Menguburkan anak


Judul tulisan kali ini cukup menyeramkan… ini bukan pertanda, jangan mikir macam-macam. Gaya hidup, ditambah pandemi belakangan ini menyebabkan peluang kematian tidak hanya besar untuk orang tua. Banyak anak-anak muda berpulang mendahului orang tua mereka.

Anak menguburkan orang tua adalah hal yang lumrah…tapi orang tua menguburkan anak adalah hal yang menyakitkan. Tangan kecil yang kau genggam dan kau antarkan ke dunia, harus kau antarkan meninggalkannya mendahuluimu… suatu hal yang menghancurkan hati siapa saja.

Tadinya saya mau menuliskan ini semacam surat seperti yang biasa saya tuliskan…. Tapi saya kuatir Papa saya atau keluarga saya membacanya dan berpikiran macam-macam, hehehe… jadi saya mendahuluinya dengan pengantar semacam ini.

Siapa saja bisa berpulang kapan saja, merupakan rahasia dan kehendak Ilahi. Namun saat bicara soal kematian, siapapun akan merasa ngeri. Saya pernah berkata kepada adik saya, bahwa seseorang yang menangis saat kematian orang terkasih sesungguhnya menangisi dirinya sendiri. Mereka menangis karena ditinggalkan, karena membayangkan perasaan sepi, membayangkan rindu.

Ya, sesungguhnya ketika kita menangis di rumah duka, kita sedang memperlihatkan kemanusiaan kita… egois. Menangisi diri sendiri.

Jadi, inilah isi tulisan yang sebenarnya ingin saya tulis sejak awal…tulisan berupa surat untuk semua orang tua yang ditinggalkan, yang mungkin ditinggalkan.

Saya tidak bermaksud kejam, dan tulisan ini bukan pula berupa doa atau firasat, sekali lagi jangan berpikir macam-macam.


Papa dan Mama, jika suatu saat aku meninggalkanmu lebih dahulu,

Jika masaku di dunia berakhir sebelum masamu, dan Tuhan memutuskan untuk memanggilku terlebih dahulu,

Ingatlah semua yang kau ajarkan padaku semasa hidup… tentang Tuhan, tentang kasih-Nya, tentang hidup kekal bersama-Nya, tentang iman

Ingatlah semua yang ditanamkan padaku sejak kecil, bahwa siapapun akan menghadap Ilahi suatu saat nanti… hanya menunggu waktu

Ingatlah ketika kau berkata bahwa di Rumah Bapa banyak tempat, bagi kau dan aku… bahwa kematian adalah saat ketika kita memasuki rumah Bapa

Ingatlah bahwa kau telah melakukan apa yang benar, dalam hidup anakmu… mengenalkannya pada Tuhan

Dan ketika aku mendahuluimu, lepaslah aku dengan senyum,… karena jika memang kita memiliki iman yang benar seperti yang kau ajarkan, tentunya aku berada di tempat yang lebih baik.

Ketika aku mendahuluimu, artinya tugasmu di dunia selesai…bukankah dunia adalah saat kita mempersiapkan diri untuk kekekalan?

Papa dan Mama, saat anakmu mendahuluimu, dan kau harus mengantar tubuhnya kembali menjadi debu dan abu, ingatlah bahwa rohnya bersama pencipta. Bukankah manusia sesungguhnya adalah mahluk roh?

Papa dan Mama, jika suatu saat aku mendahuluimu, menangislah karena itu manusiawi… tapi bukan tangisan penyesalan, juga bukan tangisan kecemasan.

Kemudian tersenyumlah, karena suatu saat kita akan berjumpa lagi


Mudah-mudahan bagian di atas memberi sedikit penghiburan bagi orang tua yang ditinggalkan anak-anak mereka

Bagi orang tua seusia saya yang memiliki anak yang masih kecil…jangan lupa ajari mereka tentang Tuhan, tentang iman yang menyelamatkan… agar ketika mereka mendahuluimu, kau tak akan menangis karena penyesalan atau karena kecemasan.

Tuhan memberkatimu, para orang tua!