Kita Ketemu di Rumah Saja


Sebuah Cerpen, Seri Gereja Bintang Lima (feel free not to read it)

Aku masuk gedung megah itu, suasananya dingin, penerangan minim, hanya sedikit cahaya remang-remang di panggung, rupanya acara belum dimulai. Kulihat kanan dan kiriku, tampak beberapa orang muda sedang duduk menekuni smartphone mereka, beberapa yang sudah tua tampak khusuk berdoa.
 
Aku duduk dengan perasaan tak menentu, sudah lama sejak terakhir kali aku masuk ke gedung yang katanya tempat orang Kristen bersekutu. Terakhir kali aku masuk gereja adalah ketika usiaku masih sangat muda, bersama orang tuaku. Aku ingat orang tuaku menyuruhku duduk diam sebelum ibadah mulai, dan mereka berlutut untuk berdoa mempersiapkan hati sebelum ibadah.
 
Kenangan terakhirku di gereja adalah ketika aku kecewa dengan para pemimpin gereja kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari gereja. Aku terhilang.
 
Hari ini aku memutuskan untuk kembali. Gedung yang dulu biasa-biasa saja sekarang sudah tampak megah dan modern. Ruangan yang dahulu terang, kini remang-remang. LCD Proyektor yang dahulu tergantung di langit-langit berubah menjadi layar LED raksasa. Lampu neon berubah menjadi sistem penerangan canggih yang dapat diatur tingkat keredupannya (aku mengatakan tingkat keredupan karena tampaknya jarang sekali lampu itu disetel terang)
 
Tiba-tiba layar besar itu menampakkan hitungan mundur dan ketika hitungan itu tiba di angka 0, pemain drum menggebuk kencang drumnya, suara gitar melengking tinggi dan seorang pemandu acara (entah apakah aku sanggup menyebutnya worship leader) muncul entah dari mana sambil berteriak “Siap memuji Tuhan”.
 
Suara ini begitu bising, otakku seperti membeku mendengar bisingnya suara di sekelilingku. Aku pernah membaca:
“Beberapa studi telah menunjukkan bahwa stres akibat suara yang bising bisa memicu pelepasan kortisol (hormon stres). Kelebihan hormon ini bisa merusak fungsi di bagian prefrontal korteks yaitu pusat pembelanjaran emosional.”
 
Musik dihentak dalam frekuensi yang membuat denyut jantung berpacu semakin cepat dan otak tak dapat berpikir hal lain kecuali menggerakkan seluruh anggota badan. Seperti di tempat dugem, kenapa Anda pikir mereka menari menghentak-hentak? Karena musik dimainkan dalam frekuensi di mana otak tak dapat bereaksi lain selain menggerakkan tubuh.
 
Belum lagi kilatan lampu yang dimainkan begitu liar. Beberapa wanita tua menutupi matanya dengan tangan ketika lampu itu mengenai wajahnya, beberapa kagum melihat lampu. Aku? Aku menghitung jumlah alat penghasil lampu-lampu itu, terkagum…!
 
Aku tercenung sesaat, momen yang begitu canggung, dan aku menepukkan tanganku sekali dua kali, bingung bercampur terkejut. Ternyata cukup lama aku meninggalkan tempat ini.
 
Saat sekolah minggu aku pernah diajarkan, Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Aku hanya berpikir, dengan latar belakang musik yang begitu keras dan lampu yang bergerak liar, mungkinkah seseorang menggunakan hatinya, jiwanya dan akal budinya untuk menyembah Tuhan? Ataukah menyembah Tuhan bukan bagian dari mengasihi Tuhan?
 
Ataukah kita datang ke tempat ini hanya untuk rutinitas mingguan, tidak diharapkan menyembah dan memuji dengan sungguh-sungguh? (Karena toh menyembah dan memuji dapat dilakukan dengan lebih khusuk di dalam kamar).
 
Kemudian tiba waktunya, seorang berpakaian keren maju ke depan, dialah “Pastor” (Oya, aku tidak tahu kenapa tapi belakangan pemimpin gereja lebih suka disebut Pastor atau Senior Pastor daripada gembala). Dia membaca sebuah ayat dari LCD yang besar itu, kemudian bicara mengenai beberapa hal yang memotivasi dan menginspirasi jemaat untuk “diberkati lebih lagi”, dan ibadah ditutup dengan nyanyian merdu dari pemandu acara “Kiranya….Engkau memberkati aku melimpah-limpah….”
 
Setelah satu setengah jam yang melelahkan, aku kemudian masuk ke mobilku, menarik nafas panjang dan berkata dalam hatiku, “Tuhan, keberatankah Kau kalau kita bertemu di rumah saja?
Advertisements