin dia tahu apa yang aku pikirkan dengan sangat akurat.

“Eh, iya pak. Dari mana Bapak bisa tahu?”

“Pengalaman Neng” katanya sambil mengedipkan mata.”Begini Neng, Bapak mau tanya lagi. Kenapa Neng berpikir begitu? Sebenarnya Bapak bisa tebak jawabannya, tapi Bapak ingin tahu dari Neng sendiri” bibirnya menyunggingkan senyuman kecil ketika bertanya hal itu.

Aku ragu sebentar. Haruskah aku membuka apa yang ada di pikiranku pada seorang gelandangan. Tapi duduk di kafe dengan gelandangan ini saja sebenarnya sudah merupakan tindakan yang tidak masuk akal. Lagipula, dia bukan siapa-siapa. Tidak ada salahnya aku menceritakan apa yang di pikiranku.

“Saya hanya berpikir bahwa apa yang saya lakukan selama ini terlalu membosankan, Pak. Siapa saja bisa melakukan itu. Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain. Saya ingin orang mengenal saya karena apa yang saya lakukan itu. Saya ingin puas dengan hasil karya saya itu. Saya ingin… Saya ingin menikmati hasil karya saya itu dengan cara yang…”

“Seperti Beethoven menikmati karyanya sekalipun tidak dapat mendengarnya?” Bapak itu menjawab dengan lancar dan dengan tatapan mata lurus. Sekarang jelas bagiku, dia bukan gelandangan sembarangan. Gelandangan tidak akan mengetahui Beethoven dan keadaannya yang tuli saat menggubah lagu.

“Ya Pak, seperti itu. Aneh sekali Bapak bisa menggambarkan perasaan saya dengan tepat.”

“Seperti Bapak katakan tadi Neng, setiap orang punya tugas yang khusus. Kalau Bapak boleh pakai kalimat yang lebih bagus, setiap orang punya panggilan yang khusus dalam hidupnya. Cerita Superhero seperti Superman, Batman, dan cerita lainnya itu menggambarkan impian orang akan panggilannya”

“Saya rasa saya paham maksud Bapak” Aku menjawab pelan sambil meneguk kopiku.

“Setiap orang ingin menjadi hebat, menjadi sesuatu, menjadi berarti bagi orang lain, namun khususnya untuk dirinya sendiri. Merasa puas karena mengetahui bahwa dirinya melakukan sesuatu yang besar, yang hebat. Namun masalahnya adalah…”

Sampai kalimat itu Bapak itu terdiam, ia melihat cangkir kopinya, mengangkatnya ke mulutnya, mencicipinya sedikit, meletakannya lagi.

“Masalahnya apa pak?” tanyaku, masih penasaran akan apa yang dikatakannya.

“Masalahnya adalah, setelah ia mencapai sesuatu tersebut, apa yang akan dilakukannya kemudian? Apakah ada lagi sesuatu hebat lainnya yang dapat dilakukannya? Jika ada, berarti apa yang baru dilakukannya tidaklah terlalu hebat.”
“Maksud bapak,” kataku “tidak ada orang yang pernah merasa puas?”

“Bukan, bukan itu maksud Bapak. Jika yang baru dilakukannya tidak terlalu hebat, lalu hal hebat apa yang merupakan karya besarnya. Karya besar yang tidak akan pernah sia-sia.”

“Pak, saya rasa, apa yang baru saja Bapak katakan tidak berlaku buat semua orang kan? Maksud saya, ada banyak orang yang tidak merasa perlu melakukan sesuatu yang hebat. Hanya orang-orang tertentu saja. Maksud saya…”

“Bapak sudah menduga Neng adalah gadis yang pintar,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Memang tidak banyak orang yang ingin melakukan sesuatu yang hebat. Namun Neng adalah salah satu dari orang-orang itu bukan?”

“Ehm,…saya rasa ya. Saya tidak cepat puas dengan apa yang sudah saya lakukan. Oya Pak, Bapak boleh memanggil saya Jo saja, itu nama saya. Ehm, biasanya teman-teman saya memanggil saya begitu.”

“Baiklah Jo. Sekarang mengertikah kau makna dari kata-kata Bapak tadi? Setiap orang memiliki tugas dalam hidupnya.”

“Saya rasa sedikit banyak saya mengerti, tapi kalau Bapak tidak keberatan untuk menjelaskannya”

“Ketika seseorang lahir, ia memiliki suatu misi khusus dari Penciptanya. Ia baru saja memulai suatu perjalanan untuk misi tersebut. Perjalanan yang dinamakan kehidupan, di mana bumi adalah ladangnya.

Kewajiban setiap orang adalah mencaritahu apa misinya. Ada orang yang memiliki misi menolong orang lain. Ada orang yang memiliki misi membangun rumah-rumah besar. Ada orang yang memiliki misi menolong penderita lepra, misalnya. Setiap orang memiliki misi.”

“Tapi pak…tidak semua orang menyadarinya, bukan?” tanyaku.

“Benar Jo, tidak semua orang menyadari misinya. Kebanyakan orang bingung, mulai mencari, namun kemudian menerima apa saja yang diberikan orang kepadanya.

Walau merasa tidak nyaman, namun tidak memiliki alasan yang cukup untuk berhenti. Walaupun sebenarnya alasan itu ada. Tepatnya, mereka tidak memiliki keberanian untuk berhenti dan mencoba yang lain. Sesuatu yang benar-benar merupakan tugasnya.”

Di sini Bapak itu berhenti. Sebenarnya aku penasaran, ingin mengetahui siapa dia ini sebenarnya. Seorang gelandangan lusuh dengan tatapan cerdas. Kalau dia sepintar ini, kenapa dia harus menjadi gelandangan. Apakah dia orang gila? Tapi tidak mungkin orang gila bisa berbicara seperti itu.

Bapak itu menatapku seperti menantikan jawabanku, atau mungkin menantikan pertanyaanku. Aku merasa bahwa aku harus mengatakan sesuatu.

“Lalu, dari mana seseorang bisa mengetahui apa yang menjadi tugasnya?”

“Dia harus mencarinya”

“Dan di mana dia bisa mencarinya?”

Bapak itu melihat ke arahku dengan tatapan cerdasnya, menyesap kopinya yang pasti sudah dingin, kemudian dengan perlahan menjawab dengan penekanan di setiap katanya, “Di mana kau bisa mencarinya?”

Aku menatapnya bingung. Biasanya aku selalu mengerti ke mana arah pembicaraan seseorang. Aku selalu yakin ada jawaban untuk setiap pertanyaan. Baru kali ini aku merasa benar-benar bodoh. Menyadari kebingunganku, Bapak itu menjawab.

“Jo, tidak semua orang diberi kecerdasan yang sama. Tidak semua orang diberi bakat yang sama. Tidak semua orang diberi kesukaan yang sama. Semuanya itu berbeda, dan sebenarnya setiap orang bisa mulai mencarinya dari situ.”
“Maksud Bapak, sesuatu yang saya sukai? Hobi saya?”

“Ya, dilanjutkan dengan rasa penasaran akan sesuatu yang benar-benar diminatinya.”

“Rasa penasaran…” Ulangku.

Apakah kau pernah mendengar kisah tentang orang-orang besar? Sebut saja Thomas Alva Edison”

Hebat sekali Bapak ini. Seorang gelandangan yang mengetahui Thomas A. Edison. Jangan-jangan dia ini seseorang yang memiliki hobby menyamar menjadi gelandangan. Ah, pikiran apa ini. Tidak mungkin ada orang yang hobby menyamar menjadi gelandangan. Apalagi jika orang itu begitu cerdas.

“Thomas Alva Edison ini tidak memiliki minat sama sekali pada sekolah. Malah ia justru menaruh minat pada buku-buku ilmiah orang dewasa.

Kesukaannya akan hal-hal yang bersifat ilmiah ini berlanjut ketika ia bekerja menjadi seorang operator telegraf. Minatnya berkembang menjadi rasa penasaran mengembangkan apa yang sudah ada. Dari tangannya lahir mesin telegraf yang lebih canggih.

Tidak cukup di situ, rasa penasarannya berkembang dan ia berhasil memiliki bengkel ilmiah sendiri. Menciptakan gramofon, proyektor, bahkan lampu listrik. Atas penemuannya, dunia harus berterimakasih.

Ia memiliki tugas khusus dalam hidupnya. Melalui tangannya dunia mengenal lampu listrik.”

“Tapi pak, tidak semua orang memiliki kelebihan otak yang cemerlang seperti Edison kan? Maksudku menciptakan sesuatu untuk masa depan sebuah peradaban itu adalah suatu hal yang sulit. Tidak semua orang bisa, lagipula…”

“Apa kau pernah mendengar tentang Helen Keller?”

“Ya tentu saja, seorang yang mengalami kemalangan di masa kecilnya, tidak bisa melihat, mendengar dan bicara. Saya tak dapat membayangkan jika saya mengalami hal itu”

“Kemalangan katamu?” dan ia tertawa kecil.

Aku hanya bengong melihatnya tertawa. Walau aku kagum pada sosok Helen Keller, tapi bagiku mengalami cacat seperti itu karena sebuah penyakit di usia yang sangat kecil adalah suatu kemalangan.

“Itu adalah bagian dari tugasnya, Jo. Dia memiliki tugas khusus. Suatu tugas yang hanya bisa dijalankan kalau dia tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, dan tidak dapat bicara.”

Aku bergidik dan menggeleng tanda tidak mengerti.

“Kalau yang mengalami itu orang lain, tentunya saat ini dunia tidak memiliki inspirator yang begitu hebat. Seorang politikus, pengajar dan pengarang yang luar biasa, karena tidak dapat bicara, melihat dan mendengar.

Bukankah itu menginspirasi setiap orang? Jika Helen Keller saja bisa, kenapa kita tidak? Dan berkat Helen Keller, ada banyak orang tua yang memiliki anak-anak cacat memiliki harapan untuk anak-anak mereka.

Helen Keller lahir dengan suatu tugas. Awalnya mungkin ia tidak mengerti tugasnya, tapi kemudian, ia mengerti, dan menjalani tugasnya dengan tabah dan luar biasa hingga akhir hayatnya.”

“Saya rasa saya mulai mengerti pak.”

“Setiap orang memiliki tugas dalam hidupnya, Jo. Bukan sekedar melakukan sesuatu yang hebat. Bukan sekedar dikagumi orang. Tidak! Seseorang lahir untuk membawa perubahan bagi peradaban.”

“Perubahan bagi peradaban,”ulangku, dan aku pun menarik nafas. “Pak, bukankah Bapak tahu, itu adalah hal yang tidak mudah. Hanya orang-orang dengan karunia khusus saja yang dapat mengubah peradaban.”

“Kau menyebutnya orang-orang dengan karunia khusus. Aku menyebutnya, orang-orang yang menyadari tugasnya.”

“Maksud bapak…?”

“Para pengubah dunia, adalah orang-orang yang tahu dengan pasti apa yang menjadi tugasnya. Baiklah, janganlah terlalu jauh bicara soal mengubah dunia. Bagaimana dengan mengubah kehidupan seseorang. Anne Sulivan misalnya, seorang wanita yang mengajar seorang anak menjadi orang hebat.

Anne Sulivan tahu tugasnya saat ia mengajar Helen Keller. Mungkin ia tidak sepintar Helen Keller. Tapi kesabarannya mengubahkan dunia juga, bukan? Walaupun melalui orang lain.

Ada porsi untuk setiap orang dalam kehidupan ini.”

“Porsi untuk setiap orang…” Baru kali ini aku merasa tidak yakin dengan diriku saat bicara dengan orang lain. Biasanya aku melihat diriku sebagai seorang yang sangat pintar. Seorang dengan IQ yang sangat tinggi. Namun kali ini aku melihat kesia-siaan dari semuanya. Aku tidak yakin bahwa aku tahu akan tugasku. Aku tidak yakin bahwa aku bisa menjadi pengubah dunia.

“Jo, kau gadis yang cerdas. Begitu banyak orang cerdas di luar sana. Sayangnya mereka tidak cukup peduli. Mereka tidak peduli akan tugasnya, mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri.”

“Memangnya apa bedanya, Pak?”

“Ketika seseorang fokus pada dirinya sendiri, tak ada yang dapat dia lakukan untuk mengubah dunia, bahkan mengubah keluarganya sendiri. Namun jika seseorang fokus pada ‘apa yang dapat dilakukannya untuk orang lain’. Maka dia akan melihat pada dirinya dan berkata, ’baik, apa yang aku miliki yang dapat aku gunakan untuk orang lain.’

Dan hasilnya begitu jauh berbeda. Jika seseorang melakukan sesuatu untuk kepuasannya semata-mata, maka hasilnya hanya akan bersifat sementara, seperti katamu tadi, pada dasarnya manusia sulit dipuaskan. Ia akan mulai frustrasi karena dirinya tidak pernah puas.

Namun ketika ia melakukannya untuk orang lain, maka sifat tidak dapat puas itu akan berguna untuk mengubah makin banyak orang, bahkan bukannya tidak mungkin mengubah dunia.”

“Tadi bapak bilang, ada porsi untuk setiap orang…”

“Ya, ada porsi untuk setiap orang. Kau dengan kecerdasanmu mungkin memiliki porsi yang lebih besar daripada orang lain yang memiliki setengah saja dari kecerdasanmu. Namun jangan heran jika ada orang yang memiliki setengah saja dari kecerdasanmu dapat mengubah dunia, sedangkan orang sepertimu tidak.”

Pada situasi lain mungkin aku akan tersinggung dengan kata-kata Bapak itu. Tapi kali ini aku berpikir bahwa apa yang dikatakannya benar.

“Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan, Pak?”

“Apa yang kau sukai?”

“Hmm, aku suka menulis.”

“Baik, mulailah dari situ. Ingat, ketika kau menulis untuk kepuasanmu, belum tentu orang lain menikmati hasil karyamu. Ketika kau menulis untuk orang lain, maka semua orang dapat menikmatinya.”

Aku termenung mendengar ucapannya.

“Bahkan Beethoven pun bukan menulis untuk dirinya sendiri. Jika ya, ia akan berhenti menulis lagu saat ia menjadi tuli, toh dia tidak dapat menikmatiny. Ia menulis untuk orang lain, dan karyanya dikenal orang sampai saat ini.”

Setelah pertemuan itu aku tak pernah bertemu lagi dengan gelandangan itu. Aku bahkan tidak tahu namanya. Setelah aku membayar tagihan kopi, aku keluar bersamanya dan dia hilang saat aku menoleh padanya. Aku tidak tahu sampai hari ini, siapa dia sebenarnya.

Namun dari pertemuan itu aku mengerti satu hal. Aku mengerti apa makna dari kalimat yang diucapkan Bapak yang kujumpai di kereta api. Mengenai kesulitan yang akan aku dapatkan karena kecerdasanku. Setelah kupikir-pikir mungkin maksudnya, dengan kecerdasan yang lebih besar, maka tanggungjawab seseorang pun seharusnya lebih besar dan kalau aku tidak menggunakannya dengan baik, maka hutangku pada Pencipta Kehidupan akan lebih besar.

Advertisements

2 thoughts on “Hutang Kepada Pencipta (A Short Story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s