Getsemani, malam itu


Getsemani, malam itu…
Sang Guru berdoa hingga berpeluh,
Darah keluar dalam tangisan pilu
Seandainya cawan ini dapat lalu…
“Tapi biar semuanya seperti yang Kau mau”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terlelap tak tahu…
…apa yang akan menimpa Sang Guru
Andai mereka tahu…
“Tak dapatkah kalian berjaga dengan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Si Pengkhianat bersiap maju
Dengan pasukan siap memburu…
…Dia yang dipanggilnya Guru
“Dengan ciuman kau menyerahkan-Ku”

Getsemani, malam itu…
Murid-murid terdiam,
Melihat bukti dari sebuah teori
Tentang mengasihi dan mengampuni
Saat telinga tersambung kembali,
“Sarungkan pedangmu!”

Getsemani, malam itu…
Sang Guru menyerahkan diri
Bukan karena tak sanggup melawan,
Tapi karena Dia tahu…
Cawan itu harus diminum-Nya

Getsemani, malam itu…
Menjadi saksi,
Sebuah doa yang pilu,
Sebuah ciuman pengkhianatan,
Dan kasih yang besar

Tentang Pengendalian Diri


Anakku, 
Jika hatimu senang,
Kau akan melihat segala sesuatu menyenangkan…
Bahkan ketika langit berawan
Bahkan ketika panas terik atau hujan
Bahkan ketika burung bernyanyi tak beraturan
Atau ketika temanmu menyebalkan

Namun jika hatimu galau,
Kau akan melihat segala sesuatu menyebalkan…
Bahkan ketika langit cerah,
Bahkan ketika udara sejuk
Bahkan ketika nyanyian burung begitu merdu
Atau ketika temanmu mengajakmu bermain

Lalu responmu terhadap sekeliling,
Akan menentukan bagaimana orang menilaimu,
Sebagai pemarah,… atau periang
Sebagai pemaaf,… atau pendendam
Sebagai orang yang tahu bersyukur,… atau penggerutu
Sebagai orang yang menyenangkan,… atau menyebalkan

Bukankah hati yang gembira membuat muka berseri
Tapi hati yang pedih mematahkan semangat

Anakku,
Apa yang terjadi kepadamu tak bisa kau kendalikan…
Mereka akan menentukan keadaan hatimu,
Kau akan merasa senang atau sedih,
merasa menang atau kalah
merasa bahagia atau iri hati

Namun bagaimana kau menguasai perasaanmu,
dan mengendalikan tindakanmu
itulah yang menentukan kualitas dirimu

Dosa mengintip ketika kau merasa sedih,…
atau merasa kalah,…
atau merasa iri hati…
Kau harus berkuasa atasnya…
Ya, kau harus menguasai perasaanmu,
…bukan sebaliknya

Jangan mengikuti perasaanmu,
Kau manusia berbudi…

Tak apa sedih sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat sedih,
dan kembali bangkit tanpa depresi

Tak apa marah sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat marah,
dan kembali mengampuni tanpa dendam

Tak apa kecewa sesekali,…
namun kau harus mengendalikan diri saat kecewa, 
dan kembali berjalan maju tanpa frustrasi

Anakku ingatlah,
Kualitas manusia ditentukan dari bagaimana ia mengendalikan emosinya,
Kemudian menguasai diri dalam segala hal