Sebuah pelajaran berharga dari anak-anak yang pulang ibadah


image

Hari ini, Menara Singer bernyanyi di GiA Lengkong Besar dalam rangka mencari donasi untuk Ibadah Bersama teman-teman mereka Pelajar Kristen SD Negeri14 Sept nanti.

Mereka bernyanyi di dua ibadah, siang dan sore, mendengar dua kali kotbah dengan tema berbeda yang mudah mereka pahami. Pertama mereka mendengar tentang “Mengenal Tuhan yang Perkasa”, kedua tentang “Spirit of Excellence”.

Sepulang dari ibadah kedua, kami masih membahas dengan mereka bagaimana seharusnya sikap yang harus ditunjukkan seseorang ketika memuji Tuhan. Kami mengingatkan mereka bahwa pujian dan penyembahan yang dinaikkan adalah untuk Tuhan, dan bahwa jangan sampai kita terlihat memuji Tuhan hanya ketika di atas mimbar saja (bukankah itu yang sering dilakukan kita, orang dewasa yang melayani mimbar? berjingkrak-jingkrak di panggung hanya untuk dilihat jemaat dan ‘mati gaya’ saat tidak bertugas melayani).

Hal ini kami bahas karena saat pujian mereka menyanyi tanpa ekspresi dan malah memperhatikan orang yang memuji dengan ekspresi, padahal mereka menunjukkan ekspresi luar biasa saat giliran mereka bernyanyi di mimbar.

Saya katakan bahwa setiap orang memiliki ekspresi sendiri saat memuji dan menyembah Tuhan. Tapi memilih untuk tidak berekspresi bukanlah salah satu ekspresi memuji Tuhan. Kita memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap tubuh, hidup dan jiwa kita, untuk itu, tidak berekspresi bukanlah salah satu pilihan.

Saya sangat menyayangi anak-anak saya ini, dan mengagumi mereka. Baru saja, kekaguman saya pada mereka bertambah.

Saya kelelahan dan memutuskan untuk istirahat di salah satu ruangan ketika mereka, entah inisiatif siapa, mulai mengambil Alkitab, memilih salah satu pasal di Amsal, berbaca bergantian dan kemudian merenungkannya dipimpin murid kami yang tertua (biasanya saya hanya mengajar mereka untuk berdoa bersama sebelum tidur)

Saya sengaja memutuskan untuk tidak bergabung dengan mereka karena ingin mengetahui inisiatif mereka dan justru ingin belajar lebih banyak dari mereka.

Salah satu yang saya dengar adalah ketika mereka menyimpulkan “harus rajin belajar” untuk perintah “jadilah bijak”, disamping beberapa pelajaran lain yang mereka simpulkan seperti taat pada orangtus dan berbuat baik pada semua orang.

Setelah selesai, kemudian mereka berdoa bersama, meminta Tuhan menjadikan mereka anak yang baik, dan melindungi saat mereka tidur…

Ah,sungguh saya belajar lebih banyak dari mereka daripada dua kotbah hari ini (jangan salah, saya sangat diberkati oleh dua kotbah hari ini). Mereka tentu juga lelah hari ini. Tapi daripada memutuskan langsung tidur, mereka memutuskan belajar sesuatu sesuai porsi mereka dan menaatinya (saya yakin tidak banyak yang mereka pahami dari kotbah hari ini selain, “baca Alkitab tiap hari” yang diingatkan bapak pendeta).

Bukankah tepat Yesus berkata, “jika kita tidak menjadi seperti anak-anak kecil ini, kita tidak layak untuk kerajaan Surga”

Advertisements