Fatalist vs perfeksionis


Pernah ada orang yang bilang sama saya…”Kamu ini fatalist juga ya, beda tipis lho antara fatalis dan perfeksionis”. Setelah beberapa hari saya baru sadar maknanya. Fatalis itu adalah orang yang hanya menerima0 dan 100 kalau memang skalanya 0 sampai 100. Sedangkan perfeksionis adalah orang yang hanya menerima 100 dan berusaha mendapatkannya

Setelh saya pikir-pikir, ternyata sebutan fatalis itu gak bisa dibanggakan,hahaha…Mau tau ciri-ciri fatalis? gini:

1. Orang fatalis akan mengatakan “Use my way, or i quit”. Pakai cara saya, atau saya gak mau ikut-ikutan lagi…gawat ya, hihi…mungkin karena orang fatalis itu terlalu percaya diri kali ya..menganggap bahwa caranya sudah pasti paling bagus…Tapi sekali lagi lho…ini sama sekali bukan kebanggaan, Dont try this at home, eh, anywhere..

2. Orang fatalis tidak mau menunggu, “Now, or never” sekarang, atau tidak usah…hehe, banyak temen-temen yang complain…kalau minta tolong suka gak bisa nunggu lamaan dikit. Begitu yang dimintain tolong gak bisa bantu langsung bilang “saya kerjain sendiri aja deh”. Wah, bukan sifat yang bagus kan?

3. Orang fatalis sulit memberi kesempatan kedua. Begitu orang yang dipercayanya mengecewakan (biasanya masalah kerjaan), wah, jangan harap orang fatalis akan memberinya kesempatan kedua. Lebih baik repot, dikerjakan sendiri daripada kecewa lagi

4. Orang fatalis lebih percaya sama diri sendiri daripada sama orang lain. jadi kalo di sekolah ada tugas yang boleh berkelompok, orang fatalis akan memilih untuk mengerjakan tugas sendirian daripada kerja kelompok.

Duh, makin lama ditulis kok makin serem ya…wish bisa berubah nih…dan temen-temen fatalis lainnya bisa bercermin bahwa menjadi fatalis itu repot 🙂

Keluarga…


Sebenarnya keluarga itu diciptakan Tuhan untuk apa? Bukankah untuk saling melindungi dan mempercayai? Sebagai ‘home’ ?? Kalau bangunan rumah adalah ‘house’, maka keluarga yang menjadikannya sebagai ‘home’.

Di ‘home’ orang merasa aman karena dipercayai.

Di ‘home’ orang merasa aman karena mendapatkan perlindungan

Di ‘home’ orang merasa aman karena mendapatkan kekuatan

Di ‘home’ orang merasa aman karena mendapatkan dukungan

Pertanyaannya sekarang adalah…bagaimana kalau kita tidak mendapatkan semua itu dari keluarga kita. Bagaimana kalau keluarga kita tidak bisa mempercayai, tidak bisa memberikan perlindungan, kekuatan dan dukungan? Sebaliknya malah memberikan kecurigaan, rasa tidak aman, mematahkan semangat dan mencibir pada kita?

Apa sih peran anak dalam sebuah keluarga? apakah cuma obyek yang tidak boleh berpikir dan bertindak sesuai kata hatinya? Apakah anak hanya sebuah ‘milik’ dari orangtua. Orangtua menentukan dengan siapa anak boleh dan tidak boleh bergaul?

Saya berpikir, alangkah lebih baiknya jika dalam keluarga pun ada pemisahan, antara masalah yang menjadi privacy dan masalah keluarga… Apakah harus orangtua menentukan apa yang harus menjadi karir anaknya? Apakah harus orangtua menentukan anaknya bergaul dengan siapa? Apakah diperbolehkan orangtua atau saudara melihat-lihat isi handphone anaknya atau anggota keluarga yang lain?

Seorang anak adalah milik masa depan…bukan milik orangtuanya..

Orangtua adalah orang kepercayaan Tuhan yang hanya diberikan sedikit waktu untuk membentuk anak panah di tangannya. Sekali anak panah itu lepas…sudah bukan tanggungjawabnya lagi ke mana anak panah itu akan berlari…

Orangtua adalah kepercayaan Tuhan yang hanya diberikan sedikit waktu untuk berinvestasi pada hidup anak-anaknya..setelah itu, anak-anaknya adalah seorang pribadi yang utuh…Pribadi yang juga bisa berpikir, pribadi yang bisa memiliki pendapat, pribadi yang memiliki perasaan.

Tapi kenapa banyak orang berpikir bahwa keluarga adalah tempat mereka menjalankan tirani karena di luar mereka tidak mendapatkan tampuk kekuasaan itu. Kenapa banyak orang merasa berhak memiliki anak-anaknya.

Kalau begitu, apakah ketika seseorang menjadi pembunuh, orangtuanya yang akan dipenjara? tidak…seseorang yang sudah dewasa akan menerima sendiri konsekuensi dari apa yang dilakukannya.

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang mengerti arti dari kedewasaan anaknya…

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang tetap mengatakan “papa mempercayaimu” karena dia tau bahwa dia sudah mendidik anaknya dengan benar

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang tetap mengatakan “papa mendukungmu” karena dia tahu bahwa anaknya sudah menjadi individu yang berrumbuh atas didikannya

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang lebih mempercayai anaknya daripada kata-kata orang…

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang menghargai anaknya sebagai pribadi yang utuh, lengkap dengan pikiran, perasaan dan kehendak…

Sebaliknya…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang mencurigai anaknya. Dia tidak yakin bahwa dia sudah menanamkan nilai-nilai yang tepat…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang tidak bisa mempercayai anaknya. Dia tidak yakin bahwa dia pun dapat dipercaya dalam mendidik anak…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang menceritakan keburukan anaknya pada orang lain. Mereka memilih anaknya yang malu daripada mereka sendiri yang malu…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang tidak bangga pada anaknya. Mereka merasa bukan mereka yang menjadikan anaknya berhasil…

Orangtua yang gagal adalah orangtua yang melibatkan orang lain dalam urusan rumahtangga dan keluarganya. Mereka merasa tidak mampu membereskan urusannya sendiri..

Jadi…orangtua seperti apakah Anda?