Ngamuk vs self-control


Apa yang dilakukan orang kalau marah?Atau mundur deh pertanyaannya, boleh gak sih seseorang marah? Jawabannya jelas 1000000% boleh…orang boleh marah. Tapi masalahnya, bagaimana dia menangani kemarahannya? Ada yang menanganinya dengan ngamuk dan melampiaskannya dengan menghancurkan barang (gak sedikit lho orang yang gitu), katanya itu bisa menyalurkan emosinya, walau saya gak ngerti dimana letak penyalurannya.

Pilihan kedua adalah anger management, self control. Memanage marah dan mengendalikan diri. Saya juga baru tahu beberapa bulan belakangan kalau ada orang-orang yang jadi sakit karena menahan marah. Kayaknya kemarahan itu naik ke atas kepala dan bersarang di sana, meminta cepat-cepat dilampiaskan. Sebelumnya saya pikir itu cuma ada di kartun aja, orang marah sampe berasap, ternyata beneran hehehe

Ngomong-ngomong soal anger management, kayaknya harus mulai dari pemisahan antara pikiran dan perasaan ya. Gimana kemarahan mempengaruhi pikiran, atau perasaan kita dan adanya konektivitas antara pikiran dan perasaan. hehe, kok jdi rumit ya?

Masalahnya gini, terkadang orang cuma pake perasaannya saja, tapi gak pake logika. Waktu dia sangat marah, perasaannya mulai mengatakan bahwa “saya dilecehkan”,misalnya…nah karena perasaan yang mulai, selanjutnya dilanjutkan dengan hal-hal sentimentil lain deh, kaya “kenapa saya dilecehkan”, “orang itu tidak menghormati saya”, “sya orang paling malang”, dll..akibatnya, belum sempet otak mikir, yang ada tubuh udah melampiaskan apa yang dirasakan sang “perasaan”

Menurut saya, adanya ‘self control’ bukan berarti seseorang gak boleh marah. Adanya self control berarti seseorang dapat mengendalikan amarahnya dengan baik. Menarik nafas setiap ada sesuatu yang membuat marah. Berpikir, “pantas gak kalau saya marah-marah di sini”, atau “bisa ga masalah ini diselesaikan dengan baik2”, atau yang paling penting “apa konsekuensi kalau saya marah2 dan mengamuk” Beda lho marah-marah dan marah.

“Tapi gimana kalau gak sempet?”. Saya yakin saat seseorang merusakkan barang atau mengamuk, ada waktu sepersekian detik untuk mengambil keputusan bahwa dia akan mengamuk. Gimana kalau keputusan itu diganti jadi, menarik nafas panjang? mudah2an membantu, hehe

GBU

Fatalist vs perfeksionis


Pernah ada orang yang bilang sama saya…”Kamu ini fatalist juga ya, beda tipis lho antara fatalis dan perfeksionis”. Setelah beberapa hari saya baru sadar maknanya. Fatalis itu adalah orang yang hanya menerima0 dan 100 kalau memang skalanya 0 sampai 100. Sedangkan perfeksionis adalah orang yang hanya menerima 100 dan berusaha mendapatkannya

Setelh saya pikir-pikir, ternyata sebutan fatalis itu gak bisa dibanggakan,hahaha…Mau tau ciri-ciri fatalis? gini:

1. Orang fatalis akan mengatakan “Use my way, or i quit”. Pakai cara saya, atau saya gak mau ikut-ikutan lagi…gawat ya, hihi…mungkin karena orang fatalis itu terlalu percaya diri kali ya..menganggap bahwa caranya sudah pasti paling bagus…Tapi sekali lagi lho…ini sama sekali bukan kebanggaan, Dont try this at home, eh, anywhere..

2. Orang fatalis tidak mau menunggu, “Now, or never” sekarang, atau tidak usah…hehe, banyak temen-temen yang complain…kalau minta tolong suka gak bisa nunggu lamaan dikit. Begitu yang dimintain tolong gak bisa bantu langsung bilang “saya kerjain sendiri aja deh”. Wah, bukan sifat yang bagus kan?

3. Orang fatalis sulit memberi kesempatan kedua. Begitu orang yang dipercayanya mengecewakan (biasanya masalah kerjaan), wah, jangan harap orang fatalis akan memberinya kesempatan kedua. Lebih baik repot, dikerjakan sendiri daripada kecewa lagi

4. Orang fatalis lebih percaya sama diri sendiri daripada sama orang lain. jadi kalo di sekolah ada tugas yang boleh berkelompok, orang fatalis akan memilih untuk mengerjakan tugas sendirian daripada kerja kelompok.

Duh, makin lama ditulis kok makin serem ya…wish bisa berubah nih…dan temen-temen fatalis lainnya bisa bercermin bahwa menjadi fatalis itu repot 🙂