Tempat hiburan malam vs Gereja Bintang Lima


Ada perbedaan dan persamaan antara tempat hiburan malam dengan gereja bintang lima di era modern

Persamaan:
1.Tempatnya remang-remang dengan lampu penerangan seadanya tapi lighting keren

2.Musiknya keras, memekakan telinga

3.Sebagian datang krn kebiasaan sebagian karena kebutuhan

4.Karena lampu dinyalakan seadanya, antara satu pengunjung dan pengunjung lain tdk saling mengenal, apalagi menyapa

5.Mereka yang di atas panggung adalah yang (ingin) menjadi pusat perhatian

Tenang dulu… Ada kok perbedaannya

Perbedaan:
1. (Seharusnya) di gereja yang datang akan dipuaskan secara rohani, di pub hanya secara jiwani

2. (Seharusnya) di gereja, Tuhan yang menjadi fokus utama, walau fokus lampu ke arah panggung

3. (Seharusnya) di gereja musik yang dimainkan adalah untuk memuliakan Tuhan, bukan kepuasan jemaat. Di pub untuk kepuasan yang hadir

4. (Seharusnya) di gereja ada kehangatan yang dibangun karena kasih Kristus… Kalau di pub krn berdesakan dan asap rokok

5. (Seharusnya) Tuhan yang mengontrol acara di gereja…, di pub EO dan DJ

Jangan kuatir, jika perbedaannya masih ada, persamaan (sepertinya) tidak masalah kok 🙂

Advertisements

Gereja Bintang Lima… sebuah ulasan


Masih ingat dengan note saya Gereja Bintang Lima? entah mengapa note itu cukup kontroversial. Banyak yang mendebatkannya.. Banyak yang menduga-duga, kira-kira siapa yang saya maksud dalam note tersebut. Sebagian hamba Tuhan mungkin merasa tersinggung (walau saya tidak mengerti alasannya). Sebagian menuduh saya merusak nama baik gereja tertentu, sebagian setuju, sebagian men-share-nya di facebook (dan mengelak bahwa mereka yang membuat ketika ada kritik), sebagian men-share-nya di blognya.

Sebagian sahabat mengingatkan saya bahwa saya cukup keras dengan note tersebut. Ada yang mengatakan bahwa saya seperti orang yang berani mengucapkan “Voldemort” sementara yang lain tidak berani.

Apapun reaksi Anda,Ijinkan saya menyampaikan beberapa hal : Continue reading

Gereja Bintang Lima


Ada seorang pendeta, memiliki mimpi yang besar, ingin membuat gereja bintang lima, dengan dekorasi dan hiasan berwarna-warni, lampu spot yang besar, karpet yang menutupi seluruh lantai, musik yang hingar bingar, televisi plasma yang mahal. Benar-benar sebuah gereja mewah yang terbaik di seluruh kota.

Dengan karisma dan kemampuannya yang hebat ia memberikan perintah pada pengurus dan penatua yang lain “Kita akan membuat gereja bintang lima, jangan tanya kenapa, karena apa yang kukatakan, pasti BENAR”.

Diadakanlah suatu program di gedung yang besar dan megah “Siapa yang beriman, praktekan imanmu, beri yang TERBAIK untuk TUHAN” katanya di mimbar “dan untuk gereja bintang lima impiankukatanya dalam hatinya. “Bukan soal jumlah, tapi soal iman” katanya di mimbar. “Tapi pemberian kalian harus jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan gereja untuk mengumpulkan kalian di gedung ini” katanya dalam hatinya. Continue reading