Tentang Buah Sulung


Kalau mau bicara hal-hal yang berbau rohani, maka awal tahun seperti ini paling tepat membahas mengenai “buah sulung”. Beberapa gereja memiliki program buah sulung, yaitu meminta menghimbau jemaat untuk memberikan kepada Tuhan gereja penghasilan pertama mereka di bulan Januari. Artinya, jika kamu kerja, kamu harus memberikan seluruh gaji bulan Januari kepada gereja. Saya belum tahu bagaimana hukumnya untuk wiraswasta atau pedagang. (Saya juga tidak tahu apakah artinya seluruh fulltime gereja tersebut tidak akan menerima gaji di bulan Januari karena auto debit untuk persembahan buah sulung).

Dalam tulisan kali ini (walaupun sedikit nyinyir – karena sifat tersebut sulit dihilangkan), saya tidak akan mengatakan apakah persembahan sulung yang dicanangkan beberapa gereja itu baik atau tidak, benar atau salah. Saya juga tidak akan mengatakan apakah sebaiknya kita memberi buah sulung atau tidak. Dalam tulisan kali ini saya hanya akan mengajak kita sama-sama belajar mengenai ‘Sebenarnya buah sulung itu apa sih’. Setelah itu, jika Anda jemaat yang cerdas, silahkan putuskan sendiri apakah sebaiknya (atau seharusnya) memberikan buah sulung atau tidak.

Buah Sulung dalam Perjanjian Lama

Istilah Buah Sulung (dalam bahasa Inggris ‘first fruit’) pertama dikenal oleh Bangsa Israel yang hidup dari bercocok tanam. Musim menuai adalah musim yang sangat dinanti oleh Petani yang selama masa menanam sudah bersusah payah. Jerih lelah mereka terbayar dengan menuai apa yang mereka tanam.

Saat itu Tuhan meminta umat-Nya untuk membawa seberkas hasil pertama panen (first fruit) kepada Tuhan sebagai persembahan, untuk menguji ketaatan dan sikap hormat umat-Nya kepada Tuhan. Juga menguji seberapa besar iman umat-Nya bahwa Tuhan sanggup menyediakan.

Saat itu, ada banyak aturan yang terkait dengan Persembahan Buah Sulung. Buah Sulung tersebut harus dibawa ke para imam dan tidak ada tanaman lain yang bisa dipanen sampai buah pertama telah disajikan. Oh ya, rumit sekali aturan yang ditetapkan saat itu.

Persembahan Sulung dibawa ke Bait Suci pada Hari Raya Buah Sulung (SFIRAT HA’OMER <- silahkan Klik link ini untuk penjelasan lebih lanjut)

Buah Sulung diserahkan kepada Imam untuk kemudian dibagi. Berapa banyak yang diserahkan dalam Buah Sulung?? Imamat 23:10-17 mencatat Tuhan berfirman pada Musa agar orang Israel membawa “seberkas hasil pertama dari penuaianmu” (bukan seluruh hasil pertama). Kemudian imam akan membawa persembahan itu kepada Tuhan (CATAT: Jaman itu hanya Imam yang boleh menghadap kepada Tuhan). Bersama dengan seberkas hasil pertama itu, umat Tuhan harus membawa seekor domba berumur setahun yang tidak bercela sebagai korban bakaran untuk Tuhan. (silahkan baca sendiri lanjutannya)

Ini adalah aturan yang ditetapkan Tuhan untuk Umat Israel sebagai bagian dari ‘ritual’ ibadah Yahudi yang mungkin masih mereka lakukan sampai saat ini.

Buah Sulung dalam Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, kita tidak pernah menemukan Yesus berbicara mengenai Buah Sulung. Buah Sulung di perjanjian baru mengacu pada Kristus (I Korintus 15:20, 23), yang telah mengorbankan diri-Nya sebagai ganti kita supaya kita yang seharusnya binasa diselamatkan.

Dalam Roma 11:16 Paulus berkata:

    Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.

Jaman Perjanjian Lama, seberkas buah sulung diberikan kepada Tuhan dengan dasar pemikiran bahwa jika yang sulung kudus, maka sisanya kudus. Jika yang sulung dipersembahkan kepada Tuhan, maka sisanya akan dikuduskan Tuhan

Dalam Perjanjian Baru, Yesus datang agar Diri-Nya dipersembahkan sebagai yang sulung agar dengan pengorbanannya kita menjadi kudus… Ini sudah digenapi!

Persembahan yang saya temukan di Perjanjian Baru dicatat dalam kebiasaan Jemaat Mula-mula, yaitu mereka yang berkelebihan memberi pada mereka yang kekurangan. Pemberian yang dibahas Yesus pun adalah memberi pada mereka yang kekurangan (Matius 25:31-46). Dibahas lagi oleh Paulus dalam 2 Korintus 8:14 (Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.)

Kesimpulan (saya yang menarik, silahkan Anda menarik kesimpulan Anda sendiri)

Persembahan Buah Sulung adalah salah satu aturan dari Hukum Taurat yang mengikat Umat Israel saat itu.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, dari banyak Hukum Taurat selain Buah Sulung yang mengikat Umat Israel, mengapa Buah Sulung ini diambil orang sebagian gereja dan diterapkan saat ini? Seolah-olah hal ini juga mengikat Umat Kristen. Seolah-olah Tuhan mensyaratkan ini untuk umat-Nya saat ini? Mengapa aturan-aturan lainnya (katakanlah aturan tidak boleh makan babi) tidak diterapkan juga? Mengapa pendeta seolah-olah punya hak memilih-milih aturan yang mana yang dapat diterapkan saat ini dan mana yang tidak perlu?

Jawabannya mudah! Pertama, Karena jaman sekarang semua orang perlu uang. Bahkan operasional gereja pun memerlukan uang,dan Buah Sulung merupakan sumber pemasukan yang cukup besar untuk operasional gereja di awal tahun (terutama setelah besar-besaran mengadakan perayaan Natal).

Kedua, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk serakah dan jemaat adalah domba bodoh (yang serakah). Mudah sekali mengiming-imingi berkat dengan investasi Persembahan Buah Sulung kepada mereka jemaat.

Sekali lagi, ini adalah kesimpulan yang saya tarik sendiri. Jika Anda tidak setuju dengan kesimpulan yang saya tarik, silahkan Anda menarik kesimpulan Anda sendiri, dan silahkan Anda memutuskan,…

Apakah Anda ingin hidup di bawah Hukum Taurat atau Kasih Karunia. Jika Anda hidup di bawah hukum Taurat, Anda memberi supaya Anda diberikati. Jika Anda hidup di bawah Kasih Karunia, Anda memberi pada mereka yang membutuhkan karena Anda sudah menerima berkat.