Tempat Remang-Remang


(A short story about life)

Kepalaku masih sakit karena semalam aku minum dan sepertinya aku mabuk. Tunggu dulu! Jangan berpikir bahwa aku seorang pemabuk. Justru kepalaku sakit karena sebelumnya aku tidak pernah mabuk. Tadi malam aku merasa bahwa aku sudah cukup dewasa untuk merasakan minuman yang katanya bisa membuat kita lupa akan masalah yang ada.

Tunggu sebentar, biar aku ingat-ingat apa yang terjadi semalam. Orangtuaku sebenarnya ada di rumah, tapi aku katakan pada mereka bahwa malam ini aku tidak akan pulang ke rumah. Lagipula aku sudah dewasa kan. Malah seharusnya aku sudah tidak tinggal lagi dengan mereka. Sudah waktunya aku tinggal terpisah dari mereka dan mengurus kehidupanku sendiri.

Malam itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian dengan mobil kecilku. Aku melewati jalan itu. Jalan di mana terdapat banyak kafe remang-remang. Aku tidak mengerti mengapa orang yang pergi ke sana lebih menyukai suasana remang-remang seperti itu daripada terang benderang. Mungkin karena dalam keadaan remang-remang mereka bebas melakukan apapun tanpa dilihat orang lain.

Saat itu aku teringat pada kata-kata seorang guruku. Katanya kalau kita berbuat benar, kita tidak perlu takut melakukan apapun dalam keadaan terang. Apakah orang-orang ini ingin melakukan sesuatu dan tidak ingin terlihat?

Aku penasaran sekali apa yang terjadi di dalam. Jadi aku parkir mobilku dan aku melangkah masuk ke tempat itu. Suatu bar memanjang dengan kursi dan meja kayu yang diatur berjajar. Juga ada meja bar dengan beberapa kursi tinggi. Musik dari band yang bermain menghentak kencang. Lampu hijau dan merah menyala bergantian, selain lampu kuning redup yang menyala di beberapa sudut bar.

Agak berbahaya juga apa yang kulakukan malam itu sebenarnya. Sekarang waktu aku ingat-ingat, aku bersyukur karena aku bisa keluar dari sana dengan selamat, masuk ke mobilku, pulang ke rumah dan langsung tidur sampai menjelang siang

Segera aku mengambil tempat duduk tinggi di meja bar. Dari dulu aku ingin sekali merasakan duduk di meja bar, di hadapan seorang bartender yang meracikkan minuman. Di sana ternyata tidak seperti yang diceritakan di film atau novel, di mana akan muncul pria-pria mengganggu gadis yang duduk seorang diri. Tidak ada yang peduli dengan kehadiranku. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang peduli dengan kehadiran orang lain di sana. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Mau pesan minuman apa?”

“Jack daniels” jawabku sembarangan. Aku tidak tahu jenis-jenis minuman. Nama Jack Daniels yang pertama kuingat.

Bartender itu melihatku sesaat kemudian membukakan sebotol Jack Daniels.

“Baru pertama kali minum?”

“Oh, eh,…sebenarnya, ehm…tidak” jawabku berbohong.
“Oke” jawabnya sambil menyerahkan botol itu. “Jangan langsung meneguknya sekaligus. Minum sedikit-sedikit saja” katanya melanjutkan, seolah tahu kalau aku berbohong.

“Eh? Bagaimana?”

“Sudah saya duga kamu baru sekali ini minum. Kalau kamu tidak mau mabuk dan berbuat yang aneh-aneh, jangan langsung meneguk minuman ini seperti minum es jeruk atau air putih, minum sedikit demi sedikit dan nikmati saja keadaan di sini.”

Huh, menikmati keadaan di sini. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang bisa aku nikmati di tempat seperti ini. Musik yang dimainkan benar-benar membuat kepalaku pusing. Belum lagi asap rokok yang membuat suasana menjadi lebih pengap.

Tapi aku mengikuti sarannya. Aku menyesap minuman itu sedikit demi sedikit, seteguk demi seteguk.

“Nah, sekarang ceritakan, kenapa Mbak datang ke tempat seperti ini.” Kata bartender itu.

“Hah? Tidak ada alasan, saya hanya ingin datang, itu aja.”

“Tidak ada alasan?” tanyanya seperti tidak percaya.

“Memangnya harus ada alasan, Om?”

“Biasanya orang datang ke tempat ini karena ada alasan Mbak.”

“Oya? Apa biasanya alasan mereka?”

“Kebanyakan ke sini karena lelah.”

“Lelah?”

“Ya, mereka lelah dengan kehidupan. Lihat lampu redup dan musik yang keras. Ini semua membuat orang tidak sempat memikirkan hidupnya. Terlalu bising untuk berpikir di sini.”

Aku melihat bartender itu. Seorang pria berusia awal lima puluh tahunan. Ku rasa, dia pemilik tempat ini atau setidaknya bertanggungjawab atas tempat ini. Senyumnya begitu ramah dan sikapnya bersahabat. Dia sendiri tidak minum sama sekali. Hanya membukakan botol minuman, atau mencampur minuman sesuai pesanan. Tapi bersama dia juga ada beberapa orang lain yang bertugas membukakan dan meracik minuman.

“Kalau mereka lelah dengan kehidupan, kenapa mereka tidak istirahat saja? Mereka kan bisa tidur atau rekreasi” tanyaku.

Bartender itu tertawa, “Tidur? Tahukah kamu bahwa seorang yang berada dalam masalah tidak bisa tidur? Kecuali kalau mereka menelan beberapa obat tidur sekaligus.”

“Ya, saya rasa om benar. Saya pun pernah tidak bisa tidur saat ada masalah dalam pekerjaan.”

“Tepat seperti itu! “

“Lalu kenapa mereka tidak mengambil cuti kemudian istirahat saja” tanyaku sambil sedikit bergidik karena menelan minuman pahit itu.

“Tidak semudah itu Nak… tidak semudah itu. Rekreasi semata-mata tidak akan membebaskan pikiran kita dari masalah. Tubuh kita mungkin bisa berada di tempat yang menyenangkan. Tapi pikiran…” katanya sambil menunjuk kepalanya, “pikiran tetap terikat oleh masalah.”

“Aku mengerti, Om”

Aku kembali melihat ke sekitarku. Beberapa orang tampak menaruh kepalanya di meja. Biasanya pelayan akan menghampirinya untuk memastikan kondisi mereka. Di ujung bar aku mendengar ada seorang wanita berteriak-teriak memaki-maki teman prianya.

“Sering yang seperti itu terjadi, Om?”

“Yah, begitulah di tempat ini. Oya ngomong-ngomong, kenapa tadi kau kemari? Wah, kau sudah menghabiskan setengah botol. Hati-hati lho kalau belum terbiasa.”

“Saya hanya penasaran, Om. Seumur hidup saya selalu pergi ke tempat-tempat yang buka di siang hari. Saya ingin tahu apa yang orang lakukan di tempat seperti ini.”

“Apa sekarang rasa penasaranmu terobati?”

“Hmmm, lumayan sih Om. Oya Om, jadi maksud Om tadi daripada tidur atau berlibur, mereka yang berada dalam masalah memutuskan untuk ke tempat ini dan mabuk, begitu?”

“Ya… sebentar, aku melayani orang itu dulu.”

Sambil melihat Om itu melayani tamunya, aku berpikir. Banyak sekali orang memiliki masalah kalau begitu. Tapi, apakah memang semua orang yang di tempat ini karena mereka memiliki masalah. Tidak mungkinkah mereka hanya ingin bersenang-senang?

Apakah tempat seperti ini bisa memberi kesenangan? Tapi kesenangan macam apa? Maksudku, mereka tidak bisa mengobrol karena musik yang terlalu bising. Aku bisa mengobrol dengan Om Bartender hampir dengan berteriak-teriak. Padahal posisi kami jauh dari speaker.

“Sampai di mana kita tadi?” Tanya Om bartender itu setelah selesai melayani tamunya.

“Saya tadi bertanya mengenai pilihan orang-orang itu untuk mabuk dan bukannya tidur atau berlibur. Apakah mabuk bisa menyelesaikan masalah?”

“Ah ya itu. Begini Nak, tidak ada masalah apapun yang selesai dengan mabuk. Bahkan tidak juga dengan berlibur dan tidur. Setiap masalah perlu diselesaikan. Itu satu-satunya pemecahannya. Hanya saja, kebanyakan orang takut untuk menyelesaikan masalah.”

“Takut, Om?”

“Ya… tepatnya, sebagian orang takut menghadapi masalahnya. Mereka takut kalau mereka tidak sanggup dan itu hanya menunjukkan bahwa mereka tidak berarti.”

“Tapi, bukankah memang ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya, Om?”

“Tidak, Nak. Pengalaman Om membuktikan bahwa tak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Tidak ada! Yang ada hanyalah orang yang menolak untuk menyelesaikan masalahnya dengan alasan masalahnya terlalu besar untuk ditangani.”

“Lalu bagaimana dengan masalah yang besar itu Om?”

“Bahkan masalah yang besar pun ada penyelesaiannya.”

“Bagaimana Om?”

“Berdoa dan berserah” jawabnya sambil mengedipkan matanya. Sebelum aku menjawab dia sudah melanjutkan.”Maksud Om, ketika kita menghadapi masalah, kita harus berdoa. Untuk masalah ringan sampai berat, kita harus berusaha menyelesaikannya. Tapi untuk masalah sangat berat, di mana penyelesaiannya di luar kendali kita, kita harus berserah.”

Sebuah penjelasan luar biasa dari seorang penjaga Bar. Aku termenung sebentar sebelum menjawab, “Ya, Om benar, berdoa dan berserah.”

“Dan satu lagi.”

“Apa om”

“Move on… Bangkit, lanjutkan hidupmu. Jangan tenggelam dan larut dalam kesedihan dan permasalahan.”

“Hm, ya, Om benar.”

“Kau lihat pria di sana itu. Pria yang pakai dasi itu?”

“Maksud Om yang duduk di sana itu?” tanyaku

“Ya, istrinya meninggal sebulan yang lalu karena melahirkan. Dia tidak dapat menerimanya. Sejak itu setiap hari dia ke sini. Datang dalam keadaan stress dan pulang dalam kondisi sangat mabuk.”

“Apakah Om sudah bicara padanya?”

“Sudah, tapi sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk menutup diri dan telinganya terhadap nasihat. Tidak ada yang bisa melakukan apa-apa. Padahal kalau saja dia mau bangkit. Dia seorang pengusaha yang sukses.”

“Oya Om, apakah semua yang datang ke mari adalah mereka yang ada dalam masalah. Apakah ada yang datang untuk, …. bersenang-senang.”

“Ahahaha…ya ya, memang ada mereka yang datang hanya untuk kesenangan. Tapi biasanya mereka tidak akan mabuk. Mereka hanya datang sebentar, bicara dengan teman-temannya, minum sekedarnya dan kemudian pulang. Yah, setiap orang memiliki cara sendiri untuk bersenang-senang, bukan?”

“Ya, sepertinya begitu Om. Apakah banyak yang seperti itu, Om?”

“Cukup banyak juga. Tapi tidak sebanyak mereka yang memang bertujuan ingin melupakan sesuatu.”
“Apakah mereka bersenang-senang untuk melupakan sesuatu”

“Hmm, mungkin juga Nak, mungkin juga. Bukankah banyak cara dilakukan orang untuk lari dari masalahnya. Ya, aku rasa bersenang-senang adalah salah satu cara untuk melupakan masalah. “

“Ya ampun, aku sudah menghabiskan satu botol Om.”

“Apa kamu merasa pusing?”

“Sedikit Om.”

“Ini, minumlah ini. Lemon akan membuatmu segar. Minumlah, kemudian segeralah pulang, mandi air hangat dan tidur.”

“Terimakasih Om”

“Oya, apa kamu sedang dalam masalah juga?”

“Ehm, saya rasa tidak Om. Kalaupun ya, saya rasa saya memilih jalan keluar seperti yang Om sarankan. Saya akan berdoa dan berserah.”

“Oya, satu lagi. Ada beberapa masalah yang ternyata jalan keluarnya tidak seperti yang kita harapkan. Untuk sebagian orang yang tidak tahu bersyukur, itu adalah masalah baru. Tapi sebenarnya, itu adalah cara Tuhan bekerja.”

Aku mengangguk sambil meminum Lemon yang diberikan Om itu padaku.

“Sekarang pulanglah, Nak. Jangan datang ke tempat seperti ini lagi. Kau tidak cocok berada di sini. Mudah-mudahan penasaranmu terobati.”

“Om membuat tempat ini tidak terlalu menakutkan.”

“Aku tidak selalu ada di tempat seperti ini, Nak.” Katanya sambil tersenyum.

“Oke Om, saya pulang dulu.”

“Apa kau sanggup menyetir pulang?”

“Ya Om. Saya hanya sangat mengantuk, tapi saya rasa saya bisa pulang sendiri.”

Aku pulang dan langsung tertidur. Walau kepalaku masih sakit, aku dapat mengingat pelajaran dari Om bartender. Jangan pernah lari dari masalah. Hadapi setiap masalah. Jika masalah itu terlalu berat, berserahlah dan lanjutkan hidupmu.

Aku tidak akan datang ke tempat seperti itu lagi. Tapi aku sama sekali tidak menyesal kemarin memutuskan untuk mampir ke bar itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s